Lavender Blues © Sunflowers37
.
.
Naruto © Kishimoto Masasi
Uzumaki Naruto x Hyuuga Hinata
Rated : T
.
.
Summary : Cinta telah bersatu. Lamaran telah mendapat restu. Pernikahan telah berlalu. Apakah kedua pengantin baru itu bisa terbebas dari belenggu? Tidak! Nyatanya, malam pertama akan lebih dari sekedar canggung, takut, dan malu.
.
.
.
Prompt : Malam Pertama
.
NaruHina fic special for #NaruHinaWeddingCelebration
.
.
.
Suara ramai memenuhi, angin bertiup menemani, dedaunanpun seolah ikut bersorak ramai. Senyum, canda dan tawa terdengar begitu bahagia seolah mengungkapkan rasa bahagia mereka atas bersatunya sahabat, keluarga dan pahlawan mereka.
Di tengah lapangan yang luas dan di hiasi pohon sakura, hampir setengah penduduk desa hadir di sana untuk meramaikan dan melihat acara pernikahan yang paling dinanti semuanya bahkan dari sebulan yang lalu. Hokage pun memberikan misi khusus mencari kado istimewa untuk kedua pengantin, yang sempat membuat suasana desa menjadi ramai, ricuh, gelabakan, dan sibuk dalam sebulan terakhir.
Dan setelah menunggu beberapa lama, akhirnya hari yang dinantikan tiba. Kini, semua tamu menghentikan suara obrolan mereka dan merubahnya menjadi decak kagum dan senang akan kehadiran kedua pengantin itu di tengah mereka.
Balutan kimono yang tampak begitu anggun di tubuh sang Hyuuga serta balutan jas yang tampak gagah di tubuh sang Uzumaki, sukses membuat semua yang hadir mengakui keserasian keduanya.
Dan saat kedua mempelai telah hadir, tentu saja pernikahan akan segera di mulai.
Semua tamu yang ada mulai merapat lebih dekat untuk bisa menyaksikan dan mendengar segala sesuatunya lebih jelas.
Seperti halnya saat melihat kedua pengantin itu yang kini berdiri di hadapan sang Hokage.
"Selamat atas pernikahan kalian, Naruto dan Hinata." Dengan sedikit canggung Kakashi mengucapkan kata itu. Entah kenapa sesuatu membuatnya terharu, padahal awalnya dia biasa saja, bahkan Kakashi sempat aneh melihat Iruka yang terlalu gugup di awal, tapi sekarang dia sendiri yang merasa begitu.
"Terima kasih, Hokage-sama." Hinata tersenyum lembut dan menjawab ucapan itu penuh rasa terima kasih.
Di balik maskernya, Kakashi tersenyum. Selintas kenangan masa lalu membayangi pikirannya. "Kau sudah besar, Naruto. Aku selalu teringat saat kau masih menjadi bocah nakal yang berisik dulu. Tapi sekarang kau sudah akan menikah dan menjalin kehidupan rumah tangga. Yah, semoga kau bisa lebih dewasa lagi nantinya. Tidak ada hal khusus yang bisa ku berikan selain ucapan sebagai gurumu dan juga sebagai Hokage."
Senyum Naruto melebar mendengar hal itu. Jika saja Kakashi berbicara dengan serius penuh haru seperti itu saat dia masih kecil, Naruto pasti akan mengejeknya. Tapi sekarang pria Uzumaki itu mengerti arti bahagia dan haru yang di rasakan oleh semua sahabat dan gurunya adalah untuk ikut merasakan kebahagiaan yang juga dia rasakan sekarang.
"Hehe, aku memang sudah besar dan akan menikah, tapi rasanya masih menyenangkan untuk jadi muridmu yang nakal, Kakashi-sensei."
Kakashi lagi-lagi tersenyum mendengar itu, begitu pula semua orang yang ada di sana. Sang pahlawan ternyata masih tetaplah seorang laki-laki yang ceria dan sederhana.
"Baiklah, tidak perlu terlalu lama. Semua orang sudah menanti datangnya hari ini." Kakashi berbalik dan menggeser tubuhnya, memperlihatkan Iruka yang nyatanya sudah berdiri di belakangnya sejak tadi.
"Eh?" Naruto mengedipkan matanya kaget, "Iruka-sensei?"
"Naruto," Kakashi kembali bersuara. "Sebagai Hokage, aku mengabulkan keinginan Iruka untuk menjadi orang yang menikahkan kalian. Tidak masalah, kan?"
Naruto menatap Iruka tanpa ekspresi sejenak sebelum akhirnya senyumnya kembali mengembang dengan sedikit genangan di matanya. Iruka adalah orang yang sudah dia anggap layaknya Ayah sendiri, dan tentu saja kebahagiaannya terasa semakin sempurna karena bisa di nikahkan oleh Ayahnya sendiri. "Tentu saja tidak masalah-ttebayo! Hehehe.."
