2060 When The World is Yours

Yuli Pritania

XiuHan Ver.

Chapter 3

"Kau ingin aku menyelidiki kematian Tuan Lu?!" Jerit Minseok tidak percaya mendengar permintaan ayah angkatnya yang terdengar amat sangat tidak masuk akal itu.

"Aku tahu kau punya kemampuan untuk itu dan kau bisa memikiran hal yang tidak terpikirkan oleh orang lain. Pemakamannya besok lusa dan kau bisa memeriksa mayatnya besok. Kami sudah melalukan segala cara agar Luhan menyetujui penundaan pemakaman ini. Dia terlihat tidak senang. Sama sekali tidak senang."

"Kita harus ambil resiko. Kami semua yakin bahwa ini bukan kematian karena serangan jantung. Ini semua direncanakan. Pengacara Tuan Lu berkata bahwa ada persyaratan bagi Luhan jika ingin membuat aset perusahaan jatuh ke tangannya dan jika syarat itu tidak bisa dipenui, maka hartanya akan diserahkan sebagian kepada negara dan sebagian lagi pada adik laki-lakinya. Kami mengira ada konspirasi disini. Pamannya itu termasuk orang yang dicurigai."

"Appa!!!!" Bentak Minseok sambil merengek.

"Ini tiket pesawatmu. Keberangkatan paling pagi. Sesampainya disana kau bisa langsung ke rumah sakit untuk melihat mayatnya. Salah satu karyawan STA akan menjemputmu."

"STA?" Tanya Minseok heran, menelan bulat-bulat protes yang ingin dilontarkannya tadi.

"Apa hubungannya STA disini? Kita KIA"

"Kau akan bergabung dengan mereka mulai sekarang. Mata-mata. Kita bergerak dalam kerahasiaan. Kalau musuhmu bergerak selicin ular, kau harus bergerak segesit cheetah. Kau mengerti maksudku?"

Minseok menghembuskan nafasnya berat sebelum menjawab.

"Aku selalu mengerti maksudmu, komandan."

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

"Haaaahhh, udara Korea benar-benar segar. Ya ,kan?" seru Kyungsoo senang sambil membentangkan tangan dan menggeliatkan badannya setelah perjalanan berjam-jam diatas pesawat.

Minseok memakai kacamata hitamnya mengacuhkan ucapan Kyungsoo. Dia tidak menyukai apapun tentang negara ini, termasuk udara yang dihirupnya.

"Siapa yang menjemput kita hari ini?" Tanya Minseok dingin. Dia tidak pernah suka melihat kerumunan orang, apalagi berada ditengah-tengahnya. Lebih cepat mereka keluar dari udara ini lebih baik.

"Molla" jawab Kyungsoo, sibuk memperhatikan para penjemput yang mengacungkan karton ditangan mereka.

"Kyungsoo-sshi, Minseok-sshi, selamat datang di Korea."

Kedua gadis itu berbalik dan mendapati seorang pria bertubuh tinggi dan tegap berdiri didepan mereka. Minseok bisa merasakan tubuh Kyungsoo menengang disampingnya. Keceriaan yang tadi diperlihatkan lenyap seketika.

"Ahh ya Suho-sshi. Bisakah kau menunjukkan kami jalan keluar? Aku tidak suka berada disini."

"Kau memang tidak suka menghirup udara Korea kan, Minseok?" Goda Suho.

"Jangan bersikap terlalu ramah padaku. Aku tidak suka orang yang telah menyakiti temanku. Itu sama artinya dengan kau menyakiti aku secara langsung. Kau tahu itu kan, Suho-sshi?" Ujar Minseok.

Kali ini ada nada mengancam dalam suara gadis itu, membuat Suho mengurungkan niatnya untuk bicara. Dia mengalihkan tatapannya pada gadis yang berdiri disamping Minseok. Gadis itu sangat kentara memalingkan wajahnya ke arah lain. Jelas tidak berniat sekalipun menyapa Suho.

"Ayo ikut aku."

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Kyungsoo sangat senang bisa kembali ke Korea sekaligus membencinya setengah mati. Dia sudah lama tidak bertemu dengan orang tuanya dan merasa sangat merindukan mereka. Tapi kembali ke Korea sama artinya dengan mengoyak luka lamanya yang sama sekali belum sembuh dan itu disebabkan oleh namja yang tanpa perasaan menawarkan diri untuk menjemput mereka ke bandara ini.

Kyungsoo sempat ditugaskan selama setahun di Korea. Saat itulah dia bertemu dengan Suho dan mereka berdua menjalin hubungan dan memutuskan untuk menikah. Kyungsoo tidak pernah tahu kenapa Suho begitu ingin menjadi agen KNI dan tidak keberatan ditempatkan dimanapun. Padahal semua orang tahu bahwa dia berasal dari keluarga yang sangat kaya.

