Judul sedikit saya ubah
Story 1 – Russo-Japanese War
Part 3 – Battle of the Yellow Sea, 10 August 1904
3 August 1904
"Oh, cepat juga kau kembali Diana. Bagaimana keadaan di luar sana?"
"Tidak ada yang berubah, Tsesarevich. Mereka semua masih ada di sana. Kapal-kapal kargo juga tidak diperbolehkan masuk sehingga pasokan kita hanya dapat ditempuh dari darat. Kapal-kapal yang singgah disini juga tidak diperbolehkan keluar dan yang kudengar para kapten mereka akan melakukan negosiasi dengan angkatan laut Jepang"
"Huh…Berapa lama lagi aku harus berada disini?"
Enam bulan yang lalu, kami berhasil mempertahankan pelabuhan ini dari serangan armada Jepang. Namun apa yang terjadi setelah pertempuran itu benar-benar membuat kami berada di titik terendah.
Armada Jepang memblokade pelabuhan dan menyebabkan kami semua tidak dapat keluar dari perairan Manchuria. Ranjau laut sudah diletakkan dimana-mana. Boyarin, Petropavlovsk, dan dua destroyer kami tenggelam akibat ranjau mereka. Sebagai balasannya, kami berhasil menenggelamkan dua battleship mereka, Yashima dan Hatsuse.
"Tsesarevich, ada telegram yang masuk dari Viceroy Yevgeni"
Kali ini Retvizan yang menghampiriku.
Viceroy Yevgeni Alekseyev merupakan mantan Admiral kami sebelum digantikan oleh Admiral Wilgelm Vitgeft yang memimpin kami saat ini. Semenjak blokade oleh Jepang di Pelabuhan Arthur, hubunganku dengannya menjadi kurang baik. Dia meminta kami untuk melakukan serangan agresif agar jalan antara Skuadron kami di Arthur dan Skuadron di Vladivostok terbuka sehingga kami dapat bergabung dan menjadi cukup kuat untuk menantang armada Jepang. Ide yang menarik tapi kutolak mentah-mentah.
Menurutku, lebih baik bagi kami untuk tetap berada di pelabuhan dan secara bersamaan membantu pertempuran yang sedang berlangsung di darat dengan persenjataan kami. Meskipun secara pasif, diriku tetap berpegang teguh terhadap doktrin angkatan laut Russia.
Aku membaca telegram tersebut secara perlahan-lahan, raut wajah kesal muncul di wajahku.
"Tsesarevich, wajahmu menakuti para destroyer yang lewat"
Apakah aku semenakutkan itu? Nah, tak usah dipikirkan.
Viceroy Yevgeni memberitahukan pendapatnya kepada Tsar. Dan luar biasa, pendapatnya tersebut langsung disetujui. Kali ini Tsar sendiri yang memerintahkan kami untuk berlayar menuju Vladivostok. Aku tidak dapat menolaknya kali ini.
"Retvizan, kumpulkan semuanya! Kita akan berlayar seminggu lagi!"
10 Agustus 1904
09.55
Kami berhasil keluar dari area ranjau dengan lancer menuju ke arah barat daya, arah yang berlawanan dari Samudra Pasifik. Kapal kami yang berada pada barisan paling belakang melaporkan bahwa Armada Jepang bergerak ke arah pelabuhan. Mereka pasti mengira kami akan kembali ke pelabuhan dan berusaha untuk menghadang kami.
Sayangnya tidak demikian. Kami sudah mengucapkan selamat tinggal pada pelabuhan itu dan tetap pada rencana awal, menuju Vladivostok. Namun kami tidak langsung meninggalkan Manchuria dengan menuju Pasifik. Rencana kami adalah membagi kekuatan mereka menjadi dua. Dengan bergerak menuju barat daya, mereka pasti tidak akan mengetahui tujuan utama kami dan mengirim sebagian armada mereka untuk menghadang kami saat akan kembali ke pelabuhan.