Iruka yang sedari tadi hanya diam mulai tersenyum. Dia sudah merasa gugup lebih dulu membayangkan hal yang akan dia lakukan ini. Untuk memberikan ucapan yang di rekam Konohamaru saja, Iruka perlu waktu, tapi sekarang dia malah harus menikahkan Naruto. Sungguh sesuatu yang membuatnya sulit untuk berbicara.
Dengan menarik nafas panjang, Iruka berusaha membuka suaranya. Jangan sampai pernikahan Naruto gagal karena kebodohannya. "Naruto… Hinata-san… selamat atas pernikahan kalian." Ucapnya penuh ketulusan dan lancar tanpa ada nada gugup sedikitpun.
Hinata hanya tersenyum dan Naruto mengangguk seraya tersenyum lebar.
Merasa tidak ingin membuang waktu, Iruka mulai memperbaiki tegak tubuhnya untuk mulai mengucapkan janji suci yang akan mengikat kedua orang tersebut.
Suasana menjadi sangat hening menanti saat-saat itu. Hanya suara dedaunan yang di tiup anginlah yang menemani moment sacral tersebut.
"Uzumaki Naruto, apa kau bersedia menerima Hyuuga Hinata menjadi istrimu yang akan kau sayangi dan kau jaga baik dalam keadaan sehat ataupun sakit, kaya ataupun miskin, senang ataupun susah?" dengan tegas Iruka mengucapkan kalimat itu tanpa kesalahan.
Naruto mengangkat tangan kanannya dan menatap dengan sorot penuh percaya diri. "Ya, Saya bersedia menerima Hyuuga Hinata menjadi istri Saya yang akan Saya sayangi dan akan Saya jaga baik dalam keadaan sehat ataupun sakit, kaya ataupun miskin, senang ataupun susah."
"Hyuuga Hinata, apa kau bersedia menerima Uzumaki Naruto sebagai suamimu yang akan kau sayangi dan kau hormati baik dalam keadaan sehat ataupun sakit, kaya ataupun miskin, senang ataupun susah?"
Giliran Hinata yang mengangkat tangan kanannya sembari menjawab, "Ya, Saya bersedia menerima Uzumaki Naruto menjadi suami Saya yang akan Saya sayangi dan akan Saya hormati baik dalam keadaan sehat ataupun sakit, kaya ataupun miskin, senang ataupun susah."
Iruka menarik nafas sejenak sebelum melanjutkan, "Dengan ini, Saya nyatakan kalian sebagai pasangan suami istri yang sah."
Seketika suara tepuk tangan terdengar begitu ramai menyambut lancarnya acara dan pengucapan janji suci itu. Begitu tenang dan sacral. Membawa perasaan bahagia setiap orang dalam setiap kalimat yang terucap dan terdengar.
Di satu sisi lain, senyum hadir di wajah tua seorang Hyuuga Hiashi. Perasaan haru dan membuncah di hatinya seakan melambungkannya ke angkasa. Tugasnya sebagai seorang Ayah yang menjaga Putrinya sekarang mungkin akan tergantikan meski Hiashi takkan pernah lepas tangan jika memang Hinata berada dalam bahaya. Namun kini, dia merasa benar-benar beruntung menjadi seorang Ayah.
Seorang Ayah yang membesarkan Putrinya, menjaga dan menyayanginya. Tentu Hiashi masih selalu ingat perlakuan buruknya yang dulu sempat merenggangkan hubungannya dan Hinata, tapi bolehkah? Bolehkah Hiashi menebus itu semua dengan memberikan segala hal yang mampu membahagiakan Putri sulungnya itu. Seperti halnya pernikahan ini yang sungguh Hiashi persiapkan dengan segenap hatinya. Dia tidak ingin ada kesalahan sekecil apapun di hari kebahagiaan Putrinya.
Tapi siapa menduga jika kebahagiaan itu tak hanya untuk Hinata dan Naruto. Hiashi yang awalnya sangat berat melepas Putrinya, kini justru merasa sangat ringan setelah melihat senyum bahagia Hinata bersama suaminya. Tak ada hal lain yang Hiashi harapkan kecuali kebahagiaan Putri-Putrinya yang sangat ia sayangi.
.
.
Hari yang melelahkan namun sangat menyenangkan.
Semua penduduk desa mengakhiri hari mereka dengan senyuman bahagia setelah pesta panjang yang di adakan di seluruh desa. Shinobi yang bertugas maupun yang tidak masih bisa ikut merayakan kebahagiaan di hari itu.
