Request dari Shiranui-kun
"Jadi, kesalahan intelejen membuat kalian kebingungan dan harus mundur pada saat itu?"
Aku memastikan jawaban kepada salah satu dari dua dreadnought di depanku ini
"Benar sekali Admiral. Kami mengira bahwa penjagaan di Arthur melemah pada saat itu sehingga kami menyerang secara buru-buru dan tanpa perhitungan. Bahkan kami tidak menyangka bahwa Tsesar masih dapat bertugas"
"Jadi begitu, tidak heran apabila saat itu kalian semua nampak terkejut saat aku tiba"
Mikasa dan Tsesarevich. Kedua kanmusu itu bercerita seperti dua orang sahabat lama yang sedang mengenang masa lalu mereka. Tidak ada perasaan dendam atau dengki di hati mereka. Seringkali diriku heran, bagaimana mereka melupakannya semudah itu? Orang-orang yang kukenal apabila sakit hati dengan seseorang mampu untuk tidak bicara dengan orang tersebut selama bertahun-tahun. Sangat sulit bagi manusia untuk memaafkan orang yang menyakitinya. Tetapi bagaimana para gadis ini melakukannya begitu mudah? Apakah karena saat ini mereka memiliki satu musuh utama, yaitu abyssal?
"Admiral, ini sudah jam makan siang. Apa kau mau ikut makan bersama kami?"
Mikasa mengajakku sementara Tsesarevich berdiri disampingnya, menunggu respon dariku. Kulihat jam tanganku menunjukkan pukul satu siang dan perutku memang sudah memberontak dengan hebatnya. Dengan senang hati kuterima ajakan mereka berdua.
Kantin yang kami miliki tidak terlalu besar sehingga kami harus bergantian untuk makan. Inilah yang menyebabkanku harus memperpanjang ketiga waktu makan. Aku sudah mendapat teguran berkali-kali karena jadwal 'tidak biasa' yang kubuat dan berkali-kali pula aku harus menjelaskan akar permasalahannya. Karena markas ini dikhususkan bagi para kanmusu, maka tidak heran apabila kanmusu pula yang mengurus masalah makanan.
Mamiya, Irako, Pyro, dan Nitro bertugas mengurus masalah dapur. Saat baru berada di markas ini, aku terkejut bahwa makanan para kanmusu tidak berbeda dengan makanan pada umumnya. Perbedaannya terdapat pada bahannya yang kau pasti tidak akan mau mendengarnya. Yang membuatku heran, makanan mereka juga aman untuk dikonsumsi manusia. Sebuah kabar baik bagiku.
Saat akan mengambil makanan, kulihat Z2 atau yang biasa dipanggil Georg sedang menikmati makan siangnya sendirian. Sebuah kejutan dari seseorang yang over-protektif kepada saudari-saudarinya. Selama ini aku selalu melihatnya bersama-sama dengan Lebe, Max, dan Richard. Melihatnya sendirian adalah sebuah hal baru bagiku.
"Mikasa, Tsesarevich, kalian duduklah terlebih dahulu. Aku akan menyusul nanti"
Tujuanku jelas, untuk bicara dengan Georg.
"Boleh aku duduk disini?"
"Ah, tentu saja Admiral"
Aku segera duduk berhadapan dengannya.
"Kemana saudarimu yang lain?"
"Aku tidak tahu"
"…."
WOW!
"Apa kau sedang bertengkar dengan mereka?"
"Tidak"
"Lalu kenapa kau sendirian saja?"
"Aku hanya ingin makan"
"Kau tahu Georg, saat seseorang berbohong mereka cenderung berbicara dengan cepat dan menggunakan kalimat yang pendek. Dan kau sedang melakukannya saat ini. Ayolah, katakan apa masalahnya kepadaku"
"Sudah kuduga aku tidak dapat berbohong kepadamu, Admiral. Hanya saja… akhir-akhir aku teringat masa lalu"
"Bisa kau menceritakannya?"