Saat sampai di posisi yang sudah ditentukan, kami mengubah arah menuju tenggara menuju Pasifik. Sampai di titik ini, armada Jepang yang berada di belakang dilaporkan bergerak untuk mengejar kami dan saat ini berada dalam jarak 18 km. Mereka pasti sudah menyadari rencana kami. Aku benci mengatakannya tapi mereka jauh lebih cepat daripada kami. Dalam hal balapan, kami tidak akan mungkin bisa menang. Keadaan kami menjadi semakin buruk setelah empat penjelajah berat mereka muncul dari arah selatan. Sepertinya mereka berniat untuk menghadang kami dari dua arah.
Pukul 13.00, armada Jepang yang dipimpin oleh Mikasa mencoba melakukan crossing T terhadap armada Russia dan menembak dalam jarak 8 mil. Hampir mustahil untuk mengenai sasaran dalam jarak sejauh ini sehingga dipastikan gagal. Retvizan membalas tembakan mereka dan juga tidak mengenai sasaran. Tsesarevich memerintahkan untuk berbelok ke arah kiri dan dengan mudah menjauhi divisi Mikasa.
"Ubah haluan sekarang juga!"
Mikasa segera memerintahkan seluruh kapal yang ada agar mengubah arah untuk mengantisipasi Armada Russia melakukan crossing T pada mereka. Keadaan akan berbalik jika hal tersebut benar-benar terjadi. Formasi armada Jepang sekarang paralel dengan armada Russia.
Tiga puluh menit kemudian, kembali dalam jarak 8 mil, Mikasa membuka serangan kepada Tsesarevich dan Retvizan. Keberuntungan ada di pihak Mikasa. Retvizan terkena serangan sebanyak 12 kali.
"Retvizan! Kau tidak apa-apa!?"
"A-aku tidak apa-apa. Sepertinya aku butuh istirahat sebentar"
Retvizan terengah-engah menahan rasa sakit yang ia terima. Tsesarevich yang tidak terima temannya dibuat seperti ini membalas tembakan Mikasa dalam jarak yang luar biasa. Dua tembakan berhasil mengenai Mikasa dan melumpuhkan radio komunikasi miliknya.
Hal ini memancing serangan dari armada Jepang. Semua kapal menembakkan senjata mereka dalam jarak yang tidak masuk akal. Tidak mau berdiam diri, seluruh kapal dari Russia juga mulai membuka serangan. Saling berbalas tembakan, jarak dari kedua kubu semakin mendekat.
"Berhenti menembak dan menyerahlah!"
"Jangan coba-coba menghalangi kami!"
Dalam jarak yang sudah cukup dekat, secondary gun dari kedua belah pihak mulai bergemuruh. Sampai di titik ini, tidak ada kapal yang tidak terluka. Kedua belah pihak mulai merasakan dampaknya, terutama Mikasa. Kondisinya saat ini merupakan yang paling parah. Tubuhnya dipenuhi luka dan armamennya rusak dimana-mana. Pandangannya juga mulai kabur sehingga ia sulit untuk menembak.
Tidak cukup dengan siksaan yang sudah diterima, Mikasa kembali terkena tembakan secondary gun dari Tsesarevich, Retvizan, dan Sevastopol. Tubuhnya terguncang untuk yang kesekian kalinya.
"I-ini bukan apa-apa… Aku adalah kapal tempur… Serangan kecil semacam ini tidak akan bisa menenggelamkanku"
Mikasa mencoba untuk menyemangati dirinya sendiri saat Fuji menghampirinya dari belakang.
"Mikasa, sudah cukup! Kau tidak dapat menerima serangan lebih banyak lagi! Mundurlah dari garis depan!"
"A-aku tidak apa-apa…Fuji-san. Luka kecil semacam ini-"
"Bagaimana kau menyebut ini luka kecil!? Dengarkan aku Mikasa! Kau adalah pemimpin kami semua. Keadaan akan sangat kacau apabila kami kehilangan dirimu!"