Bahkan sampai sekarang malam telah semakin larut, masih terlihat beberapa orang yang masih asik mengobrol dan bercengkrama sesama teman mereka di tempat masing-masing.
Sisa pesta pernikahan di lapangan sakura tadi juga masih terasa menyenangkan meski sekarang sudah terlalu gelap dan sepi. Dedaunan pink di sana terlihat di seluruh tanah yang seolah menjadikannya tanah pink khusus daun bunga sakura.
Begitu pula di kediaman Hyuuga yang mulai terlihat sepi. Para Shinobi yang sebelumnya ramai di sana lantaran kedua pengantin akan bermalam di kediaman Hyuuga membuat Mansion terbesar di Konoha itu terlihat begitu ramai dan meriah. Tapi waktu semakin berlalu, malam semakin gelap dan bulan semakin tinggi. Membuat perlahan Mansion itu mulai sepi dan sunyi.
Tapi… apakah keadaan yang sunyi dan sepi juga terjadi di salah satu kamar pewaris Hyuuga yang baru saja menikah?
"Hah." Naruto menghela nafas entah untuk keberapa kalinya dalam beberapa menit itu. Dia tidak pernah memikirkan jika saat ini akan tiba. Tentu saja Naruto banyak memikirkan tentang bagaimana hari pernikahannya, ucapan janji suci mereka, acara setelah itu, dan hal-hal terkait. Tapi, haruskah Naruto yang di salahkan jika dia lupa perihal apa yang harus dia lakukan di… malam pertama?
Dan sekarang, Naruto semakin bingung serta gugup dengan keadaannya. Seumur hidupnya dia tidak ingat jika pernah memasuki kamar seorang gadis, tapi sekarang dia berada sendirian di kamar sang sulung Hyuuga yang sudah menjadi istrinya sejak beberapa jam yang lalu.
Sendiri?
Ya, sendiri.
Entah kemana perginya Hinata? Naruto hanya ingat dia sudah mendapati kamar itu kosong saat dia kembali dari kamar mandi setelah membersihkan dirinya dan sampai sekarang Hinata belum juga kembali.
Menghabiskan waktu, Naruto sudah melihat-lihat kamar istrinya. Mematri seperti apa kamar sang istri, hal apa saja yang ada disana yang mungkin menjadi hal-hal kesukaan istrinya. Atau juga hal-hal yang menjadi kenangan khusus bagi sang istri.
Seingatnya, dia pernah sekali berkunjung ke kamar Hinata meski hanya dari jendela. Saat dia dan Sakura memberitahu Hinata tentang bagaimana Neji melakukan hal berbahaya demi untuk mendapatkan obat untuk mata Hinata. Saat itu, Naruto sama sekali tidak memperhatikan apapun yang ada di kamar itu.
Seperti bingkai foto yang sedang dia pegang saat ini, menunjukkan gambar Hinata kecil bersama tim 8. Senyumnya melebar ketika mengingat jika dia mempunyai foto yang sama bersama tim 7. Uhm, kalau di pikir-pikir, bagaimana ya kalau dulu dia dan Hinata satu tim?
"…kun? Naruto-kun?"
"Hah? Ng… eh… e ehh ehh.." Naruto bergerak cepat dan gelabakan saat bingkai di tangannya hampir terjatuh karena panggilan yang ia dengar. Dia menoleh dan terdiam melihat Hinata yang kini berdiri sedang menatapnya bingung. "Uhm… oh,, hai Hinata.. hehehe.."
". . ."
". . ."
Naruto mengutuk dirinya yang kini terlihat sangat bodoh.
Hinata mengulum senyumnya saat menyadari tingkah canggung sang suami. Dengan balutan piyama tidur, Hinata melangkah menuju ranjang dan meletakkan nampan berisi ocha yang dia bawa dari dapur di meja samping ranjang. Sebenarnya Hinata juga merasa canggung dan bingung, makanya dia berpikir untuk membuatkan ocha hangat untuknya dan Naruto agar setidaknya bisa mengurangi ketegangan dan kelelahan mereka berdua.
"Aku membuatkan ocha hangat, ayo di minum, Naruto-kun!"
"A.. uhm, iya." Naruto menaruh bingkai itu kembali ke atas nakas di samping jendela dan berjalan mendekati Hinata. Dia mendudukkan dirinya di ranjang berukuran sedang milik Hinata.
Hinata segera mengambilkan segelas ocha dan memberikannya pada Naruto, saat kedua tangan mereka bersinggungan, keduanya langsung mengalihkan wajah mereka kearah lain.
"T-terima kasih-ttebayo." Ucapan Naruto hanya mampu di jawab anggukan dari Hinata. "Oh, kau boleh duduk disini." Naruto tersenyum seraya menggeser duduknya agar Hinata bisa menempati tempat di sampingnya.
