2060 When The World is Yours

Yuli Pritania

LuMin ver

Chapter 8

Happy Reading~

" Menarikku ke Kantor registrasi pernikahan, menyodoriku surat pendaftaran pernikahan untuk ditandatangani, dan memaksaku menjadi istrinya. Bahkan dia menelpon ibuku untuk meminta restu! Pria itu benar-benar sudah tidak waras! Cih, siapa yg mau jadi istrinya? Dibayar berapapun juga aku tidak mau! " dumel Minseok tanpa henti, menyebabkan Kyungsoo

harus menutup telinganya yg terancam tuli mendengar suara gadis itu.

" Tapi sekarang kau sudah sah menjadi istrinya di mata Negara, jadi tutup mulutmu dan terimalah semuanya dengan senang hati. Gadis manapun akan melakukan apa saja untuk mendapatkan posisimu sekarang. Seperti ada ruginya saja menjadi istri pria itu. Coba beritahu aku dimana letak kerugiannya kecuali kenyataan bahwa kau akan terjerat pesonanya? Hmm? Kim Min Seok? Ah, ani,

sekarang Kau kan sudah menjadi Nyonya Lu. Lu Min Seok. Nama itu terdengar lebih baik."

" Diam kau! Astaga, bagaimana mungkin ibuku menyetujui ini semua? membiarkan putrinya terjebak dalam pernikahan konspirasi seperti ini? Orang tua macam apa dia? "

"Kapan ya Luhan akan menyelenggarakan pesta pernikahan kalian? Pasti itu akan

menjadi pesta pernikahan paling mewah di seluruh dunia. Benar tidak? Kau akan memakai gaun pengantin yang cantik dan suamimu akan terlihat tampan dalam balutan jas hitamnya. Kalian berdua akan menjadi pasangan paling spektakuler di dunia. Haah, coba bayangkan berapa banyak kekayaan yg Kau miliki saat ini Minseok-ah. Kau bisa membeli apapun yang kau inginkan." seru Kyungsoo dengan wajah berbinar-binar tanpa mengacuhkan omelan Minseok sama sekali.

" Kau! Aaaargh!!! kalau aku sedang bernafsu membunuh, kaulah orang pertama yang akan aku cari! Ya Tuhan, kata pernikahan bahkan tidak ada dalam kamus hidupku! Dan dia berhasil membuatku mengalaminya! Aku akan menembak kepalanya kalau sampai dia mencari gara-gara denganku!"

" Lihat, suamimu datang! Beruntung sekali kau bisa menikah dengan pria semenawan itu. Membuatku iri saja." komentar Kyungsoo sambil mengedikkan dagunya ke arah Luhan dan asistennya yang baru saja melangkah keluar dari Kantor registrasi pernikahan itu.

Minseok memang memilih menunggu di mobil karena tangannya sangat gatal untuk memukul sesuatu jika lebih lama lagi melihat wajah menyebalkan pria itu.

" Ini buku nikahmu. Awas kalau kau sampai menghilangkannya! "Minseok mendelik mendengar ucapan pria itu. Dia merebut buku kecil itu dengan kasar dan memasukkannya sembarangan ke dalam tas.

"Bisakah kau berbicara denganku baik-baik tanpa mengancamku seperti yang selalu kau lakukan? "

" Tidak ada gunanya bagiku. Setidaknya dampak ancamanku lebih meyakinkan." jawab Luhan acuh sambil membuka pintu mobil, meninggalkan gadis itu berdiri kesal di luar.

" Kau mau pulang atau tidak? Istriku? "

Minseok membulatkan matanya mendengar ucapan pria itu, tapi hanya sedetik, karena didetik itu juga Luhan langsung tertawa keras seraya menghidupkan mesin mobilnya.

Dan disaat yang bersamaan, Minseok bisa melihat jelas Kyungsoo yang melongo dengan mulut ternganga lebar di kursi belakang.Yeah, melihat Luhan tertawa seperti itu, mungkin perlu masuk Guinnes Book of Record.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Luhan melirik gadis yang duduk di sampingnya diam-diam.Hari ini gadis itu tampak cantik dengan blus Putih pas padanya dan celana warna kaki yang

membalut kaki jenjangnya.Penampilan sempurna untuk sebuah pernikahan yg mengejutkan.

Bukan maksudnya menikahi gadis itu dengan cara seperti ini. Rencana yang sudah disusunnya bertahun-tahun yang lalu adalah melamar gadis itu secara baik-baik ke keluarganya dan menyelenggarakan pesta pernikahan sesuai apa yang diinginkannya, bukannya menarik gadis itu ke Kantor registrasi pernikahan dan mendaftarkan pernikahan mereka begitu saja.

