Hai, apa kabar…

Perkenalkan, namaku Godzilla. Aku adalah seorang Laksamana yang ditugaskan memimpin gadis-gadis yang merupakan penjelmaan dari kapal perang di masa lalu. Terkadang aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, apakah mereka masih mengingat masa lalu mereka sebagai kapal. Dan aku segera mendapat jawaban setelah bertanya langsung kepada mereka.

Ya, mereka masih mengingatnya. Mereka masih mengingat saat mereka pertama kali berada di atas air. Mereka masih mengingat saat mereka ditugaskan. Mereka masih mengingat detik-detik saat mereka akan tenggelam menuju dasar laut yang gelap. Mereka bahkan masih mengingat nama dari seluruh kru yang mengabdi di atas mereka.

Banyak kisah menarik yang kudapat dari mereka. Kisah tentang kemenangan, kisah tentang keputusasaan, kisah tentang perjuangan, kisah tentang keberanian, dan kisah tentang kepahlawanan. Mendengar semua itu, mereka mendapat respek yang sangat tinggi dariku. Aku bersyukur dapat bertemu langsung dengan saksi hidup dari sejarah gelap umat manusia.

Dan sekarang, aku ingin membagikan kisah mereka kepada kalian semua. Kisah pertama kudapat dari penjelajah berat Rusia, Varyag. Pertempuran laut pertama di abad ke-20 yang menandai dimulainya perang Russo-Japan.


Story 1 – Russo-Japanese War

Part 1 - Battle of Chemulpo Bay, 09 February 1904


7 Februari 1904

Bergerak membelah air laut yang tenang, udara pagi yang segar menyapa wajahku. Inilah sebabnya aku menyukai patroli saat pagi hari. Sejenak kucoba melupakan ketegangan yang terjadi diantara Kekaisaran Rusia dan Kekaisaran Jepang.

"Muuu… Varyag, aku bosan. Kenapa kita ditugaskan di tempat terpencil seperti ini"

Mendengar keluhan dari Korietz di belakangku, aku hanya bisa tertawa kecil.

"Korietz, pelabuhan ini bukan sembarang pelabuhan terpencil. Kapal-kapal asing biasa bersandar disini untuk mengisi persediaan. Selain itu tempat ini menjadi garis terdepan apabila perang benar-benar terjadi"

"Kalau tempat ini benar-benar penting, kenapa hanya kita berdua yang dikirim?"

"Tenang saja Korietz. Meskipun hanya berdua, aku yakin kita mampu mengatasi segala hal"

Korietz lalu memberiku tatapan aneh.

"Varyag, dengar. Aku hanyalah gunboat, sementara kau bukanlah kapal tempur atau semacamnya. Apa yang dapat kita lakukan apabila serangan benar-benar terjadi"

Tidak bisa berkata apa-apa, aku hanya menyuruh Korietz untuk memeriksa area lain. Sebenarnya apa yang dikatakan gadis itu sudah ada di dalam pikiranku sejak datang kemari. Hanya saja, aku tetap diam karena tidak ingin membuatnya khawatir. Tapi sepertinya aku tidak perlu memberitahu pikiranku sekarang.


Sudah sepuluh bulan aku mengamati pelabuhan itu. Admiral Togo memberiku tugas untuk mengawasi pelabuhan Chemulpo setelah muncul ketegangan dengan Rusia. Namun aku tidak bisa terlalu dekat. Akan sangat berbahaya apabila mereka sampai mengetahui keberadaanku. Menurut jadwal, pasukan kami akan diturunkan disana esok hari. Tugas pengintaianku selesai saat misi itu selesai dilaksanakan.

Oh, apa itu? Gunboat? Hmm… Itu patroli dari Rusia. Sebaiknya aku segera pergi sebelum dia melihatku.


8 Februari 1904

Situasi di pelabuhan menjadi siaga setelah Korietz mendeteksi keberadaan kapal Jepang kemarin. Dan pagi ini terdengar suara meriam milik Korietz. Aku segera berlari menuju laut untuk melihat keadaannya. Dia terlihat baik-baik saja, namun badannya gemetaran dengan air mata membasahi wajahnya.