Dengan malu-malu Hinata mendudukkan dirinya disana.
Dalam diam keduanya menikmati minuman hangat itu.
Tiada obrolan, tiada tatap-tatapan, tiada hal yang bisa membuat mereka lepas dari kecanggungan itu.
Hening menguasai.
'Sial! Kenapa begini-ttebayo?' Naruto ingin meninju dirinya sendiri sekarang. 'Berpikir Naruto, berpikir. Aku harus mencari bahan pembicaraan setidaknya.' Dia mengangguk dengan ide itu. bahan pembicaraan ya? Uhm,,, bahan pembicaraan, bahan pembicaraan.. oh…
"Uhm, a-a-apa kau sudah mandi, Hinata?"
". . ."
". . ."
"Hah?"
'Apa yang ku katakaaaaaannnnn?' Naruto beteriak dalam hati mengutuk kebodohannya.
[Hahahahaha…] Naruto tersentak saat suara tawa itu menggema di dalam pikirannya dan saat dia sadar itu suara tawa Kurama, wajah dengan pipi bergaris itu menekuk masam. [Apa yang kau lakukan, bocah? Hahahaha,,, kau membuat seolah dia kelihatan belum mandi dan berantakan.]
Sapphire Naruto melebar mendengar itu dan segera melirik Hinata yang menunduk lesu sembari sesekali menciumi rambutnya yang terurai.
'Sial. Dia pasti salah paham!'
"Uhm, k-kau wangi sekali… aku jadi penasaran sabun apa yang kau pakai-ttebayo.. hehehe…" Naruto menggaruk kepalanya setelah memperbaiki kalimatnya, tapi Naruto tetap saja tidak merasa lebih baik.
Sedangkan wajah Hinata merona mendengar kalimat itu. Wajah murungnya yang sempat terlihat kini tergantikan dengan wajah manis yang merona malu-malu.
[Dasar bocah!] Kurama memasang wajah malasnya dan kembali memposisikan tubuhnya untuk tidur. Baru saja dia ingin menggoda Naruto, tapi ternyata bocah pirang itu cukup hebat dalam memperbaiki suasana. Yah, mungkin sebaiknya Kurama tidak perlu menganggu.
Naruto menghela nafas karena Kurama berhenti menertawakannya. Dengan pelan dia kembali menikmati ocha di tangannya.
"Na-naruto-kun juga…" sapphire Naruto melirik saat suara Hinata lirih terdengar. "Naruto-kun juga… wa-wangi sekali."
Brush… uhuk.. uhuk..
"Naruto-kun, kau baik-baik saja?" Hinata langsung menoleh dan menatap khawatir saat Naruto tiba-tiba saja tersedak.
Naruto mengangkat tangannya untuk mengatakan jika dia baik-baik saja. Wajahnya memerah dan jantungnya entah kenapa langsung berdetak lebih cepat. Ah, kenapa dia jadi terlihat konyol begini? Dan… kikikan tertahan Kurama sama sekali tidak membantu.
"A- uhuk.. aku baik-baik saja, Hinata. Tidak apa!" dia berusaha menjawab dengan tersenyum lebar.
Hinata masih memandangnya dengan ragu, gadis itu berbalik dan meraih tissue lalu mencoba mengelap dagu Naruto yang basah karena tumpahan ocha yang pria itu minum sebelumnya. "Hati-hati, Naruto-kun. Ochanya masih hangat."
"Uhm, y-ya.."
Hinata berkedip saat suara Naruto melirih. Saat amethyst-nya melirik sedikit keatas dan bertabrakan dengan sapphire disana, gadis itu baru sadar jarak mereka cukup dekat karena dia mengelap dagu Naruto yang basah. Tubuhnya terdiam kaku memandang sapphire biru yang kini balik menatapnya intenst. Semakin terdiam saat dia merasa sebuah tangan hangat menggenggam tangannya yang memegang tissue.
Tanpa keduanya sadari, jarak mereka semakin mendekat dengan kepala Naruto yang semakin maju. Hinata yang masih kaget juga tidak bisa mundur ataupun mengelak saat bibir Naruto menyentuh dan mengecup hangat bibir mungilnya.
Bruk… "Hi-hinata… oi, ja-jangan pingsan-ttebayo!"
.
.
"Hah." Helaan nafas itu kembali terdengar seolah kaset yang kembali di putar. Jika sebelumnya Naruto bosan menunggu Hinata datang, maka kali ini dia sedikit bosan menunggu Hinata bangun dari pingsannya sejak lima menit yang lalu. "Hg? Tapi kalau diingat-ingat… dia sudah lama tidak pingsan jika bersamaku."