Tapi sebenarnya ini tidak terlalu buruk mengingat dia memang bermaksud mengikat gadis itu bersamanya secepat mungkin, karena Luhan tahu akan membutuhkan waktu lama jika ia

harus melakukan tahap-tahap hubungan normal seperti biasa.Membuat gadis itu jatuh cinta dulu padanya, yang mungkin akan membutuhkan waktu bertahun-tahun, baru setelah itu menikahinya.

Memikirkan hal itu saja sudah membuat perut pria itu bergolak hebat. Bukankah caranya sekarang jauh lebih cepat dan praktis. Setidaknya gadis Itu sudah sah menjadi miliknya. Dan dia tidak akan bersaing dengan siapapun untuk mendapatkan gadis itu, belum lagi

kemungkinan besar bahwa gadis itu akan kabur lagi ke Amerika.

Akan menjadi hal yang sulit untuk menariknya pulang ke Korea. Jadi menikahinya secara paksa seperti ini adalah jalan keluar yang terbaik. Menurutnya.

" Hari ini juga kau pindah ke rumah" ujar Luhan dengan mata tetap tertuju ke jalan. Dia bisa perasaan gerakan cepat kepala gadis itu dan matanya langsung mengarah pada Luhan, menatap pria itu tajam.

" HAH!!! sudah cukup aku menandatangani surat laknat itu dan sekarang kau memintaku tinggal bersamamu? SHIREO!!! "

" Menurutmu apa kata orang jika aku membiarkan Istriku tinggal terpisah dariku? Aku akan dianggap sebagai suami tidak bertanggung jawab dan jika orang-orang di kantor registrasi pernikahan tadi diwawancara, aku yakin mereka pasti dengan senang hati bercerita bahwa aku sudah menarikmu dengan paksa, berdebat tentang tanda tangan, dan entah ancaman apa yang aku lakukan, kau setuju menandatangani kertas itu."

" Memang itu yang terjadi! Dan dengar, kalau kau mau seseorang yang mau menuruti apa saja perkataanmu, kau salah orang! Aku tidak akan tunduk padamu begitu saja! kau mengerti? jadi lebih baik kau ceraikan aku dan cari gadis lain!."

Luhan menepikan mobilnya dengan bunyi berdecit yg memekakkan telinga, jelas dengan sengaja dia melakukannya, walaupun mereka sudah sampai didepan apartemen Minseok dan Kyungsoo. Minseok tidak habis pikir dari mana pria Itu mengetahui tempat tinggalnya. Tapi tidak heran juga, sepertinya tidak ada rahasia yg tidak diketahui pria itu di bumi ini.

" Bereskan barang-barangmu sekarang, nanti aku akan mengirim mobil barang kesini dan mengangkut semuanya ke rumahku. Pastikan kau siap berangkat jam tujuh, nanti aku akan menjemputmu. Kyungsoo-sshi " panggil Luhan sambil menoleh ke bangku belakang.

" Ne?" seru Kyungsoo, sedikit terkejut karena pria itu mengajaknya bicara.

" Kau tidak keberatan kan tinggal sendirian di apartemen ini? "

" Ah, ye, gwaenchana. Sama sekali tidak ada masalah. Bahkan aku senang bisa lepas dari Istrimu itu."Minseok mendelik ke arah Kyungsoo, penasaran dengan label sahabat yang disandang gadis itu

selama ini.Apa sahabat memperlakukanmu seperti itu? Mengirimmu kepada orang jahat?

" Bantu dia membereskan barang-barangnya, kalau kau tidak keberatan."

" Dengan senang hati." jawab Kyungsoo dengan senyum lebar sambil membuka pintu mobil.

" Sampai jumpa, Luhan-sshi."Luhan mengangguk singkat dan dengan cepat menahan tangan Minseok yang baru beranjak untuk turun dari mobil. Gadis itu berbalik kearahnya dengan wajah malas dan kesal.

