.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
.
Main character Sakura.H/U and Sasuke.U
.
AU, Drama, Romance maybe, OOC, Typo(s) as usually, EYD please remind me
.
This chapter is dedicated to Triwningrum, my young sister.
.
~if you don't like, don't ever try to read~
Just be enjoy
.
Chapter 2
Apartemen yang kami tempati cukup luas. Ada tiga kamar yang ditempati karyawan dan mahasiswa dari universitas yang berbeda dengan kami. Penghuni kamar merupakan pegawai dan peserta job training di Hotel Mercure Sapporo.
Satu apartemen diisi oleh sembilan orang yang terdiri dari dua tim job training, satu tim ada tiga orang. Tiga orang sisanya merupakan karyawan hotel yang nantinya akan pindah setelah kami selesai masa training, tepatnya empat bulan ke depan.
Apartemen ini merupakan fasilitas dari hotel tempat kami praktek. Akan membutuhkan lebih banyak biaya bila kami menyewa apartemen sendiri, dan tentunya pihak panitia akan mencari-cari alasan untuk menyalahkan kami karena tidak mengikuti aturan yang ada. Bagaimanapun, kami tanggung jawab mereka di sini.
Gaara menempati kamar utama bersama dua orang pria. Salah satu diantaranya seorang karyawan hotel berumur sekitar 45 tahunan bernama Jirobu. Paman Jirobu memiliki tubuh gempal dengan rambut orange pendek yang dimodel seperti anak punk. Cukup menyeramkan. Penghuni lain bernama Kimimaru. Pemuda ini cukup tampan dengan rambut perak panjangnya. Dia seorang mahasiswa training seperti kami.
Shion menempati kamar kedua dengan dua orang mahasiswa dari universitas yang sama dengan Kimimaru. Mereka bernama Tayuya dan Sen. Tayuya dengan rambut merah bata dan Sen dengan rambut kuning coklat. Mereka cantik.
Sedangkan aku menempati kamar ketiga bersama dua karyawan hotel bernama Yugito dan Mei. Mereka wanita yang cukup dewasa, melihat dari penampilannya yang cukup matang. Mereka bekerja sebagai operator telepon di hotel.
Sebenarnya, Shion sangat ingin berada satu kamar denganku. Tapi apalah daya, kami datang paling akhir dan tentunya harus mengikuti aturan yang ada.
"Shion, teman sekamarmu lumayan cuek ya?" tanya Gaara saat kami berada di ruang tamu. Masih ada Kimimaru di kamar dan Mei di dapur. Yang lain sudah pergi untuk shift pagi.
"Iya. Kemarin saja saat aku lupa meletakkan handuk di jemuran luar, Tayuya hanya menunjuk handukku dengan wajah cueknya." Shion tampak miris pada dirinya sendiri.
"Sabar, ini ujian." Aku mencoba memberikannya kekuatan. Bagaimanapun juga, tidak akan nyaman berada satu atap, apalagi satu rumah dengan seseorang yang bersikap seperti itu.
Aku sendiri tidak separah Shion. Aku hanya kerepotan saat pulang kerja malam hari. Harus berjalan mengendap dengan kondisi gelap karena Mei dan Yugito tidak suka lampu menyala dan keberisikkan saat mereka tidur. Untuk sikap, mereka biasa saja. Saat disapa menjawab, saat tidak, ya diam. Aku tersenyum getir. Tidak jauh berbeda sebenarnya.
"Besok kalian masuk apa?" tanya Shion merubah atmosfer galaunya.
"Aku off."
"Aku juga off," ucapku.
"Yaah, senang ya, dapat off satu waktu. Setidaknya ada teman ngobrol. Sedangkan aku, selamat berbicara dengan orang-orang menyebalkan di telepon." Bertambah sudah kadar kegalauan Shion.
"Sabar, ini ujian. Suatu saat kita bertiga pasti dapat waktu off bersama. Lihat saja nanti." Kini giliran Gaara yang memberi pengertian pada Shion, meskipun dengan mengcopy kata-kataku. Sangat tidak kreatif, pikirku dengan terkekeh.
"Sudahlah, aku mau berangkat, bisa-bisa aku terlambat. Kalian shift siang sampai malam?" Aku dan Gaara mengangguk.
