A/N: Ogenki desu ka minna-san~? Gomen lama banget gak update! Buat yang sedang dilanda masalah di RL tetap semangat ya! *lambai-lambai tangan*
Warning: Banyak OC, tidak direkomendasikan untuk author pendatang baru di fandom Saint Seiya, Mary Sue, OOC, without Ares!Saga, that's mean Shion and Aiolos still alive, typo, etc.
Disclaimed:
Saint Seiya © Masami Kurumada
Matsushima Ringo & Thea © TsukiRin Matsushima29
Until The End of Our Time (A New Born season 2), Rhea & Yoru Matsushima © Maiko Matsushima
Until The End of Our Time
Prologue:
In chapter 1: Masih membiarkan Milo berceloteh, Rhea menatap kuil Cancer dengan penasaran. Kemudian dia mengisyaratkan kepada Milo untuk turun dari gendongannya, setelah turun gadis kecil itu berlari kecil menaiki sisa anak tangga dan masuk ke dalam kuil Cancer.
.
.
.
Pemandangan di dalam kuil itu sukses membuat wajah gadis itu menjadi pucat pasi, bahkan dia menutup mulut dengan kedua tangan mungilnya karena mual mencium bau formalin yang berasal dari dalam kuil, dia langsung berlari ke sudut luar kuil dan memuntahkan isi perutnya yang hanya berisi cairan lambung dan sedikit bubur dari dalam perutnya.
"Oi, kau tidak apa-apa kan? Kenapa sembarangan minta turun kalau kau sendiri tidak kuat, eh?" Rhea memandang ke asal suara di belakangnya, Milo menatapnya dengan malas sambil bersandar ke pilar terdekat dengannya. Tatapannya beralih ke dalam kuil tersebut, kosong. Tidak ada cosmo siapapun dari dalam kuil tersebut. Gold Saint paling muda itu menghela napas sambil kembali memandang Rhea.
"Kelihatannya kepiting sialan itu sedang pergi misi, Thea juga sama."
Milo menatap Rhea dengan santai, kemudian dia berjongkok di dekat gadis kecil itu, "Apa kau kuculik saja ke kuil Scorpio lalu kujadikan makanan kalajengking-kalajengking kesayanganku?" Deg! Gadis kecil berambut belang itu langsung membeku mendengar ucapan Milo, dia sama sekali tidak menyangka pria yang menolongnya akan berkata seperti itu. Sementara Milo menyeringai sambil menatap Rhea, dia kembali melempar jubahnya kepadanya sambil berbalik, "Pakai itu, kita ke Pope Chamber dulu."
"E- eeh!? Aku tidak mau!"
Ucapan spontan gadis itu berhasil menghentikan langkahnya, "Apa?" Rhea memegang jubah Milo yang membungkus tubuhnya dengan erat, wajahnya tertunduk ke bawah dengan tubuh yang gemetar karena teringat kejadiannya yang dulu, kilasan demi kilasan bagaimana Asmita dan Albafica memperlakukannya dulu masih segar di dalam ingatannya. "Aku tidak mau ke sana! Aku tidak mau bertemu Saint abad 18 yang ada di sana!"
Masih diam, Milo mengerutkan dahinya. Dari mana gadis itu tahu kalau mereka akan bertemu dengan salah satu survivor dari Holy War 2 abad yang lalu? Pria itu mengamati Rhea dengan baik, entah kenapa dia mulai merasakan ada yang aneh dengan gadis itu. Iris deep violet yang bersinar penuh ketakutan, pria itu heran kenapa mata kiri Rhea tertutup perban. Kemudian dia memperhatikan kaki kiri Rhea, memang tadi terlihat pincang. Apa ada luka di balik gaun terusan hitam robek sana-sini yang dia kenakan?
