LavenderBlues

by

Sunflowers37

Special Fic For NaruHina Wedding Celebration

#NaruHinaWeddingCelebration

Naruto Belongs to Masashi Kishimoto

Prompt : Mawar

.

.

.

.

.

Happy Reading

.

.

.

.

Typo always there

.

.

.

Naruto mengacak-acak surai pirangnya penuh rasa kekesalan, ia merutuki keterlambatannya untuk kesekian kalinya.

Jam yang melingkar di pergelangan tangannya terus mengkonversi waktu semakin menimbulkan rasa cemas yang membumbung tinggi.

Setelah tergesa mencari taksi ditambah kemacetan Kota Tokyo, ia harus berpuas diri terlambat dua jam dari waktu yang telah mereka sepakati sebelumnya.

Rasanya walau ia sudah berdiri dengan sebuket Mawar Merah di tangannya, sekelebat rasa takut terus berputar di pikirannya.

Perempuan itu masih menunggu dengan sabar, Naruto tidak langsung menyapanya. Perempuan yang sudah menjadi kekasihnya sejak dua tahun lalu, perempuan yang dengan sabarnya mengerti dirinya dengan segala kekurangannya.

Naruto masih senang menekuri kegiatan Hinata dari jauh, bagaiaman gadis itu membaca novel saat sedang menunggu Naruto. Gerak tanganya yang membalik setiap halaman, raut penuh minat pada deretan kata yang menyajikan kisah romansa.

Kaca mata gadis itu sedikit turun dari hidung kecilnya, tanpa mengalihkan fokus jemarinya menaikan Kaca Mata itu.

Rasa bersalah kembali menyerang, ini kah yang dilakukan Hinata ketika ia selalu terlambat?

"Apa aku mengganggu?" Naruto memberanikan diri duduk di depan Hinata.

Hinata menggeleng pelan, amethystnya melirik ke Jam yang melingkar di tangannya. "Dua jam lewat empat menit tiga puluh dua detik."

"Maafkan aku." Naruto menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Tadi ada customer spesial di Hotel. Ia ingin masakan Olehku."

"Who?" Tanya Hinata dengan mata yang sedikit mendelik, entah kenapa gadis itu selalu memiliki insting yang kuat.

Rasanya Naruto ingin berbohong saja tentang customernya malam ini, Hinata bisa saja salah paham tentang ini semua.

"Naruto?" Tanya kembali mengudara merongrong indera pendengaran Naruto.

"Sakura."

"Oh." Hinata menghembuskan napas pelan, "Perempuan yang begitu kau sukai dulu."

Naruto merundukkan kepalanya, bukan karena Sakura wanita yang ia sukai dulu menjadi spesial. Tapi Sakura adalah seseorang yang akan berinvestasi di Hotel nya, dan wanita itu dengan sengaja meminta Naruto yang membuatkan menu spesial untuknya.

"Bukan begitu, Hinata. Ia adalah investor yang akan menanamkan modalnya di hotelku." Naruto harap dengan begitu Hinata bisa mengerti bahwa tidak ada yang spesial di antara Naruto dan Sakura.

"Apa mawar itu untukku?" Pertanyaan Hinata membuat Naruto tersentak, kepalanya dengan reflek mengangguk.

"Sebagai permintaan maafku."

"Terimakasih." Hinata mengambil sebuket mawar dari tangan Naruto. "Dan ini adalah mawar terakhir sebagai permintaan maaf."

Naruto menggulum senyum mendengar ucapan Hinata. "Aku janji tidak akan mengulangi kesalahanku lagi, maaf selalu membuatmu menunggu."

"Kita berakhir." ucapan Hinata membuat tubuh Naruto membeku seketika, "Ini adalah mawar terakhir, ku kira Naruto-kun mengerti. Bahwa takan adalagi Mawar sebagai permintaan maaf, ini yang terakhir karena kita harus mengakhiri ini semua."

"Aku mungkin bukan perempuan yang akan begitu mengerti Naruto-kun, aku bukan perempuan yang memahami Naruto-kun dengan begitu sabarnya. Aku bukan perempuan yang dengan sabar menunggu Naruto-kun, karena aku bukan perempuan yang ada dalam daftar prioritasmu."

"Hinata Ku mohon." Naruto dengan susah payah menelan ludahnya.

