TERKILIR
.
.
.
Disclaimer : Belong to God and theirselves :D This story is mine. Not for commercial.
Author : raeraelf
Genre : General, Semi-Romance
Rate : T
Length : 3 Chapters
Cast : Mark Lee & Lee Haechan
.
.
.
SUMMARY : Kaki Haechan terkilir, dan Mark datang menolongnya. /"Hiks.. Aku kan malu.. Aku ini berat dan sunbae menggendongku."/ Mark x Haechan / MarkChan / MarkHyuck
.
TERKILIR
.
"Sunbae mau makan juga?" tanya Haechan.
Mark menggelengkan kepalanya. "Tidak. Itu semua untukmu."
"Tapi.. aku tidak bisa menghabiskan tiga cup tteokbokki."
"Kalau begitu suapi aku."
.
.
.
TERKILIR
.
.
Haechan melongo mendengar perkataan Mark.
"Hah?" tanya Haechan, memastikan bahwa telinganya tidak salah dengar.
"Suapi aku." Ulang Mark santai.
Jika biasanya ada tindakan Mark yang tidak terduga, Haechan akan langsung lemas. Tapi tidak kali ini. Dalam hati Haechan menggerutu. Kenapa Mark sangat suka melakukan hal seperti ini. Kenapa Mark sangat suka melakukan hal yang aneh-aneh dan tidak teduga. Apa Mark tidak tahu bahwa di dalam perut Haechan rasanya ada kupu-kupu berterbangan? Apa Mark tidak tahu apa jantung Haechan berdetak sangat kencang? Apa Mark tidak tahu bahwa rasanya dada Haechan ingin meledak?
Tentu saja Mark tidak tahu.
Akhirnya Haechan memberanikan diri untuk menyodorkan suapan tteokbokki pada Mark, yang langsung dibalas Mark dengan mendekatkan mulutnya ke sumpit Haechan dan langsung memakan tteokbokki yang disuapkan oleh Haechan.
"Wah, enak juga." Kata Mark.
Haechan mengangguk setuju. "Tidak kalah enak dengan tteokbokki di depan apartemenku." Timpal Haechan.
Hening sejenak.
"Kau sudah lama berteman dengan Renjun?" tanya Mark, berusaha mencari bahan pembicaraan.
Karena tidak mungkin kan, mereka membicarakan tteokbokki?
Sambil menggigit tteokbokkinya, Haechan mengangguk.
"Sudah dari kecil. Ibuku dan Ibu Renjun berteman, lagipula rumah kami juga dekat. Rumah Renjun kan hanya di apartemen sebelah apartemenku." Jawab Haechan.
Mark kembali terdiam. Otaknya berputar, mencari bahan pembicaraan. Untungnya Mark diselamatkan oleh Haechan, yang memanggil namanya.
"Oh ya Mark sunbae."
"Ya?"
Haechan menarik nafas panjang, berusaha mengatur degup jantungnya. Ia memberanikan diri untuk menanyakan sesuatu yang mengganjal di pikirannya sejak tadi.
"Sunbae pacaran dengan Koeun sunbae?" tanya Haechan pelan sambil menundukkan kepalanya, berpura-pura fokus pada tteokbokkinya.
Mark mengangkat satu alisnya, heran karena tiba-tiba Koeun dibawa-bawa, karena seingatnya ia tidak pernah menyebut-nyebut tentang Koeun di depan Haechan.
"Tidak, kok." Jawabnya kemudian.
Haechan menghembuskan nafas lega mendengar jawaban Mark. Diam-diam ia tersenyum senang. Dan sedetik kemudian, Haechan menyadari ada yang salah dengan dirinya.
"Aku ini kenapa sih? Kenapa aku senang Mark sunbae tidak berpacaran dengan Koeun sunbae? Masa iya aku benar-benar suka pada Mark sunbae.." batin Haechan.
"Kenapa menanyakan itu?" Mark balas bertanya.
Haechan mengesampingkan perasaan anehnya. Diambilnya tteokbokki dengan sumpit, lalu diberanikannya diri untuk kembali menyuapkan tteokbokki pada Mark, yang tentu saja diterima Mark dengan senang hati.
"Aku hanya bertanya, karena itulah yang dikira oleh teman-temanku. Katanya, Mark sunbae dan Koeun sunbae sangat dekat, sering kemana-mana berdua." Jawab Haechan jujur.
Mark mengibaskan tangannya. "Koeun itu, dia memang menyukaiku." Kata Mark percaya diri.
"Lalu, bagaimana dengan sunbae?" tanya Haechan, mempersiapkan diri jika nantinya Mark menjawab bahwa ia juga menyukai Koeun.
Bisa saja kan, mereka saling menyukai namun belum berpacaran?
Mark menggelengkan kepalanya. "Tidak." Katanya tegas.
Haechan kembali menghembuskan nafas lega. Haechan kembali merasa aneh, namun dikesampingkannya perasaan aneh itu dan kembali bertanya pada Mark.
"Tapi.. Koeun sunbae kan cantik. Pintar. Anggota tim dance. Pernah ikut olimpiade biologi. Populer.. Banyak yang suka. Masa sunbae tidak suka sih?" tanya Haechan penasaran.
Mark tersenyum. "Aku dan Koeun itu sama sepertimu dan Renjun. Bersahabat. Karena sudah saling mengenal dari kecil, aku hanya menganggap Koeun sebagai adik. Koeun tahu itu, tapi entah mengapa dia terus bersikap seperti itu padaku." Jelas Mark.
Haechan mengangguk-angguk dan kembali menyuapkan tteokbokki pada Mark. Setelah Mark menerima suapannya, Haechan baru tersadar. Barusan dia menyuapi Mark dengan santai, seperti dia sudah biasa melakukannya. Haechan juga merasa bahwa sekarang ia dan Mark jadi seperti sepasang kekasih yang sedang pacaran di dalam mobil. Suap-suapan pula. Haechan jadi grogi. Karena grogi, Haechan buru-buru menghabiskan tteokbokkinya dan alhasil, dia tersedak.
Melihat Haechan tersedak, Mark bergegas mengambil botol air minum dari dashboard mobil dan memberikannya pada Haechan.
"Makannya pelan-pelan dong, kan masih ada dua lagi." Kata Mark seraya menepuk-nepuk punggung Haechan.
Masih terbatuk-batuk, Haechan meminum air yang diberikan oleh Mark. Sesekali, Haechan melirik Mark yang terlihat khawatir. Dalam hati, Haechan merutuki Mark. Mark lah yang menyebabkan Haechan jadi seperti ini. Haechan jadi sebal sendiri kenapa dia jadi aneh begini.
Mark memang sudah membuat Haechan gila!
Haechan menggeleng-gelengkan kepalanya ketika dia sadar apa yang sedang terjadi. Dia memang sedang jatuh cinta pada Mark.
