Bagaimana menurut kalian jika seorang jendral menikahi putri?
Pasti terdengar aneh dan jarang terjadi. Putri seharusnya menikahi seorang pangeran yang berwibawa dan dari kerajaan besar bukannya menikah dengan seorang jendral yang bekerja di medan perang membunuh musuh kerajaannya dengan nyawa sebagai taruhannya.
Tapi...
Jika ada kisah seorang putri yang menikah dengan jendral perang yang siap mati kapan saja...
Bagaimana kisahnya ya?
.
.
Author: Haruno Angel
Naruto © Masashi Kishimoto
Rate T+
Genre : Romance, Hurt/Comfort, Little Conflic, Family,
Warn: Kingdom!vers,typo(s),GaJe,dll..
.
.
.
.
Married the Princess!
Chapter 3
Happy Reading!
.
.
.
.
Sang fajar telah muncul di ufuk timur pertanda hari akan segera berubah menjadi pagi. Namun sepasang pengantin baru kita ini sepertinya masih betah berada di tempat tidur nyamannya tersebut padahal ini adalah hari yang akan menjadi sibuk bagi mereka berdua.
Mendadak, ranjang itu bergerak menandakan seseorang yang tidur di atasnya bergerak dan ternyata putri cantik kita lah yang bergerak.
-Hinata PoV-
Hangat.
Itu yang kurasakan pertama kali saat keluar dari alam mimpi.
Sekujur tubuhku terasa hangat. Aku juga bisa merasakan angin menerpa pipi juga leherku, entah angin apa itu. Selain itu, aku merasakan perasaan aneh yang tak pernah kurasakan sejak ibu meninggalkanku dan Hanabi.
Nyaman dan tenang.
Aku merasa sangat nyaman sekali. Perlahan kubuka mataku walaupun agak sulit menyesuaikan dengan cahaya terang dari celah tirai gorden, aku tetap berusaha membuka mataku. Namun, aku dikagetkan dengan tangan yang ada di depanku atau lebih tepatnya menimpaku saat ini. Saat kucoba untuk menoleh kebelakang, jusru pelukan kian mengerat.
"Sebentar Kaa-san..."
Suara agak serak itu dapat segera kukenali. Aku tahu siapa pemilik suara berat itu. Siapa lagi kalau bukan jendral yang baru semalam resmi menjadi suamiku, Namikaze Naruto. Ia semakin mengeratkan pelukannya bahkan aku sampai sulit bergerak dibuatnya. Aku berusaha melepaskan diri namun usaha itu terhenti begitu aku mendengar ucapannya satu itu.
"Jangan tinggalkan aku sendiri Kaa-san..."
Aku terdiam. Tubuhku tak lagi kugerakkan seperti tadi. Jika kuasumsikan, mungkin orang tuanya meninggalkannya. Namun, itu hanya asumsi. Aku akan menanyakannya nanti. Sekarang aku mau melepaskan diri darinya dulu. Tangannya berat!
-Hinata PoV End-
"Namikaze-san.." panggil Hinata dengan suara pelanseraya menggoyangkan tangannya perlahan.
Tak ada respon dari orang yang dipanggil.
"Namikaze-san.. sudah pagi.." ucap Hinata lagi seraya menggoyangkan terus menerus tangan Naruto namun belum ada respon apa pun selain gumaman-gumaman tak jelas.
"Naruto-san.. bangun.." panggil Hinata dengan suara pelan. Kali ini bukan goyangan-goyangan halus yang dilakukan Hinata pada tangan naruto melainkan elusan halus layaknya elusan tangan seorang ibu pada anaknya.
Sekejap mata, Naruto langsung bangun dari alam mimpinya. Matanya mengerjap-ngerjap beberapa kali. Namun, beberapa saat kemudian dahinya mengernyit. Ungu? Kenapa bisa ada rambut berwarna ungu di depannya. Beberapa saat kemudian setelah berpikir, ia tersadar bahwa itu adalah...
"H-Hinata?!" ucap naruto meloncat dari posisinya tadi dengan perasaan kaget bercampur bingung. Namun tak lama, ia baru terpikir kalau dia sendiri yang tidur di samping Hinata. Hinata pun bangun dari tempat berbaringnya tadi.
"Akhirnya kau bangun Naruto-san.." ucap Hinata seraya menatap Naruto yang masih kaget.
"G-Gomenesai!" ujar Naruto seraya menundukkan kepalanya sembilan puluh derajat. Ia merasa bersalah.
"Tak apa. Tak usah seformal itu.. lagipula kita ini 'kan suami-istri.." ucap Hinata duduk di tengah ranjang.
"T-Tapi.."
"Tak perlu dipikirkan, Naruto-san."
