TERKILIR

.

.

.

Disclaimer : Belong to God and theirselves :D This story is mine. Not for commercial.

Author : raeraelf

Genre : General, Semi-Romance

Rate : T

Length : 3 Chapters

Cast : Mark Lee & Lee Haechan

.

.

.

SUMMARY : Kaki Haechan terkilir, dan Mark datang menolongnya. /"Hiks.. Aku kan malu.. Aku ini berat dan sunbae menggendongku."/ Mark x Haechan / MarkChan / MarkHyuck

.

TERKILIR

.

Namun sebenarnya yang dirasakan Haechan berbeda. Selama ini ia hanya melihat Mark dari jauh, hanya melihat sosok Mark yang populer. Ternyata jika dari dekat, Mark baik juga orangnya. Mark bahkan tidak sungkan untuk menggendong Haechan, padahal Haechan yakin pasti dia lebih berat daripada Mark.

"Jadikan saja dia kekasihmu, baik juga dia. Pasti tadi dia menggendongmu kan? Hebat sekali, kurus kering begitu tapi bisa menggendongmu." Celetuk Taeyong.

"HYUNG!"

.

.

.

TERKILIR

.

.

"Dasar jelek!"

Haechan berseru kesal sambil melotot pada kaki kanannya yang membengkak gila-gilaan. Selain itu warnanya juga berubah menjadi ungu kehitaman. Jangankan berdiri, untuk menggerakkan kakinya saja susah. Gara-gara kaki yang terkilir ini dia tidak bisa masuk sekolah hari ini dan akibatnya dia harus ikut ulangan Matematika susulan.

"Huee.. Sebal sebal!" rengek Haechan lagi. "Kenapa sih terkilir batu bisa jadi seperti ini? Dasar batu jelek!" Haechan kembali merutuki batu penyebab ia jatuh kemarin malam.

BRAK!

Tiba-tiba saja, pintu kamar Haechan terbuka. Suaranya yang keras membuat Haechan mendongakkan kepalanya dari kakinya ke arah pintu. Dilihatnya sahabatnya Renjun yang muncul.

"Kau kenapa sih kok tidak... IH ITU KAKI MANUSIA APA HULK SIH?!" seru Renjun histeris.

Haechan makin merengut mendengar seruan Renjun. Diraihnya bantal Winnie the Pooh yang berada tepat di sebelahnya, dan dengan kencang ia lemparkan bantal tersebut hingga mengenai Renjun.

"Hih, nakal!" seru Renjun.

"Siapa suruh mengataiku?!" balas Haechan galak.

Renjun bersungut-sungut dan mendekati Haechan. Ia melepaskan tas ranselnya, lalu dihempaskannya tubuhnya di samping Haechan yang duduk di atas ranjangnya.

"Kakimu kok bisa begitu?" tanya Renjun, menatap prihatin kaki Haechan.

"Kemarin tersandung batu, lalu terkilir. Aku tidak bisa berdiri, makanya aku tidak masuk sekolah." Jelas Haechan sebal.

"Seperti Jeno hyung, dua bulan lalu waktu ia terkilir kakinya juga sama sepertimu. Tapi lebih parah, mungkin karena disebabkan oleh sepakbola bukannya batu sepertimu." Kata Renjun sambil menghela nafas panjang.

Haechan mengangguk-anggukkan kepalanya mengingat insiden itu. Kejadian saat Jeno terkilir masih terpatri jelas di ingatannya karena saat itu terjadi, ia sedang bersama Renjun dan salah satu teman Jeno memberitahu Renjun. Haechan masih ingat betapa pusingnya ia menemani Renjun yang super panik waktu itu.

"Aku tidak bisa bayangkan bagaimana yang dirasakan para atlet itu, saat mereka jatuh pasti sakit sekali ya?" Haechan menerawang, memikirkan Mark.

"Apa Mark sunbae pernah mengalami cidera ya.." Haechan membatin.

Renjun mendengus. "Pastilah sakit. Kau saja yang tersandung batu bisa sampai begini, apalagi mereka."

"Tadi bagaimana ulangannya?" tanya Haechan, tiba-tiba teringat.

"Ulangan Matematika tadi sangat susah, seperti biasa lah. Kau tahu sendiri bagaimana Bu Taeyeon kalau membuat soal." Kata Renjun kesal.

Haechan memajukan bibirnya sebal. "Ah, ini semua gara-gara kaki ini! Aku tidak mau ulangan susulan!"