"Kok malah geleng-geleng?" tanya Mark, keheranan melihat Haechan yang minum sambil geleng-geleng. "Nanti tersedak lagi." Kata Mark khawatir.
Haechan akhirnya menyudahi minumnya. Ia berdeham-deham untuk memastikan bahwa tenggorokannya baik-baik saja sekaligus untuk menghilangkan rasa gugupnya.
"Sunbae, pulang yuk." Kata Haechan akhirnya.
"Itu tteokbokkinya masih ada dua tidak mau dihabiskan dulu?" Mark menunjuk kantong plastik yang ada di dashboard.
Haechan mengerucutkan bibirnya sebal, namun terlihat menggemaskan. Jantung Mark sampai berdebar kencang dibuatnya.
"Sunbae mau aku tambah gendut?"
"Ah.. bukan begitu maksudku." Mark buru-buru menyanggah, takut Haechan tersinggung.
"Nanti pasti kumakan. Nanti, tidak sekarang." Kata Haechan tegas. "Nanti akan kumakan waktu makan malam, jadi aku tidak usah makan malam dan hanya akan makan tteokbokki." Lanjut Haechan.
"Kok begitu? Kau tetap harus makan malam. Tteokbokki kan hanya camilan."
"Nah kan, sepertinya sunbae memang mau aku tambah gendut!" seru Haechan kesal, matanya mulai berkaca-kaca.
Mark tambah panik melihat mata Haechan yang berkaca-kaca.
"Loh, Haechan jangan nangis!" seru Mark.
"Habis sunbae jahat. Aku sudah gendut begini, masih disuruh makan terus. Nanti aku jadi seperti babi!" Haechan mengerucutkan bibirnya.
Mark tersenyum melihat tingkah Haechan, apalagi ekspresi wajah Haechan dengan bibir yang dikerucutkan. Mark mengulurkan tangan kanan dan mengusap rambut Haechan lembut, sekali lagi membuat Haechan grogi. Ia sudah lupa dengan air matanya yang siap jatuh.
"Kau tetap terlihat imut kok." Kata Mark sambil tersenyum manis.
"Mark sunbae kalau senyum gitu kok cakep banget ya..." batin Haechan sambil senyum-senyum sendiri.
Mark menekan tombol power window, menaikkan kaca mobilnya secara otomatis. Mengikuti Mark, Haechan menutup pintu mobil.
"Di rumah ada siapa?" tanya Mark ketika mereka sudah mendekati area apartemen Haechan.
"Hanya ada Ibu."
"Parkiran apartemenmu masuknya lewat mana?" tanya Mark, mobilnya sudah memasuki area apartemen Haechan.
Haechan menunjuk sebuah pintu. "Lewat situ sunbae."
Mark mengemudikan mobilnya melewati pintu yang ditunjukkan oleh Haechan, mengarah ke parkir basement Pine Apartment. Tidak langsung memarkirkan mobilnya, mata Mark langsung mencari dimana letak lift. Ia akan memarkirkan mobilnya di dekat lift.
Begitu selesai memarkirkan mobilnya, Mark bergegas keluar dari mobil dan membuka pintu kursi penumpang. Mark menundukkan badannya dan mengulurkan kedua tangannya, bersiap untuk menggendong Haechan.
"Loh sunbae, mau gendong lagi?" tanya Haechan malu.
"Iya." Jawab Mark singkat.
Haechan menggeleng. "Tidak usah. Liftnya kan dekat, sunbae papah aku saja. Tidak usah repot-repot gendong." Kata Haechan.
"Ah.. baiklah."
Mark sedikit kecewa tidak bisa menggendong Haechan, namun setidaknya dia bisa memapah Haechan.
Begitu memasuki lift, Haechan langsung memencet tombol lantai dua belas. Haechan bersandar di dinding lift, menunduk menatap kakinya.
"Sunbae, sunbae pernah terkilir juga?" tanya Haechan.
"Sering, bahkan pernah lebih parah lagi. Maklum, sepakbola."
"Sakit ya, sunbae?" tanya Haechan polos.
Mark tersenyum mendengar pertanyaan Haechan. "Kau yang terkilir batu saja bisa begini, apalagi cedera. Dulu aku pernah harmstring – " Mark berhenti menjawab ketika melihat Haechan mengerutkan keningnya.
"Kalau aku jelaskan kau juga tidak akan mengerti kan apa itu harmstring?" tanya Mark pada Haechan.
Haechan tersenyum malu. "Hehehe, iya juga."
"Waktu itu aku harus istirahat selama sebulan. Pernah juga terkilir di pergelangan kaki."
"Sering ya, cedera itu?" tanya Haechan lagi.
"Untuk pesepakbola, sering."
Ting!
Lift berbunyi dan membuka. Mereka sudah sampai di lantai dua belas. Mark kembali memapah Haechan menuju rumahnya yang terletak tidak terlalu jauh dari lift.
Haechan memencet password rumahnya dan membuka pintunya.
"Loh, ada Mark lagi."
Nyonya Lee yang sedang merapikan ruang tamu bergegas menghampiri Mark dan Haechan. Berdua Nyonya Lee dan Mark mendudukkan Haechan di atas sofa.
"Mark baik sekali mau mengantar Haechan pulang, terimakasih ya Mark." Kata Nyonya Lee sambil tersenyum.
Mark balas tersenyum pada Nyonya Lee. "Ah, tidak apa-apa kok Tante. Saya senang bisa membantu Haechan."
"Mau mampir dulu? Mau minum apa?" tawar Nyonya Lee.
"Ah, tidak usah repot-repot – "
"Kebetulan tadi baru beli jeruk, jus jeruk ya Mark? Haechan mau?" Nyonya Lee memotong perkataan Mark.
Haechan mengangguk-angguk semangat.
"Nah, tunggu dulu ya." Kata Nyonya Lee seraya menuju dapur.
Mark duduk di sebelah Haechan. "Aku kan hanya berniat mengantarmu pulang, kenapa Ibumu jadi repot begini."
"Ibu hanya ingin berterimakasih pada sunbae. Sunbae sudah banyak membantuku, tidak ada salahnya kan jika aku dan keluargaku berterimakasih pada sunbae?"
"Ah, iya Haechan."
"Sunbae.." panggil Haechan.
"Ya?"
Mark menolehkan kepalanya menatap Haechan. Posisi mereka berdua yang duduk sangat dekat membuat wajah Mark juga berada sangat dekat dengan wajah Haechan. Dengan gugup, Haechan sedikit memundurkan wajahnya.
"Seharusnya aku ulangan susulan hari ini, tapi karena aku belum bisa jalan, Bu Taeyeon bilang ulangan susulanku hari Senin besok." Haechan berhenti sejenak.
"Lalu?"
