2060 When The World is Yours

Yuli Pritania

Lu Min ver

Chapter 9

Minseok's Apartment, Seoul

07.00 AM

" Ayo berangkat! Kau ini bagaimana? Hari ini pernikahanmu! Tapi kenapa kau bersikap seperti akan dikirim ke tiang gantungan? " seru Kyungsoo habis kesabaran sambil menyikut lengan Minseok yang masih betah duduk di atas sofa.

Gadis itu bersikeras tidur di apartemen dan tidak mau pulang ke rumah suaminya dengan alasan aneh tentang pengantin yang tidak boleh saling bertemu sebelum mengucapkan janji di depan altar.

" Pernikahannya kan jam 9 "

" Tapi kau harus didandani dulu, babo! "

" Kenapa aku tidak boleh pakai baju ini saja? " tukas Minseok cuek, merujuk pada blus biru muda dan celana jin putih yang sedang dipakainya.

" Aish, gadis ini benar-benar sudah gila dan tidak waras! Cepat bangun atau aku akan menyeretmu kesana! "Minseok baru akan membuka mulutnya untuk mengajukan protes lagi saat communicator-nya berbunyi menandakan ada panggilan masuk.

" Nona Kim, kami diperintahkan untuk menghubungi langsung jika terjadi pembunuhan 5to5 lagi dan saat ini kami baru menemukan mayat seorang gadis yg disalib di sebuah apartemen di kawasan Myeongdeong. Anda orang pertama yg kami hubungi sebelum kami menghubungi bagian lain dan melaporkan pembunuhan ini. "

" Baik aku segera kesana " tukas Minseok cepat

" YAK! Hari ini pernikahamu! Lupakan pembunuh sialan itu dulu! "

" Masih 2 jam lagi. Tidak apa-apa jika kita ke lokasi dulu. Apa kau takut dengan Luhan? Biar aku yang menghadapinya nanti "

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Apartment, Myeongdeong, Seoul

07.45

Minseok berusaha mengendalikan rasa mual yang menghantamnya saat melihat genangan darah di lantai. Dia tahu bahwa pembunuh itu selalu menyedot semua darah korbannya sampai habis dan membiarkan semuanya tercecer di lokasi, tapi ini pertama kalinya dia melihat langsung ke TKP, jadi tidak heran jika dia nyaris muntah saat melihatnya.

" Aish, pria itu benar-benar sudah gila! Psikopat tidak waras! " komentar Kyungsoo sambil menutup hidungnya.

Minseok menatap mayat gadis yang masih tersalib dengan pasak menusuk lengan dan kakinya. Rambut panjang terjuntai menutupi wajah dan ada sisa-sisa tusukan, goresan, dan bekas darah yang sudah mengering di tubuh polosnya.

Mata Minseok tertarik pada gulungan kertas yang tercengkram di tangan gadis itu.

Sepertinya itu sebuah pesan dan semacamnya yang ditinggalkan penjahat itu disana.

Minseok mengabaikan rasa mualnya dan berjalan menginjak genangan darah di lantai menuju mayat gadis itu. Waktu dia mendekat, masih ada darah yg menetes-netes di tubuh gadis itu dan jatuh mengenai blus yg sedang dipakainya saat dia berusaha mengeluarkan kertas dari kepalan tangan yang sudah mendingin itu.

' Aku tahu bahwa kau adalah penyidik utama kasus ini, Nona Kim Min Seok. Kau pasti penasaran sekali dengan identitasku. Aku membodohimu dengan cerdik kan? Menurutmu kenapa aku meninggalkan Surat ini disini? Karena aku mau memberimu peringatan. Permainan ini belum selesai. Dan kaulah tujuanku selanjutnya. Menurut bisikan yang ku dapat dari seorang rekan yang sangat setia, kau sudah berhasil mengetahui motif ku melakukan pembunuhan ini. Jadi tentunya kau sudah tahu kenapa aku tertarik untuk memburumu. Berhati-hatilah Nona Kim, ah, kudengar hari ini kau akan menikah dengan Lu Han yg terkenal. Suamimu itu juga tidak akan lepas dari buruanku. Tapi aku akan memburumu terlebih dahulu. Permainan semakin menarik kan? Tunggulah kedatanganku.

Sampai jumpa.'

Minseok meremas kertas dalam genggamannya itu dan menggertakkan giginya kesal.

Sial sial, kenapa penjahat satu ini licin sekali? Kyungsoo mundur ke belakang, sehati-hati mungkin agar tidak diketahui Minseok.

Sahabatnya itu berada dalam bahaya besar? Dan ekspresi yang muncul diwajahnya malah ekspresi marah, bukannya ketakutan. Dia tahu bahwa Minseok malah akan berusaha mengumpankan dirinya sendiri Untuk menangkap penjahat itu, jadi Kyungsoo harus melakukan sesuatu untuk menjauhkan gadis itu dari kemungkinan mati terbunuh.

Dan satu-satunya orang yang bisa dimintai bantuan hanya Luhan. Yah, pria itu. Dia yakin pria itu akan melakukan segala cara yg dia bisa untuk melindungi istrinya.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Polyteli's Hotel, Seoul

08.30 AM

" Aish, kemana gadis sialan itu? Dia mau mencari gara-gara denganku dihari sepenting ini? " ujar Luhan gusar sambil melonggarkan dasi yang melingkar di lehernya.

" Tenanglah, sepupu. Bersabarlah sebentar, masih ada setengah jam lagi. " kata Chanyeol berusaha menangkan

" Tamu tidak akan keberatan menunggu lebih lama. Sudah untung kau mau mengundang mereka"

" Luhan-ah, kurasa Minseok bersikeras mendatangi lokasi pembunuhan yang terjadi pagi ini. Tapi aku mendapat laporan bahwa dia sudah dalam perjalanan kesini." lapor Kris yang baru saja datang menghampiri mereka.

" Apa pembunuhan itu lebih penting dari hari pernikahannya? " teriak Luhan kesal.

" Dia kan tidak dengan sukarela setuju menikah denganmu. " bisik Chanyeol mengingatkan.Luhan mendengus dan mengacak acak rambutnya frustasi. Gadis itu benar-benar mempermainkan emosinya!