Tiba-tiba saja Renjun bangkit dari tidurnya dan menyipitkan matanya menatap Haechan, membuat Haechan memundurkan badannya karena merasa sedikit takut dengan tingkah Renjun.

"Apa ada sesuatu yang tidak kau ceritakan padaku?" tanya Renjun menyelidik.

Haechan menelan ludahnya gugup. "Apa?" balasnya bertanya pada Renjun.

"Tentang, Mark sunbae?!" seru Renjun galak.

"Itu.."

Pintu kamar Haechan kembali terbuka, kali ini Nyonya Lee alias ibu Haechan yang muncul. Namun tidak hanya Nyonya Lee saja, melainkan seorang lagi ikut di belakangnya dan langsung menampakkan wajahnya di ambang pintu.

Haechan hampir pingsan melihat siapa yang datang. Sedangkan Renjun hanya bisa melongo. Yang ditatap keduanya hanya nyengir kuda sambil garuk-garuk kepala.

"Haechan, ini ada Mark datang. Katanya mau belajar Matematika bersama. Renjun juga mau belajar bersama?" tanya Nyonya Lee

Renjun buru-buru menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Tersadar akan fakta bahwa Haechan dan Mark akan belajar berdua, Renjun bergegas meraih tas ranselnya dan berniat untuk pergi. Namun sebelum pergi, ia sempatkan untuk berbisik di telinga Haechan.

"Kau berutang penjelasan padaku." Bisik Renjun yang membuat Haechan lemas.

Renjun buru-buru keluar dari kamar Haechan, tidak mempedulikan Mark yang heran melihat tingkahnya. Ia hanya menyapa Mark dengan cepat dan langsung menuruni tangga.

"Nah Mark, belajar di kamar saja ya. Maklum Haechan tidak bisa kemana-mana." Ujar Nyonya Lee sambil tersenyum.

Mark mengucapkan terimakasih pada Nyonya Lee, kemudian Nyonya Lee menutup pintu kamar Haechan, meninggalkan Haechan dan Mark berdua di kamar Haechan.

Haechan hanya bisa menunduk dalam-dalam, tidak berani menatap Mark. Jujur saja dia sangat malu dengan penampilannya sekarang. Karena seharian hanya ada di rumah, Haechan tidak mengenakan pakaian yang lebih pantas dan hanya memakai piyama. Warna pink pula. Ditambah rambutnya yang acak-acakan. Sungguh tidak enak dilihat.

Haechan benar-benar tidak menyangka bahwa Mark serius dengan perkataannya kemarin yang akan membantunya belajar Matematika.

"Kau tidak terlihat terlalu senang melihatku." Kata Mark, memecahkan keheningan di antara mereka.

Masih terus menunduk, Haechan menggelengkan kepalanya pelan. "Bukan begitu, sunbae.." katanya lirih.

"Lalu?" tanya Mark sambil duduk di tepi ranjang Haechan.

Haechan otomatis meringsut menjauh ketika Mark duduk di tepi ranjangnya, membuat Mark mengernyitkan keningnya heran.

"Kau kenapa sih?" tanya Mark lagi.

"Sunbae datang kenapa tidak bilang-bilang sih, kan kalau aku tahu sunbae mau datang aku bisa siap-siap, hih.." Haechan bersungut-sungut. "Lihat ini, jelek sekali aku."

Mark tersenyum geli begitu menyadari alasan Haechan. "Ah, begini saja kau terlihat manis kok."

Muka Haechan memerah karena dipuji Mark. Tak ayal Haechan senyum-senyum sendiri, senang. Melihat tingkah Haechan yang langsung berubah setelah dipuji membuat Mark tertawa lepas.

"Loh, kok ketawa? Ada apa sunbae?" tanya Haechan polos.

Mark menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Aku tadi berniat untuk meneleponmu terlebih dahulu, aku bahkan sudah minta nomormu pada Renjun. Tapi tadi Renjun galak sekali, dia terus bertanya untuk apa. Sudah kubilang aku mau membantumu belajar Matematika tapi dia tidak percaya. Jadi, maaf ya aku datang tanpa pemberitahuan." Jelas Mark panjang lebar.

Haechan mengangguk-angguk mengerti. Jelas sudah mengapa tadi Renjun tahu mengenai Mark. Yang Renjun tahu kan Mark dan Haechan tidak saling mengenal, pastilah Renjun curiga mengapa Mark meminta nomor ponsel Haechan padanya.

"Jadi, apa materi ulanganmu?" tanya Mark.

