2060 When The World is Yours

Yuli Pritania

XiuHan Ver

Chapter 6

Minseok baru saja membaringkan tubuhnya ke atas kasur sambil menggeliatkan badan, mencari posisi yg nyaman, saat Kyungsoo masuk ke kamar dan menghempaskan tubuhnya ke tempat kosong di samping gadis itu.

" Mau apa kau? ini sudah malam. Aku lelah"Bukannya menjawab, Kyungsoo malah berbaring menyamping menghadap Minseok sambil mengedipkan matanya.

"Minseok, kau pakai sihir apa sampai membuat Luhan terpana begitu?"

Minseok mendelik dan menarik selimut sampai menutupi tubuhnya, berbalik memunggungi Kyungsoo, menandakan bahwa dia tidak akan meladeni pertanyaan gadis itu.

"Minseok-ah, aku serius. Tadi itu dia bahkan tidak menyadari kehadiranku sama sekali, padahal jelas-jelas aku berdiri di sampingmu. Itu keterlaluan namanya! Memangnya aku ini kalah cantik! Dan kalau aku belum sadar, sikapnya langsung berubah saat tahu bahwa kau adalah anak Tae Gil ajjushi! "

" Tentu saja sikapnya berubah, dia kan kenal dengan ayahku."

" Bukan itu maksudku! Dia itu bersikap seolah-olah dia sudah mengenalmu dan asal kau tahu, dia itu tidak suka menyentuh wanita tapi tadi dia memegangimu. Aaaaah, dan dia tadi

mengeluarkan begitu banyak ekspresi, itu hebat sekali ."

" Kau itu fans beratnya ya? " tanya Minseok sambil menatap Kyungsoo tak percaya, seakan-akan mengagumi pria itu adalah aib besar.

" Ah, tidak juga. Dia itu hanya terlalu sering menjadi bahan gosip, jadi aku tahu semuanya. Hehehehe "

" Keluar kau! Aku mau tidur."

" Payah! " sungut Kyungsoo sambil bangkit berdiri dan dengan sengaja menendang kaki Minseok yang tertutup selimut, keluar dengan cepat sebelum...

" KAU MAU MATI, HAH? "Yah, sebelum teriakan itu berhasil membuatnya tuli.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Minseok memakai sepatu hitam tanpa haknya dengan terburu-buru, melirik cermin sedikit untuk memastikan penampilannya sudah layak. Dia mengenakan blus putih dan blazer

hitam dengan bawahan celana panjang hitam. Setidaknya lumayan untuk pergi ke pemakaman. Menurutnya.

" Aish, kenapa kau tidak membangunkanku lebih pagi, hah? " protes Minseok kesal ke arah Kyungsoo yang sedang asyik menyantap roti bakarnya.

" Aku sudah membangunkanmu, tapi kau tidur seperti babi. Siapa suruh kau pulang larut malam. Lihat kantung matamu itu, seperti panda."

" Diam kau! Dan beritahu aku kenapa kau malah memakai baju warna-warni begitu." ujar Minseok mengomentari blus berwarna pelangi yg dikenakan dan hot pants putihnya yang memamerkan kakinya yang jenjang.

" Hari ini aku tidak ikut ke upacara pemakaman ayah Luhan. Aku harus menemui orang tuaku di Busan. Mumpung hari ini semua karyawan diliburkan. Aku rasa Luhan tidak akan mengambil absen karyawan yg tidak hadir disana." ujar Kyungsoo ringan

" Aku tidak suka pergi sendirian ke tempat asing dimana tidak ada seorangpun yang aku kenal disana."

" Tentu saja ada. Kris oppa misalnya? Semuanya pasti datang"

" Dimana rumah pria itu? Sepertinya aku harus mempertaruhkan nyawaku pada radar GPS di mobil. Aku benar-benar tidak suka ini. Kalau saja ibuku tidak menelepon dan memperingatkanku agar aku mengurungkan niatku untuk tidak datang, aku akan tetap berada di atas tempat tidur sekarang. Belum lagi dia menyuruhku menemui Nyonya Lu dan

menyampaikan ucapan duka cita darinya secara langsung. Hah! Merepotkan saja! Apa dia mau membunuhku? Mana mungkin aku bisa mendekati Nyonya Besar itu dengan mudah."

