.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

.

Main character Sakura.H/U and Sasuke.U

.

AU, Drama, Romance maybe, OOC, Typo(s) as usually, EYD please remind me

.

~if you don't like, don't ever try to read~

Just be enjoy

.

Chapter 1

.

"Hokkaido. Akhirnya, kita sampai!" Aku dan Shion berujar penuh semangat sambil berpelukan di Bandar Udara Asahikawa, Hokkaido.

Kami hanya berkunjung di pulau lain dari sekian banyak pulau di Jepang, masih tanah air kami. Tapi reaksi yang kami buat sudah sangat berlebihan. Membuat satu-satunya laki-laki yang datang bersama kami geleng-geleng kepala.

Maklum saja, kami hanya sekumpulan mahasiswa yang tidak pernah keluar pulau tempat tinggal kami. Jangankan keluar pulau, keluar kota saja butuh berpikir dua kali untuk melakukannya. Aktifitas kampus yang lebih banyak diisi dengan praktik membuat kami tidak ingin menambah rasa lelah yang kami rasakan.

"Kupikir, sudah cukup ber-euforianya. Sekarang kita punya masalah yang lebih penting. Dimana utusan yang ditugaskan menjemput kita?" ucap Gaara menyadarkanku dari tingkah kekanakan yang aku dan Shion buat. Kami saling melirik dan tersenyum.

Kepala kami bertiga celingukan mencari orang yang kiranya membawa papan nama bertuliskan nama kami. Namun, nihil. Kami tidak melihat salah satu dari sekian banyak penjemput yang membawa papan nama kami.

"Ah, itu bukan?" Tunjuk Shion ke arah seseorang yang memegang selembar kertas bertuliskan 'Sabaku.G, Haruno.S, Miroku.S'.

Kami bersama menghela napas lega. Pantas saja tidak begitu terlihat. Sudah berdirinya agak jauh, nama keluarga pula yang ditulis. Ini sedikit menyulitkan.

Kami bertiga melangkah mendekati penjemput kami.

"Permisi, dengan Mitarashi-sensei? Saya Gaara, ah, maksud saya Sabaku.G." sapa Gaara sambil memperkenalkan diri dengan menunjuk kertas nama.

"Aaa, kalian tahu berapa lama saya menunggu kalian. Uh, kakiku serasa mau patah. Sekarang, kalian ikut dengan saya." omel Mitarashi-sensei sambil mengeluh.

Wajahnya terlihat sangat kesal pada kami. Kami hanya meringis menanggapinya. Cukup menakutkan berhadapan dengannya. Bahkan, Gaara yang biasanya terlihat santai ikut menciut melihat sikap Mitarashi-sensei, meskipun hanya sedikit.

Kami mengikuti Mitarashi-sensei masuk ke taksi yang diberhentikan olehnya setelah memasukkan koper-koper kami ke dalam bagasi. Tidak banyak yang kami bawa, hanya dua koper besar milikku dan Shion, masing-masing satu. Bisa dibilang sedikit untuk ukuran gadis. Sedangkan Gaara hanya membawa satu tas ransel berukuran besar yang juga sudah dimasukkan.

"Dengar, saya tidak mentoleransi setiap kesalahan yang siswa perbuat. Tidak ada acara bolos kerja. Jika sakit, harus izin dengan surat yang diberikan oleh dokter dari pihak hotel. Jika tidak, kalian harus membayar dengan uang pribadi kalian. Paham?" Aturan pertama yang kami dapatkan dari pihak trainer terasa menakutkan. Ditambah dengan penyampaian yang cukup horror.

Sepertinya masa training kami akan sedikit mencekam dan membuat olah-jantung.

.

.

.

Sakura tidak bisa menahan degup jantungnya yang tidak selaras dengan langkahnya. Ia tampak berjalan dengan santai, lebih tepatnya berusaha santai. Waktu menunjukkan pukul delapan kurang lima menit. Masih ada setengah jam lebih sebelum jam kerja kantor dimulai.

Tenang, Sakura, namanya juga hari pertama, batinnya. Bukan karena apa, ia hanya gugup dengan bayangan lingkungan baru yang akan dihadapinya. Sangat bertolak belakang dengan perkataan dan reaksinya kemarin saat baru diterima bekerja. Bagaimanapun juga, bayangan tentang sikap senioritas berkelebat di otaknya.

