Disclaimer : Naruto belongs only to Masashi Kishimoto
Canon Universe Love Story Of Naruto and Hinata

Dedicated For
Naruto and Hinata Wedding Celebration

Promt : Spring (Musim semi)

Hari itu langit desa Konoha begitu biru. Dahan-dahan pepohonan bunga sakura mulai merekahkan kelopak demi kelopaknya. Angin musim semi terasa begitu sejuk di kulitnya yang seputih salju.

Pagi itu dari balik jendela rumah megah klan pemilik byakugan, sesosok gadis manis dengan mutiara lavendernya yang begitu meneduhkan memandang lekat sinar mentari cerah yang menyinari desa tempat kelahirannya.

Hyuuga Hinata, sang calon pewaris takhta pemimpin klan termasyur di desa Shinobi ini tak pernah membayangkan bahwa matahari yang selama ini ia pandangi dari jauh. Kini berada disisinya. Menjaga dan melindunginya bahkan dengan senang hati membagikan kehangatan pada dirinya yang selalu di pandang sebelah mata oleh klannya.

Uzumaki Naruto, sosok pahlawan yang begitu bersinar dan menyilaukan. Pria yang mampu membangkitkan kepercayaan dirinya. Pria yang selalu ia tatap dalam diam dari kejauhan. Pria yang ia cintai sejak masa kanak-kanak yang kini juga telah membalas cintanya.

Ahh..., jika terus membayangkan tentang pria pirang yang selalu mengisi hatinya itu, wajah Hinata akan memerah padam seperti ini. Walau tak seperti dulu, ketika ia akan pingsan jika berdekatan dengan putera Yondaime Hokage itu, tapi tetap saja, jika sesuatu mengenai Naruto di singgung dihadapannya wajah tembam seputih susunya akan mendadak merona merah seperti ini.

"Nee-sama..."

Suara sang adik bersamaan dengan terbukanya pintu geser. Membuat Hinata mengalihkan pandangannya dari langit Konoha yang hari itu mengingatkannya pada iris meneduhkan sang kekasih.

"Pahlawanmu ada di depan..." Hanabi, remaja yang beberapa bulan lalu menjadi korban penculikan di bulan, adik perempuannya yang secara tidak langsung menjadi jembatannya semakin dekat dengan pria pujaan hatinya. Gadis dengan mutiara lavender serupa miliknya itu tersenyum jahil seolah ingin menggodanya.

"Eh?" Tanpa sadar Hinata sedikit terkejut ketika sang adik menyebutkan kata 'pahlawannya' seingatnya, Naruto sedang menjalankan misi di Suna dan baru akan kembali tiga hari lagi.

"Jangan banyak berpikir Nee-sama aku kasihan sekali dengan wajah babak belurnya itu."

Ucapan sang adik yang tengah melenggang pergi itu membuat batin gadis ini semakin di liputi ke gundahan. Langkah kecilnya sedikit berlari menyusuri lorong rumahnya yang sangat megah itu.

Hingga tiba di teras, mutiara lavendernya langsung menatap sosok tegap berbalut jaket hitam dengan lambang klan Uzumaki di punggungnya. Sosok pria berkulit tan itu membalikkan tubuh tegapnya. Sinar matahari dimusim semi yang menerpa surainya emasnya membuat Uzumaki Naruto sang pahlawan semakin bersinar. Bahkan Hinata merasa rendah diri untuk berjalan menuju sang kekasih.

Tapi ketika mutiara lavendernya menangkap lebam membiru yang menghiasi pipi dengan guratan menyerupai kumis kucing itu, Hinata melupakan rasa rendah dirinya. Berjalan cepat, tak menyadari bahwa kaki mulusnya langsung menapak tanah tanpa alas apapun. Hinata berjalan mendekat kearah sang kekasih.

Mutiara dan safir itu bertemu. Sang pemilik safir memandang pemilik mutiara dihadapannya ini dengan pandangan penuh kebahagiaan. Rasa rindu selama dua minggu tak menatap wajah tercintanya ini seolah terobati ketika Hyuuga Hinata berdiri dihadapannya. Gadis yang dulu pernah ia anggap aneh.

