2060 When The World is Yours
Yuli Pritania
LuMin ver
Chapter 10
In Front of STA Building, Seoul, South Korea
11.00 AM
Pendaratan yang sukses. Tanpa goncangan sedikitpun. Minseok yakin 100% bahwa kehadiran benda berbentuk mobil ini akan mengguncangkan dunia. Dan dia sudah mendapatkan jawaban kenapa pria yang sekarang berstatus suaminya itu terkenal dengan kejeniusannya.
Menciptakan benda seperti ini bahkan butuh lebih dari sekedar kejeniusan. Benda terbang yang berhasil membuat Minseok melupakan fhobianya terhadap ketinggian dan menikmati pemandangan di sepanjang perjalanan.
" Nanti... Tunggu sebentar." ujar Luhan sambil mengeluarkan communicator-nya yang berbunyi
" Ah, wae? " tanya Luhan saat melihat wajah Chanyeol muncul di layar.
"Pemasaran yang bagus Lu Han. Kau membuat heboh seluruh dunia sekarang. CNN bahkan menayangkan liputan langsung. Terbang diatas langit dari Siena ke Seoul. Kau sudah gila! " seru Chanyeol dengan senyum lebar terkembang di wajahnya.
" Benar-benar keren! Sepertinya tidak ada masalah berarti bagi orang yangg baru mengendarainya. Bahkan tidak ada guncangan sama sekali. Kita sukses! "
" Aish, kau membuatku iri! Aku kan juga mau mencobanya. Tapi ngomong-ngomong, kau sedang bersama Minseok? Bagaimana bulan madu kalian? Sukses? Kapan aku akan mendapatkan keponakan lucu? " tanya Chanyeol penuh semangat.
" Jangan mulai merecokiku dengan otak mesummu itu! Sudahlah lebih baik kau kembali bekerja. Direktur macam apa yang kerjanya hanya main-main saja, hah? "
" Kau ini galak sekali. Ya sudah, sampai jumpa nanti. Titip salam untuk istrimu. "
Luhan memasukkan communicator-nya lagi ke dalam saku celana dan menoleh ke arah Minseok.
" Nanti aku akan mengirimkan mobilmu kesini dan meminta mereka menyediakan tempat parkir khusus. Aku akan menjemputmu saat makan siang, setelah urusanku di Gedung Biru selesai. "
" Gedung Biru? Ada urusan apa kau dengan Presiden Korea? " tanya Minseok penasaran.
Cara bicara pria itu seolah dia sudah sering keluar-masuk gedung kediaman Presiden Korea itu. Jika Amerika punya Gedung Putih, maka Gedung Biru-lah sebutannya untuk Korea. Sama terkenalnya dan memiliki pengamanan yang sama ketatnya. Sudah jelas bahwa tidak sembarang orang bisa masuk kesana.
" Membicarakan pesawat jet baru yang akan mereka gunakan untuk pasukan militer. Mungkin juga Presiden mau membicarakan Amphibithrofe, tertarik untuk membeli beberapa. Akan sangat berguna untuk pasukan pengamanan negara. "
Sepertinya Lu Corp benar-benar berarti banyak untuk negara, batin Minseok sambil membuka pintu penumpang.
Saat dia sudah sampai di luar, barulah gadis itu tersadar betapa banyak nya orang yg berkerumun di depan gedung STA, memperhatikan mobil itu dengan kagum. Astaga, dia benar-benar tidak suka berada di bawah pusat perhatian seperti ini.
Dia bisa membayangkan betapa banyak pegawai yang akan menanyainya tanpa henti tentang kendaraan cantik itu. Yeah, kendaraan itu memang cantik. Minseok merasa harus mengakuinya.
" Sampai jumpa nanti." ujar Luhan melongokkan kepalanya dari balik kaca mobil. Minseok mengangguk, secepatnya kabur dari tempat itu.
" Dan Minseok-ah" panggil Luhan lagi, membuat gadis itu membungkuk sedikit agar bisa melihat ke dalam mobil.
" Jaga dirimu baik-baik. Untukku. "
Geez, dia yakin telinga tajam milik kerumunan orang-orang itu bisa mendengar kalimat yang baru saja dilontarkan Luhan untuknya. Dan sialnya, pria itu malah tertawa geli melihat ekspresi Minseok, seolah dia melakukan hal itu dengan sengaja.
Tawa yg keluar dari bibir Luhan itu hanya semakin memperparah keadaan mengingat betapa dinginnya image pria itu selama ini, tapi dia malah dengan mudah menggoda istrinya di depan semua orang, lalu tertawa. Minseok tahu orang-orang yang berada di kerumunan itu terpaku syok, yang membuatnya semakin bernafsu untuk mencekik pria itu sampai mati.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
" Hai, bagaimana bulan madumu? " tanya Kyungsoo saat Minseok baru menjatuhkan badannya ke atas kursi di belakang meja kerjanya.
Gadis itu memijat lehernya pelan, memberi dirinya sendiri pujian karena berhasil lolos dari rentetan pertanyaan semua orang yang ditemuinya dalam perjalanan ke ruangan ini. Tapi sekarang dia harus menjawab pertanyaan sahabatnya yang kecerewetannya sudah mencapai tingkat maksimum itu.
" Dia mengajakku ke Verona dan Siena. Dan jangan bertanya apa yg terjadi pada malam harinya, karena kau akan kecewa mendengar jawabanku. Aku ketiduran saat menonton Romeo Juliet. Film itu benar-benar sukses membuatku terkapar. "
" Verona? Siena? Kau ke rumah Juliet? "
" Ck, jangan bilang kau juga punya impian bodoh untuk pergi ke sana dan menempelkan surat cintamu di dinding. "
" Tidak." dalih Kyungsoo dengan raut wajah tanpa dosa.
" Hei, kendaraan baru Luhan itu benar-benar keren! Semua orang di dunia heboh membicarakannya! Aku menonton CNN tadi. CNN! Coba kau bayangkan! Meliput langsung perjalanan kalian dari Siena kesini. Sepertinya Amerika sudah tunduk pada kita, kan? " ujar Kyungsoo penuh semangat, mengalihkan bahan pembicaraan.
" Kau tahu? " sela Minseok tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer yang baru saja dihidupkannya. Ada senyum samar di wajah gadis Itu saat melanjutkan kalimatnya.
" Untuk pertama kalinya aku bangga menjadi warga negara Korea. "
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Infinite Hotel's Restaurant, Gangnam, Seoul
12.30 PM
" Kau mau membicaraka bisnis dengan klienmu saat makan siang dan kenapa harus mengajakku? Kita kan bisa makan siang bersama kapan-kapan. " protes Minseok sambil membalik-balikkan buku menu di tangannya dengan malas.
