Kuroko Tetsuya harus menyesali keputusannya yang menuruti Satsuki untuk bergabung dengan yang lain. Sahabat merah jambunya itu bahkan sudah menghilang bersama sang suami entah ke mana. Sementara dirinya harus terjebak dengan si raven kemayu dan si gorila yang tidak berhenti makan.
Telinganya juga terpaksa harus mendengar ocehan Mibuchi, yang Tetsuya sendiri tak tahu apa yang tengah dikatakannya. Tetsuya hanya tahu jika Mibuchi tengah menceramahi Eikichi untuk berhenti makan barang sedetik.
Si biru yang melihat mulai bosan. Tenggorokannya terasa kering dan memerlukan minuman untuk membasahi.
Mengambil asal minuman yang tengah dibawa salah seorang pramusaji. Tetsuya menenggak minuman tanpa tahu jenisnya. Sensasi panas yang terasa di tenggorokan membuatnya sadar akan jenis minuman yang tengah ditenggak. Namun rasa manis yang tercecap di lidah, membuat dirinya kembali menenggak liquid di dalam gelas hingga tandas.
Penyesalan si biru bertambah saat rasa sakit di kepala menyerang, dan pandangannya menjadi tak fokus. Dirinya bahkan sedikit kesulitan hanya untuk menyeimbangkan tubuhnya.
Gawat.
Tetsuya lupa jika dirinya tidak mampu menenggak minuman beralkohol barang sedikit pun. Sementara satu gelas minuman yang mengandung alkohol sudah tandas tidak bersisa.
Ugh. Dirinya harus segera kembali ke kabin sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan.
.
.
.
.
3 Days
Original story © NoVizH19
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
AkaKuro slight MayuAka, HayaMomo
Drama, Romance, Hurt/Comfort
Rate M for save
Warning; Titanic!AU (maybe), MalexMale, straight, rich!Hayama, boku!Akashi, OOC, Typo(s), etc.
#Challenge4Us #siucchi
Happy AkaKuro Day^^
.
.
.
.
Alis merah bertaut bingung, saat pintu kabinnya diketuk secara brutal. Dirinya baru saja ingin beristirahat dan sengaja tak mengikuti pesta yang dibuat Kotarou juga Satsuki, karena ingin beristirahat lebih awal.
Akashi menggeram. Seseorang yang masih mengetuk pintu semakin beringas itu sepertinya sedang mencari masalah dengannya. Lihat saja, Akashi tidak akan segan memberinya pelajaran.
"Akashi-kun, buka pintunya!" suara familiar itu menyapa telinganya.
Ah, pantas saja. Di dunia ini hanya ada satu atau dua orang yang selalu mencari masalah dengannya. Dan yang tengah mencari masalah dengannya kali ini ternyata teman sekamarnya sendiri.
"Akashi-kun!" seruan itu kembali terdengar. Akashi semakin jengah saat ketukan pintu semakin brutal tak terkendali. Jika dirinya tidak cepat, Akashi yakin pintu kabin itu akan memiliki lubang besar setelahnya.
"Tunggu sebentar, Tetsuya!" Akashi menggeram, kesal karena dirinya diperintah oleh seseorang yang baru sehari dikenalnya.
Turun dari tempat tidur nyamannya, Akashi bergegas menuju pintu untuk menghentikan tingkah brutal roommate-nya.
Pintu dibuka, sosok biru menerobos masuk begitu saja. Tak memerdulikan apapun bahkan saat bahunya menabrak bahu Akashi yang hampir membuat keseimbangan pria itu goyah.
Akashi hampir meledak dan mungkin akan melayangkan tinjuan pada Kuroko saat itu juga. Jika saja dirinya tak melihat Kuroko yang berjalan sempoyongan. Alis merahnya bertaut, melihat pemuda yang kini menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Kau mabuk, Tetsuya?" tanya Akashi setelah menutup pintu dan menghampiri si biru yang berbaring telungkup.
Kuroko menggumam sebagai respon. Wajah yang dihiasi rona ia tenggelamkan pada bantal berbahan bulu.
Akashi tak ambil pusing dan tak mau mengurusi urusan orang. Karenanya, ia memilih duduk di sisi lainnya kemudian membuka buku yang tergeletak di atas buffet. Mencoba mengembalikan kantuk yang sempat hilang karena ulah si biru.