"Well…"
Story ? - Flames at Frozen Sea
Part 1 – Operation Wikinger (German: Operation Viking), 22 February 1940
"Eh, benarkah itu Georg?"
"Tentu saja Friedrich! Kau akan menjadi pimpinan dari armada perusak pertama! Admiral sendiri yang memberitahukannya kepadaku!"
"La-lalu, apa yang terjadi dengan Lebe?"
"Perombakan ulang. Anggota lainnya belum diumumkan namun satu tempat sudah diisi olehmu. Jangan terlalu mengkhawatirkan kakakku. Dia pasti akan tetap bertugas di armada pertama. Yah, termasuk diriku. Hahahaha…"
Z16 atau Friedrich Eckoldt merupakan sahabat terbaikku. Dia sangat dekat denganku, bahkan melebihi saudari-saudariku. Dia masih menampakkan ekspresi terkejut pada kabar yang kuberikan padanya namun dibaliknya, aku dapat melihat bahwa ia sangat gembira di dalam lubuk hatinya.
Sepertinya ini yang disebut dengan insting kakak tertua sekaligus sahabat. Meskipun secara teknis tertua kedua. Namun tetap saja aku merupakan salah satu destroyer pertama di Deutschland .
Kelasku, Zerstorer 1934 merupakan prototype dari semua destroyer milik Kriegsmarine saat ini. Kelas 1934A dimana Z16 berada pada dasarnya tidak memiliki perbedaan berarti dengan kami sehingga bisa dianggap mereka adalah adik-adik kami. Kelas 1936 mengaplikasikan beberapa perbaikan tanpa mengubah desain awal kapal. Ukuran mereka lebih besar dan kemampuan tempur mereka jauh lebih baik daripada kami. Kelas 1936A yang saat ini sedang dikonstruksi direncanakan akan rampung beberapa bulan lagi. Mereka akan memiliki persenjataan AA yang jauh lebih baik daripada kami.
Beberapa minggu kemudian, armada baru sudah selesai dibuat dan kami semua dikumpulkan untuk mendengar pengumumannya. Grand Admiral Erich sendiri yang mengumumkannya. Sampai saat yang kutunggu-tunggu tiba.
"Armada perusak pertama, pimpinan; Z16"
Seperti yang kukatakan sebelumnya.
"Anggota; Z1, Z3, Z4, Z6, Z13"
Aku benar-benar terkejut, namun ekspresiku dapat kusembunyikan dengan baik. Ini pertama kalinya diriku dipisahkan dari saudari-saudariku. Aku tetap menunggu sampai namaku disebut. Namun sampai akhir pengumuman, namaku tidak juga muncul. Ada apa ini!? Aku harus bicara kepada Admiral.
Jawaban darinya membuatku kecewa. Diriku dinonaktifkan sementara untuk menyambut operasi yang lebih besar di masa mendatang. Tapi sampai kapan? Sampai diriku berkarat dan dibesituakan? Dia bahkan tidak dapat memastikannya. Memang akan menjadi sebuah kebanggaan tersendiri apabila bertugas di sebuah operasi penting. Namun aku merasa lebih nyaman apabila bertempur bersama teman-temanku di garis depan daripada hanya diam di pelabuhan tanpa melakukan sesuatu yang berarti.
12 Februari 1940
Akhir-akhir ini aktifitas kapal nelayan milik Inggris nampak mencurigakan di Dogger Bank. Mereka berkali-kali mendekati perbatasan kami. Pola pergerakan mereka juga aneh. Mereka diam selama beberapa hari di suatu posisi kemudian bergerak secara bersamaan. Tidak masuk akal mengingat ikan-ikan tangkapan mereka seperti tuna dan makarel selalu berpindah tempat.
Itu adalah berita yang aku dengar dari Friedrich. Aku sendiri tidak dapat memastikannya secara langsung karena tidak mendapat izin untuk berlabuh.
"Georg, apa menurutmu Inggris mulai melakukan pergerakan mereka?"