"Apa sunbae bisa membantuku belajar lagi hari Minggu besok? Jujur saja, aku sudah lupa semua apa yang sunbae ajarkan.." pinta Haechan.
Masa bodoh dengan kupu-kupu yang bertebangan di perutnya, masa bodoh dengan jantungnya yang berdegup kencang, Haechan memberanikan diri untuk meminta Mark mengajarinya lagi. Selama perjalanan pulang tadi, Haechan sudah berpikir. Mark sedang kosong, tidak ada kekasih. Dan sepertinya Mark juga tidak sedang mendekati seseorang. Jadi, boleh saja kan jika Haechan memulai pendekatannya? Lagipula, Haechan juga tidak sepenuhnya modus. Ia benar-benar sudah lupa apa yang Mark ajarkan kemarin. Salahkan otaknya yang tidak mau berkompromi kalau hitung-hitungan.
"Hanya Minggu saja, tidak sekalian besok?" balas Mark.
Haechan menggelengkan kepalanya. "Nanti malam Renjun menginap disini, dan jika Renjun menginap, pulangnya bisa besok sore." Jawab Haechan. "Lagipula, bukannya besok sunbae ada latihan sepak bola? Liga antar SMA sudah dekat kan?"
"Bagaimana kau tahu tim sepakbola latihan di hari Sabtu?"
"Jeno dan Renjun selalu berkencan di hari Sabtu. Jika hari Sabtu mereka tidak kencan, itu tandanya Jeno sunbae ada latihan."
"Kau sangat dekat dengan Renjun ya, sampai jadwal mereka kencan saja kau tahu?" tanya Mark takjub.
Mark menepuk dadanya bangga. "Aku tahu semua tentang Renjun. Juga hubungannya dengan Jeno sunbae sampai ke seluk beluknya."
"Nah, ini jusnya."
Nyonya Lee datang membawa nampan berisi dua gelas jus jeruk. Haechan memekik senang dan langsung mengambil satu gelas. Haechan memang sangat suka dengan jus buah, terutama jus jeruk.
"Ayo sunbae, diminum." Kata Haechan.
Mark mengangguk dan tersenyum pada Nyonya Lee.
"Terimakasih Tante." Ujar Mark seraya meraih gelasnya.
"Tante tinggal ke belakang dulu ya."
Mark menghabiskan jus jeruknya dalam sekali teguk, kemudian pamit pulang pada Haechan setelah mengecek ponselnya.
"Baru saja Ibuku mengirimiku pesan, minta diantar ke supermarket." Jawab Mark ketika Haechan bertanya mengapa buru-buru.
"Kalau begitu, hati-hati di jalan ya, sunbae!"
"Sampai bertemu hari Minggu, Haechan." Mark tersenyum dan melambaikan tangannya.
"Sampai bertemu juga, sunbae." Balas Haechan.
Segera setelah Mark menutup pintu rumah Haechan, Haechan langsung memekik senang dan memeluk bantal sofa. Ia menjejakkan kaki kirinya senang. Haechan tidak menyangka bahwa jatuh cinta rasanya seperti ini. Haechan merasa seperti orang bodoh namun di saat yang bersamaan ia juga merasa bahagia.
"Aaaaa.. Mark sunbae..."
JEDUG!
"Aaaaaa aduhhhh!"
Kaki kanan Haechan tak sengaja terantuk sofa.
: TERKILIR :
"Romantis sekali!" pekik Renjun begitu Haechan selesai menceritakan kisahnya dengan Mark tiga hari terakhir ini.
Haechan mengangguk-angguk setuju. "Mark sunbae benar-benar baik, dan manis.."
"Kau jatuh cinta dengannya kan? Iya kan?" tanya Renjun langsung.
Haechan tersenyum malu, membuat Renjun gemas dan menimpuknya dengan bantal.
"Akhirnyaaaa sahabatku ini jatuh cinta juga!" seru Renjun senang.
"Renjunie, apa kau yakin aku bisa mendapatkan hati Mark sunbae?" tanya Haechan.
"Ah! Kau ini bodoh atau apa sih. Dilihat dari perlakuan Mark sunbae kepadamu, dia jelas juga tertarik padamu!" seru Renjun gemas.
Haechan menghembuskan nafas pelan. "Tapi, bisa saja kan itu semua karena memang dia dasarnya orang baik? Kau sendiri yang bilang bahwa Mark sunbae baik ke semua orang. Jadi, aku tidak boleh merasa spesial dulu, karena bisa saja Mark sunbae juga begini ke orang lain." Kata Haechan pesimis.
Renjun menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak, tidak. Jeno hyung banyak bercerita padaku tentang Mark sunbae. Sama denganku yang frustasi karena kau tidak punya kekasih — ehe, maaf." Renjun meringis dipelototi Haechan. "Jeno hyung juga sering frustasi karena Mark tidak kunjung punya kekasih. Banyak yang meminta bantuan Jeno hyung untuk bisa dekat dengan Mark sunbae, tapi Jeno hyung bilang bahwa Mark sunbae memperlakukan mereka biasa-biasa saja. Jeno hyung saja bilang dia heran melihat Mark sunbae membawakanmu makan siang, memapahmu berjalan, dan mengantarmu pulang. Baru sekali Mark sunbae seperti ini. Aku positif Mark sunbae tertarik padamu!" kata Renjun berapi-api.
Haechan memanyunkan bibirnya. "Tapi ada Koeun sunbae."
"Kok, Koeun sunbae?" tanya Renjun heran.
"Kau tadi tidak dengar apa kata Siyeon? Mereka berdua dekat dan sering kemana-mana berdua, makanya dikira pacaran."
Renjun menaikkan satu alisnya. "Tapi mereka tidak pacaran kok!"
"Iya, memang tidak pacaran. Aku sudah tanya tadi ke Mark sunbae." Tukas Haechan.
"Nah, itu tahu. Lalu apa masalahnya?
Haechan menggembungkan pipinya kesal. "Tapi Koeun sunbae memang menyukai Mark sunbae." Jawab Haechan kecut. "Itu tandanya dia saingan beratku."
"Tapi kan Mark sunbae tidak suka!" seru Renjun gemas. "Pokoknya aku positif sekali Mark sunbae itu suka padamu."
Haechan tengkurap di atas ranjang dan menelungkupkan mukanya ke bantal Winnie the Pooh kesayangannya.
"Aku kangen Mark sunbae!" serunya keras.
Renjun tertawa keras melihat tingkah Haechan. "Memang ya, orang yang sedang dimabuk cinta. Aku jadi teringat waktu sebelum pacaran dengan Jeno hyung. Telepon sana."
Telepon sana.
Haechan tiba-tiba menyadari sesuatu. Ia buru-buru bangkit dari posisi tengkurapnya dan langsung duduk bersila menghadap Renjun.
"Renjun, kau punya kontak Mark sunbae?" tanya Mark langsung.
