Story 1 – Russo-Japanese War

Part 4 – Battle of Tsushima Strait / Battle of the Japan Sea


Sangat tidak mungkin bagi kami untuk dapat menuju Vladivostok dengan membawa kemenangan, atau menguasai perairan yang kami lewati. Satu-satunya harapan adalah terus berlayar tanpa henti. Dan setelah dua, tiga, atau maksimal empat kali pelayaran, kami sudah menghabiskan bahan bakar dan seluruh persediaan kami. Kelopak kami berguguran sebelum kami semua dapat mekar. Yang dapat kami lakukan sekarang adalah menepi di pantai, mengajari setiap kru cara menggunakan bayonet, dan bersiap untuk bertahan dari pengepungan.

-Lt. Filippovsky, navigator aboard Knyaz Suvorov


Cuaca hari ini cerah namun ombak tinggi

-FAdm. Heihachiro Togo, Commanding Officer of Combined Fleet


Takdir kekaisaran tergantung pada hasil pertempuran ini, biarkan setiap orang melakukan tugas terbaiknya.

-From mast of Battleship Mikasa, Flagship of Combined Fleet


3 Mei 1905, Teluk Cam Ranh, Vietnam

'Sudah berapa lama kami berlayar?'

Pertanyaan itu selalu muncul dalam benakku. Semenjak melewati Afrika, kami terus bergerak tanpa henti menuju Pasifik. Orang-orang Inggris itu, teganya mereka melakukan hal tersebut kepada kami. Sudah kami katakan bahwa hal tersebut adalah sebuah insiden tanpa ada unsur kesengajaan. Tenaga kami sudah terkuras habis. Moral mereka menurun drastis. Berlayar selama berbulan-bulan di lautan yang keras membuat trauma sebagian besar gadis-gadis itu.

Dan berita yang kami dapatkan dari armada timur malah memperburuk keadaan. Pelabuhan Arthur, satu-satunya tempat terdekat bagi kami untuk bersandar telah ditaklukan dan armada timur saat ini sudah tercerai berai. Tujuan kami saat ini adalah menjemput beberapa gadis kami di Saigon dan Shanghai sebelum berkumpul dengan armada yang tersisa di Vladivostok. Tapi sebelum itu, kami harus melalui perairan Jepang terlebih dahulu…

"Suvorov, anak-anak sudah datang. Sebaiknya kita berangkat sekarang"

Borodino datang dengan membawa persediaan makanan dan air. Aku memang meminta semuanya untuk membeli perbekalan selama kami singgah di tempat ini.

"Baiklah, kita akan langsung berangkat saat semuanya sudah sampai. Tujuan kita berikutnya, Saigon."


Sepertinya mustahil untuk menghitung jumlah proyektil yang mengenai kami. Meriam nampak seperti dijatuhkan kepada kami satu per satu. Lempengan baja dari dek atas hancur berkeping-keping dan pecahannya menimbulkan banyak korban. Sebagai tambahan, temperatur udara saat itu jauh lebih tinggi dari biasanya dan memicu api dari ledakan yang sendiri. Saya bahkan melihat sebuah lempengan baja yang meleleh karena terbakar.

Com. Vladimir Semenoff, staff officer aboard the flagship Knyaz Suvorov


27 Mei 1905, Selat Tsushima

14.00

(Suvorov POV)

General Quarters. Posisi kami telah diketahui oleh mereka. Kami berhasil menyadap percakapan radio mereka pada pagi tadi. Sepertinya mereka menemukan kami pada malam tadi. Saat ini jarak mereka sudah sangat dekat dan kami tidak dapat melarikan diri. Perjalanan jauh membuat kecepatan kami berkurang drastis. Kami hanya mampu mencapai 15 knot, itupun dalam waktu yang singkat.

Saat ini kami sudah dapat melihat armada Jepang dari kejauhan. Datang dari timur laut, mereka terus bergerak lurus hingga sudah berada 8km di sisi kiri kami pada arah barat laut. Entah apa yang akan mereka lakukan. Sudah terlambat bagi mereka untuk berbalik ke arah kami. Jikapun mereka benar-benar berbalik arah, maka para penjelajah mereka yang akan memimpin barisan. Itu justru akan menimbulkan keuntungan di pihak kami. Tapi mengingat pemimpin saat mereka adalah orang yang sama yang mengalahkan Tsesarevich, aku hanya bisa waspada.

"Suvorov, mereka berbalik arah"

Laporan dari Borodino yang ada di bagian depan datang.

"Baiklah, siapkan meriam ke arah penjelajah mereka"

"Bukan, bukan berbalik arah seperti itu. Mereka membentuk huruf U"

"Hah?"

