Title : Perfect Memory

Genre : Misteri, crime, family

Cast :

Cho Kyuhyun

Cho Hyunji

Lee Donghae

Choi Siwon

Kim Heechul

Kim Kibum (Cho Kibum)

Lee Sungmin

Other cast : find by yourself

Summary : Cho Kyuhyun harus mengungkap misteri keluarga Kim, ia dibantu oleh kepala polisi Lee Donghae, dkk... Bagaimana upaya Detektif Cho mengungkapnya? Si antagonis nampaknya ingin membabat habis keturunan 'Kim' yang sebenarnya... Manipulasi masa lalu yang begitu rapi, sukses membuat semuanya kebingungan.

By : Krystalaster27 with ckhevl9806 (Ara)

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Krystalaster27

Kantor kepolisian pusat 'Seoul - Korea Selatan'.

Suasana kantor polisi bagian depan tampak ramai kali ini. Beberapa anggota polisi muda hilir mudik membawa berkas-berkas penting. Sibuk, satu kata yang mampu mendeskripsikan semuanya.

Berbeda dengan ruangan pribadi milik detektif Cho Kyuhyun yang damai. Si pemilik ruangan tampak tengah bermain kartu dengan kepala polisi Lee Donghae. Di sudut ruangan, kepala penyidik Kim Youngwoon dan kepala tim forensik Im Yoona sedang berbincang membahas sebuah kasus baru.

Sejak awal detektif Cho bergabung di kantor kepolisian Seoul, semuanya sepakat berpendapat bahwa ruangan 'detektif Cho' adalah tempat paling nyaman yang layak dijadikan markas para ketua maupun kepala anggota.

Tok

Tok

Tok

Ketukan pintu berhasil menarik perhatian keempat penghuni ruangan. Detektif Cho berjalan menuju kursinya, menekan microfon kecil yang tersambung pada intercom di dekat pintu.

"Masuk!" Perintahnya tanpa melihat siapa yang datang.

Cklek

Pintu terbuka, memperlihatkan seorang gadis dengan pakaian serba hitam dan rambut berwarna coklat bergelombang yang menjuntai.

Deg

Jantung detektif Cho berdegup kencang. Menatap lekat gadis itu dengan tatapan tajamnya.

Tap

Tap

Tap

Ketukan high hells itu terdengar seperti irama malaikat maut. Menggema dalam telinga keempat penghuni ruangan. Bahkan kepala polisi Lee lupa bagaimana caranya untuk mengatupkan bibir, matanya juga tidak berkedip karena terpana.

'Petaka! Ini petaka!' Hati detektif Cho sibuk berteriak ketika melihat sebuah lencana khusus untuk detektif kepolisian yang tersemat di atas saku baju gadis itu. Kemungkinan terburuk, ia akan didepak dari kursi detektif kepolisian.

Membungkuk sembilan puluh derajat. "Annyeonghaseyo. Nan Cho Hyunji imnida." Gadis itu cantik. Bulu matanya lentik, bibirnya berwarna merah merekah, dagunya lancip, dan irish matanya berwarna sebiru samudra.

Dahi kepala penyidik Kim berkerut, alisnya terangkat sebelah ketika mendengar nama gadis itu. "Hyunji?" Nama yang asing, ia tidak pernah mendengar nama 'Hyunji' terselip dalam data petugas dan sebagainya.

"Yakkk... CHO HYUNJI, kenapa kau ada di sini?" Teriakan spontan itu membuat kepala polisi Lee, kepala penyidik Kim, serta kepala tim forensik Im terkejut bukan main. Serempak ketiganya menatap horor ke arah detektif Cho.

"Detektif Cho mengenalinya?" Tanya kepala polisi Lee penasaran.

Bahu detektif Cho merosot, bibirnya mencebik lalu berkata. "Aku saudaranya." Menjawab dengan enggan.

"Waw! Kyuhyun-ah, knapa kau tidak pernah bilang jika punya saudara secantik ini?" Kepala tim forensik Im berseru takjub.