"Baiklah, jaa. Aku pergi. Jadi anak yang akur dirumah, ya," canda Shion.
Bersamaan dengan itu, Kimimaru keluar dari kamar siap berangkat bekerja.
.
.
Sakura menyenderkan punggungnya pada kursi kerja. Setelah hampir setengah hari berjalan kesana-kemari mengantar tamu dan menerima telepon, ia merasa kelelahan. Sakura tidak habis pikir, mengapa banyak orang yang menyepelekan pekerjaan sebagai resepsionis? Mungkin karena gaji yang kurang seberapa. Padahal pekerjaan ini cukup sulit dan menguras banyak tenaga. Belum lagi harus bersikap ekstra ramah kepada tamu, bahkan saat mereka bersikap menyebalkan.
Seperti yang baru saja terjadi. Sakura harus bolak-balik mengangkat telepon karena tamu terus meminta ganti minuman. Astaga, dia pikir ini hotel? Walhasil, ia juga harus kembali menghubungi pantry dan meminta petugas menggantikan minuman. Padahal ia sedang menerima surat dan melayani tiga pengirim paket yang sudah antre.
Jika kalian bertanya dimana Ino, ia tengah mengantarkan paket untuk manager umumsejak tiga jam yang lalu, dan sekarang belum kembali. Padahal jam makan siang hampir tiba.
"Sakura, kau sendirian? Dimana Ino?" tanya Naruto saat melewati meja resepsionis.
"Aa, itu dia." Tepat setelah Naruto menyelesaikan kalimat tanyanya, pintu lift terbuka memunculkan sosok Ino.
"Dari mana saja kau? Tidak tahukah aku hampir mati melayani peserta 'bagi sembako'?" omel Sakura pada Ino yang hanya ditanggapi dengan wajah datar.
"Kau kenapa? Baru kena semprot? Salah kirim paket? Atau...
Lift kembali terbuka. Muncul dua orang berjas dengan paras yang mirip. Mereka punya warna mata yang sama. Hitam.
Keduanya berjalan melewati meja resepsionis. Salah satu diantaranya memandang kearah mereka bertiga. Entah siapa yang dilihat. Tidak cukup jelas karena hanya sebentar pria itu menengok.
"Kalian makan berdua saja, aku sudah makan siang." Ucapan Naruto yang terpotong oleh adegan tadi tidak jadi dilanjutkan, diganti dengan perintah Ino.
Sakura beserta Naruto hanya mengerutkan kening. Ada apa dengan anak ini? batin mereka bersama.
"Baiklah, kami makan siang di luar. Jaga meja baik-baik. Jangan sampai kau hancurkan."
Dua minggu bekerja bersama cukup membuat Sakura paham akan sifat rekan-rekan kerjanya, terlebih Ino. Kalau sudah seperti ini, Ino tidak bisa disentuh. Ia akan diam sampai moodnya kembali normal. Tidak akan lama menunggu moodnya kembali seperti sedia kala. Karena pada dasarnya, Ino bukanlah orang yang betah diam. Sakura hanya memberikan waktu pada Ino.
.
Lonceng berbunyi saat Naruto membuka pintu kafe. Mereka makan siang di kafe depan kantor karena tidak ingin menghabiskan banyak waktu dengan makan di tempat yang jauh. Terlebih, mereka meninggalkan seorang wanita yang sedang dalam keadaan 'gawat' sendirian.
Mereka memesan makanan sebelum mencari tempat duduk. Suasana kafe tidak terlalu ramai. Masih ada beberapa meja kosong yang tampak saat mereka masuk tadi.
"Yo!" sapa Naruto entah kepada siapa.
Sakura dibuat celingukan mencari orang yang disapa Naruto. Apakah mereka? Dua orang yang tadi keluar lift setelah Ino? Sakura sempat melihatnya.
Naruto mendekat kearah mereka. Sakura menolak saat Naruto manarik tangannya. Tapi Naruto tidak menggubris dan terus berjalan mendekati kedua pria tersebut.
Mereka duduk berhadapan di meja berkapasitas empat orang. Naruto duduk di samping pria berambut biru gelap yang tampak sedang makan. Jasnya dilepas dan disampirkan ke kursi duduknya. Sakura diminta duduk di samping pria berambut hitam dengan potongan sedikit lebih pendek dari pria di depannya. Ia tidak makan, hanya minum cappuchino.