Senyum tipis muncul di bibir Naruto kala dia menyadari jika dulu Hinata kecil selalu pingsan jika di dekatnya. Bodohnya dia yang tidak pernah menyadari sebab pingsannya Hinata dulu. Tapi sekarang tentu saja dia sudah mengerti kenapa perempuan itu pingsan, yah, walau Hinata nyatanya masih bertahan setelah ciuman pertama mereka. Mungkin saat ini Hinata sedang lelah dan terlalu kaget karena dia tiba-tiba saja mencium penerus Hyuuga itu tadi.
"Hinata…" lirih suaranya bergumam saat tatapan matanya tak kunjung bisa beralih dari gadis itu. Posisinya yang duduk di pinggir ranjang saat ini membuatnya bisa dengan jelas melihat wajah cantik sang istri yang kini terbaring di sampingnya.
Dan entah Naruto sadar atau tidak jika wajahnya sudah kembali mendekat. Mendekat dan semakin mendekat karena merasa ingin lebih dan lebih dekat melihat wajah cantik di sana.
"Hhgg?"
Set… Naruto langsung mundur dan menatap kearah lain dengan semburat merah yang dia sembunyikan. Entah kenapa dia harus menjauh dan ketakutan sekarang, seperti maling yang tertangkap basah, Naruto terus saja berdoa dalam hati semoga Hinata tidak marah.
Walau pada kenyataannya Hinata tidak mungkin bisa marah pada Naruto hanya karena laki-laki itu mendekatinya dan berniat menciumnya. Walau kemungkinannya, Hinata bisa kembali pingsan.
Perlahan mata amethyst itu terbuka dengan keningnya yang sedikit berkerut.
"Kau sudah bangun, Hinata?" suara itu membuat Hinata langsung membelalak dan menoleh kaget kearah Naruto. "Yo, ma-maaf membuatmu pingsan-ttebayo. Hehehe…" Naruto menggaruk pipinya dengan tingkah yang serba salah.
Di sampinnya, wajah Hinata langsung memerah mendengar sebab dia bisa pingsan. Sekelebat ingatan terakhirnya tadi membuatnya semakin tak bisa berkata dengan baik. "U-uhm." Dia hanya mengangguk sekali dengan ragu.
Keduanya terdiam dan kembali membuat suasana hening.
Setelah ini, mungkin Naruto harus memberi peringatan pada sahabatnya yang lain agar berhati-hati dengan malam pertama. Sumpah, Naruto tak pernah berpikir jika dia yang biasanya paling ahli membuat suasana kembali hidup kini malah ikut mati bersama suasana malam itu.
"Ma-maaf, Naruto-kun."
"Hg?" sapphire Naruto melirik saat Hinata mengucap kata maaf yang tidak dia mengerti untuk apa?
"Itu… a-aku… anoo.. tadi… a-aku ping-san sa-saa-saat.. uhm.. itu…"
Naruto menelan ludah melihat Hinata yang gugup luar biasa dengan tangan di depan dada berbicara terbata dan tidak jelas. Bukankah Hinata sudah sangat jarang segugup itu? Kenapa sekarang Hinata terlihat lebih gugup daripada saat mereka kecil dulu?
"Huft… hahahahaha…" suara tawa Naruto yang terdengar membuat Hinata mendongak bingung. "Kau tidak perlu minta maaf-ttebayo." Naruto menghentikan tawanya dan sedikit menunduk dengan senyum hangatnya. "Yah, kurasa kita memang tidak tahu apa-apa tentang malam seperti ini. Jadi kurasa… wajar kalau kita bingung dan canggung sekarang."
Mengerti dengan apa yang di katakan sang suami? Hinata hanya bisa menunduk dengan wajah yang kembali merona.
"Hinata,"
"Ya?"
"Apa kau lelah? Seharian ini banyak hal yang sudah terjadi, mungkin… sebaiknya kita istirahat saja?"
Tatapan mereka bertemu sesaat sebelum Hinata mengalihkan pandangannya lebih dulu. Gadis itu tidak menjawab apapun dan juga menolak menatap Naruto.
Sejujurnya, Hinata merasa bersalah. Tentu saja Hinata mengerti apa yang seharusnya terjadi di malam pertama dan apa yang mungkin ada di pikiran suaminya. Tapi serakang suaminya malah mengajaknya untuk beristirahat. 'Kenapa tadi aku harus pingsan?' batinnya berbisik.
Naruto berkedip bingung melihat Hinata yang tak kunjung menjawab dan merespon. Dan saat dia melihat pandangan sendu dari Hinata, Naruto gelabakan. "Uhm, Hi-Hinata… maksudku.." Naruto terdiam sesaat kemudian. Dia menarik nafas panjang dan ikut menunduk. Dia mengerti apa yang tengah gadis itu pikirkan sekarang.