" Aku tidak bisa mengungkapkan alasannya padamu. Kalau kau mau aku bisa membatalkan makan siang bisnisku." ujar Luhan enteng.
" Uang sudah tidak berarti lagi ya buatmu? Belum pernah mencoba rasanya hidup susah? "
" Kau ini sensitif sekali "
Minseok mengacuhkan Luhan dan memberitahukan pesanannya pada pelayan yang menunggu di samping meja mereka, Kemudian menenggelamkan diri dengan file kasus 5to5 yang dibawanya.
" Aku rasa aku bisa membantumu " kata Luhan tiba-tiba.
Minseok mendongak dan menatap pria itu bingung. Mata Luhan tertuju pada barisan data yang tertulis di atas kertas itu dengan kening berkerut.
" Tempat-tempat yang dijadikan lokasi pembunuhan. " jelas Luhan. Ada nada marah yang tersirat dari suaranya.
" Semua korban dibunuh di apartemen tempat mereka tinggal. Dan kau tahu? Semua apartemen itu milikku."
"Semuanya... milikmu? " ujar Minseok dengan suara tercekat.
" Ada apa sebenarnya? Kenapa semuanya harus berhubungan dengamu? Apa kekayaanmu itu menjadi sasaran empuk para pembunuh bayaran? "Luhan menarik nafas berat dan menyandarkan tubuhnya ke kursi.
" Shim Dae Ho. Aku sudah menyelidiki nya. Dia tidak menikah, bahkan tidak menjalin hubungan dengan wanita manapun hingga dia memperoleh keturunan. Dia juga sudah tidak punya keluarga lagi. Aku jadi heran, siapa orang yang mau repot-repot membunuhi 24 orang gadis hanya untuk membalaskan dendam pria itu? Apa ada data yang tersembunyi dan luput dari pencarianku? "
" Kudengar komputermu di rumah bahkan bisa menelusup ke data intelejen Amerika, jadi kenapa data remeh seperti itu saja bisa membuatmu kecolongan? Atau memang tidak ada data yang hilang. Mungkin perasaanmu saja. "
" Tidak. Selalu ada data yang ilegal yang disegel untuk orang-orang yang bergelut dalam bidang gelap seperti itu, mereka berpikir untuk mengamankan hidup mereka dari sentuhan polisi, dan akan membutuhkan waktu cukup lama untuk membukanya. Aku menemukan satu data yang seperti itu dalam file Dae Jo. Aku belum membukanya. Sepertinya nanti malam aku harus menyelidikinya, siapa tahu membantu. "
" Apa semua data dari seluruh dunia benar-benar bisa dilacak di komputermu? Sepertinya itu akan sangat membantu untuk memecahkan beberapa kasus yang ditangani KNI. "
" Aku belum memberitahumu? Semua ruangan di rumah, bahkan ruang kerja pribadiku sudah kuatur untuk menerima perintah suara darimu. Kau bisa mengakses komputer pribadiku kapan saja kau mau. Terutama untuk mencari beberapa data pribadi. Kau juga bisa meminta tolong padaku jika kau kesulitan membuka data yang tersegel. "
Minseok melongo mendengar ucapan pria itu. Bukankah Luhan terkenal penyendiri karena sulitnya mendapatkan kepercayaan dari pria Itu? Seorang Park Chanyeol sepupu kesayangannya bahkan tidak bisa mengakses komputer pribadi pria itu sama sekali. Jadi kenapa Luhan dengan begitu mudah memberikan kepercayaan sebesar itu padanya?
" Jangan memasang tampang bodoh seperti Itu. Kau kan istriku, orang yang akan memiliki hubungan paling dekat denganku, bahkan lebih dari ibu dan nunaku sendiri. Jadi kalau aku tidak bisa mempercayaimu, siapa lagi yg harus kupercayai? "Minseok baru akan membuka mulutnya saat seorang pria bertubuh besar tiba-tiba memotong pembicaraan mereka.
" Luhan-ah maaf aku terlambat. Tadi aku juga sedang ada meeting dadakan di kantor, makanya terlambat sampai disini" Luhan tersenyum dan mengangguk, memberi tanda agar pria itu duduk di depan mereka. Sepertinya inilah rekan nisnis yg ditunggu Luhan dari tadi.Pria itu menoleh ke arah Minseok dan langsung membungkuk dan tersenyum ramah.
" Istrimu? Cantik sekali! Aku hanya melihat pernikahan kalian dari berita TV. Aku juga mau mengucapkan permintaan maafku dan Istriku karena tidak bisa hadir kemarin. Dia menemaniku melakukan perjalanan bisnis ke Jepang. Kami baru pulang kemarin malan. "jelas pria itu panjang lebar.
" Tidak apa-apa aku sudah menerima pesanmu kemarin. "
" Namaku Kang Dong Woo, kau bisa manggilku Dong Woo. Senang bertemu denganmu Minseok-sshi" ujar Dongwoo sambil menjulurkan tangannya ke arah Minseok. Menit berikutnya Dongwoo dan Luhan sudah terlibat dalam pembicaraan bisnis mereka.
Sepertinya tentang pembelian sebuah kawasan real estate di kawasan Kangwom yang akan dirombak menjadi perumahan elit dengan gaya natural sesuatu standar pemerintah. Untuk lebih menggalakkan motto pencegahan global warming.
Awalnya Minseok mendengarkan tapi lama kelamaan gadis itu mulai merasa bosan dan mulai sibuk sendiri dengan makan siangnya. Steak pesanannya benar-benar nikmat.Astaga, kapan terakhir kali dia memakan daging sapi asli seenak ini?
" Kenapa Eun Ji nuna tidak ikut? Biasanya dia selalu menemanimu kemana-mana hyung "Minseok mendongak saat mendengar topik pembicaraan dua orang itu berubah. Sepertinya pertemuan bisnis mereka sudah berakhir.
" Dia kelelahan karena perjalanan kemarin. Tapi kau sekarang sudah menjadi penerusku kan? Benar begitu, bawalah istrimu kamanapun kau pergi. Hubungan pernikahan kalian akan semakin menguat dengan dilandasi kepercayaan dari masing-masing pihak. Aku juga suka membawa istriku setiap makan siang. Seperti yang pernah kuberitahukan padamu, makan siang bagi pebisnis seperti kita sama pentingya dengan kehadiran seorang istri di dalam hidup kita. "
" Aku mengerti hyung. "
" Ya sudah. Aku pergi dulu. Sudah saatnya aku kembali ke kantor. Hari ini biarkan aku mentraktir kalian berdua. Anggap saja sebagai hadiah pernikahan. Hahahaha.Sampai jumpa Minseok-sshi. "
Minseok menyikut lengan Luhan saat pria itu hilang dari pandangan.