Hening mendominasi ruangan. Akashi larut dalam bacaan sementara Kuroko masih tenggelam dalam kelembutan bantal. Hanya bunyi denting jarum jam dan gesekan kertas ketika halaman berganti yang meramaikan ruangan sunyi itu.
Kepala biru sedikit terangkat, wajah yang sempat tenggelam dalam bantal, kini terlihat jelas. Rona merah masih menghiasi pipi putih, iris biru mudanya tertuju pada si merah dalam mode serius membaca.
Akashi bukan tidak sadar jika dirinya tengah diperhatikan Kuroko. Akashi tahu, namun memilih untuk mengabaikan. Barisan huruf yang merangkai kalimat pada buku di tangan jauh lebih menarik menurutnya.
Heterokrom masih tertuju pada lembaran halaman, fokus dalam membaca. Dahi mengernyit, ketika merasakan beban di pangkuan. Akashi bukan orang bodoh yang tidak tahu jika seseorang telah menduduki pahanya.
Hembusan napas keluar dari belah bibir si merah, buku yang menutupi pandangan diturunkan kemudian ditutup. Sepasang heterokrom miliknya langsung bertemu dengan biru muda yang berkabut.
"Kembali ke tempatmu, Tetsuya!" perintah dikumandangkan. Akashi masih berbaik hati tanpa harus meninggikan suaranya.
Kepala dengan helaian biru menggeleng pelan. Fokus biru mudanya masih tertuju pada merah-emas tanpa sarat emosi.
"Tetsuya ...," nadanya rendah namun terdengar mengancam. "Cepat kembali ke tempatmu atau " Akashi bukan menjeda kalimatnya, melainkan tak dapat melanjutkan.
Merah-emas miliknya —sedikit— membola, saat si biru memotong kalimatnya dengan membungkam mulutnya dalam artian sesungguhnya. Tekstur lembut terasa menyentuh bibirnya, bergerak malu-malu hendak menggoda.
Akashi hampir terbuai oleh cumbuan amatir si biru sebelum logikanya mengingatkan.
"Apa yang kaulakukan, Tetsuya?" merah-emas menatap tajam setelah berhasil melepaskan tautan bibir sepihak.
Sang pelaku bergeming. Tatapan sayu masih tertuju pada heterokrom yang berkilat. Rona merah menjalari pipi putih dengan napas yang memburu.
Kau mabuk, Tetsuya.
Si biru masih bergeming, masih belum mau menyahuti.
Keduanya beradu tatap dalam diam. Menyelami keindahan permata yang tersaji di hadapan namun terselimuti berbagai macam emosi.
Kau tidak boleh mencium orang asing seperti itu, Tetsuya. Tangan Akashi terangkat, menyentuh pipi merona si biru. Membelainya lembut, mampu membuat si biru menutup mata menikmati setiap sentuhan di kulitnya. Apa kau sedang menggodaku, hm?
Kelopak pucat terbuka, heterokrom yang terasa menghipnotisnya adalah sajian pertama yang tertangkap iris serupa samudera.
Akashi-kun. Bibirnya hanya mampu mengeluarkan lirihan yang nyaris tak terdengar. Akashi menunggu, sementara tangannya masih setia memberikan sapuan lembut di pipi pucat ternoda rona. Akashi-kun hangat dan aku suka.
Tetsuya bergerak merapatkan tubuh keduanya. Lengannya sudah melingkari leher pemuda itu, sementara wajahnya Ia tenggelamkan dalam lekukan leher si merah. Tangan Akashi sudah melingkari pinggang Tetsuya. Diam-diam hidung mancungnya mengendus aroma si biru yang menguar lebih memabukkan ketimbang alkohol yang sudah ditenggak si biru.
Tetsuya. Akashi menggeram pelan ketika hangat napas Tetsuya menerpa kulit lehernya yang sensitif. Jangan menggodaku seperti ini! Akashi menahan gejolak emosi asing yang siap meluap kapan saja karena sentuhan si biru yang semakin intim. Kau bisa membuatku lepas kendali, Tetsuya, tambahnya berbisik saat mendapati bibir si biru yang melayangkan kecupan-kecupan kecil di perpotongan leher Akashi.
