2060 When The World is Yours
Yuli Pritania
LuMin ver
Chapter 4
"Atau Luhan-sshi, kau merasa takut jika aku berhasil menemukan bukti bahwa ayahmu meninggal karena dibunuh? Apa kau merupakan pihak yang terlibat dalam kematian ayahmu sampai kau merasa begitu ketakutan seperti ini?"
Mata Luhan berkilat saat mendengar ucapan gadis didepannya itu. Gadis ini menuduhnya sebagai salah satu dalang kematian ayahnya? Yang benar saja! Apa gadis ini mau bunuh diri sehingga berani mencari gara-gara dengannya? Benar, pasti gadis ini mau cari mati, batin Luhan geram dan mempererat cengkramannya.
Dia menahan senyumnya saat mendengar ringisan kecil yang akhirnya terlontar dari mulut gadis itu. Sebagai gadis pertama yang berani mencari gara-gara dengannya, sekaligus gadis pertama yang tidak membuatnya mengernyit saat menyentuhnya. Luhan merasa gadis ini bisa lebih berbahaya dari perkiraannya. Dengan pikiran itu Luhan menundukkan wajahnya sampai sejajar dengan gadis itu hingga hidung mereka nyaris beradu.
"Aku bukan jenis pria yang akan melepaskan buruannya begitu saja. Sekali kau mencari gara-gara denganku, aku akan pastikan kau membayarnya seumur hidupmu."
Dan Luhan memang berniat melaksanakan ucapannya jika gadis ini tetap keras kepala. Gadis macam apa yang memberikan pegawainya perintah untuk menguliti kulit orang yang sudah mati? Pastinya gadis yang terlalu pintar dan dingin. Dia akan memastikan gadis ini menyerah dan kembali ketempat dimana dia berasal sebelumnya. Ada aura aneh dari kehadirannya.
Wajahnya yang terlalu famililiar dan Luhan tidak berniat memikirkannya dan menolak keras untuk mencari tahu apa itu. Gadis ini membuatnya bingung. Dia ingin menendang gadis ini jauh-jauh, sekaligus menariknya sedekat mungkin. Ini pertama kalinya dia merasakan hal asing seperti ini dan hal itu sangat mengganggunnya.
Mereka masih berdiam diri dengan jarak yang terlalu dekat dan Luhan menyadari banyak hal dalam beberapa detik yang rasanya tidak terlalu singkat. Mata gadis itu berwarna cokelat, kulit wajahnya mulus tanpa cela, dan dia merasa sangat tidak nyaman dengan bibir gadis itu yang bisa dijangkaunya jika dia mau memajukan tubuhnya sesenti lebih dekat. Ada rasa bergejolak diperutnya dan dia tahu bahwa gadis ini membuatnya tertarik melebihi gadis manapun yang pernah ditemuinya sebelumnya.
Dan itu merupakan daftar panjang gadis dari berbagai ras dan negara, mengingat begitu banyak kliennya yang menjebaknya untuk menikah dengan anak pemilik Lu Corporation. Belum lagi daftar gadis yang tiap hari disodorkan ibunya padanya. Dan dia yakin bahwa tidak ada satupun diantara gadis-gadis itu maupun gadis lain yang akan ditemuinya nanti yang akan membuatnya merasakan dorongan kuat untuk menyentuh kecuali gadis didepannya ini. Itu artinya alarm kematian baginya. Dia tidak pernah tertarik dan tidak akan pernah tertarik menjalin hubungan asmara dengan gadis manapun. Tidak.
"Kalau kau mau mendengarkanku, aku akan memberitahumu alasan kenapa aku memberi perintah yang menurutmu tidak berperikemanusiaan itu. Dan asal kau tahu, aku tidak berminat memiliki urusan apapun denganmu, Tuan Lu." Ujar Minseok tiba-tiba dengan suara rendah, membuat Luhan mengerjap dan mengembalikkan kesadarannya. Tanpa sadar dia menarik nafas yang dari tadi ditahannya. Sedikit kesalahan, karena dari jarak ini dia bisa mencium parfum yang dikenakan Minseok dengan sangat jelas, membuatnya lagi-lagi merasa pusing.
Seperti tersengat listrik Luhan membebaskan Minseok dari cengkramannya dengan sangat cepat, membuat Minseok sedikit terhuyung ke belakang. Luhan sama sekali tidak berniat memeganginya. Dia tidak akan mengambil resiko dengan menyentuh Minseok lagi, karena jika itu terjadi, dia tahu yang akan dilakukannya adalah menarik Minseok keruang kosong terdekat dan menciumnya.
"Ehheemm... bisakah kalian berhenti bersikap bahwa hanya ada kalian berdua diruangan ini dan mulai menyadari kehadiranku?"