" Cerai, mencari gadis lain, atau apapun yang ada di otakmu itu, tidak akan pernah aku lakukan. Silahkan berharap aku mengajukan kata cerai, tapi itu tidak akan terjadi.Kau pikir kenapa aku memilihmu menjadi Istriku? kau tidak mendengarkan apa yg teman-temanmu katakan? Bukankah mereka bisa menebak dengan tepat apa yang terjadi saat aku

menatapmu? Bukankah nunaku sudah menyiratkan dengan jelas apa isi otakku? Atau kau terlalu bodoh sampai aku harus menyatakan semuanya sendiri? Kalau begitu, kapan-kapan saja.Aku juga tidak terlalu baik hati sampai mau mempermalukan diriku di depan gadis yang saat ini sedang menaruh namaku di daftar paling atas orang yang dibencinya. "

Luhan melepaskan cekalannya, tapi Minseok sama sekali tidak bergerak dari tempat duduknya.Kata-kata pria itu membanjiri otaknya seperti air bah dan dia, seperti kata pria itu, dengan

bodohnya tidak bisa menguraikan kalimat Itu satu persatu sampai bisa dimengertinya. Sampai ada satu kesimpulan yg bisa diterima dengan akal sehatnya. Karena dari apa yang dicerna otaknya saat ini, hanya ada satu pengertian dari kata-kata tadi dan dia merasa tidak bisa menerima hal tersebut dengan logikanya.

Pria itu... menyukainya? Bukankah... itu adalah hal paling mustahil yg pernah didengarnya?Minseok menggelengkan kepalanya dan membuka pintu mobil. Berada di dekat pria itu membuatnya gila. Lama-lama seperti ini, bisa-bisa peringatan yang diberikan pria itu

sebelumnya akan terjadi, dan dia sama sekali tidak menginginkannya. Peringatan bahwa pria itu tidak akan melepaskannya seumur hidup jika Minseok jatuh cinta padanya.

" Dan Minseok-ah" ucap Luhan menggantung, membuat gadis itu menoleh lagi padanya.

Dia sedikit terpana saat melihat mata pria itu menatapnya serius, dan kata-kata berikutnya yang keluar dari mulut pria itu, berhasil membuat kakinya bergetar , tidak bisa menopang tubuhnya dengan benar seperti biasanya.

" Senang akhirnya bisa menjadikanmu istriku."

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

" Kenapa aku harus memakai kain sialan ini?." seru Minseok tak terima saat melihat penampilannya di depan cermin.

Kain sialan yg dimaksudnya adalah gaun selutut berwarna salem yg dipakaikan paksa oleh Kyungsoo ketubuhnya.

Gadis itu bahkan berhasil menjejali wajah Minseok dengan sapuan make up walaupun teman seapartemennya itu tidak henti-hentinya berteriak dari tadi.

" Tentu saja untuk membuat suamimu terpesona dan mertua juga kakak iparmu juga merasa bangga memiliki menantu dan adik ipar sepertimu." sahut Kyungsoo santai sambil menyelsaikan pekerjaannya membuat jalinan longgar dari rambut panjang Minseok .

" Aku akan membunuhmu! Benar-benar membunuhmu! "

"Wah, aku takut sekali! " jerit Kyungsoo seraya memasang wajah ketakutan, Kemudian tertawa terbahak-bahak melihat wajah kesal Minseok.

" Aku akan menghabisimu nanti! Apa kau tidak melihat wajahku seperti badut yg terkena cairan kimia warna-warni itu? "

" Itu kan pendapatmu. Lihat saja pendapat Luhan nanti. Aku yakin dia akan terpaku setidaknya sedetik saat melihat penampilanmu."

" Memangnya apa peduliku dengan pria sialan itu? "

" Ya ya sesukamulah Nyonya Lu. Ini pakai sepatumu." suruh Kyungsoo. Dia menyodorkan high heels. Berwarna senada kepada Minseok yang langsung menatapnya dengan raut wajah ngeri.

" Tidak mau! Cukup dengan gaun dan dandanan menjijikan ini! Kau mau aku tersandung sepanjang jalan dengan memakai sepatu itu, hah? "

Kyungsoo merengut tapi membenarkan perkataan gadis itu dalam hati. Minseok pernah memakai high heels untuk pertama kalinya saat ada pesta ulang tahun KIA di Amerika dan semua orang diwajibkan memakai setelan resmi.

Gadis itu menyerah dan setuju mencoba high heels untuk kali pertama dan hasilnya Kyungsoo harus memegangi Minseok sepanjang pesta dan memastikan agar gadis itu tidak terjatuh, sampai akhirnya dengan sengaja Minseok memukulkan sepatu itu ke dinding dan mematahkan haknya.

" Baiklah, sepertinya aku punya sepatu tanpa hak yg mungkin cocok untukmu. Dan tidak, tidak ada sepatu kets malam ini." kata Kyungsoo memperingatkan saat melihat ekspresi gadis itu.

