LavenderBlues
Story by Sunflowers37
Picture by Uzumaki Ani
Prompt : Buah Hati
Spesial for #NaruHinaWeddingCelebration
Summary : Aku mengansumsikannya sebagai, dia juga tertarik. Yang jelas, dia berbeda dari wanita itu. Wanita yang senantiasa menungguku di rumah, wanita yang lebih pendiam semenjak kami menikah. Rate M/Not Eksplisit/Hurt/Comfort/NTR.
.
.
.
Happy Reading,
Enjoy
Aku pernah berpikir, bagaimana takdir mengambil andil dalam kisah manusia. Sebagaimana sutradara mengarahkan lakon pemainnya demi ending yang dia mau. Ketika orang-orang berbicara bila kau berusaha lebih keras dengan sendirinya takdir kan bergulir, yang kutangkap, itu sungguh lucu. Nyatanya, takdir tak seindah mimpi dalam buaian tidur kita.
Banyak hal kurasa jika membahas predestinasi, pun impresinya. Tak dapat kupungkiri, pertemuanku dengan perempuan itu jua sebab takdir. Badai besar yang mempertemukan kami di teras pertokoan, menjebak diri sekaligus perasaan untuk saling lebih kenal. Dia muda, cantik, dan menawan. Aku pria normal, tentu saja gejolak hasratku akan senang jika kami lebih dekat. Aku mengajaknya berbincang singkat. Entahlah, konversasi ringan yang terkesan basa-basi itu justru membawa obrolan kami ke dalam nuansa lebih hangat. Dia bahkan bercerita panjang, dan kupikir ini sedikit di luar dugaan. Dia menyambutku baik, dan aku mengansumsikannya sebagai dia juga tertarik. Singkatnya kami bertukar email dan nomor telepon. Dia mengaku seorang manager di sebuah restorant. Aku sebenarnya tak mempermasalahkan dia sungguh pekerja atau pengangguran. Yang jelas, dia berbeda dari wanita itu. Wanita yang senantiasa menungguku di rumah, wanita yang lebih pendiam semenjak kami menikah. Yah, aku tidak lagi bujang dan aku tak menolak fakta tersebut. Tetapi entah mengapa wanita yang dahulu begitu kupuja kini teramat membosankan. Dia masih sama: cantik, lemah lembut, dengan helai terurai panjang. Hanya saja, ada hal membuat dia berbeda sekarang. Istriku sangatlah mendambakan buah hati. Tetapi sekali lagi takdir memainkan perannya. Dari pada memberi kami putri atau putra, takdir memilih mengungkung keceriaan istriku di dimensi tak tertembus. Dan mengantinya dengan hal yang membuatku bertanya, 'Bagaimana bisa, dahulu aku mencintainya?'
.
...
"Tadaima?"
Tanpa menghidupkan lampu, kaki jenjangnya lasung melangkah ke ruang atas. Pantofel hitamnya ia tanggalkan di depan, berganti flip-flop santai masuk ke dalam kamar.
Rupanya wanitanya telah tertidur. Lelap manik amethys itu memejam, memeluk guling, menghadap kiri seraya selimut menutupi dada setakat kaki.
Naruto terlihat melepas kancing kemejanya. Jas hitam sedari tadi menggantung di lengan ia lempar ke sofa. Kaus oblong putih gading lantas Naruto ambil dari almari, mengganti kemeja biru muda membalut torsonya.
Naruto lalu turut merebahkan punggung di ranjang size king itu. Membaringkan tubuh lelahnya, di sisi perempuan berhelai indigo panjang yang beberapa musim lalu 'masih' ia kasihi.
Naruto ingat, betapa perempuan dari marga Hyuga ini dulu sangat dicintainya. Betapa ketiadaan seorang Hinata dalam sedetik, membuatnya sesak bak kehilangan oksigen untuk bernapas. Ia pun masih terngiang, janji di mana ia mengucap―meminta si putri Hyuga menjadi bagian hidupnya. Shiramuku yang dipakai Hinata dan montsuki haori hakama yang dikenakannya kala itu bahkan tersimpan rapi sampai kini. Bayangan amethyst dalam busana kimono putih dan wata boushi sebagai tudung kepala, pula cukup jelas ia kenang. Wajah cantik wanita itu yang tersembunyi di balik tudung dan sekadar dapat dilihat olehnya menandakan kesopanan sekaligus refleksi bijak seorang perempuan. Tapi sekarang, rasanya semua tak sama lagi. Janji manisnya, tinggallah hambar. Kehangatan di masa-masa pendekaan tlah menguap, berganti dingin sikap Hinata padanya, pun dingin reaksi yang diberikan Naruto atas kelebih-diaman Hinata.
.
"Naruto-kun, apa nanti kau pulang seperti biasa?"
Naruto menunduk, menatap raut istrinya yang tengah memakaikan dasi ke kerahnya.
"Ma-maksudku apa nanti kau bisa pulang lebih cepat?"
Naruto menarik napas dalam-dalam. Hinata bergerak meraih tas kerja Naruto, dan menyerahkan briefcase gelita tersebut kepada pria itu.
"Ada apa? Tak biasa sekali,"
"Ah ti-tidak Naruto-kun. Hanya saja, rasanya kita sudah lama tidak makan malam bersama," Hinata menggaruk-garuk pipinya.
"Ah, akan ku usahakan." Naruto mencium kening Hinata, dan itu sukses membuat pipi sang amethyst merona. "Aku berangkat dulu,"
"Um." Hinata mengangguk dan tersenyum.
...
Pukul 19.00,
.
Alunan jazz klasik mengirima lembut menemani suapan-suapan ke mulut. Suasana romantis, tenang, dan indah terpancar dari unik dekorasinya. Lampu gantung dan lilin menjadi binar utama sehingga pencahayaan terkesan lebih hangat, dan tak terlalu terang
Teppanyaki yang terdiri dari udang, lobster, kerang, ayam, pun bermacam sayuran telah tersaji di atas meja. Gyoza, dua mangkuk kecil nasi, tonkatsu, dan tak ketinggalan dua botol nihonshu―sejenis sake terbuat dari sakarifikasi jamur kouji dalam beras, yang kemudian difermentasi dengan ragi.
"Uum~ lumayan," Naruto mengambil udang menggunakan sumpitnya. "Ah, ini juga,"
"Apa kataku, restaurant ini memang terbaik di kota ini. Bahan-bahan yang digunakan pun masih segar. Kami selalu menjaga mutu, karena kepuasan pelanggan adalah nomor satu."
Naruto tertawa lepas, "Sokka..sokka.. kau sedang promosi huh?" surai merah di hadapannya itu ia belai.
"Naruto-kun aku beneran loh,"
"Ya, ya, aku tahu kok. Aku selalu percaya padamu."
Namanya Sara. Perempuan dua puluh tiga tahun yang baru menyelesaikan studi Pasca Sarjananya, dan bekerja sebagai manajer di tempat ini.
Sara sesungguhnya tahu Naruto telah beristri. Saling mencurahkan isi hati baik melalui pesan dan telepon, membuatnya mengtahui bilamana bahtera rumah tangga Naruto akhir-akhir ini mengalami guncangan kecil.