Pertama kalinya Naruto bisa membaca sorot mata Hinata adalah saat perang waktu itu. Dimana dia bisa melihat dengan jelas sorot mata Hinata yang merasa bersalah karena berpikir dirinya tidak berguna. Naruto juga tidak mengerti kenapa dia seolah bisa dengan jelas membaca sorot mata gadis itu tapi tidak bisa membaca dengan jelas perasaan Hinata padanya saat itu.
Saat mereka kecil Naruto juga selalu melihat pandangan Hinata yang putus asa. Saat mereka hampir gagal mendapatkan kumbang bikochu karena hujan, Naruto tanpa sadar mengucapkan jika semuanya pasti akan baik-baik saja dan jangan putus asa selama masih ada waktu. Dan akhirnya mereka berhasil mendapatkan kumbang bikochu itu.
Eh? Bukankah itu artinya saat perang bukan pertama kalinya Naruto membaca sorot mata Hinata?
Naruto menegakkan kepalanya dan menatap Hinata yang masih terdiam di sampingnya. 'Benar!' senyum tipis muncul di bibir Naruto kemudian. 'Tanpa aku sadari, aku selalu bisa membaca sorot matanya bahkan dari kami masih sama-sama di akademi. Pendapatku pertama kali tentangnya juga begitu, aku menganggap dia gadis yang aneh karena selalu mengalihkan pandangannya setiap kali pandangan kami bertemu. Ah bodohnya aku yang tidak pernah sadar kalau aku sendiri sebenarnya cukup sering memperhatikannya sedari dulu.'
Mata Hinata berkedip saat tiba-tiba Naruto meraih tangannya dan menggenggamnya hangat. Senyum hangat Naruto serasa mengalirkan darah Hinata ke wajahnya hingga wajah cantik itu semakin merah sekarang.
"Apa yang kau pikirkan, Hinata? Jangan berpikir yang aneh-aneh." Tangan Naruto terangkat dan merapikan poni Hinata yang sedikit berantakan. "Aku hanya khawatir kau lelah karena aku juga merasa lelah. Tapi tak masalah bagiku jika kau belum mengantuk. Yang penting itu…" Naruto mengeratkan genggaman tangannya dan membawa tangan itu ke dadanya. "…kau ada di sini bersamaku-dattebayo!"
Hinata tidak bisa menahan senyumnya, mata amethyst itu berkaca-kaca karena perasaan hangat yang dia rasakan sekarang. "Naruto-kun."
Keduanya tersenyum dengan tatapan yang saling mengunci. Terasa nyaman dan sangat menyenangkan.
"Oh, tapi aku penasaran dengan satu hal dari tadi." Naruto kembali berbicara, tentu saja kali ini untuk mengalihkan pembicaraan agar suasana menjadi lebih baik.
"A-apa?"
Naruto melepaskan genggamannya dan mengalihkan matanya pada tumpukan kado yang ada di sudut ruangan. "Aku tidak mengira kita bisa mendapatkan kado sebanyak itu."
Hinata ikut mengalihkan pandangannya dan tersenyum melihat tumpukan kado itu tanpa menjawab.
"Yosh! Karena kita belum mau tidur, bagaimana kalau kita membuka beberapa kado-ttebayo?"
"Hm, sepertinya itu ide yang bagus."
Setuju dengan ide itu, keduanya beranjak dari ranjang untuk mengambil beberapa kado dan berniat membukanya di atas ranjang mereka.
Naruto tanpa ragu langsung mengambil tiga kotak kado yang cukup besar namun tidak terlalu besar dan membawanya ke ranjang. Hinata juga berniat membawa beberapa kotak kado, tapi… "Ugh.."
"Ada apa, Hinata?"
"Uhm ini…" Hinata menatap Naruto sejenak dan kembali menatap kotak kado yang ada di depannya.
Merasa aneh, Naruto berjalan mendekat. Karena Hinata terus memandang kotak kado berwarna hijau itu, Naruto jadi bergerak untuk mengambilnya. Dan… "Ugh, kenapa kotak kado ini berat sekali?" gumamnya pelan dan masih membawa kotak itu ke ranjang. Di susul Hinata yang membawa kotak lain yang ada di sampingnya.
Kedua pasangan baru itu menaiki ranjang dan mulai memilih kado mana yang ingin mereka buka lebih dulu.
Kotak kado berwarna pink menjadi pilihan pertama Hinata, sementara Naruto mengambil sebuah kotak kecil yang ada.
"Selamat atas pernikahan kalian, Naruto dan Hinata. Ini hadiah dariku. Sakura."
Naruto menoleh saat Hinata membacakan isi selembar ucapan yang ada di dalam kotak pink yang di buka Hinata. "Ini kado dari Sakura-san, dia memberikan kita sepasang gelas yang sangat cantik." Hinata tersenyum sembari mengeluarkan dua gelas dari kotak itu.