Minseok menjulurkan lidahnya kesal saat Kyungsoo menghilang ke kamarnya. Dia memperhatikan bayangannya lagi di cermin. Sebenarnya hasil Karya Kyungsoo sama sekali tidak buruk, bahkan jauh dari kata menjijikan.

Yang Minseok tidak suka adalah , apa gunanya dia berdandan seperti ini untuk pria itu? Bagaimana kalau pria itu malah menertawakannya. Dan merasa bahwa Minseok dengan sengaja menggodanya? Astaga, memikirkannya saja sudah membuat Minseok ingin memuntahkan cemilan yang tadi dimakannya.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Luhan menghentikan mobilnya tepat di depan gedung apartemen gadis itu.Dia

menyerahkan kunci mobilnya pada salah satu pegawai yg menanti di depan pintu dan berjalan masuk.Berkali-kali dia berhenti karena baik pegawai ataupun manajer di apartemen mewah Itu

menyapanya dengan ramah.Tidak heran, karena gedung Itu adalah miliknya.

Luhan berhenti di depan pintu kamar Minseok dan memencet belnya pelan. Dia menunggu selama beberapa saat sampai akhirnya pintu Itu terbuka dan Kyungsoo muncul dari dalam.

" Ah, kau sudah datang, Luhan-sshi! Tunggu sebentar, aku akan memanggilkan istrimu" seru Kyungsoo riang

" Kau mau masuk?"

" Tidak,disini saja. panggil saja gadis itu keluar." tolak Luhan. Kyungsoo mengangguk dan bergegas masuk ke kamarnya Minseok.

" Suamimu sudah datang! " ujar Kyungsoo sambil mengedipkan matanya.

" Hei, kau goda dia dan buat anak yg banyak dengannya. Anak kalian pasti akan menawan sekali."Mata Minseok melebar saat mendengar ucapan sahabatnya Itu. Dengan emosi dia

mendorong kepala Kyungsoo dan mengacak-acak rambut gadis itu tanpa ampun.

" YAK!!! " teriak Kyungsoo kesal, tapi Minseok sudah melarikan diri terlebih dahulu sebelum gadis itu sempat membalasnya.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

" Ayo berangkat " ujar Minseok setelah sampai di samping Luhan yang berdiri bersandar di dinding dengan wajah menunduk.

Tiba-tiba Minseok memikirkan kapan pria Itu akan terlihat manusiawi di matanya?

Walaupun dalam kondisi biasa seperti itupun, pria itu tetap terlihat menawan dan penampilannya tidak sesuai untuk berada di tempat biasa seperti ini.

Luhan mendongak dan untuk waktu yg cukup lama dia terpaku melihat gadis yang berdiri didepannya itu. Dia mengerjap beberapa kali untuk menemukan fokusnya yang mendadak

hilang dan memaki dalam hati.

Sial, kenapa gadis ini harus terlihat semempesona itu di matanya?

Luhan menahan lidahnya sendiri untuk berkomentar dan berjalan mendahului Minseok yang mengikutinya dari belakang.Gadis itu mengerucutkan bibirnya karena Luhan tidak berkata apa-apa sama sekali.

Bahkan menyapanyapun tidak. Orang macam apa suaminya ini?Mereka melangkah masuk ke dalam lift yang membawa mereka menuju lantai satu dalam keadaan hening tanpa suara.

Minseok menyandarkan tubuhnya ke dinding lift dan berusaha memikirkan pembunuhan yang sedang diusutnya untuk mengalihkan pikiran dari kegugupannya berada di satu tempat

sempit bersama pria itu.

Mendadak udara terasa sangat panas dan gadis itu merasa tidak nyaman.

Minseok terkesiap kaget saat tiba-tiba Luhan berbalik dan dengan cepat menyudutkannya sampai tidak ada celah antara tubuh pria itu dengan tubuhnya. Dia bisa merasakan bahwa keadaan ini membuat jantungnya berdetak gila-gilaan, bahkan untuk menarik nafas saja nyaris mustahil.

" Saat memutuskan untuk berdandan seperti ini, apa kau tidak memikirkan apa yang akan terjadi kalau aku tergoda?" tanya Luhan tanpa basa-basi.Mata Minseok membulat mendengar pertanyaan pria itu. Otaknya tidak bisa digunakan untuk berpikir dan hembusan nafas pria itu di wajahnya malah membuat semuanya menjadi semakin berantakan.