" Berhentilah mengeluh, Kim Min Seok. Kau membuat telingaku tuli. Mereka tinggal di daerah Yeoju, Gyeonggi-do."

" Bisakah kau lebih spesifik sedikit? Bukankah Yeoju itu kawasan elit dan amat sangat luas?"

" Ah, tidak perlu susah payah. 3 tahun yg lalu mereka membeli semua tanah di Yeoju. Jadi semua kawasan itu sudah termasuk wilayah tempat tinggal mereka sekarang "

" Wilayah seluas itu hanya untuk satu rumah saja?" teriak Minseok syok

" Begitulah. Aku dengar itu adalah rumah paling indah paling mewah, dan paling luas di Asia. Atau dunia? Beberapa orang bilang pemandangannya indah sekali, seperti sedang berada di lokasi wisata."

" Mereka sakit jiwa." Komentar Minseok pendek sambil menyambar kunci mobilnya.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Minseok mengemudikan mobilnya memasuki kawasan Yeoju. Kyungsoo benar. Rumah keluarga Lu benar-benar satu-satunya rumah yang terletak di kawasan itu dan itu mencakup ratusan

ribu meter yang harus dilaluinya dengan mobil.

Lingkungan perumahan itu memang sangat asri dan Minseok menemukan beberapa bangunan di sepanjang perjalanan, dilengkapi dengan penjaga pada masing-masing tempat. Tempat itu nyaris terlihat seperti tempat tamasya lengkap dengan pemandangan indah

berupa danau buatan, taman bunga yg mencakup beberapa jenis bunga yang ditanam perkelompok, juga kursi-kursi kayu yg diletakkan di bawah pepohonan rindang yang menghadap langsung ke arah sungai kecil yang mengalir jernih.

Keluarga ini seperti keluarga kerajaan di negeri dongeng yang biasa dibacakan oleh ibunya saat dia kecil dulu. Tapi Minseok bahkan yakin, istana di cerita-cerita fiksi itu bahkan tidak akan

sebesar tempat ini.Terlihat bukit-bukit hijau di kejauhan. Tempat golf mungkin. Dan Kyungsoo sempat menyinggung

tentang helipad yang terletak di belakang rumah.

Dari data Lu Han yang didapatkannya, dia mendapat data harta pria itu yang mencapai puluhan triliun dollar plus ratusan anak perusahaan, rumah dan pulau sekaligus negara yang dimilikinya. Belum lagi pesawat dan helikopter, yacht, villa dan pantai pribadi. Jenis kekayaan yg tidak bisa dimiliki siapapun,

bahkan untuk dibayangkan saja itu rasanya nyari mustahil.

Saat memasuki kawasan rumah, untung saja ada beberapa petunjuk arah di jalan-jalan, meminimalisir kemungkinan para tamu yang mungkin akan tersesat, Minseok akhirnya bernafas lega saat melihat ada banyak mobil disana. Setidaknya dia berhasil sampai dengan selamat. Tapi kekhawatiran baru melandanya. Dia tidak pernah suka berada ditengah orang banyak dan tempat ini begitu asing baginya.

"Baiklah Minseok, kau hanya perlu menemui Ji Min ahjumma, menyampaikan salam dan ucapan bela sungkawa ibumu padanya, kemudian pulang. Hindari kemungkinan bertemu pria dingin dan mengerikan itu, itu akan sangat baik untuk kesehatan jantungmu Minseok." Ucap Minseok pada dirinya sendiri sambil menarik nafas dalam-dalam.

Minseok berjalan mengikuti arus manusia yang berdesak-desakkan memasuki bangunan yang terletak ditengah.Bangunan itu diapit dua bangunan lain yg sama mewahnya. Prediksi Minseok yang paling memungkinkan adalah rumah ditengah itu ditempati orang tua Luhan, dan mungkin dua bangunan lain menjadi kediaman Luhan dan kakak perempuannya.

Sepertinya keluarga Lu membuka

rumahnya untuk umum hari ini, karena ada banyak orang yg datang untuk mengucapkan belasungkawa dan menghadiri pemakaman.Minseok bahkan melihat mobil presiden Korea terparkir di tempat parkir khusus yang dikawal

para bodyguardnya.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

" Hai, kau datang! "

Minseok menoleh dan menghirup nafas lega saat melihat Kris berada didekatnya.Setidaknya keadaannya akan jauh lebih baik kalau dia bersama orang yg dikenalnya di tempat ini. Dia akan terhindar dari kemungkinan berdiri seperti orang bodoh di tengah kerumunan dan kesulitan mencari cara untuk mendekat ke arah sang tuan rumah.