"Tapi Fu-"
"Tidak ada tapi nona muda! Segera mundur ke barisan belakang! Aku akan menggantikanmu disini"
Mikasa tidak dapat menolak. Bagaimanapun juga Fuji adalah seniornya dan dia sangat menghormatinya.
"Fuji-san, tolong sampaikan kepada para penjelajah untuk maju ke barisan depan. Radioku rusak dan tidak dapat dipakai"
"Mengerti"
Dan dengan segera, Mikasa mundur dari area pertempuran.
Pesan memang disampaikan kepada para penjelajah berat, tetapi tidak untuk para battleship. Melihat Mikasa yang melambat untuk berganti posisi dengan Fuji, semua battleship yang ada juga ikut melambat. Mikasa yang melihat hal ini terkejut dan segera mengirimkan sinyal bendera untuk terus mengejar armada Russia dengan kecepatan penuh.
Hasilnya, terdapat jarak yang besar antara armada Jepang dan Russia. Para penjelajah berat yang berada di barisan depan juga dipukul mundur oleh senjata 305mm milik Russia. Butuh waktu satu jam bagi armada Jepang untuk kembali masuk ke dalam jarak tembak. Mikasa yang sudah merasa baikan kembali bertukar posisi dengan Fuji di bagian depan. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Mikasa dan Asahi yang berada di paling depan segera membuka serangan kepada Poltava, kapal Rusia yang berada di paling belakang.
Poltava segera bermanuver untuk menghindari serangan tanpa dapat membalasnya. Sayangnya ia tidak terlalu cepat dan beberapa tembakan berhasil mengenainya.
"Poltava, lebih cepat lagi! Jangan sampai mereka menyusul kita!"
"Aku tidak bisa, Peresvet! Mesinku bermasalah dan sangat sulit untuk mengejar kalian!"
"Cih, tidak ada pilihan lain"
Peresvet segera berbalik menuju ke arah Poltava. Dengan segera, ia menembakkan seluruh meriamnya ke arah Mikasa dan Asahi. Poltava juga berhenti bergerak dan ikut menembak. Mikasa dan Asahi yang tidak menduga hal tersebut hanya dapat mencoba menerima serangan dari mereka berdua.
Peresvet dan Poltava sama sekali tidak memberi mereka kesempatan untuk membalas. Mikasa yang lagi-lagi sudah mencapai batasnya memutuskan untuk menjauh dari jangkauan tembak mereka berdua. Asahi juga merasakan hal yang sama sehingga ia juga ikut mundur bersama Mikasa. Peresvet tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dan segera membantu Poltava untuk melarikan diri.
Mikasa terlambat untuk menyadari suatu hal. Semua kapal yang berada di bagian belakang juga ikut melambat. Mikasa yang melihatnya dengan ekspresi 'are you kidding me?' hanya bisa facepalm.
"Oke, sekarang bendera mana yang harus aku naikkan?"
Tsesarevich POV
Tiga jam lagi sebelum matahari tenggelam. Kami harus tetap bertahan sampai saat itu tiba. Saat hari sudah benar-benar gelap, mereka tidak akan dapat menghalangi kami menuju Vladivostok.
Mikasa POV
Tiga jam lagi sebelum matahari tenggelam. Kami harus menyusul mereka dan menghalangi mereka untuk keluar dari area Manchuria. Saat hari sudah benar-benar gelap, kami akan kehilangan mereka. Sekarang, yang mana bendera untuk kecepatan penuh…? Huaaa! Ini benar-benar membuatku bingung! Andai saja radioku masih berfungsi…
Normal POV
"Belum cukup, lebih dekat lagi! Jika kita tidak dapat menghalangi mereka, setidaknya kita dapat menenggelamkan salah satu dari mereka"
Pukul 17.35, Armada Jepang sudah berada pada jarak 3.5 mil dari Poltava yang masih belum dapat keluar dari masalah mesinnya. Mikasa segera memerintahkan seluruh kapal untuk menembak ke arah Poltava. Tidak mampu bermanuver, puluhan peluru menghujani Polvata. Menahan rasa sakit yang ia terima, Polvata mencoba untuk mempercepat lajunya. Sayangnya ia justru semakin melambat.