"Waaahh,, gelas itu sangat bagus." Naruto ikut merespon. Selanjutnya dia membuka kotak kecil di tangannya.
"Itu kado dari siapa, Naruto-kun?"
Naruto berkedip melihat selembar amplop dari dalam kotak persegi kecil itu. "Entahlah, hanya ada selembar amplop." Naruto segera meraih amplop itu dan membukanya, menemukan tiga lembar tiket makan di restaurant mahal yang di kenal sebagai tempat makan yang sangat bagus.
"Selamat menikah, Naruto, Hinata. Aku berikan kalian tiket ini. Karena ada tiga, ajak aku nanti ya? Tenang saja, aku akan minta meja yang di pisah. Chouji."
Wajah Naruto masam seketika. Padahal awalnya dia sudah sangat takjub dengan hadiah itu dan sempat berpikir jauh tentang saat dia makan berdua dengan Hinata di sana. Tapi… "Kurasa Chouji memang tidak akan melewatkan kesempatan untuk makan."
Hinata terkikik pelan, "Chouji-kun memang begitu."
Naruto mengangguk menyetujui. Sang pahlawan itu lalu meraih kotak kado hijau yang sangat berat tadi, dia cukup penasaran dengan apa isinya dan darimana asalnya. Hinata hanya diam melihat Naruto membuka kotak itu.
Lalu…
"Hah?" keduanya melongo bersamaan melihat apa isi dari kotak kado itu.
"U-uhm,, itu… dari…" Hinata tidak melanjutkan ucapannya, tapi tanpa di lanjutkan pun, rasanya Naruto sudah tahu apa yang ada di pikiran istrinya.
Dengan wajah masam Naruto mengambil selembar kertas di sana.
"Yosh! Dengan semangat masa muda, aku mengucapkan selamat pernikahan untuk kalian berdua. Hadiahku ini adalah hadiah yang pastinya sangat berguna untuk kalian berdua. Semoga kalian menjadi keluarga yang selalu hebat dan memiliki semangat masa muda. Selamat, Naruto-kun, Hinata-san.
Lee :D"
Naruto menghela nafas dan kembali melirik hadiahnya, "Lee… apa yang kau ingin kami lakukan dengan dua pasang barbell ini?" gumamnya setengah frustasi. Naruto bukannya menolak atau tidak senang, hanya saja semakin ke sini, Naruto semakin mengerti separah apa jalan pikiran Lee terhadap hal-hal umum di luar misi dan pertarungan.
Melihat tampang unik suaminya, Hinata hanya bisa ikut tersenyum. Yah bagaimanapun, mereka mungkin akan mendapatkan banyak hadiah tak terduga lainnya. Seperti kotak berwarna violet yang tadi di bawa Hinata, mungkin saja isinya juga merupakan benda tak terduga lainnya.
Dengan pelan Hinata meraih kotak itu dan membukanya, tidak terlalu perduli dengan ekspresi Naruto yang masih memandangi barbell warna orange dan ungu itu dengan pandangan tak terbaca. Mungkin suaminya sedang berpikir mau di gunakan untuk apa dua pasang alat olahraga itu?
Saat tutup kotak itu terbuka, Hinata semakin penasaran dengan benda yang tertutup kain halus disana. Sebelum membukanya, Hinata lebih dulu membaca ucapan di sana.
"Hinata-neesama. Selamat ya. Aku mempunyai dua kado untukmu dan Naruto-niisama. Tapi kado yang ini aku berikan khusus untukmu, yah walau bisa juga membuat Naruto-niisama senang. :) *jangan lupa di pakai pada malam pertamamu ya. Hanabi."
Hinata terdiam setelah membaca tulisan itu dalam hati. Pasalnya, kalau sudah menyangkut Naruto, Hanabi pasti memberikan ide yang aneh-aneh baginya. Dan dengan segera dia membuka kain penutup itu setelah sebelumnya melirik singkat Naruto yang masih sibuk dengan barbell barunya.
Tangannya bergerak membuka, lalu…
…mata amethyst itu melebar dengan wajah yang lebih kaget daripada melihat barbell. Lingerie yang tipis dan serba terbuka kini ada di tangannya!
"Hinata?"
"Eh.. ah.. hah? Y-yaa..?" dengan cepat dia menyembunyikan itu di belakang punggungnya.
Alis Naruto terangkat sebelah, "Kau kenapa-ttebayo?"
Hinata menggelengkan kepalanya kuat. Membuat kening Naruto mengernyit curiga. Mata birunya melirik tangan Hinata yang tersembunyi di balik punggung dengan pandangan penasaran. "Kau menyembunyikan sesuatu di punggungmu?" lagi –Hinata menggeleng.