Tetsuya! Akashi berseru ketika si biru menggigit lehernya yang ia pastikan akan meninggalkan jejak di sana nantinya.
Menarik tubuh si biru demi menciptakan spasi yang sempat terkikis habis. Akashi menatap tajam biru muda yang menyayu sebelum menarik tengkuk Kuroko untuk kembali mendekat. Kau yang memulainya, Tetsuya, lirihnya dengan jarak bibir yang hampir saling menyentuh, bersiap untuk mencumbu. Jangan salahkan aku yang sudah tidak bisa menahannya lagi.
Bibir si biru dicumbu tanpa permisi. Akashi tak memerlukan ijin untuk mencumbu bibir yang sudah terlebih dahulu menggodanya. Akashi bukan makhluk suci yang tidak akan tergoda jika sudah digoda sedemikian rupa. Dirinya hanya manusia biasa yang memiliki sisi iblis dan tidak bisa diabaikan begitu saja. Ada kalanya Akashi menyerah seperti saat ini. Tidak mampu lagi menahan godaan di hadapannya.
Akashi pun mulai mendominasi cumbuan. Kuroko menyambut meski kepayahan. Mencoba membalas semampunya, menyeimbangkan meski tetap terteter.
Merasakan balasan dari si biru membuat Akashi hilang kendali atas diri sepenuhnya. Tidak ada ketenangan yang tersisa ketika Akashi membaringkan tubuh di pangkuannya tanpa melepaskan tautan bibir.
Panas.
Pakaian yang melekat di tubuh keduanya terlepas seluruhnya hingga tidak ada yang tersisa sehelai pun. Kulit yang dibasahi keringat bersentuhan langsung, erangan dan lenguhan yang keluar dari bibir mereka memenuhi kabin.
Malam itu ... keduanya melepaskan puncak hasrat berkali-kali hingga lelah menghentikan kegiatan panas keduanya.
..
oOo
..
Esoknya ... Tetsuya terbangun tanpa ingatan semalam yang tersisa. Tetsuya hanya mampu merasakan pening luar biasa mendera kepalanya dan beberapa bagian tubuh yang meninggalkan nyeri.
Tetsuya memeriksa kembali tubuhnya, pakaiannya masih lengkap seperti yang dikenakan semalam. Namun hidungnya menghirup aroma lain menempel pada tubuhnya. Kepala biru menggeleng, mengenyahkan pikiran negatif yang sempat melintas.
"Tidak mungkin," gumamnya pelan.
Tetsuya melirik sisi lain tempat tidur hanya untuk mendapatkan kekosongan. Akashi sudah tidak ada di sana. Mungkin ... karena mabuk dirinya jadi bangun kesiangan, pikirnya berusaha tetap positif.
Sedikit meringis, Tetsuya bangkit dari tempat tidurnya menuju kamar mandi. Membersihkan diri menjadi tujuan utamanya saat itu. Setelahnya, mungkin Tetsuya akan menikmati pemandangan laut di hari terakhirnya berlayar di atas kapal pesiar.
Namun ... seharian itu Tetsuya sadar, kehadiran sosok merah yang begitu sulit ditemuinya. Padahal, biasanya si merah selalu ada di mana pun dirinya berada. Dan di hari terakhir mereka berlayar, sosok Akashi seperti hilang ditelan bumi. Tidak mungkin, kan, Akashi tenggelam di laut dan kemudian dimakan Hiu? Tetsuya tanpa sadar terkekeh pelan karena pemikirannya sendiri.
Ah, kenapa dirinya jadi terus teringat oleh tuan absolut itu, sih?
Dan hingga kapal pesiar kembali berlabuh di pelabuhan, semua para undangan kembali ke rumah masing-masing. Akashi tetap tidak terlihat.
Tetsuya merasa kosong, ada secuil hasrat di hati Tetsuya untuk dapat melihat wajah Akashi kembali —setidaknya untuk yang terakhir kali. Padahal ... Tetsuya yakin jika semalam ia tertidur diselimuti hangatnya sebuah pelukan yang diyakininya berasal dari Akashi. Atau ... semalam hanya sebuah mimpikah? Karena ketika terbangun, Tetsuya kembali mendapati sisi tempat tidur yang kosong seperti malam sebelumnya.