Menghela napas sebelum masuk ke lobi utama, Sakura berjalan masih dengan ritme yang tenang dan berhenti tepat di tengah ruangan. Mengamati. Ia mengedarkan pandangan ke sekitar ruangan yang luas itu. Satu set meja tamu cukup mewah beserta sofa ada di samping kiri, lift di samping kanan, dua pilar besar ada di samping kanan dan kiri meja resepsionis, dan empat pot tanaman hijau setinggi kira-kira satu meter di setiap sudut ruangan.

Sakura berpikir, apakah dua pilar itu yang menopang gedung berlantai dua puluh ini? Jika iya, maka Sakura tidak akan coba-coba menendangnya. Mungkin saja gedungnya akan roboh nanti oleh tenaga supernya. Dan ia tidak ingin tertimpa reruntuhan gedung hingga lebur, mengingat tempatnya bekerja ada di lantai paling dasar. Oh iya, jangan pernah meremehkan kekuatan wanita satu ini, ya.

Ruangan masih sepi, tidak terlihat seorang pun di sana. Rasanya seram juga jika harus bekerja sendirian di tempat seluas ini. Sakura melangkahkan kaki menuju meja tinggi resepsionis.

"Astaganaga, kaget aku!" seseorang berteriak dari balik pilar. Membuat Sakura nyaris menendang pilar itu saking kagetnya, berpikir bahwa pilar itu yang berteriak. Padahal kurang dari semenit yang lalu ia tidak berniat menendangnya.

Terlihat seorang gadis berambut pirang panjang tengah duduk sambil memakai stocking hitam. Baru sebelah karena sepertinya kegiatannya terjeda oleh kemunculan Sakura.

"Oh, hai. Kamu resepsionis baru disini ya? Perkenalkan namaku Ino, rekan kerjamu." Ia berjalan ke arah Sakura masih dengan stocking dan high heels yang terpasang sebelah, lalu mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Sakura menerima uluran tangan Ino, dan mereka bersalaman.

"Sakura. Mohon bantuannya," balas Sakura berkenalan sambil tersenyum.

"Tentu. Aku bersyukur kantor ini cepat mencarikan pengganti Ayame setelah dia resign," Ino berjalan menuju bilik meja tinggi resepsionis sambil menjinjing satu high heelsnya. Sakura mengikuti dari belakang.

Ino gadis yang cantik. Rambutnya panjang, sangat malah, tubuhnya terlihat sangat ramping dan sempurna dengan setelan blazer hitamnya, kakinya jenjang, wajahnya bersih tanpa cacat sedikit pun, bibirnya yang tipis berisi sangat cocok dengan lipstik pinknya. Sakura heran, mengapa gadis seperti Ino lebih memilih menjadi resepsionis, padahal ia yakin Ino akan menjadi model terkenal dengan anugerah Tuhan yang ia miliki.

Tidak sadarkah kau juga sama cantiknya dengan Ino, Sakura.

"Kau berangkat pagi sekali, takut terlambat ya? Biasa lah, hari pertama bekerja memang begitu. Tapi aku tidak," ucap Ino setelah selsai dengan sebelah heelsnya.

"Anda juga berangkat pagi. Untuk ukuran senior, anda cukup rajin." Sakura menjaga kesopanannya, bahkan dengan rekan kerja satu jabatan.

"Jangan gunakan bahasa seformal itu. Aku punya alasan tersendiri kenapa aku menjadi sebegini rajinnya," ucap Ino dengan sedikit penekanan pada kalimat terakhirnya.

"Ini nomor ekstensi orang-orang dalam. Kalo ada surat datang, cek dulu ada tidak namanya di daftar pegawai dan staf. Kalau tidak ada jangan kamu terima, nanti kita yang repot, disangka paket gelap. Kalau ada, baru kamu terima, terus hubungi yang bersangkutan. Kalau untuk orang dalam, kamu bisa hubungi asistennya dulu. Terus, meeting room. Orang dalam kalau mau pakai meeting room harus lewat kita. Soalnya ruangannya banyak, ada tiga belas. Biasanya, sisten mereka akan booking dulu sebelum dipakai bosnya. Harus hati-hati dan teliti. Jangan sampai jadwal penggunaan ruangan bertubrukan atau double booking, nanti kita yang kena semprot. Kamu mengerti, kan?" jelas Ino panjang lebar. Sakura hanya manggut-manggut paham.

Hari pertama bekerja Ino sangat membantu Sakura. Mengajaknya keliling sebagian kantor, menunjukkan ruang-ruang yang penting untuk diketahui demi kelangsungan hidupnya di kantor. Jangan sampai Sakura nyasar nanti, atau lebih parahnya salah memasukkan tamu.