"Logaritma. Eh, sunbae duduk sini. Jangan berdiri terus." Kata Haechan, menyadari bahwa sedari tadi Mark masih berdiri.

Mark tidak mendengarkan Haechan, ia malah berjalan menuju meja belajar Haechan dan mengamati deretan buku modul di meja belajar Haechan. Diambilnya buku modul Matematika, kemudian matanya kembali menyusuri deretan buku tulis. Mark mengecek satu-satu sampul buku-buku tersebut dan mengambil buku tulis Matematika.

Di belakangnya, Haechan buru-buru meraih sisir yang berada di samping bantal dan menyisir rambut secara kilat. Piyamanya tidak bisa diselamatkan, namun setidaknya ia bisa menyelamatkan rambutnya.

Mark kembali mendekati Haechan dan duduk di tepi ranjang Haechan. Haechan jadi grogi sendiri karena berduaan dengan Mark di kamarnya.

"Jadi, apa yang tidak kau mengerti?"

: TERKILIR :

Keesokan harinya, bengkak di kaki Haechan sudah mengempis. Haechan bahkan sudah bisa berjalan, meskipun masih terpincang-pincang. Sebenarnya, Nyonya Lee meminta Haechan untuk beristirahat satu hari lagi di rumah karena kasihan melihat anak bungsunya yang kesusahan berjalan. Tapi dasar Haechan keras kepala, ia tetap bersikeras untuk masuk sekolah karena ingin segera ulangan susulan. Padahal itu hanya alasan Haechan saja. Alasan sebenarnya karena Haechan ingin bertemu Mark. Tadi malam Haechan tidak bisa tidur karena wajah Mark terus terbayang-bayang. Haechan jadi kangen.

Sebenarnya, Haechan sangat terkesima dengan perlakuan Mark padanya kemarin. Mark sabar sekali mengajari Haechan. Padahal Haechan butuh waktu lama untuk mencerna setiap hal yang diajarkan oleh Mark. Tidak pernah ada yang mengajari Haechan dengan begitu sabarnya. Kakaknya sendiri saja tidak pernah sabar mengajari Haechan karena memang Haechan sangat lemah dalam hitungan. Karena itulah, wajah Mark terus terbayang-bayang di benaknya karena Haechan sangat terpesona pada Mark.

Melihat adiknya yang belum bisa berjalan dengan benar, Taeyong menawarkan untuk mengantar Haechan ke sekolahnya. Mereka berangkat pagi-pagi sekali, agar sekolah masih sepi dan Haechan bisa berjalan pelan-pelan tanpa ada gangguan.

"Hati-hati, hati-hati!" seru Taeyong saat Haechan turun dari motor.

Saat Haechan sudah turun dari motor dan berdiri tegak, ia memanyunkan bibirnya dan menghadap kakaknya.

"Kalau cuma turun dari motor saja aku masih bisa!"

"Ck, kau ini. Sudah sana masuk ke kelas. Mumpung masih sepi, kau bisa jalan pelan-pelan tanpa ada yang merasa terganggu. Juga agar kau tidak terhalang." Perintah Taeyong.

Haechan kembali memanyunkan bibirnya mendengar perkataan kakaknya yang lebih terdengar sebagai sindiran. Setelah berpamitan pada Taeyong, Haechan bergegas memasuki area sekolahnya.

Namun ternyata benar juga kata Taeyong. Haechan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa sampai ke kelasnya karena dia berjalan sangat pelan. Haechan melirik jam tangannya, dia baru sepertiga jalan ke kelasnya dan dia bahkan sudah menghabiskan lima belas menit. Maklum saja, gedung kelas satu berada di bagian belakang sekolah.

"Kalau begini caranya sampai bel masuk juga aku tidak akan sampai ke kelas." Gerutu Haechan.

Tiba-tiba saja Haechan merasakan tubuhnya terangkat. Haechan yang tidak mengetahui apa yang terjadi pun panik, tapi ketika ia mengetahui bahwa ia tengah digendong dan setelah Haechan melihat wajah orang yang menggendongnya, ia semakin bertambah panik.

"Loh, loh sunbae.. Turunkan!" seru Haechan panik.

Mark menggelengkan kepalanya sambil tetap menggendong Haechan.

"Sunbae, ayo turunkan aku. Nanti ada yang lihat.." rengek Haechan.

"Sudah diam saja kenapa sih? Aku sudah memperhatikanmu sejak kau turun dari motor dan kau berjalan seperti kura-kura. Kalau kugendong begini kan cepat sampai." Balas Mark santai.