"Rasa sakit karena selalu terabaikan, nyatanya mampu menjatuhkan segala harapan tentang hubungan Kita." Hinata mengusap pelan wajah Naruto yang terlihat gelisah. "Lebih baik kita akhiri di sini, sebelum rasa sakit memupuk perih yang akan dengan sulit termaafkan. Aku bukannya tidak menunggu, hanya saja aku tak mau menunggu selamanya dan berakhir dengan sakit hati."

"Apa yang harus kulakukan?" Nada suara Naruto begitu memohon.

"Lakukan apa yang Naruto-kun ingin lakukan, mungkin jika kita memang berjodoh. Tuhan akan memberikan kita jalan untuk kembali bersatu, untuk saat ini aku menyerah."

"Jika itu yang membuatmu bahagia, aku melepaskanmu."

Setetes air mata lolos begitu saja dari amethyst Hinata. Naruto mengecup pelan mata Hinata, membuat rasa sesak merajai hatinya.

.

.

.

.

Two Years Later

Hei girl what you to do on me?

Saat ini pertanyaan itu lah yang melintas di pikiran Naruto setiap mengingat Hinata, dua tahun berlalu sejak hubungannya dengan Hinata berakhir.

Yang begitu membuat Naruto terkejut adalah, setelah satu bulan sejak kejadian itu Hinata pergi ke Paris. Membuat pergerakan Naruto untuk merebut hati Hinata menjadi sulit.

Dua minggu lalu mendapat angin segar tentang masalah hatinya, jantungnya masih berdegup kencang ketika melihat Hinata saat itu di restorant. Meski Hinata datang dengan seorang pria, Naruto tidak peduli.

Yang ia pedulikan sekarang adalah, bahwa ia tak mampu sendiri tanpa Hinata. Ia takkan melepaskan Hinata untuk kedua kalinya.

"Hinata." gadis itu tersenyum melihat Naruto yang berdiri menghampirinya.

"Naruto. Hei, apa kabar?"

Hanya Naruto? tanpa ada suffix -Kun? Inginnya Naruto menjawab tidak baik-baik saja, tapi nyatanya ini bukan waktu yang tepat saat melihat Hinata datang kembali bersama pria yang sama dengan pria sebelumnya.

"Baik-baik saja, seperti yang kau lihat."

"Syukurlah" Hinata kembali menggulum senyum, "Aku tak menyangka kau head chef restoran ini, Oh aku hampir lupa. Kenalkan, Ini Toneri."

Setelah memperkenalkan diri pada Toneri, Naruto tak kembali berucap. Pria itu melangkah begitu saja meningalkan Hinata.

.

.

.

.

.

"Bagaimana?" tanya Tenten.

"Tidak ada hasil." Hinata menggeleng lemah, ia kemudian menelungkupkan kepalanya di atas meja.

"Karena dari itu kau harus move on. Dua tahun bukan waktu yang sebentar Hinata, dan kau masih belum bisa mengusirnya dari hatimu."

Ucapan Tenten hanya semakin membuat Hinata menciut, ia memang belum bisa melupakan Naruto sepenuhnya. Sejak melepaskan Naruto dua tahun lalu, Hinata berniat menata ulang hatinya. Tapi nihil, segala usaha yang ia lakukan sia-sia.

Pergi sejauh mungkinpun bayang Naruto tetap tersimpan di hatinya, lalu atas saran Tenten ia sengaja membawa Toneri makan malam bersama di Restoran tempat Naruto bekerja, Hinata tahu dimana tempat Naruto bekerja dari Neji sepupunya.

Berbekal rasa ingin tahu yang melambung tinggi, Hinata akhirnya nekat mengajak Toneri.

Awalnya ia ingin melihat sedikit rasa cemburu di wajah Naruto, tapi tak ada sedikitpun rasa itu. Pria itu dengan bodohnya hanya tersenyum tipis.

Kali ini Hinata yakin jika ia benar-benar terhempas dari hati Naruto, pasti pria itu sudah memiliki kekasih lain.

Bel menginterupsi kegiatan mengobrol mereka, Tenten melangkah membuka pintu appartement.

"Mawar Hijau, untukmu." Tenten mengambil kartu ucapan yang terselip di rangkaian bunga mawar itu.

"Lagi?" tanya Hinata tak percaya, sejak satu minggu lalu ia selalu mendapatkan kiriman Mawar Hijau tanpa diketahui pengirimnya.

Beberapa kartu ucapan yang terselip membuat Hinata bingung, "Sepertinya orang yang mengirim bunga ini adalah orang yang begitu merindukanmu"

"Mungkin." Hinata mengambil kartu ucapan dari tangan Tenten.