Tetsuya menghela nafas, kemudian mengambil langkah pasti untuk berlalu dari pelabuhan dan kembali pulang ke rumah. Tubuh dan pikirannya terasa lelah luar biasa. Tetsuya ingin pulang, mengistirahatkan tubuhnya dan mungkin tidak ada salahnya untuk mencoba melupakan apa yang terjadi selama tiga hari pelayarannya.
Terutama ...
Terutama sosok merah dan sebuah mimpi yang terasa begitu nyata.
..
oOo
..
Seperti dejavu. Kembali mendapati dirinya di tengah keramaian sebuah pesta. Kuroko Tetsuya memilih berdiri di pojokan dengan segelas wine di tangan yang masih enggan ditenggaknya.
Tiga bulan sudah berlalu semenjak pernikahan mewah Satsuki dan Kotarou di atas kapal pesiar. Kali ini dirinya kembali diundang oleh pasangan nyentrik itu ke sebuah pesta yang mereka adakan. Pesta menyambut kehamilan Satsuki yang baru menginjak bulan pertama. Hayama Kotarou dan uangnya yang tidak akan habis tujuh turunan, tentu saja bebas membuat pesta setiap mendapatkan kabar gembira.
Tetsuya meletakkan kembali gelas berisi wine yang masih utuh ke atas meja terdekat. Mengambil langkah mendatangi sang empunya hajat. Tetsuya sadar jika belum mengucapkan selamat kepada sahabat merah jambunya yang kini bermarga Hayama. Tetsuya sendiri enggan mendekat karena sejak tadi, pasangan itu selalu dikerumuni tamu lainnya hanya untuk sekadar mengucap kata selamat. Dan kini adalah gilirannya.
"Satsuki-san."
Istri dari Hayama Kotarou menoleh, senyumnya melebar ketika mendapati teman birunya di sana.
"Tetsu-kun!" serunya riang menghadiahi Tetsuya sebuah pelukan yang cukup erat. Tangan si biru terangkat, membalas pelukan Satsuki. Tetsuya sadar jika sepasang mata mengawasinya saat ini. Siapa lagi jika bukan milik Kotarou. Namun Tetsuya dan sifat apatisnya sama sekali tak terpengaruh dan berhasil mengabaikannya.
Kotarou dan sifat posesifnya.
"Aku senang sekali karena Tetsu-kun datang," ujar Satsuki melepaskan pelukannya. Wajahnya tetap ceria seperti biasa.
Tetsuya mengulas senyum tipis, kemudian berkata, "Selamat atas kehamilanmu, Satsuki-san."
Setelahnya hanya celotehan Satsuki yang terdengar oleh telinga Tetsuya. Si biru menanggapi semampunya, senyumnya tidak meluntur meski —teramat tipis. Melihat wajah bahagia sahabat merah jambunya, tentu saja membuat dirinya ikut bahagia. Sesekali Kotarou bahkan menimpali dan ikut berceloteh tentang kehamilan istrinya.
Sepasang suami-istri itu masih asik berceloteh ketika pundak Tetsuya ditepuk pelan oleh seseorang. Tetsuya berbalik, mendapati sosok kelabu yang ia tahu sebagai salah satu senpai dari Hayama dan ... Akashi.
Kuroko Tetsuya baru saja akan menyerukan nama pemuda itu sebelum si kelabu memberinya isyarat untuk mengikutinya.
Tetsuya berlalu mengikuti langkah si kelabu —Mayuzumi Chihiro— tanpa berpamitan pada sang empunya hajat yang masih berceloteh ria.
Tetsuya mengernyit, pertanyaan berkelebatan di benak ketika langkah Mayuzumi menuntunnya ke luar dari gedung, tempat pesta diadakan. Namun ... Tetsuya urung menyuarakan semua pertanyaan di benaknya dan tetap mengikuti langkah Mayuzumi Chihiro.
Di luar gedung, sebuah Mercedez Benz sudah menunggu keduanya. Tetsuya tetap diam dan menurut ketika Mayuzumi mengisyaratkannya untuk masuk ke dalam mobil.
"Kita akan kemana, Mayuzumi-san?" Tetsuya baru bersuara ketika kendaraan sudah memasuki jalanan tol. Tetsuya cukup hapal dengan jalanan yang mereka lalui saat ini, namun tetap memilih menyuarakan pertanyaan.