Gadis bernama Cho Hyunji itu memang mengagumkan dengan pesonanya yang sangat memikat. Tubuh proporsional, kulit putih pucat, dan selera fashion yang bagus. Tipikal umum gadis dari kalangan keluarga chaebol.

"Apa maumu?" Detektif Cho mendekat, mencengkram kerah kemeja gadis bernama 'Cho Hyuji'.

Tangan gadis itu menepis pelan cengkraman detektif Cho, bibirnya bergerak dengan santai. "Jangan sepanik itu Kyu," jemarinya mendorong bahu detektif Cho. "Aku sudah mendapatkan ijin dari appa untuk menjadi detektif juga di sini." Lanjutnya dengan senyuman lebar yang menggambarkan kemenangan.

"Dasar penjilat." Cibir Kyuhyun. Sungguh, sekalipun ia tak habis pikir jika Hyunji akan menjadi detektif juga di kantor kepolisian Seoul.

"Ahhh, aku terkesan." Respon Hyunji dengan menutup mulutnya. Matanya mengerling, tersenyum menang sekali lagi.

Kyuhyun melangkah mundur, tangannya bersedekap di depan dada. Mempersilahkan adiknya untuk melakukan apa yang diinginkannya.

"Perhatian semuanya!" Intrupsi itu bukan dari detektif Cho, melainkan dari gadis bernama 'Cho Hyunji' yang kini berdiri tegap layaknya pasukan militer. Manik mata Hyunji memastikan keempat penghuni ruangan sudah mengfokuskan pandangan padanya.

"Aku adalah saudara Cho Kyuhyun, putri tunggal dari disainer Cho Haera dan Perdana Menteri Cho Jaesuk. Mulai hari ini, aku akan bekerja sebagai detektif di sini." Perkenalan singkat itu membuat Cho Kyuhyun mengacak rambutnya.

"MWOYA! PERDANA MENTERI!" Teriakan dengan oktaf tertinggi itu sudah jelas berasal dari tiga orang selain Kyuhyun dan Hyunji.

Berakhir sudah. Detektif Cho Kyuhyun selama ini berusaha keras menutupi identitas keluarganya. Dalam sekejap mata, Cho Hyunji menghancurkan segalanya. Bisa dipastikan jika besok akan muncul berita besar berjudul 'Detektif Cho Kyuhyun ternyata adalah putra Perdana Menteri Cho Jaesuk.'

.

.

.

.

.

Tiga jam kemudian...

Kedatangan Cho Hyunji di kantor kepolisian Seoul, langsung menjadi buah bibir yang menggemparkan. Ditambah lagi sebuah fakta jika Cho Kyuhyun dan Cho Hyunji adalah anak angkat Perdana Menteri yang selama ini disembunyikan keberadaannya dari publik. Segala upaya dilakukan untuk mencegah berita tersebut tersebar keluar kantor kepolisian.

"Ada berkas baru." Kepala polisi Lee meletakkan sebuah kardus di tengah meja.

Death photografer 'Lee Sungmin' mendekat, merasa penasaran dengan isi kardus. "Dari mana?" Tanyanya tidak sabar.

"Kantor kepolisian Gangnam." Kepala polisi Lee membuka perekat kardus, mengeluarkan isinya satu persatu.

Detektif Cho mendekat, dibelakangnya ada 'Cho Hyunji' yang mengekor. "Gangnam? Tidak biasanya kepolisian daerah menyerahkan berkas pada kepolisian pusat. Memangnya kasus apa?"

"Pembunuhan berantai." Jawab kepala polisi Lee. Ia menata semua berkas di atas meja, mengurutkan catatan hasil penyelidikan sesuai tanggal yang tertera pada masing-masing dokumen.

"Waw!" Jaksa Park berseru takjub. Belum pernah ia menangani kasus 'pembunuhan berantai'. Pasti menyenangkan andai ia berhasil memojokkan pelaku dengan tuntutan pidana seumur hidup atau vonis hukuman mati.

Kepala penyidik Kim meraih sebuah dokumen. "Coba kulihat!" Netranya menjelajahi deretan tulisan yang sudah tercetak rapi.

"Berkas 258." Suara detektif Cho terdengar. Ia juga ikut mengambil dokumen yang lainnya.