" Apa maksud kalian? Arti seorang istri hanya sama dengan makan siang? Hanya sebatas itu?
" Jangan emosi. Kapan-kapan aku akan memberitahumu apa maksudnya. Dan... sejak kapan kau meributkan posisimu dalam hidupku? "
Minseok ternganga mendengar pertanyaan pria itu. Benar.. sejak kapan dia memedulikan posisimu dirinya dalam hidup Luhan ? Sejak kapan... pendapat pria itu tentangnya menjadi penting?
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
STA Building, Seoul, South Korea
11.00 AM
" Hei, apa siang ini kau akan makan dengan Luhan lagi? Akhir-akhir ini dia jadi perhatian sekali." komentar Kyungsoo saat melihat Minseok mengumpulkan barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam tas.
" Dia memaksaku. Menurutmu aku bisa apa? " sahut Minseok ketus.
" Suamimu itu keren sekali, ya! Kau yakin belum jatuh cinta padanya? " goda Kyungsoo sambil mengedip jahil ke arah Minseok.
Anehnya, sekarang gadis itu terlihat gugup dengan pertanyaan tiba-tiba itu. Padahal biasanya dia akan meneriaki Kyungsoo penuh emosi. Bersikap seolah jatuh cinta pada Luhan adalah sebuah dosa besar yang memalukan.
" Jangan mengada-ada." sergah Minseok tanpa menatap Kyungsoo sedikitpun.
" Yak, kau sudah mulai mengakuinya, ya? Kenapa kau gugup seperti itu? Aigoo, Minseokie, kau termakan ucapanmu sendiri, kan? Baru juga dua hari menikah, tapi dia sudah berhasil menarik perhatianmu. "Minseok mendongak dan menatap Kyungsoo sengit.
" Yak, kalau terus menerus disodori godaan sebesar itu, menurutmu gadis mana yang akan terlepas dari pesonanya, hah? "
" Ah, Jadi menurutmu Luhan itu mempesona, ya? Bukannya pria tampan yang sok berkuasa lagi? " potong Kyungsoo semakin menyukai kegiatannya menggoda Minseok.
Minseok menggeram kesal dan menyentakkan tasnya dari atas meja, keluar dari ruangannya dengan hati dongkol, meninggalkan Kyungsoo yang tertawa-tawa di belakangnya.Sial, kenapa dia tidak bersikap seperti biasa dan mengatakan bahwa pria itu sama sekali tidak menarik minatnya?
Akui saja Minseok pria itu bahkan lebih dari sekedar sangat menarik perhatianmu. Minseok menggertakkan giginya mendengar kata hatinya yang menggema di kepalanya sendiri seolah dia sendiri yang meneriakkannya.
Dia tidak suka terikat dalam pernikahan, dia tidak suka hidup dalam kekangan, dan yang lebih penting lagi, dia tidak suka berada di Korea. Selama ini hidupnya hanya tentang pekerjaan saja, dan dia tidak siap menghadapi jenis kehidupan seperti yg sedang dijalaninya sekarang.
Sayangnya, alasan untuk menjauhi pria itu semakin menghilang. Dia mulai berpikir bahwa menikah itu sama sekali tidak buruk, dia menyukai sikap protektif pria itu terhadapnya, dan terlebih lagi, Korea sama sekali tidak semenakutkan bayangannya.
Minseok menghentikan langkahnya di depan Luhan yang sedang bersandar di depan kap mobilnya, menunggu Minseok dengan tangan bersedekap di depan dada. Pria itu tersenyum singkat dan berbalik masuk ke dalam mobilnya, tanpa mau bersusah payah membukakan pintu untuk gadis itu.
Tapi kabar buruknya adalah Minseok memang tidak suka pria yang memperlakukan gadisnya dengan romantis. Dia bahkan setengah berharap bahwa Luhan akan membukakan pintu mobil untuknya, memberinya alasan untuk menemukan salah satu sikap yang tidak disukainya dari pria itu.
Tapi tidak, sejauh ini pria itu selalu memperlakukan segala hal yang berhasil membuat Minseok terpesona. Dan bukannya menemukan alasan untuk menjauh, gadis itu malah menemukan alasan-alasan baru untuk semakin mendekat.
" Kau sudah pernah makan siang di Irlandia? " tanya Luhan tiba-tiba setelah memasang seatbelt-nya.
" Mwo? "
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Dublin, Ireland
07.00 AM ( Ireland's Time)
Pria itu benar benar membawanya ke Irlandia!
Dengar IRLANDIA! tempat yg selama ini ingin dia kunjungi bersama Kyungsoo. Mereka berdua selalu terpesona dengan pemandangan yang terdapat di negara itu. Indah, hijau, dan menakjubkan. Panorama pegunungan dan pantai disana benar-benar menyilaukan mata.
Dan Luhan membawanya kesana hanya karena dia ingin bertemu dengan seorang klien untuk membicarakan peternakan yang akan dibeli Luhan di pinggir kota. Satu kesimpulan yang Minseok tarik. Pria itu sudah gila!
Mereka berkeliling mengamati lokasi peternakan yang menurut Minseok lebih cocok dijadikan tempat wisata karena lokasinya yang menghadap pantai dan pemandangan perbukitan yang mengagumkan, dari pada dijadikan sebagai tempat tinggal para sapi dan domba.
Pasti menyenangkan sekali jika bisa tinggal di tempat setenang dan seindah itu.Sepertinya Luhan juga menyukai tempat itu dan mengajak pria Perancis bernama Pete itu sarapan untuk bersama, membicarakan harga yg pas.
Minseok tidak terlalu memperhatikan karena mereka berdua bicara dalam bahasa Perancis, membuat Minseok penasaran sendiri, berapa banyak bahasa yang dikuasai pria itu.
Sebenarnya Minseok bisa saja mengeluarkan communicator-nya dan mengaktifkan aplikasi translator. Salah satu temuan baru lagi dari Lu Corp. Communicator itu juga berfungsi sebagai penerjemah. Hebatnya, kau bisa langsung mendapatkan terjemahan dari ucapan orang asing yang sedang bicara denganmu, communicator itu akan menerjemahkannya bersamaan dengan saat orang itu bicara.