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

" Masuk ke ruang gantimu, biar aku panggilkan penata riasmu." suruh Kyungsoo sambil mendorong tubuh Minseok ke dalam ruangan berpintu putih di depan mereka.

Minseok menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa dan mengusap tengkuknya, mencoba merilekskan diri. Menjadi sasaran pembunuhan berikutnya bukan hal yang menyenangkan tentu saja, tapi dia justru merasa begitu bersemangat karena kemungkinan besar dia akan berhasil menangkap pria itu jika pria itu berusaha menyerangnya.

Pintu ruangan terbuka lagi, tapi yang datang bukannya penata rias yang dijanjikan Kyungsoo, tapi malah pria yg paling tidak ingin dilihatnya saat ini. Sejak kejadian di butik waktu itu, Minseok merasa begitu canggung jika mereka berada terlalu dekat.

Dia merasa tidak nyaman dengan kehadiran pria itu. Bukan karena dia membencinya, tapi lebih dikarenakan akibat yang ditimbulkan pria itu terhadap tubuhnya.

" Aish, kenapa malah kau yang datang? Kalau kau mau pernikahannya berlangsung tepat waktu, seharusnya lau memanggil penata riasnya kesini, bukannya. ... "

Perkataan Minseok terpotong karena Luhan menarik tubuhnya sampai berdiri dengan kasar dan mencengkram lengannya, tidak membiarkan gadis itu kabur kemana-mana.

" Darah." ujar Luhan tajam dengan mata berkilat berbahaya. Minseok melirik tetesan darah yg mengotori bagian bahu bajunya dan mendongak menatap pria itu lagi.

" Bukan darahku" kata Minseok singkat.

Mata Luhan menelusuri tubuh gadis itu lekat-lekat, seolah ingin memastikan bahwa tidak ada sesuatu yang kurang dari gadis itu sejak mereka bertemu terakhir kali.

Minseok sedikit tertegun melihat penampilan Luhan pagi ini.

Setelan jas hitamya membalut tubuhnya dengan pas, walaupun dasinya terpasang serampangan dan rambutnya terlihat acak-acakan, tapi itu malah membuatnya terlihat semakin berbahaya dan menyilaukan mata .

Mau tidak mau, Minseok mengakui bahwa dalam sejarah 1 abad terakhir perbumian, mungkin pria di depannya inilah mahluk tertampan yang pernah dilahirkan. Sial, apa ada gangguan dalam otaknya sampai bisa berpikir seperti itu?

" Kau lolos kali ini. Tapi lain kali, jika kau muncul di depanku dalam keadaan tidak utuh, aku pastikan kau tidak akan pergi kemana-mana tanpa pengawasanku! "

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

" Aigoo, anak eomma cantik sekali! "

Minseok melongo kaget saat melihat ibunya tiba tiba saja sudah menghambur masuk ke ruang gantinya dan memeluknya erat-erat.

" Eo.. eomma. .. apa yg kau lakukan disini? " tanyanya bingung.

" Luhan mengirimkan pesawat pribadinya langsung untuk menjemputku dan aku berpikir... momen ini bukanlah momen yg akan aku acuhkan begitu saja. Ibu... dan kau... tidak bisa terlalu lama berlarut-larut dalam kesedihan. Sudah saatnya kita bergerak maju dan berhenti menoleh ke belakang. Lihat kau sekarang. Kau sudah menjadi seorang istri danmenantu. Kau sudah jadi milik orang lain. Dan aku akan mendampingimu saat kau melangkah menuju kehidupan barumu itu. "

" Eomma. ... "

" Dengarkan aku... aku tahu ini bukanlah pernikahan yang kau inginkan. Tidak ada seorang gadis pun yang menginginkan pernikahan yang terjadi dengan alasan seperti ini. Tapi aku menghargai Luhan yang langsung memintamu padaku dan menjelaskan semuanya. Ada beberapa hal yang tidak kau ketahui, Minseok. Hal yang akan kau ketahui nanti, setelah Luhan sendiri yang mengatakannya padamu. Kau... sebagai seorang istri yang baik, harus mendengarkan apapun yang dikatakan suamimu. Kau harus mempercayainya dan berada di sampingnya apapun yg terjadi. Dia berjanji padaku bahwa dia akan melindungi mu dan tidak ada alasan bagiku Untuk tidak mempercayainya. Kau akan bahagia hidup bersamanya. Mungkin sekarang tidak, tapi nanti kau akan bersyukur bahwa kau telah setuju untuk menjadikannya suamimu. "

Minseok tertegun mendengar ucapan ibunya itu. Kenapa ibunya yakin sekali bahwa Luhan adalah pria yg tepat untuk mendampinginya? Kata-kata manis macam apa yang telah dikatakan pria itu pada ibunya ini?

Tapi... sikap pria itu terlalu membingungkan. Setiap kalimat yang diucapkannya, sikap keluarganya pada Minseok , seolah menunjukkan bahwa pria itu memiliki ketertarikan khusus padanya. Gadis itu merasa ketakutan sendiri dengan hidup yg akan dijalaninya sebentar lagi. Bukan karena pria itu akan memiliki kehendak penuh atas dirinya, tapi lebih kepada ketakutan pribadinya. Kekhawatiran bahwa bisa saja dia...

" Eomma." panggil Minseok dengan suara tercekat.

" Bagaimana kalau... aku... aku khawatir kalau aku... jatuh cinta padanya. ..."

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Luhan berdiri gelisah di depan altar, mendadak gugup sendiri dengan tindakannya.

Bagaimana kalau gadis itu memutuskan untuk kabur dan tidak muncul dari balik pintu itu? Bagaimana kalau gadis itu benar-benar merasa tersiksa hidup dengannnya nanti?

Bagaimana kalu dia gagal membuat gadis itu jatuh cinta padanya? Kemungkinan kehilangan gadis itu nyaris mencekiknya sampai mati.Dia mendesah lega saat melihat pintu besar di depannya terbuka dan Minseok muncul bersama ayah angkatnya.