"Kupikir kalian keluar meeting." Lagi-lagi Naruto-lah yang membuka percakapan.
"Jika kami meeting, kau tidak akan menemukan kami di sini dan kau juga akan bersama kami," ucap pria disamping Sakura.
Sakura masih diam. Bagaimanapun juga, rasanya canggung berada satu meja dengan tiga pria. Terlebih, ketiganya berparas diatas rata-rata. Meskipun untuk Naruto Sakura enggan mengakuinya.
"Aa, kau benar, Sai." Ooh, namanya Sai. Terima kasih Naruto, untuk infonya.
"Kekasihmu?" tanya Sai pada Naruto sambil menunjuk Sakura. Membuat semua orang di meja itu menatapnya. Terlebih Sakura, ada bumbu kaget di wajahnya.
"Aku? Dengan si Pinky ini? Yang benar saja, Sai. Meskipun dia lumayan, tapi bukan seleraku."
Perkataan Naruto sontak membuat Sakura geram? Apa tadi, Pinky? Bukan seleraku? Dipandangnya Naruto dengan sengit dan, DUG...
"Ukhuk!" Pria di samping Naruto terbatuk.
"Whoa, Teme tersedak. Pertanda apakah ini?" seru Naruto.
"Kau baik-baik saja Sasuke?" tanya Sai yang sesaat tadi cukup kaget.
Sakura masih loading. Tunggu, apakah? Astaga! Jangan-jangan aku salah tendang! Teriaknya dalam hati.
Benar. Yang Sakura tendang adalah kaki Sasuke. Salahkan Naruto yang duduk terlalu dekat dengannya, atau salahkan Sakura yang tidak tepat membidik sasaran.
Sasuke melirik Sakura. Tidak sulit baginya menemukan pelaku penendangan. Memangnya siapa lagi yang menggunakan sepatu dengan ujung runcing? Pria tidak memakainya, terlebih kebanyakan sepatu tersebut berhak diatas enam senti.
Sakura meringis sambil menangkupkan telapak tangannya, meminta maaf. Naruto dan Sai masih fokus pada sosok Sasuke.
"Hn," gumam Sasuke ambigu. Entah menanggapi pertanyaan temannya, atau merespon maaf Sakura.
Tak lama kemudian, pelayan datang membawakan pesanan Sakura dan Naruto. Selera makan Sakura berkurang dua puluh persen akibat tragedi 'tendangan' tadi. Sakura masih diam memandangi nasi gyuudonnya, sedangkan Naruto tengah semangat menyantap ramen jumbonya.
Sakura melirik Sasuke dengan ekor matanya. Pria tersebut sudah kembali melanjutkan makan dengan tenang. Kemudian Sakura berganti melirik Sai, pria itu juga sudah kembali diam. Ia tengah memandang ke luar kafe melalui dinding kaca. Bagus, saatnya makan.
"Oh iya, Sakura," ucap Naruto tepat sebelum Sakura memasukkan sepotong daging ke mulutnya.
"Hm?" ucapnya setengah setengah peduli dan memakan dagingnya.
"Kau sudah mengenal mereka? Aaa, lebih tepatnya kami?"
Dahi Sakura nmengerut, "Aku sudah mengenalmu, tapi...," Sakura ragu dengan sebutannya. Mereka itu siapa? Sepertinya Sakura baru sadar dengan siapa ia duduk. Kecanggungan melanda dirinya.
"Kalau begitu, perkenalkan, kami 3 M!" seru Naruto dengan semangat.
Sai mengalihkan tatapannya dari luar. Menatap Naruto dengan tanda tanya. Sai saja bingung, apa lagi Sakura. Apakah kantornya merangkap sebagai rumah produksi boyband? Dan Naruto salah satu anggotanya. Sakura tidak tahu, mana yang pekerjaan sampingan Naruto kalau begitu. Memang, tanpa diamati pun wajah mereka sangat keboybandan.
Dan Sakura ̶ yang masih dengan anggapan boybandnya ̶ menjadi lebih gugup dari sebelumnya. Yang benar saja, makan siang dengan boyband, tampan-tampan pula. Sekarang Sakura sudah sedikit mengakui ketampanan Naruto, sedikit.