Aku segera mengambil teropong milikku untuk melihat ke arah armada Jepang. Nampak Mikasa sudah berbalik arah menuju menuju kami diikuti oleh kapal-kapal lain di belakangnya satu per satu membentuk huruf U sempurna. Butuh kerjasama dan komunikasi yang baik untuk melakukan hal seperti itu. Salah sedikit saja, maka formasi akan berantakan.

"Seluruh kapal, arahkan tembakan ke arah barisan terdepan mereka!"

Dengan diawali dengan tembakan dariku, seluruh kapal dalam barisan segera mengikuti. Targetku tentu saja Mikasa dengan harapan dapat mengacaukan barisan mereka. Dalam waktu lima menit, setidaknya ia terkena lima belas kali tembakan. Namun hal tersebut belum cukup untuk menghentikannya.

Sekarang aku punya 2 pilihan. Merubah arah, atau bertempur secara formal. Dalam hal ini aku memilih pilihan kedua. Merubah arah dan mencoba untuk melarikan diri adalah hal yang sia-sia dengan kecepatan kami saat ini. Namun apabila kami melawan, mungkin akan ada harapan bagi kami untuk menang. Meskipun hal tersebut amatlah sulit.

"Semuanya, persiapkan diri kalian! Mereka akan mulai menembak setelah selesai berbelok!"

Itu hanya dugaanku, namun tepat sasaran. Mereka mulai membalas tembakan kami setelah berbaris pararel dengan kami. Saling berbalas tembakan, mereka mampu menyudutkan kami. Untuk suatu alasan, kerusakan yang mereka hasilkan kepada kami jauh lebih berat daripada yang mampu kami hasilkan. Seluruh kapal tempur kami rusak parah dalam waktu yang relatif singkat, termasuk diriku. Dan saat itu juga, harapanku untuk sampai di Vladivostok sudah sirna.

90 menit dalam pertempuran, korban pertama datang dari pihak kami. Oslyabya di barisan paling belakang yang sedang berhenti untuk melakukan manuver ulang setelah hampir bertabrakan dengan Oryol terkena tembakan yang berhasil membutakan kedua matanya. Dengan tenang Oslyabya tetap menembak ke arah armada Jepang meskipun tidak dapat melihat apapun. Namun hal tersebut tidak berlangsung lama karena tembakan berikutnya menghancurkan meriam depan miliknya dan membuatnya berubah haluan. Enam penjelajah berat Jepang mengepungnya dan menghujaninya dengan tembakan. Membuatnya mulai tenggelam secara perlahan-lahan. Saat itu pula, gadis itu menyerah dengan nasibnya dan membiarkan laut untuk menarik tubuhnya secara perlahan.

Air mata pertamaku jatuh saat melihat kondisinya sebelum sebuah proyektil panas menghantamku dan membakar sebagian tubuhku. Seluruh peri milikku berusaha mati-matian untuk memadamkannya sementara pandangan mataku mulai kabur karena menahan rasa panas dan sakit yang kualami.

Kurasakan kaki kananku terbentur sesuatu dengan kuat. Membuatku tidak dapat berbelok karena kemudi yang macet. Membentuk sebuah lingkaran penuh, akhirnya diriku dan mengendalikan pergerakanku kembali. Namun keadaan tidaklah bertambah baik. Api terus berkobar tanpa ada tanda-tanda untuk padam. Sebuah tembakan kemudian meledakkan salah satu meriam dimana kuatnya ledakkan menghancurkan tangan kiriku. Tembakan lainnya merusak perapian dan tower utama telah hancur berkeping-keping. Salah satu tembakan juga menyebabkan luka fatal di dada bagian atas. Membuatku tidak dapat menggerakkan kepala dan sulit untuk bernafas.

Tanpa kusadari jarakku dengan armada Jepang sudah begitu dekat dan barisan armadaku mulai menjauh dariku. Dua kapal tempur mereka begitu dekat denganku, Mikasa dan satu lagi yang kutebak sebagai Shikishima.

Saat ini aku tidak dapat memikirkan apapun. Terus kutembakkan senjata kaliber kecil milikku secara liar sambil terus menerima serangan dari belasan kapal mereka. Beberapa torpedo juga mengenaiku dan pijakanku di air perlahan-lahan mulai melemah. Sampai sebuah suara yang kukenal membangunkanku dan membuatku sadar bahwa hari sudah sore. Suara itu berasal dari Buyniy yang berada di sampingku. Aku tidak tahu apa alasannya datang kemari tapi tak akan kubiarkan kesempatan ini hilang begitu saja. Aku segera memindahkan hampir seluruh peri milikku yang terluka kepadanya. Dia mencoba berbicara sesuatu kepadaku, namun yang ada di kepalaku hanyalah dengungan keras tanpa henti. Aku bahkan tidak yakin apakah diriku mampu untuk bicara barang satu kata saja.