Gadis yang dulu begitu jauh darinya. Tapi kini sehari saja tak melihat gadis ini, Naruto bahkan bisa benar-benar merasa tersiksa. Ia bahkan rela tidak mengunjungi kedai favoritnya begitu pulang ke desa. Dan menjadikan rumah megah klan Hyuuga sebagai tujuan pertamanya ketika menginjak Konoha.

"Naruto-kun kenapa?" Cicitan pelan Hinata seolah menjadi lantunan merdu di telinga jinchuuriki no kyubi ini. Ia sedikit tersentak ketika tangan lembut gadis itu terulur dan membelai lembut pipinya yang dihiasi lebam.

Ini adalah pertama kalinya Hinata menyentuhnya setelah kejadian di bulan, dimana ia memproklamirkan pada seluruh dunia dengan disaksikan rembulan bahwa ia adalah pemilik gadis cantik beriris lavender ini.

'Inikah rasanya di sentuh dengan penuh kasih sayang? Rasanya sama seperti ketika Hinata menyadarkanku dihari kematian Neji.., tapi ini jauh lebih lembut... Hinata, aku tak pernah menyangka bahwa dicintai olehmu sebegitu menyenangkan seperti ini. Dulu ku pikir kau adalah gadis pendiam yang membosankan..., tapi rasa nyaman ini, rasa hangat ini, hanya kau yang dapat memberikannya, Hinata...'

"Naruto-kun kenapa...?" Suara gemulai yang sempat membuatnya melamun sejenak itu kini menyadarkannya kembali. Tangan kanannya yang terbalut perbah putih itu menumpu tangan selembut salju yang menyentuh pipinya. Mengelusnya dengan perlahan.

Hingga Hinata tersadar bahwa ia tengah menyentuh sang pahlawan. Berusaha menarik tangannya dari rahang sang kekasih. Namun sia-sia, tangan kekar Naruto malah menahannya. "Sebentar saja Hinata, bolehkan...?"

Batin Hinata terenyuh mendengar permintaan sang kekasih. Naruto sudah mengalami banyak penolakan selama ini. Baik dari para warga desa yang dulu sangat membencinya. Lalu sahabat masa kecilnya si gadis musim semi yang selalu menolak cintanya.

Hinata mengangguk pelan, mengeluskan lembut tangannya di rahang regas Naruto. Membiarkan pria itu merasakan kehangatan dan kelembutan tangannya yang di penuhi cinta dan kasih sayang untuk pria itu. Uzumaki Naruto.

...

"Kenapa tidak meminta Sakura untuk mengobatinya saat di perjalanan..? Pasti Naruto-kun akan cepat sembuh..." Tangan lembut Hinata dengan telaten mengoleskan salep buatan klannya di pipi tan Naruto yang membiru akibat pertarungannya selama misi.

Ia tak habis pikir, berada dalam satu tim dengan ninja medis seperti Sakura. Bagaimana bisa Naruto pulang dengan masih menyisakan lebam di wajahnya.

Safir biru yang sejak tadi mengamati ekspresi lucu gadis yang tengah berada dihadapannya, kini kembali terfokus. Bibir merah kecokelatan Uzumaki Naruto melengkungkan senyuman. Tangan kakannya yang berlapis perban putih terangkat dan menepuk pelan puncak kepala gadis kesayangannya ini.

"Aku maunya di sembuhkan oleh Hinata, Sakura-chan itu...," Menengadahkan kepalanya, lalu menatap langit biru. Naruto sedang mencari jawaban dari pertanyaan kekasihnya, "entahlah ada kehangatan yang tak bisa aku temukan..., sementara Hinata..., aku merasa nyaman jika kau yang menyembuhkan..."

Hinata tertunduk malu. Kelopak-kelopak bunga sakura yang berterbangan menerpa helaian kelamnya. "Dulu...," Hinata mulai mengeluarkan suaranya. Dan sontak membuat Naruto menatap lekat wajah sendunya yang diterpa oleh kelopak bunga sakura yang berterbangan. Persis ketika Naruto menatap lekat Hinata di balkon bangunan tua ketika misi dibulan. "Aku selalu merasa iri saat melihat Sakura selalu punya kesempatan untuk mengobati, Naruto-kun..." Rasa malu akan ucapannya sendiri membuat Hinata meremas rok berwarna creamnya.