Perang baru saja dimulai beberapa bulan yang lalu dan ancaman terbesar kami saat ini belum melakukan sesuatu yang mengancam perbatasan kami. Pasukan mereka sudah tersebar di dataran Prancis namun mereka sama sekali belum melakukan serangan offensive.
"Sepertinya begitu. Para nelayan itu tidak memiliki alasan untuk terus diam di satu tempat. Apa yang akan Admiral lakukan?"
"Hmm… Aku dengar Kriegsmarine sudah meminta Luftwaffe untuk mengirim pesawat pengintai"
"Luftwaffe? Bukankah kita memiliki Marineflieger? Kenapa memilih skuadron dari angkatan udara daripada skuadron milik kita sendiri?"
"Entahlah. Namun akhir-akhir ini kita memang sering meminta bantuan kepada mereka dan hasilnya cukup positif"
Tapi sampai kapan? Meskipun mereka meminjamkan beberapa skuadron mereka kepada kami, pesawat-pesawat itu tetap berada di dalam perintah langsung dari Luftwaffe. Mereka tidak akan menerima perintah secara langsung dari kami sehingga kami harus menghubungi komando Luftwaffe terlebih dahulu dalam memberi perintah. Sungguh repot sekali. Berbeda apabila menggunakan kekuatan udara kami sendiri.
Yah, tidak ada gunanya bergunjing sendiri. Tugas kami hanyalah menerima perintah dan melaksanakannya.
Dan dugaanku sepertinya benar. Pesawat pengintai yang dikirim mendeteksi keberadaan kapal selam disana. Kira-kira apa yang akan Kriegsmarine lakukan…?
"Jadi , begitulah garis besarnya. Aku ingin kalian bersiap sekarang juga karena misi ini akan dimulai nanti malam. Kita tidak ingin mereka melarikan diri dari sana. Ingatlah keberhasilan operasi ini bisa jadi menentukan akhir dari perang ini. Aku ingin kalian melakukannya dengan sungguh-sungguh"
Tugas pertama datang lebih cepat daripada yang aku kira.
Dengan laporan dari Luftwaffe, pimpinan Kriegsmarine segera bergerak cepat dengan mengirim armada perusak pertama yang dipimpin olehku untuk memburu kapal selam tersebut.
Diriku benar-benar gugup dan kepercayaan diriku hilang.
Apa aku dapat melakukannya?
Apa aku mampu untuk memimpin mereka dalam pertempuran?
Apa aku pantas untuk mendapatkan posisi ini?
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan"
Itulah yang pertama kali dikatakan Georg saat membicarakan masalahku dengannya.
"Kau terlalu banyak berpikir. Kau selalu takut apabila berbuat kesalahan dan membuatmu kehilangan kepercayaan dari teman-temanmu. Kau takut untuk mengambil resiko dan selalu bermain aman. Ketakutan itu membuatmu sulit berkembang. Percayalah pada keputusanmu dan belajarlah dari kesalahan yang kau buat nantinya. Berbuat kesalahan adalah hal yang wajar.
Seekor kepiting yang tidak mengambil resiko dengan melepaskan cangkang keras yang membuatnya aman, tidak akan bertambah besar dan justru akan mati. Sebaliknya, kepiting yang berani melepaskan cangkang pelindungnya akan bertambah besar dan kuat. Seiring berjalannya waktu, cangkang baru akan tumbuh dan bahkan lebih keras dari sebelumnya.
Masalahnya sekarang, apa kau cukup berani untuk keluar dari zona nyamanmu untuk dapat tumbuh dan berkembang atau tetap berada di dalam sana kemudian mati dan membusuk"
Aku tahu adalah sebuah hal yang tepat untuk membicarakan hal ini padanya. Dia tidak hanya sahabatku, tetapi juga kakakku.