"258? Kau serius?" Hyunji menggeser bahu Kyuhyun. Merampas dokumen yang dibawa Kyuhyun, matanya berbinar layaknya anak kecil yang mendapatkan hadiah.

"Aku serius." Wajah detektif Cho terlihat kesal.

Kepala tim forensik Im memeriksa data hasil visum. "Ini dokumen lama, 20 tahun yang lalu." Dahinya mengeryit saat melihat uraian hasil otopsi.

"Kenapa kasus lama dibuka lagi?" Pertanyaan yang dilontarkan oleh detektif Cho kali ini menyadarkan mereka semua akan sesuatu yang tidak wajar.

Cho Hyunji mengendikkan bahu, manik matanya masih sibuk menjelajahi catatan yang tercetak di dokumen. "Mungkin saja ada yang belum terungkap." Ucapnya santai.

"Siapa yang menyuruh agar kasus ini dibuka lagi?" Kali ini, jaksa Park yang bertanya.

Kepala polisi Lee menunjukkan sebuah surat dari pengadilan. "Hakim Choi Siwon." Meletakkan surat tersebut ke atas meja agar yang lain melihatnya.

"Ah, pantas saja. Hakim Choi selalu membuat sensasi tersendiri di dunia hukum. Banyak sekali kasus terbengkalai di masa lalu yang dibongkarnya kembali." Kepala penyidik Kim beralih mengambil kumpulan album foto. Beberapa foto terlihat kurang jelas karena termakan usia.

"Ah, aku tidak menyangka jika Siwon oppa mengirimkan berkas sebanyak ini padaku." Kalimat yang aneh terdengar. Sontak saja lima pasang mata menatap si detektif baru. Di kepala mereka muncul banyak pertanyaan.

"Oppa? Yakkk, Cho Hyunji! Sejak kapan kau mengenal hakim Choi Siwon?" Detektif Cho berteriak. Tangannya menguncang bahu si detektif baru yang notabene adalah saudaranya dengan cukup keras.

Plakk!

Tepisan kasar itu terdengar. Jaksa Park meringis membayangkan rasa nyeri yang dirasakan oleh detektif Cho di tangannya.

Mendengus, si detektif baru meletakkan dokumen yang dibawanya kembali ke atas meja. Sepasang manik birunya menghunus lurus pada sepasang onix berwarna coklat caramel. "Minggu lalu, kami bertemu di depan kantor pengadilan. Dia sangat baik dengan mengabulkan permintaanku untuk mencarikan kasus lama yang belum terbongkar."

"Cho Hyunji, kau memanggil orang asing dengan sebutan semanis itu. Aku yang merupakan saudaramu tidak pernah kau panggil dengan sebutan 'oppa'. Rupanya kau juga sudah merencanakan sebelumnya untuk masuk ke dunia detektif." Tangan detektif Cho bersedekap. Menunjukkan ketidak sukaannya secara terang-terangan.

"Kau terlalu mendramatisir Cho. Ingatlah! Ketika balita, akulah yang menjadi kakakmu." Cibir si detektif baru sambil memutar bola mata.

"Ekhem!" Deheman dari kepala penyidik Kim, membuat keduanya saling memalingkan wajah.

Menghela nafas, kepala polisi Lee mulai membacakan identitas kasus. Ia tak ingin ambil pusing dengan sikap dua saudara yang sedang berargument. "Pembunuhan berantai keluarga chaebol Kim. Korban pertama, seorang wanita bernama Youngji. Ibu dari 3 anak, istri dari jendral Kim Jonghwa."

"Ini kasus yang sangat menarik." Jaksa Park mengemukakan tanggapannya. Jarang sekali ada kasus pembunuhan yang melibatkan jendral sebagai korban. Bisa dipastikan jika tersangka bukanlah orang biasa karena mampu meloloskan diri dari incaran polisi.

"Kepala polisi Lee. Siapa kepala polisi Gangnam 20 tahun lalu?" Detektif Cho menanyakan tentang kepala polisi yang menangani kasus tersebut.

"Mr —"

.

.

.

.

.