Dengan paksa, kudorong dia menjauh dariku setelah memastikan seluruh peri sudah kuberikan kepadanya. Dia menolaknya namun setelah kuancam dengan meriam 6-inchi milikku, akhirnya ia mau pergi dengan wajah tatapan sendu di matanya.

Kuteruskan tembakan liarku sebelum sebuah ledakan terjadi. Sesaat kulihat asap berwarna kuning dan hitam sebelum akhirnya kurasakan dinginnya air laut di wajahku. Hening kurasakan selama beberapa saat sebelum akhirnya kusadari apa yang telah terjadi. Air mataku yang terus mengalir sedari tadi kini telah terurai bersama air laut. Luka-luka yang kualami telah bersih kembali. Beban yang berada di pundakku kini telah lepas. Akhirnya, ketenangan yang kucari selama ini telah kurasakan.


(Normal POV)

23.00

Siang itu, Russia kehilangan empat kapal tempurnya; Knyaz Suvorov, Imperator Aleksandr III, Borodino, dan Oslyabya. Hari sudah beranjak malam namun pandangan dari Mikasa tetap fokus menerawang dalam kegelapan. Beberapa saat yang lalu, para perusak terus mengepung armada Russia dan menyerang dengan agresif. Namun saat ini, nampak laut menjadi sunyi seakan-akan mereka menghilang begitu saja.

Jauh di barisan depan, Harusame terus memimpin divisinya untuk mencari jejak armada Russia yang tersisa. Beberapa bagian tubuhnya terluka akibat tembakan buta dari Suvorov siang tadi.

"Akatsuki, kalau kau tidak mau berhenti untuk melamun. Aku akan menembakmu saat ini juga"

Harusame tiba-tiba bicara dengan nada tinggi kepada kapal di barisan belakang.

"Harusame, aku…-"

"Berapa kali sudah kukatakan kepadamu!? Kau adalah bagian dari kami saat ini! Bagaimana bisa aku mempertaruhkan nyawaku kepada seseorang yang ragu-ragu untuk menembak musuh didepan matanya!?"

Saat ini, mata Akatsuki mulai berkaca-kaca.

"Kak, sudahlah. Akatsuki belum lama menjadi bagian dari kita. Aku yakin hal ini masih berat baginya"

Fubuki bicara dengan nada tenang meskipun raut wajahnya menunjukkan kekesalan. Ia kemudian melambat dan menghampiri Akatsuki.

"Kakak duluan saja, aku akan menyusul. Kau juga Ariake"

Saat mereka berdua pergi, Fubuki mulai bicara.

"Akatsuki, aku tahu ini memanglah berat bagimu. Tapi ingatlah ini, kau tidak sendirian. Kami semua adalah keluargamu saat ini. Meskipun-"

Suara ledakan tiba-tiba terdengar diiringi oleh cahaya lampu sorot.

"Maaf Akatsuki, kita akan bicara lagi nanti. Untuk saat ini ikutlah denganku. Aku tidak akan membiarkan Harusame berbuat macam-macam terhadapmu"


28 Mei 1905

Malam itu, Navarin tenggelam akibat serangan torpedo. Armada Russia ditemukan setelah mereka menyalakan lampu sorot untuk mencari sumber serangan. Armada Russia yang tersisa bergerak menuju arah utara dengan Imperator Nikolai I sebagai pemimpin menggantikan Suvorov.

Armada Jepang mampu mengapit armada Russia di selatan pulau Takeshima dan mulai menembak di luar jangkauan tembakan Russia. Menyadari bahwa semua sudah selesai dan tidak ada harapan untuk melarikan diri, Nikolai memintai kepada keenam kapal yang tersisa dibawah komandonya untuk menyerah. Dengan segera, usulan tersebut disetujui.

Para peri dari keenam kapal segera mengibarkan 3 bendera. Bendera putih dengan salib biru , bendera dengan enam garis vertikal berwarna biru dan kuning, dan bendera biru-merah.

Mikasa yang melihat hal tersebut segera mengambil teropongnya untuk melihat pesan yang mereka coba sampaikan.

"Apa yang mereka sampaikan?"

Shikishima yang selalu berada disampingnya bertanya kepadanya.

"XGE. Apa kau kau tahu apa artinya?"

Shikshima mengangkat bahu

"Fuji-san?"