Jadi kau tidak perlu menunggu sebelum bisa mengerti ucapan orang asing tersebut untuk menjawabnya. Praktis sekaligus mencengangkan. Hanya saja Minseok tidak berminat menggunakan aplikasi itu sekarang. Dia sempat belajar bahasa Perancis dalam masa pelatihannya dan dia membenci bahasa itu setenga mati.
Dia bahkan tidak suka mendengar orang berbicara dengan bahasa itu. Terdengar seperti orang yang sedang kumur-kumur, lebih tepatnya lagi, Minseok merasa bahasa itu berasal dari luar planet bumi.
" Kita makan siang dimana? " tanya Minseok penasaran.
Sebenarnya dia sudah amat sangat kelaparan. Mereka menempuh perjalanan tiga jam kesini dengan pesawat jet pribadi Luhan -seharusnya perjalanan dari Korea ke Irlandia membutuhkan waktu 11 jam jika menggunakan pesawat biasa- belum dihitung perbedaan waktunya.Disini masih jam 7 pagi, karena perbedaan waktu 8 jam diantara kedua negara dan perut Minseok sudah berdemo minta diisi.
" Rumahku. "
" Kau juga punya rumah disini? Astaga! " seru Minseok sambil menggelengkan kepalanya.Melihat ekspresi wajah Luhan , Minseok mengumpat kesal sambil memegangi kepalanya yang mendadak terasa pusing.
" Baiklah, biar kutebak. Kau punya rumah di setiap negara. " ujar Minseok dengan suara disabar-sabarkan.
" Cih, sebaiknya aku menyelidiki hartamu dulu sebelum setuju menikah denganmu .Kekayaan mu membuatku terancam terkena serangan jantung! "
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Dromoland Castle, Ireland
07.30 ( Ireland's Time)
" Oke, sejak kapan kastil sebesar ini bisa disebut rumah? " geram Minseok habis kesabaran.Mereka baru saja turun dari mobil dan Minseok langsung ternganga melihat 'rumah' di depannya.
" Tempat tinggal disebut rumah, kan? "
Minseok menghentakkan kakinya, tidak tahu harus bicara seperti apa lagi dengan pria itu.
Untuk apa membeli kastil sebesar ini dan membiarkannya tanpa penghuni? Hah, kecuali kau mau membuang-buang uangmu yang banyaknya mungkin bisa memenuhi satu desa jika dibiarkan berserakan di jalan.
Minseok masih merasa kesal sepanjang makan siang yg lebih tepat jika disebut sarapn. Dia duduk di samping Luhan yang sedang membicarakan tentang peternakan tadi dengan kliennya itu.
Dia menusuk-nusuk mushroom ravioli-nya tanpa memakannya sama sekali.
Tapi lama-lama dia tidak tahan juga karena perutnya terus berontak minta diisi. Minseok nyaris yakin bahwa tawa yang disamarkan Luhan menjadi batuk-batuk kecil itu adalah reaksi gelinya terhadap kelakuan kekanak-kanakan Luhan yang hanya membuat gadis itu semakin kesal saja.
" Nice to have a business with you. I'm not surprised anymore why you can be the most successful businessman in the world. I prove it by myself. Your achievements now is what you get from your brilliant brain. You are a good negotiator. It's nice to have an amazing husband like him, Mrs Lu. " ujar Pete tiba tiba dengan akses yg sangat kental dalam bahasa inggirisnya.
Minseok tersenyum salah tingkah, tidak tahu harus berkata apa. Sepertinya pria di depannya ini sangat mengagumi Luhan. Gadis itu tersentak saat Luhan menggenggam tangannya erat sambil tersenyum ke arah Pete.
" Ma plus grande rèalisation a èté brillante ma capacitè ã être en masure de convaincre ma femme de me marier. "
Tidak perlu communicator untuk membuat Minseok mengerti arti ucapan pria itu.Dia sempat belajar bahasa Perancis dan memahami beberapa kata sederhana walaupun dia tidak bisa mengucapkan nya dengan benar
Pencapaian terbaikku adalah kemampuanku membujuk istriku untuk setuju menikah denganku. Kurang lebih itulah arti kalimat yang berhasil membuat Minseok tertegun dan kehilangan pita suaranya untuk beberapa saat.Pete tertawa senang dan menepuk-nepuk bahu Luhan,memamerkan deretan giginya yang putih bersih.
"Take your wife to have a nice honeymoon in Paris. I think you two will be the most amazing couple in the world. Really, you have the best husband, Mrs Lu . "
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
" Kopi? " tawar Luhan sambil menyodorkan secangkir kopi hangat ke arah Minseok.Gadis Itu mengambilnya dan melayangkan pandangannya lagi kearah pemandangan pesawahan, pemukiman penduduk, dan pantai di kejauhan yg bisa mereka lihat dari balkon belakang kastil itu.
" Aku sudah lama sekali ingin ke irlandia. Dan kau membawaku kesini hanya untuk pergi makan siang. Lucu sekali. "Minseok mengedikkan kepala nya ke arah pemandangan pantai di kejauhan.
" Tempat ini memang indah sekali kan? "
" Cantik. " ujar Luhan menyetujui. Minseok menoleh dan menyadari bahwa mata pria itu tidak tertuju ke pemandangan yang dimaksudnya, tapi malah tertuju ke arahnya. Dan pria
Itu terlihat tidak berniat untuk memalingkan tatapannya dalam waktu dekat.Minseok mendengus dan memasang muka muram.
"Kau sedang merayuku? Apa pria selalu jatuh cinta pada wanita karena wanita itu cantik? "
" Sebagian besar ya. " jawab Luhan jujur sambil mengulurkan tangannya untuk menyelipkan anak rambut Minseok yang tertiup angin ke balik telinganya.
" Lalu apa kau termasuk yang sebagian besar itu? "Luhan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menjawab, seolah pria itu sedang berpikir . Tapi yang dilakukan pria itu adalah menyandarkan tubuhnya ke pagar balkon agar bisa menatap Minseok dengan lebih leluasa, memuaskan dirinya memandangi wajah favoritnya itu.