"Bodoh," gumam Sasuke ditengah kegiatannya. Makan siangmu kali ini cukup banyak ujian ya, Sasuke.
"Kenapa kau mengataiku bodoh?" Naruto tidak terima dengan ejekan Sasuke.
"Dengar, Sakura, jangan pedulikan si Teme ini. Memangnya apa yang salah dengan 3 M? Kita memang seorang M," lanjut Naruto.
Ok, di sini ada satu orang yang semakin bingung dan ada dua orang yang semakin membodohkan Naruto. Sai sudah mengubah tanda tanyanya menjadi pembodohan kepada Naruto.
"Apa maksudnya, Naruto?" Sakura mencoba meringankan rasa bingungnya.
"Iya, 3 M, Manager," ucap Naruto sok cool. "Sai, manager umum. Sasuke, manager personalia. Dan Naruto, manager pemasaran." Entah mengapa, Sakura merasa seperti ada di dalam kelas saat siswa memperkenalkan diri untuk presentasi.
Bagus. Manager, manager, manager, dan aku, resepsionis. Batin Sakura dengan wajah datar. Makan siang bersama orang- orang dengan jabatan yang berbanding jauh dengannya membuat napsu makannya kembali hilang sebanyak dua puluh persen.
"Oh, salam kenal." Hanya itu yang mampu dan ingin diucapkan Sakura. Lagi pula mau bicara apa lagi?
"Sakura adalah resepsionis baru, dua minggu. Kalian belum pernah bertemu, kan?"
Kenapa juga harus di kenalkan? Sakura membatin.
"Sudah. Aku bertemu dengannya saat interview," ucap Sasuke sembari menutup sendok dan garpunya.
Benarkah? Aku tidak ingat. Kembali, Sakura hanya dapat membatin.
Sakura benar-benar tidak ingat. Mungkin karena saat itu, dia sedang kegirangan. Sehingga lupa ada malaikat tampan didepannya.
"Benarkah? Aku yakin, jika ada kontes 'Kantor Dengan Resepsionis Tercantik', kantor kita akan menang. Kita punya dua, Man. Satu Sai yang membawa, dan satu lagi Teme yang membawa. Ah, sepertinya aku juga akan mencari. Tapi, nama kontesnya diganti 'Kantor Dengan Resepsionis Tercantik Beserta Pembawanya Yang Tampan. "
Mendadak kepala Sakura pening, mendengar khayalan, atau ide, atau orasi gila Naruto. Bukan hanya Sakura, kedua pria kelam itu juga ikut mengernyitkan dahi. Hanya sekilas. Setelahnya, suasana kembali hening.
Tanpa disadari, hanya Sakura yang belum menyelesaikan makan siangnya. Naruto sudah selesai dan kini tengah bermain ponsel. Mungkin ia sedang mencari calon resepsionisnya di internet. Sai sudah kembali dengan dinding kacanya. Dan Sasuke,
DEG
Sakura cepat-cepat kembali memandang nasi gyuudonnya. Kenapa Sasuke memandangnya? Napsu makannya kembali berkurang empat puluh persen. Lebih besar dari sebelumnya. Memangnya, siapa yang nyaman dipandangi seperti itu? Benar-benar mempengaruhi napsu makannya.
Dengan setengah hati Sakura kembali memakan menunya. Tentu saja dengan kadar napsu makan yang tinggal dua puluh persen. Sangat tidak nikmat, apalagi dengan tatapan itu.
.
.
Tbc
~oOo~
.
.
AN:
Chapter 2 reupload. Tadi udah di publish, tapi karena kesalahan jaringan terus jadi bermasalah.
Alurnya lambat banget ya? Mau bagaimana lagi, aku begini adanya. Oh iya, kemarin lupa kasih keterangan 'Tbc'...
Terima kasih kuucapkan pada reader and reviewer yang berkunjung ke cerita ini.
losthiefxxd = Makasih banyak udah RnR ya. Syukurlah kalo enak dibacanya. Aku bales disini, karena akun losthief-san nggak bisa diPM.
Ok, sampai ketemu chap berikutnya!
~jaa
Asrofa-chan05/05/17 Tang