"Cukup Sudah! Kalau begini terus, sudah pasti hidupku akan berakhir! Bila memang aku mati hari ini, aku tidak ingin kematianku sia-sia!"
Polvata berhenti dan berbalik menghadap armada Jepang yang mengejarnya. Ia berniat untuk memberikan sedikit waktu bagi teman-temannya untuk melarikan diri.
"Alright, BRING IT ON!"
Sambil menahan semua serangan yang ia terima, Poltava sesekali menembak ke arah Mikasa. Dalam keadaan seperti itupun, Poltava beberapa kali mampu mengenai Mikasa. Armada Jepang terus menembak-menembak-menembak sampai-
*kabooom
Suara tersebut berasal dari ledakan di dalam salah satu meriam milik Shikishima. Membuatnya tidak dapat digunakan lagi.
*kabooom
*kabooom
Kali ini berasal dari dalam dua buah meriam milik Asahi. Keduanya juga tidak dapat digunakan lagi.
*kabooom
*kabooom
*kabooom
Suara ledakan yang sama dari tiga kapal yang berbeda. Dengan ini, total enam meriam yang tidak dapat digunakan lagi.
"Well, ini benar-benar diluar rencana" kata Polvata
"Oi… Kalian memberi jeda sebelum menembak, kan?"
"Ahaha, maaf Mikasa~ Kami terlalu bersemangat untuk menenggelamkannya~"
"SAMPAI SEBESAR ITUKAH KEINGINAN KALIAN UNTUK MENENGGELAMKANKU?!"
Melihat seluruh armada Jepang yang masih shock atas kesajian tersebut, Polvata kabur secara diam-diam. Setidaknya apa yang ia inginkan sudah terlaksana.
Pukul 18.30, Posisi armada Jepang kembali sejajar dengan armada Russia. Meskipun begitu, tidak ada kordinasi yang baik dari armada Jepang. Shikishima dan Arashi terus menembaki Poltava yang bahkan kesulitan untuk mengapung sekarang. Fuji menembak ke arah Pobeda dan Peresvet, sementara Mikasa sedang berduel dengan Tsesarevich. Sama sekali tidak ada yang memperhatikan Retvizan maupun Sevastopol.
Sementara Russia…
Well…
Anggap saja semua mata kapal Russia tertuju kepada Mikasa.
Untuk yang ketiga kalinya hari ini, Mikasa kembali dalam keadaan kritis sementara matahari akan tenggelam 30 menit lagi. Mikasa sadar bahwa ia tidak lagi berguna dalam pertempuran karena seluruh luka yang sudah ia terima hari ini sementara tembakan kapal-kapal Russia yang diarahkan kepadanya semakin lama semakin akurat.
"Asahi, tolong gantikan aku. Targetnya Tsesarevich"
"Baiklah Mikasa, kau boleh mundur ke belakang"
"Tidak perlu, aku akan tetap disini agar mereka tetap fokus kepadaku. Sebagai gantinya, tolong jatuhkan Tsesarevich"
Dengan tenang, Asahi mengatur kedua turret miliknya. Peluru shimose diisi, dan Asahi segera menembak ke arah Tsesarevich. Tsesarevich yang terlalu fokus kepada Mikasa tidak sadar akan tembakan yang diarahkan kepadanya dan terpental kebelakang akibat tidak siap menerima tembakan.
"Ugh…Darimana asalnya tadi?"
Tsesarevich yang masih pusing akibat tembakan tadi segera melihat keadaan sekitar-
- dimana ia melihat peluru dari tembakan kedua Asahi menuju ke arahnya.