" Bukan tentang cantik wajahmu, tapi ekspresi yang kau perlihatkan di depanku. Kalau hanya cantik saja, aku akan jatuh cinta pada wanita lain yang lebih cantik darimu. Kau selalu menggembungkan pipimu saat kau kesal,kau suka merengut, memasang tampang mengejek,mengerutkan keningmu saat kau sedang berpikir keras tentang sesuatu, dan saat kau tersenyum... semua itu hanya kau saja yang bisa meperlihatkannya.Tentu saja banyak gadis lain yang melakukan Hal yg serupa, tapi mereka bukan kau. Ekspresi yang mereka perlihatkan tidak akan sama. "
" Bukan tentang suaramu, tapi apa yang kau ucapkan. Banyak pria yg berkata pada gadisnya bahwa dia selalu merindukan suara gadis itu, tapi untukku... yang penting adalah apa yg kau ucapkan. Kemudian tentang tubuhmu. Bukan bagaimana kau tampil, betapa cantiknya dandananmu, sebagus apa baju yg kau pakai, tapi tentang apa yang kau lakukan dengan tubuh itu. " Luhan menghela nafas sesaat dan tersenyum Lega.
" Dengan semua penilaian Itu, kau terlihat cantik di mataku. "
Minseok mengerjapkan matanya, memfokuskan pandangannya pada wajah tampan di hadapannya itu. Detik itulah gadis itu tersadar, bahwa dia benar-benar telah jatuh cinta pada pria itu. Dan tidak tahu bagaimana caranya kabur. Karena memang tidak ada jalan keluar sama sekali untuk kabur.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
STA Building, Seoul, South Korea
05.00 PM
" Hei, Nona Do, wajahmu serius sekali. "
Kyungsoo mendongak kaget mendengar sapaan tiba tiba itu, dan lebih kaget lagi saat mengetahui siapa yang menyapanya.
" Eunhyuk oppa! " serunya sambil bangkit berdiri dan meberikan pukulan ringan ke tubuh pria itu
" Yak, apa Thailand sebegitu menyita perhatianmu sampai-sampai kau melupakan aku dan Minseok dan tidak memberi kabar sama sekali pada kami? "
Eunhyuk tertawa, menarik salah satu kursi dan duduk diatasnya.
" Aku mendapatkan banyak kasus disana. Lagipula, banyak gadis-gadis disana yg lebih menarik dari kalian. "
" Dari Minseok juga? Aku kira kau benar-benar serius menyukainya."
" Aku memang serius. Makanya aku datang kesini. Aku ingin mencari tahu apa Minseok dan suaminya menikah karena cinta atau karena paksaan dari pria itu? Kalau yang terjadi adalah alasan yg kedua, maka aku berencana untuk merebutnya lagi. " ujar Eunhyuk dengan raut wajah serius.
" Oppa.. kau tidak serius dengan ucapanmu, kan? Aku bisa menjamin bahwa Luhan mencintai Minseok dan cepat atau lambat Minseok akan merasakan hal yang sama dengannya. " kata Kyungsoo panik.
Pria di depannya itu memang suka bertindak sembarangan dan tidak peduli dengan bahaya apapun yang dihadapinya. Eunhyuk tersenyum dan mengibaskan tangannya.
" Ani. Apa menurutmu aku segila itu sampai mau berhadapan dengan seorang Lu Han? Aku masih waras! Kau ini mudah sekali kubodohi. Tenang saja, aku akan segera mendapat gadis lain yang mencintaiku, daripada aku menghabiskan waktuku untuk mengejar cinta sahabatmu itu. "
" Baguslah. " sahut Kyungsoo sambil menghela nafas lega.
" Jadi ngomong-ngomong, kenapa aku tidak menerima undangan pernikahan darimu? "
" Dariku? Maksudmu undangan pernikahan Minseok ? Yak, kau itu sudah menghilang lebih dari setengah tahun, aku rasa dia sudah tidak ingat lagi padamu! Tapi aku rasa dia masih ingat. Terang saja kau kan selalu mengikutinya kemana-mana selama di Amerika. Menggodanya terus-terusan, tidak peduli bahwa dia sudah meneriakimu. Apa gelarnya untukmu? Pria tidak punya otak? Tuan tidak tahu malu? " Kyungsoo tertawa-tawa kecil saat mengingat masa-masa training di Amerika.
Eunhyuk , pria di depannya itu, dengan percaya dirinya mendeklarasikan diri sebagai satu-satunya calon suami KIM Min Seok, tidak peduli jika gadis yang ditaksirnya itu tidak menaruh minat sedikitpun padanya.
" Bukan. Maksudku undangan pernikahan mu dan Suho. Bukankah waktu itu kalian berdua akan menikah? Apa pernikahan nya ditunda? Terjadi sesuatu? " Kyungsoo terdiam dan menatap Eunhyuk gugup.
" Benar terjadi sesuatu ya? Ada apa? Suho memutuskanmu? "
" kenapa kau berpikir pria itu yang memutuskanku, hah? Aku yang memutuskannya! " seru Kyungsoo emosi.
" APA? " teriak Eunhyuk kaget
" Kau yang memutuskannya? Tapi kenapa? Setidaknya kau bisa bertahan dengan kenyataan bahwa dia telah menyelamatkan nyawamu! "Kyungsoo mendecak kesal dan menatap Eunhyuk sinis.
" Kenapa semua orang berkata seperti itu dan aku jadi satu-satunya orang yang tidak tahu masalahnya disini? Aku tidak pernah merasa terancam bahaya, jadi kenapa kalian semua berkata bahwa dia telah menyelamatkan nyawaku? " teriak gadis itu fustasi.
" Jadi kau tidak tahu? Kau tidak tahu alasan kenapa Suho membunuh Min Sang Hyun waktu itu? "
" Aku tahu! Aku sudah menyelidikinya. Min Sang Hyun adalah mafia yang terlibat konfontrasi sampai terjadi baku tembak di kawasan Myeongdeong waktu itu. Menewaskan beberapa orang warga sipil termasuk tunangan Suho. Aku tahu kenapa alasan dia masuk KNI. Untuk balas dendam. Dan dia berhasil. Dia berhasil membunuh pria itu, kan? Dengan tangannya sendiri. "
Eunhyuk memandang Kyungsoo dengan tatapan tak percaya, seolah dia telah menarik kesimpulan yang salah. Benar-benar salah.
" Duduklah " kata Eunhyuk dengan nada lelah.
" Aku akan menjelaskan semuanya padamu."
Kyungsoo menurut dengan jantung berdentum-dentum tak menentu. Apa yg perlu dijelaskan?Kenapa Eunhyuk terlihat kesal?
" Nama gadis itu Lee Da Som. Dan aku yakin kau tahu. Wajahnya cukup mirip denganmu. Walaupun sikap dan penampilan kalian jauh beda. Dia jauh lebih feminim, lembut, jenis gadis yang harus dilindungi. Aku tahu karena aku adalah sahabat Suho sejak bangku kuliah. Menjadi trainee bersamanya. Dan aku mengenal Da Som karena dia adalah tunangan Suho."