Luhan memang sengaja mengundang ketua KIA itu langsung kesini sebagai wali Minseok, yang akan menyerahkan gadis itu padanya. Dan tentu saja pria setengah baya itu sama sekali tidak menolak, mengingat betapa sayangnya dia pada gadis itu.

Luhan membiarkan tatapannya terkunci pada gadis itu. Dia bahkan tidak berusaha menyembunyikan ekspresi kagumnya sama sekali. Gaun yang dicoba Minseok waktu itu sekarang membalut tubuh Minseok dengan anggun, memberikan efek feminim pada gadis itu.

Rambut ikal panjangnya diikat sebagian dengan pita satin berwarna putih gading, yang senada dengan gaunnya. Poni jatuh menutupi keningnya, membuat gadis itu terlihat begitu muda dan sangat manis.

Minseok mencengkram lengan ayah angkatnya, berusaha menghilangkan kegugupannya berada di bawah tatapan semua orang. Dia bisa melihat Luhan berdiri jauh di depan, dengan terang-terangan menatapnya kagum. Dan entah kenapa Minseok merasa puas karena telah berhasil membuat ekspresi itu terlihat di wajah datar Luhan.

Seharusnya dia merasa bisa saja, karena ini bukan pernikahan yang diharapkannya, tapi sebaliknya, dia merasa perutnya bergolak dan tidak enak, menekan rasa canggung yangdirasakannya, sedangkan jantungnya berjumpalitan saat melihat sosok pria yg akan dinikahinya terlihat memukau di depan sana.

Cha Il Sung menyerahkan tangan Minseok yang digenggamnya ke tangan Luhan yang terjulur. Dia senang bisa melakukan tugasnya sebagai seorang ayah dengan baik. Tae Gil, sahabatnya, pasti juga akan bangga melihat hal ini dari atas sana Luhan menggenggam tangan Minseok ringan, meremasnya pelan untuk menenangkan gadis itu.

Mereka berbalik menghadap pendeta yang akan menikahkan mereka dan menunggupendeta membacakan janji pernikahan.

" Tuan Lu Han, di hadapan Tuhan dan semua yang hadir disini, maukah kau berjanji untuk menjadikan Kim Min Seok sebagai istrimu? Menjadi sahabatmu, kekasihmu, ibu dari anak-anakmu, setia padanya dalam susah ataupun senang, dan dalam kebahagiaan ataupun penderitaan selama kalian hidup? "

" Ya, saya bersedia. " jawab Luhan mantap.

" Nona Kim Min Seok, di hadapan Tuhan dan semua yang hadir disini, maukah kau menjadikan Lu Han sebagai suamimu? Pasangan hidupmu satu-satunya, orang yang akan kau percayai dan hormati, menjadikannya pria yang akan ikut tertawa dan menangis bersamamu.Bersediakah kau mencintainya dengan setia dalam susah ataupun senang, tanpa menghiraukan rintangan yang mungkin akan kalian hadapi bersama? Satu-satunya pria yang akan kau berikan tangan, hati, dan cintamu, dari hari ini dan seterusnya, selama kalian hidup? "

Minseok menguatkan genggamannya di tangan Luhan, menarik nafas pelan dan mengangguk.

" Ya, saya bersedia. " ujarnya dengan suara sedikit bergetar, tahu bahwa saat janji itu keluar dari bibirnya, dia akan menjadi milik pria itu seumur hidup, bersedia ataupun tidak.

Luhan memasangkan cincin yang mereka pilih bersama waktu itu ke jari manis tangan kiri Minseok dan gadis itu dengan kepala yang terasa sedikit pusing, melakukan hal yang sama.

" Silahkan mencium pengantimu. "

Mereka berdua menoleh kaget ke arah sang pendeta, kemudian saling bertatapan satu sama lain dengan mata terbelalak lebar. Luhan mengutuk dirinya sendiri.Bisa-bisanya dia melupakan hal seperti ini begitu saja! Minseok menatap Luhan dengan pandangan bertanya dan pria itu hanya mengedikkan bahunya, tidak bisa berbuat apa-apa.

" Ayo cium! Cium! " teriak semua orang serempak.

Luhan memegangi kepalanya yang mendadak terasa sakit, menyumpah-nyumpah sendiri dalam hati. Dia tidak bisa melakukan kontak seperti itu dengan gadis di depannya. Dia tidak tahu apa dia bisa menahan diri atau tidak saat melakukannya. Pria itu bahkan tidak punya rencana sedikitpun untuk melakukannya dalam waktu dekat, karena dia tahu, sekali dia melakukan hal itu, dia akan ketergantungan seperti pecandu heroin.

" Lu Han kau pria atau bukan? " teriak Chanyeol memanasi.

" Aish, sial! " umpat Luhan sambil mengulurkan tangannya dan merengkuh tengkuk Minseok, menarik gadis itu mendekat, dan menyatukan bibir mereka. Hanya sedetik, karena detik berikutnya mereka saling melepaskan diri seolah terkena sengatan listrik.

Minseok mengerjap dan menatap Luhan yang juga tengah menatapnya syok. Astaga, lebih baik yang tadi itu tidak terjadi lagi Kalau dia tidak mau mereka berakhir di atas ranjang seperti yang diisyaratkan Luhan waktu itu.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Luhan's Home, Yeoju, Seoul

12.00 AM

" eonni-ya, aku serius! Ada pekerjaan mendesak yang harus aku selesaikan. Aku tidak bisa pergi bulan madu begitu saja! " seru Minseok dengan nada memohon saat Lu Na terus mendorong tubuhnya naik ke atas pesawat jet pribadi Luhan yang sudah terparkir di halaman belakang rumah mereka.

Luhan berdiri di belakang nunanya itu tanpa berniat menolong sama sekali. Bahkan dia terlihat geli melihat Minseok yang terus menerus merengek seperti anak kecil.

" Eomma! " panggil Minseok, berusaha meminta belas kasihan ibu mertuanya. Hal yang sia-sia, karena wanita itu menggeleng dan mengangkat bahunya menolak memberi bantuan.

" Sudahlah, nuna, kau jangan mengganggunya terus. " ujar Luhan akhirnya.

