"Kau bisa bekerja dengan benar, tidak? Mau kupecat?"
Ya, itu Park Jimin ketika menjadi CEO sebuah perusahaan besar di Korea Selatan. Ia melonggarkan dasinya, kesal luar biasa ketika 'anak buah'-nya tidak becus dalam mengerjakan sesuatu.
"Ma—maaf, sajangnim. Aku janji akan bekerja dengan lebih baik lagi," ujar si pegawai takut-takut.
Yah, sebenarnya Jimin hanya gertak sambal. Toh, dia bukan CEO yang sesungguhnya. Ia sedang bermain peran. Entah sejak kapan hal ini terjadi, namun ia bisa saja bangun menjadi seorang CEO, pengantar makanan, penerjemah bahasa Jepang (hei, dia bahkan hanya bisa mengatakan 'itadakimasu' karena sering mendengarnya dari pengunjung restoran Jepang) dan hal-hal yang ia sendiri tidak kuasai, namun semua itu seakan datang mendadak kepadanya dan tetiba ia sudah bekerja layaknya seorang profesional. Ia sendiri pun tidak paham mengapa semua ini terjadi pada dirinya.
Yang ia tahu, ketika Yoongi membutuhkannya, jari kelingkingnya akan sakit, dan benang merah itu akan tampak di matanya. Lalu, dirinya akan kembali menjadi Park Jimin sahabat Min Yoongi.
Sialnya, Yoongi seringkali membutuhkannya untuk hal-hal yang terhitung sepele. Contohnya, ketika Jimin sedang meraup kebanggaan ketika ia hampir memenangkan olimpiade catur internasional. Ketika Jimin kembali, tebak apa yang dikatakan Yoongi?
"Beruntung kau datang, aku kesulitan membuka botol soda ini," ujar Yoongi cuek sambil melemparkan botol soda.
Atau…
"Yak, Park Jimin! Kau belum mengembalikan headphone milikku!"
…ketika Jimin hampir melakukan one night stand dengan seorang bule super cantik asal Rusia.
Ingatan Jimin itu tidak lemah, ia ingat betul bahwa dirinya menghilang sudah berhari-hari, dan Yoongi hanya membutuhkannya untuk saat-saat sepele. Yang benar saja, batinnya. Ia benci diperlakukan seperti ini oleh Yoongi. Jimin tidak menampik bahwa ia tertarik pada sahabatnya, tetapi takdir aneh ini malah membuatnya sadar bahwa sahabatnya mungkin tidak menganggapnya lebih dari seorang kawan di kala susah. Buktinya, Yoongi tidak mencarinya, tidak curiga ketika ia menghilang. Barangkali ia menganggap Jimin sedang penat dan bolos untuk liburan ke Hongkong.
Ketika ia memastikan perasaan sahabatnya, pembaca ingat apa katanya?
"Jangan dengar gosip murahan seperti itu. Kita ini sahabat, aku menyukaimu? Cih, dalam mimpimu saja, Park Jimin."
Mungkin itu terdengar seperti candaan, tapi serius deh, hati Jimin bagaikan di-harakiri oleh samurai tertajam di muka bumi. Namun ia tetap tersenyum, berusaha menjadi aktor terbaik dalam panggung sandiwara yang dibuatnya sendiri.
Lama-lama menjadi bukit, itu istilah yang cocok untuk kekesalan seorang Park Jimin. Geram juga ia melihat sahabatnya tak acuh, setidaknya ia ingin memastikan semburat di pipi pucat nan gembil sahabatnya itu nyata, bukan ilusinya semata.
Maka Jimin menciumnya. Tepat di bibir.
Dan reaksinya? Cocok dengan harapan Jimin.
Jimin puas. Jimin senang. Alam raya mengumandangkan lagu bahagia.
Tapi bukan Park Jimin namanya kalau tidak usil. Ia memutuskan untuk pergi sejenak, jadi apa saja—gambler, chef, tukang reparasi sepeda dan sebagainya.
Walaupun usilnya sekarang agak keterlaluan, meninggalkan Yoongi selama tiga bulan. Ia tidak pernah menghilang dari hadapan si pucat selama itu, hanya ingin melihat apakah Yoongi benar-benar membutuhkannya atau itu semua hanya khayalannya belaka. Ia mencoba mengabaikan semua sakit di kelingkingnya yang seringkali datang, menandakan bahwa Yoongi sangat amat membutuhkannya.
Namun hari itu berbeda. Ikatan benang merah di kelingkingnya kuat sekali mencengkeram, sehingga ia merasakan sakit yang berbeda.
