"Chan, tau persamaan kopi sama kamu?"

Haechan terkekeh, mulai lagi si Mark Lee dengan sikap anehnya. Tempo hari dia bertanya apa bedanya ia dengan matahari dan bulan, sekarang dia tanya apa persamaan dia dan kopi. Mentang-mentang dia dan Mark sedang minum kopi saat ini.

"Gak tau. Kenapa? Kalo mau gombal buat ngutang beli bala-bala doang mah mending aku gak denger jawabannya," Haechan menyindir sambil tertawa.

"Aku lagi gak mau bala-bala kok." jawab Mark, lempeng.

"Terus?"

"Aku maunya singkong goreng."

krik lagi.

Haechan menghela nafas. Ya Tuhan, Haechan tahu dosanya banyak, tapi nggak gini-gini juga dong balasannya.

"Kamu mau gombalin aku buat ngutang beli singkong goreng, gitu?"

"Nggak juga." Mark masih menjawab dengan muka lempengnya. Haechan bergidik, jangan-jangan Mark ketempelan setan waktu nonton film horror.

"Terus kamu maunya apa, Markonahku sayang?" Haechan gemas setengah mati.

"Ya itu tadi. Kamu tau gak persamaan kamu sama kopi?"

"Gak tau, dah tuh. Puas kamu?"

Haechan bisa melihat sudut bibir Mark yang terangkat; dia menahan tawa.

"Dih, kamu gila ya?" kalau saja ini dunia anime, pasti perempatan siku sudah muncul di dahi Haechan.

"Aku waras kok." Mark mengaduk-aduk kopinya. "Dengerin dulu makanya."

"Dengerin apa?"

Mark berdehem. Heol, lagi-lagi sok ganteng, Haechan membatin. Tapi memang ganteng sih aslinya.

"Aku gak mau gombal." katanya, "Kamu sama kopi sama-sama bikin kecanduan. Sama-sama pengen aku milikin terus. Dan sama-sama bikin hidup aku berwarna. Emang, kopi itu pahit. Tapi, kalo minumnya sambil mandang kamu, rasanya kopi itu kayak gulali. Kamu dan kopi sama-sama bikin aku gak waras."

Hmph. Haechan menahan nafasnya. Apaan? Gak gombal katanya? Dusta amat. Haechan memilih untuk menyeruput kopinya.

"Kamu kan juga suka kopi," lanjutnya, "Aku lagi mikir, gimana kalo nanti mahar nikah kita keliling dunia buat nyicipin kopi."

"UHUK!"

Haechan keselek.

Terkutuklah Mark Lee dengan segala mulut manisnya. Dan, apa itu tadi? Mahar nikah? Sialan, tahun ini saja mereka baru lulus sekolah menengah ke atas dan Mark sudah memberi kode untuk mengajaknya nikah?!

"Pelan dong minumnya," Mark menepuk-nepuk punggung Haechan pelan. "Aku gak mau minta punya kamu kok,"

"B-bukan gitu masalahnya!" sela Haechan, gugup. "Kamu tuh gila beneran ya? Kita baru mau lulus SMA tahun ini! Ngapain kamu mikirin mahar nikah, hah?"

"Emang salah?"

"Jelas salah!"

"Aku kan cuma mau masa depanku teratur dari sekarang, Chan." Mark menarik Haechan ke pelukannya dengan lembut. "Aku mau kuliah bener-bener, aku mau jadi dokter. Setelah aku sukses, aku mau nikahin kamu. Nikah sama kamu itu rencana yang aku paling pikirin setelah cita-citaku."

Haechan terdiam. Luar biasa, dia tidak pernah sangka Mark Lee si tukang ngutang bala-bala itu bisa seserius ini.

"Makanya, aku bilangㅡ"

"Aku nggak butuh mahar." potong Haechan cepat.

"Kenapa?"

Haechan menelan ludahnya. Sialan, sialan, sialan. Kenapa dirinya jadi seperti gadis yang baru dipersunting kekasihnya begini?

"Aku padahal udah mikir loh." Mark mencium helaian poni Haechan.

"Ta-tapi aku nggak butuh."

"Why?"

"Karenacumaberduasamakamuajaakubisabahagia." Haechan berucap cepat, dia memejamkan matanya, malu.

Dia tidak mendengar jawaban Mark hampir setengah menit. Tapi setelah mendengar Mark tertawa, dia lega.

"Kamu lucu deh." Mark mengecup dahi Haechan lama. "Kalo begitu, berarti aku gak perlu keluar uang lebih kan pas kita nikah nanti?"

Haechan mendengus, Mark Lee tetaplah Mark Lee. Bala-bala seribu saja dia ngutang, ini lagi sok-sokan mikirin mahar nikah. "Terus aja nikah dipikirin. Tuh, pr aja belom selesai. Gak usah sok cheesy gitu deh, Mark."

"Iya, iya, bawel." Mark mencium bibir Haechan. "Yaudah, kerjain lagi yuk prnya?"

"Iyaㅡ"

"Tapi abis itu kita nikah di ranjang, ya?"

Yah, nggak cuma suka ngutang sebenarnya; mesumnya juga sama gak bisa ditahan.

kkeut.