Flash back

Semburat kemerahan menghiasi langit, warna yang selalu menyapa sebelum mentari tenggelam untuk berpindah tempat. Ya, mentari begitu adil untuk menerangi alam semesta dengan cahayanya yang terang.

Sebuah mansion megah dengan arsitektur klasik bernuansa eropa berdiri kokoh. Seorang ibu rumah tangga nampak bersantai sembari menyandarkan punggungnya di sofa. Obsidiannya terfokus pada tiga anak yang tengah bermain.

'Apakah Hyun kita sehat?' Pertanyaan itu akhirnya terlontar juga. Suara bariton seorang pria dari seberang telepon membuat wanita muda tersebut tersenyum.

Memindahkan posisi ponselnya, wanita muda itu menjawab pertanyaan suaminya dengan santai. "Tentu, aku merawat anak kita dengan baik."

'Syukurlah.'

Jeda sejenak, keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Ini adalah kesekian kalinya mereka berdua terpisah oleh jarak yang begitu jauh.

"Kapan kau pulang?" Wanita itu berjalan menghampiri anak bungsunya, mengulurkan sebuah boneka beruang coklat yang tadi dilemparkan oleh si sulung karena si bungsu menganggu kegiatannya menyusun puzzle.

'Aku tidak tau... Posisi sebagai jendral menyulitkanku untuk pulang.' Terselip keraguan yang jelas. Ia memang menjabat sebagai jendral dan menjadi anggota militer yang cukup berpengaruh di Korea Selatan.

"Gwenchana. Tidak perlu memaksakan diri." Meskipun si wanita mengatakannya, tak dapat dipungkiri jika mimik wajahnya berubah murung.

Pergulatan batin menyerang keduanya, menjadikan mereka terkepung dalam perasaan bersalah yang begitu mendalam. 'Young-ah, apakah keadaan rumah baik-baik saja?' Sang jendral bertanya pada istrinya. Memastikan semuanya baik-baik saja selama kurun waktu ia meninggalkan keluarga kecilnya.

"Eum, memangnya kenapa?" Guratan halus di dahi terbentuk saat si wanita menautkan alisnya.

Helaan nafas terdengar beberapa kali sebelum sang jendral merespon pertanyaan istrinya. 'Dia kembali. Kemarin aku bertemu dengannya.' Fakta yang sedari tadi mengusik pikiran sang jendral akhirnya terungkap juga.

"Mwo? Ke-kenapa kau tidak mengatakannya padaku?" Sedikit tersendat, nafas wanita itu tercekat. Tangannya menggenggam erat ponsel hingga buku jarinya memutih.

'Young-ah, dia mengincar salah satu dari mereka.'

Terbelalak, wanita itu terduduk lemas di lantai, mengindahkan seorang balita mungil yang menarik-narik ujung bajunya untuk mendapatkan perhatian. "Siapa? Siapa yang diincarnya?"

'Dugaanku, ia mengincar si sulung atau mungkin Hyun kita.'

Deg

Semuanya seolah terhenti. Wanita yang dipanggil dengan sebutan 'Young' membeku dengan pandangan mata yang kosong layaknya raga tak berjiwa. Kesadarannya tersedot paksa begitu mendengar dua prediksi yang paling mengerikan.

Tes

Tes

Tes

Liquid bening meluncur, Young menangis dalam diam. Hatinya begitu dilema karena terpenuhi perasaan takut dan gelisah yang mendalam.

"A-apa yang harus ku lakukan? Hyun masih terlalu kecil untuk memahami semuanya."

'Tenanglah! Aku akan menyewa beberapa bodyguard untuk menjaga dirimu dan anak-anak. Young-ah, nanti aku akan menelfon lagi. Sekarang aku harus pergi ke markas untuk menemui komandan.'

Percakapan antara jendral dan istrinya berakhir. Menyisakan guncangan-guncangan batin yang kini menyerang mereka.

'Hyun' si bungsu yang baru saja bisa berjalan hanya menatap bingung wajah ibunya yang menangis. Tak jauh dari sana, si sulung memegang erat PSP yang dimainkannya. Si sulung yang sudah berusia 7 tahun tentunya mengerti apa yang diucapkan ibunya, hanya saja ia tidak memiliki keberanian untuk menanyakan kebenarannya. Hal yang mungkin saja disesalinya kemudian hari.