"Oh, ya. Aku punya permintaan, Friedrich"
"Katakanlah"
"Tolong jaga ketiga saudariku. Mereka kadang bertindak ceroboh dan hal itu membuat mereka sering dilanda masalah"
"Tenang saja, Georg. Aku akan menjaga mereka sebaik mungkin"
22 Februari 1940, 19.00
Kami meninggalkan pelabuhan sepuluh menit yang lalu. Angin tidak terlalu kencang sehingga laut cenderung tenang. Jarak pandang juga jelas sehingga apapun yang mencurigakan akan segera terlihat oleh kami. Sayangnya, pesawat dari Luftwaffe yang akan mengawal kami belum juga muncul.
"Friedrich, dimana pesawat-pesawat itu?"
"Aku tidak tahu, Max. Aku sudah menghubungi markas dan mereka sudah memastikan bahwa fighter dari Luftwaffe akan datang. Kita hanya bisa menunggu"
"Friedrich, kita hampir sampai di Weg I"
Suara Lebe terdengar dari bagian depan.
Untuk sampai ke Dogger Bank, kami harus melalui ladang ranjau yang disebut dengan 'Westwall'. Untuk melaluinya, terdapat sebuah area bebas ranjau yang disebut dengan 'Weg I' yang memiliki jarak enam mil.
"Semuanya, tutup formasi seperti rencana kita tadi"
Formasi kami berubah menjadi sebuah garis lurus dengan diriku memimpin di depan dan Max menjaga bagian belakang. Dengan kecepatan 25 knot, ombak putih yang kami ciptakan sangat jelas terlihat akibat dari suhu air laut yang hanya tiga derajat di atas titik beku.
Bagaimanapun juga, kami harus melewati area ini secepat mungkin sambil menunggu bantuan dari Luftwaffe yang belum juga muncul.
Diiringi sinar rembulan, kami terus bergerak menuju ke arah barat laut.
19.13
Suara yang cukup keras terdengar olehku. Suaranya berbeda dari turbin kami sehingga itu pasti bukan dari kapal. Suara ini berasal dari pesawat. Aku yakin itu. Suaranya terdengar sangat jelas sehingga aku yakin bahwa pesawat itu memiliki dua mesin penggerak.
Butuh beberapa menit sebelum pesawat tersebut akhirnya terlihat. Terbang pada ketinggian 500-800 meter, pesawat tersebut terbang melewati kami. Dari bentuknya nampaknya pesawat tersebut merupakan tipe bomber sehingga sudah pasti dia bukan pesawat yang dikirim Luftwaffe untuk membantu kami. Tak ada tanda-tanda perlawanan, tak ada tanda-tanda perkenalan diri. Kami tidak mengetahui identitas pesawat tersebut.
Pesawat tersebut kemudian berbalik arah dan kembali melewati kami sebelum akhirnya menghilang di dalam kegelapan malam.
Delapan menit kemudian, pesawat tersebut kembali lagi. Kali ini aku mulai curiga dan menurunkan kecepatan ke 17 knot untuk menghilangkan ombak yang kami buat.
"Friedrich, bisa jadi pesawat itu merupakan pesawat pengintai milik Inggris"
Richard yang berada di belakangku mengungkapkan kecurigaannya juga.
"Bisa jadi begitu. Dia mungkin menuntun pesawat atau kapal lain menuju ke arah kita"
"Perintahmu Friedrich?"
Bila itu benar-benar pesawat pengintai, maka menembaknya jatuh disini adalah pilihan terbaik. Tapi bagaimana bila bukan? Bagaimana bila pesawat itu ada di pihak kita?
'Kau terlalu banyak berpikir'
Saat itu juga perkataan Georg muncul di pikiranku.
'Kau takut untuk mengambil resiko dan selalu bermain aman'
Aku memang tidak tahu apakah dia kawan atau lawan.
'Ketakutan itu membuatmu sulit berkembang'
Jika kami tidak menembaknya disini, bisa jadi kami semua akan berada dalam bahaya.
'Percayalah pada keputusanmu dan belajarlah dari kesalahan yang kau buat nantinya'
Sudah kuputuskan
"Richard, Erich, jatuhkan pesawat itu!" kataku kepada kapal kedua dan ketiga di dalam formasi.