"Tidak, aku tidak mengetahuinya"

Mikasa hanya menghela nafasnya.

"Semua kapal, tetap teruskan tembakan kalian. Untuk saat ini kita lihat terlebih dahulu reaksi mereka"

Seluruh kapal Russia terkejut atas tembakan kapal Jepang yang terus berlangsung. Dalam hujan tembakan, Nikolai segera melepaskan bajunya yang berwarna putih dan melambaikannya kepada Armada Jepang. Meskipun begitu, Mikasa tidak mau lagi mempercayai bendera putih akibat pengalaman yang pernah ia alami dan terus memerintahkan untuk menembak.

"Aku tidak peduli lagi! Aku akan pergi dari sini!"

"Ah, Izumrud!"

Izumrud yang ketakutan segera menurunkan bendera sinyalnya dan mencoba untuk melarikan diri. Kehabisan pilihan, Nikolai segera merobek baju seragamnya menjadi secarik kain panjang. Dengan terpaksa, ia menembak tangan kanannya sendiri dengan meriam kaliber kecil miliknya dan segera menggambar dengan darah di atas kain tersebut. Melakukan sebaik yang ia bisa, ia membuat replika dari bendera angkatan laut Jepang dan segera mengibar-ngibarkannya seraya memerintahkan seluruh kapal untuk berhenti.

Seluruh armada Jepang yang meihat kejadian tersebut segera menghentikan tembakan mereka. Mikasa sendiri lalu maju untuk menemui sisa armada Russia yang masih selamat tersebut.

"Kuakui Nikolai, yang kau lakukan itu sudah gila"

"Ini satu-satunya cara yang bisa kulakukan untuk menghentikan tembakan kalian"

"Jadi , sekarang kalian akan ikut bersama dengan kami. Apa kalian benar-benar yakin akan melakukan hal ini?"

"Ya tentu saja. Itu lebih baik daripada melakukan hal yang mustahil dapat dilakukan"

Nikolai mengulurkan tangan kirinya yang masih sehat.

"Kami akan berada dalam pengawasan kalian"

Mikasa tersenyum sambil membalas jabatan tangan Nikolai.

"Senang bertemu lagi denganmu, Nikolai sahabatku"


Kalian semua masih muda dan kalianlah yang akan mewariskan harapan dan kejayaan angkatan laut Russia. Nyawa dua ribu empat ratus orang di kapal ini jauh lebih berharga daripada nyawaku sendiri.

-RAdm Nikolai Nebogatov, aboard Imperator Nikolai I to her crewmen


Tsushima Order of Battle

Japanese Combined Fleet

Skuadron pertama

Divisi Pertama

- Battleship Mikasa (Majestic-class) (Flagship)

- Battleship Shikishima (Shikishima-class)

- Battleship Fuji (Fuji-class)

- Battleship Asahi (Shikishima-class)

- Armored Cruiser Kasuga (Kasuga-class)

- Armored Cruiser Nisshin (Kasuga-class)

- Unprotected Cruiser Tatsuta

Divisi Ketiga

- Protected Cruiser Kasagi (Kasagi-class)

- Protected Cruiser Chitose (Kasagi-class)

- Protected Cruiser Niitaka (Niitaka-class)

- Protected Cruser Otowa (Niitaka-class)

Divisi Destroyer Pertama

- Destroyer Harusame (Harusame-class)

- Destroyer Fubuki (Harusame-class)

- Destroyer Ariake (Harusame-class)

- Destroyer Akatsuki (Ex-Russian destroyer Reshitelnyi)

Divisi Destroyer Kedua

- Destroyer Oboro (Ikazuchi-class)

- Destroyer Inazuma (Ikazuchi-class)

- Destroyer Ikazuchi (Ikazuchi-class)

- Destroyer Akebono (Ikazuchi-class)

Divisi Destroyer Keempat

- Destroyer Asagiri (Harusame-class)

- Destroyer Murasame (Harusame-class)

- Destroyer Shirakumo (Shirakumo-class)

- Destroyer Asahio (Shirakumo-class)

Divisi Torpedo Boat Kesembilan

- Torpedo Boat Aotaka (Hayabusa-class)

- Torpedo Boat Kari (Hayabusa-class)

- Torpedo Boat Tsubame (Hayabusa-class)

- Torpedo Boat Hato (Hayabusa-class)

Skuadron Kedua

Divisi Kedua

- Armored Cruiser Izumo (Izumo-class)

- Armored Cruiser Azuma (Izumo-class)

- Armored Cruiser Tokiwa (Asama-class)

- Armored Cruiser Yakumo (Asama-class)