"Varyag, bagaimana ini… Aku-aku….aku"

"Korietz, tenanglah dulu. Setelah itu baru kau bicara"

Aku memeluk Korietz untuk menenangkannya. Sepertinya cara ini berhasil.

"Ada kapal yang mendekat kemari, dan kukira itu salah satu dari kita. Jadi aku menembakkan meriam sebagai tanda hormat. Namun setelah kulihat lebih dekat, itu adalah kapal Jepang yang kemarin kulihat"

"Hah? Lalu, apa yang kapal itu lakukan?"

"Dia menembakkan torpedo! Torpedo! Sudah jelas sekali dia mengira kalau aku membuka serangan. Untung saja tidak ada satupun yang mengenaiku. Sekarang dia pasti memberitahu seluruh armadanya untuk melakukan serangan balasan. Bagaimana ini…?"

"Korietz, kita harus tetap tenang saat ini. Jika mereka benar-benar menyerang, kita akan mempertahankan tempat ini meskipun nyawa kita taruhannya. Bukankah itu ideologi kita?"

Apa yang Korietz takutkan benar-benar terjadi. Siang harinya, kapal-kapal netral yang ada di pelabuhan melaporkan bahwa mereka menerima pesan dari armada Jepang untuk meninggalkan pelabuhan. Mereka adalah Talbot, Pascal, Elba, Vicksburg, dan Pompey. Aku meminta para kru kapal tersebut untuk tetap tenang dan tidak terburu-buru meninggalkan pelabuhan.

Jam enam sore, para kapal pengangkut prajurit milik Jepang diikuti oleh tiga penjelajah berat bergerak menuju pantai. Tidak ada perintah dari pusat untuk menyerang, jadi kami hanya melihat dari kejauhan.

Mereka selesai menurunkan pasukan keesokan harinya pada pukul tiga pagi. Semua kapal Jepang mundur kecuali salah satu penjelajah berat yang terus mengamati pelabuhan. Dari raut wajahnya, sepertinya ia tidak ingin melakukan apa yang ditugaskan padanya, apapun itu.

Pesan kedua datang, dan kali ini aku juga mendapatnya. Atas inisial para kapten dari kapal netral, rapat dilakukan di atas Talbot untuk mengambil keputusan. Percakapan berlangsung alot dan hasilnya benar-benar membuatku menarik nafas panjang.

"Baiklah tuan-tuan dan nyonya. Sudah diputuskan bahwa kita tidak akan meninggalkan pelabuhan. Apa yang saat ini terjadi merupakan urusan Rusia dan tidak ada hubungannya dengan kita. Maafkan aku nona, tetapi ini adalah keputusan bersama. Kami hanya dapat berdoa untuk keselamatanmu."

"Tidak apa-apa. Itu sudah lebih dari cukup" kataku mencoba untuk tersenyum.

Jujur saja, aku benar-benar merasa tersakiti. Setidaknya aku ingin salah satu atau dua dari mereka membantu kami, terutama Vicksburg. Namun mereka benar. Jika mereka terlibat dalam hal ini, akan berdampak buruk bagi negara mereka.

Jadi, kapten dari Talbot pergi menggunakan sekoci untuk menyampaikan hasil rapat kepada armada Jepang. Sementara itu, aku dan Korietz menyiapkan persenjataan kami untuk menghadapi armada Jepang. Para kapten dari kapal netral menyarankan kami untuk menyerah, karena mereka tahu kami tidak akan mungkin menang. Namun kami menolaknya dengan berkata bahwa kami tidak akan menyerah. Lebih baik bagi kami untuk mati di tangan musuh saat mempertahankan tanah kelahiran kami daripada harus terkekang di tangan mereka.

Pada pukul sebelas, kami berangkat menuju laut lepas. Betapa terkejutnya kami saat para kru dari Talbot dan Elba bersorak menyemangati kami dari atas kapal mereka. Lagu kebangsaan Rusia juga diputar di atas Elba.