Luhan menoleh mendapati Kyungsoo berdiri didekat mereka. Dia memang tidak menyadari keberadaan gadis itu tadi. Dia terlalu emosi saat asistennya memberitahu bahwa ada seseorang yang memberi perintah untuk menguliti ayahnya dan dia langsung bergegas ke Rumah Sakit, membatalkan makan malamnya dengan seorang klien penting yang berniat menjual sebuah pulau di Maladewa. Dia memang berniat membuat cottage pribadi disana, tapi dia menunda pertemuan itu hanya karena gadis di depannya ini.
"Do Kyungsoo. Senang berkenalan denganmu Tuan Lu." Kata Kyungsoo sambil menyodorkan tangannya. Luhan menyambutnya singkat tanpa bersusah payah tersenyum ramah.
"Jadi?" Tanya Luhan sambil mengalihkan tatapannya lagi.
Tiba-tiba Minseok yang membuatnya naik darah itu menjadi objek tatapan yang sangat menarik baginya. Minseok berdehem singkat dan dengan berani menatap mata Luhan, menunjukkan terang-terangan bahwa dia tidak merasa takut sedikitpun. Akting yang tidak terlalu bagus, karena dia bisa melihat kaki Minseok bergetar.
"Kau pasti tahu bahwa ayahmu tidak memiliki riwayat sakit jantung, jadi sudah pasti ini pembunuhan. Tidak ada reaksi racun yang ditemukan dalam darahnya. Aku hanya perlu memastikan bahwa ada bekas luka, semacam suntikan atau sejenisnya. Kau tahu bahwa kulit orang tua sudah mulai berkerut dan ada bercak-bercak penuaan, makannya luka semacam itu akan sangat sulit dicari. Akan lebih mudah kalau kita menguliti kulitnya."
"Akan lebih mudah?" Desis Luhan. Ekspresi wajah Minseok terlihat datar, seolah hal itu sudah menjadi makanannya sehari-hari.
"Luhan-ah, kau datang?" Seseorang menepuk bahu Luhan dari belakang.
"Hyung." Sapa Luhan tanpa melepaskan kontak mata sedikitpun dengan Minseok.
"Ah kalian sudah bertemu? Tapi sedang apa kalian disini? Minseok-ah?" Tanya Kris heran.
Seharusnya Minseok menemuinya sesampainya di Korea, tapi sampai malam gadis itu tidak muncul-muncul. Kris ke gedung STA yang terletak di sayap kiri bangunan KNI, setelah bertanya pada Suho yang menjemput mereka di bandara.
"Kalau kau belum tahu hyung, gadis ini dengan seenaknya memberi perintah pada Jongdae untuk menguliti kulit ayahku" raut wajah Kris langsung berubah menjadi panik saat mendengar hal itu.
"Minseok-ah? Kau menyuruh..."
"Siapa namanya?" Tanya Luhan cepat, merasa pendengarannya bermasalah.
"Min Seok... Kim Min Seok..."
Nama itu berarti sesuatu. Dan Luhan akhirnya tahu dengan tepat apa yang membuatnya merasa tertarik pada gadis ini.
"Memangnya apa urusanmu dengan namaku? Kau mau menaruh namaku di daftar orang yang mencari gara-gara denganmu?" Sela Minseok dengan nada sinis.
"Kau anak Tae Gil ahjussi?" Tanya Luhan tanpa mengacuhkan ucapan Minseok. Dia harus memastikannya, karena nama itu benar-benar berarti segalanya baginya sejak 14 tahun yang lalu.
"Kau mengenal ayahku? Ah... tentu saja, mengingat dia meninggal dalam tugas melindungi ayahmu." Nada suara Minseok sedikit bergetar mengucapkan kalimat itu, membuat siapapun bisa merasakan betapa besar rasa kehilangan yang ditanggungnya atas kematian ayahnya.
Luhan menarik nafasnya berat. Ternyata dia benar-benar dia. Gadis ini. Benar-benar gadis itu.
"Kau membenci ayahku karena dia menjadi penyebab kematian ayahmu?"
"Aku bukan orang yang sepicik itu. Ayahku..." Minseok berhenti dengan suara tercekat dan menggelengkan kepalanya, memasang wajah dingin tanpa ekspresinya lagi.
Luhan merasa Minseok dengan sengaja memasang wajah perisai yang tidak bisa ditembus siapapun dan kali ini, dia tidak akan menghalangi rasa ingin tahunya seperti yang tadi dilakukannya sebelum dia mengetahui identitas Minseok.
"Ayahku sering bercerita tentang ayahmu, bahwa mereka bahkan menjadi sahabat baik. Aku tidak akan membenci orang yang disayangi ayahku. Kalau itu yang ingin kau ketahui. Dia tidak bersalah sama sekali dalam kematian ayahmu."
"Minseok kesini untuk menjadi pelindungmu. Dia akan menyelidiki kematian ayahmu sekaligus memastikan bahwa siapapun yang merencanakan pembunuhan itu, tidak akan menyentuhmu." Jelas Kris sambil menatap Minseok dengan tatapan yang membuat Luhan merasa tidak nyaman.
"Ada hubungan apa diantara kalian?" Tanya Luhan tanpa mengendalikan rasa ingin tahunya. Dia bahkan tidak bisa mengontrol nada cemburu yang kentara dalam suaranya.