" Tapi mungkin ada kesalahpahaman besar disini. Mungkin kau bertanya pada teman-teman kuliah Suho tentang gadis Itu. Tidak ada yg tahu selain aku, bahwa mereka berdua bukanlah pasangan serasi seperti yang dipikirkan orang-orang. Mereka berdua dijodohkan. Kau tahulah, dengan orang tua yang kaya, bukan hal yang mengherankan bahwa terjadi perjodohan diantara sesama relasi bisnis. Mereka tidak saling mencintai. Tapi mereka berdua adalah anak yang sangat berbakti pada orang tua, karena itu mereka bersandiwara menjadi sepasang kekasih yang saling mencintai di hadapan semua orang. "
" Kau benar bahwa gadis itu meninggal dalam baku tembak yang terjadi di Myeongdeong waktu itu. Tapi kau salah jika berpikir bahwa Suho mendaftar sebagai anggota KNI hanya karena Ingin balas dendam. Aku sudah mengenal Suho cukup lama untuk tahu bahwa pria itu memang memiliki impian menjadi bagian dari KNI, jauh sebelum gadis Itu meninggal."
" Kemudian dia bertemu denganmu. Sesama trainee. Dan kau sudah tahu cerita selanjutnya. Kalian jatuh cinta, menjalin hubungan, kemudian memutuskan untuk menikah. Sampai kasus waktu itu terjadi. "
" Kau tahu kesalahan terbesarmu? " Kyungsoo mengerjap dan menggeleng.
" Waktu itu kau terfokus untuk menghabisi anak buah Sang Hyun sehingga tidak tahu bahwa pria itu menyodorkan pistolnya padamu, berniat menembakmu. Suho yang menyadarinya langsung bergerak dan menembak pria itu. Mungkin maksudnya hanya melukai, tapi peluru yang ditembakkannya malah menembus jantung Sang Hyun sehingga pria itu mati di tempat. "
" Itulah yang sebenarnya terjadi. Dan aku harap, kau merasa bersalah dengan apa yg sudah kau lakukan padanya, Do Kyungsoo-sshi. "
Kyungsoo memegangi kepanya yang mendadak terasa sakit. Otaknya mencerna ucapan Eunhyukdengan begitu lambat, dan saat dia tersadar, dia nyaris tidak bisa bernafas dengan benar, ketakutan sendiri dengan kesalahan besar yang sudah dilakukannya.
" A... aku... "Pintu ruangan terbuka tiba-tiba dan Minseok masuk bersama Luhan dengan pandangan bingung.
" Wooo, Eunhyuk oppa. Kapan kau datang? Dan... apa yg terjadi? Maksudku... yak, Do Kyungsoo , ada apa denganmu? Wajahmu seperti baru melihat hantu begitu. "
"A... aku pergi sebentar. Luhan-sshi, aku boleh minta izin untuk pulang cepat, kan?" Luhan mengangguk tanpa bertanya apa-apa. Melihat wajah gadis itu saja dia sudah tahu bahwa ada sesuatu yg buruk yang sudah terjadi.
Minseok menoleh ke arah Eunhyuk yang duduk dengan tampang tanpa dosa tersenyum lebar kepada Minseok yang menatapnya meminta penjelasan.
" Apa yang baru saja kau lakukan pada sahabatku?"
Eunhyuk nyengir kemudian bangkit berdiri, dan secara tiba-tiba menarik gadis itu ke dalam pelukannya, tidak memedulikan aura membunuh yang terpancar dari Luhan .
" Minseok-ah, aku merindukanmu!!! "
" Aigoo, YAK, lepaskan aku! " teriak Minseok berusaha memberontak melepaskan diri dari rangkulan pria itu.
" Aish, masa kau tidak merindukanku juga? " seru Eunhyuk dengan tampang merengut.Pria itu kemudian menoleh ke arah Luhan yang berdiri di samping Minseok .
" Aku tidak tahu bagaimana bisa, tapi aku sudah mendeklarasikan diri sebagai calon suami Minseok nomor 1 tidak berhasil menikahi gadis ini, jadi kenapa kau, pria yang baru datang ke kehidupannya bisa mengikatnya dalam pernikahan? "
Minseok langsung menendang kaki Eunhyuk yang berbicara sembarangan pada Luhan yang emosinya sering tidak terkontrol dengan baik itu.Gadis itu bahkan bisa melihat tangan Luhan yang terkepal menahan marah.
" Yak, jangan mulai bicara yang tidak-tidak! Sekarang beritahu aku apa yang sudah kau lakukan pada Kyungsoo tadi."
Eunhyuk mendelik dan memasukkam tangannya ke dalam saku celana. Dia cukup heran juga dengan tindakan Minseok seolah sangat melindungi pria yg terus-terusan menatapnya dengan aura mematikan itu.
Gadis itu menyukai Luhan ? Bagaimana bisa? Dari informasi yang didapatkan Eunhyuk. Mereka bahkan baru bertemu kurang dari dua minggu, lalu tiba-tiba memutuskan menikah. Entah rencana busuk apa yang digunakan pria di depannya ini untuk menikahi Minseok , yang Eunhyuk tidak habis pikir adalah kenapa Minseok tidak menolak?
Dia mengenal gadis Itu dengan baik, gadis yang tidak akan menyetujui pemaksaan apapun terhadapnya dan akan berjuang untuk menolak sampai akhir . Kecuali... kecuali jika gadis itu memang bersedia menikah dengan Luhan.
" Aku hanya memberitahunya kebenaran tentang Suho. "
Minseok menatap Eunhyuk cukup lama sebelum akhirnya mengangguk, menerima penjelasan pria itu. Keheningan diantara mereka terhenti dengan deringan dari communicator Luhan. Pria itu berbicara sesaat dengan si penelepon, kemudian menyimpan communicator-nya lagi.
" Aku harus kembali ke kantor sekarang. Nanti malam aku jemput. " ujar Luhan dengan mata tertuju pada Minseok.
" Luhan-sshi, kalau boleh aku mau meminjam Istrimu sebentar. Aku ingin mengajaknya makan malam. Biar aku sendiri yg mengantarnya pulang nanti. "
Luhan menoleh ke arah Eunhyuk, tampak menimbang-nimbang sesaat.
" Baiklah. Kalau begitu aku pergi dulu. " kata Luhan sambil membungkukkan badannya sedikit.
" Terima kasih atas Izinmu. "
Luhan menghentikan langkahnya di depan pintu, Kemudian berbalik menatap Eunhyuk. Kata-kata yang kemudian diucapkannya nyaris membuat Eunhyuk mengurungkan niatnya mengajak Minseok makan malam.