"Oppa, kau sendirian?"

"Hmm, sebenarnya tidak juga. Tadi aku bersama Suho, tapi dia menghilang entah kemana. Kyungsoo tidak ikut?"

"Tidak. Dia menemui eommanya di Busan"

"Tumben kau mau berkeliaran ke tempat asing sendirian? Dan kurasa ini adalah rumah musuhmu. Benar tidak?"Minseok tertawa kecil mendengar candaan Kris yang dilontarkan padanya.

"Lu Han bukan musuhku. Dia kan orang yang harus kulindungi." jawab Minseok dengan nada sarkastis yang sangat kentara.

" Tapi tidak bisa dipungkiri oppa, aku tidak menyukainya. Auranya buruk sekali."Kali ini gantian Kris yang tertawa sambil menepuk-nepuk kepala Minseok ringan.

" Hati-hatilah. Sepertinya dia tertarik padamu. Kalau sampai itu terjadi, aku pastikan kau tidak bisa lari kemana-mana."Minseok menatap Kris tidak percaya. Bukan karena ucapannya yang mustahil, tapi karena perkataannya benar-benar mirip dengan yg dikatakan Kyungsoo tadi malam padanya.

" Kau tahu tidak? Luhan itu... tidak suka berada didekat wanita manapun. Bahkan aku nyaris tidak pernah melihat ada ekspresi di wajahnya yg dingin itu. Tapi semalam ada begitu banyak ekspresi yg diperlihatkannya saat dia menatapmu. Seolah hanya ada kalian berdua saja di ruangan itu. Aku bahkan yakin dia merasa cemburu saat menanyakan hubungan antara kita berdua. Dia jauh terlihat manusiawi."

" Jangan bicara omong kosong, oppa" sergah Minseok

" Dia itu kan manusia, tentu saja dia punya ekspresi. Kau ini ada-ada saja."

" Bukan omong kosong, karena aku sudah mengenalnya cukup lama untuk mengenal kepribadiannya. Dia bersikap seolah-olah dia sudah lama mengenalmu."

Minseok menggeleng dan tanpa sengaja matanya beradu dengan tatapan Luhan yang berdiri jauh dibagian depan, di samping peti jenazah ayahnya.

Atau mungkin itu hanya perasaannya saja. Mana mungkin pria itu menyadari kehadirannya di tempat seramai ini. Atau pria itu terlalu membencinya, karena gara-gara perintahnya untuk menguliti kulit mayat ayahnya, jenazah itu menjadi tidak sempurna saat dimakamkan? Tapi gadis itu tidak bisa memungkiri pesona kuat yg memancar dari Luhan, yang terlihat sempurna dengan setelan jas lengkapnya.

Di sampingnya berdiri Siwon yang Minseok kenali dari beberapa berita yang sempat ditontonnya. Kalau tidak salah pria itu direktur perusahaan mobil keluarga Lu yang akan meluncurkan mobil yetbang bulan depan dan juga sangat terkenal dengan reputasi buruknya dalam hal menaklukkan wanita.

" Apa aku salah atau Luhan memang sedang menatapmu?" tanya Kris menyuarakan isi pikiran Minseok.

" Mungkin dia sedang melihat ke seseorang di belakangku dan semacamnya. Tempat kita berdiri jauh di belakang, mana mungkin dia sadar. Atau mungkin dia memang sangat membenciku sampai bisa merasakan aura kehadiranku?"

" Atau dia jatuh cinta padamu sehingga selalu bisa merasakan kehadiranmu di dekatnya? " goda Kris sambil mengedipkan matanya.

" Hahaha lucu sekali oppa." ujar Minseok ketus, mulai merasa tidak nyaman dengan ucapan-ucapan Kris yang semuanya berujung pada kemungkinan buruk bahwa Luhan jatuh cinta padanya. Astaga mereka bahkan baru bertemu satu kali dan itu sama sekali bukan pertemuan manis yg harus dingat-ingat.