Bukan apa-apa, Haechan sebenarnya mau-mau saja digendong oleh Mark karena memang tujuannya masuk sekolah hari ini adalah untuk bertemu Mark. Tapi tidak dengan keadaan seperti ini. Pertama, Haechan masih takut dengan fakta bahwa Mark sangat kurus dan Haechan semok. Haechan takut jika Mark tidak kuat dan nanti malah mereka berdua jatuh karena Mark tidak sanggup menopang berat tubuhnya. Kedua, Mark menggendongnya ala bridal style. Haechan sangat malu karena ini di area sekolah. Meskipun sekolah masih sepi, Haechan tetap malu jika ada yang melihat.

Mark dan Haechan memasuki kelas Haechan. Mark bertanya dimana bangku Haechan, yang dijawab dengan tunjukan jari oleh Haechan. Setelah mendudukkan Haechan di kursinya, Mark duduk di kursi sebelah Haechan.

"Sunbae kenapa datang pagi-pagi?" tanya Haechan.

"Aku sengaja menunggumu. Kemarin waktu aku pulang, aku dan Taeyong hyung sempat berbincang. Kata Taeyong hyung dia akan mengantarmu pagi-pagi. Kemarin aku sudah menawarkan pada Taeyong hyung untuk menjemputmu tapi Taeyong hyung bilang tidak usah, dia bilang kau sudah banyak merepotkanku." Jawab Taeyong.

Haechan jadi merasa bersalah mendengar jawaban Mark.

"Sunbae, maaf ya. Benar kata Taeyong hyung, aku sudah banyak merepotkan sunbae." Haechan menundukkan kepalanya.

"Tak apa, nanti waktu istirahat aku ke sini ya. Akan kubawakan makanan. Kau kan jelas tidak bisa ke kantin, bisa-bisa waktu istirahatmu kau habiskan hanya dengan berjalan menuju ke kantin." Balas Mark sambil tersenyum.

Haechan buru-buru menggelengkan kepalanya. "Tidak usah, sunbae. Aku jadi merepotkan sunbae lagi."

"Siapa bilang aku merasa direpotkan? Tidak kok. Sudah, kau nurut saja ya."

Haechan mengangguk pelan. Mark yang gemas melihatnya pun mengusap lembut rambut Haechan, dan tepat pada saat itu Renjun yang selalu datang pagi memasuki kelas.

"Kalian berdua pacaran ya?!" seru Renjun galak sambil mendekati Mark dan Haechan.

Spontan Mark dan Haechan menoleh ke sumber suara. Muka Haechan langsung memerah begitu melihat Renjun, lain halnya dengan Mark yang terlihat santai.

"Tidak, kok!" sanggah Haechan cepat.

Renjun duduk di kursi yang berada di depan meja Haechan dan menatap Haechan dengan serius.

"Kemarin Mark sunbae ke rumahmu." Renjun menatap tajam Mark. "Lalu hari ini, pemandangan apa yang kulihat?" lanjut Renjun, pandangannya beralih ke arah Haechan.

Haechan diam saja, bingung harus menjawab apa, ditambah dengan Mark yang berada di dekatnya. Sedangkan Mark, bukannya membantu Haechan menjawab, ia malah bangkit berdiri.

"Nah Haechan, dijawab ya pertanyaan Renjun." Kata Mark sambil mengedipkan satu matanya pada Haechan.

Sambil melambaikan tangannya, Mark meninggalkan Haechan dan Renjun berdua. Sekali lagi Mark berhasil membuat Haechan lemas. Pemandangan ini pun tak luput dari mata Renjun.

"Ayolah, cerita.." rengek Renjun pada Haechan.

Haechan menghembuskan nafas kasar, bersiap akan memulai ceritanya namun tidak jadi karena ada teman sekelasnya yang memasuki kelas.

"Nanti saja kuceritakan kalau sepi." Putus Haechan.

Renjun menggelengkan kepalanya. "Tidak mau, sekarang. Nanti istirahat aku mau makan siang dengan Jeno hyung –"

"Nah kan!" Haechan berseru sebal, memotong Renjun.

"Kenapa?" tanya Renjun heran.

"Mark sunbae yang baru mengenalku kemarin saja bersedia membawakanku makan siang nanti karena dia tahu aku tidak bisa berjalan ke kantin. Tapi kau! Sahabatku sejak kita berdua masih memakai popok, malah lebih mementingkan kekasihmu! Sudah ah, aku tidak mau cerita!" Kata Haechan ketus.