Baginya tak masalah, apakah lelaki di hadapannya berstatus milik orang. Sara terlanjur mencintai Naruto. Baginya pria itu menarik. Dia memang sebatas pekerja kantoran biasa, tetapi raut dan aroma maskulin itu selalu menggodanya. Postur Naruto yang proporsional, serta otot perut yang selalu ia sentuh ketika bercumbu, sungguh sedetik tak dapat Sara lupa.
"Naruto-kun..." Sara menggesek-gesekkan kakinya ke betis Naruto, "suki."
Ah, pipi yang selalu memerah kala ia goda itu, pula tak sanggup Sara buang meski sekejab.
.
Malam bertambah larut saat ia tiba di rumah. Melirik arloji di pergelangan, jam sebelas bahkan lewat beberapa menit.
Membuka pintu, Naruto langsung menuju dapur saking hausnya. Kering tenggorokannya tak tertahan, sampai-sampai sepatunya belum ia lepas. Manajer cantik tersebut sukses membuat tenaganya terkuras. Lelah tak terterahan, usai ini Naruto mungkin memilih langsung tidur.
"Aku pulang,"
Setiba di dapur Naruto dikejutkan dengan sang istri yang ternyata masih menunggunya. Wanita itu tertidur beralas lengan di meja makan. Celemek ungu muda masih terikat melindungi baju. Hinata nampak sangat lelah. Di meja terdapat banyak makanan, wine kesukaan Naruto, pula sebuah kue tart dengan lilin di atasnya. Naruto ingat. Hari ini anniversary pernikahan mereka yang ketiga. Pantas saja Hinata memintanya pulang cepat. Makanan yang seharusnya mereka nikmati bersama telah dingin, sedingin bahu Hinata saat ia sentuh.
"Ah..." manik lavender pucat itu membuka, merasakan sebuah jaket menutupi bahunya, "...Naruto-kun?"
"Hi-Hinata―" entah mengapa Naruto jadi tergelagap.
"Selamat hari jadi yang ketiga, Naruto-kun. Semoga kebahagian selalu menyertaimu."
Ada rasa bersalah teramat mendalam saat memandang wajah itu. Serupa sembilu kasat mata menyayat-nyayat urat nadinya. Bahkan Naruto berpikir, bisa jadi Hinata belum makan karena menunggunya.
"Maaf aku pulang terlambat, Hinata. Tiba-tiba ada pekerjaan mendadak, dan aku harus lembur. Maaf, tidak sempat menelponmu."
Tersenyum, Hinata membalas dengan gelengan pelan. "Kau sedang berusaha menyiapkan masa depan terbaik untuk kita. Itu tidak masalah Naruto-kun―"
Tiba-tiba Naruto membopong tubuh Hinata ke kamar,
"Na..Naruto-kun, tu..tungu―"
.
"Ah..."
Tak ingat bagaimana awalnya kulit polos itu saling sentuh. Bagaimana bibir keduanya saling pagut, dan sensasi yang dihasilkan membuat keringat membanjiri fisik mereka.
Bagaimana napas keduanya saling memburu, dan bagaimana jejak-jejak serupa bekas gigitan serangga menghiasi leher hingga dada sintalnya.
Sex, bercinta, mencumbu, sebuah hal lihai bagi pria berpengalaman seperti Naruto. Ia mulai menjamah raga Hinata sejak lima bulan masa pacaran. Hinata tidak tahu pasti, berapa gadis telah merasakan keperkasaan suaminya semasa lajang dulu. Yang Hinata tahu, dua mantan kekasih sempat dulu lelaki itu ceritakan.
Naruto menghentak tubuhnya kasar. Mempercepat ritme geraknya memasuki raga Hinata: dalam, dan semakin dalam.
Desah, lenguhan perempuan tersebut menjadi satu-satunya hal yang mampu Naruto dengar. Nikmat, ketika Hinata menjambak rambutnya dan menggigit lehernya. Tapi ada hal lain―entah apa itu―membuat 'malam panas' ini terasa lebih dingin. Mungkin Naruto terbiasa dengan tindak agresif Sara yang jauh lebih ganas dari Hinata dalam urusan ranjang. Naruto mengecup pelipis istrinya pelan, ia mulai tak semangat lagi menuntaskan tugasnya.
Satu minggu kemudian,
.
"Luar kota?"
Naruto menyentuh ujung hidung Hinata menggunakan telunjuknya, "Direktur memintaku memeriksa kantor cabang di Kyoto. Tidak apa-apa kan?"
Hari minggu Naruto manfaatkan bersantai di rumah, menikmati harinya bersama sang istri. Naruto merebahkan kepalanya di pangkuan Hinata, dorama anak sekolah yang mereka lihat melalaui siaran televisi sedikit mengingatkan keduanya akan jaman dahulu.
Secara perlahan, penuh kasih sayang, tangan Hinata membelai surai pirang yang kini terpotong cepak tersebut. Jika diperhatikan, Naruto makin ke sini semakin tampan.
"Tidak apa-apa kok. Kau kan sedang memperjuangkan masa depan kita."
Jawaban monoton yang selalu membuat Naruto bosan. Paling tidak katakan jangan lama-lama, atau, kau tak merindukanku?
"Jangan lupa memberi kabar setelah sampai."
"Ah, iya."
"Jangan lupa makan teratur Naruto-kun. Jangan sampai kau sakit hanya gara-gara pekerjaan.
"Um, aku mengerti." Naruto menarik remot televisi dan mengganti channelnya.
Prefektur Wakayama terkenal akan keindahan pesisir dan pemandian air panas. Satu pantainya, Shirahama, masyhur oleh elok pasir putih membentang sepanjang 500 meter, dikelilingi jajaran hotel membentuk lengkungan yang indah.
Tepi laut ini dianggap sebagai kembaran Hawaii. Pantai Shirahama menawarkan perpaduan panorama menakjubkan, pasir yang halus― seputih susu, pula tempat cocok menikmati terbenamnya matahari.
Prefektur Wakayama jua tersohor akan sumber air panasnya. Salah satu terkemuka, onsen kelas wahid, Yunomine, dilengkapi pemandian umum hingga privat yang disebut Tsuboyu. Onsen Yunomine ini digadang sebagai yang paling tua. Tsuboyu merupakan pemandian berbentuk podokan: terdapat kolam mungil dikelilingi batu, dan dipuruntukkan untuk satu sampai dua orang saja. Tsuboyu sering dicap sebagai tempat berendam bagi para pasangan.
"Na..Naruto-kun―"
"Hmpp?"
"...ah―"
Sara tak dapat menahan tubuhnya untuk tidak bereaksi oleh sentuhan-sentuhan Naruto. Suam air panas di mana mereka berendam kian membangkitkan gairahnya. Terasa berdenyut saat lelaki bersurai pirang itu memainkan ujung putingnya. Terlebih, bagian dari diri Naruto terasa menonjol dan mengeras, mendesak bokonya yang duduk di pangkuan pemuda itu. Sara berbalik, menarik tengkuk Naruto―menciumnya dengan liar.