Bayangan seorang senior yang menyeramkan hilang dari kepala Sakura. Ino orang yang sangat supel dan perfectionist. Terlihat dari penampilannya.

Bahkan, setelah mengajak Sakura berkeliling Ino langsung melakukan Receptionist Room Service padanya. Ya, ia mendandani Sakura layaknya pegawai salon. Sakura hanya pasrah-pasrah saja diperlakukan ini-itu oleh Ino.

"Selesai. Sekarang kau lebih terlihat seperti manusia," ucap Ino setelah menangani pasien tunggalnya. Sakura merengut. Memang tadi dia terlihat seperti apa? Vampir?

"Nah, bagaimana? Aku tidak berani memberikan make-up tebal. Kau sepertinya bukan tipe yang suka berdandan," kata Ino saat Sakura bercermin memandang hasil riasannya.

Lumayan. Tidak banyak berubah sebenarnya, karena Ino hanya memberikan riasan tipis. Hanya supaya terlihat enak dipandang sebagai wanita, juga sebagai resepsionis tentunya. Tapi ini tampak perfect untuk selera Sakura.

"Aku suka. Terima kasih Ino-san."

"Ayolah, Ino saja. Aku sedikit geli mendengar panggilan itu dari sesama rekan kerja. Terlebih kita satu jabatan." Ino meralat panggilan Sakura padanya. Ini sudah ketiga kalinya ia menegur Sakura. Dan lagi-lagi Sakura hanya meringis.

"Hello girl, oh, girls ternyata!" teriak seorang pria berambut kuning jabrik di depan meja resepsionis.

"Ayolah Naruto, tidak perlu seheboh itu. Aku yakin kau sudah tahu akan ada karyawan baru, kan?" kata Ino sambil memutar bola matanya.

"Ayolah Ino, bersikaplah seolah aku pria polos." Naruto mengikuti gaya Ino bicara.

"Tanpa kubantu menyikapi pun, kau memang sudah bodoh, bukan lagi polos. " timpalnya. Sakura hanya cekikikan mendengar lelucon dua orang didekatnya.

"Ck, kau ini! Hai nona manis, perkenalkan, aku Uzumaki Naruto, marketing." Sakura mendelik pada Ino. Naruto seorang staf marketing, tapi sikap Ino memperlakukan Naruto seperti office boy. Segera Sakura menerima uluran tangannya sambil menyebutkan nama. Bukan karena apa, Sakura tetap harus menghormati atasan.

"Jangan kaget, meskipun dia cukup berpengaruh, tapi dia pantas menerima sikap seperti barusan," kata Ino sesaat setelah Naruto pergi bersama beberapa orang yang keluar dari dalam lift.

"Kenapa? Rasanya aneh melihatmu melakukan itu, Naruto-san 'kan atasan kita." Sakura bersikukuh dengan sikap menghormatinya.

"Pfft. Iya, dia atasan kita saat dalam kondisi formal. Tapi lihatlah, Naruto bahkan tidak mengenakan jasnya tadi. Dia sedang berperan sebagai teman, Sakura. Teman kita." tandas Ino dengan wajah cerahnya.

Sakura tertegun dengan kalimat terakhir Ino. Teman, ya? Apakah kelak Ino dan Naruto akan menjadi teman Sakura, atau bahkan sahabatnya? Sakura tidak berani menduga. Sudah lama Sakura tidak menjalin hubungan pertemanan, terlebih persahabatan. Baginya, sahabat hanya akan mengundang kepahitan yang berujung ridu.

"Hm. Memangnya Naruto-s, bekerja sepagai apa?" tanya Sakura mencoba menghilangkan perasaannya yang mulai kacau.

"Manager pemasaran."

Untuk kedua kalinya, Sakura mendelik kearah Ino.

.

.

.

~oOo~

AN:

Hay, ini hasil insomniaku. 1.540 words, kurang panjang kah? Aku berusaha menepati janji yang buat up 'besok'. Aku tepati, kan? Terima kasih banyak buat readers yang telah membaca prolog (yang terlalu singkat) kemarin.

Untuk typo, eyd, dll, kalo ada yang salah atau tidak sesuai aturan, saya dengan senang hati menerima masukkan. Tidak dapat saya pungkiri, jika saya butuh ilmu itu secara langsung dari yang sudah berpengalaman /mendadak formal/ Tapi jangan pake cara yang mrempet-mrempet flame, ya. Saya hanya gadis dewasa tanggung dengan hati rapuh.

Ok, sampai ketemu chap berikutnya!

~jaa

Asrofa-chan02/05/17 Tang