"-kun."
"Eh?" Hinata terkejut dengan ucapan dari pemuda bersurai kekuningan satu itu "Maksudmu?"
"Panggil aku 'Naruto-kun'."
Iris rembulannya membulat. Jantungnya pun berdetak tak karuan. Terlihat semburat merah tipis di wajahnya. Ada apa dengan dirinya? Apa mungkin karena panggilan Naruto-kun itu?
"Naruto... –kun.." panggil Hinata dengan suara pelan.
"Begitu lebih baik.. Hehehe.." ujar naruto seraya terkekeh pelan.
TOK.. TOK.. TOK..
"Hinata sayang.." panggilan dari arah luar iu membuat Hinata dan Naruto terkejut.
"Hinata.. Boleh ibu masuk?" langsung saja raut wajah Hinata berubah menjadi dingin sekaligus datar. Naruto bingung melihat perubahan ekspresi dari Hinata.
"Naruto, duduk disini, sekarang." Ucap Hinata datar membuat Naruto semakin bingung. Namun, ia tetap menuruti perkataan Hinata. Ia segera duduk di tepi ranjang dengan posisi menghadap Hinata.
"Ibu masuk ya.." kenop pintu pun terlihat turun kebawah pertanda seseorang menekannya. Segera Hinata memeluk Naruto. Naruto pun terlonjak kaget namun Hinata berbisik padanya "Diamlah.. Kita akan berpura-pura.."
Karin. Wanita yang merupakan ibunda tiri dari Hinata pun akhirnya membuka pintu. Wajahnya terlihat terkejut ketika melihat adegan yang terjadi depannya.
"Oh— Ibu?" ucap Hinata dengan senyuman palsunya. Akting pun dimulai sekarang.
"Hinata— kelihatannya ibu sedag mengganggu kalian ya.." ucap Karin dengan raut wajah kaku.
"Hm.. bisa dibilang begitu.." jawab Hinata dengan tatapan agak tajam. Lalu menunjukkan raut wajah orang terganggu.
"Kalau begitu... Ibu keluar dulu.." ucap Karin berbalik dan akan keluar dari ruangan itu.
"Baiklah.. jangan GANGGU kami lagi ya.." ucap Hinata dengan penekanan di kata 'Ganggu'.
"Ngomong-ngomong.. Ini mirip kejadian hari itu 'kan, IBU?" tutur Hinata dengan penekanan kata 'Ibu'. Ia tak sudi mengatakan kata itu.
Terlihat tubuh wanita merah itu menegang mendengarnya. Sepertinya ia ingat hari apa yang dimaksudkan Hinata. Naruto ingin menanyakan, namun bukan sekarang. Sekarang tengah terjadi perang dingin antara ibu tiri dan anaknya. Lalu, Karin segera meninggalkan ruangan tersebut dengan hati panas.
BLAM.
"Itu ratu 'kan?" tanya Naruto melihat ke belakang.
"Jangan sebut dia ratu! Dia hanya seorang wanita licik murahan.." ucap Hinata dengan tatapan menajam ke arah pintu yang telah tertutup itu.
Naruto nampak tertegun mendengar penuturan dari Hinata. Terlihat kilatan marah di mata rembulannya itu. Ia terdiam cukup lama sampai akhirnya senyuman khasnya keluar, mengisi suasana yang dingin ini.
"Sou... Baiklah! Aku tidak akan memanggilnya ratu lagi." Tutur Naruto dengan senyuman lima jarinya.
DEG.
Lagi. Jantung Hinata berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Wajahnya juga memanas. Namun, ia tutupi dengan bersikap seperti biasanya.
"K-Kalau begitu... Aku mau mandi dulu." Ucap Hinata turun dari ranjang lebar itu.
"Ha'i."
.
.
.
.
.
.
"Ohayou, putriku." Ucap seorang pria dengan wajah berwibawanya ketika melihat putrinya masuk ke ruang makan.
"Ohayou, Otou-sama." Jawab Hinata. Di belakangnya terlihat Naruto yang mengekorinya menuju ruang makan. Ia merasa gugup sekarang.
"Oh, Naruto? Ayo duduklah di samping putriku ini." Ucap Hiashi menunjuk sebuah kursi di samping Hinata.
"H-Ha'i, Hiashi-sam—"
"Panggil aku dengan sebutan 'Tou-sama' saja, Naruto." Potong Hiashi dengan cepat.
"H-Ha'i, Tou-sama." Ujar Naruto yang sebenarnya agak canggung dengan panggilan itu.
