Story 1 - Russo-Japanese War

Part 2 – Naval Battle of Port Arthur, 9 February 1904


1904

"Admiral, apa kau yakin ini benar-benar jalan terbaik?"

"Mikasa, tidak ada yang bisa aku lakukan saat ini. Aku hanyalah abdi kaisar yang melaksanakan perintahnya"

"Tapi setidaknya kau bisa mendiskusikan hal ini dengannya bukan?"

"Sudah dilakukan, tetapi mayoritas suara tetap memihak kepada paduka yang mulia. Mikasa, jika tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan silahkan tinggalkan ruangan ini"

Aku menggerutu dengan kesal saat menutup pintu. Jujur saja, aku ingin konflik ini diselesaikan dengan damai. Tidak ada orang yang menginginkan perang dan pertikaian. Lebih baik duduk bersama dan berdiskusi sambil minum teh daripada mencoba mengalahkan satu sama lain di medan tempur.

"Mikasa…. Oi! Mikasa….!"

"Uh…..Oh! Fuji-san! Umm…. Sejak kapan kau disana?"

Aku benar-benar tidak menyadari Fuji sudah berada disampingku saat sedang melamun.

"Geez. Aku sudah berkali-kali memanggil namamu tapi kau tetap tidak bereaksi apapun. Jika kau ingin melamun, sebaiknya jangan di depan pintu!"

Fuji nampak membawa beberapa dokumen di tangannya. Sepertinya ia akan menemui Admiral Togo namun aku menghalangi jalannya.

"Ahaha, maafkan aku. Ngomong-ngomong, kertas apa itu?"

Sebagai flagship dari Admiral Heihachiro Togo, aku berhak mengetahui apapun dokumen yang akan diberikan kepadanya. Memang terdengar egois tetapi itulah kenyataannya.

"Laporan intelejen tentang pelabuhan Arthur. Dari data yang kita dapat, pelabuhan itu dijaga ketat oleh militer Rusia. Banyak meriam laut sudah diletakkan di sekitar pelabuhan. Dilaporkan juga, setidaknya ada lima kapal tempur dan enam penjelajah berat yang menjaga pelabuhan tersebut."

Pihak Rusia tidak main-main terhadap ketegangan ini. Aku harap Admiral dapat mempertimbangkan kembali untuk menyerang pelabuhan tersebut setelah mendengarkan laporan ini.

Sayangnya Admiral tidak bergeming. Ia justru akan mengirim para destroyer dalam misi pengintaian untuk melihat reaksi musuh.


"Ikazuchi, Inazuma, Akebono, Oboro, Sazanami, Murakumo, Akatsuki, Kasumi, Shirakumo, Asashio. Kalian akan dikirim dalam misi pengintaian. Hindari kontak senjata sebisa mungkin. Jangan menyerang sebelum diserang atau ada perintah dariku"

""""""""""Baik!""""""""""

Aku sangat bersemangat! Ini adalah penugasan pertamaku sejak dikonstruksi! Eh… Tapi kenapa Asashio tidak begitu senang…?

"Hei Asashio-chan, kenapa wajahmu begitu murung? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?"

"Tidak ada apa-apa Onee-chan. Hanya saja ini misi pertama kita, dan aku sedikit merasa gugup."

Aku kemudian menepuk-nepuk pundaknya.

"Tenang saja Asashio-chan. Tidak ada yang bisa mengalahkan kita selama kita bersama. Bukankah begitu?"

"Percaya diri boleh saja, tetapi jangan berlebihan"

Terdengar suara orang yang begitu kukenal dari belakangku.

"Ah… Ikazuchi-san. Ayo lakukan yang terbaik dalam misi nanti!"