Diriku benar-benar terharu terhadap pemandangan ini. Perasaan kecewaku terhadap mereka perlahan-lahan mulai memudar. Rasa takutku sekarang benar-benar hilang dan diriku siap untuk menerima apapun yang akan terjadi nanti. Aku melihat ke arah Korietz.

"Tenang saja Varyag, aku ada dibelakangmu. Kau tidak sendirian" kata Korietz kepadaku dengan senyuman terindah yang pernah ia berikan.


9 Februari 1904, 11.25

"Battle Alarm!"

Armada Jepang yang terdiri dari enam penjelajah berat dan puluhan torpedo boat muncul dari balik pulau Richy.

Aku membuka serangan ke arah kapal terdekat. Korietz juga mulai membuka serangan. Sayangnya tidak satupun serangan kami mengenai sasaran.

Seluruh kapal musuh bereaksi dengan cepat dan menembakkan meriam mereka…. kearahku.

Rasa sakit yang luar biasa menyerang tubuhku saat belasan atau mungkin puluhan tembakan menghujaniku. Aku bisa mendengar Korietz yang menjerit di belakangku. Tubuhku serasa dihempaskan oleh badai api. Saat tembakan selesai, rasa sakit masih menyelimuti seluruh tubuhku.

Nampak beberapa lubang di bagian perut dan dadaku. Peralatanku terbakar dan banyak meriamku yang sudah dilumpuhkan. Cerobong asap yang seharusnya ada di tempatnya hilang tanpa bekas, membuatku kehilangan tenaga penggerak. Dan yang paling terlihat jelas, aku kehilangan tangan kiriku.

Kulihat Korietz diam terpaku melihat keadaanku. Kedua matanya mengeluarkan air mata sementara bibirnya bergetar. Melihat keadaan yang tidak menguntungkan, aku segera menarik Korietz menuju pulau Yodolmi. Dengan kecepatanku yang berkurang, seharusnya kami dapat menjadi bulan-bulanan mereka. Namun benar-benar sebuah keajaiban kami mampu menghindari serangan mereka.

Saat hampir sampai di pulau, diriku kembali terkena serangan. Namun serangan itu bukanlah apa-apa dibandingkan dengan rasa sakit yang kualami.

Di balik pulau Yodolmi, aku berusaha menenangkan Korietz sambil memperbaiki kerusakan yang kualami. Pada pukul 12.15, mesinku kembali berfungsi dan tanpa kusadari armada Jepang sudah dalam jarak beberapa mil. Kami berdua setuju untuk melarikan diri menuju pelabuhan.

Sebelum sempat bereaksi, salah satu tembakan mereka mengenai kaki kiriku dan membuatnya lumpuh. Perlahan-lahan kurasakan diriku mulai tenggelam ke arah kiri. Namun diriku tetap bungkam dan terus melarikan diri sambil sesekali menembak.

Saat mendekati pelabuhan, salah satu tembakan dari armada Jepang mendarat hanya beberapa meter dari Pascal. Armada Jepang meminta kami untuk menghentikan tembakan karena mulai membahayakan kapal netral. Huh, jadi mereka juga mempunyai hati. Entah kenapa diriku menjadi tenang.

Kami setuju untuk menghentikan tembakan dan kembali ke pelabuhan pada pukul 13.15

Seluruh kru kapal netral terkejut saat melihat kondisiku sekarang. Raut wajah khawatir nampak dari mereka.

Kapten dari Talbot mendekatiku

"Jadi, apa yang akan kalian lakukan sekarang? Kalian benar-benar sudah terkepung saat ini dan kau tidak bisa melawan dengan kondisimu yang sekarang. Kurasa sekarang saat yang tepat untuk menyerah"

Aku membalas sarannya dengan tersenyum dan berkata

"Berapa kali harus kukatakan kepadamu kapten, kalau kami tidak akan menundukkan kepala kami terhadap musuh. Maaf, tetapi aku harus menolak saranmu itu"

Pukul 16.00

Korietz berbicara kepadaku.