"Loh kok malah marah.. Haechanie jangan marah.." bujuk Renjun, terkejut karena Haechan marah dan sampai melupakan fakta bahwa Haechan baru saja mengatakan Mark akan membawakan Haechan makan siang.

Namun sia-sia saja usaha Renjun untuk membujuk Haechan, karena Haechan tetap mengunci mulutnya dan tidak bersedia untuk mengeluarkan sepatah kata pun.

: TERKILIR :

Bel istirahat berbunyi. Haechan menelungkupkan kepalanya di atas meja, kepalanya pusing dan ia lelah karena pelajaran Bahasa Inggris yang dianggapnya sangat sulit. Haechan memang tergolong siswa yang pandai, namun ia terbilang lemah dalam Bahasa Inggris.

"Haechanie.." panggil Renjun yang berdiri di samping Haechan.

Haechan diam saja, tak menjawab panggilan Renjun.

"Jangan marah ya? Nanti aku bawakan makanan.." bujuk Renjun.

"Sudahlah, tidak usah merayuku. Jeno sunbae pasti sudah menunggumu di kantin. Tidak perlu repot-repot membawakanku makanan." Jawab Haechan pelan.

Renjung yang masih merasa bersalah sedikit enggan untuk meninggalkan Haechan. Tapi Haechan benar, Jeno pasti sudah menunggunya di kantin dan Renjun tidak ingin kekasihnya itu menunggu terlalu lama.

"Maafkan aku, Haechanie!" seru Renjun pasrah sambil memeluk tubuh Haechan dari atas, kemudian berjalan cepat meninggalkan Haechan.

Cesss..

Haechan merasakan sentuhan dingin pada pipinya. Ia bangkit dari posisinya dan menemukan Mark yang tersenyum menatapnya. Tangan kiri Mark memegang sebuah kantong plastik dan tangan kanannya memegang kaleng softdrink. Pastilah softdrink ini penyebab rasa dingin yang dirasakan Haechan tadi.

Mark duduk di kursi yang berada di depan meja Haechan dan memutar kursinya menghadap Haechan. Mark meletakkan kantong plastik yang dibawanya di atas meja Haechan, kemudian mengeluarkan isinya.

"Tadi aku tanya ke Jeno, dan dia bilang kau suka samgyeopsal, ayam, bokkeumbap, pizza, apa lagi ya.. Tapi karena di kantin hanya ada ayam goreng dan bokkeumbap, jadi aku belikan itu saja. Tidak apa, kan?" tanya Mark sambil tersenyum.

Haechan balas tersenyum. Ia tersentuh dengan perbuatan baik Mark yang membawakannya makan siang, ditambah dengan usaha Mark yang bertanya ke Jeno mengenai makanan kesukaannya. Meskipun Haechan heran kenapa Jeno bisa tahu makanan favoritnya, karena seingat Haechan dia tidak pernah memberitahu Jeno. Namun Haechan menyimpulkan mungkin Renjun yang memberitahu Jeno.

"Nanti kalau kakimu sudah sembuh, kita pergi makan samgyeopsal dan pizza ya. Sekarang makan ini dulu." Mark menyodorkan bokkeumbap pada Haechan.

Haechan mengangguk semangat. "Tapi sunbae yang traktir ya!" serunya tak tahu malu.

Mark mengacungkan kedua jempolnya, lalu membuka kaleng softdrink yang dibawanya.

"Sunbae tidak makan?" tanya Haechan, heran melihat Mark yang hanya meminum softdrink.

Menanggapi pertanyaan Haechan, Mark mengeluarkan satu buah kimbab segitiga dari dalam kantong plastiknya.

"Ini makan siangku." Jawab Mark sambil mengacungkan kimbabnya.

Haechan melongo.

"Sunbae makan satu kimbab saja untuk makan siang?" tanya Haechan.

"Aku biasanya makan nanti, di jam istirahat kedua." Jawab Mark sambil membuka bungkus kimbabnya. "Makan maksimal dua jam sebelum latihan, dan jam istirahat kedua itu tepat sekali untuk makan besar." Lanjutnya.

"Tapi kan jam istirahat kedua waktunya hanya lima belas menit, memang cukup untuk makan?" tanya Haechan.