Kyungsoo tahu bahwa Suho sangat membenci mafia terkenal bernama Min Sang Hyun yang saat itu menjadi salah satu target utama STA. Tapi dia tidak pernah tahu alasannya. Suho melakukan segala cara agar menjadi bagian dari operasi penangkapan mafia itu dan saat dia berhasil, dialah yang memimpin operasi tersebut.

Saat itu dia berhasil menembak Sang Hyun tapi Suho membuat kesalahan dengan menembak mati Sang Hyun, padahal mereka mendapatkan perintah menangkap orang itu hidup-hidup, Kyungsoo setengah yakin bahwa itu bukan kesalahan yang tidak disengaja. Suho sengaja melakukannya karena Kyungsoo melihat sendiri kilat dendam yang memanca dimata pria itu saat dia menodongkan pistolnya tepat dikepala sang mafia.

Organisasi memberikan peringatan berupa ditariknya izin kerja Suho selama sebulan sebelum dia diizinkan bergabung kembali. Kyungsoo yang curiga diam-diam menyelidiki Suho dan saat itulah dia mengerti kenyataan yang sebenarnya. Tentang masa lalu namja itu dan kebohongan-kebohongan yang diucapkannya pada semua orang.

Suho sempat bertunangan saat dia berusia 20 tahun dengan seorang gadis cantik yang sangat dicintainya. Mereka menjadi pasangan yang sangat terkenal di Universitas. Itu cerita yang didapatkan Kyungsoo dari teman-teman dikampusnya. Sayangnya, gadis itu meninggal dalam baku tembak didaerah Myeondong yang melibatkan Min Sang Hyun dan anak buahnya. Hal itulah yang menjadi alasan Suho bergabung dengan KNI. Untuk membalaskan dendamnya atas kematian gadisnya.

Hal yang membuat Kyungsoo terkejut adalah kenyataan bahwa dia memiliki wajah yang sangat mirip dengan gadis yang sudah mati itu. Fakta itu benar-benar menghantamnya dengan telak karena ternyata Suho mendekatinya hanya karena dia mirip dengan si gadis itu. Bahwa selama ini dia berada dibawah bayang-bayang gadis yang sudah mati. Saat itulah Kyungsoo membatalkan pertunangannya dan memutuskan untuk pindah tugas ke Amerika.

"Langsung bawa kami ke tempat jenazah Tuan Lu disemayamkan. Aku tidak mau membuang-buang waktu." Ujar Minseok, membuyarkan lamunan Kyungsoo.

Tanpa sengaja dia menatap kaca kecil yang terletak diatas bangku kemudian beradu pandangan dengan mata Suho yang juga sedang menatapnya. Dia dengan cepat mengalihkan pandangannya lagi dan menatap keluar jendela. Tidak. Tugas kali ini tidak akan berjalan dengan mudah.

"MWORAGO?! Yak!! Minseok-sshi, kau tahu bahwa permintaanmu itu sama sekali tidak masuk akal. Aku bisa digantung Luhan kalau dia mendengar hal ini." Tolak Jongdae mentah-mentah mendengar permintaan gadis didepannya.

"Aku punya hak penuh disini dan aku tidak perduli apa pendapat pria itu tentang hal ini. Kalau dia berkeberatan suruh dia sendiri yang menemuiku" jawab Minseok keras kepala.

"Tapi itu tidak bisa, Minseok-sshi. Besok jasadnya akan dimakamkan dan Luhan meminta pemakaman terbuka yang berarti bahwa peti matinya juga terbuka sehingga semua orang bisa melihatnya."

"Semua tubuhnya tertutup, kan? Dia akan memakai jas dan sarung tangan. Hal itu tidak masalah."

"Tapi Minseok-sshi. Yang benar saja. Kau memintaku menguliti kulitnya?!"

"Kita semua tahu bahwa dia tidak punya riwayat penyakit jantung, jadi dapat dipastikan bahwa kematiannya tidak lazim. Kalian tidak menemukan reaksi racun sedikitpun. Akan lebih mudah kalau kau menguliti kulitnya dan menemukan semacam tusukan jarum."

"Tapi kami sudah memeriksa dan tidak menemukannya."

"Tentu saja tidak menemukannya. Bagaimana kalau luka itu sangat kecil? Hmmm? Kalau kau menguliti kulitnya, kau bisa memeriksanya dengan mikroskop atau semacamnya."