" Kau tidak memikirkannya, kan?" sergah Luhan dengan suara serak.

" Lain kali, jika kau memang tidak bermaksud menggoda, pikir-pikir dulu untuk tampil terlalu cantik didepanku

jika kau tidak mau aku menyerangmu."

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

" Minseok-ah!!!Astaga, aku kaget sekali saat Luhan memberitahuku bahwa dia sudah menikahimu!" seru Ji Min sambil memeluk Minseok singkat dan menariknya masuk ke ruang tamu.

Luhan mengikuti mereka dari belakang dengan pandangan yang tertuju pada

punggung gadis itu, sedikit merutuki dirinya karena sempat-sempatnya hampir kehilangan kendali di lift tadi.

" Aigoo, adik iparku sudah datang! Kau akan tinggal disini kan?" tanya Lu Na yang baru keluar dari dapur.

" Ye, eonni. "

" Tidak usah bersikap formal begitu padaku, sekarang kan kita satu keluarga!" sergah Lu Na.

" Ngomong-ngomong, apa kau sengaja berdandan secantik ini untuk Luhan?" bisiknya sambil menyikut bahu Minseok.

" Anieyo! tadi teman seapartemenku memaksa untuk mendandaniku."

" Begitu? Tapi sepertinya adikku tidak bisa melepaskan tatapannya darimu." ujar Luna sambil mengedikkan dagunya ke arah Luhan yang memang sedang menatap Minseok, membuat gadis itu teringat dengan insiden di lift tadi lagi. Mendadak wajah Minseok memerah dan dia langsung memalingkan mukanya ke arah lain.

" Aigoo, kalian berdua manis sekali! Hei, ayo kita makan malam. Kau belum makan kan?"

" Aku akan mengantarnya ke kamar dulu, biar dia bisa meletakan barang-barangnya disana. Nanti kami kembali lagi." potong Luhan.Dan tanpa menunggu jawaban dari nuna ataupun ibunya, dia meraih tangan Minseok dan menarik gadis itu keluar rumah.

Benar perkiraan Minseok waktu itu, rumah di samping bangunan besar Ini adalah rumah yang ditempati Luhan.

Dia jadi heran sendiri untuk apa satu rumah besar dengan berpuluh-puluh kamar hanya dihuni oleh satu orang saja?Baru melangkahkan kakinya masuk ke rumah itu, Minseok sudah melongo melihat interiornya.

Persis seperti interior yang akan ditemukan di hotel-hotel bintang lima terkenal di Perancis. Dan jika Minseok bertanya tempat seperti apa yang membuat Luhan terlihat sesuai

di dalamnya, rumah inilah jawabannya. Semua hal di ruangan ini terlihat sangat cocok dengan penampilan maskulin pria itu dan dia tidak keberatan untuk mengakuinya.Mereka naik ke lantai dua sampai akhirnya Luhan berhenti di depan sebuah kamar dan membuka pintunya.

" Ini kamarmu. Barang-barangmu yg diambil tadi siang sudah disusun disini. Kau bisa meletakkan barang bawaanmu itu dan kembali ke rumah ibu." ujar Luhan sambil mengedikkan dagunya ke arah tas besar yang dibawa Minseok sejak tadi.

" Itu pintu apa?" tanya Minseok, merujuk pada dua pintu yang terletak berseberangan di kamar itu.

" Yang itu pintu kamar mandi." kata Luhan, menunjuk pintu yang terletak di sebelah kiri.

" Yang itu pintu kamarku."

" Mwo?" jerit Minseok kaget.

" Apa?" tanya Luhan ketus.

" Kau mau protes? Apa kau lupa tugasmu untuk melindungiku? Dengan pengaturan kamar seperti ini tugasmu akan menjadi lebih mudah. Lagi pula aku sudah berbaik hati memberikan kamar yang terpisah untukmu. Kau Tidak mau sekamar denganku kan? Nanti kalau ibu curiga kau bisa langsung masuk ke kamarku dan berakting sebagai seorang Istri

normal. Dia tidak tahu bahwa kamarku di rumah ini terdiri dari dua ruangan."

" Aku menjadi pihak yang dirugikan disini! Kau bisa seenaknya masuk ke kamarku dan bagaimana kalau terjadi sesuatu?"

" Terjadi sesuatu apa? " tanya Luhan sambil menyeringai.

" Kalau terjadi sesuatu paling-paling kau hamil." ujar Luhan santai dan berjalan keluar kamar meninggalkan Minseok yang membeku di tempatnya.