.
Ding..dong...
Bunyi bel memantul kesekian kali. Langkah pelan dari dapur, membuka pintu kayu itu perlahan.
Dua sosok asing: pria, salah satu di antara mereka membawa sekeranjang buah. Dari tampilannya, sepertinya rekan Naruto di kantor.
"Konnichiwa..."
"K-konnichiwa?"
"Kami datang untuk menjenguknya. Kami dengar dia ijin sakit, apa Naruto baik-baik saja?"
Sebuah pertanyaan yang sepontan membuat Hinata bingung, "...sakit?"
"Katanya kemarin dia pulang dari rumah sakit?"
DEG!
'Rumah sakit?'
Hinata mulai menyadari kebohongan Naruto.
Jadi berdinas ke luar kota selama tiga hari bentuk bualan? Jika tidak mengobservasi kantor cabang, lantas dia ke mana? Bukankah tiga hari termasuk lama?
"A-ah, yah. Ta-tapi maaf, Naruto-kun harus istirahat. Ia baru saja meminum obat. Jadi―" Hinata membungkuk, "...sekali lagi saya minta maaf."
"A―haha.., ti-tidak apa-apa kok. Sampaikan saja salam kami."
Hinata kembali membungkukan badannya, setelahnya kedua tamu itu pergi meninggalkan kediamannya.
"Sudah pulang Naruto-kun?"
Naruto menyerahkan tas kantornya pada Hinata. Menarik dasi melingkari lehernya, kemudian membuka kancing itu satu demi satu.
"Kau ingin mandi dengan air hangat?"
Naruto menggeleng. Ia lantas mengambil air mineral di atas meja rias, kemudian meneguknya.
"Aaah, capek." terdengar keluhan, Naruto memijat leher belakangnya. "Apa kau kesepian selama aku pergi?"
Hinata tak menjawab. Ia hanya berlalu menggantungkan jas Naruto yang basah oleh keringat. Dari jas itu, samar wangi khas parfum wanita tercium. Perpaduan red currant, lemon, black currant, dan bunga-bungaan lain mengingatkannya pada parfum berwadah gothic keluaran perusahaan Jerman.
Ah, rasanya sesak itu tiba-tiba kembali hinggap.
"Aku sudah menyiapkan makan malam di bawah,"
"O―, iya. Nanti aku turun."
Hinata ingin memastikan sendiri, ketidak-setiaan Naruto dengan mata kepalanya.
"Jalan pak,"
Taksi hijau itu mengikuti dua pejalan kaki yang menuju sebuah pusat perlanjaan. Tangan keduanya saling genggam, bahkan kini dengan berani si perempuan meluk pinggang lelaki yang Hinata yakini adalah suaminya.
Mereka berjalan mesra. Naruto merangkul kepala gadis itu, lalu menyandarkan kebahunya seraya berjalan santai masuk ke dalam mal.
"Turun di sini, Nyonya" tanya sang sopir cukup ramah.
Hinata menggeleng, kemudian meminta lelaki paruh baya itu jalan terus.
Hari ini seharian penuh Hinata mengintai Naruto dari cafe di seberang kantor pria itu bekerja. Ia ada di sana semenjak jam makan siang. Awalnya Hinata ragu, sebab merasa usahanya tak membuahkan hasil. Tapi yang didapatkannya sekarang, ini lebih sekadar bukti. Memang benar Naruto telah memercik api dalam pondok kecil, yang mereka bangun atas nama Tuhan, dan ikrar janji.
.
"A-apa maksudmu?"
"Siapa perempuan itu?"
"Aku tak mengerti apa yang kaubicarakan, Hinata. Jangan ngelantur," Naruto meraih pipi Hinata, tapi buru-buru wanita itu menepisnya. Selama hidupnya mengenal Hinata, baru kali ini wanita tersebut nampak benar-benar marah.
"...kau kurang enak badan?" sekali lagi Hinata menangkis tangan Naruto yang mencoba menyentu bahunya.
"JANGAN SENTUH AKU!"
"...Hinata?"
"Siapa wanita itu?! Wanita berambut merah yang baru saja jalan denganmu? Siapa dia Naruto-kun?!" suara Hinata terdengar bergetar. Manik amethystnya memerah, sesak tak tertahan dalam dada membuat bulir yang payah ia tahan akhirnya luruh membasi pipi.
Naruto tak pelak dibuat tergugu. Terdiam beberapa waktu, sebelum kalimat pembelaan keluar dari bibir yang dulu bersumpah setia itu.
"A-apa maksudmu Hinata? Pe-perempuan berambut merah? Siapa? Aku bahkan tak mengenal gadis dengan ciri-ciri yang kau maksud."
"Lalu liburan bersama yang katamu melihat kantor cabang di Kyoto itu apa?! Kaupikir aku tidak tahu?!"
"Hina―"
"Berhenti menganggapku orang bodoh Naruto-kun! Kau keterlaluan!" Hinata berbalik―berlari menuju kamarnya.
"Dengarkan aku! Tunggu. Aku tak pernah berbohong padamu," Naruto mengejar Hinata, meraih tangannya, dan sekali lagi sang amethys menepisnya lebih kasar.
"Seharusnya kau percaya dengan suamimu! Kata orang tak jarang sebuah opini menyesatkan. Bisa saja mereka membohongimu agar keluarga kita hancur."
"Diam. Berhenti memaninkan peran malaikat di hadapanku! Kau yang merusak keluarga kita, kau yang membuatnya hancur. Kata orang? Asal kau tahu saja, aku melihatnya dengan mata kepala sendiri!"
"..."
"Dan dinas ke luar kota? Bekerja? Kau sungguh pandai bercanda! Dari jasmu saja tercium jelas parfum lain yang menempel. Bila kau berpikir mampu menipuku dengan mengatakan dia laki-laki, kau terlalu menganggapku remeh. Parfum didominasi bau bunga-bungaan yang terkesan sensual, aku tahu itu parfum perempuan! Dan sekalian biar kau paham, ada dua teman kantormu datang ke sini dengan sekeranjang buah di tangan mereka. Kau tahu apa yang mereka katakan? Kau cuti tiga hari karena sakit. Apa kau mau berkelit lagi sekarang?" Hinata menatap Naruto tajam.
Lelaki itu tak punya jawaban untuk menyanggah. Hingga Hinata masuk ke dalam kamar, dan mengunci pintunya rapat.
BLAM!
"AGGRRRR!" Naruto menjambak rambutnya. Ia menghempaskan bokong ke sofa, duduk menekuk lutut, dan menyembunyikan wajahnya di balik lengan.
Apa yang harus ia lakukan sekarang?
Semua terlambat,
Ia sudah ketahuan,
Penjelasan apapun pasti takkan Hinata dengar.
Hari ini hari kedelapan semenjak pertengkaran mereka. Sedari hari itu kamar yang biasa terisi sepasang insan tidur bersama, menyisakan satu, Hinata seorang. Sudah lewat seminggu Naruto tak pulang. Hinata pun enggan menghubunginya. Ia malah terkesan membiarkan saja.