"Tentu saja. Tapi kalian tetap harus berhati-hati, ya. Ini kan kali pertamanya kalian diikutsertakan dalam misi"

Ikazuchi merupakan orang yang paling kukagumi selain Mikasa. Sebagai yang tertua diantara jenisnya, dia menjadi panutan bagi setiap destroyer di angkatan laut Jepang. Semenjak kehilangan adiknya, Niji, dia menjadi begitu perhatian terhadap kami semua. Dia tidak hanya menjadi kakak tertua bagi kelasnya, tetapi juga bagi seluruh destroyer di Jepang.

"Oh ya, Shirakumo-chan. Apakah kau mau ikut denganku ke kantin? Kau juga Asashio-chan. Aku akan mentraktir kalian nanti. Adik-adikku dan Akatsuki bersaudara juga sedang menuju kesana saat ini"

"Benarkah?! Arigatou Ikazuchi-san! Ayo Asashio-chan!" Aku menarik tangan Asashio dan berlari menuju kantin.

"Onee-chan! Pelan-pelan! Aku bisa jatuh nanti!"


9 Februari 1904, 00.18

Kondisi pelabuhan menjadi siaga setelah armada destroyer kami melakukan kontak dengan destroyer Jepang dua jam yang lalu. Meskipun tak ada kontak senjata, seluruh kapal yang ada tetap disiagakan untuk berjaga-jaga.

"Tsesarevich, apa mereka benar-benar akan menyerang?"

Retvizan bertanya kepadaku.

"Kemungkinan besar ya. Aku sudah menerima kabar dari Varyag di Teluk Chemulpo bahwa prajurit Jepang sudah memasuki wilayah kita. Kita sudah benar-benar dalam posisi berperang dengan mereka saat ini"

Sepuluh menit berlalu saat tiba-tiba Pallada yang berada di posisi paling kiri berteriak kesakitan. Nampak jejak gelembung di permukaan air.

"Torpedo… Mereka pasti para destroyer tadi"

Belum sempat pulih dari serangan tiba-tiba tadi, Pallada kembali terkena dua buah torpedo. Ledakkannya menyulut ledakan dari amunisi miliknya dan dalam sekejap, armamennya sudah terbakar dengan hebat.

"Pallada! Cepat menuju perairan dangkal, segera!"

Perlahan namun pasti, Pallada bergerak menuju tepi pantai. Tempat dimana ia aman dari serangan torpedo yang lain. Serangan mendadak tadi membuat seluruh pelabuhan terbangun. Lampu-lampu sorot dinyalakan untuk mencari keberadaan kapal musuh.

Suara benturan kembali terdengar, kali ini tepat berada disampingku. Nampak Retvizan yang sedang shock dan berusaha untuk menstabilkan tubuhnya setelah terkena sebuah torpedo.

"Retvizan, kau tidak-apa apa?"

"Aku baik-baik saja, sungguh…"

"Uh….. Retvizan, sebaiknya kau masuk ke pelabuhan segera"

Retvizan mulai tenggelam perlahan-lahan, itulah yang kulihat dan sepertinya ia sudah tau.

"Baiklah, kurasa aku butuh istirahat. Jaga dirimu baik-baik Tsesarevich"

Salah satu lampu sorot kemudian menemukan posisi musuh.

"Musuh ditemukan, kordinat delapan poin lima belas di arah jam sembilan dalam sudut dua puluh derajat. Semua kapal bersiap untuk menembak!"

Satu per satu dari kami mulai menembak setelah mengatur meriam mereka ke posisi yang telah kutentukan. Sayangnya tembakan kami tidak ada satupun yang mengenai sasaran.

"Isi ulang amunisi kalian! Sayap kanan dan kepala, ubah kordinat ke sembilan poin tujuh belas dalam sudut dua puluh dua derajat. Sayap kiri, naikkan vektor ke dua puluh lima derajat!"

Sesaat setelah memberi perintah, aku melihat jejak gelembung di atas air bergerak ke arahku.

"Oh, sial!"


09.00

"Iwate, bagaimana keadaan pelabuhan?"

"Serangan semalam nampaknya berhasil. Dua kapal tempur dan satu penjelajah berat rusak parah, termasuk Tsesarevich."