"Varyag, aku tidak ingin menyerah kepada mereka"

"Aku tahu itu"

"Dan kita tidak akan mungkin menang melawan mereka"

"Aku juga tahu itu"

"Apa yang harus aku lakukan Varyag?"

Aku menatapnya dalam-dalam dan mencoba memberikan senyuman terbaikku padanya

"Lakukan apa yang kau pikir merupakan hal yang benar. Aku tidak akan menghalangimu"

Korietz membalas senyumanku dan memelukku dengan erat

"Terima kasih Varyag, kau benar-benar pengertian"

Melepaskan pelukan, Korietz lalu berkata

"Apakah kita akan bertemu lagi suatu hari nanti?"

"Tentu saja. Pada saat itu, kita akan menikmati sinar matahari bersama-sama tanpa harus memikirkan konflik bodoh ini"

"Bisakah aku menganggap itu sebagai suatu janji?" Korietz memberikan jari kelingkingnya.

"Aku berjanji" kataku sambil mengaitkan jari kelingkingku

"Baiklah Varyag, kurasa sampai disini akhirnya"

Korietz berlayar menjauhiku dan mengambil beberapa ranjau laut yang ia bawa

"Sampai jumpa, Varyag"

Dengan kata-kata itu, Korietz meledakkan ranjau laut yang ia bawa. Ledakkannya cukup besar sehingga membuat ombak setinggi lima meter. Korietz lenyap dalam ledakan tersebut. Para awak kapal yang terkejut segera melihat ke arah sumber ledakan. Kapten dari Talbot berlari ke arahku dengan tatapan horror di wajahnya.

"Mengapa dia melakukan hal semacam itu!? Apa yang kau bicarakan kepadanya!?"

"Terima kasih atas kepedulianmu kapten. Dia sendiri yang menginginkan hal tersebut"

"Dan kau menyetujinya?"

"Seperti kami punya pilihan lain saja"

"Kau… Jangan bilang kau akan melakukan hal yang sama"

"Kapten…. Lihat kondisiku sekarang. Aku bahkan tidak akan bertahan sampai besok pagi. Jadi kapten, tolong tenggelamkan aku sekarang…


Benar-benar sebuah ironi.

Berharap istirahat yang kekal namun sekarang dipaksa untuk mengabdi kepada negara lain.

Dulu namaku adalah Varyag. Namun sekarang, aku tidak dapat lagi menggunakan nama kebanggaanku itu.

Berjalan menuju sebuah ruangan, aku mengetuk pintu.

"Masuk"

Suara berat terdengar di dalamnya. Aku membuka pintu dan segera memberi hormat kepada pria didepanku.

"Bicara"

"Penjelajah berat Soya, siap melaksanakan tugas"

(END)


Kapal-kapal utama yang berpartisipasi dalam pertempuran

Kekaisaran Russia:

Protected Cruiser Varyag (scuttled)

Gunboat Korietz (scuttled)

Kekaisaran Jepang:

Armored Cruiser Asama (minor damaged)

Protected Cruiser Chiyoda

Protected Cruiser Takachiho

Protected Cruiser Naniwa

Protected Cruiser Niitaka

Protected Cruiser Akashi

Aviso Chihaya


Yooo…

Lord Godzilla disini

Tolong jangan samakan saya dengan Godzilla diatas.

Dia admiral, dan saya rajanya. Jadi kedudukan saya lebih tinggi daripada dia. *meh

Selamat datang di seri kedua saya

Curtiss: chapter di seri pertama aja baru dikit, dah buat seri baru. gaya amat lu

Berisik lo bazeng! Dan ngapain lo disini! *nembak bazooka*

Oh ya…

Saya buka request untuk seri ini (itupun kalau ada yang mau). Fell free aja, asalkan pertempurannya berada di abad 20. Saya gak bakal nulis cerita tentang galleon atau tembak-tembakan kapal luar angkasa ala star war (sorry star war lovers)

Good luck and cheers~