Wanita beriris lavender pucat itu bisa jadi lelah. Hinata ingin menenangkan diri dari segala permasalahnya.
"Hug..."
Beberapa hari terakhir Hinata merasa mual teramat sangat setiap pagi. Isi perutnya serasa di aduk, namun ketika ia memuntahkannya tak keluar apapun kecuali lendir air liur. Entahlah. Mungkin sebab ia terlalu banyak pikiran jadi asam lambungnya naik. Siang ini rencananya Hinata akan pergi ke tempat prakter teman kuliahnya yang sekarang berprofesi sebagai dokter.
.
"Jadi bagaimana?"
"Hmpp..."
Gadis berhelai senada musim itu memperhatikan selembar kertas pada meja kerjanya. Hasil laboratium Hinata yang baru saja diantar seorang suster. Raut cantik perempuan tersebut nampak serius dengan mata mengernyit, memperhatikan satu per satu huruf pada lembar diagnosis di hadapannya.
"Sejak kapan kau merasakan mual seperti ini Hinata-chan?"
"Etto, kurang lebih tiga sampai empat harian ini. Etto, ada masalah serius?"
Sakura terlihat mengambil napas dalam-dalam, "Jangan terkejut ya? Sepertinya kau memang harus banyak istirahat."
"Eh? Apa yang terjadi Sakura? Apa diagnosisnya menyatakan aku memiliki penyakit kronis?"
Sakura menggeleng, senyum di bibirnya membuat Hinata kian penasaran.
"Selamat! Sebentar lagi kau akan menjadi seorang Ibu, Hinata-chan!" Sakura menggenggam tangan Hinata, antusias.
"...ha-hamil?" Hinata masih belum bisa percaya fakta ini.
"Iya, kau hamil Hinata-chan. Kau hamil!" Sakura menunjukkan hasil labnya.
Setumpuk beban dirasakannya seketika sirna dalam sekejab. Usai tiga tahun penantian, akhirnya Hinata mendapat apa yang ia impikan. Sungguh, ia tak pernah merasa sebahagia ini. Tetes demi tetes air mata mengalir, luapan isi hatinya yang tak dapat Hinata sembunyikan. Hinata memeluk kertas itu erat, "Terimakasih, terimakasih Tuhan."
"Omong-omong, di mana Naruto?"
Deg!
"Dari tadi aku tak melihatnya. Dia menunggu di luar, atau tidak ikut?"
Tidak mungkin Hinata mengatakan bila delapan hari mereka pisah ranjang.
"A..e..etto, Naruto-kun, di-dia sedang di tugaskan ke luar kota. Jadi aku datang sendirian,"
"Aaah, sokka. Kupikir kalian ada masalah. Hehehe, bodohnya aku berasumsi seperti itu. Aku harus membuang pikiran negatifku jauh-jauh. Naruto-kun kan sangat mencintaimu. Sudah pasti dia akan mengantarmu bila ada di rumah. Pemuda itu sekarang menjadi orang penting sih,"
Hinata hanya membalasnya dengan senyuman getir.
Tokyo Garden,
.
"Ish, Moegi-chan, kau ke mana sih? Bukankah kau menyuruhku menunggu di sini jam enam?"
Mahkota cokelat gelap terurai panjang melambai selarap gerak resah pemiliknya. Sepasang iris lavender pucat tidak henti memperhatikan layar ponsel sejak beberapa menit lalu. Gusar, kurang sabar, cukup ketara dari bibir mungilnya terus menggerutu. Bukan apa-apa, hanya saja ini tentang gadis yang acap ia sapa Moegi-chan, selalu menjadikan jam karet sebagai prevalensi yang wajar.
"...uugrrr," jenuh, Hanabi duduk di bangku taman. Maniknya mengedar ke sekeliling membuang bosan. Indah pendar menghias: lampu-lampu dipasang pada dahan-dahan pohon, serupa dongeng Rapunzel kala melihat istana berkilau dari seberang sungai yang sangat jauh. Hinata menggulirkan lagi netranya. Kali ini pandangnya terpaku pada kursi melingkar, di mana di tengahnya terdapat tanaman sejenis bonsai membentuk hati. Indah sekali. Lampu corak pelangi menyelimutinya menambah kesan romantis. Akan tetapi...
"...?!"
Begitu dua sosok baru datang duduk di salah satu bangku melingkar itu, manik Hanabi sepontan membola. Ia bahkan mencoba menepis fakta dengan mengucek-ucek matanya beberapa kali. Hanabi mencubit pipinya demi memastikan ini mimpi. Tetapi sakit yang timbul setelahnya, jelas, di hadapannya bukan khayal fatamorgana. Dua sosok itu entitas yang nyata. Satu lelaki sangat ia kenal―tak lain suami kakaknya sendiri―dan satu lagi gadis asing sama sekali belum pernah Hanabi jumpai.
"A..apa-apaan ini?―"
"Hana-chan!"
"AH―" Sebuah tepukan di bahu, membuat Hanabi terlonjak. "Mo-Moegi-chan?"
"Kau sudah lama?" seulas senyum lebar terpoles di wajah gadis itu.
"Tu-tunggu―" badan Moegi menghalangi pemandangan di hadapannya. Saat Hanabi menggeser tubuh Moegi paksa, dua orang tersebut sudah tidak ada. "Ke-kemana?"
"Hana-chan? Ada apa?"
Hanabi bangkit dari duduk, menoleh kanan kiri mencari dua orang tadi.
"Hana-chan, kau kenapa sih? Ayo cepat, filmnya keburu mulai!"
"Ah―e..e..e..."
Moegi menarik lengan Hanabi untuk mengikutinya.
'Apa yang sebenarnya terjadi? Ada apa dengan hubungan kakak dan kak Naruto? Aku harus memberitahu Ayah.'
...
"A-Ayah tahu dari mana?"
Tangan lelaki paruh baya itu menggenggam ke belakang. Wajah dinginnya terpancar seperti biasa. Garis kerut di bawah kantung mata dan kening, menjadi penegas pria tersebut tak lagi muda. Rambut hitamnya bercampur helaian putih. Uban penuaan, yang lazim ditemui pada sesorang apalagi ketika buah hati mereka sudah besar.
"Kau harus mengakhirinya Hinata. Bukan saja menghancurkan kepercayaanmu, bocah itu turut mempermalukan keluarga kita."
Hanabi yang duduk di samping Hinata pun tak kalah menyumbangkan pendapat, "Kakak jangan diam! Kak Naruto sudah kelewat batas. Apalagi sekarang kakak sedang hamil, kakak harus mengambil tindakan."
Hinata sekadar mampu diam ketika kata-kata lontaran sang Ayah dan adiknya begitu memojokkannya. Memberi opsi agar dirinya dan Naruto segera bercerai. Hiashi sedari awal memang menerima pemuda itu dengan lapang. Tentu saja, Hiashi pasti mendukung segala langkah yang membuat putrinya bahagia. Sejauh dia kenal, menantunya sosok mandiri, bertanggung jawab, dan sopan. Selama tiga tahun menikah, terbukti, Hinata tak meminta bantuan finansial apapun darinya. Rumah yang Hiashi berikan sebagai hadiah pernikahan pun tak diambil. Selepas pesta pernikahan, putrinya dan lelaki itu justru memilih menyewa apartemen kecil. Baru setahun ini keduanya memiliki rumah. Tapi apalah arti kemandirian jika sang menantu menduakan hati putrinya? Saat putri keduanya memberi tahunya akan hal ini, dia benar-benar muka.