"Aku... selalu membayangkan bagaimana bila nanti, aku tak dapat berdiri disampingmu dan Naruto-kun menikah dengan Sakura..., mungkin akan terasa menyedihkan... tapi apapun itu.., asalkan Naruto-kun bahagia aku pasti akan turut bahagia... Setidaknya aku sudah berusaha agar Naruto-kun melihatku..."

Hinata tersentak dan mendongakkan kepalanya yang menunduk. Kedua tangan kekar Naruto kini menangkup kedua pipi gembulnya.

"Aku boleh jujur Hime..."

Deg.

Tiba-tiba jantung Hinata berdegup cepat. Kejujuran apa yang akan Naruto utarakan. Apa benar gosip-gosip yang beredar di kalangan para penggemar kekasihnya itu. Bahwa Naruto hanya kasihan padanya. Bahwa Naruto masih menaruh hati pada gadis musim semi sahabatnya itu. Dan ia berhenti berusaha mendekati Sakura untuk menghargai sahabat Uchihanya.

Hinata mengangguk pelan.

"Sakura-chan pernah menyatakan cinta padaku."

Air mata hampir lolos dari manik pemilik byakugan ini. Hinata sudah di pastikan menangis jika saja Naruto tak melanjutkan ucapannya. "Tapi aku langsung menolaknya..., kau ingat saat kau menyatakan perasaan mu saat penyerangan Pain?"

Hinata mengangguk kecil. Wajah bulatnya yang di tangkup sang kekasih mau tak mau membuatnya harus menampakkan lelehan air mata dari mutiara lavendernya. Mana mungkin ia lupa kejadian itu. Hari dimana ia hampir mati untuk melindungi orang yang paling berharga dalam hidupnya.

Dengan lembut Naruto mengecupi bergantian kelopak mata Hinata yang basah karena linangan air mata. "Aku tak menjawabnya karena aku tak mengerti perasaan ku terhadapmu. Tapi aku tak mau menolaknya, aku takut jika kau tak akan lagi mencintaiku. Dan saat Toneri akan mengambilmu dariku. Aku sadar, bahwa akulah yang sebenarnya tak bisa hidup tanpamu..."

"Hiksss... Hikssss..." Hinata sontak terisak kecil. Dan sukses membuat pahlawan dunia itu kelabakan.

Tempat ini adalah dimana sarang pemilik byakugan. Jika sampai ketahuan salah satu dari mereka tahu Hinata menangis karena kebodohannya. Hidupnya akan berakhir sebelum mempersunting Hinata dan menghadiahkan generasi baru yang lucu-lucu untuk Konoha.

Buru-buru ia bawa Hinata kedalam dekapannya. Sambil melantunkan kata-kata penghibur seolah tengah mendiamkan bayi yang tengah menangis. "Hime, sayang jangan menangis lagi, Ayah dan para anggota klan mu bisa menghentikan aliran chakraku, jika tahu tuan puteri kesayangan mereka menangis.."

Hinata mendongak, menatap lekat wajah tan Naruto dihadapannya. Lalu ia mengerjapkan matanya pelan.

Naruto tersenyum kecil menatap betapa manis gadis yang sudah memperhatikannya sejak kecil ini. "Hinata..., dulu aku pernah berkata bahwa kau akan menjadi istri yang baik kelak."

Hinata merona malu lalu menyembunyikan wajah memerahnya pada jaket hitam Naruto.

"Bolehkah aku menjadi suami dari istri yang sangat baik itu?" Hinata mendongak, dan bersamaan dengan itu angin musim semi berhembus pelan, membawa kelopak-kelopak bunga sakura menerpa tubuh mereka.

"Naruto-kun..." Cicit Hinata pelan, air mata bening mulai merembes dari mutiara lavender menuju pipi pualamnya.

"Hinata..., kau tahu, aku tak pernah mengenal kasih sayang keluarga, dan pria bodoh ini, dengan mudahnya memintamu membangun bersama keluarga bersamanya. Aku bahkan tak bisa membedakan antara rasa cinta dan kasih sayang seorang saudara. Maka dari itu..., Hinata, bersediakah kau mengajarkanku cinta kasih sebuah keluarga, menjadi keluarga ku, dan bersama hingga kulit kita mengeriput..., Hinata..., menikah denganku ya...?"

Senyum haru mengiringi lelehan air mata yang berlinangan di pipi gembulnya. Hinata tak mampu membendung lagi perasaannya saat ini. Dulu hanya punggung rapuh bergetar Uzumaki Naruto yang ia pandangi dari jauh. Menemani kesendirian bocah kecil yang selalu menjadi musuh bagi warga desa.