Flash back off

.

.

.

.

.

Siang hari yang begitu sibuk. Tak ada kata 'sepi' di kantor polisi, itu adalah hal yang sudah diketahui semua orang. Berkas kriminal baru bertambah setiap jam, belum lagi dengan surat gugatan, dan surat dari pengadilan.

"Jadi ini kegiatan detektif Cho? Menarik sekali." Sebuah suara yang muncul secara tiba-tiba memecah keheningan di ruang kedap suara detektif Cho.

Detektif Cho melirik, mendengus keras lalu melanjutkan aktifitasnya lagi. "Dasar penjilat, sana pergi!" Usirnya dengan sarkastik untuk mengusir pendatang yang tak dianggap.

Mengindahkan ucapan Kyuhyun. Hyunji malah mendekat lalu duduk di samping saudaranya, jari lentiknya menusuk-nusuk pipi Kyuhyun. "Euy... Jangan keterlaluan. Aku ini saudaramu. Kita ini kembar."

Plakk

Tidak terima disentuh. Kyuhyun menampik jari Hyunji yang menusuki pipinya. "Kembar? Lebih baik aku mati daripada memiliki kembaran sepertimu. Kembar hanya istilah konyol sebagai upaya untuk mengelabui banyak pihak yang memuakkan bagiku." Terkadang Kyuhyun merasa jengah dengan sikap Hyunji yang berubah-ubah. Hyunji begitu menyebalkan, tidak mau mengalah dan bersikap menurut padanya.

Bodoh, entah sengaja atau tidak. Tapi Hyunji berhasil membuat pipi Kyuhyun sedikit lecet karena tusukan jarinya yang sudah pasti berkuku panjang. Oh, gadis belia memang gemar memelihara kuku hingga nyaris menyamai kuku singa.

"Cho Kyuhyun dan Cho Hyunji. Ahh, appa sungguh hebat memberikan nama pada kita berdua," Hyunji merebut PSP yang dimainkan oleh Kyuhyun. "Andai kita bisa merubah marga juga." Lanjutnya dengan bibir yang tersenyum simpul.

"Margamu akan berubah setelah kau menikah." Tanggap Kyuhyun. Matanya mengawasi jari Hyunji yang bergerak menekan-nekan PSP dengan brutal. Miris sekali benda persegi itu, Hyunji tidak pernah lembut saat menyentuh barang.

"Konyol sekali, maksudku adalah marga yang berubah seperti marga orangtua kita." Terang Hyunji menyanggah. Maniknya masih fokus pada monster-monster mungil yang harus dikalahkannya.

"Silahkan berfantasy. Ahhhh, tiba-tiba aku merindukan eomma." Memutar bola mata, Kyuhyun melipat tangannya sebagai bantal ketika ia memutuskan untuk menyandarkan kepala pada punggung sofa. Netranya menerawang ke arah langit-langit, membiarkan perasaan rindunya menguap.

"Eomma sedang sibuk dengan pergelaran busana di Italy." Gadis bermata biru mengangkat kakinya, duduk bersila lalu ikut menumpukan punggung ke sofa.

Mengangguk kecil. Kyuhyun memiringkan kepalanya, memincingkan mata melihat Hyunji yang masih betah memainkan PSPnya. "Aku tau itu. Ngomong-ngomong, kau tinggal di mana?" Tidak ada salahnya untuk memastikan. Barangkali Hyunji membeli rumah atau menyewa apartemen mewah di dekat kantor polisi, mengingat rumah keluarga mereka yang lumayan jauh.

"Apartment nomor 33 lantai 3 yang berada di dekat tikungan jalan sebelah barat supermarket." Jemari lentik Hyunji menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga.

Mengangguk-anggukkan kepala. Kyuhyun teramat sangat mengenal lokasi itu. Apartment di sebelah barat supermarket adalah apartemen tempat tinggalnya juga. "Ohh..."