Tapi kau bahkan masih mengingat dengan tepat cengkramannya semalam. Sentuhan tangannya lebih tepatnya, batin Minseok mengejek dirinya sendiri.

Dia memang memiliki kecenderungan menilai pria dari tangannya. Dan seingatnya, tangan pria itulah yg paling sempurna sejauh ini. Tangan itu besar dan memiliki jari-jari yang panjang

dan Minseok yakin bahwa pasti akan sangat hangat sekali saat menggenggam tangan itu.

Astaga, hentikan pikiran bodohmu itu dan fokuslah, Kim Min Seok.Tidak, akan lebih baik jika dia tidak menyetujui pekerjaan barunya sebagai pelindung pria itu. Dia punya kekhawatiran sendiri bahwa pria itu memiliki pesona yang jauh lebih dari cukup untuk membuatnya terjebak.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Satu jam kemudian berlalu dalam upacara pemakaman yg terasa khidmat.Minseok bisa melihat ibu Luhan menangis terisak dalam pelukan anak perempuannya yg

terlihat sangat anggun dalam balutan gaun hitamnya yang elegan.

Keluarga yang begitu sempurna jika mengensampingkan kenyataan bahwa banyak yang berusaha melenyapkan mereka demi mendapatkan harta kekayaan yang tidak tanggung-tanggung banyaknya itu.

"Oppa, apa aku bisa menenui Ji Min ahjumma?"

"Ji Min ahjumma? Kau mengenalnya?"

"Ani. Ayah dan ibuku adalah sahabat lama mereka dan karena ibu tidak bisa datang kesini, beliau memintaku menyampaikan ungkapan bekasungkawaku secara langsung kepadanya" jelas Minseok.

Mereka berdua tetap berdiri di tempat semula, sedangkan kerumunan sudah mulai berkurang karena upacara baru saja selsai.

" Ayo ikut aku" ajak Kris sambil berjalan mendekati kedua wanita itu. Luhan sendiri sudah tidak terlihat lagi, mungkin sibuk melayani para rekan bisnisnya yg datang menjenguk.Baguslah, lebih baik dia tidak berada di dekat pria itu dulu dalam beberapa hari ke depan, pikir Minseok.

" Annyeonghaseyo, ahjumma, Lu Na-ya" ucap Kris sambil menjabat tangan ibu Luhan dan membungkuk sopan ke arah Lu Na.

" Ah, Yifan-ah" ujar ibu Luhan menyebutkan nama asli kakak angkat Minseok itu.

" Sudah lama kita tidak bertemu, apa kau baik-baik saja?"

" Ye, ahjumma. Dan aku harap kau juga baik-baik saja"

" Yah, seperti yg kau lihat.Lalu... siapa gadis ini? Tunanganmu?"Kris tertawa dan merangkul Minseok, mendorongnya maju.

" Ani. Ini adik angkatku. Anak Tae Gil ahjjushi"

" Kau anak Tae Gil? Benarkah? Aigoo-ya, jadi kau anak Min In?Aaah, kita sudah tidak pernah bertemu lagi sejak terakhir kali kau kesini. Waktu itu kau baru

berumur 6 tahun. Kau sudah besar sekarang. Cantik sekali, persis seperti ibumu."Minseok tersenyum saat Ji Min menyentuh wajahnya. Jelas sekali kalau wanita separuh baya itu sangat senang bertemu dengannya.

" Aku pernah bertemu ahjumma sebelumnya? Tapi... aku tidak ingat."

" Tidak heran kau kan baru berumur 6 tahun waktu itu, masih kecil sekali. Tentu saja kau tidak ingat. Dan panggil aku eomma. Anak Tae Gil dan Min In adalah anakku juga. Luna-ya , kau ingat Minseok kan?"

" Ne. dulu aku dan Luhan juga bertemu denganmu. Sayang kau tidak ingat. Panggil aku eonni, arasseo?" ujar Lu Na sambil memeluk Minseok singkat.