Tapi hari ini punggung rapuh itu telah tumbuh menjadi tegap dan melindungi tubuh mungilnya. Sosok yang hanya ia pandangi dari jauh hari ini begitu dekat dengannya. Membagi cinta dan kasih bahkan kegelisahannya. Uzumaki Naruto mataharinya hari ini memintanya hidup bersama, membina keluarga yang ia impikan. Mewujudkan mimpi masa kecilnya.

"Naruto-kun, terimakasih karena telah mengizinkanku berdiri disampingmu, begitu dekat denganmu, bahkan berniat menjadikanku keluargamu... kau tak perlu bertanya... Karena kau tahu jawabannya."

"Aku tahu jawabannya Hime, tapi...," Kedua tangan Naruto kembali menangkup pipi gembul gadis itu. "Kau tahu kan Sakura-chan selalu saja menolakku dan aku tak pernah mendapat jawaban pernyataan cintaku, hari itu di bulan begitu aku menyatakan cinta kau langsung pergi bersama Toneri. Jika aku tak berinisiatif menciummu di bulan..., hubungan kita pasti tak sejauh ini."

Hinata tak dapat menahan kekehan kecilnya ketika melihat bagaimana Naruto merajuk. Pahlawan dunia shinobi itu mengerucutkan bibir sambil menggembungkan pipinya.

Gadis cantik itu membenarkan posisi duduknya di teras yang tadi bersandar pada dada bidang Naruto. Lalu menatap lekat safir biru putera Yondaime Hokage itu dengan tangan yang mengelus rahang tegas sang pahlawan.

"Uzumaki Naruto-kun, dengarkan aku... hari ini aku Hyuuga Hinata dengan senang hati dan tanpa paksaan bersedia menjadi Uzumaki Hinata, mencintaimu sepenuh hati dan-"

"Hinata! Siapa yang mengizinkanmu berganti marga?" Suara tegas yang amat mereka kenali membuat, dua pasang manusia ini tersentak. Pelan-pelan mereka menoleh, dan benar saja Hiashi, sang pemimpin klan Hyuuga yang masih menjabat ini berdiri di belakang mereka dengan byakugan aktif.

...

Diam. hening. Hembusan angin musim semi bahkan dapat terdengar jelas di telinga dua orang yang duduk berhadapan dalam ruang tamu tradisional nan luas ini.

"Jadi?" Pria paruh baya bersurai cokelat panjang ini membuka pembicaraan.

Membuat pria bersurai kuning yang duduk sambil menundukkan kepalanya, kini mendongak. "Saya mau menikah dengan Hinata, Hiashi-sama."

"Punya apa kau? Apa kau mau mengajak puteriku tinggal di apartement sederhana itu?"

Dari balik pintu Hinata yang tengah menempelkan telinganya di pintu, meneteskan air matanya. Bagaimana Hiashi begitu tega menanyakan harta pada Naruto.

"Aku tahu Hiashi-sama byakuganmu pasti menangkap keberadaan Hinata di balik pintu ini. Aku juga bisa merasakan chakranya. Maka dari itu aku tak akan membuatnya sedih."

Hiashi mengangguk sekilas menyetujui ucapan jinchuuriki ini ia menatap lekat safir biru Naruto. Tak dapat di pungkiri dari mata sebiru samudera itu terpancar keyakinan yang kuat.

Keyakinan yang sama ketika berniat mengembalikan sahabat Ucihanya ke jalan yang benar. Dan seperti saat ini tatapan itu mengisyaratkan keyakinan yang kuat untuk membahagiakan puterinya. Hinata.

"Saya mungkin tak bisa memberi rumah semegah kediaman klan Hyuuga ini. Atau kehidupan bangsawan yang selama ini Hinata rasakan di dalam sini, tapi hari ini saya Uzumaki Naruto bersumpah tak akan pernah berhenti mencintai puteri anda Hiashi-sama. Saya tak akan berjanji bahwa suatu saat nanti saya tidak akan pernah menyakiti Hinata. Tapi satu hal yang saya jamin bahwa jiwa raga saya akan saya pergunakan untuk mencintai, melindungi dan membahagiakan putri anda."