"Baiklah, mari kita makan." Ucap Hiashi
Tak lama, para pelayan dengan gaun putih dan hitam datang mendekat ke meja makan dan membawakan beberapa piring sarapan untuk keluarga kerajaan Hyuuga itu. Tentu Naruto juga karena ia bagian dari Hyuuga sekarang.
Acara sarapan mereka diliputi keheningan sampai seorang wanita dengan surai merah darahnya mendekat ke meja makan besar dan panjang di ruangan sunyi tersebut.
"Ohayou minna-san.. Gomen aku terlambat. Aku ada urusan mendadak tadi." Ujarnya duduk di kursi yang berhadapan dengan gadis bersurai biru tua keungu-unguan tersebut.
"Hm. Tak apa, kami juga baru mulai." Ucap Hiashi melanjutkan makannya.
Hinata sendiri tetap memakan makanannya tanpa melirik sedikit pun ibu tirinya itu. Naruto sesekali melirik Hinata. Hiashi berpikir tentang sesuatu. Karin nampak bersiap akan mengatakan sesuatu.
"Oh ya.. Bagaimana malam pertama kalian?" tanya Karin menatap kedua insan di depannya itu.
"UHUK...!"
Dan... secara bersamaaan mereka tersentak. Naruto yang tengah menelan telur gorengnya harus menerima nasibnya tersedak. Tangannya segera meraih air putih di dekatnya dan menenggaknya demi nyawanya.
Sementara Hinata yang tengah mengambil sayuran dengan sumpitnya membeku di tempat. Ia terkejut dengan pertanyaan dadakan yang dilontarkan Karin. Namun dengan cepat ia mencoba tenang kembali.
"He~ Ada apa ini?" tanya Karin pura-pura dengan polosnya.
"Karin, harusnya kau tak menanyakan hal privat seperti itu." Tegur Hiashi meletakkan peralatan makannya karena telah selesai makan. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Tapi kau juga penasaran bukan?" tanya Karin berusaha merayu Hiashi.
"Sangat hebat."
Jawaban dadakan itu berhasil orang-orang di ruang makan itu terdiam. Hiashi terdiam seraya melihat ke putrinya. Karin yang nampak terkejut melihat juga ke Hinata. Naruto hanya terdiam saja. Ia biarkan sang putri yang mengambil alih.
"Benarkah?" tanya Karin yang tak yakin.
"Ya.. Naruto-kun sangat hebat semalam," Ucap Hinata memandang ke Naruto yang disampingnya seraya tersenyum. Naruto hanya membalas dengan senyuman tipisnya.
"Tak perlu kudeskripsikan secara rinci, kalian pasti sudah tahu maksudnya." Lanjut Hinata berdiri dari kursinya. "Ayo, Naruto-kun."
"Hm." Gumam Naruto membalas ajakan dari Hinata dan ikut berdiri dan berjalan di samping Hinata menuju pintu keluar dari ruang makan.
"Oh, Hinata? Aku punya kabar untukmu," Ucap Karin yang masih memandang lurus ke depan kemudian perlahan menolehkan kepalanya pada gadis muda itu.
"Saudarimu, Saara, akan kembali ke sini."
DEG.
Hinata bergeming. Nafasnya seolah tercekat. Matanya pun turut membulat. Saudari tirinya akan kembali? Itu sebuah mimpi buruk bagi dirinya.
"Oh. Baiklah." Jawab Hinata singkat dan melirik sekilas ayah dan ibu tirinya itu seelum pintu ruang makan tertutup. Nampak mata ametystnya itu melirik penuh amarah ke ibunya itu.
BLAM.
Setelah pintu tertutup rapat, nampak tubuh Hinata yang mendadak melemas. Ia perlahan berjalan menyusuri tembok panjang itu. Naruto yang berada di samping Hinata merasa heran dengan sikap Hinata.
BRUK.
"Hinata!" Naruto berusaha memegang kedua lengan Hinata dan menahannya agar tak menjatuhkan diri ke lantai. Hinata yang kini terduduk di atas lantai dingin itu kini hanya terdiam. Naruto yang melihat hal itu dengan insiatifnya menggendongnya dengan kedua tangan kekarnya.
"Kita akan kemana, Yang Mulia?" tanya Naruto menatap wajah putih dan mulus gadis itu. Amethyst gadis muda itu nampak menatap lantai kosong.
"Ke taman." jawabnya singkat.
"Ha'i."
Naruto pun langsung melangkah menuju ke taman bunga seperti yang diperintahkan sang putrinya itu.
—TBC—
A/N : Tak banyak yang akan auhor sampaikan. Terimakasih banyak bagi yang mereview dan membacanya! Aku sangat menghargainya ekaligus sangta senang ada orang yang membaca fic tak sempurnaku^^
Special thanks~
Haruno Angel.