Wajar saja Haechan heran. Sekolahnya memang memiliki dua kali istirahat. Jam istirahat pertama sepanjang tiga puluh menit menit, dan jam istirahat kedua hanya lima belas menit. Jam istirahat pertama memang saat jam makan siang, sehingga bisa dipastikan kantin akan penuh. Semua teman sekelasnya selalu makan di jam istirahat pertama, lihat saja sekarang keadaan kelasnya yang sepi. Bahkan Jeno yang juga anggota tim sepakbola juga selalu makan di jam istirahat pertama. Haechan juga selalu melihat anak-anak tim basket, voli, dan baseball di kantin pada jam istirahat pertama. Baru pertama ini Haechan bertemu siswa di sekolahnya yang makan di jam istirahat kedua.

"Cukup kok. Kantin sepi jadi tidak terlalu lama menunggu makanannya." Ujar Mark.

"Aaah.. Begitu." Haechan mengangguk-anggukkan kepalanya. "Memangnya nanti sunbae ada latihan?" lanjutnya.

Mark menggelengkan kepalanya. "Tidak, tapi aku sudah terbiasa untuk makan siang di jam istirahat kedua. Ada latihan atau tidak, aku selalu makan siang di jam istirahat kedua." Jelas Mark.

Haechan mengangguk-anggukkan kepalanya dan mulai menyuapkan bokkeumbap ke mulutnya.

"Kau terlihat lesu sekali tadi, kenapa?" tanya Mark sembari menggigit kimbabnya.

Masih fokus mengunyah bokkeumbap dan ayam gorengnya, Haechan menghembuskan nafas panjang. Mark menunggu dengan sabar sampai Haechan selesai menelan makanannya.

"Tidak apa-apa, pusing saja dengan Bahasa Inggris." Jawab Haechan.

Bahasa Inggris. Haechan tiba-tiba tersadar dengan fakta bahwa nama lengkap Mark adalah Mark Lee. Hangeul nama itulah yang juga tertulis di name tag seragam milik Mark.

"Sunbae.. Mark Lee itu nama asli sunbae?" tanya Haechan hati-hati.

Mark mengangguk. "Iya, kenapa?"

"Kok.. Mark? Itu bukan nama orang Korea." Tanya Haechan lagi.

"Aku lahir dan besar di Kanada, dan nama yang diberikan oleh orangtuaku memang Mark Lee. Tapi aku juga punya nama Korea, Lee Minhyung." Jelas Mark.

"Ah.. begitu ya." Haechan mengangguk-angguk, tangannya sibuk mengaduk-aduk bokkeumbapnya.

"Sudah habiskan dulu makan siangmu, kita masih punya banyak waktu untuk ngobrol." Kata Mark.

Dan yang terjadi pada menit-menit berikutnya adalah keheningan di antara mereka. Hanya terdengar suara Haechan yang sedang makan, sedangkan Mark diam memandangi Haechan. Haechan yang grogi ditatap oleh Mark juga tidak bisa berbuat apa-apa selain melanjutkan acara makan siangnya. Mereka berdua sampai tidak sadar bahwa teman sekelas Haechan mulai berdatangan ke dalam kelas.

"Mark?"

Suara Jeno yang memanggil nama Mark membuat Mark tersadar, diikuti oleh Haechan. Haechan panik melihat kelasnya yang ramai dipenuhi oleh teman-temannya.

"Loh, kok sudah ramai sih." Kata Haechan panik.

Bagaimana tidak, teman-teman sekelas Haechan sedang menatap ke arah Haechan dan Mark. Haechan bahkan bisa melihat beberapa di antara mereka berbisik-bisik. Haechan hanya bisa pasrah jika nantinya ini akan menjadi gosip.

"Kau sedang apa disini?" tanya Jeno sambil mengernyitkan keningnya.

"Menemani Haechan makan siang." Jawab Mark santai.

Jeno menepuk pundak Mark. "Ayo, ke kelas. Sebentar lagi bel masuk berbunyi." Ajak Jeno.

Mark mengangguk dan berdiri dari kursi yang didudukinya. Ia menolehkan kepalanya menatap Haechan dan tersenyum.

"Nanti pulang sekolah, dijemput Taeyong hyung?" tanya Mark.

"Sepertinya.." jawab Haechan pelan.

"Kok sepertinya?"

"Taeyong hyung tidak janji, karena katanya ada kelas pengganti, hanya saja belum tahu kelasnya jadi atau tidak." Jelas Haechan. "Kalau Taeyong hyung ada kelas mungkin aku naik taksi saja." Lanjutnya.

"Kalau begitu, kirimlah pesan pada Taeyong hyung agar tidak usah menjemputmu. Nanti aku saja yang antar pulang, oke?" kata Mark sambil mengedipkan satu matanya.