" YAK!!! KAU!!! "

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

" Aku menemukan fakta bahwa 23 orang gadis itu atheis. Itu satu persamaan mendasar pada mereka. Aku melakukan perintahmu untuk menyelidiki beberapa sekte dan perkumpulan agama, juga beberapa perkumpulan lain termasuk persatuan atheis di seluruh dunia. Ada nama-nama mereka di daftar beberapa perkumpulan yg berbeda. Ini menjawab

laporan kenapa mereka menjadi incaran si pembunuh" lapor Suho. Minseok menyerap infomasi itu dan mengangguk paham.

" Bagaimana mungkin pembunuh sialan itu bisa menemukan 23 wanita berdarah campuran yang semuanya berhubungan dengan KIA? Dan kau menuduh mereka atheis? Entah pembunuh itu yg terlalu pintar atau kau yg membuat kesimpulan sembarangan" ujar Kyungsoo sambil melirik Suho sinis.

Minseok mendesah kesal dan melempar pena yg sedang dipegangnya ke atas meja, menimbulkan bunyi keras yang membuat kedua orang itu terlonjak kaget dan memandang Minseok bingung.

" Hentikan aura permusuhan kalian berdua atau aku akan melempar kalian keluar ruangan sekarang juga! Kita disini untuk menuntaskan kasus pembunuhan yang sulit dan kepalaku

sudah cukup sakit tanpa perlu ditambahi permasalahan pribadi kalian berdua! Tolong profesional sedikit dan berhenti menatap satu sama lain dengan pandangan membunuh! kalian mengerti?"

" Ye" gumam mereka berdua serempak

" Kris oppa, laporanmu? "

" Sepertinya kita sudah dekat pada pembunuhnya." ujar Kris semangat.

" Aku mengumpulkan data burona KIA 3 tahun terakhir, satu tahun sebelum pembunuhan pertama terjadi, juga data buronan yg diburu orang tua para gadis itu.Aku sampai pada kesimpulan bahwa semua orang tua para gadis itu memiliki satu buronan yang sama dalam data mereka.Aku menganulir nama-nama buronan mereka sampai mendapatkan satu nama itu.Kau juga mengenalnya Minseok-ah, buronan pertama yang kau bunuh dalam tugas pertamamu. Shim Dae Ho. "

Minseok mengerjap dan merasakan keringat dingin mengalir di telapak tangannya.Tentu saja dia ingat nama itu.Saat itu adalah tugas pertamanya di KIA, memburu seorang pengedar narkoba yang terkenal licin dalam menjalankan aksinya.Mereka berhasil mengetahui tempat transaksi pria itu dan datang kesana dengan persenjataan lengkap, mengingat banyaknya anak buah yang melindungi Dae Ho.

Akhirnya Minseok berhasil menangkap pria itu tanpa menggunakan senjata yg dibawanya, tapi pria itu memberontak dan melepaskan tembakan yang nyaris mengenai lengan bagian atas Minseok sehingga gadis itu terpaksa menembak dengan maksud melumpuhkan De Ho, tapi

pria itu mengelak dan peluru itu tembus tepat mengenai jantungnya sehingga dia tewas di tempat.

" Lalu mengapa dia membunuh banyak gadis jika tujuannya ialah aku? " tanya Minseok bingung.

" Memangnya siapa bilang kau termasuk buruan yang diincarnya? Kau tidak termasuk dalam ciri-ciri manapun yang sama dengan 23 gadis itu. Pria itu memiliki pola khusus dan sepertinya dia tidak akan membunuh sembarangan. Orang tua gadis-gadis itu diketahui hampir berhasil menangkap Dae Ho tapi pria itu selalu bisa lolos. Aku rasa Dae

Ho hanya salah satu alasan, tujuan utamanya adalah mengenyahkan orang-orang yang kafir menurut agamanya. "

Minseok mengangguk walaupun otaknya malah berpikir sebaliknya.Yang terbaik selalu disisakan paling akhir. Minseok adalah tujuan utama karena dialah yg membunuh Dae ho. Gadis-gadis itu hanya

menu pembukanya saja.

Baiklah sialan, kau buru aku dan aku akan menangkapmu dan memastikan kau membusuk di penjara, batin gadis itu.

Pintu ruang rapat mereka menjeblak terbuka dan Luhan masuk dengan tangan yang terbenam di saku celananya,menunjukkan wajah dinginnya yang menyebalkan.Minseok menggeram kesal karena rapatnya diinterupsi sehingga dia bangkit dari tempat duduknya dan menuding pria itu dengan telunjuknya.