Sapphire itu melirik kotak yang ada di pangkuan Hinata sejenak, kosong. Berarti… "Apa yang kau sembunyikan itu hadiah dari kotak ini?" dengan ragu Hinata mengangguk sekali. "Kenapa di sembunyikan? Aku juga ingin melihatnya."
Naruto hanya menghela nafas saat lagi-lagi kepala dengan surai indigo terurai itu menggeleng kuat. "Baiklah kalau kau memaksa."
"Eh?" Hinata bergerak mundur saat Naruto mencondongkan tubuhnya dengan mata menyipit. "Na-naruto-kun,, kau ma-u a-apa?"
"Bukan apa-apa, hanya ingin mengambil benda yang kau sembunyikan secara langsung."
"Eh.. ta-tapi ini bu-bukan apa-apa kok." Hinata memaksakan senyumnya walau semua tampak sia-sia karena Naruto sudah terlanjur penasaran.
Set…
"Kyaa.."
Hinata memejamkan mata saat Naruto langsung melingkarkan tangan di pinggangnya. Tubuhnya hampir saja terbaring ke belakang jika saja salah satu tangan Naruto tidak menyanggah di kasur, sementara tangan Naruto yang lain melingkar di pinggangnya.
". . ."
". . ."
Keduanya terdiam cukup lama. Naruto yang terdiam dengan memandang wajah Hinata dari dekat. Sementara Hinata yang masih diam dengan mata terpejam.
"Hinata.." panggilan lirih itu memaksa Hinata untuk membuka matanya, dan…
Blush
…wajah Hinata memerah menyadari kedekatan wajah mereka sekarang. "Naruto-kun." Jawabnya dengan nada berbisik.
Dengan pelan tangan Naruto meraih kain yang dia rasakan dari punggung istrinya. Memundurkan tubuhnya dan kembali duduk di tempat semula. Hinata yang sudah tidak bisa merebut lingerie itu lagi hanya bisa menunduk dengan wajah merona.
"Hm?" gumaman Naruto terdengar kala dia melihat dengan jelas bentuk lingerie itu. Lalu seulas senyum tipis hadir di bibirnya. "Siapa yang memberikannya?"
"Ha-hanabi." Jawab Hinata lemah tanpa menatap.
"Ini sangat bagus… kurasa akan cocok denganmu." Ucapan Naruto terdengar sangat lembut dan mengalirkan sesuatu yang membuat jantung Hinata berdetak nyaman.
Kepala dengan surai indigo itu mendongak dan menatap lurus sapphire Naruto yang juga memandangnya dengan senyuman hangat.
Untuk sejenak Naruto menyingkirkan semua kado yang ada ke meja di samping ranjang, begitu pula dengan lingerie yang tadi dia ambil dari istrinya. Lalu dia menggeser tubuhnya dan kembali mempertemukan dua pasang mata berbeda warna itu.
"Apa kau malu?" pertanyaan itu tak khayal membuat Hinata kembali menunduk, tapi tangan Naruto dengan cepat kembali meraih dagu itu dan mengangkatnya. "Hinata, kurasa kita memang harus terbiasa dengan keadaan ini. Bukankah sekarang kita sudah menikah?"
Dengan pelan Hinata mengangguk.
Naruto mendekatkan wajahnya lebih ke depan. "Hinata… apa kau belum mengantuk?" suaranya berbisik seiring dengan wajahnya yang terus mendekat. Anggukan pelan kepala Hinata membuat Naruto tersenyum dan dengan cepat meraih bibir peach di depannya. Jika boleh jujur, Naruto sudah memperhatikan bibir itu sejak memandang Hinata yang pingsan sebelumnya.
Amethyst Hinata terpejam kala kecupan-kecupan lembut itu membuatnya terlena. Bahkan tak menolak saat dirasa tubuhnya mulai jatuh ke belakang dan di tindih oleh sang suami.
Mungkin… itu akan menjadi malam pertama yang panjang bagi keduanya.
.
.
.
END
.
.
.
A/n : Saat pertama kali prompt ini di ajukan, mungkin aku orang pertama yang setuju. Saat aku di suruh memilih prompt apa? Aku juga yang memilih sendiri prompt ini. Tapi saat menulisnya… butuh tiga minggu untuk mendapatkan feel dan mood yang sesuai.
Syukur udah jadi.
Yah, semoga bisa menghibur walau hanya seadanya saja. Otak lagi buntu dan pikiran lagi penuh.
Terima kasih untuk semua readers yang masih setia menunggu, menyukai ff ini, dan selalu memberikan dukungan untuk Sunflowers37. Semoga cerita-cerita yang kami sajikan bisa selalu menghibur kalian semuanya. :)
Itu aja deh. See you next chap.
Salam, Rameen