Hinata berdiri dari duduknya, "Ayah, dan Hana-chan mau minum apa? Biar kuambilkan."
"Jangan mengalihkan pembicaraan, Hinata!" kali ini suara Hiashi terdengar lebih lantang.
"Ayah?"
Hinata menghela napas berat, "Sudahlah Hanabi," ia menghampiri pria itu dan memegang lengannya, "Sama sepertiku, aku tahu Ayah sangat kecewa pada Naruto-kun. Aku pun tidak menyangka rumah tanggaku dan Naruto-kun bakal seperti ini. Tapi Ayah, aku belum bisa mengabulkan permintaanmu. Bukan aku memaksakan hati dan mencoba tegar, hanya saja aku tidak ingin ketika anakku lahir nanti dia bingung karena Ayahnya tak ada,"
"Tapi, masih ada Ayah Hinata!"
"Tapi Ayah bukanlah Ayahnya. Ayah sebatas kakeknya. Aku memang ragu di hari persalinan nanti Naruto-kun akan datang. Tapi, aku masih berharap Tuhan menyelamatkan keluarga kami."
"..."
"...kakak?"
"Aku mohon Ayah, jangan memintaku berpisah dengan Naruto-kun?"
Terdengar helaan napas sarat ketidak-ikhlasan dari Hiashi.
...
Tiga bulan kemudian,
.
Antusiasme dalam dirinya membawa langkahnya ke sebuah pusat perbelanjaan. Baju bayi, kaos dalam, diapers, gurita bayi, sarung tangan, sarung kaki, kupluk, bedong, dan selimut menjadi daftar belanja wajib yang ia catat sedari rumah.
Troli belanjaannya sampai-sampai nyaris penuh. Belum selesai, Hinata kemudian menuju rak susu. Ia hendak membeli susu khusus ibu hamil karena persediaan di rumah telah habis.
Selepas menemukan apa yang ia butuh, Hinata lalu membawanya ke kasir.
"Total 38.000 yen,"
Hinata menggeluarkan kartu kredit dari dalam dompetnya. Selanjutnya sang penjaga kasir menggeseknya pada mesin EDC dan menyerahkannya kembali pada Hinata.
"Terimakasih Nyonya,"
Saat Hinata sedang membenahi belanjaanya...
"Sayang, sepertinya aku lupa membeli handuk deh. Aku masuk sebentar ya? Sebenarnya di rumah ada sih, tapi bekas kupakai."
"Tidak apa-apa. Lagi pula malam ini aku langsung pulang. Aku capek sekali."
"Eh? Tidak mampir dulu?"
Pembicaraan keduanya terkesan agak intim. Hinata yang membelakangi mereka hanya menggeleng, dan berpikir, ah masa muda. Mereka pasti pasangan yang baru merajut cinta.
Hinata mengambil dot bayi dari kresek belanjaannya. Saat hendak ia pindah ke kantong satunya, dot itu jatuh menggelinding ke belakang. Hinata berbalik, dan dot tersebut membentur sepasang kaki berbalut pantofel hitam. Terlihat uluran tangan mengambil botol itu, lalu menyerahkannya pada Hinata.
"Terimaka―" Hinata berdiri, seketika irisnya membulat. Sosok itu...
"...Naruto-kun?"
"Hina―?"
Sara yang baru membayar di kasir berbalik, kemudian merangkul lengan Naruto dengan mesra, "Sayang, ayo..."
Sekilas Sara tersenyum ke arah Hinata. Ia tidak tahu bila wanita di hadapannya ialah istri dari lelaki yang kini lengannya ia peluk.
"Naruto-kun, ayo..." Gadis itu merengek manja. Nanpa berucap apapun, Naruto melewati Hinata begitu saja.
DEG!
Rasanya sesak.
Hinata menggigit bibir bawahnya menahan sakit, 'Mungkinkah menuruti kemauan Ayah, pilihan tepat?'
.
"Kakak! Kakak! Kakak bangun! Kakak?!"
Hanabi panik mendapati Hinata tergolek lemah di lantai ruang tengah kediamannya. Tas belanjaan bercecer di sekeliling, napas wanita 25 tahun itu terdengar terengah, dan semakin melemah. Buru-huru Hanabi memanggil taksi dan membawa sang kakak ke rumah sakit. Padahal awal tujuannya ke sini ialah mengambil barangnya yang kemarin tertinggal.
.
"Kemungkinan Hinata-chan kecapekan. Tekanan darahnya juga menurun. Berat badannya berkurang lima kilo dari awal dia ke sini beberapa bulan lalu. Seharusnya kakakmu menjaga pola makannya dengan baik, Hanabi-chan."
"A-apa kakak harus menginap di rumah sakit?"
Perempuan berambut fuchsia itu melepas kacamatanya. Ia membenahi beberapa lembar kertas laporan di atas meja kerjanya. "Sepertinya begitu. Aku sendiri harus memastikan agar Hinata-chan memperlakukan bayi dalam kandungannya dengan baik. Padahal dia cukup lama mendambakan hal ini, tapi mengapa Hinata-chan enggan menjaga kehamilannya?"
Tangan Hanabi mengepal erat, "Ini salah kak Naruto!"
Frasa yang diucap remaja berusia 18 tahun itu kontan menarik perhatian Sakura. "...Naruto?"
"Apa kakak belum menceritakannya padamu?"
Sakura semakin bingung, "...bercerita? Apa?"
"Sudah kuduga kak Sakura bulum mengetahuinya,"
"...?"
.
Derap langkahnya secepat pergerakan darahnya naik ke kepala. Tangan itu bahkan lebih dari siap menghadiahkan sejumlah pukulan seperti yang kerap dilakukannya dulu. Coat kelabu dipakainya tergoyang, seirama kaki kurusnya yang mulai berlari bergas. Tujuannya satu, lelaki beriris biru safir yang sedang mengutak-atik ponselnya, di bawah rindang pohon, di taman, di mana mereka berjanji bertemu.
PLAK!
Tamparan itu tak ayal membuat Naruto mematung nyaris tiga puluh detik. Sampai dia mencoba menatap sepasang kelereng emerald yang berair, menatapnya penuh roman kecewa.
"APA YANG KAULAKUKAN BODOH!"
BOUG!
Pukulan keras menghantam tepat di sisi pelipisnya. Naruto tetaplah bingung, mengapa gadis itu tiba-tiba marah dan menangis? Apa yang dilakukannya? Naruto tak merasa berbuat kesalahan apapun terhadap Sakura.
"Apa salah Hinata padamu?! Tega sekali kau permainkan hatinya? Kau tahu, wanita rapuh yang kau sakiti itu kini sedang mengandung anakmu!"