Dari balik pintu geser yang membatasi mereka. Hyuuga Hinata kembali menitikkan air matanya. Tak pernah sedikitpun terbesit dalam benaknya, bahwa akan ada hari dimana dia mendapatkan cinta yang besar dari pemuda yang dulu hanya dipandanginya dari belakang.

Hari dimana pria yang telah ia cintai sejak kecil, berjanji dihadapan sang ayah untuk membahagiakannya. Hari itu dimana bunga-bunga tengah merekah setelah melewati musim dingin yang begitu menusuk. Hyuuga Hinata dapat mendengar dengan jelas Uzumaki Naruto dengan lantang berjanji pada sang ayah untuk selalu mencintainya.

...

Kuil Shinto dalam kompleks kediaman klan Hyuuga, pagi itu begitu ramai. Hampir seluruh klan Hyuuga yang tersebar di semua desa dan para petinggi lima desa shinobi terbesar berkumpul di dalam kuil besar itu. Tak ketinggalan para guru dan sahabat Naruto yang dapat melihat jelas bagaimana wajah tampan Naruto hari itu terlihat begitu gelisah.

"Sai, apa Naruto mabuk saat di kedai Ichiraku semalam?" Sakura, gadis dengan surai sewarna permen kapas itu bertanya pada pria pucat yang berdiri disampingnya.

Wajar ia sedikit curiga dengan tampang memprihatinkan Naruto. Semalaman para pria seangakatannya merayakan pesta bujangan bersama Naruto.

Pria mantan anggota anbu itu mengalihkan perhatiannya yang sejak tadi fokus pada gadis berambut pirang nan panjang yang tak lain adalah kekasihnya. Seperti biasa, Sai akan tersenyum dengan caranya sebelum menjawab pertanyaan Sakura. "Jangankan minum shake, Naruto selalu bolak-balik ke kamar mandi semalam, saking gugupnya menghadapi upacara ini."

Sakura menepuk jidad lebarnya dan menggeleng pelan. Ia tak habis pikir Naruto masih saja memiliki sisi kekanakan menjelang hari pernikahannya.

"Dia beruntung akan punya istri sesabar Hinata..." Timpal Ino sambil menggelengkan kepalanya.

...

Wajah tannya sudah meneteskan peluh, safir birunya bergerak gusar kesana kemari, seolah tengah menanti sesuatu. Naruto tampak begitu gelisah ketika sang pengantin wanita tak kunjung memasuki kuil. Ia menoleh kebelakang dimana dimana seorang pendeta yang akan mensahkannya dengan Hinata tengah berdiri.

Sang pendeta tersenyum tipis melihat Naruto menatapnya dengan tatapan memelas. Sang pahlawan seolah takut jika terjadi hal buruk pada pernikahannya, terlebih lagi pada pengantin yang tengah ia tunggu.

Naruto mengalihkan pandangannya kearah Kakashi. Sang guru yang menjabat sebagai pemimpin tertinggi di desa Konoha.

Kakashi mengangguk pelan. Ia paham bahwa sang murid tengah mempertanyakan pengaman pada pengantinnya.

Sedikit berlebihan memang. Memanfaatkan jasanya sebagai pahlawan, Naruto meminta pada Kakashi mengerahkan anbu elit untuk melindungi sang kekasih selama ia dilarang oleh Hiashi bertemu dengan Hinata sampai hari pernikahan.

...

Jantung Naruto semakin berdegup kencang, kala suara taiko, gendang tradisional itu di tabuh. Pertanda sang pujaan hati akan segera tiba di tempat mereka akan mengikat janji.

Pintu kuil yang sempat di tutup itu kini terbuka lebar. Perlahan, secara samar-samar, kemudian menjadi jelas, safir biru Naruto dapat menangkap jelas sosok mungil yang mengenakan shiromuku putih. Hinatanya begitu cantik dengan balutan kimono putih khusus mempelai wanita itu.

Walau kepala indigonya yang dihiasi bunga lili ungu itu tertunduk. Naruto berani bertaruh, bahwa ada wajah cantik nan lembut yang amat ia rindukan, yang sedang di tutupi kekasihnya itu karena rasa malu.