Mereka berdua segera menembakkan senjata 20mm mereka ke udara. Pesawat tersebt menghindar dengan baik sebelum berbalik arah dan menembakkan senapan mesinnya ke arah kami. Meskipun begitu, kalibernya terlalu kecil untuk memberi kerusakan berarti.
Pesawat tersebut terbang menjauh kemudian menghilang kembali di langit malam.
Sudah dapat kupastikan bahwa pesawat tersebut merupakan musuh.
"Semuanya dalam posisi siaga! Dia pasti akan menghubungi teman-temannya untuk menyerang kita. Isi amunisi kalian dan perhatikan kondisi sekitar! Jangan sampai kalian lengah! Saat musuh terlihat, segera-"
"Friedrich, tenanglah!"
"Max, kenapa kau memotong perkataanku!?"
"Aku bilang tenang terlebih dahulu! Semuanya juga, turunkan senjata kalian! Pesawat itu bukanlah musuh"
Bukan. Musuh?
"Mengapa kau begitu yakin? Sudah jelas sekali bahwa ia menyerang kita"
"Tentu saja bodoh! Kita yang memulai tembakan terlebih dahulu! Jika aku jadi dia, aku juga sudah pasti akan membalas tembakan kalian! Aku melihatnya dengan jelas. Pesawat itu memiliki lambang Luftwaffe di bagian sayapnya"
"Kalau begitu jelaskan kepadaku, kenapa aku tidak melihatnya!?"
"Sudah kubilang kau terlalu panik sehingga tidak memperhatikannya! Teman-teman, kalian pasti juga melihatnya, bukan?"
Tak ada yang menjawab perkataan Max. Semuanya hanya melihatnya dengan heran, bahkan Lebe juga.
"Ayolah, apa hanya aku yang melihatnya disini? Lebe? Richard?"
"Maaf Max, tapi Friedrich adalah pemimpinnya disini sehingga aku harus mempercayainya. Kau harusnya juga memahami itu"
"Lebe…"
Sepetinya aku yang menang disini, Max.
19.43
Aku tidak percaya bahwa mereka semua tidak mempercayai perkataanku. Pesawat tersebut terbang tepat diatasku dan aku dapat melihat dengan jelas lambang Luftwaffe disana. Sudah kuduga, Friedrich belum siap untuk menjadi kapal pemimpin. Dia terlalu terburu-buru dalam mengambil keputusan dan sulit untuk membaca situasi. Pengalamanku bersamanya saat latihan gabungan sudah membuktikan.
Sayang sekali Lebe memintaku untuk mematuhi perintahnya. Kalau dia yang meminta, maka aku tidak dapat menolaknya.
Tunggu sebentar, ada sesuatu yang muncul dari balik awan.
Mungkin pesawat yang tadi.
Aku harus memberitahu yang lain.
Namun jarak kami satu sama lain cukup jauh. Aku harus mengirim transmisi melalui radio.
"Flugzeug ist gesichted worden in der schwarzen Wolke des Mondes"
(Pesawat terdeteksi berada di awan hitam di depan bulan)
17.45
Dua jam yang lalu
Skuadron KG26 keempat milik Luftwaffe menyiapkan beberapa pembom He 111 mereka untuk lepas landas dari bandara Neumunster. Salah satunya adalah He 111 dengan kode identifikasi 1H + IM, dikomandani oleh Feldwebel Jager. Mereka ditugaskan untuk menyerang kapal kargo Inggris di Pantai timur Britania Raya.
Setelah lepas landas, 1H + IM segera bergerak ke utara menuju pulau Sylt. Disana, pesawat tersebut berbelok ke arah kiri menuju laut utara yang gelap.
Beberapa menit setelah lewat jam tujuh malam, kru pesawat mendeteksi ombak yang ada di laut di bawah mereka, dan setelah mereka melewatinya, mereka melihat bayangan yang ada di depan ombak tersebut.