Haechan melongo. Diikuti oleh Renjun. Renjun bahkan tidak memperhatikan saat kekasihnya berpamitan padanya.

"Haechan, kau pacaran dengan Mark sunbae?!" tanya Eunbin histeris.

Sontak saja teman-teman Haechan langsung mengerumuni Haechan. Mereka semua menanyakan pertanyaan yang sama, apakah Haechan berpacaran dengan Mark. Haechan yang pusing menanggapi pertanyaan teman-temannya hanya diam sambil membereskan sisa-sisa makan siangnya.

"Hebat sekali kau Haechan bisa menaklukkan hati Mark sunbae! Kukira dia pacaran dengan Koeun sunbae, tapi ternyata dia pacaran denganmu ya!" seru Siyeon.

Spontan Haechan yang sedang membereskan mejanya mematung. Haechan yang awalnya tidak tertarik untuk menanggapi teman-temannya kini menatap Siyeon.

"Koeun sunbae?" ulang Haechan.

Siyeon mengangguk semangat. "Iya, Koeun sunbae. Mark sunbae dan Koeun sunbae memang dekat, sering terlihat berduaan." Jawab Siyeon.

Haechan memang baru mengenal Mark kemarin lusa, tapi entah mengapa apa yang baru saja dikatakan oleh Siyeon bisa membuat hatinya sakit. Apalagi Koeun juga merupakan siswi populer di sekolah, bukan tidak mungkin jika memang benar Mark berpacaran dengan Koeun.

Kriinggg..!

Suara bel membuat kerumunan siswa di meja Haechan otomatis membubarkan diri, membiarkan sang fokus perhatian bebas bernafas dengan lega.

Renjun yang sejak tadi hanya berdiri di depan kelas beringsut mendekati Haechan.

"Kau benar-benar pacaran dengan Mark sunbae?" tanya Renjun.

Haechan menggelengkan kepalanya. "Tidak. Sudahlah jangan tanya itu lagi, nanti aku ceritakan." Kata Haechan, lupa bahwa ia sedang ngambek pada Renjun.

"Nanti malam aku menginap di rumahmu, pokoknya harus cerita!"

: TERKILIR :

"Ah, aku sangat senang! Biasanya aku menunggu Jeno hyung sendirian, tapi sekarang ada kau yang menemaniku!" seru Renjun senang.

Biasanya, Jeno memang menjemput Renjun di kelas jika dia tidak ada latihan sepak bola. Sedangkan Haechan akan pulang sendiri naik bus. Tapi sekarang, mereka berdua sama-sama menunggu kedatangan dua idola sekolah yang akan menjemput mereka.

"Beruntung sekali kalian, aku iri." Kata Siyeon sambil melambaikan tangannya.

Haechan dan Renjun tidak lama menunggu, karena Jeno dan Mark langsung muncul di depan pintu kelas mereka. Haechan tersenyum kecil pada Mark saat Mark mendekatinya.

"Sunbae, tolong jangan gendong lagi. Masih banyak orang." Bisik Haechan malu, takut didengar oleh Jeno dan Renjun.

Mark tertawa mendengar perkataan Haechan ditambah dengan ekspresi wajah Haechan yang lucu.

"Baiklah kalau begitu, kubantu saja berjalan."

Mark membantu Haechan berdiri, kemudian Mark mengalungkan lengan Haechan di lehernya. Haechan sempat protes, namun Mark membungkam protes Haechan.

Alhasil, pemandangan langka ini menjadi pusat perhatian di sekolah. Haechan sangat malu, dia terus menundukkan kepalanya. Namun Mark terus mengatakan pada Haechan untuk tidak khawatir dan tidak usah mempedulikan kata orang.

Renjun dan Jeno juga sabar berjalan di belakang Mark dan Haechan. Jika biasanya Renjun selalu meminta cepat-cepat pulang, kali ini ia menikmati waktunya bersama Jeno. Sembari menemani Haechan, ia juga bisa bermesraan dengan Jeno. Renjun jadi menyesal mengapa kemarin-kemarin ia tidak pernah melakukan hal seperti ini.

Setelah cukup lama berjalan, akhirnya mereka sampai juga di parkiran. Mobil Mark diparkir berdampingan dengan mobil Jeno. Renjun berinisiatif untuk membantu Mark membukakan pintu mobil untuk Haechan.

"Sunbae, bawa Haechan pulang dengan hati-hati ya!" kata Renjun.