"Mana anak laki-lakiku itu? Setiap hari isi otaknya hanya kerja dan kerja saja, bahkan di hari pemakaman ayahnya, Ah, Minseok-ah, Kris-ah, bagaimana kalau kita masuk saja ke dalam? Kita bisa mengobrol dulu"

" Minhae ahjumma, aku masih ada pekerjaan yg tidak bisa kutinggalkan. Biar Minseok saja yang menemani kalian. Aku pamit dulu"Minseok mendelik kearah Kris yang malah mengacak-acak rambutnya sambil tertawa. Sialan sekali kaka angkatnya itu!Dia jadi tidak punya alasan untuk melarikan diri. Tapi sudahlah, toh sepertinya keluarga ini

menyenangkan.

" Ayo masuk. Sebentar lagi pengacara akan datang untuk membacakan warisan. Terlalu terburu-buru, dia bahkan baru dimakamkan hari ini, tapi begitulah isi surat wasiatnya."

" Tapi ahjumma, eh maksudku eomma, aku kan bukan keluarga kalian. Aku tidak mungkin ikut di acara keluarga seperti itu" tolak Minseok saat Ji Min merangkul bahunya dan membawanya masuk ke dalam.

" Bukan keluarga apanya! Tae Gil dan Min In sudah kuanggap sebagai adikku sendiri.Kami sudah bersahabat sejak zaman SMA. Tae Gil bahkan sangat dekat dengan suamiku. Dan anaknya adalah anakku juga.Kau mengerti? Ah iya aku juga ingin mengucapkan belasungkawa secara langsung padamu karena kita belum sempat bertemu saat pemakamannya."

" Ani eomma, seharusnya aku yang berterima kasih. Kalianlah yang menyelenggarakan pemakaman untuk ayahku, sedangkan kami malah tidak mau ke Korea sama sekali."

"Sudah sudah, tidak usah diingat-ingat, nanti aku jadi sedih lagi."

"Minseok-ah , kau audah bertemu adikku? Luhan? Dia pasti sudah tidak sabar ingin

bertemu denganmu" ujar Lu Na penuh semangat.Minseok mengerutkan keningnya heran. Luhan tidak sabar ingin bertemu dengannya?

"Sudah eonni, kami bertemu semalam."

"Lalu? apa dia menggodamu? aku tidak akan heran kalau dia langsung melakukannya saat kalian bertemu. Dia sudah lama sekali menyukaimu. 14tahun?

Sejak kau kesini waktu itu. Bahkan pembicaraannya setiap hari hanya kau saja."

" MWO? "

" Iya Minseok-ah. Anakku itu tidak mau mendekati wanita manapun. Aku tidak tau apa yang kau lakukan padanya saat kalian bertemu dulu." sambung Ji Min

" A... aku... aku pernah bertemu dengan..Luhan? Kapan?"

" Ah, kau benar-benar sudah lupa, ya? Kasihan sekali adikku itu" ujar Lu Na dengan wajah prihatin.

" Ta... tapi eonni, eomma, ka... kami berdua... sama sekali tidak memiliki ketertarikan seperti itu. Maksudku... saat aku bertemu dengannya semalam, kami berdua dalam situasi yg sama

sekali tidak mengenakkan. Dia... sepertinya tidak menyukaiku."

" Omong kosong macam apa itu? Dia tidak menyukaimu? Kau boleh mencekikku sampai mati kalau itu terjadi." sergah Lu Na

" Kau yg mengatakan omong kosong, nuna. Gadis inilah yg memerintahkan Jongdae untuk menguliti kulit ayah untuk mencari bekas luka semacam suntikan yg bisa membuktikan bahwa ayah mati dibunuh.Dan ngomong-ngomong , apa yg sedang kau lakukan di rumahku? Nona Kim?"

Minseok langsung berbalik saat suara berat itu terdengar di belakangnya.

Dia mendapati Luhan yang sedang menatapnya tajam dan lagi-lagi dengan ekspresi dinginnya itu.Di sampingnya berdiri Siwon yang menatap Minseok penuh minat dengan senyum ramah diwajahnya.

" Hai, kau Minseok? Senang bertemu denganmu!"Minseok mengerjap dan menerima uluran tangan pria itu dengan ragu.

" Pantas saja kau rela menunggunya bertahun-tahun. Gadis secantik itu.

Aku tidak heran. Kau keren sekali sepupu!" bisik Chanyeok sambil menyikut lengan Luhan.

" Diam kau" sergah Luhan tajam.