"Apa kau benar-benar yakin? Kalau Tsesarevich benar-benar tidak dapat bertugas, maka kita berada dalam posisi menguntungkan saat ini"

"Tentu saja! Kami sudah bergerak sedekat mungkin dengan pelabuhan, tetapi Rusia belum mengetahui keberadaan kami. Mereka sedang kebingungan saat ini. Aku menyarankan untuk menyerang mereka sekarang"

"Baiklah, divisi pertama akan segera bergerak kesana untuk menyerang pelabuhan. Sampai mereka tiba, tetaplah tidak terlihat"

"Baik, Admiral"


12.00

"Sebuah kapal Rusia terlihat, isi amunisi kalian dan tahan tembakan sampai kuberi perintah!"

Kapal tersebut nampak menembak kami beberapa kali sebelum melarikan diri. Namun jarak antara kami dan dia terlalu jauh sehingga tembakannya meleset dengan jarak beberapa kilometer.

Dua puluh menit kemudian, armada Rusia yang terdiri dari sepuluh kapal terlihat dalam jarak lima mil. Jarak ideal untuk menembak.

"Semua kapal, tembak sekarang!"

Dalam sekejap, pertempuran pecah di lepas pantai pelabuhan Arthur.

"Battleship, tembakkan meriam 12inch kalian ke arah meriam laut di pelabuhan! Gunakan kaliber yang lebih kecil untuk kapal musuh! Para cruiser, konsentrasikan tembakan kalian ke arah kapal musuh!"

Sangat disayangkan akurasi tembakan kami benar-benar buruk. Begitu juga dengan armada Rusia. Untungnya beberapa tembakan kami mengenai sasaran. Dalam waktu lima menit pertempuran dimulai, setidaknya lima kapal musuh mengalami kerusakan.

"Bagus, kita akan menang jika terus seperti ini"

Tidak lama kemudian, sebuah peluru memantul di atas armorku dengan sangat keras, cukup keras untuk membuat sebuah destroyer tenggelam seketika.

"Mikasa, kau tidak apa-apa?" Tanya seseorang di sampingku.

"Aku tidak apa-apa. Darimana asalnya tembakan itu?"

Mataku mencari-cari pelaku penembak peluru tersebut, dan aku benar-benar terkejut saat melihat sosok seseorang yang benar-benar tidak ingin aku lihat saat ini.

"Tsesarevich… Bagaimana bisa? Bukankah ia sedang diperbaiki?"

Keadaan kami benar-benar kacau setelah kedatangan Tsesarevich. Nampaknya moral armada Rusia menjadi meningkat berkali-kali lipat setelah melihat kedatangannya. Beberapa kapal kami sudah mulai mengalami kerusakan setelah dihujani tembakan meriam dari arah pantai, termasuk diriku. Nampaknya menyerang pelabuhan secara langsung bukanlah ide yang bagus. Kalau terus begini…

"Semua kapal! Kita tidak dapat melanjutkan pertempuran! Kita pergi dari sini segera!


Kukira butuh beberapa hari bagiku untuk merapat setelah terkena torpedo sialan itu. Namun dengan bermodalkan nekat, aku berusaha untuk kembali ke laut setelah menerima perbaikan singkat. Cukup untuk menambal lubang yang ada.

Saat aku datang, pertempuran sudah dimulai. Aku mencari-cari seseorang di armada musuh. Wajahku membuat senyuman saat berhasil menemukannya.

"Ketemu kau, Mikasa…"

Mikasa, flagship dari seluruh armada Jepang. Jika aku menenggelamkannya disini, sudah pasti moral seluruh armada Jepang akan jatuh dan kemungkinan kami untuk memenangkan perang ini akan semakin tinggi.

Sayangnya tembakanku hanya memantul di atas armornya. Tapi cukup untuk membuatnya terkejut setelah melihatku.