Mark mengacungkan jempolnya. "Tentu saja Renjun. Yo Jeno, aku duluan ya."

Mark memasuki mobil dan menyalakan mesinnya, kemudian mengemudikan mobilnya keluar dari area sekolah.

"Sepertinya besok aku sudah bisa jalan sendiri, tadi waktu dipapah sunbae, kakiku sudah tidak sesakit kemarin. Nanti aku mau coba jalan sendiri ah." Kata Haechan senang.

"Jangan dipaksakan kalau memang belum bisa." Pesan Mark.

"Tapi aku ingin segera sembuh, tidak enak begini terus. Tidak bisa kemana-mana. Mau ke kamar mandi saja susah." Keluh Haechan.

Tiba-tiba Haechan melihat sesuatu di pinggir jalan yang menarik perhatiannya. Tteokbokki. Haechan memang menyukai tteokbokki, dan seingatnya ia sudah lama tidak makan tteokbokki. Haechan menempelkan wajahnya di jendela mobil, menatap ingin pada tenda penjual tteokbokki tersebut.

Pemandangan tersebut tak luput dari mata Mark. Mark langsung menepikan mobilnya dan berhenti.

"Kenapa berhenti, sunbae?" tanya Haechan heran.

"Kau ingin makan apa?" Mark balik bertanya.

Menyadari bahwa Mark mengetahui alasan di balik tingkahnya yang menempelkan wajah di jendela, Haechan tersipu malu.

"Tteokbokki." Jawab Haechan.

"Oke, tunggu disini ya."

"Loh, mau kemana?" tanya Haechan heran.

"Beli tteokbokki, kau mau makan tteokbokki kan?" balas Mark sambil tersenyum.

Haechan berniat mencegah Mark, tidak ingin merepotkan Mark lagi. Namun ia tidak sempat mencegah karena Mark langsung keluar dari mobil dan menghampiri penjual tteokbokki. Dari dalam mobil, Haechan mengamati Mark.

Mark itu tampan. Juga baik hati. Haechan tidak habis pikir mengapa Mark sangat baik padanya, padahal mereka baru saja kenal. Baru kenal saja Haechan sudah banyak merepotkan Mark, tapi kenapa Mark masih tetap bersikap baik padanya?

Haechan teringat saat tadi Siyeon mengatakan bahwa Mark dekat dengan Koeun sunbae. Hatinya terasa sakit.

"Apa mungkin.. aku menyukai Mark sunbae?" gumam Haechan pelan.

Setelah mengatakan itu, Haechan tersadar dan buru-buru menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

"Hei Haechan, sadarlah! Mungkin Mark sunbae baik padamu karena kau teman dari Renjun. Kau juga belum tahu dia sudah punya kekasih atau belum." Haechan berbicara pada dirinya sendiri. "Lagipula baru kenal, masa sudah suka sih.." lirih Haechan.

Tak lama kemudian, Mark kembali ke mobil dan menyerahkan sebuah kantong plastik pada Haechan.

"Aku ingin memakannya sekarang tetapi nanti mobil sunbae jadi bau tteokbokki." Haechan memanyunkan bibirnya sebal.

Mark menurunkan kaca mobilnya dan menyuruh Haechan untuk membuka pintu mobilnya. Mark tidak membuka pintu mobilnya karena pintunya terletak di sisi jalan raya, sedangkan pintu Haechan berada di sisi trotoar. Keheranan, namun Haechan tetap menuruti apa kata Mark.

"Kalau begini kan baunya keluar dan tidak memenuhi mobil." Kata Mark senang.

Haechan baru menyadari maksud Mark, dan dengan riang ia membuka kantong plastik yang diberikan Mark. Haechan mengernyit ketika ia mendapati ada tiga buah cup tteokbokki disitu.

"Sunbae mau makan juga?" tanya Haechan.

Mark menggelengkan kepalanya. "Tidak. Itu semua untukmu."

"Tapi.. aku tidak bisa menghabiskan tiga cup tteokbokki."

"Kalau begitu suapi aku."

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

A/N :

Nah kan nah kan aku ngelanjutin fanfic ini! Awalnya emang aku berniat jadiin itu oneshoot dan gantung, tapi aku ngerasa "kayaknya gak bener nih, harus dilanjut ini fic." dan akhirnya jadi juga~~ Aku bakal bikin ini jadi 3 chapter, dan chapter terakhir udah jadi kok~

Semoga suka ya semua, pls give me a lot of love for this fanfic ~