"Oh, sial…"
Keempat peluru mengenai Tsesarevich yang tidak berdaya dimana salah satunya mengenai kepalanya, membuat Tsesarevich kehilangan kesadaran.
"W-well, aku memang bilang untuk menjatuhkannya. Tapi aku tidak percaya kau akan membuatnya menjadi seperti itu dengan mudah"
"Aku bahkan juga tidak percaya pada apa yang kulihat"
Sementara Mikasa dan Asahi bergumam, Peresvet yang melihat keadaan Tsesarevich segera menghampirinya.
"Tsesarevich! Tsesarevich! Bangunlah!"
Peresvet mencoba membangunkan Tsesarevich, namun tetap tidak ada respon darinya.
"Kalian berempat! Bantu aku disini!"
Peresvet memanggil empat orang destroyer untuk membantunya membawa Tsesarevich. Ia memang dapat melakukannya sendiri, namun dengan bantuan kapal lain mereka akan bergerak lebih cepat. Retvizan juga datang untuk melindungi mereka dari tembakan musuh.
Matahari akan tenggelam dalam 15 menit dan seluruh tembakan armada Jepang kali ini diarahkan ke Tsesarevich yang sedang digotong oleh para destroyer. Ide gila tiba-tiba muncul di kepala Retvizan.
"Retvizan, apa yang kau lakukan!? Apa kau sudah gila!?"
Peresvet meneriakinya saat Retvizan bergerak menuju ke arah barisan tempur armada Jepang. Melihat salah satu kapal musuh mendekat, kali ini semua tembakan diarahkan kepada Retvizan.
"URAAAAAA!"
Menghindari setiap serangan sambil terus membalas tembakan, Retvizan terus mendekat ke arah armada Jepang, lebih tepatnya Mikasa. Mikasa yang terlalu terkejut terus menembakkan secondary gun miliknya. Para cruiser dan destroyer yang ada juga terus menembakkan senjata mereka ke arah Retvizan.
Tanpa peduli jumlah tembakan yang ia terima, Retvizan terus merengsek masuk sampai akhirnya ia berhadapan langsung dengan Mikasa. Mengepalkan tangan kanannya, Retvizan mencoba memukul wajah Mikasa tanpa mengurangi kecepatan. Mikasa yang memang jauh lebih cepat menghindarinya dengan mudah dengan bergerak sedikit ke kiri.
Retvizan yang sudah memperkirakan hal tersebut segera menyikut Mikasa dengan tangan (siku?) kanannya, membuat Mikasa kehilangan keseimbangan. Retvizan mengangkat kaki kirinya untuk melanjutkan serangan, namun tembakan salah satu meriam Mikasa dari jarak point blank membuatnya terlempar ke belakang. Mikasa tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dan mendekati Retvizan untuk membalasnya. Sayangnya rencananya tidak terlaksana karena secondary gun milik Retvizan terus menghujaninya saat ia mencoba mendekat.
"Sudah selesai, Mikasa!" kata Retvizan sambil tersenyum.
Mikasa akhirnya menyadarinya. Matahari sudah tenggelam sejak lima menit yang lalu dan armada Russia tidak terlihat lagi oleh mereka akibat dari gelapnya malam.
"Kalau begitu, aku pergi dulu. Bye bye!" Retvizan melemparkan sesuatu ke air yang membuat Mikasa sempat panik dan mundur. Namun kepanikannya reda saat mengetahui bahwa benda tersebut hanyalah tabir asap. Dalam sekejap, Retvizan juga tidak dapat terlihat lagi.