Lidah Naruto kelu, tak percaya. Hamil? Tidak mungkin rasanya.
"K-kau bercanda, Sakura?"
Sakura melempar map yang di bawanya ke wajah Naruto. Jatuh tergelak menyentuh rerumputan hijau, Naruto mengambilnya, dan seketika itu tangannya bergetar.
"Kau percaya sekarang?
Pantas saja, hari itu Hinata membeli dot bayi. Jadi ini jawabannya?
"Padahal sesekon pun Hinata tak tersirat menghianatimu walau mampu. Jadilah suami yang bertanggung jawab. Kau sudah mengambil Hinata dari kelurganya hari itu."
Sepasang kaki menyangga tubuh kekar tersebut seakan kehilangan daya. Energinya seolah larut bersama luapan sesal, melalui tetes demi tetes air mata.
"Temui dia dan minta maaflah..."
Tokyo Hospital,
.
"Bagus, berat badan normal, renyut jantung, air ketuban juga dalam kondisi baik. Jenis kelamin? ...waah, sepertinya Nyonya akan memiliki jagoan."
"Ja-jagoan?" wajah Hinata berbinar.
Lelaki berambut perak mengenakan kacamata, tengah memeriksa janin Hinata melalu USG tersebut, tersenyum, seraya memberi penjelasan berikutnya, "Tidak ada kelainan khusus. Fisiknya sempurna, pada jantung juga belum ditemukan masalah. Tinggal Nyonya menjaga kondisi tubuh dan pola makan. Tali pusat sejauh ini tidak menghalangi jalan lahir. Bila tiada aral melintang, kemungkinan Nyonya dapat melahirkan dengan jalan normal."
"So-sokka..." dalam hati Hinata bersyukur.
"Terimakasih dok."
Keluar dari ruang Obsgyn, Hinata langsung balik ke kamarnya. Kamar nomor empat, berjarak enam ruang dari tempat di mana tadi ia memeriksa kandungan. Sekarang usia kehamilannya menginjak lima bulan. Trimester ke dua, tinggal menunggu beberapa purnama, dan buah hati yang ia damba bakal benar-benar ada dalam peluknya. Hinata sudah tak sabar, meski sekalipun ia menunggu sendirian.
Beberapa menit sebelumnya,
Mobil sedan berwarna hitam metalic masuk ke area parkir rumah sakit. Seorang pria turun tergesa, membawa sebucket iris ungu, dan berlari menuju lobi. Sampai di tempat administrasi, ia meminta salah seorang petugas mencari kamar yang ia maksud. Ruang daisy nomor empat, seketika Naruto berjalan cepat menuju ruangan itu.
Tap...
Tap...
Tap...
Di belokan pada penghujung lorong, Naruto mendapati perempuan yang ia cari masuk ke sebuah kamar. Tubuhnya terlihat lebih gemuk dari terakhir ia jumpa. Perutnya? Tentu lebih menonjol, nampak sedikit lebih buncit. Tatkala Naruto hendak mengeluarkan suara, pintu terlebih dulu menelannya. Naruto cepat-cepat menyusul, tetapi pintu tersebut terlanjur menutup.
Blam
Dari kaca pintu, Naruto melihat bagaimana wanita itu memandang luar jendala, menyandarkan bahu pada dinding―mengusap-usap perut perlahan. Hinata terlihat sekilas tersenyum, namun getir pada ujung bibir tak cukup mahir ia sembuyikan. Terlebih tangan pucat itu tiba-tiba menyeka pelupuk matanya. Hinata menangis?
"Seharusnya Ayahmu melihat perkembanganmu hari ini, sayang."
Deg!
Suara itu lirih, namun sayup-sayup mampu Naruto dengar dari balik pintu.
"Mama minta maaf. Seharusnya, Mama menjadi istri yang baik. Jangan membenci Ayah, ya? Karena tanpa Ayah, Mama tidak mungkin memilikimu."
Rasanya... hati Naruto tercabik.
"Pertama kali mama melihat Ayahmu, Mama langsung jatuh cinta padanya. Tak pernah terlintas untuk melirik lelaki lain, dan tak terkira bila Ayahmu akan melihat mama juga. Mama selalu sembunyi-sembunyi, menatapnya dari jauh. Dia pemuda ceria dan mudah akrab dengan semua orang. Tapi mama tahu, Ayahmu seorang yang teguh berjuang."
Hinata mengambil napas dalam-dalam. Embusannya terdengar berat, dan intonasinya semakin lirih―tercekat. "Kamu tahu nak, Ayah dan Mama memulai semua dari nol. Dari tinggal di apartemen kecil dan sempit, sampai akhirnya Ayahmu mampu membeli rumah untuk kita. Ayahmu selalu menolak ketika mama menawarkan bantuan. Katanya, aku sudah mengambilmu dengan sumpah, bagaimana bisa aku merepotkan satu-satunya wanita yang ingin ku bahagiakan? Ayahmu bertanggung jawab kan? Bila sekarang dia mengambil jalan salah, percayah, Ayahmu akan kembali usai menemukan jalan yang tepat. Dia akan kembali pada kita,"
Bruak!
"UNTUK APA KAU MENUNJUKKAN BATANG HIDUNGMU DI SINI?!"
Hiashi menarik kerah belakang kemeja Naruto, melemparnya ke sisi lain hingga tubuh pria itu membentur kursi tunggu.
Naruto lekas bangkit, tergopoh ia mendekati Hiashi, "A-Ayah,"
"Jangan panggil aku dengan kata itu! Beraninya kau muncul setelah membuat hidup putriku menderita!"
"Ayah... dengarkan penjelasanku?"
"Pergi kau dari sini!"
Mendengar ribut-ribut di luar, Hinata pun keluar kamar.
Betapa kaget dirinya melihat Naruto telah bersujud di hadapan sang Ayah, mengiba―memohon bertemu dengannya.
"Ayah, aku mohon, beri aku kesempatan―"
"...Naruto-kun―"
Naruto menoleh kala suara lirih itu mengecup telinganya.
"Hinata?"
Hinata memandang Hiashi sekilas, kemudian memalingkan wajah.
"Hinata, dengarkan aku, Hinata!" Naruto berlari menghampiri Hinata. "Hinata, aku minta maaf. Sakura menceritakan semuanya, biarkan aku, biarkan aku berkenalan dengan buah hati kita. Hinata, aku―"
"Ayah, aku ingin istirahat."
"Hinata―?"
Greb
Hiashi memcengkam lengan Naruto yang memegang bahu Hinata,
"Pergi, dan jangan kembali ke sini!"
.
Sejak hari itu, tiada yang terluang tanpa menengok Hinata lewat kejauhan.
Hinata pulang dari rumah sakit empat hari usai kejadian. Di rumah, ia tinggal bersama Hanabi. Akan tetapi tidak pasti sebab Hanabi tinggal di asrama sekolah dan tak jarang pulang tiga bulan sekali.