Renjun memelototkan matanya horor. "Jangan bilang.. jangan bilang kalian belum bertukar kontak?"
Malu-malu, Haechan mengangguk mengiyakan pertanyaan Renjun. Renjun yang gemas mencubit pelan paha Haechan.
"Kok belum tukaran kontak sih!"
"Aku lupa minta tadi! Mark sunbae juga tidak minta!" Haechan memberikan pembelaan.
Sambil memanyunkan bibirnya, Renjun meraih ponselnya.
"Ini aku kirimkan kontak Line Mark sunbae." Kata Renjun sambil membuka aplikasi Line.
Haechan buru-buru ikut mengambil ponselnya. Chat dari Renjun pun masuk. Haechan langsung menjerit senang melihat kontak Line Mark.
"Aduh fotonya ini kenapa ganteng banget sih?" seru Haechan sambil senyum-senyum memandangi foto profil Mark.
Renjun menghempaskan tubuhnya di atas ranjang Haechan. "Sudah sana di add, lalu di chat. Aku mau video call sama Jeno hyung dulu."
Haechan menolehkan kepalanya menatap Renjun. "Jadi, aku harus mendengar kalian berdua pacaran, begitu?" tanyanya datar.
"Biasanya juga seperti itu kan." Balas Renjun cuek.
Haechan hanya bisa memanyunkan bibirnya kesal. Dia memang sangat sering menjadi obat nyamuk antara Renjun dan Jeno, baik secara langsung maupun via video call. Tapi setidaknya malam ini dia tidak akan menjadi obat nyamuk seperti biasanya, karena dia juga akan ngobrol dengan Mark meskipun hanya lewat chat.
: TERKILIR :
Sementara itu di kamarnya, Mark berdiam diri sambil berbaring di ranjang menatap langit-langit kamarnya. Sejak tadi, berbagai macam pikiran berkecamuk di otaknya. Namun, semua pikiran itu hanya terpusat pada satu orang.
Haechan.
Entah mengapa sejak tadi Mark memikirkan Haechan. Yang terbayang di benak Mark juga hanya wajah Haechan seorang.
"Aku merindukannya." Gumam Mark pelan.
Mark memejamkan matanya. Ingatannya kembali ke saat dia pertama kali mengenal Haechan. Saat itu Mark baru pulang dari membeli sepatu sepak bola. Namun entah mengapa, Mark yang biasa mengebut malam itu mengendarai mobilnya pelan-pelan. Saat itulah Mark melihat sosok orang yang terduduk di trotoar.
Memang dasarnya Mark itu baik. Dia menghentikan mobilnya dan berniat untuk menolongnya. Namun alangkah terkejutnya Mark saat mengetahui siapa sosok yang duduk di atas trotoar tersebut.
Lee Haechan. Adik tingkat yang menarik perhatiannya tiga bulan lalu saat donor darah dengan tangisannya yang menyayat hati. Adik tingkat yang diketahuinya merupakan teman dari kekasih Jeno, sahabatnya.
Dan malam itu setelah mengantarkan Haechan, Mark merutuki dirinya sendiri. Dia tidak tahu mengapa tadi dia tiba-tiba menawarkan diri untuk mengajari Haechan matematika. Dia dan Haechan kan baru saja kenal. Mark takut Haechan menganggapnya aneh.
Mark semakin merutuki dirinya sendiri saat besoknya ia mendapati dirinya berada di depan pintu rumah Haechan. Mark sempat mondar-mandir di depan pintu rumah Haechan selama beberapa menit, menimbang apa sebaiknya dia jadi mengunjungi Haechan dan mengajarinya matematika atau kembali pulang. Akhirnya pilihan Mark jatuh pada yang pertama.
Mark memang baru mengenal Haechan, namun entah mengapa ia merasa nyaman. Selama mengajari Haechan, Mark benar-benar pusing karena Haechan susah sekali diajari. Tapi semua rasa pusing Mark langsung sirna apabila melihat wajah Haechan. Ekspresi wajahnya yang lucu itu entah kenapa bisa langsung mengubah suasana hati Mark. Apalagi ketika Haechan berulang kali mengatakan "Aku tidak mengerti, sunbae. Bisa tolong ulangi lagi?"
Mark bahkan memberanikan diri untuk bertanya pada kakak Haechan. Sebenarnya ketika Mark tahu Taeyong akan mengantar Haechan ke sekolah menggunakan motor, Mark berniat menawarkan kepada Taeyong untuk menjemput Haechan. Tapi kata-kata itu tidak bisa keluar dari tenggorokannya karena ia terlalu gugup dan akibatnya Mark hanya bisa menyesalinya.
Tidak mau menyesali apa yang telah terjadi, Mark datang pagi-pagi sekali keesokan harinya. Ini rekor bagi Mark. Ibunya bahkan heran melihat Mark berangkat sekolah pagi sekali, karena biasanya Mark selalu datang ke sekolah di detik-detik menjelang bel masuk.
Mark mengawasi saat Haechan turun dari motor dan berjalan menuju kelasnya. Awalnya Mark geli melihat Haechan yang berjalan sangat pelan, namun lama kelamaan ia menjadi iba dan memutuskan untuk langsung menggendong Haechan.
Mark akui tindakannya itu sangat berani. Menggendong Haechan di sekolah. Mark tidak mempermasalahkan jika ada yang melihat, tapi Mark memikirkan bagaimana reaksi Haechan. Mark benar-benar sudah bertingkah seperti orang aneh dan sok akrab di hadapan Haechan.
Dan Mark benar-benar tidak bisa mengerti dirinya sendiri saat ia menawarkan untuk membawakan makan siang pada Haechan. Namun saat itu sudah kepalang tanggung, dan Mark benar-benar nekat untuk membawakan makan siang pada Haechan. Mark tidak peduli jika mereka berdua jadi pusat perhatian, bahkan jadi bahan gosip baru.
Karena saat itu juga Mark menyadari, dirinya telah jatuh cinta.
Pada makhluk Tuhan paling indah yang berada di hadapannya.
Adik tingkat yang menarik perhatian Mark dengan suara tangisannya.
Mark jatuh cinta pada Haechan.
Mark baru pertama kali jatuh cinta, dan ia tidak mengerti mengapa ia bisa jatuh cinta secepat ini. Namun Mark tidak peduli, yang jelas memang dia sedang jatuh cinta. Cinta tidak mengenal waktu, kan? Buktinya banyak orang yang jatuh cinta pada pandangan pertama.
Ponsel yang berada di sebelah Mark bergetar. Dari getarannya, ada chat dari Line. Ogah-ogahan Mark meraih ponselnya. Dipikirnya hanya pesan spam dari Official Account.
"HAH?"
Mark langsung terbangun dari posisi tidurnya begitu melihat pop up chat yang muncul di layar ponselnya. Mark memelototkan matanya ke layar ponselnya.