" Kita hanya pergi sehari, besok juga pulang. Berhentilah merengek-rengek seperti itu, kau membuatku malu saja" tukas Luhan sambil berjalan mendahului Minseok menaiki pesawat.

Dengan emosi yang sudah naik ke ubun-ubun, Minseok melepas sepatu kets yang dipakainya dan melemparnya ke belakang kepala pria itu dan tersenyum puas saat lemparannya tepat mengenai sasaran.

" Mati Kau! " gumamnya senang, merasa bangga saat Lu Na bertepuk tangan dan berseru penuh kekaguman.Luhan berbalik dengan wajah merah padam menahan marah.

" KAU MAU KULEMPAR KE NERAKA, HAH? "

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Verona Airport, Verona, Italy

03.00 PM

Minseok berusaha mengejar langkah Luhan yang panjang-panjang sambil menarik kopernya dengan susah payah.

Pria itu terus mendiamkannya selama di pesawat tadi dan Minseok merasa tidak enak sendiri. Walau bagaimanapun ini negeri yang asing baginya dan bukan hal bijak jika mereka terus perang dingin seperti ini.

" Yak, kau masih marah padaku? " tanya Minseok saat akhirnya dia berhasil menjejeri langkah pria itu.

" Menurutmu? " balas Luhan dingin.Minseok menahan diri untuk tidak meneriaki pria itu. Sebagai gantinya dia mengusap-usap dadanya sendiri untuk meredakan emosi.

" Ya sudah, aku minta maaf. "

" Apa seperti itu caramu minta maaf? Tidak ada tulus-tulusnya sama sekali. "

" Iya, aku minta maaf! " geram Minseok kesal.

Luhan mengacuhkannya dan berjalan santai ke arah Mobil Ferrari merah yang terparkir di depan pintu masuk airport.Seorang pria yang sepertinya berkebangsaan Italia menyerahkan kunci bersimbol kuda jingkrak itu kepada Luhan dan membungkuk hormat sebelum berlalu pergi.

" Ayo masuk! Kau mau kutinggal?"Minseok yang tadi terpaku langsung terlonjak kaget mendengar teriakan pria itu.

" Dia benar-benar punya kekayaan di seluruh penjuru bumi ya? " gumam gadis itu tak percaya.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Casa di Giulietta, Via Cappello, Piazza delle Erbe, Verona, Italy

04.00 PM

Minseok menatap patung Juliet di depannya dengan kening berkerut heran. Daya tarik apa yang dimiliki patung itu sampai begitu banyak wanita yang rela menempuh jarak ratusan ribu mil untuk datang kesini dan menulis surat cinta picisan, berharap sang Juliet memberi nasihat bagus untuk kisah percintaan mereka? Memangnya patung itu bisa menulis? Dan bagaimana mungkin hal bodoh ini berlangsung berpuluh-puluh tahun bahkan di zaman yang amat sangat modern seperti sekarang?

" Tampangmu itu bisa membuat semua gadis disini mencaci-makimu tahu. " komentar Luhan geli.

" Siapa suruh mereka semua bodoh sekali" dengus Minseok tak peduli.

" Ayo pergi! Aura disini sangat memuakkan.Kau tidak mual mendengar gadis-gadis itu menangis seperti orang gila? Cih, siapa suruh mereka terlalu tergila-gila dengan seorang pria? "

" Nuna bilang kau akan senang diajak kesini, tapi ternyata aku benar. Kau tidak suka hal-hal aneh seperti ini. "

" Hal feminim yang menjijikan. Setidaknya aku tidak pernah menangis karena seorang pria. "

" Karena kau memang belum punya kisah cinta sama sekali kan Nyonya Lu? " ejekLu Han.

" Aku tidak merasa terhina karena belum pernah jatuh cinta. Dan berhenti memanggilku seperti itu! "

" Apa? Nyonya Lu ? Itu kan memang namamu. Sekarang kau istriku kan? " ujar Luhan enteng.

Minseok mengacuhkannya dan berjalan keluar dari kawasan mengerikan itu.Ada beberapa kafe dipinggir jalan dan turis yang berlalu-lalang sambil membawa belanjaan atau sekedar berjalan-jalan menghabiskan waktu. Sepertinya di tempat ini AuthoChef belum terlalu terkenal, sehingga kafe dan restoran masih memasyarakat.Minseok berbalik dan tersenyum manis ke arah Luhan, membuat pria itu menatapnya curiga.

" Bagaimana kalau kau mentraktirku secangkir kopi? "

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Caffe delle Erbe, Piazza delle Erbe

04.15 PM

"Iniyang kau maksud dengan secangkir kopi? " ujar Luham sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya melihat nafsu makan gadis di depannya itu. Gadis itu memang memesan kopi, tapi berlanjut dengan sepiring besar pizza, Pizzocheri ( pasta dengan keju dan sage) serta Casoncelli (sejenis raovioli).Dan dia baru saja memesan es krim dalam porsi besar.

" Sejak pesta pernikahan tadi pagi aku bahkan belum makan sedikitpun. Tentu saja sekarang aku kelaparan! " kata Minseok dengan mulut penuh, berusaha memberikan pembelaan diri.Luhan berdecak dan mengulurkan tangannya, membersihkan saus yang berlepotan di bibir gadis itu, kemudian melap tangannya dengan tisu yang tersedia diatas meja.

" Nafsu makanmu seperti babi saja! "

" Apa pedulimu? "

" Kopi, mengandung kafein, bisa menyebabkan penyakit jantung, paru-paru maupun ginjal.Es krim mengandung gula dan semacamnya, bisa membuatmu terserang diabetes. Dan kau suka pedas kan? Itu bisa menyebabkan radang usus buntu. Semua makanan kesukaanmu itu mengandung resiko. "

Minseok melongo mendengar penjelasan panjang lebar pria itu.

"Kau mau menjadi konsultan kesehatan?"

" Tidak " jawab Luhan dengan wajah serius.