"Kau akan tahu nanti." Mayuzumi menjawab datar. Jawaban yang cukup untuk membungkam seorang Kuroko Tetsuya.
Setelahnya, tidak ada satu pun yang kembali bersuara. Sisa perjalanan dilalui dalam kesunyian. Tetsuya terdiam menatap pemandangan yang tersaji, sementara Mayuzumi tetap fokus pada jalanan dan kendaraan yang dikendarai.
..
oOo
..
Kuroko Tetsuya terdiam, menatap bergantian antara tempatnya berada saat ini dan sosok kelabu Mayuzumi Chihiro.
"Apa maksud semua ini, Mayuzumi-san?" tanyanya, "Kenapa Mayuzumi-san membawaku ke tempat ini?"
Mata biru sebiru lautan di hadapannya menatap Mayuzumi dengan tatapan menuntut. Sementara yang ditatap sama sekali tidak merubah ekspresi di wajahnya. Tetap datar tanpa emosi tersirat.
"Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu." Kelabu hampa menatap datar sebuah kapal pesiar yang tengah berlabuh. Tetsuya mengikuti arah mata kelabu tertuju, Kapal Pesiar yang sama seperti tiga bulan lalu berlabuh tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Tanpa sadar kakinya melangkah. Perlahan ... namun pasti mendekati kapal pesiar yang berlabuh seperti tengah menunggu penumpang menaikinya. Namun nihil. Karena tidak ada orang lain selain dirinya di tempat itu.
Langkah Tetsuya terhenti tepat di depan gangway. Terpaku seolah terjebak oleh dejavu.
"Bisakah kau menyingkir dan tidak menghalangi jalanku?"
Azure membulat, tubuhnya berbalik cepat ketika suara yang amat dikenalinya menyapa pendengaran. "Akashi-kun?"
Dada Tetsuya bergemuruh seperti ombak di lepas pantai. Terlebih lagi ketika sosok di hadapannya melangkah menuju tempatnya berdiri. Namun ... rasa kecewa menggelayut ketika sosok itu melewatinya begitu saja. Seolah keberadaanya tidak berarti sama sekali. Seolah keduanya hanya orang asing yang baru bertemu.
Ah, Mereka memang tidak sedekat itu, kan? Mereka hanya dua orang yang kebetulan bertemu dalam sebuah pelayaran dan menjadi roommate untuk beberapa malam saja. Tapi ...
Kenapa? Kenapa rasa sesak menghantam dadanya seperti ini? Tetsuya tidak mengerti. Terlebih oleh mimpi-mimpi tentang sebuah malam panas yang ia lalui bersama Akashi. Mimpi yang selama tiga bulan ini selalu menghantui, mengganggu tidurnya, mengusik hidup tenangnya.
Kuroko Tetsuya tidak tahu.
"Sampai kapan kau akan berdiri di sana terus, Tetsuya?" Suara dan panggilan familiar itu berhasil menarik Tetsuya dari kemelut dalam benaknya.
Tetsuya mendongak, mata birunya bertemu langsung dengan sepasang heterokrom yang terasa ... hangat.
"Apa kau perlu bantuan dariku untuk menaiki kapal, huh?" Satu sudut bibir sosok itu terangkat naik, nada mencemooh khasnya terdengar jelas di telinga si biru.
Tetsuya menahan senyumnya mengembang. Ekspresi wajahnya ia buat sedatar mungkin.
"Tidak perlu, Akashi-kun," ujarnya. "Aku laki-laki dan aku bisa naik sendiri." Kaki Tetsuya mulai melangkah, menapaki gangway dan berjalan ke arah Akashi yang sudah berdiri di atas dek kapal.
"Aku tahu. Dan aku sudah memastikannya sendiri kalau kau itu laki-laki, Tetsuya."
Tetsuya mengernyit dan hendak bertanya, "Akashi-kun ...," Namun pertanyaan tak mampu disuarakan, ketika Akashi menarik lengannya untuk masuk ke dalam kapal.
Tetsuya sendiri heran pada dirinya yang seharian ini berubah menjadi seorang penurut. Entah kemana perginya sifat pemberontak dan keras kepalanya selama ini. Pertama Mayuzumi, dan sekarang Akashi. Tetsuya benar-benar menurut ketika Akashi terus membawanya menuju barisan kabin kapal.