Haechan
Mark sunbae?
Mark mengucek-ucek matanya, berusaha memastikan bahwa ini benar-benar chat dari Haechan. Gugup dan senang di saat yang bersamaan, Mark buru-buru mengetikkan pesan balasan untuk Haechan.
Mark Lee
Ya Haechan?
: TERKILIR :
"Ah, dibalas tidak ya." Haechan harap-harap cemas.
"Pasti dibalas, Mark sunbae itu selalu dekat-dekat ponselnya kok." Sahut Renjun yang masih sibuk video call dengan Jeno.
"Mark? Ada apa dengan Mark, baby?" Haechan bisa mendengar suara Jeno dari ponsel Renjun.
Renjun tertawa kecil. "Jadi begini hyung, Haechan naksir Mark sunbae dan sekarang Haechan lagi harap-harap cemas menunggu chatnya dibalas Mark hyung."
"Wah, kalau Haechan naksir Mark itu berarti kemajuan! Kalau begini aku akan segera terbebas dari gangguan fans-fans Mark!" seru Jeno.
Mendengar seruan Jeno, Haechan mendekatkan dirinya ke Renjun agar bisa ikut video call dengan Jeno. Haechan ikut memegang ponsel Renjun dan memastikan dirinya masuk ke dalam layar.
"Sunbae! Benar kan Mark hyung tidak sedang menyukai seseorang?" tanya Haechan memastikan.
"Kupikir, Mark sedang menyukai seseorang."
Haechan merosot.
"Siapa hyung?" tanya Haechan lemas.
"Ya jelas kau lah, siapa lagi?"
Haechan baru akan merespon Jeno ketika ponselnya berbunyi. Haechan langsung memekik senang begitu melihat siapa yang mengiriminya pesan.
"Ini Mark sunbae!" seru Haechan senang.
Renjun ikut mendekatkan matanya ke ponsel Haechan. Dengan gembira Haechan membuka chat dari Mark.
Mark Lee
Ya Haechan?
"Aduh.. balasnya gimana ini?" tanya Haechan gugup.
"Balas saja, lagi ngapain sunbae, sudah makan belum, atau apalah!" usul Renjun.
"Oke oke."
Haechan yang memang buta masalah percintaan pun menuruti saran Renjun dan mengetik pesan balasan untuk Mark.
Haechan
Sunbae sedang apa?
"Baby, kau mengacuhkanku?"
Renjun yang ikut memelototi ponsel Haechan menunggu balasan Mark pun tersadar ketika kekasihnya memanggil namanya. Ia langsung fokus pada ponselnya lagi dan dengan manjanya meminta maaf pada Jeno, membuat Haechan menoyor kepala Renjun gemas.
Mark Lee
Hanya berbaring saja, bosan. Kau?
Haechan menoleh ke arah Renjun, berniat meminta saran lagi. Tapi begitu dilihatnya Renjun yang sedang bermesraan via video call dengan asyiknya, Haechan mengurungkan niatnya.
Haechan
Jadi obat nyamuk orang pacaran.
Mark Lee
Memangnya kau sedang bersama siapa? Renjun menginap di rumahmu kan? Apa ada Jeno disitu?
Haechan
Tidak, Jeno hyung tidak disini tapi Renjun daritadi video call dengan Jeno sunbae.
Tiba-tiba gelap. Terdengar suara jeritan Taeyong dari kamar sebelah dan juga pekikan Renjun.
"Mati listrik!" seru Nyonya Lee dari lantai bawah.
Haechan menjatuhkan tubuhnya ke ranjang dengan kesal. Renjun yang baru menyudahi video callnya dengan Jeno karena mati listrik jadi heran melihat Haechan yang menghempaskan tubuhnya dengan kasar, membuat ranjangnya memantul-mantul.
"Kenapa? Mark sunbae membuatmu kesal?" tanya Renjun.
"Bukan itu. Aku kan tidak punya paket data. Kalau mati listrik, wifi rumah juga ikut mati. Aku jadi tidak bisa chat dengan Mark hyung." Kata Haechan sedih.
"HAH? Jaman sekarang siapa sih yang tidak punya paket data? Astaga kau ini." Renjun menggeleng-gelengkan kepalanya.
Haechan hanya diam saja, meratapi nasib buruknya. Dia malah berdiri dan berjalan menuju balkon dan membuka pintu balkon lebar-lebar.
"Panas." Katanya sambil mengipasi dirinya sendiri dengan tangan.
Haechan bersandar di balkon dan merenung memperhatikan langit malam. Dia sangat rindu pada Mark. Rasa-rasanya besok dia ingin datang ke sekolah untuk melihat Mark latihan sepakbola, tapi kakinya sedang tidak bisa diajak kompromi.
Tiba-tiba Renjun sudah ada di samping Haechan. Ia mengulurkan ponselnya kepada Haechan.
"Aku mau saja meminjamimu ponsel untuk chat dengan Mark sunbae, tapi lihat sendiri bateraiku tinggal 9%. Tapi setidaknya kau masih bisa menggunakannya untuk memberi kabar pada Mark sunbae. Mungkin dia sedang menunggu-nunggu balasan chatmu."
Haechan tersenyum lebar. "Wah, kau baik sekali Renjunie!" seru Haechan senang sambil menerima ponsel Renjun.
"Mark sunbae, maaf ya chat kita terputus. Rumahku mati listrik. Aku rindu sekali pada sunbae, besok boleh tidak aku menonton latihan sunbae?" kata Haechan imut.
Renjun melotot pada Haechan. "Itu yang akan kau kirimkan untuk Mark sunbae?"
"Tentu saja tidak! Memangnya aku sudah gila apa? Aku kan cuma mengungkapkan isi hatiku."
"Memang kau sudah gila!"
: TERKILIR :
"Jadi, kau naksir Haechan atau tidak?"
Mark yang sedang melepas sepatunya menoleh pada Jeno.
"Apa?"
"Aku tanya, kau naksir Haechan atau tidak?" ulang Jeno.
Mark tersenyum kecil. "Memangnya kenapa?"
"Haechan itu.. dia sahabat Renjun sejak kecil. Renjun sayang sekali padanya, dan aku menganggap Haechan seperti adikku sendiri. Jadi jika kau memang suka padanya, kumohon kau serius dan jangan menyakitinya." Kata Jeno.
"Dia yang pertama."
"Pertama apa?" tanya Jeno bingung.
"Dia orang pertama yang membuatku jatuh cinta." Mark menjawab, sebuah senyum terukir di bibirnya.
"Haechan.. anak itu sepertinya juga menyukaimu."
Mark menoleh menatap Jeno. "Kaupikir dia menyukaiku?"
"Well, hanya kau yang bisa memastikannya kan?" tanya Jeno balik. "Aku pulang dulu ya, hari ini kakakku ulang tahun jadi harus segera pulang. Biasa, makan di luar."