"Onegai, aku tidak mau bertemu Saint abad 18 manapun. Aku tidak mau mereka melihatku..." dia masih memohon kepada Milo bersamaan dengan jatuhnya bulir-bulir air mata yang menuruni pipinya, dalam hati sangat takut jika dia akan menerima perilaku yang sama dari Gold Saint yang pernah menjadi rekan dari Defteros ataupun Aspros. Milo menghela nafas sambil memandang Rhea, dari segi manapun gadis kecil itu terlihat sangat menyedihkan dan dia tidak tega menolaknya.
"Baik, aku tidak akan membawamu menemui Pope-sama, tapi kau harus ikut denganku ke kuil Scorpio." Rhea diam sambil menimbang-nimbang syarat yang diajukan Milo, tapi tidak butuh waktu lama dia segera mengangguk sebagai jawaban untuk pria itu. Anggukan itu membuat Milo tersenyum puas, kemudian dia menggendong Rhea, "Tutup hidungmu dengan jubahku, bau kuil kepiting ini memang keterlaluan."
"Apanya yang keterlaluan dari bau kuilku, kalajengking brengsek?"
Milo dan Rhea memandang ke belakang, seorang pria dengan tampang preman buronan kelas atas dan mengenakan cloth di bawah naungan rasi bintang kepiting memandang Milo dengan tidak suka, karena tidak mendapat respon pria itu melanjutkan ucapannya. "Kalau tidak suka cepat pergi sana, pedofil."
"Ap— sebaiknya kau jaga mulutmu sebelum kuberi akupuntur gratis ke mulut embermu, kepiting mayat."
Pria berambut biru pendek itu mendekati Milo sambil menyeringai, sama sekali tidak terlihat gentar meskipun sang Scorpio telah memanjangkan kukunya. "Mulutku memang begini, kalajengking pedofil." ucapan itu berhasil membuat emosi Milo naik sampai ke ubun-ubun, kemudian dia bersiap menyerang pria di depannya.
"Yamete kudasai, Milo! Angelo!"
Tubuh Milo langsung berhenti sebelum kuku merahnya menyentuh bagian tubuh pria di depannya 'Mam to the pus. Algojo berkedok malaikat datang.', sementara pria itu mengerang lemah sambil menatap ke asal suara itu. "Rin, jangan panggil aku Angelo! Ingat dong kalau nama pacarmu itu D.M! Death. Mask!"
Sesosok gadis yang dipanggil Rin itu mendekati pria yang dia panggil 'Angelo' sambil tersenyum lembut, "Kalau begitu DM-kun masuk duluan ya?" suara manis dan menenangkan keluar dari bibir itu, Rhea yang sedang memeluk Milo langsung membuka jubah yang menutupi tubuhnya dan memandang ke asal suara itu, "Rin-bachan!"
Rin memandang ke arah gadis yang berada dalam gendongan Milo, rasa terkejut yang menguasainya sesaat berubah menjadi kebahagiaan, "Rhea!" dan kemudian terjadi adegan pelukan yang tiba-tiba merubah atmosfer sekitar yang sebelumnya tegang menjadi penuh keharuan. Tangan Rin mengelus rambut Rhea dengan lembut, seolah berusaha tidak menyakiti gadis kecil itu.
"Ba-chan, Rhea kangen sama ba-chan! Rhea kangen! Rhea mau ketemu ba-chan! Mau sama ba-chan!"
Ucapan bertubi-tubi gadis kecil itu membuat rasa kasih semakin besar di hati pemilik surai blue diamond itu, dia mengelus rambut Rhea dengan penuh sayang dan mencium pipinya dengan lembut. "Sayang, ba-chan juga rindu denganmu... sangat rindu..."
Rhea yang mendengar ucapan Ringo semakin mengeratkan pelukannya, Ringo membalas pelukan keponakan tersayangnya tanpa memperdulikan ada orang yang memperhatikan mereka. Oh ya, kedua Gold Saint itu memasang ekspresi wajah yang sangat tidak elit dan tidak pantas dideskripsikan, namun sesaat kemudian ekspresi Milo melembut dan dia tertawa, "Gue balik ke kuil gue, dan jangan lupa bersihin kuil elo, kepiting mayat. Bau mayat gini mana ada yang tahan, heran gue napa Rin tahan sama bau kuil gini."