Dengan perlahan, sambil di dampingi oleh Hiashi, Hinata melangkah menuju altar dimana pahlawannya telah menunggu dengan gagah. Tak ada yang menyangkal, dihari itu Naruto begitu tampan dengan tubuh tegapnya yang dilapisi haori hitam dan hakama abu-abu.

Hinata bahkan dapat mendengar bisikan kecil pada gadis remaja dari klannya yang mempergunjingkan calon suaminya. Mendengar itu kaki Hinata bergetar ketika melangkah. Rasa malu dan gelisah kini meliputi seluruh perasaan gadis Hyuuga tersebut. Untung Hiashi cukup kuat menggandengnya hingga ke altar.

Tangan yang dilapisi perban putih itu terulur dengan gemetar, saat orang yang berpengaruh dalam klan Hyuuga, membimbing tangan putih mulus milik sang kekasih kearahnya.

Naruto menggapai perlahan tangan Hinata yang di serahkan oleh Hiashi. Dari safir birunya yang terlirik sekilas Naruto dapat melihat wajah sendu Hiashi ketika menyerahkan tangan Hinata padanya.

Hinata mendongakkan pandangannya sekilas. Mencuri pandang pada calon suaminya. Namun ketika Naruto menampakkan senyumannya yang begitu hangat, lalu menggamit tangannya dan membawanya ke altar, serta merta Hinata kembali menundukka pandangannya.

Tangan kiri Naruto yang tak menggandeng tangan sang kekasih, menumpu lembut tangan Hinata yang ia genggam dengan tangan kanannya. Mereka berlutut di depan altar. Mendengarkan doa yang dilantunkan oleh pendeta.

Janji suci keduanya terucap, sekarang sulung Hyuuga itu telah resmi menjadi Uzumaki. Hinata telah menjadi milik Naruto dengan disaksikan oleh kelopak bunga sakura yang bermekaran di luar kuil.

Setelah menutup rangkaian upacara pernikahan dengan upacara san san kudo. Sepasang manusia ini berjalan menuruni tangga kuil beriringan. Kelopak demi kelopak bunga sakura yang berterbangan menerpa tubuh mereka seolah menjadi ucapan selamat dari alam semesta atas penantian keduanya selama ini.

Hinata yang selalu menanti cintanya dalam diam dan dari kejauhan. Dan Naruto yang selalu menanti cintanya dalam kesendirian dan ketidak tahuan.

Seperti penantian para mahluk akan musim dimana kehidupan baru dimulai. Musim yang menggatikan bekunya salju yang menusuk dengan rekahan bunga dan cahaya mentari yang menghangatkan.

Hari itu dimana semua tumbuhan berbunga, berbuah, dan bersemi. Hari yang memaknai sebuah kehidupan baru. Musim yang di pilih oleh seorang Uzumaki Naruto.

Seorang lelaki yang sebelumnya sama sekali tak dapat memaknai tentang arti sebuah cinta. Hingga keberadaan seseorang yang selalu mengikutinya, membuat ia tersadar, bahwa nafas dan kehidupannya begitu berharga bagi seseorang. Uzumaki Hinata.

...

"Kenapa harus bulan ini juga?"

Naruto dapat menangkap jelas raut amarah ketua klan Hyuuga itu ketika Naruto mengutarakan niatnya untuk menikahi Hinata di bulan ini juga. Sepertinya pria paruh baya bersurai panjang itu masih belum rela melepaskan puteri sulungnya berganti marga.

"Karena bulan ini adalah puncak musim semi. Karena Hinata adalah awal dari kehidupan saya yang baru. Hinata adalah harapan bagi saya."

"Musim semi bulan depan?!"

"Saya tak sanggup jika harus melalui teriknya musim panas, menusuknya musim gugur dan bekunya musim dingin tanpa Hinata."

"Sebelumnya kau melalui semua itu tanpa Hinata."

"Tidak untuk kali ini, aku tidak akan membiarkannya menanti musim lebih lama lagi tanpa diriku."

おわり
owari


Apa kalian kenal dengan gaya penulisan ini?

Kalian tahu siapa yang menulis chap ini?

Baiklah, saya bukan tipe orang yang suka memberi banya a/n disini...

Hanya ingin menyajikan sesuatu untuk couple yang benar-benar menginspirasi saya ^_^

Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan atau kurang pas bagi teman-teman sekalian, karena tulisan ini hanya di niatkan untuk menghibur...


*Terimakasih Sudah Mau Membaca*