Setelah tos dengan Mark, Jeno bergegas menuju parkiran. Sembari berjalan, Jeno mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan untuk kekasihnya.
Lee Jeno
Positive. Mission accomplished, baby.
Ya, Renjun memang meminta Jeno untuk bertanya pada Mark dan memastikan apakah Mark juga menyukai Haechan. Benar yang dikatakan oleh Jeno, Renjun memang sangat menyayangi Haechan dan Renjun ingin memastikan bahwa perasaan Haechan tidak akan bertepuk sebelah tangan.
: TERKILIR :
Hari Minggu akhirnya tiba. Sedari pagi, Haechan sudah berjalan-jalan di taman depan apartemen, melatih kakinya. Kakinya sudah bisa berjalan lagi dan Haechan ingin melatihnya agar besok Senin ia sudah bisa berjalan dengan lancar.
Haechan merasakan ponsel di sakunya bergetar.
Mark Lee
Good morning Haechan, jadi kan belajarnya?
Haechan langsung menutup mulut untuk menahan pekikan senang yang keluar dari mulutnya. Sebagai gantinya, ia menjejakkan kedua kakinya senang, meskipun setelahnya kaki kanannya agak sedikit sakit.
Sambil tersenyum senang, Haechan mengetikkan pesan balasan untuk Mark.
Haechan
Selamat pagi juga sunbae! Jadi kok, nanti sunbae datang jam berapa?
Mark Lee
Jam sebelas mungkin? Kau mau dibawakan sesuatu?
Haechan
Tidak usah repot-repot sunbae. Oke, aku tunggu jam sebelas ya sunbae.
Mark Lee
See you later, Haechan.
Dan Haechan mengirimkan stiker jempol sebagai balasan untuk Mark.
"Ah senangnyaa bisa bertemu Mark sunbae.. Sudah kangen." Kata Haechan senang. "Nah sekarang mandi, siap-siap. Harus cakep nanti kalau Mark sunbae datang." Lanjutnya, segera membalikkan badannya dan pulang.
Ketika memasuki rumah, Haechan terkejut melihat kakaknya sedang berduaan di ruang tengah bersama kekasihnya, Jaehyun.
"Loh, kok hyung pacaran di sini!" seru Haechan.
Taeyong menatap Haechan heran. "Biasanya kan kami juga pacaran disini!" tukas Taeyong.
"Tapi hari ini Mark sunbae mau datang. Hyung jangan pacaran disini dong." Rengek Haechan.
"Mark? Kekasihmu?" Jaehyun angkat suara.
Haechan menggelengkan kepalanya. "Sekarang sih belum hyung, tapi sesegera mungkin!" katanya yakin.
"Ya sudah, di kamarmu saja. Kemarin juga belajar Matematika berdua di kamar." Kata Taeyong cuek.
"Itu kan waktu kakiku sakit jadi di kamar! Masa sekarang di kamar juga, kan malu!" seru Haechan kesal.
"Haechan, hyungmu ini sedang malas untuk pacaran di luar. Kami mau movie marathon, jadi kalau kau tidak ingin belajar di kamar, lebih baik kau belajar di luar. Anak-anak sekarang kan kalau belajar sambil nongkrong. Di kafe sana!"
Haechan mengerucutkan bibirnya sebal. "Ah, kalian ini menganggu rencanaku saja!" seru Haechan sambil berlalu menuju kamar.
Haechan menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang dan telungkup. Jari-jarinya bergerak di atas layar ponselnya, mengirimkan pesan untuk Mark.
Haechan
Sunbae, rumah dipakai Taeyong hyung pacaran. Sepertinya tidak bisa belajar di rumah.
Haechan harap-harap cemas menunggu balasan dari Mark.
Mark Lee
Begitu ya? Kita belajar di luar saja, bagaimana? Ada kafe langgananku, aku sering mengerjakan tugas di sana.
Haechan tersenyum senang melihat balasan dari Mark. Dan kini ia mengetahui maksud perkataan Taeyong. Taeyong menyuruhnya belajar di luar bukan hanya sekedar untuk nongkrong, tapi secara tidak langsung Taeyong juga menyuruh Haechan untuk kencan dengan Mark.
Haechan
Oke hyung, aku dijemput kan? Hehehe..
Mark Lee
Siap, tetap jam sebelas ya.
Haechan melempar ponselnya ke samping dan menjejak-jejakkan kakinya ke udara.
"Kencan.. kencan dengan Mark hyung!" pekiknya senang.
Pandangan mata Haechan tertuju pada jam dinding yang tergantung di atas meja belajarnya. Sudah hampir jam sepuluh. Haechan harus mulai bersiap-siap.
"Mandi mandi, mandi mandi biar cakep~" Haechan bernyanyi kecil sambil menuju kamar mandi.
Dan tepat jam sebelas kurang lima menit, Haechan sudah duduk di lobi gedung apartemennya menanti kedatangan Mark. Satpam apartemennya, Pak Shindong, sampai suit-suit menggodanya karena tidak biasanya Haechan duduk di lobi.
"Dek Haechan mau kencan ya?" goda Pak Shindong.
Malu-malu Haechan menjawab pertanyaan Pak Shindong. "Iya dong Pak, masa iya Taeyong hyung saja yang pacaran, aku juga bisa dong." Balas Haechan percaya diri.
Haechan dan Pak Shindong tertawa bersama. Tepat pada saat itu, mobil hitam Mark berhenti di depan lobi. Haechan bergegas berdiri.
"Pergi dulu ya Pak Shindong!" pamit Haechan sambil melambaikan tangannya.
Haechan melangkah keluar dari gedung apartemennya dan tersenyum ketika mendapati Mark sudah berada di samping mobilnya. Apalagi saat Mark membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Haechan untuk masuk.
"Taeyong hyung punya kekasih?" itulah hal pertama yang diucapkan Mark kepada Haechan.
Haechan mengangguk mengiyakan. "Mereka sudah pacaran sejak lama. Sejak awal masuk SMA. Sudah lima tahun." Jawab Haechan.
"Langgeng juga Taeyong hyung." Komentar Haechan.
"Ngomong-ngomong sunbae, kita mau ke kafe mana?" tanya Haechan penasaran.
"Twenty Four Seven. Tahu?"
Haechan menggelengkan kepalanya. "Aku bukan anak gaul yang suka nongkrong di kafe."
Mark tertawa kecil. "Twenty Four Seven itu memang kafe, tapi kebanyakan yang datang kesana itu tujuannya mengerjakan tugas. Tempatnya luas, cozy, dilengkapi wifi dan soket listrik. Buka 24 jam pula." Jelas Mark.
"Hari Minggu begini ramai tidak?"
"Jam segini biasanya belum ramai. Waktu jam makan siang baru ramai."