Meskipun para kru tidak melihatnya secara langsung, mereka yakin bahwa yang mereka lihat adalah kapal barang dan memutukan berbalik arah untuk mengidentifikasinya. Saat mendekati kapal tersebut, tiba-tiba saja senjata anti pesawat ditembakkan dari bayangan tersebut. Sebuah tanda yang jelas bahwa mereka adalah kapal musuh.
Setelah membalas tembakan dengan senapan mesin, bomber tersebut mengubah vektor dan menaikkan ketinggian untuk memulai pengeboman. Di ketinggian 1.500 meter, He 111 tersebut mendekati bayangan dibawahnya sambil dilindungi oleh awan hitam yang menutupi sinar rembulan di belakangnya…
Kami mendapat pesan dari Max melalui radio tentang kedatangan pesawat tersebut lagi. Kami sengaja memperlebar jarak kami satu sama lain agar pesawat tersebut kesulitan untuk medeteksi kami di laut yang gelap ini. Mereka pasti tidak dapat melihat kami.
Sayangnya dugaanku salah.
Satu menit setelah laporan dari Max, suara ledakan terdengar dari belakang. Ledakan tersebut berasal dari bagian tengah formasi kami. Tempat dimana Erich dan Lebe berada. Namun, sepertinya bom tersebut tidak mengenai siapapun. Gelapnya malam membuatku tidak dapat melihat keadaan mereka.
Beberapa saat kemudian bom kembali meledak di posisi yang sama. Kami menembakkan senjata anti pesawat kami sambil terus bermanuver untuk menghindari serangan.
Dalam waktu kurang dari lima detik, dua ledakan bom lagi terdengar dari tengah formasi kemudian berhenti. Nampaknya pesawat tersebut kehabisan muatan dan tidak ada satupun yang mengenai kami.
Sampai pesan radio yang masuk dari Lebe membuatku berkeringat dingin.
"Habe Treffer, brauche Hilfe!"
(Terkena serangan, butuh bantuan segera!)
Bom ketiga dari pesawat tersebut mengenai Lebe dan menghancurkan anjungannya. Di dalam gelapnya malam, Leberecht Maas melambat dan perlahan-lahan meninggalkan formasi ke arah kiri.
Pukul 19.46, para destroyer lain mengubah arah untuk membantu Lebe yang terluka, namun Friedrich segera memerintahkan mereka untuk kembali ke formasi. Friedrich sendiri bergerak ke arah sinyal dari Lebe untuk melihat kerusakannya. Dia menyiapkan tali pengait untuk menarik Lebe apabila destroyer tersebut tidak mampu bergerak lagi.
Dalam jarak 500 meter, Friedrich akhirnya dapat melihat Lebe. Keningnya mengeluarkan darah dan nafasnya tersengal-sengal. Namun tak ada tanda-tanda kerusakan dari bom seperti api atau asap yang terlihat olehnya. Friedrich segera meningkatkan kecepatan seiring dengan kekhawatirannya.
Tiba-tiba saja Lebe menembakkan senjata anti pesawatnya ke udara. Beberapa saat kemudian, dua buah ledakan terjadi di tempat dimana Lebe berada. Ledakan pertama tepat berada di belakangnya. Menyebabkan air naik dengan tinggi ke udara. Ledakan kedua tepat mengenainya; menyebabkan bola api setinggi dua puluh meter, diikuti oleh asap yang menutupi tubuh Lebe.
Saat angin menghilangkan asap tersebut, pemandangan mengerikan nampak di hadapan Friedrich. Tubuh Lebe terbelah menjadi dua di bagian pinggul kemudian segera tenggelam ke dalam Laut Utara yang dingin. Semuanya terjadi begitu cepat dalam waktu dua menit.
Friedrich yang melihat semuanya segera membeku. Tubuhnya gemetaran dan matanya berkaca-kaca. Ia ingin berteriak namun dapat ia tahan. Bayangan akan Georg menghampiri pikirannya. Apa yang akan terjadi saat ia mengetahui bahwa saudarinya telah tenggelam? Bagaimana dia harus menghadapi reaksinya nanti?