"Akashi-kun, ini ...?" Akashi tidak menyahut, hanya menyunggingkan senyum tipis yang menyimpan sejuta misteri. Menyeret Tetsuya masuk ke dalam kabin yang pernah mereka bagi bersama tiga bulan lalu.
Akashi mendudukkan Tetsuya di atas tempat tidur. Tetsuya diam mengamati Akashi yang kini menarik sebuah kursi. Mendudukinya hingga kini mereka saling berhadapan.
"Tetsuya ...," Suara Akashi terdengar lebih lembut. "Maaf karena telah melarikan diri selama ini." Akashi menggenggam tangan Tetsuya, sementara tatapannya enggan lepas dari sepasang cerulean di depannya.
Tetsuya mendengarkan, menunggu Akashi kembali melanjutkan.
"Dan maaf ... karena aku tidak bisa melupakan malam itu."
"Akashi-kun ...," Tetsuya terbata, kenyataan yang baru saja didengarnya cukup membuatnya terkejut. "Jadi ... malam itu bukanlah mimpi?"
Kepala dengan helaian merah menggeleng. Heterokromnya tetap mengunci cerulean yang mulai gusar. "Tidak, Tetsuya. Semua itu bukan mimpi melainkan kenyataan yang berhasil membuatku gila selama tiga bulan terakhir ini. Membuatku terus memikirkanmu, menginginkanmu hingga aku sadar ...," Akashi menjeda, mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Tetsuya. Heterokromnya menyimpan harap dan keyakinan sebelum mengatakan, "Jika aku mencintaimu, Tetsuya."
Punggung tangan Tetsuya dikecup. Secepat kecupan itu berlalu ketika Tetsuya menarik tangannya.
Akashi terdiam, pasrah dengan amukan yang mungkin saja akan meledak dari pihak si biru. Akashi tahu diri. Sejak awal dirinya sudah mempersiapkan diri akan kemungkinan terburuk ataupun penolakan dari Tetsuya.
"Akashi-kun, aku tidak bisa memaafkan Akashi-kun yang sudah lancang melakukan hal itu kepadaku. Aku tidak bisa memaafkan Akashi-kun yang sudah membuatku gila karena berpikir jika semua itu adalah mimpi. Mimpi yang terus menghantuiku selama tiga bulan ini."
Akashi menutup mata ketika melihat Tetsuya mengangkat tangannya. Bersiap merasakan panas di pipi jika satu tamparan atau pun tinjuan dilayangkan Tetsuya. Namun yang didapati adalah sapuan lembut di pipinya.
Akashi membuka mata, mendongak untuk menatap cerulean yang tengah menatapnya lembut.
"Akashi-kun harus tanggung jawab," nadanya sedikit merajuk. "Tanggung jawab karena telah membuatku bermasturbasi setiap malam!" Rona di pipinya tak sanggup lagi ia sembunyikan.
Akashi meraih tangan Tetsuya di pipinya, mengecupnya berulang-ulang seperti candu.
"Ya, Tetsuya. Aku akan bertanggung jawab hingga kau puas," sahutnya. "Jika perlu, aku akan menikahimu saat ini juga, di kapal ini."
Tetsuya mendengus, "Aku ini laki-laki, Akashi-kun," ujarnya merajuk.
Akashi mengulas senyum. "Aku tahu," senyum Akashi berubah menjadi seringai. "Karena aku sudah melihat sendiri Tetsuya 'junior' di bawah sana." Heterokromnya jahil menatap bagian tubuh bawahnya Tetsuya.
"Akashi-kun!"
Dan selanjutnya yang terjadi adalah pengulangan dari malam panas mereka, beberapa bulan yang lalu.
.
..
.
..
The END
..
.
..
.
A/n: Siucchi! Maafkeun hayati yang tak bisa menepati janji dan membuat ff ini kelar setahun kemudian —,—
Hampura pisang atuh nya :'((
Ucchi tjantik, deh :3
.
.
..
#OMAKE
..
..
oOo
..
..
Akashi menatap kalut sosok yang terbaring di sisinya. Lelehan sisa-sisa pergulatan panas mereka mengotori kulit putih tanpa noda Tetsuya. Sisa kejahatan Akashi yang sudah lancang menyetubuhi sosok biru muda dalam keadaan mabuk.