" Aku hanya ingin menghindarkanmu dari kemungkinan mati lebih cepat. "

" Mwo? "

" Aku akan menyuruh karyawanku menemukan cara untuk menyembuhkan penyakit-penyakit itu. Sampai sekarang penyakit jantung, diabetes, dan paru-paru masih sulit disembuhkan, kan? Jadi, kalau mereka berhasil, aku bisa tenang membiarkan mu memakan makanan-makanan itu. "Minseok nyaris tersedak pizza yang sedang dikunyahnya. Astaga pria ini, apa dia sudah Gila?

" Apa maksudmu? "

" Kurang jelas? Kau ini bodoh sekali ya! Aku tidak mau kau mati terlalu cepat. Itu maksudku." ujar Luhan memperlihatkan tatapan betapa-bodohnya-kau-ini.

" Aku juga mengerti kalau itu! Maksudku, Memangnya apa bedanya kalau aku cepat mati atau tidak bagimu? "

" Lagi-lagi petanyaan bodoh Lu Min Seok. Tentu saja karena aku tidak suka jika tidak bisa melihatmu. Masa kau tidak mengerti juga? Otakmu itu benar-benar pentium rendah, ya! "

" YAK! "Luhan menyilangkan tangannya di depan dada dan menatap istrinya itu dengan intens, membuat wajah gadis itu memerah tidak karuan.

" Aku bisa saja hidup tanpamu. Tapi aku tidak mau melakukannya. Karena aku tahu betapa buruknya keadaanku jika itu terjadi. "

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Siena, Italy

05.30 PM

Pandangan Minseok terfokus pada layar communicator dalam genggamannya yg sedang menampilkan beberapa data penting terkait kasus pembunuhan 5to5.

Sebenarnya pikiran gadis itu sama sekali tidak berada disana. Dia hanya mencari kesibukan selama perjalanan hening yang sangat tidak nyaman ini.

Dia melirik sedikit ke arah Luhan yang sedang konsentrasi mengemudi di sampingnya. Satu hal yang baru diketahuinya tentang Luhan, pria itu benar-benar menyukai kecepetan. Sepertinya dia tidak pernah mengemudi di bawah 120 km/jam.

Dan kesukaan pria itu yang lain adalah menggoda Minseok hingga nyaris membuat gadis itu tidak bisa menghirup oksigen dengan benar. Dasar Minseok bodoh, yang tadi itu bukan sekedar godaan, dia benar-benar serius dengan ucapannya, batin Minseok dalam hati.

Gadis itu tidak habis pikir kenapa pria di sampingnya ini bisa jatuh cinta padanya tanpa dia tahu sendiri alasannya. Dia bahkan tidak ingat pernah bertemu pria ini sama sekali, tapi pria itu dengan gilanya rela menunggunya selama 14 tahun. Hei apa dia pikir 14 tahun itu sebentar? Tapi jika itu semua memang benar, jelaslah sudah alasan pria itu menikahinya secara paksa.

Lu Han ini mau mengikatnya sehingga dia tidak bisa kabur lagi kemana-mana.

Menilik dari sifat pria itu, hal tersebut sama sekali tidak mengherankan.Minseok mengetuk-ngetukkan jarinya sembarangan ke layar communicator. Sebenarnya amat sangat mudah sekali jatuh cinta pada pria ini. Tampan, kaya, memiliki separuh planet ini, dan Sepertinya jatuh cinta padanya setengah mati.

Kesampingkan sifatnya yang dingin, egois, tidak mau kalah, sombong, dan sembarangan itu, dia benar-benar cerminan pria sempurna abad ini. Tapi bukan itu semua yg menarik perhatian Minseok, bukan segi fisik maupun materinya, tapi lebih kepada dampak yang diberikan pria itu terhadap sistem kerja tubuhnya.

Dia suka cara pria itu menatapnya, tajam, namun anehnya seperti memperlihatkan secara gamblang perasaan pria itu, terutama tadi pagi saat pria itu menunggunya di depan altar, dan sore tadi, saat pria itu dengan terang-terangan mengaku bahwa dia tidak bisa hidup tanpa Minseok.

Dia bukannya berlagak bodoh, pura-pura tidak tau perasaan pria itu terhadapnya.

Hanya saja dia masih tidak percaya dengan kenyataan bahwa pria itu jatuh cinta padanya saat dia masih berumur 6 tahun.Apa dia semenarik itu saat berumur 6 tahun sampai-sampai pria itu jatuh cinta dan terpesona padanya? Itu terdengar sedikit tidak masuk akal.

Minseok mendesah dan memasukkan communicator-nya ke dalam saku celana. Tidak ada yang bisa dilakukannya lagi dengan benda itu. Dia bahkan tidak bisa berkonsentrasi terhadap kasus pembunuhan itu sekarang, selama pria ini ada di sampingnya, membuat pikirannya melayang ke mana-mana.

Luhan melayangkan pandangannya ke luar jendela mobil, dan sukses melongo melihat pemandangan yang dilihatnya.Gadis itu menelan ludahnya dengan susah payah. Padang rumput, pemandangan perbukitan, dan jalanan berkelok yang mereka lalui, area seluas itu, dibuat hanya untuk satu rumah megah yg berdiri angkuh tanpa pesaing diatas bukit .

Benar-benar tidak ada pemukiman lain di sekelilingnya.Dan dia bisa dengan mudah menebak bahwa rumah yang terbuat dari batu bata merah dan terlihat seolah dari masa lampau itu adalah milik pria di sampingnya ini. Sepertinya pria itu tergila-gila dengan tempat luas. Benar-benar cerminan orang yang kekayaannya mencengangkan dan tidak tahu harus menggunakannya untuk apa.

" Kau suka sekali membuang-bung uang ya! " ujar Minseok tidak tahan untuk berkomentar.Luhan menoleh dan menyeringai kecil.

" Aku hanya suka ketenangan dan privasi. Itu agak sulit didapatkan, kau tau. " Minseok mendengus mendengar penjelasan yang terlalu sederhana dari pria itu.

"Kalau kau pusing menggunakan uangmu untuk apa, kenapa kau tidak menyumbangkannya saja? "

" Aku punya panti sosial di setiap negara dan dengan rutin menyumbang kesana." Minseok mengernyit, tahu bahwa pria itu serius dengan ucapannya.