"Seluruh kapal! Arahkan tembakan kalian ke arah battleship musuh! Tekan mereka sehingga tidak dapat menyerang kembali!"

Dengan arahanku, seluruh kapal menembak ke arah tengah formasi musuh. Tempat dimana para battleship berada. Hasilnya sangat efektif, meriam beberapa battleship rusak parah dan tidak dapat digunakan.

Armada musuh perlahan-lahan meninggalkan pelabuhan. Mereka melarikan diri! Kita memenangkan pertempuran ini!

"Uraaaa!"

Kulihat Novik maju dengan kecepatan penuh ke arah musuh yang melarikan diri.

"Novik! Apa yang kau lakukan?!"

Bergerak sampai jarak 3 kilometer, Novik menembakkan torpedo salvo. Sebagai gantinya, ia terkena beberapa tembakan.

"LARILAH KALIAN SIALAN! DAN JANGAN PERNAH KEMBALI LAGI KEMARI!"

Novik mengakhiri teriakannya dengan tangisan sebelum kemudian beberapa cruiser mencoba menghiburnya.

"Kita benar-benar menang, bukan?"

Retvizan menghampiriku dari belakang.

"Mungkin, tapi yang jelas ini baru awalnya. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi nantinya. Jadi, persapkan dirimu baik-baik"

"Uh….. Baiklah nona flagship~"

Retvizan mengatakan hal tersebut dengan suara menggoda sambil mendekatkan wajahnya di telingaku. Entah kenapa wajahku mulai memanas. Kuharap dia tidak melihat wajahku saat ini. Itu akan sangat memalukan.

(END)


Perintah Pertempuran Pelabuhan Arthur

ARMADA JEPANG

Divisi Pertama

Battleship Mikasa (flagship) (moderated damaged)

Battleship Hatsuse (disabled)

Battleship Shikisima (disabled)

Battleship Asahi

Battleship Fuji (disabled)

Battleship Yashima

Divisi Ketiga

Armored Cruiser Iwate (flagship)

Armored Cruiser Azuma

Armored Cruiser Izumo

Armored Cruiser Yakumo

Armored Cruiser Tokiwa

Armored Cruiser Kasagi

Armored Cruiser Chitose

Armored Cruiser Takasago

Armored Cruiser Yoshino

Armada Penyergap

Destroyer Ikazuchi (flagship)

Destroyer Inazuma

Destroyer Akebono

Destroyer Oboro (heavily damaged)

Destroyer Sazanami

Destroyer Murakumo

Destroyer Akatsuki

Destroyer Kasumi

Destroyer Shirakumo

Destroyer Asashio

ARMADA RUSSIA

Battleship Tsesarevich (acted flagship) (heavily damaged)

Battleship Retvizan (heavily damaged)

Battleship Petropavlovsk (battered)

Battleship Sevastopol (#2 turret disabled)

Battleship Peresvet

Battleship Pobeda (slightly damaged)

Battleship Poltava (slightly damaged)

Protected Cruiser Bayan

Protected Cruiser Pallada

Protected Cruiser Diana (slightly damaged)

Protected Cruiser Askold (slightly damaged)

Protected Cruiser Novik (moderated damaged)

Protected Cruiser Boyarin


From the mist of deep wood, fear the power of Lord Godzilla!

Oke, cukup kata-kata gak pentingnya

Lord Godzilla disini…

Maaf kalau pertempurannya (ditambah chapter satu) cukup singkat. Data-data yang ada mengenai pertempuran di Chelmupo dan Port Arthur sangat sedikit, ditambah lagi saya punya prinsip jangan pernah langsung percaya dengan Wikipedia.

Untuk update akan berganti-gantian dengan The Lionheart. Maaf juga kalau updatenya bakal banyak makan waktu. Mulai Juni nanti saya harus nyari makan untuk dua orang, dan saat ini saya lagi habis-habisan buat ngumpulin duit *nengok ke arah dompet*

Hope you enjoy this story

Cheers~