Jongdae mengerjapkan matanya dan melirik sekelilingnya dengan gelisah. Dia tahu gadis ini benar, tapi dia juga tidak mau mengambil resiko kalau Luhan sampai mendengar hal ini. Pria itu sangat mengerikan jika sedang murka.

"Kau takut dengan Luhan? Biar aku saja yang mengurusnya."

"Kau bahkan belum pernah bertemu dengannya."

"Lalu?"

Jongdae mengatupkan mulutnya, tahu bahwa sia-sia saja berdebat dengan gadis dihadapannya ini.

"Aku menunggu laporanmu dalam waktu 2 jam. Oke?"

Jongdae menunggu gadis dihadapannya itu menghilang dibalik pintu dan membalikan badannya ke arah asisten yang berdiri dibelakangnya itu. Gadis itu juga menatapnya ketakutan, membuat Jongdae mengerang frustasi dan mendudukan tubuhnya yang sedikit limbung ke atas kursi.

"Tao-ya, bagaimana ini?"

"Molla. Kalau kau melakukannya, kau harus menghadapi Luhan sajangnim. Dia sangat mengerikan, kau tahu? Tapi oppa, kalau kau tidak melakukannya, kau harus menghadapi gadis itu dan menurutku, gadis itu tak kalah menyeramkannya"

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

"Aku menemukannya dibagian punggung tangan, pangkal ibu jari. Abductor pollucis. Ada memar merah keunguan kecil. Panjangnya sekitar setengah inci, makannya tidak ditemukan sebelumnya. Bentuknya seperti kobaran api." Ujar Jongdae dengan raut wajah lelah.

Menguliti orang bukan hal yang menyenangkan. Tao bahkan sempat muntah-muntah selama hal itu berlangsung. Minseok tampak berpikir sesaat sebelum berbicara dengan nada ragu.

"Bukankah ada zat racun, yang bisa menembus pembatas antara darah dan otak lalu tidak menembus balik? Yang mungkin hanya bisa ditemukan di cairan sumsum."

"Hampir mustahil untuk menghisap sumsum pada tubuh yang sudah mati. Tidak ada tekanan. Sumsumnya tidak mau keluar."

"Bukankah cairan mata sama dengan cairan sumsum? Kalau itu bisa kan?"

"Kau beruntung mayatnya bukan dikubur malam ini." Kata Jongdae sambil berlalu pergi.

"Kau membuatnya kesal Minseok." Ujar Kyungsoo dengan nada memperingatkan.

"Biar saja itukan tugasnya."

Baru saja Minseok menyelesaikan ucapannya, dia merasakan tangannya ditarik dengan kasar dari belakang dan sedetik kemudian dia sudah menatap wajah itu.

Wajah yang bahkan terlihat jauh lebih mempesona sekaligus berbahya daripada foto yang dilihatnya semalam. Dan mata itu... Minseok bahkan saat ini bisa mempercayai pribahasa bahwa tatapan mata bisa membunuh jika menyangkut mata pria itu.

"Kau pikir siapa kau sampai memiliki hak memberi karyawanku perintah untuk menguliti kulit ayahku?" Suara pria itu rendah tapi terasa sangat mematikan ditelinga Minseok. Nyaris membuat bulu kuduknya meremang.

"Aku hanya melakukan tugasku untuk mengetahui penyebab kematian ayahmu." Ujar Minseok berusaha tenang. Tapi dia tidak heran sama sekali saat mendengar suaranya yang bergetar. Bukan hal aneh jika dia merasa takut pada pria itu. Siapapun akan mengalami hal yang sama jika ditatap seperti itu.

"Atau Luhan-sshi, kau merasa takut jika aku berhasil menemukan bukti bahwa ayahmu meninggal karena dibunuh? Apa kau merupakan pihak yang terlibat dalam kematian ayahmu sampai kau merasa begitu ketakutan seperti ini?"

Minseok tidak bisa menahan ringisannya saat cengkraman di lengannya menguat. Pria itu menunjukkan wajahnya sampai sejajar dengan wajah Minseok hingga hidung mereka nyaris beradu. Benar-benar posisi yang bagus untuk mengintimidasi seseorang. Dan benar saja, pria itu memang menyampaikan ancamannya dengan sangat jelas sesaat kemudian.

"Aku bukan jenis pria yang akan melepaskan buruannya begitu saja. Sekali kau mencari gara-gara denganku, aku akan pastikan kau membayarnya seumur hidupmu."

To be continue

Terimakasih banyak yang udah ngereview mohon maaf juga kalo banyak kesalahan aku baru pertama kali punya akun FFN sekaligus aplikasi FFN jadi agak bingung gimana cara makenya. #saveffxiuhan aku update senin kamis kalau tak ada halangan.