Deathmask yang baru saja tersadar dari keterkejutannya hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Ntar, gue baru balik dari misi gini udah disuruh kerja ekstra. Lu kira gak capek gue?" Milo hanya melangkah melewati kuil Cancer sambil menarik jubahnya, mencuekkan ucapan rekan kepitingnya dengan sepenuh hati. Deathmask menghela nafas sambil memandang Ringo dan Rhea bergantian sambil menggerutu pelan, "Dasar kepiting edan, heran gue dia bisa dapat yang bagus, kebagusan malah."
.
.
.
Ringo langsung membawa Rhea ke dalam kamarnya di kuil Cancer, satu-satunya tempat yang aman baik dari bau topeng-topeng mayat juga topeng-topeng itu sendiri selain kamar Thea. Rhea sedang duduk di tengah-tengah kasur sambil menatap pintu kamar bibinya yang sedang pergi sebentar.
Sesaat kemudian Ringo kembali sambil membawa dua cangkir teh dengan aroma melati plus cemilan kecil yang pasti disukai anak-anak, Rhea yang mencium aroma khas teh melati langsung menatap nampan yang Ringo pegang dengan mata berbinar-binar, "Teh melati~"
Gadis kecil itu turun dari kasur Rin dan menghampiri sang bibi yang meletakkan nampan itu di meja dekat jendela, kemudian memanjat kursi yang ada di sana. Rin tertawa kecil ketika melihat Rhea agak kesulitan, dia langsung menggendong Rhea dan mendudukkannya.
"Harum~"
Ringo tertawa kecil sambil mengelus kepala Rhea, reaksi lucu nan menggemaskan itu membuatnya ingin mencubit pipi keponakan kecilnya, dia menatap perban yang menutupi mata kiri Rhea dengan penasaran, namun dia menahan diri untuk tidak bertanya macam-macam kepada gadis yang bagai pinang dibelah dua dengan kakaknya.
"Makanlah sayang, setelah itu mandi. Ba-chan sudah menyiapkan pakaian yang bisa kamu pakai."
Rhea mengangguk patuh dan memakan cemilan kue kering yang dibuat Ringo dengan riang, senang karena bisa berada di dekat bibinya dan menikmati cemilan yang menurutnya sangat enak membuat gadis kecil itu tersenyum riang setelah beberapa hari terus menyembunyikan senyum itu.
Sementara Ringo mengamati baik-baik keponakannya sambil tersenyum lembut, tidak ada yang aneh dari sikap gadis kecil kesayangannya, namun entah kenapa dia merasa ada yang disembunyikan oleh Rhea. Dia terus menghindar saat ditanya masalah Defteros, malah saat ditanya kemana Yoru gadis kecil itu menggelengkan kepalanya sambil mengalihkan pembicaraan.
Setelah menghabiskan cemilan, Ringo memberikan handuk kepada Rhea yang langsung berlari ke kamar mandi yang memang ada di kamar itu, selama Rhea mandi kekasih dari Saint Cancer itu membereskan bekas cangkir dan piring yang mereka pakai, lalu mengambil sebuah kimono yang seukuran dengan Rhea.
Perlahan dia merapikan kimono itu sambil menatapnya dengan penuh kerinduan, kimono merah gelap dengan hiasan bunga camellia yang bagian pinggiran hingga nyaris ke tengah mahkota bunga dan putiknya dibordir dengan benang keemasan serta obi berwarna hijau daun itu merupakan kimono kesukaan kedua sang kakak yang telah tiada, perlahan dia menghela nafas sambil mengelus kimono itu dengan lembut, "Apa pilihanku saat itu tepat?"
Tidak lama kemudian Ringo melihat keponakan kecilnya sudah keluar dari kamar mandi, Rhea memandang bibinya sambil tersenyum riang. Perlahan gadis kecil itu melangkahkan kakinya keluar dan tanpa sengaja bekas lukanya terlihat, membuat Ringo terpaku membeku di tempatnya berdiri, bekas luka itu berbentuk mawar yang mekar dengan sempurna dan entah kenapa dia bisa mencium bau mawar yang seharusnya tidak ada menguar dari tubuh Rhea.