" Minseok memerintahkan untuk menguliti kulit ayah? jadi apa kau sudah mendapatkan sesuatu, Minseok?" tanya Lu Na penasaran . Tidak ada nada marah sama sekali dalam suaranya saat mengetahui bahwa Minseok lah yang memberikan perintah itu.

" Ne. Memang ditemukan semacam racun. Aku rasa aku tidak akan memberitahukan penjelasan ilmiah tentang itu disini. Tapi jelas sekali bahwa serangan jantung yang dialami Tuan Lu tidak alami. Bahkan aku rasa aku sudah mendapatkan beberapa tersangka saat ini."

" Tersangka?" mata Luhan berkilat saat mengatakan itu.

" Kenapa? Kau takut?" tantang Minseok.

" Sudah sudah. kalian ini. Kau Lu Han, kenapa kau jadi aneh begitu? Ayo masuk.

jangan membuat keributan disini.

Sebentar lagi pengacara Jang akan datang."

" Eomma, kau akan mengajak gadis ini? Dia orang luar!" seru Luhan tidak terima.

" Orang luar yang kau mimpikan jadi istrimu setiap malam?" ejek Lu Na ditelinga Luhan sehingga Minseok tidak bisa mendengarnya.

" Nuna!"

" Minseok-ah. Ayo kuantarkan." seru Chanyeol sambil merangkul bahu gadis itu.Tidak sampai sedetik karena Luhan langsung menarik tangan Minseok, menjauh dari sepupunya yang playboy itu.

" Kalian duluan, ada yg harus aku bicarakan dengannya."

" Baiklah. Dan perlakukan Minseok dengan baik. Kau mengerti? Aku heran kenapa adikku jadi pembohong seperti ini!" ujar Lu Na tak suka sambil berjalan masuk dengan ibunya dan Chanyeol.

" Apa?" tanya Minseok langsung tanpa basa-basi saat mereka tinggal berdua.

" Apa yg sudah kau dapatkan? Tersangka kau bilang?"

Ada aura menguasai yang sangat kentara menguar dari pria itu. Jelas pria itu akan selalu berhasil melakukan intimidasi terhadap siapapun yang diinginkannya. Tidak heran jika

bisinisnya berkembang sepesat ini.

" Racun yg ditemukan ditubuh ayahmu diketahui berasal dari penemuan yang belum diluncurkan SRO. PT-20. Peptide Toxin penemuan Sehun."

" Lalu?"

" Aku mencurigai beberapa orang terutama pamanmu dan asisten pribadimu. Sehun juga temasuk orang yg ingin aku introgasi."

Luhan berjalan mendekat dan menunduk sampai wajahnya sejajar dengan gadis itu. Ada seringai sinis diwajahnya, nenunjukkan dengan jelas bahwa dia tidak suka gadis itu mencurigai orang-orang kepercayaanya.

" Sehun adalah ilmuwan terhebat di SRO, aku sendiri yg memberinyaa fasilitas lab khusus paling lengkap di kediaman pribadinya sehingga dia tidak harus datang ke kantor. Dan dia

bekerja di bawah pengawasanku langsung, jadi aku bisa memastikan bahwa dia tidak ada alasan sedikitpun untuk membunuh ayahku. Sedangkan Tae Hwa ahjusshi adalah adik kandung ayahku. Ayahku sangat mempercayainya, jadi aku tidak punya alasan untuk

melakukan sebaliknya. meskipun dia yg akan mendapat keuntungan jika ayahku mati. Aku juga mengawasinya selama ini dan dia tidak melakukan apapun yg mencurigakan. Dan asisten pribadiku adalah orang yang paling aku percayai. Dengan kata lain, jika aku tidak bisa

mempercayainya, aku tidak bisa mempercayai siapapun lagi. Dia sudah bekerja dengan keluarga Lu bahkan sebelum aku lahir dan dia sudah aku anggap sebagai ayahku sendiri. Jadi aku mau memberitahumu bahwa kau tidak punya wewenang apapun untuk mengusiknya."

"Aku sendiri yang akan mengawasi gerak-gerikmu, Nona Kim."

To be continue

Karena kurasa Chapter 5 pendek aku update 2 chapter seneng gak? harus seneng lah. Luhan mah gitu ya sok banget galakin Minseok bikin gereget kan. Kalian udah berapa lama jadi XiuHan Shipper?