" Dasar orang kaya." umpat Minseok dengan suara pelan, tapi Sepertinya terdengar oleh Luhan, karena sesaat kemudian pria itu tertawa geli melihat kekesalannya.

"Hei, kau lupa, ya? Saat ini kau kan istriku, jadi apa yg kumiliki juga milikmu.Dan asal kau tau, kau baru saja jadi triliuner, gadis bodoh!"

" Makan saja uangmu itu! Aku tidak mau ikut-ikutan! "

" Ah, padahal aku baru saja memenuhkan isi rekeningmu.Coba bayangkan berapa banyak es krim, coklat, novel-novel pembunuhan, dan kaset game yang bisa kau beli. "

Minseok memutar bola matanya dan tanpa sadar mencondongkan tubuhnya ke arah pria itu.Bayangan makanan dan benda-benda kesukaannya yang disebutkan Luhan tadi membuatnya dengan cepat berubah pikiran.

" Hei berapa isi rekeningku? "

" 1 milyar dolar. "

" KAU GILA?!!! "

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Siena, Italy

09.00 PM

Luhan menatap layar communicator-nya tanpa minat.Tidak ada satupun penjelasan dari sekertaris pribadinya yg ditangkapnya dari tadi. Laporan membosankan tentang pemasaran produk terbaru mereka di New York sama sekali tidak bisa mengalihkan pikirannya dari gadis yang sedang duduk santai di sampingnya ini.

Tidak peduli jika keuntungan yang didapatkannya bernilai 10 milyar dolar sekalipun.

Luhan melirik Minseok dari sudut matanya. Gadis itu dengan bosan memutar-mutar remote di tangannya, tidak berminat dengan acara yang sedang ditontonnya.

Terang saja, yang ditampilkan di layar TV adalah film kuno Romeo Juliet hasil karya William Shakespeare yang jelas-jelas berhasil menyita perhatian jutaan penonton dari seluruh dunia berpuluh-puluh tahun yg lalu, tapi tidak dengan gadis di sampingnya ini.

Sepertinya Leonardo di Caprio adalah bintang terkenal di zamannya, yang saat ini sudah terkubur di bawah tanah dan mungkin tetap hidup di dalam kenangan para penggemar fanatiknya. Luhan berani bertaruh bahwa ini adalah pertama kalinya bagi Minseok menonton film dengan akhir tragis ini, berikut umpatan-umpatan yang ditahannya dalam hati mengingat kebencian gadis itu terhadap kisah roman picisan yang disajikan ole para aktris dan aktor di layar.

Menurut Luhan sendiri kisah itu sedikit tidak masuk akal. Omong kosong tentang seorang pria yang bunuh diri karena kekasihnya mati. Memangnya nyawa sebegitu tidak berharganya sampai kau membuang-buangnya begitu saja hanya demi seorang wanita?

Minseok menggertakkan giginya dan menggumam kesal

" Aku tidak pernah suka sad ending. Apa susahnya membuat sebuah kisah akhir yg bahagia? Orang menonton film dan membaca novel untuk mencari hiburan, bukannya untuk menambah tingkat ke-stress-an mereka."

" Di dunia ini tidak ada happy ending." sahut Luhan .

" Coba saja kau pikir, pada akhirnya setiap manusia pasti mati. Apa mati itu happy ending? Kau hidup dengan kekasihmu sampai tua, lalu apa? Mati, kan? Pada akhirnya juga akan tetap berpisah. " Minseok mendelik dan mengernyitkan keningnya.

" Kau mereusak imajinasiku tentang kehidupan bahagia saja, Tuan Lu! "

" Tapi yang aku ungkapkan adalah fakta"

Minseok memilih mengabaikan pria itu dan menoleh ke arah film sialan itu lagi.

Baiklah, dia akan berusaha menonton nya sampai habis kali ini, setidaknya sekedar untuk memuaskan rasa ingin tahunya terhadap film yang menjadi kesukaan nyaris separuh mahluk berjenis kelamin wanita di muka bumi ini.

Walaupun itu berarti dia harus menggigit lidahnya sendiri untuk menelan kembali semua caci-maki yang ingin menyembur keluar saat mendengar barisan dialog menjijikan ataupun bagian ending yg sangat dibencinya setengah mati.

Gadis itu bertahan di sepuluh menit pertama, tapi gagal di menit berikutnya karena dia tidak bisa menahan rasa kantuk yg mendera dan berakhir dengan kepala terkulai jatuh di bahu Luhan.

Pria itu menoleh karena gerakan yang begitu tiba-tiba itu, meskipun akhirnya dia malah tersenyum dan mengelus kepala Minseok pelan, dengan hati-hati membaringkan kepala gadis itu ke pangkuannya.

Dia membiarkan menit-menit berikutnya terlewat dengan memandangi tekstur wajah Minseok, memuaskan diri mempelajari setiap sudut yang terletak di wajah gadis itu, wajah yang tidak dilihatnya setelah 14 tahun berlalu dengan begitulama dan membosankan.

Kegiatan Luhan terhenti karena communicator-nya bergetar. Nomor tidak dikenal, tapi kode awalnya adalah kode yg hanya dimiliki karyawan KNI. Luhan menon-aktifkan video call-nya dan memilih panggilan suara saja.

" Yeoboseyo? "

"Luhan-sshi? Ini aku, Do Kyungsoo . Ada yg harus aku bicarakan denganmu. Apa Minseok ada disana? Kalau ada mungkin aku akan menelpon lagi nanti. "

" Gwaenchana. Dia sudah tidur. Waeyo? "

" Pagi tadi, saat kami datang ke TKP pembunuhan, Minseok menemukan pesan yang ditinggalkan si pelaku untuk nya. Aku diam-diam melihat surat itu tanpa dia sadari. Pesan Itu berbunyi bahwa korban berikutnya yang diincar si pelaku adalah Minseok dan jika dia berhasil menyingkirkan Minseok , kaulah target berikutnya. Aku khawatir istrimu akan berbuat ceroboh dengan mengumpankan dirinya sendiri agar bisa menangkap pria brengsek itu. "

Luhan mengepalkan tangannya tanpa sadar saat mendengar penjelasan Kyungsoo.