"Ba-chan, daijoubu desu ne?"
Ringo menggelengkan kepala sambil mengerjabkan matanya, "Daijoubu ne, sekarang Rhea pakai kimono ini ya?" Rhea memandang kimono itu dengan penuh keingintahuan dan juga keraguan, masalahnya gadis kecil itu tidak tahu cara mengenakan kimono sama sekali. Ringo yang melihat tingkah keponakannya satu itu hanya tertawa kecil sambil memberi isyarat agar Rhea mendekatinya.
"Sini sayang, ba-chan perlihatkan caranya."
Gadis kecil itu mengangguk sambil mendekati Ringo, kemudian dia mengenakan satu demi satu pakaian yang ada di sana, kemudian membagi rambut Rhea ke dua bagian dan mengikatnya dengan pita berwarna ungu. Selesai memastikan kimono yang gadis itu kenakan rapi dan tidak berkerut, Ringo mundur dan menatap Rhea dengan puas, "Kawaii ne."
Rhea yang mendengarnya tersenyum malu sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, "Ba-chan... Rhea jadi malu..." dan wanita itu hanya tertawa kecil sambil menggendong Rhea keluar, "Sayang, kita ke taman ya? Ba-chan masih mau bertanya sesuatu kepadamu."
"Hai' ba-chan."
Ringo keluar dari kamarnya sambil mengamati sekeliling kuil Cancer, topeng-topeng mayat yang berada di seluruh penjuru kuil ini tidak pernah membuatnya gentar sedikitpun sejak pertama, namun berbeda dengan gadis kecil yang berada di gendongannya. Karena itu dia memeluknya dengan erat dan menenangkan Rhea, memberikan rasa hangat dan juga nyaman sebisa mungkin untuk keponakan tersayangnya.
Setelah sampai diluar, Ringo tidak langsung menanyakan apa yang menjadi beban pikirannya melainkan mengajak Rhea bersenang-senang dan sejenak mengistirahatkan kepala gadis kecilnya dari beban pikiran serta masalah yang menderanya. Setelah puas bermain Rhea berbaring di pangkuan Ringo sambil memeluknya, wangi apel yang menguar dari tubuh sang bibi membuat dirinya merasakan ketenangan yang tidak dia dapatkan dari Pandora ataupun Partita.
"Ba-chan..."
Panggilan lirih tersebut membuat belaian tangan Ringo di kepala Rhea terhenti, "Ba-chan di sini, sayang..." wanita berambut blue diamond itu kembali meneruskan elusannya sambil tersenyum miris saat melihat perban di mata keponakannya.
"Ng..."
Pelukan gads itu semakin erat, kemudian dia menenggelamkan wajahnya di dada gadis itu. Menghirup bau apel yang menguar dari tubuh sang, perlahan air matanya mengalir, suara isakannya semakin lama semakin keras hingga akhirnya dia menangis sambil mengadu kepada bibinya. Semakin lama wajah lembut Ringo semakin tegang dan tegang mendengar aduan keponakan sulungnya, hingga kemudian aura membunuh gadis itu menguar kental di saat anak pertama kakaknya selesai menceritakan apa yang terjadi padanya.
.
.
.
"Jadi begitu? Tidak kusangka mereka tega melakukan hal itu."
Ringo berlutut di depan Shion yang mengenakan jubah kebesarannya, sementara sang Pope mengerutkan dahinya. Tidak habis pikir dengan laporan yang diberikan wanita yang berstatus pelayan kuil Pisces di depannya, dia berusaha bersikap setenang mungkin saat mendengar cerita wanita itu. Ok dia tahu kalau Aspros memang brengsek dari berbagai gosip simpang siur yang pernah dia dengar dulu. Sementara Asmita? Albafica? Pope berambut hijau muda itu menggelengkan kepalanya, setega itukah mereka kepada anak kecil yang tidak tahu apa-apa? Lupakah Asmita kepada ajaran kepercayaannya? Sekejam itu kah Albafica kepada anak dari adik angkatnya?