For you, who always make my heart race.

Dulu aku tak pernah tahu bagaiamana rasanya tenggelam dalam rasa sepi, tapi kau mengajarkannya padaku. Bagaimana rasa sepi begitu menyiksaku.

.

.

.

.

Awalnya Hinata hanya ingin menunggu Tenten di cafe dekat tempat mereka bekerja, tapi entah dosa apa yang ia lakukan hingga sekarang harus terjebak bersama dengan Naruto dan Sakura dalam satu meja.

"Kau tidak menggunakan kaca mata lagi sekarang?" pertanyaan Naruto membuat Hinata mengalihkan atensinya dari ponselnya.

"Ah, iya." Hinata melirik Sakura dari sudut matanya, gadis itu memang selalu cantik. Pantas saja Naruto senang berada di dekatnya.

Percakapan sekedar basa-basi melambung ke udara, ketiganya memulai percakapan ringan tanpa mengorek perasaan di masa lalu. Hinata dengan keyakinannya bahwa Naruto telah menjatuhkan pilihannya pada Sakura.

"Aku harus pergi, seseorang sudah menungguku." Sakura pamit begitu saja meninggalkan keduanya, ada yang janggal dengan ini semua.

Kenapa Naruto membiarkan Sakura pergi sendiri? bukankah seharusnya pria itu ikut pergi dengan Sakura dan beranjak pergi dari hadapannya sekarang.

Dan kemana Tenten? apa temannya itu tersesat? Yang benar saja, kenapa takdir begitu senang menjebak ia dan Naruto.

"Kau menghindariku?" Naruto menatap Hinata yang terlihat gelisah, gadis di depannya meremas perlahan jemarinya. "Kau pergi begitu saja."

"Aku tidak menghindarimu." ucap Hinata, walaupun kenyataannya memang begitu. Tapi mana mau ia jujur pada perasaannya saat tahu Naruto begitu baik-baik saja saat berpisah dengannya, tidak seperti Hinata yang harus bersusah payah memunguti kepingan hati yang patah karena rasa sakit. "Dan seingatku saat itu aku tidak mempunyai kewajiban untuk memberi tahumu kemana aku pergi."

Naruto beranjak dari duduknya, "Kita perlu bicara."

"Kita sudah bicara sejak tadi." Hinata menepis tangan Naruto yang berusaha menariknya, tapi tenaga Naruto memang lebih kuat dari Hinata. Akhirnya Hinata mengikuti keinginan Naruto, ia terlalu malu untuk jadi tontonan jika harus berdebat di depan umum.

"Katakan." Hinata menghempaskan tangan Naruto saat mereka berada di parkiran yang cukup sepi. "Aku tidak punya banyak waktu."

Naruto berusaha menarik kembali tangan Hinata. "Aku terlalu bodoh membiarkan mu pergi saat itu, aku pikir aku bisa memberimu waktu untuk kau berpikir bahwa kita akan selalu bersama."

Naruto menarik napas dalam, "Kau buatku tak mengerti, Aku tahu saat aku begitu sibuk dengan pekerjaanku. Dan saat itu timingnya begitu tidak tepat, kau begitu cemburu pada Sakura."

"Aku tidak cemburu padanya." Hinata mencebik, ia jelas tak mau mengakuinya. Jika ego lah yang telah menghancurkan hubungan keduanya."Kau terlalu sibuk dengan duniamu, hingga kau lupa jika kau memiliki kekasih."

"Tidak seperti itu," Naruto menggeleng cepat, ia tak membenarkan pernyataan Hinata yang mengatakan jika dirinya lupa pada Hinata. Itu tidak benar, bagaimana ia bisa lupa pada Hinata jika setiap detik, menit, yang ada di pikirannya adalah Hinata. "Aku menyiapkan sesuatu saat itu."

"Ikutlah denganku."

Naruto menyuruh Hinata masuk ke dalam Mobilnya, mereka membelah jalanan Kota Tokyo. Membiarkan kebisuan menyeruak di antara mereka sampai pada akhirnya keduanya di sebuah rumah.

"Turunlah." Naruto membuka pintu untuk Hinata, ia menarik tangan Hinata pelan. Wajah Hinata terlihat jelas bingung, sebuah rumah minimalis yang cukup luas.