Dia telah berjanji pada Georg untuk menjaga saudari-saudarinya dan saat ini dia telah melanggarnya. Bagaimanapun juga dia harus bertanggung jawab.
Butuh beberapa menit baginya untuk menenangkan diri dan mengabarkan berita tersebut melalui radio.
"An alle: Maas sinkt. Boote aussetzen"
(Kepada semua kapal: Maas telah tenggelam, memohon bantuan segera)
20.04
Setelah tenggelamnya Lebe, tak ada satupun dari kami yang bicara. Semuanya masih terkejut pada peristiwa tersebut, terutama Max dan Richard. Aku bersama Erich dan Richard berusaha mengumpulkan bagian-bagian dari Lebe yang tersisa saat sebuah ledakan besar kembali terdengar.
"Semuanya, laporkan kondisi kalian"
Laporan yang masuk pertama kali dari Theodor sama sekali diluar dugaan.
"Kapal selam terdeteksi! 1000 meter dari posisi ledakan!"
Erich juga melaporkan keberadaan kapal selam sehingga aku memerintahkan seluruh kapal untuk memburu kapal selam tersebut. Yang aneh, Max sama sekali tidak menjawab panggilan dariku. Tidak ada yang tahu apa yang telah terjadi padanya.
25 menit setelahnya benar-benar sebuah kekacauan
Periskop dari kapal selam terlihat setiap menitnya. Puluhan torpedo terdeteksi sehingga kami harus bermanuver setiap detiknya. Gelapnya malam membuat kami beberapa kali nyaris bertabrakan. Tidak ada pilihan lain.
"Semuanya! Kita kembali ke Wilhelmshaven!"
"Bagaimana dengan Max?"
"Kita dapat mencarinya besok. Posisi kita tidak menguntungkan saat ini dan aku tidak ingin kehilangan seseorang lagi"
Georg memandang lautan dengan tatapan hampa. Kehilangan dua orang saudarinya dalam waktu semalam membuat hatinya hancur. Richard yang menemani di sampingnya juga memiliki ekspresi yang tidak jauh berbeda.
Pesawat yang melakukan serangan pada malam itu merupakan bomber milik korps penerbang kesepuluh dari Luftwaffe. Komunikasi yang buruk menjadi pemicu peristiwa tersebut dan menyebabkannya harus kehilangan Lebe.
Sementara bangkai dari Max ditemukan di dasar laut oleh Admiral Hipper yang datang ke tempat kejadian untuk mengidentifikasi kasus tersebut. Penjelajah berat tersebut melaporkan bahwa posisi Max berada di dalam area ladang ranjau sehingga berita tentang kapal selam yang membuatnya tenggelam terbantahkan. Kemungkinan besar dalam situasi tersebut Max keluar dari zona aman kemudian terkena salah satu ranjau dan tenggelam.
Tidak ada yang dapat ia salahkan. Semuanya murni kecelakan semata. Ia juga tidak dapat menyalahkan Friedrich. Dia tahu bahwa Friedrich sudah menjalankan tugasnya sebaik mungkin.
Beberapa saat yang lalu, Admiral Erich memberitahukan bahwa ia akan ditugaskan di grup satu dalam operasi Weserubung untuk merebut Narvik di Norwegia.
Senyuman lemah terpancar di wajahnya
'Lihat saja, aku akan membalas kematian mereka berdua'
(END)
Partisipan "pertempuran"
Kriegsmarine
1st Destroyer Flotilla
Z16 / Friedrich Eckoldt (flagship)
Z1 / Leberecht Maass (sunk)
Z3 / Max Schultz (sunk)
Z4 / Richard Beitzen
Z6 / Theodor Riedel
Z13 / Erich Koellner
Luftwaffe
X. Fliegerkorps
Heinkel He 111 Medium Bomber
Lord Godzilla is all the reinforcement this army needs!
Thanks sudah mau membaca sampai bagian ini.
Kritik dan saran apabila berkenan.
Selanjutnya akan kembali lagi ke perang Russo-Japan
Cheers~