"Rin, aku mau nanti kau membawa keponakanmu kepadaku."
Perintah Shion membuat wanita itu mengangkat kepalanya, dia merasa kalau dirinya sudah memberi penjelasan selengkap mungkin kepada pemimpin Sanctuary di depannya, apa lagi yang kurang sampai pria itu memberikan perintah seperti itu? "Pope-sama, saya sudah menyampaikan kalau ada kemungkinan keponakan saya-"
"-mengalami trauma psikologis dikarenakan tindakan yang tidak bertanggung jawab dari ketiga rekan-rekanku di masa lalu. Aku ingat. Tapi aku ingin melihat darah daging dari gadis yang dulu selalu meramaikan 12 kuil dengan berbagai ide unik dan kelakuannya."
Shion memotong ucapan Rin sambil berdiri dan melangkahkan kakinya menuju Star Hill, member isyarat agar wanita itu mengikutinya. Isyarat itu sendiri ditangkap dengan baik oleh wanita beriris deep violet itu dan dia langsung mengikuti mantan rekan dari guru kakaknya.
"Aku tahu dia ketakutan Rin, tapi aku hanya ingin melihat bagian dari gadis yang sudah kuanggap sebagai adikku sendiri. Aku tidak akan melakukan apa-apa yang akan membuatnya stress."
Mendengar ucapan Shion yang nyaris terdengar memohon, Rin menghela napas. "Aku akan mencoba membujuknya…" mengangguk pelan, sang Pope memandang ke arah langit. "Kau boleh istirahat sekarang. Besok kau kembalilah kemari dengan keponakanmu…"
"Aku mengerti."
Rin langsung mengundurkan diri, dia bergegas kembali ke kuil Pisces dan menemui Aphrodite yang sedang beristirahat. Shion memandang kepergiannya dari sudut matanya, setelah Rin pergi, mantan Saint Aries itu menghela napas sambil melepas helm kebesarannya, masih menatap langit dia langsung memandang konstelasi Gemini di langit.
"Satu keturunan Saint kini kembali ke Sanctuary…"
To Be Continued
A/N: Hai haiiii, Maiko balik lagi setelah hiatus setahunan~ gomen buat yang nunggu-nunggu chapter ini. Soalnya sibuk kerja, dan ini fic ketikannya dibantu TsukiRin. Oh ya, mulai chapter depan, penanggung jawab fic ini TsukiRin. Soalnya Maiko udah gak bisa ngetik fic dan rasanya sayang seribu sayang kalau fic ini discontinued. Well, sekarang bales review XD
- Amulet Win777 -
Maiko: Eh? Benar? Sayang sih, tapi tetap semangat ya! Nanti kalau udah bisa aktif lagi kasi tau XD
Yoru: Senang amat keliatannya, tante-tante.
Maiko: Apanya yang tante-tante? Umurku baru *piiiiip* kok! Tanya aja sama author mamamu!
TsukiRin: Yang jelas dibawah 30 tahun. #dingin
Yoru: Tante-tante.
Maiko: #pundung
-Shimmer Caca-
Maiko: Yay~ chapter 2 udah update~ #bighugCaca
Rhea (5.y.o): Nii-san siapa? *nunjuk Alvis*
Maiko: #GABRUK Nanti kamu kenal kok
Rhea (5.y.o): Nanti itu kapan?
Maiko: Err... nanti, yah nantilah. Btw Alvis, Aspros itu A- *nutup mulut plus ganti topic* Eits, ntar dulu. Rambut Rhea berantakan tuh, sini~
Rhea (5.y.o): Gak mau~ #pouts
Maiko: Minta Alvis aja ya yg rapiin? #smirk
Rhea: Emang nii-san mau? *mandengin Alvis*