"Aku bukan seorang pewaris tunggal dari seorang jutawan, aku juga bukan seorang CEO di antara tokoh Fiktif yang sering kau baca dalam novelmu." Naruto mengajak Hinata duduk di sebuah bench yang ada di Halaman rumah tersebut. "Aku juga bukan seseorang yang sudah terlahir kaya, Aku hanya seorang Uzumaki Naruto, Putera dari seorang Ibu yang begitu menyanginya. Butuh kerja keras untuk membeli sebuah rumah, saat itu aku sudah berniat melamarmu. Namun kau sudah terlalu lelah denganku."

Hinata masih terdiam, amethystnya menyisir setiap sudut halaman rumah. Hanya ada bunga Mawar Hijau yang ditanam.

"Saat melihatmu setelah dua tahun bertemu, rasanya aku tidak tahan untuk menarikmu ke dalam pelukanku." Naruto mengusap wajah Hinata dengan Ibu jarinya, rasa rindu kini melambung kuat mengisi setiap relung hatinya. "Tapi aku menahannya, aku takut kau menolakku."

"Aku merindukan senyumanmu, bibirmu." suara Naruto terdengar serak, ia memajukan wajahnya hanya untuk mengecup pelan bibir Hinata. "Hidungmu, matamu. Aku begitu merindukan dirimu yang selalu memarahiku jika terlalu keras bekerja."

Hati Hinata kembali berdesir, keduanta hanya menyiksa diri setelah memberi jarak di antara hubungannya. "Aku merindukanmu."

Air mata Hinata mengalir membasahi pipinya, "Jangan pernah lepaskan aku, jika Naruto-kun tidak pernah mau melepaskanku."

"Tidak lagi, aku tidak akan melepaskanmu lagi." Naruto memeluk Hinata begitu erat, menyalurkan rasa rindu yang begitu menyiksa, berpisah dengan Hinata hanya membuat dirinya rapuh. "Kau tak perlu ragu, sepenuhnya aku milikmu."

"Kau tahu kenapa aku memilih menanam mawar hijau di halaman rumah kita?" tanya Naruto, Hinata merona mendengar kata rumah kita yang terucapa dari mulutnya.

"Jangan-jangan Naruto-kun yang selama ini mengirimu bunga itu?" Tanya Hinata tak percaya, kenapa ia tidak pernah berpikir jika itu adalah Naruto.

"Iya." Naruto mengecup ujung Hidung Hinata. "Mawar Hijau memiliki arti kebahagiaan dan keharmonisan dalam sebuah harapan untuk memulai kehidupan baru."

Tangan besar Naruto menarik tangan Hinata membawanya tepat di atas dadanya. "Would you be my wife?"

"Setiap detik aku selalu memikirkan cara untuk membahagiakanmu, menikahlah denganku. Meski aku bukan seorang pangeran yang selalu kau khayalkan setiap membaca romansa. Tapi aku mungkin bisa menjadi seseorang yang akan membuat hidupmu dipenuhi kebahgiaan."

END

AN :

Typo bertaburannnnn~~

Penuh perjuangan buat FF ini, aku ini orang yang sulit bikin FF kalo ada Promptnya T_T

Gak tau ini masuk atau ngga yah, please walau alurnya "Rush" pake banget udah gitu wordnya dikit, hope you'll like it XD7

Hahhh meski gak bagus dan gak nyambung alurnya, semoga masih bisa dibaca * *

Salam Hangat

Selingkuhannya Seunghoon

Omake

Lonceng gereja berdenting dengan indahnya, riuh kebahagiaan menyabar hampir ke setiap penjuru gereja.

Di sana tengah berdiri Naruto dan Hinata yang bersiap mengucapkan janji suci. Mengikrarkan keseriusan mereka di hadapan Tuhan.

Lalu saat janji itu melantun, mengikat Hyuuga Hinata dengan Uzumaki Naruto. Kini Hinata resmi berganti nama.

"Uzumaki Naruto, apakau bersedia menemani Hyuuga Hinata hingga maut memisahkan?"

"Ya aku bersedia."

Naruto menarik Hinata dalam pelukannya, lalu mencium kuat bibir Hinata. Ia kemudian berbisik pelan penuh keyakinan. "Aku bersedia menjadi suami dari Uzumaki Hinata, meski waktu akan mengubah kita menjadi tua hingga lemah. Tapi percayalah cintaku tak akan lekang oleh waktu, karena selamanya Uzumaki Hinata akan bersama Uzumaki Naruto."