Mata Haechan tertuju pada radio di dashboard mobil.
"Boleh aku nyalakan radionya?" tanya Haechan, meminta izin.
Mark mengangguk memberikan izin. Haechan bergegas menyalakan radio dan mencari-cari saluran yang bagus. Tangan Haechan berhenti menggeser ketika terdengar salah satu lagu kesukaannya.
My baby don't like it when you come around
Dangyeonhi neogati wiheomhn yeojareul
Geopnaeneun ge dangyeonhaljido molla
Na eojjomyeon neoege do
Ppajyeodeureogaljido molla
Haechan bersenandung mengikuti alunan lagu Baby Don't Like It dari NCT. Di sebelahnya, Mark yang tidak pernah mendengar Haechan bernyanyi pun menikmati lagu yang sedang diputar tersebut featuring Haechan.
"Wah, aku tidak tahu suaramu sebagus itu." Puji Mark.
Haechan mengerucutkan bibirnya. "Waktu aku jatuh kan aku sudah bilang kalau aku baru pulang les vokal. Apa sunbae mengira suaraku sangat jelek sampai aku butuh les vokal?" kata Haechan sebal.
"Bukan begitu Haechan, aku tidak mengira suaramu jelek. Maksudku, aku tahu kau les vokal tapi aku kan tidak tahu kalau suaramu sebagus ini." Kata Mark sabar.
Beruntung bagi Mark, Haechan hanya mengangguk-angguk saja, tidak mengajukan protes berkelanjutan.
Mark mengemudikan mobilnya memasuki area parkir sebuah kafe. Setelah memarkirkan mobilnya, Mark bergegas turun dan membukakan pintu mobil untuk Haechan. Haechan jadi senyum-senyum sendiri karena perlakuan Mark.
Mark dan Haechan memasuki kafe. Mark membawa Haechan ke meja favoritnya. Kafe tidak terlalu ramai, seperti apa yang Mark bilang.
"Wah sunbae.. tempatnya enak sekali." Kata Haechan kagum sembari memandangi kafe. "Interiornya cantik. Tempat duduknya juga sofa, asyik empuk." Seru Haechan sambil mendaratkan pantatnya di atas sofa.
Seorang waitress mendekati meja Mark dan Haechan, kemudian memberikan buku menu dan kertas pesanan.
"Kau sudah sarapan?" tanya Mark.
Haechan mengangguk sambil membuka-buka buku menu.
"Sudah sunbae, jadi aku mau French Fries saja. Minumnya matcha latte." Haechan menyebutkan pesanannya.
"Fish and chips, nugget, omelette, sunny side up egg toast, dan caramel latte." Pesan Mark.
Haechan melongo mendengar pesanan Mark.
"Sunbae, banyak sekali yang dipesan."
"Itu? Itu baru pemanasan. Nanti kalau lapar lagi aku tambah." Kata Mark santai.
Haechan menatap Mark dengan horor. Bisa-bisanya Mark yang kurus kering begini mempunyai selera makan yang super.
"Sunbae.. selalu makan sebanyak itu?" tanya Haechan, teringat satu buah kimbab segitiga yang dimakan Mark tempo hari.
"Makanku memang banyak. Kenapa? Kimbab itu ya?" Mark seakan bisa membaca pikiran Haechan.
"Hehehe.. iya sunbae."
"Itu karena aku memang tidak mood makan. Lagipula itu juga bukan jamku makan. Tapi kalau aku sudah mood makan, nanti kau lihat sendiri." Kata Mark.
Haechan mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban Mark. Ia iri dengan Mark. Mark bisa makan banyak, tapi tubuhnya tetap kurus begitu. Sedangkan Haechan, makan sedikit saja timbangannya langsung naik.
Kemudian Haechan meraih tas ranselnya dan mengeluarkan buku catatannya serta beberapa lembar kertas HVS yang penuh tulisan. Dikeluarkannya juga beberapa lembar kertas HVS yang masih baru.
"Kemarin Renjun memberiku soal ulangannya, siapa tahu bisa dijadikan referensi. Siapa tahu juga ada soal yang sama." Haechan menyodorkan selembar kertas pada Mark.
"Ok, let's see.."
: TERKILIR :
"Ini tadi bagaimana rumusnya sunbae?"
"Ini pakai sifat yang mana?"
"Ulangi lagi sunbae aku pusing."
"Ini kok dicoret?"
"Angka enam pindah kemana?"
"Rumusnya sama seperti yang di atas?"
"Aku tidak mengerti, sunbae.."
"Ini tadi berapa hasilnya?"
Sedari tadi celotehan Haechan tak pernah berhenti mampir di telinga Mark. Mark tidak pernah terganggu oleh itu, malah dengan sabar ia akan menjawab setiap pertanyaan Haechan sampai Haechan mengerti.
"Yayyy akhirnya selesai juga!" seru Haechan senang.
Mark menghebuskan nafas lega. Soalnya memang hanya ada sepuluh, tapi Haechan butuh waktu tiga jam lebih untuk mengerjakannya. Padahal waktu ulangan hanya satu jam empat puluh menit. Mark hanya bisa berharap semoga besok saat ulangan susulan, Haechan bisa menyelesaikan semua soal tepat waktu.
"Yakin sudah benar-benar bisa?" tanya Mark memastikan.
Haechan mengangguk. "Aku sudah hafal semua rumusnya, tinggal bagaimana aku mengaplikasikannya ke soal saja. Itu yang susah sunbae."
"Mau coba mengerjakan soal lain?" tawar Mark.
Haechan menggelengkan kepalanya kuat-kuat, menolak tawaran Mark.
"Tidak mau sunbae, capek. Nanti saja di rumah aku belajar lagi. Kepalaku pusing." Keluh Haechan.
Mark terkekeh melihat Haechan. Ia menuruti permintaan Haechan untuk tidak kembali belajar dan mulai membereskan kertas-kertas yang berserakan di atas meja.
"Aku lapar." Kata Mark.
Haechan melongo.
"Sunbae, kan sudah makan ini semua masih lapar?" Haechan menunjuk piring-piring yang bertumpuk di meja.
Mark mengangguk. "Iya, kan belum makan besar. makan yuk? Samgyeopsal? Aku yang traktir." ajak Mark.
"Aku mau aku mau!"
Memang dasar Haechan, kalau diajak makan pasti semangat.
: TERKILIR :
Tiga puluh menit kemudian, Haechan dan Mark sudah duduk di dalam sebuah restoran, asyik menikmati samgyeopsal. Haechan yang sangat menyukai samgyeopsal makan dengan lahap, sampai-sampai Mark harus memperingatkannya agar tidak terlalu terburu-buru, takut kalau Haechan tersedak lagi seperti tragedi tersedak tteokbokki kemarin.