Hari ini hari ke seratus lima belas. Mengintip melalui depan gerbang rumah, memperhatikan Hinata merajut di dekat jendela. Ia nampak membuat switer kecil. Warnanya krem lembut, dan sepertinya teruntuk buah hati mereka. Ini kesalahannya. Kesalahan Naruto tergiur iming takdir memabukkan. Bukan ketertarikan Naruto pikir yang ia rasa kala itu. Melainkan sebatas nafsu di tengah bosan, atau keegoisan menunut Hinata lebih memedulikannya. Hubungannya dengan Sara pun jua tak berlangsung mulus selayak di awal-awal. Gadis itu menuntut Naruto selalu memperhatikan, dan perhatian padanya. Naruto bukanlah pengawas, penjaga, atau apapun yang mengerahkan segala kinerja otak, dan kepedulian hatinya pada satu orang. Tak ubah pohon memiliki banyak cabang, bukan hanya asmara, tentu Naruto memikirkan kehidupannya sendiri, dan sejumlah hal lain, termasuk anak yang kini dalam kandungan Hinata.
Merasa Naruto tidak adil, puncaknya Sara memutuskan hubungan dengan Naruto. Tanpa menyanggah atau menolak, Naruto santai mengiyakan, dan mereka berpisah.
Satu bulan kemudian,
.
Drrrr... Drrrrr...
"Hallo,"
Naruto mengangkat teleponnya. Dering panggilan masuk mengganggu indra pendengarannya sedari delapan menit lalu. Tertulis nama Sakura pada layar enam inci itu, seketika, firasat Naruto Berubah gelisah.
"Iya Sakura? Aku? Aku dikantor sekarang― EEEH! Me-MELAHIRKAN?!"
Suara Naruto yang keras, membuat beberapa rekan kerjanya menoleh menatapnya.
"...melahirkan?"
"Howah, siapa Naruto?"
Naruto menunduk malu-malu mengecilkan suaranya,
"A-aku segera kesana,"
Setelah ijin meninggalkan kantor untuk ke rumah sakit, langkah Naruto keluar langsung disertai ucapan selamat dari teman-temannya.
.
Tokyo Hospital,
.
"Ayo Nyonya, tarik napas..."
Ranjang tersebut berdecit sejumlah kali. Hinata meneran, badannya memanas, keringat dingin membasahi tubuhnya yang hanya mengenakan atasan saja.
Sakura memintanya agar setengah duduk. Beberapa buah bantal menyangga punggungnya, dengan kaki ditekuk, dan paha dibuka ke arah samping.
Kabuto Yakushi selaku dokter kandungan yang membantu persalinan Hinata secara rutin memeriksa fetal monitor di sisi ranjang guna memastikan kondisi si jabang bayi. Alat ini menampilkan informasi berupa sinyal irama denyut jantung janin, pergerakan janin, dan kontraksi rahim.
'Naruto kemana sih?!' Tak terhitung berapa kali Sakura memekik. Padahal sudah selang 45 menit dari waktu ia menelepon lelaki itu. Jika dihitung jarak rumah sakit dengan kantor, seharusnya Naruto sampai 30 menit lalu. Tapi sampai kini, baunya saja tak tercium.
.
Sementara itu di luar,
.
"Ayah, biarkan aku masuk. Biarkan aku menemani Hinata dalam persalinannya!"
Kukuk tak ubah jawaban empat bulan lalu, Hiashi konstan menolak permintaan Naruto ingin menjumpai putrinya. Tak berlaku seberapa panjang pun banyak Naruto menjelaskan lewat frasa-frasa yang ia ujar. Bagi Hiashi, kosa kata Naruto hanyalah bentuk karangan murahan. Kekecewaan pria berambut panjang itu terlanjur kelewat besar. Wajar saja kan? Seorang Ayah, mana rela putrinya disakiti oleh lelaki yang sekadar memungutnya di kala dewasa? Di kala putrinya telah menjadi gadis cantik, dengan segala sifat yang susah payah ia tanamkan sebagai orang tua tunggal.
"Pergi dari sini!"
Di mata Hiashi, Naruto tak beda serigala pencari muka.
Hiashi menghadiahi Naruto satu pukulan, akan tetapi sama bersikerasnya, Naruto kembali bangun dan kembali mengutarakan apa tujuannya.
"Bagaimanapun dia masih istriku, Ayah! Ayah tak berhak melarangku bertemu anakku!"
"Bagaimana bisa kau menyatakan hak setelah apa yang kaulakukan?!"
"Ayah, semua orang berwenang untuk berubah. Seberapa besar kesalahan, semua orang berhak menghapus jejak kelamnya di masa lalu. Aku mohon, jika hari ini Hinata menolakku, aku berjanji, aku berjanji tidak akan menunjukkan wajahku lagi. Aku janji tidak akan mengusik kehidupannya, aku janji tidak akan menemui dia. Tapi Ayah, sekali ini saja kumohon, aku ingin bertemu dengannya. Dia istriku, dan kini, dia tengah berusaha melahirkan anakku. Dalam hal ini, dulu Ayah juga pernah merasakannya kan?"
Dan faktanya, Hiashi kehilangan istrinya saat melahirkan putrinya yang kedua.
Blam!
Hati Hiashi luluh, ia mengizinkan Naruto masuk ke dalam ruang bersalin.
.
"Anda siapa? Tolong keluar―" kejut seorang perawat di ruang bersalin mendapati orang asing masuk.
"Naruto?"
"Sakura?!"
Naruto mendekati ranjang di mana Hinata berbaring, "Bagaimana keadaan istriku?"
"Sudah pembukaan sembilan. Dari mana saja kau?!"
"Ma-maaf, tadi terjadi sedikit masalah, jadi―"
"Tidak penting! Cepat rangkul bahu Hinata dan beri dia semangat―"
"Kepalanya terlihat," potong Kabuto, lalu meminta sang suster menyiapkan ventouse.
Cukup terasa bagaimana ketegangan mewarnai ruangan itu. Peluh pada pelipis menetes kian deras, bukan hanya pada Hinata, melainkan semua. Wanita berambut ungu panjang yang kini digulung ke atas itu nampak sangat-sangat lelah. Bahkan mungkin, sekarang ia tak menyadari bila tangan yang ia genggam erat .dalah tangan milik suaminya.
"Hinata bertahanlah," Naruto mengecup kening Hinata yang teramat basah oleh keringat.
"Ayo Nyonya, sekali lagi..."
Kembali meneran, "Agggrrrrh..." cukup kuat Hinata mencengkram tangan Naruto dan tepian ranjang.
"Sekali lagi Hinata-chan..." Sakura mengintrupsi.
Naruto merasakan tekanan sangat hebat pada lengannya, "Agggrrrrh..." keringat kian melimpah keluar, napas Hinata tersengal-sengal, dan berakhir, saat suara tangis bayi memecah ketegangan yang terjadi.
Naruto benar-benar tak sanggup menjabarkan bagaimana perasaannya sekarang. Pria beriris biru langit tersebut lebih-lebih tak mampu bergerak beberapa detik, dan hanya bulir bahagialah yang aktif membasahi pipinya. Bahkan ketika sang suster menyerahkan bayi yang kini terbalut bedong itu padanya, Naruto bergeming―belum bisa percaya.
'A-aku menjadi seorang Ayah?'