" Hari ini aku tidak mau berurusan denganmu. Keluar! " Luhan mengangkat bahunya santai dengan bibir mencibir.

" Rapatmu sudah selesai.Laporan mereka hanya sebatas itu. "

" Dari mana kau tahu? "

" Mereka semua diwajibkan melaporkan semuanya padaku dulu sebelum melapor padamu.Kau pikir dari mana mereka mendapatkan data data rahasia itu kalau bukan dariku? "Minseok mendelik ke arah Kris dan Suho yang balas menatapnya dengan wajah tanpa dosa, membuat tangannya gatal untuk mencekik mereka berdua.

" Tidak baik jika pengantin baru bertengkar. Hai adik ipar, senang bertemu denganmu! " gurau Kris sambil melambaikan tangannya ke arah Luhan yang mengangguk sopan.

Minseok menggembungkan pipinya melihat tingkah orang-orang itu. Nyaris seluruh penjuru korea ataupun dunia tahu bahwa mereka telah menikah kemarin siang.Semua acara berita di Tv menayangkannya secara besar-besaran, termasuk semua majalah dan koran yang terbit hari ini.

Semua bertanya siapa Minseok sampai bisa membuat Luhan menikahinya dan dia harus menahan emosinya karena saat masuk kantor tadi, semua pegawai melemparkan tatapan ingin tahu dan tidak sedikit yang memberi selamat padanya.

" Mau apa kau? " tanya Minseok, menelan makian yang ingin dilontarkannya kepada pria itu.

"Mengajakmu mencari cincin dan gaun pengantin.Ibu menyuruhku menikahimu."

Rasanya Minseok ingin ditelan bumi sekarang. Saat makan malam di hari pertamanya tinggal di rumah itu semalam, ibu dan nuna Luhan mendesaknya untuk menyelenggarakan pesta pernikahan yang menyiratkan sebuah kemewahan dan jumlah tamu yg membludak.

Minseok tidak bisa memungkiri bahwa dia menyukai kedua wanita itu dan tidak bisa menolak permintaan mereka sama dengan kenyataan bahwa di tidak pernah bisa menolak apapun yang diinginkan ibunya.

Ditambah lagi Ibu Luhan menelpon ibunya di Amerika dan menyuruh satu-satunya

keluarganya itu yang tersisa itu untuk membujuknya menyetujui keinginan mereka. Gadis itu menjadi tidak berdaya di tengah para wanita yang sangat bersemangat itu.

" Woa, kalian benar-benar akan menyelenggarakan pesta,ya? " seru Kyungsoo bertepuk tangan.

" Kau mau ikut atau tidak? Kau pikir berapa banyak rapat yang harus kukorbankan untuk meluangkan waktuku kesini? " sergah Luhan.

" Salahmu sendiri kenapa menikahiku! "

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Minseok memandang cincin-cincin yang terpajang di etalase toko perhiasan kesembilan yang mereka masuki dengan semangat yang sudah mencapai titik terendah. Dia tidak suka berkeliling untuk beebelanja seperti ini, sama tidak sukanya dengan bau rumah sakit yang

sangat dibencinya.

Gadis itu memilih duduk di bangku tinggi yang disediakan dan menatap deretan cincin kawin itu tanpa minat, sedangkan Luhan berdiri di sampingnya dengan ekspresi yg sama.Mata Minseok tertuju pada sebuah cincin bermata berlian yang terletak mencolok di tengah cincin-cincin lainnya.

Dia menyukai desain cincin itu, mewah tapi tetap terkesan sederhana dan elegan. Sekali lihat dia langsung bisa menebak bahwa harga cincin itu pasti mencekik leher.Tapi apa gunanya memiliki suami dengan harta melimpah di berbagai belahan dunia jika tidak untuk dihambur-hamburkan?

" Yang itu saja. " ujar Luhan tiba-tiba sambil menunjuk cincin yang dilihat Minseok itu ke penjaga toko, seolah pria itu bisa membaca pikirannya.

" Langsung bilang padaku kalau kau menginginkan sesuatu, jangan hanya melihatnya saja seolah kau ingin menelan benda itu bulat-bulat. "

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

" Gaun kelima dan tidak ada satupun yg kau sukai? Memangnya seleramu berpengaruh untukku? " teriak Minseok marah dengan emosi yang sudah sampai mendidih sampai ke ubun-ubun.