Akashi hilang kontrol diri, hingga sisi bejat dirinya menguasai. Kini dirinya sangat tahu seperti apa rasanya penyesalan. Namun semua sudah terjadi, hanya saja ... dirinya belum siap menghadapi si biru esok hari.
Akashi menarik satu helaan napas, mengeluarkannya setelah meyakinkan dirinya untuk membuat keputusan.
Akashi mulai membersihkan sisa-sisa kekacauan, membersihkan tubuh Tetsuya, memakaikan kembali pakaian yang dikenakan pemuda itu sebelumnya.
Setelah memastikan semua kembali seperti semula —sebelum pergulatan panas mereka terjadi. Akashi mengecup pelan kening Tetsuya dan membisikkan, "Semua ini hanya mimpi, Tetsuya. Dan kau akan melupakannya saat terbangun besok pagi."
Setelahnya Akashi berlalu dari kabin yang menjadi saksi bisu kepengecutan seorang Akashi Seijuuro.
..
..
oOo
..
..
#OMAKE2
..
oOo
..
"Sampai kapan kau akan terus bersembunyi di kabinku?" Pertanyaan bernada monoton itu sama sekali tidak mendapatkan jawaban. Sosok yang diberi pertanyaan tetap membisu di sudut ruangan dengan tatapan mengarah ke luar jendela.
Buku yang tengah dibaca ditutup kasar. Diabaikan terus seperti saat ini, tentu saja tetap mampu membuat seorang Mayuzumi Chihiro kesal.
"Kau yakin kau masih hidup, Seijuuro?"
"Diamlah, Chihiro! Bukankah kau seharusnya senang karena aku di sini."
Chihiro menarik satu sudut bibirnya naik. Usahanya menarik perhatian Akashi Seijuuro akhirnya berbuah manis. "Kau terlalu percaya diri, Seijuuro," ujarnya sedikit pongah. "Aku sudah memutuskan untuk menyerah soal dirimu. Tapi ...," Mayuzumi menjeda kalimatnya untuk melebarkan seringai. "Jika kau mau aku tiduri saat ini juga, mungkin akan aku pertimbangkan."
Dan satu pas bunga melesat melewatinya hingga membentur dinding di belakang menjadi jawaban si merah. "Bermimpi saja kau sana!"
Mayuzumi tidak ambil pusing, sudah hapal betul sifat ekstrim sang kouhainya itu. Justru hal itulah yang membuat Akashi Seijuuro terlihat manis di mata Mayuzumi.
Benar-benar sinting.
..
oOo
..
.
#OMAKE3
.
..
oOo
..
.
Keduanya masih enggan melepaskan pelukan setelah pergumulan panas sebelumnya. Kulit yang basah karena keringat sama sekali tidak mengganggu pasangan yang baru saja mendeklarasikan cinta keduanya.
Tetsuya tidak merasa risih bahkan ketika Akashi terus mengecupi puncak kepala birunya sambil terus membisikkan kata cinta.
"Akashi-kun," Tetsuya bersuara, Akashi menyahut dengan gumaman. Kegiatannya membubuhi puncak kepala Tetsuya dengan kecupan sama sekali tidak terhenti. Tetsuya sendiri menikmatinya dengan senang hati. "Sebenarnya ... aku tahu, jika yang terjadi malam itu bukanlah mimpi."
Kegiatan Akashi terhenti. Kali ini pemuda itu menarik dagu Tetsuya hingga kepala biru itu mendongak. Mempertemukan sepasang biru samudera dengan merah-emas milik Akashi.
"Sejak kapan? Dan bagaimana Tetsuya bisa tahu?"
Ada jeda waktu sebelum Tetsuya menjawab. "Sejak Akashi-kun mulai menghindariku. Dan semua itu terlalu nyata untuk menjadi sebuah mimpi, Akashi-kun."
"Lalu kenapa kau terlihat marah sebelumnya, Tetsuya?"
Tetsuya mengulum senyum. "Aku juga ingin mengerjai Akashi-kun sesekali."
"Tetsuya benar-benar membuatku ingin mengerjaimu dengan sungguh-sungguh."
Untuk pertama kalinya, Kuroko Tetsuya menyesal karena harus berkata jujur.
..
..
.
END omake