Pria sialan itu mengincar nyawa Minseok? Apa dia tidak tahu sedang berurusan dengan siapa?

" Ye, aku mengerti, Kyungsoo-sshi. "

" Ng... kau akan melindunginya, kan? Maksudku... "

" Tenang saja. " sela Luhan. Ada nada dingin yg menyergap saat dia bicara.

" Aku akan memastikan keselamatan gadis itu diatas segalanya. Kau tidak perlu khawatir."

" Ah, ye. Aku tahu bahwa aku bisa mempercayaimu. Gamsahamnida. "

Luhan mematikan communicator-nya dan menunduk menatap Minseok yang masih tertidur pulas di pangkuannya. Wajah gadis itu tampak polos tanpa dosa, walaupun Luhan tahu gadis itu bisa melakukan segala hal yang menakutkan yang bisa membahayakan nyawanya.

Pria itu menyentuhkan telunjuknya di pipi Minseok dengan hati-hati agar tidak mengganggu tidur gadis itu, Kemudian menarik nafas berat.

" Apa kau menganggap ucapanku tadi sore hanya main-main? Gadis bodoh, aku serius dengan pernyataanku bahwa aku tidak suka hidup tanpamu. Dan aku bisa melakukan apa saja untuk mencegah kematianmu sebisaku.Termasuk jika harus membunuh untuk mewujudkannya"

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Luhan 's Home, Siena, Italy

07.30 AM

Minseok menggeliat sesaat dan membuka matanya. Dia buta waktu sekarang, tapi sepertinya sudah pagi. Astaga, seingatnya di tertidur saat sedang menonton film tragis semalam, lalu... kenapa sekarang dia ada di kamar?

Gadis itu turun dari tempat tidur dengan pikiran masih belum terlalu fokus.Dia membuka salah satu pintu di kamar itu, berharap itu adalah pintu kamar mandi pribadi. Dan tebakannya tepat. Setidaknya dia bisa sedikit menyegarkan diri sebelum mencari. ...suami barunya. Memikirkan istilah itu saja sudah membuat tawanya nyaris menyemburkeluar.

Minseok mencipratkan sedikit air dingin ke wajahnya, mengejutkan beberapa sistem kerja tubuhnya yang masih setengah tertidur. Dia mengambil salah satu sikat gigi yg terletak di wastafel dan mulai menggosok giginya, sedangkan otaknya masih berkelana kesana kemari.

Salah satu yang dipikirkannya adalah kenyataan bahwa menikah ternyata tak seburuk yang diperkirakannya. Setidaknya jika kau mendapatkan suami seperti itu.Setelah merasa cukup segar, gadis itu turun ke bawah dan mendapati Luhan sedang duduk di meja makan dengan perhatian terpusat ke communicator-nya.

Pasti bisnis lagi. Cih, apa dia tidak pernah bosan setiap hari bergelut dengan semua hal yg mengerikan itu? Minseok menarik salah satu kursi dan menjatuhkan diri ke atasnya, melirik makanan yang tersedia di atas meja.

" Tidurmu nyenyak? " Tanya Luhan berbasa-basi.

Awalnya Minseok pikir itu hanya basa-basi biasa, tapi Luhan mematikan communicator-nya setelah memberi tahu lawan bicaranya bahwa dia akan menghubungi orang itu lagi nanti, kemudian mendongak menatap Minseok penuh minat.

Mendadak Minseok tersadar bahwa pria itu, tidak peduli sedang sesibuk apapun, selalu menghentikan kegiatannya dan menaruh perhatian penuh jika berbicara pada Minseok.

Mengetahui hal itu membuatnya lagi-lagi merasa... dibutuhkan? Sial, dia tidak suka berada dalam situasi menjurus romantisme seperti ini!

" Kau yg memindahkanku ke kamar semalam? "

" Hmm, " gumam Luhan sambil mendorong piring dengan roti isi bacon dan lelehan keju mozzarella di atasnya ke arah gadis itu.

" Rose membuatkannya untukmu. " ujar Luhan memberitahu.

Rose adalah salah satu pelayan yang bekerja di rumah itu. Dan sepertinya wanita paruh baya itu senang sekali bisa memasak lagi setelah sekian lama tidak ada yang mengunjungi rumah ini.

Saat mereka sampai kemarin sore saja wanita itu menyambut mereka dengan senyum lebar di wajahnya dan langsung memberondong mereka dengan pertanyaan apa mereka sudah makan dan apa yg mereka inginkan untuk menu makan malam.

Minseok meraih roti isi itu dan menggigitnya dalam satu gigitan besar. Dia merasa tidak perlu memperlembut cara makannya di hadapan pria itu. Toh dia bukan putri kerajaan. Lagipula sepertinya pria itu malah senang melihat Minseok berani bersikap sembarangan di depannya.

" Apa kau mau langsung pulang pagi ini? Atau kau mau jalan-jalan lagi? " tanya Luhan sambil memakan roti isi bagiannya.

" Aku punya banyak kasus yang harus kuselesaikan. Kau pikir aku masih punya waktu untuk jalan-jalan? " dengus Minseok. Luhan mengabaikan ucapan ketus gadis itu dan meminum jus jeruknya.

" Mulai sekarang setiap hari kau harus makan siang bersamaku. Aku akan menjemputmu dan kau harus ikut denganku. "

" Cih, ajakan macam apa itu? Lagipula aku biasa makan di kantor. Makan dari AuthoChef jauh lebih praktis dari pada harus makan keluar. "

" Aku tidak menerima penolakan." ujar Luhan dengan nada yang tidak bisa diganggu gugat.

Makan siang bersama adalah salah satu rencananya untuk membuat gadis itu berada dalam pengawasannya. Setidaknya dia bisa memastikan gadis itu aman. Dan dia juga sudah memastikan tentang mengantar-jemput gadis itu setiap hari.

Malam hari adalah waktu yang rentan terhadap penculikan, terutama jika gadis itu berada dalam ancaman pembunuhan seorang pembunuh berantai yang tidak waras.