Pada akhirnya, tidak ada kapal Russia yang dapat mencapai Vladivostok. Akibat dari rantai komando yang terputus membuat armada Russia tercerai berai. Dua jam setelah matahari tenggelam, 5 kapal tempur, 1 penjelajah berat, dan 9 kapal perusak berhasil kembali ke Port Arthur. Tsesarevich bersama keempat kapal perusak yang membawanya berlayar menuju Kiaochou, dimana mereka dirawat oleh pemerintah Jerman. Askold dan beberapa kapal perusak berlayar menuju Shanghai dimana mereka kemudian diurus oleh pemerintah Tiongkok. Diana melarikan diri menuju Saigon sebelum ia kembali ke armada Baltik.
"Jadi, apa yang terjadi padamu setelah itu?" aku bertanya kepada Tsesarevich
"Setelah itu aku tidak dapat melanjutkan perang. Seandainya saja aku masih dapat melanjutkannya, hasil di Tsushima pasti akan berbeda" kata Tsesarevich.
"Ara~ Apa kau yakin, Grazhdanin~?" kali ini Mikasa menggodanya.
"Sudah kubilang, jangan panggil aku dengan nama itu!"
"Um… Mikasa? Bisa ceritakan tentang Tsushima. Aku pernah membaca di sebuah buku dan sepertinya itu pertempuran yang menakjubkan.
Georg/Z3 yang dari tadi hanya diam mendengarkan akhirnya bicara. Aku sendiri yang mengajak Georg untuk duduk bersama dengan Tsesarevich dan Mikasa.
"Hmm…Tsushima ya…"
Yellow Sea Order of Battle
Russian Navy
- Battleship Tsesarevich (Flagship) (Crippled)
- Battleship Retvizan (Moderated Damaged)
- Battleship Pobeda (Moderated Damaged)
- Battleship Peresvet (Heavily Damaged)
- Battleship Sevastopol (Slightly Damaged)
- Battleship Polvata (Crippled)
- Protected Cruiser Askold
- Protected Cruiser Diana
- Protected Cruiser Novik
- Protected Cruiser Pallada
- 14 Destroyers
Japanese Navy
- Battleship Mikasa (Flagship) (Battered)
- Battleship Asahi (Slightly Damaged)
- Battleship Fuji
- Battleship Shikishima (Slightly Damaged)
- Armored Cruiser Nisshin
- Armored Cruiser Kasuga
- 8 Protected Cruisers
- 18 Destroyers
- 30 Torpedo Boats
I dreamt a field of war… and woke to find myself upon it.
Godzilla disini.
Entah berapa kali saya kebalik nulis K dan S di Mikasa. Mungkin karena akhir-akhir ini kebanyakan nonton anime…
Curtiss: Oi author!
Um? Ya?
Curtiss: Kapan ceritaku dilanjutin!?
Lexington: Kapten, jangan terlalu blak-blakan begitu ngomongnya.
Maaf, tapi yang itu tidak akan dilanjutkan.
Curtiss: APAA!?
Ahahaha tenang saja, aku hanya bercanda kok. Nyatanya, aku menulis dua cerita dalam waktu bersamaan kok.
Curtiss: Huh… untuk sesaat kukira kau serius. Jadi, bagaimana progressnya?
Hmmmm… Kalau kuingat, aku sudah menulis sampai paragraf kedua.
Curtis:…..
….
Curtiss: Itu sama saja belum ngapa-ngapain! Memangnya apa yang kau lakukan selama ini!? Oi, Lexington! Lepaskan aku! Aku ingin memukulnya!
Lexington: Kapten, tenanglah… Author sedang sibuk akhir-akhir ini jadi mengertilah ia sedikit…
Jadi, terima kasih sudah mau membaca "buku sejarah" ini. Serius, setelah saya baca ulang seri ini, entah kenapa tiba-tiba saya menguap (eh?)
Anyway, saya minta reviewnya apabila berkenan karena saya benar-benar buta saat ini (bukan dalam arti yang sebenarnya). Saya tidak tahu apakah tulisan saya itu bagus atau buruk menurut para reader sehingga sulit bagi saya untuk menulis chapter berikutnya. Saya tidak ingin menulis tulisan yang tidak disukai orang begitupun sebaliknya.
Cheers~