"Dia adik angkatanku. Ayahku mengangkatnya sebagai anak."
Luhan menghembuskan nafas lega dan mengubah ekspresi wajahnya, menatap Minseok dengan penuh ejekan.
"Gadis kecil, pendek, dingin dan tidak berperasaan ini mau jadi pelindungku? Kalian tidak salah? Aku bisa melindungi diriku sendiri. Tidak membutuhkan bantuannya sama sekali. Kalian pikir aku banci sampai harus dilindungi seorang wanita?"
"Dia lulusan terbaik akademi dalam satu dekade terakhir. Penembak jitu yang kami miliki."
"Aku juga bisa menembak siapapun yang aku inginkan."
"Tapi kau adalah pengusaha yang sibuk Luhan-ah. Kau tidak akan punya waktu untuk menyelidiki siapa yang berusaha membunuhmu. Itulah tugas Minseok."
"Kalau kau tidak suka aku bisa kembali ke Amerika dan kembali menjalani kehidupan normalku disana." Potong Minseok. Luhan bisa melihat binar penuh semangat memancar dari tatapan Minseok dan dia tidak menyukainya.
"Minseok." Sela Kyungsoo dengan nada mengingatkan. Bahu gadis itu melorot dan wajahnya menjadi muram lagi.
"Ini pertama kalinya Minseok ke Korea sejak dia dilahirkan, jadi aku harap kau maklum. Dia tidak menyukai Korea. Negara tempat ayahnya tewas. Tidak punya ikatan apapun dengan negara ini."
"Kali pertama kau ke Korea? Kau yakin?" Tanya Luhan tak percaya. Apa gadis ini melupakan hal itu? Dia memang masih kecil saat mereka pertama kali bertemu, tapi bukan berarti gadis itu bisa melupakannya begitu saja.
"Kalaupun aku pernah kesini, aku lebih suka melupakannya."
Luhan menghela nafasnya lagi. Dia selalu berharap bahwa pertemuan mereka setelah bertahun-tahun akan berjalan dengan baik. Berpikir bahwa dia akan bisa memperlakukan Minseok dengan selayaknya dan membuang sikap dingin dan ketus yang biasa dia tunjukan di
depan umum.
Dia sengaja tidak menggunakan kekusaanya untuk menyelidiki gadis itu, memata-matainya , mencari segala hal tentang hidupnya, mengikuti pertumbuhannya. Dia tidak melakukan itu semua walaupun dia bisa mendapatkannya dengan mudah.
Dia menahan diri karena ingin semuanya berjalan sederhana. Dia lebih suka menunggu kedatangan ayah Minseok ke Korea dengan dada yang berdebar-debar, menunggu cerita mengalir dari mulut pria separuh baya itu tentang anak gadisnya yang mengagumkan.
Apa yang dilakukan gadis itu, bagaimana dia tumbuh, apa dia memiliki hidup yang bahagia. Luhan selalu berusaha untuk tidak menunjukan ketertarikannya dengan begitu jelas.Dia selalu bersabar sampai ayah Minseok sendiri yg membuka mulut dan itu tidak terlalu sering karena pria itu jarang berkunjung ke rumahnya.
Tapi setiap itu terjadi, Luhan merasakan kepuasan tersendiri bahwa hidup gadis itu baik-baik saja, sesuai yang diharapkannya. Tapi yang terjadi sekarang adalah mereka bertemu dalam situasi yg salah, bahkan Luhan setengah yakin bahwa gadis itu tidak menyukainya. Pertemuan ini sama sekali tidak sesuai dengan yang dibayangkannya. Walaupun begitu, tidak bisa dipungkiri bahwa membuat gadis ini kesal adalah permainan yang menyenangkan.
" Aku lebih suka untuk tidak melihat wajahmu lagi sebenarnya." ujar Luhan, berbohong habis-habisan tentang perasaanya.
" Tapi Nona Kim, jujur saja , kau akan menjadi mainan yg amat sangat menarik ditengah-tengah kesibukanku yang nyaris membunuh."
Sorot mata gadis itu berubah tajam saat Luhan menyelesaikan ucapannya. Luhan bahkan yakin bahwa gadis itu berusaha keras mengepalkan tangannya alih-alih
meringsek maju dan menendang Luhan.
" Berbaik-baiklah padaku. Karena jika kau belum tahu kau adalah pegawaiku. Dan aku bisa memecatmu kapanpun aku mau. Kau tidak ingin itu terjadi, kan?"
To be continue
Big thanks for Silvia462 , nimuix , Laras Sekar Kinanthi , Xiushin , lumin , NurL99 , Park Eun Yeong , Muyasxiu , ZTao Baozi, Xiuhan love, Xiuminhan , unkwon , guest , Opi Mutiara R
Siapa yang penasaran sama masa lalunya Luhan dan Minseok? kenapa Minseok gak inget Luhan ya? Penasaran gak? Hahaha *ketawajahat .