Meskipun itu berarti dia harus pulang ke rumah lebih awal dari jadwalnya yang biasa dan itu termasuk menyingkirkan beberapa proyek internasional yang biasanya dia pelajari sampai nyaris tengah malam.Tapi itu dulu, sebelum dia memiliki istri yang membuatnya ingin cepat pulang ke rumah.

" Kau mau kuantar jemput setiap hari? " tanya Luhan, yang di telinga Minseok nyaris terdengar lebih seperti perintah, bukan pertanyaan.

" Kau sedang mengekangku? " seru Minseok kesal.

" Hanya memastikan keselamatanmu. " jawab Luhan tenang.Minseok melirik Luhan curiga.Apa pria itu tahu bahwa sasaran pembunuh berantai berikutnya adalah Minseok dan berusaha memberikan perlindungan diam-diam semampunya?

Tapi Bagaimana bisa? Orang pertama yang datang dan memeriksa lokasi kejadian adalah Minseok dan Kyungsoo, dan gadis itu menyembunyikan surat itu tanpa sepengetahuan siapapun, jadi mustahil jika ada orang lain yang tahu.

" Bagaimana kalau aku mau pergi ke suatu tempat? "

" Tinggalkan saja mobilmu di parkiran gedung. Kau tahu bahwa Five State tidak terkalahkan dalam masalah keamanan, jadi tidak ada yang perlu kau khawatirkan. "

Five State adalah sebutan untuk area gedung KNI yg terdiri dari 5 gedung utama, KNI, KIA, STA, SRO, dan ACC, dan Luhan Benar, tidak ada yang bisa meragukan pengamanan gedung itu.

" Aish, sebenarnya ada apa sampai kau bersikap seprotektif ini padaku?" Luhan mencondongkan tubuhnya di atas meja dan menatap Minseok dengan raut wajah serius.

" Kau ingat ucapanku kemarin? Aku hanya ingin memastikan bahwa kau bisa hidup lebih lama.Dan mengingat statusmu yg sudah menjadi istriku, aku radar ancaman pembunuhan terhadapmu akan meningkat drastis. Dan aku akan melakukan segala cara untuk mencegahnya. "

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Luhan bergerak gelisah di kursi penumpang yang didudukinya. Dia menatap Luhan yang sedang asyik memencet-mencet tombol di sampingnya dengan raut wajah cemas.

" Yak, kau yakin ini aman? Kau sudah pernah mengendarainya? " tanya Minseok khawatir.

Suaranya bahkan terdengar sedikit gemetar saat mengucapkan nya.

Luhan menoleh sedikit dan kembali sibuk dengan pekerjaannya.

" Kau tenang saja. Aku berani mempertaruhkan separuh kekayaanku untuk menjamin bahwa kendaraan cantik ini aman "

" Kendaraan cantik? " dengus Minseok tak percaya.

Kendaran cantik yang dimaksud Luhan adalah mobil terbang yang akan dilempar ke pasaran bulan depan.Yang publik prediksi hanyalah mobil yang dapat terbang melayang di atas langit, bukan sebuah mobil yang bisa mencapai kecepatan 700 km/jam hanya dalam satu detik, melayang di angkasa, dan lebih dari aman untuk dikemudikan melintasi samudera, bahkan bisa digunakan sebagai kapal dadakan jika ingin melakukan perjalanan di atas air.

Karena itu dinamakan Amphibi, kendaraan itu seperti katak yan bisa hidup di dua tempat, darat dan air.Bisa dikatakan mobil dengan desain seperti mobil Ferrari keluaran terbaru yang biasa dibawa Luham kemana-mana ini merupakan kapal dan pesawat dalam model lebih kecil. Dan ini adalah hasil karya dua sepupu yang paling terkenal di seluruh Asia, Lu Han dan Park Chanyeol. Mereka menamakannya Amphibithrope.

Dan sekarang, entah bagaimana caranya mobil itu bisa mendarat di garasi rumah Luhan yang terletak di Siena ini, Minseok ketakutan setengah mati saat pria itu berencana memulangkan mereka ke Korea dengan benda yang belum di uji coba ini.

Apa Luhan berencana bermain-main tidak hanya dengan benda ini, tapi juga dengan nyawa mereka?

" Tenanglah " ujar Luhan memotong pikiran negative yang berseliweran di benak Minseok, tiba-tiba mengacak-acak rambut gadis itu dengan tangan kanannya.

" Aku tidak mungkin membuatmu dalam kondisi bahaya. Mobil ini aman, oke? Aku sendiri yang melakukan pengecekan terakhirnya. Dan Chanyeol mengizinkanku menjadi orang pertama yg mencobanya. Dia... terlalu sibuk dengan gadis barunya" jelas Luhan terlihat geli mendengar ucapannya sendiri.

Ucapan Luhan bisa sedikit menenangkan Minseok, tapi tidak sepenuhnya. Gadis itu masih terlihat gusar dan menelusuri bagian dalam mobil itu dengan matanya yang berputar panik.

" Aku tahu kau takut ketinggian, tapi aku akan memastikan bahwa kau tidak akan terjatuh dari ketinggian 1500 meter. Kau pikir aku bodoh. "

" Dari mana kau tahu aku takut ketinggian? Kau menyelidiku ya? " seru Minseok kesal. Rasa kesal mulai menggantikan kepanikan yg melandanya.

" Aku punya detektif hebat yang mengenalmu luar dalam dan bisa menjawab apapun pertanyaan yang aku ajukan tentangmu. Kau takut ketinggian, tapi tidak punya masalah jika harus naik pesawat ataupun lift, asalkan benda yang membawamu jauh dari tanah itu tertutup dan tidak menampakkan pemandangan di luar. Karena kebetulan kaca mobil ini transparan, kau menjadi ketakutan, aku benar kan? "

" Siapa yang kau suruh mengawasiku, hah? "

" Ibumu. " jawab Luhan lantai, membuat Minseok melongo sesaat.

Astaga, sejak kapan ibunya jadi mata-mata pria itu?

To be continue

Ya kini akhirnya Nuna tau masalahnya hanya karena belum upgrade aplikasi betapa bodohnya aku ... Yang bingung sama crime nya nanti juga bakal jelas kok oke... jadi stay tune aja