"Selamat Tuan, anak anda laki-laki."
'Laki-laki?'
Naruto menggendong bayi itu. Wajahnya benar-benar lucu, terdapat tanda kumis seperti dia, serta bersurai tipis, pirang seperti dirinya.
"Anakku?" manik Naruto berkaca-kaca. Air matanya tumpah tanpa sadar. Ia menangis, ia benar-benar menjadi seorang Ayah sekarang.
Tetapi...
"Hinata? Hinata?!" Sakura menepuk-nepuk bahu Hinata yang entah dari beberapa detik lalu terus memejam, "Hinata?!"
"Ada apa Sakura?!" potong Naruto gelisah.
Pada layar ECG, grafik irama detak jantung Hinata tampak kurang teratur. Kabuto kemudian memeriksa lebih lanjut, dirasakannya napas wanita itu lemah, pun semakin melemah.
Kebahagiaan baru Naruto dapat rasanya bercampur sesak. Naruto lalu menyerahkan bayinya pada Sakura, menggulirkan pandang, ia menatap Kabuto, "Apa yang terjadi dok?"
Yang Naruto dapat hanyalah helaan napas panjang, seolah menggambarkan beban pada sejumlah klausa yang akan dokter itu kata.
"...dok?"
"...dokter?"
"Istri anda koma,"
Seketika otot-otot kaki Naruto melemas.
Di saat seperti ini, bagaimana bisa takdir kembali memutar rodanya? Seharusnya Hinata menyusui putranya, seharusnya bahagia itu kini mereka ecap bersama.
"Padahal aku belum meminta maaf padamu―" Naruto bersimpuh, berlutut menggenggam erat jemari Hinata, "Buka matamu Hinataaa!"
"Naruto?"
Sakura tak pernah melihat Naruto yang serapuh ini.
"Katakan sesuatu! Jangan diam saja! Katakan sesuatu! Katakan bila kau membenciku!"
Bahkan wajah yang senantiasa tersenyum lebar itu kini berlinang air mata.
"Katakan sesuatu! Katakan bila kau tak ingin bertemu denganku! Jangan pergi! Biar aku yang menyingkir dan semua kembali baik! Jangan pergi... jangan pergi Hinata! Jangan pergi... aku mohon jangan pergiiii!"
"Ayo mulai dari awal! Ayo kita ingat, masa-masa seperti yang kau ceritakan pada calon buah hati kita. Kau yang menyukaiku dari awal bertemu, kau yang mengikuti langkahku dari jauh, tidak hanya kau, sejujurnya aku juga menyukaimu dari pertama. Ingat hari di mana aku menyatakan rasa? Sesungguhnya tak pernah ada wanita yang kuperlakukan sedemikian rupa. Meminta bantuan banyak orang untuk sekadar mengatakan rasa pada seorang perempuan."
"...Naruto?"
"Aku minta maaf... aku minta maaf, aku benar-benar minta maaf. Maafkan aku Hinata. Kau tahu, aku selalu bingung dengan caramu memperlakukanku. Kau yang seperti tak ada cemburu, lebih pendiam dari hari-hari awal kita menikah, aku bingung, aku bingung ketika kau begitu mendamba seorang anak dan aku belum mampu memberikannya. Sejujurnya apa yang harus kulakukan? Aku tak mengerti, dan kau terus diam."
Suara Naruto terdengar makin serak, "Aku tahu Hinata, perselingkuhanku adalah keegoisan. Mendambakan sesuatu yang intim dan hangat, aku benar-benar bejat. Aku membohongimu dan terus memberikan luka. Tapi kumohon, beri aku kesempatan. Ijinkan aku melakukan yang terbaik untuk buah hati kita, dan untukmu. Bangun Hinata, setidaknya jika kau ingin aku pergi, kata-kata itu keluar langsung dari bibirmu. Maka dengan begitu, aku...aku akan tahu diri, membiarkanmu bahagia dengan caramu―"
Terasa sangat lemah, Naruto memastikan bila jemari dalam genggamnya bergerak perlahan.
"Dok, irama jantungnya..." lontar salah satu perawat melihat grafis pada layar ECG berangsur normal. Kabuto lantas segera memeriksa kondisi Hinata lagi. Napasnya membaik, netra yang memejam itu bahkan mulai pelan-pelan membuka.
"Hinata-chan?"
"...Hi-Hinata?"
"...Sa-kura? ...Naruto-kun?"
Naruto mencium kening istrinya―memeluknya, "Maafkan aku. Maafkan aku membiarkanmu sendirian―"
Terasa asin pada bibir, "Naruto-kun? ...kenapa menangis?"
Naruto tak dapat menjawabnya,
"Hinata-chan, kau ingin melihat putramu?"
"Putra?"
Sakura mengangguk, menyerahkan bayi dalam gendongannya, "Tampan sekali, kau tahu?"
Air mata itu luruh, "...anakku? Ini jagoanku?" Hinata menangis, tapi ia tersenyum bahagia, "Haah, benar-benar mirip..."
...
Hiashi pada akhirnya memaafkan kekhilafan Naruto. Ini tak lain berkat Hinata yang memohon padanya. Bayi lelaki itu kemudian Naruto beri nama Boruto Uzumaki. Yang berarti, Bolt, sebuah benda memiliki fungsi pengikat, menahan dua objek bersama. Artinya, kehadiran Boruto mengikat hati Naruto dan Hinata menjadi satu, kembali seperti dahulu.
Mereka tinggal di rumah yang dulu sempat beraura dingin itu. Kini semua bergulir hangat. Hiashi pun acap berkunjung untuk bermain dengan cucu kesayangannya.
Waktu berdenting pukul enam sore.
Terdengar langkah kaki memasuki gerbang, sebuah tas tangan yang di genggam, jas yang di gantung pada lengan, surai cepak berwarna pirang, dan ketukan pintu tiga kali,
Tok...
Tok...
Tok...
"Tadaima..."
Clek,
Seorang anak kecil berlari menyambut kedatangan pria tersebut. Senyum lebar mengembang pada wajahnya yang bulat dan lucu. Di belakangnya, perempuan berambut pendek sebahu tengah hamil besar muncul dari balik pintu. Senyumnya lembut, ramah seperti biasa. Naruto kemudian mengangkat sang putra, dan menggendongnya.
"Okaeli... Aya―"
"Boruto kangen ya?" Boruto mengangguk semangat,
"Selamat datang, Naruto-kun." Hinata meraih tas tangan Naruto, lalu membawanya.
Perempuan itu sekarang hamil enam bulan. Perutnya membesar, diperkirakan anak keduanya yang berdasar hasil USG adalah perempuan akan lahir di bulan November.
Mereka kemudian bersama masuk ke dalam rumah. Bagi Naruto, kebahagian ialah saat senyum pada bibir terulas begitu saja, bahkan sebab hal kecil. Tanpa ragu, tanpa paksa, kebahagiaan ada bukan dicipta, melainkan tercipta tanpa unsur sengaja.
.
.
END
Terimakasih sudah membaca^^
Tunggu lagi project kami berikutnya di bulan depan.
.
Salam,
Kimono'z