" Kembali kan dia padaku dengan utuh atau aku akan membuat perhitungan denganmu."
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Lu's Department Store, Myeongdeong, South Korea
06.30 PM
" Aish, suamimu itu menyeramkan sekali! Bagaimana mungkin Kau bisa tahan hidup dengannya? " komentar Eunhyuk saat mereka sedang berjalan masuk ke sebuah toko pakaian di kawasan Myeongdeong.
Eunhyuk meminta Minseok menemaninya membeli beberapa pakaian karena pria itu tidak membawa apa-apa ke Seoul. Dia memang malas mengangkut barang bawaan jika harus bepergian jauh.Minseok tertawa kecil dan menggeleng.
" Hidup bersamanya sama sekali tidak seburuk yang kau bayangkan. "Eunhyuj menatap Minseok tak percaya sambil mendecak kesal.
" Cih, sehebat apa dia di tempat tidur sampai bisa membuatmu berbicara seperti itu? "Dengan cepat Minseok menyikut perut pria itu dengan keras, tidak peduli dengan tatapan terkejut pelayan toko yang menyambut mereka di depan pintu masuk.
" Mulutmu itu harus disekolahkan dulu supaya berhenti bicara sembarangan! " desis Minseok marah.
" Wae? " tanya Eunhyuk dengan nada rendah. Dia masih meringis kesakitan. Sikutan gadis itu keras sekali.
" Apa dia payah sampai kau malu menjawab pertanyaanku? Atau... dia bahkan belum menyentuhmu? Benar dugaanku, dia itu pasti penyuka sesama jenis.Tidak heran kalau dia belum pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun. "
" Kau mau kutembak sampai mati? Lebih baik kau tutup mulutmu itu sebelum aku berubah pikiran dan membatalkan makan malam kita nanti! "
" Baiklah, baiklah. Aku akan menjadi pria baik. Kau ini sadis sekali! "
Eunhyuk memutuskan bahwa lebih baik dia mulai mencari pakaian yang dibutuhkannya sebelum mendapat tendangan spektakuler dari gadis itu.
Dia menarik beberapa kemeja dan jas secara acak dari gantungan dan langsung membawanya ke kasir setelah mengecek apakah ukurannya sudah sesuai atau tidak.
" Yak, jadi begini caramu berbelanja pakaian? Pantas saja selera berpakaianmu itu buruk sekali. Sini aku pilihkan! Dan sebaiknya kau coba dulu sebelum membeli, siapa tahu tidak cocok " seru Minseok sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan kelakuan teman lamanya itu.
" Ah, kalau begini kita terlihat seperti sepasang suami istri yang serasi, ya? Kau memilihkan baju yang sesuai untuk suamimu." goda Eunhyuk sambil tersenyum senang.
" Sudah kubilang, tutup mulutmu itu, Eunhyuk ! "
Minseok memilihkan beberapa setelan jas dan kemeja untuk pria itu dan menyuruh Eunhyuk mencobanya. Setelah merasa cocok, barulah gadis itu membawa gunungan pakaian tadi ke meja kasir.
" Hitung semuanya." ujar Minseok sambil menyodorkan tubuhnya ke konter.
" Tidak perlu, Nyonya Lu. Tuan Lu Han memerintahkan semua pemilik toko di mallmiliknya untuk memberikan barang secara gratis padamu. Itu berarti di mall manapun kau berbelanja, kau tidak perlu mengeluarkan uang sama sekali. Nyaris semua mall di Korea adalah milik suamimu, kan? " ujar penjaga kasir itu ramah.
" A... apa? " seru Minseok syok dengan mulut ternganga lebar.
" Maksudmu kalau gadis ini mau memborong semua barang di tokomu, kau akan memberikannya secara cuma-cuma begitu? " sambar Eunhyuk cepat dengan wajah yang sama syoknya dengan Minseok .
" Benar, Tuan. Lu Corp memiliki nyaris semuanya. Jadi percuma saja kalian membayar, karena uangnya juga akan masuk ke kantong perusahaan lagi. "
" Astaga, pria itu mau membunuhku! " teriak Minseok keras sambil mengacak-acak rambutnya gusar.
" Aku rasa, seratus keturunan kalian berikutnya akan tetap hidup makmur, tidak peduli sebanyak apapun kalian berusaha menghambur-hamburkan kekayaannya " desis Eunhyuk.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Parking Place, Zenith Restaurant, Myeongdeong, South Korea
08.00 PM
Minseok berjalan ke arah mobil Eunhyuk yang terparkir di ujung sambil meregangkan tubuhnya yang terasa remuk karena kelelahan. Pria itu menyuruh Minseok menunggu di mobil karena dia mau ke kamar kecil dulu dan menyerahkan kunci mobilnya pada gadis itu.
Minseok menghembuskan nafas berat. Sebaiknya sesampainya di rumah dia langsung mandi air hangat dan tidur. Semoga saja saat dia sampai Luhan belum pulang atau mungkin sudah tidur, jadi dia tidak perlu bertemu pria itu. Gadis itu masih belum bisa menerima kenyataan bahwa dia jatuh cinta.
Itu terdengar sedikit menggelikan di telinganya, mengingat jatuh cinta tidak ada dalam urutan 50 hal penting dalam hidupnya selama ini.Minseok memencet remote mobil yang membuka pintu secara otomatis dan baru merundukkan tubuhnya untuk masuk, sebelum seseorang menyekap mulutnya dari arah belakang dengan begitu tiba-tiba.
Gadis itu berjengit, berusaha menjauh dari bau eter yang begitu menyengat dari kain yang disumpalkan ke hidungnya. Lengan orang itu membelit tubuhnya dengan begitu kuat sehingga dia dengan cepat kehabisan oksigen. Gadis itu berusaha memberi perlawanan, tapi tubuhnya tidak mau mematuhi perintah otaknya sama sekali.
Kerja zat berbau asam itu begitu cepat, sehingga dalam waktu singkat tubuhnya sudah merosot jatuh ke aspal. Lampu-lampu di tempat parkir itu mulai berputar-putar di kepalanya, berubah menjadi titik kabur tanpa bentuk.
Setengah sadar, dengan tubuh yang sudah mati rasa, pikiran Minseok mengambang. Dia tidak mengerti bagaimana mungkin dia tidak merasa takut dalam kondisi seperti ini, walaupun dia tahu bahwa seharusnya dia merasa panik. Dia malah memikirkan Eunhyuk yang masih belum kembali dari kamar kecil.