- Armored Cruiser Asama (Asama-class)

- Armored Cruiser Iwate (Izumo-class)

Divisi Keempat

- Protected Cruiser Naniwa (Naniwa-class)

- Protected Cruiser Takachiho (Naniwa-class)

- Protected Cruiser Akashi (Suma-class)

- Protected Cruiser Tsushima (Niitaka-class)

Divisi Destroyer Ketiga

- Destroyer Shinonome (Murakumo-class)

- Destroyer Usugumo (Murakumo-class)

- Destroyer Kasumi (Akatsuki-class)

- Destroyer Sazanami (Ikazuchi-class)

Divisi Destroyer Kelima

- Destroyer Shiranui (Murakumo-class)

- Destroyer Murakumo (Murakumo-class)

- Destroyer Yugiri (Murakumo-class)

- Destroyer Kagero (Murakumo-class)

Skuadron Ketiga

Divisi Kelima

- Protected Cruiser Itsukushima (Matsushima-class)

- Protected Cruiser Chin'en (Rebuild ex-Chinese turret ship Zhenyuan)

- Protected Cruiser Matsushima (Matsushima-class)

- Protected Cruiser Hashidate (Matsushima-class)

Divisi Keenam

- Protected Cruiser Suma (Suma-class)

- Protected Cruiser Chiyoda (Suma-class)

- Protected Cruiser Akitsushima (2nd-class)

- Protected Cruiser Izumi (2nd-class)

Russian Fleet (Second & Third Pacific Squadrons)

Armada Tempur

Divisi Pertama

- Battleship Knyaz Suvorov (Borodino-class) (Flagship) (Sunk)

- Battleship Imperator Aleksandr III (Borodino-class) (Sunk)

- Battleship Borodino (Borodino-class) (Sunk)

- Battleship Oryol (Borodino-class) (Surrender)

Divisi Kedua

- Battleship Oslyabya (Peresvet-class) (Sunk)

- Battleship Sissoi Veliky (Sissoi Veliky-class) (Scuttled)

- Battleship Navarin (Trafalgar-class) (Sunk)

- Armored Cruiser Admiral Nakhimov (Imperieuse-class) (Scuttled)

Divisi Ketiga

- Battleship Imperator Nikolai I (Imperator Aleksandr II-class) (Surrender)

- Coastal Defence Ship General Admiral Graf Apraksin (Admiral Ushakov-class) (Surrender)

- Coastal Defence Ship Admiral Seniavin (Admiral Ushakov-class) (Surrender)

- Coastal Defence Ship Admiral Ushakov (Admiral Ushakov-class) (Sunk)

Divisi Penjelajah Pertama

- Protected Cruiser Oleg (Bogatyr-class) (Interned)

- Protected Cruiser Aurora (Pallada-class) (Interned)

- Armored Cruiser Dmitrii Donskoi (Dmitrii Donskoi-class) (Scuttled)

- Armored Cruiser Vladimir Monomakh (Vladimir Monomakh-class) (Scuttled)

Divisi Pengintai Kedua

- Protected Cruiser Izumrud (Izummrud-class) (Scuttled)

- Protected Cruiser Svetlana (Svetlana-class) (Sunk)

- Armored Merchant Cruiser Ural (Ural-class) (Sunk)

Armada Perusak

Divisi Destroyer Pertama

- Destroyer Бедовый (Byedovy) (Surrender)

- Destroyer Буйный (Buyniy) (Sunk)

- Destroyer Бравый (Bravy)

- Destroyer Быстрый (Buistry) (Sunk)

Divisi Destroyer Kedua

- Destroyer Блестящий (Blestyashchy) (Sunk)

- Destroyer Безупречный (Bezuprechny) (Sunk)

- Destroyer Бодрый (Bodry) (Interned)

- Destroyer Громкий (Gromky) (Sunk)

- Destroyer Грозный (Grozny)

Armada Transportasi

- Armed Yacht Almaz

- Merchant Ship Anadyr

- Merchant Ship Irtuish (Grounded)

- Repair Ship Kamchatka (Sunk)

- Amunition Ship Koreya (Interned)

- Fleet Tug Rus (Sunk)

- Fleet Tug Svir (Interned)

- Hospital Ship Orel (Captured)

- Hospital Ship Kostroma (Captured)


Hi

Kesehatan saya 'sedikit' terganggu yang membuat saya harus hiatus selama hampir satu tahun (LOL)

Saya tidak bisa menjanjikan bahwa The Lionheart akan dapat saya tamatkan, tapi saya akan melakukan yang terbaik untuk berusaha tetap menulisnya.

Cheers~