Jantungnya berdentum kuat, curiga akan ada sesuatu yang terjadi pada dambaan hatinya. Benar saja, ketika ia kembali menjadi Park Jimin, sahabat kecil Yoongi, pujaannya itu hampir menjatuhkan diri dari gedung tinggi.
Jimin berjanji tak akan meninggalkannya lagi.
Dan peran-perannya pun lenyap begitu saja, seiring dengan Yoongi yang menerima dirinya.
—Loveless—
"Jimin."
"Hm."
"Kau pernah menjadi apa saja selama ini?"
Jimin berpikir sejenak sambil mengusap puncak kepala Yoongi yang sedang bersandar manja di bahu kokohnya. Keduanya duduk di tempat tidur milik Yoongi sambil bersandar ke headbed.
"Apa saja. Tukang judi, tukang reparasi sepeda, kadang jadi penerjemah bahasa, sales mobil."
"Pernah bertemu wanita cantik?"
"Sering," jawab Jimin dengan nada datar.
"Lalu kau tergoda?"
"Ada wanita Rusia yang sangat cantik. Aku sudah berada di kamar hotel bersamanya. Bodinya, ampun, aduhai luar biasa. Sayang sekali, 'panggilanmu' merusak semuanya," Jimin berkata seolah mencibir Yoongi.
Si mungil langsung bangkit dari posisinya, memandang sinis kepada Jimin dan pergi keluar kamar dengan langkah berdebum-debum. Jimin terbahak, ia selalu senang jika berhasil menggoda seorang Yoongi yang datar dan dingin seperti kulkas.
Cepat-cepat Jimin turun dari tempat tidur dan mengejar Yoongi. Ia lalu memeluk Yoongi dari belakang, menyamankan wajahnya di bahu Yoongi dan membuat pipi mereka beradu. Yoongi tersipu, kesal karena Jimin selalu memperlakukannya begini ketika ia marah. Meskipun dalam hati ia senang juga, sih. Tak bisa dipungkiri, ia jadi hobi marah-marah karena Jimin selalu punya cara untuk merayunya habis-habisan agar ia kembali melunak. Dasar Yoongi, ia seringkali memperpanjang masa marahnya, demi menikmati aegyo Jimin yang jarang ia dapatkan ketika Jimin sedang dalam mood yang biasa saja.
"Yoongi sayang, jangan marah ya…"
"Diam, kau bau matahari."
"Kan aku matahari untukmu, yang menyinari hari-harimu yang dingin seperti musim salju."
"Ck, mulutmu itu berbisa sekali."
Yoongi membalikkan tubuhnya dan mengecup singkat bibir Jimin yang tebal dan menggoda. Si tsundere rupanya tak bisa marah lama-lama kali ini. Ia langsung berlari ke kamar dan mengunci dirinya, meninggalkan Jimin yang wajahnya memerah hebat dan terpaku di tempat sambil mengelus bibirnya yang barusan bertabrakan dengan milik Yoongi.
Huh, pasangan payah…
END
.
.
.
Ini sequel dari Loveless, maaf aku gak bisa buat berchapter karena aku lagi kehabisan ide cerita untuk ff berchapter dan aku sibuk juga akhir-akhir ini. Aku udah menduga pasti banyak readernim yang enggak ngerti sama cerita ini karena percayalah… aku juga gak ngerti HAHAHA! Aku bikin ff ini buat ngisi waktu luang dan emang plot ceritanya gak aku buat matang-matang, mengalir aja gituu. Sebenernya sih iseng-iseng, eh malah banyak yg appreciate, aku terharu. Semoga ff ini berkenan yaaa.
NerdGirl69: iya, kurang lebih seperti itu hehehe.. kalo berchapter, mungkin nanti ada yg gini lagi ya, tapi bukan ff ini, karena emang tujuan awalnya cuma oneshot. Terima kasih udah mampir! / sugantea: OOOM! Hahaha aku emang udah mulai jahad skrg kekekekee. Makasih om udah ngajarin bikin hurt :3 / naranari II: hehehe ini udah ada sequelnya yaa, dan terima kasih sudah mampir, I love ur fanfics! / : nyahahaha jiminkung dong (sodaranya jelangkung) terimakasih sudah mampir! / sugarrrku007: iya mungkin ini adiknya goblin, namanya goblag wkwkwkwk terimakasih sudah mampir! / OrangeMint: hohoho ini udah ada sequelnya yhaa silakan dinikmati, terima kasih sudah mampiiir!
Fav and review please :3