Memikirkan bahwa Luhan akan meminta pertanggung jawaban pria itu karena tidak bisa mengembalikan Minseok padanya. Dengan pikiran itu, cahaya di sekeliling Minseok mulai menggelap seiring dengan hilangnya kesadaran gadis itu.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Lu Corporation Building, Seoul, South Korea
08.10. PM
Jari-jari Luhan dengan cepat menekan tombol-tombol diatas keyboard komputernya. Layar menunjukkan bahwa pria itu sedang berusaha membobol masuk ke dalam sebuah data yang tersegel.
File atas nama Shim Dae Ho. Pria itu bahkan tidak tahan untuk menunggu sampai dia pulang ke rumah. Setidaknya kemampuan komputer di kantornya hampir menyamai komputer pribadinya di rumah. Beberapa data mulai bermunculam di layar.
Dan tulisan-tulisan yang tertera itu membuat Luhan mengerutkan keningnya. Seharusnya dia langsung membuka file ini saat dia menemukannya. Disana jelas-jelas tertulis bahwa Shim Dae Ho mengangkat seorang anak adopsi.
Laki-Laki. Yang saat ini mungkin berusia sekitar 35 tahun. Wajah pria itu putih bersih, terkesan sebagai pria baik-baik, ditambah dengan kalung salib besar yang melingkar dilehernya, membuat penampilannya seperti orang suci.
Tapi Luhan bisa melihat kilatan licik di mata pria itu, dan seluruh kesan baik itu menghilang begitu saja tanpa bekas.Data-data pribadi tentang pria itu sepertinya berusaha disembunyikan dengan baik oleh Dae Ho.
Ada beberapa tanda pengenal dan paspor palsu. Dan jelas-jelas pria itu menjadi kaki tangan Dae Ho yang terpercaya. Nyaris ditangkap beberapa kali karena terlibat kasus pembunuhan, tapi selalu berhasil lolos.
Kasus itu disegel dan dihapus dari data kepolisian setempat, menunjukkan adanya orang dalam kepolisian yang bekerja untuk mereka.Satu hal yang menarik Luhan adalah terdaftarnya pria itu sebagai salah satu anggota organisasi keagamaan yang terkenal fanatik dan terkadang sedikit radikal dalam menunjukkan ketidaksukaan mereka terhadap para atheis. Tidak perlu jadi orang jenius untuk menarik kesimpulan bahwa pria inilah dalang dari semua pembunuhan yang terjadi dua tahun terakhir.
Bisa ditebak bahwa pria itu menyayangi ayah angkat yang telah memberikan kehidupan layak baginya. Dan balas dendam akan menjadi upah yang tepat untuk membayar semua kebaikan ayahnya itu.Luhan meraih communicator-nya yang berkedip menandakan ada panggilan masuk dari atas meja dengan mata tetap tertuju ke layar monitor.
" Yeoboseyo? "
" Luhan-sshi, ini Eunhyuk. Maaf, tapi aku rasa... istrimu baru saja jadi korban penculikan. "
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Parking Place, Zenith Restaurant, Myeongdeong, South Korea
08.45 PM
" Aku sudah memberitahumu untuk menjaga istriku baik-baik! Kau seharusnya bersamanya, bukannya meninggalkannya sendirian! " teriak Luhan, nyaris menghantam wajah Eunhyuk dengan tinjunya kalau saja Kris tidak menahannya sekuat tenaga.
" Luhan-ah sudahlah, kau bisa mengurusnya nanti. Sebaiknya kita fokus pada pencarian Minseok sekarang. "
Luhan menyentakkan tangannya dengan kasar dan mengacak rambutnya gusar. Kris memperhatikan penampilan acak-acakan adik iparnya itu dengan sedikit terkesima. Dua kancing atas kemeja pria itu tidak terpasang dan dasinya melingkar longgar seolah baru saja ditarik karena pemakainya sedang kesal.
Nyaris mustahil melihat seorang Lu Han tampil berantakan dalam keadaan mendesak apapun, tapi seorang Minseok berhasil membuatnya tampak seperti Itu. Wajah Luhan bahkan terlihat sangat frustasi, ekspresi yang tidak disangka Kris dimiliki pria itu.
" Dia pasti diculik oleh pembunuh berantai itu. Dia menjadikan Minseok sasaran terakhirnya. Sejauh ini aku berusaha melindungi gadis itu, tapi teman adikmu Itu meminta Izin padaku untuk mengajak Minseok makan malam. Aku mengizinkannya, tapi lihat apa yg terjadi sekarang? "Kris terkejut mendengar ucapan Luhan. Kalau benar pembunuh berantai itulah yang menculik Minseok, nyawa gadis Itu benar-benar dalam bahaya sekatang.
" Lalu kita harus mencarinya kemana? Aku sudah memeriksa keamanan di lapangan parking. Wajah pria itu tidak terlihat dan nomor mobilnya ditutupi sehingga tidak bida dilacak. "Luhan menyandarkan tubuhnya ke kap mobil sambil memegangi kepalanya, seolah sedang berpikir keras untuk mengingat sesuatu.
Beberapa detik kemudian pria itu mengeluarkan communicator-nya dari dalam saku dan menghubungi seseorang. Cukup lama telepon tidak diangkat, sehingga Luhan mengumpat keras, membuat Kris dan Eunhyuk saling berpandangan dengan raut wajah ngeri.
" Yak, Do Kyungsoo kenapa kau lama sekali mengangkat teleponmu, hah? " teriak Luhankesal saat akhirnya telepon itu tersambung.
" Minhae, aku meletakkan communicator-ku didalam tadi. Waeyo? "
" Kau di apartemen? "
" Aku belum pulang dari tadi. Ada apa? "
" Sial! Cepat pulang, sahabatmu dalam bahaya besar. " ujar Luhan ketus sambil memutuskan sambungan begitu saja. Dia mendongak menatap Kris, matanya terlihat menggelap saat berbicara dengan nada dingin yang nyaris membuat beku.
" Perintahkan semua polisi ke apartemen Minseok sekarang. Pembunuh itu selalu melakukan pekerjaannya di apartemen korban. Dan... selalu di properti milikku. "
to be continue
Maaf telat update ada beberapa yang harus gue urus. Terimakasih buat dukungannya. Yang PM gue request bikin karya sendiri, gue juga lagi nyari ide tapi terbesit bikin yang fantasi baru terbesit doang. Tapi jangan ngarep sama gue ya haha. Untuk saat ini gue mau jadi kang edit dulu mangkannya gue namainnya FanDit. Tapi gak menutup kemungkinan buat bikin karya sendiri. sekali lagi mianhae and gomawo