Dia menghabiskan tiga jam terakhir dengan mencoba gaun-gaun pengantin yang tersedia di butik itu dengan kebosanan yg sudah mencapai titik maksimum dan Luhan selalu menggelengkan kepalanya setiap kali dia keluar dari kamar ganti.

" Terlalu banyak renda, pita, dan entah apa namanya. Kau sendiri juga tidak nyaman, kan ? "Minseok membenarkan perkataan pria itu dalam hati.

Dia memang tidak suka dengan gaun-gaun sebelumnya karena terlalu banyak tetek bengek yg menempel di gaun-gaun itu.Tapi yang diinginkannya sekarang hanyalah cepat terbebas dari semua ini dan tidur di rumah.

" Kau tidak punya gaun sederhana? Yang biasa saja? Mewah tapi tidak merepotkan? " tanya Luhan kepada pegawai toko yang membantu Minseok mencoba gaun-gaun tadi.

" Saya rasa kami punya gaun keluaran terbaru yg mungkin cocok, tuan. Tunggu sebentar. "

Minseok menghentakkan kakinya dan mengikuti wanita itu masuk lagi ke ruang ganti.Dia menunjukkan foto sebuah gaun kepada Minseok dan meminta persetujuan gadis itu.

Gaun itu jauh lebih baik dari lima gaun sebelumnya. Tidak terlalu banyak renda dan hiasan seperti yang dikatakan Luhan tadi.Dan bahannya terlihat ringan, jadi Minseok tidak akan kerepotan saat memakainya nanti.Minseok mengangguk dan menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa, menunggu wanita itu kembali membantu Minseok mencoba gaun yang ditunjukkannya tadi.

Gadis itu menggretakkan giginya

sampai bergemeletukan, memikirkan bagaimana reaksi pria itu saat dia keluar dari kamar ganti tadi. Awas saja kalau pria itu tidak menyukai gaun yang terakhir ini! Dia akan kabur pulang dan merendam tubuhnya di bawah siraman air dingin untuk mendinginkan kepalanya yg sudah terasa meledak-ledak.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Luhan mendongak dan mengalihkan pandangan dari asistennya yang sedang membacakan hasil rapat dari layar communicator-nya saat tirai ruang ganti itu terbuka.Lima gaun terakhir yg dipakai gadis itu sangat indah tentu saja, lagipula menurutnya gadis itu akan terlihat cantik dengan baju apapun yang melekat di tubuhnya.

Luhan mengatakan tidak suka hanya karena dia tahu bahwa gadis itu tidak menyukai sesuatu yang berlebihan dan

pria itu bertekad hanya akan mengatakan iya terhadap apapun yang diinginkan gadis itu.

Dan sekarang... saat gadis itu berdiri dihadapannya dengan gaun elegan berwarna broken white yg membalut tubuhnya dengan anggun, Luhan nyaris tidak bisa mengedipkan mata dan mengontrol ekspresinya agar tidak terlihat memalukan.

" Nanti aku hubungi lagi." ujar Luhan dan dengan cepat mematikan communicator-nya.Dia berdiri dan melangkah ke depan Minseok dan dengan terang-terangan membiarkan matanya menelusuri tubuh gadis itu dari kepala hingga ujung kaki.

Tanpa cacat dan begitu memukau.

" Kau masih tidak suka? " tanya Minseok dengan suara pelan.

Mendadak saja gadis itu merasa gugup dengan pandangan Luhan yang terarah padanya. Dia selalu menyukai mata itu, lebih tepatnya cara pria itu menatapnya. Hal yg seharusnya tidak dirasakan gadis itu sama sekali.

Tiba-tiba Luhan mengangkat tangannya dan menyentuh wajah Minseok dalam sentuhan ringan, membuat gadis itu lagi-lagi terpaku, terlalu kaku untuk bergerak. Bola matanya membulat saat pria itu mendekatkan wajahnya sampai hidung mereka bersentuhan. Minseok

bahkan bisa merasakan nafas Luhan yang berhembus keluar dari mulutnya di bibirnya sendiri.

" 14 tahun yang nyaris terasa sia-sia karena tidak ingat apa-apa. Tapi mengingat apa yang aku lihat saat ini, hal itu ternyata memang pantas untuk diperjuangkan. " bisik Luhan lirih

" Gadis bodoh, aku sudah seterus terang ini apa kau masih tidak bisa membaca perasaanku juga? "

To be continue

aplikasi FFN eror kah? ngedit gitu terus dari tadi padahal gak di kasih spasi tau-tau ada sendiri . Mohon maaf atas ketidaknyamannya …