"Sunbae, boleh tambah lagi tidak?" tanya Haechan dengan tidak tahu malunya.
"Tambah saja, dua porsi sekalian. Aku juga masih lapar."
Haechan mengacungkan jempolnya dan langsung memanggil pelayan yang lewat untuk memesan dua porsi samgyeopsal.
"Nah, asyik." Kata Haechan senang begitu samgyeopsal pesanannya sampai.
Haechan langsung memanggang daging-daging tersebut di atas panggangan sambil bersenandung pelan.
"Haechan." Panggil Mark pelan.
"Ya sunbae?" balas Haechan, pandangan matanya masih tertuju pada daging-daging yang sedang ia panggang.
"Aku menyukaimu." Kata Mark tiba-tiba.
Haechan tertegun mendengar pengakuan Mark yang mendadak. Tangannya berhenti menggerakkan penjepit. Perlahan Haechan mengangkat wajahnya dan menatap Mark.
"Eh.. sunbae?" Haechan tidak tahu harus membalas apa, mengira bahwa itu hanyalah candaan Mark.
Mark menatap Haechan lembut.
"Aku tahu ini semua terlalu cepat. Kita baru saja kenal. Tapi.. aku sudah tertarik padamu sejak lama dan baru sekarang aku bisa berkenalan denganmu. Dan aku menyukaimu. Aku menyukaimu, Haechan." Kata Mark cepat saking gugupnya.
Haechan diam saja mendengar pengakuan Mark, namun karena ia juga gugup, ia malah membolak-balik daging yang dipanggangnya dengan cepat.
Mark yang mengetahui bahwa Haechan gugup pun meraih tangan Haechan. Bukan, Mark bukan ingin mengenggam tangan Haechan. Mark hanya ingin mengambil penjepit di tangan Haechan dan memindahkan daging-daging setengah matang itu ke piring.
Sedangkan Haechan hanya bisa memperhatikan tingkah laku Mark dalam diam.
"Haechan?" panggil Mark.
"Ya, sunbae?" jawab Haechan sambil menunduk.
"Bagaimana denganmu?"
Haechan masih tetap menunduk dan meremas-remas tangannya gugup. Keringat dingin mulai membasahi wajahnya. Namun bukankah ini yang ia inginkan? Haechan sudah melakukan pendekatan pada Mark dan ini hasil yang ingin dicapainya kan?
"Ayo Haechan, Mark sunbae sudah mengungkapkan perasaanmu. Sekarang giliranmu. Ayo Haechan, kau harus berani." Haechan menyemangati dirinya sendiri.
"Aku — " Haechan menggantungkan kalimatnya.
Mark jadi mulas.
"Aku juga suka pada sunbae. Sunbae baik sekali padaku padahal kita baru kenal. Sunbae mau menggendongku padahal aku beratnya setengah mati. Aku sampai takut kalau kita berdua jatuh karena badan sunbae yang kurus itu. Kan tidak lucu kalau kita jatuh berdua, nanti sama-sama sakit. Apalagi kalau aku jatuhnya menimpa sunbae, bisa patah semua tulang sunbae itu." Kata Haechan lucu.
Diam sejenak.
Mark deg-degan.
"Sunbae mau jauh-jauh mengantarku pulang ke rumah. Sunbae mau membawakanku dan menemaniku makan siang. Sunbae mau mengajariku Matematika dengan sabar padahal jika Taeyong hyung yang mengajariku ia pasti selalu memukul kepalaku karena otakku ini tidak bekerja dengan benar. Sunbae mau mentraktirku makan, bahkan sekarang aku tambah juga diperbolehkan. Padahal mahal kan ini samgyeopsalnya? Sebenarnya memang aku sudah niat modus dan pendekatan ke sunbae, makanya aku chat-chat sunbae. Minta diajari Matematika lagi juga setengahnya ingin modus dekat-dekat sunbae. Modus ingin ketemu sunbae juga dan menghabiskan waktu dengan sunbae." Kata Haechan panjang lebar, malah jadi terdengar seperti curhat.
Mark menarik nafas panjang mendengar penjelasan Haechan. Jantungnya berdegup kencang, namun senyuman lebar terukir di wajahnya karena bahagia mendengar pengutaraan isi hati Haechan.
"Aku juga menyukaimu, sunbae." Kata Haechan sambil tersenyum malu.
Mark tersenyum menatap Haechan. Kemudian Mark yang semula duduk di depan Haechan kini bangkit dan pindah duduk di samping Haechan. Mark meraih tangan Haechan, kali ini karena memang Mark ingin mengenggam tangan Haechan.
"Haechan, jadi kekasihku, ya?" tanya Mark lembut sambil menatap mata Haechan dalam-dalam.
Haechan rasanya ingin terbang. Baru pertama kali ini ada yang menembaknya, dan Haechan senang itu Mark, cinta pertamanya. Malu-malu tapi mau, Haechan mengangguk pelan. Mark yang gemas dengan tingkah kekasih barunya itu langsung memeluk Haechan, tidak peduli bahwa mereka sedang berada di tempat umum.
Sambil membalas pelukan Mark, Haechan senyum-senyum sendiri dan dalam hati ia berterimakasih pada batu yang menyandungnya malam itu. Karena tragedi terkilir itu, ia bisa berkenalan dan sekarang berpacaran dengan Mark.
Chu~
Mark mencuri sebuah kecupan di pipi kanan Haechan, membuat Haechan mencubit paha Mark gemas.
"Sunbae, malu ih!"
Mark tertawa kecil mendengar protes Haechan dan berbisik pelan di telinga Haechan.
"I love you, Haechan."
.
.
End ya?
.
.
.
.
.
"Haechan, cari apa sih sebenarnya?" tanya Mark heran.
Haechan tidak mempedulikan pertanyaan Mark. Ia sedikit menundukkan badannya, matanya sibuk memelototi setiap batu yang berada di daerah tempat ia terkilir waktu itu. Dan kemudian Haechan berseru senang ketika ia menemukan apa yang dicarinya.
"Ketemu, hyung!" seru Haechan.
"Apanya?"
Haechan mengacungkan sebuah batu besar. "Ini loh, ini batu yang menyandungku, yang menyebabkan aku terkilir. Aku akan menyimpannya di kamar, karena berkat batu ini kita berkenalan dan jadian kan. Batu ini sangat berjasa!"
Mark hanya bisa melongo tak percaya.
.
.
.
FIN
.
.
.
.
A/N :
Dari jaman jebot aku nulis fanfiction, aku memang paling lemah nulis adegan romance. Jadi maafkan yaa kalau gak sesuai ekspektasi T_T
Dan yang JohnSol shipper jangan lupa baca fanfic terbaruku yang judulnya Pendamping Wisuda yah~
BIG THANKS to all reviewers, maaf gak bisa nyebutin satu-satu. ^^
.
.
.
Sincerely,
raeraelf