Deg

Mata Kyuhyun terbelalak bersamaan dengan punggungnya yang menegak. "YAKKK, ITU APARTMENTKU!" Teriaknya dengan histeris. Baru menyadari jikalau nomor apartment yang dimaksudkan adalah miliknya.

Hyunji merasa kesal, telinganya berdengung karena teriakan Kyuhyun yang sangat keras. "Memangnya kenapa? Apartmentmu sangat besar, jadi kita bisa menghemat uang dengan tinggal bersama."

Takk!

Tangannya menyentak kasar PSP milik Kyuhyun ke atas meja. Tidak perduli jika kekerasannya bisa saja meretakkan layar benda persegi tersebut.

"Tidak boleh!" Kyuhyun menggelengkan kepala, rahangnya mengeras karena marah.

Mengerucutkan bibir, Hyunji menangkupkan tangan sambil menunjukkan wajah memelasnya. "Aku akan memasak." Merayu sang kakak agar mengijinkannya tinggal di apartment.

"Tidak. Sekali tidak, tetap tidak!" Menggeleng dengan tegas, tatapan mata Kyuhyun semakin berkilat tidak suka. Mengijinkan Hyunji tinggal bersama adalah ide terburuk di dunia.

"Mencuci serta menyetrika bajumu." Hyunji mencoba menambah tawarannya.

Menggeleng. "Tidak." Kyuhyun menggerakkan telunjuknya ke kanan dan ke kiri, tepat di depan wajah Hyunji.

Kini Hyunji mulai gelisah. Tadi pagi ia sudah menguras tabungannya untuk membayar tagihan. "Menjadi sopirmu." Uangnya sangat menipis dan ia tidak mungkin meminta pada orangtuanya.

"Tidak." Kyuhyun masih mempertahankan pendiriannya. Meskipun jujur saja jika ia suka kalau Hyunji menjadi sopirnya. Kemampuan mengemudi gadis bermata biru itu terlampau baik, nyaris setara dengan pembalap internasional.

Merasa tidak ada pilihan, Hyunji mengucapkan penawaran paling tidak logis yang pernah dipikirkannya. "Ahhh, baiklah. Aku juga akan membersihkan apartmentmu."

"Baiklah." Tersenyum lebar. Kyuhyun akhirnya bisa membuat Hyunji menjadi petugas kebersihan secara tidak langsung.

"Cihhh..." Mendecih kesal. Hyunji hanya mampu menggerutu dalam hati. Keputusan yang sangat buruk baginya yang alergi debu namun malah membuat kesepakatan untuk menjadi tukang kebersihan. Oh, sial sekali.

Tangan kanan Kyuhyun terangkat, menepuk-nepuk kepala adiknya. "Detektif Cho Hyunji, kembalilah ke ruangan anda." Senyuman geli masih ditunjukannya. Rasanya sungguh luar biasa karena bisa membuat Hyunji kesal setengah mati.

Hyunji menyingkirkan tangan Kyuhyun dari kepalanya. "Aku pasti akan pergi saat hatiku mau." Ia memakai sepatunya lalu berdiri.

Mengingat sesuatu, Hyunji yang nyaris menarik ganggang pintu akhirnya memutar tumit untuk berbalik menatap Kyuhyun. "Ahhh, panggil aku detektif Hyun saja. Semuanya memanggilku begitu, aku hanya tidak ingin kita kebingungan karena memiliki panggilan yang sama denganmu."

Alasan yang cukup logis. Mereka berdua memiliki marga yang sama, umur yang sama, juga bakat yang serupa. Bedanya, Cho Kyuhyun kembali ke Korea Selatan satu tahun lebih awal daripada Cho Hyunji. Posisi Hyunji di Amerika, menyulitkannya untuk segera kembali ke tanah kelahiran.

.

.

.

.

.

Pagi buta dengan berkas menumpuk di atas meja juga dua cangkir kopi yang masih menghasilkan uap. Detektif Cho ditemani seorang tamu yang dijumpainya, kini sudah menenggelamkan pikiran untuk menyelami berkas 258.

"Kyu, dimana bantalku?" Sebuah suara membuyarkan konsentrasi keduanya.

Sang tamu terkekeh kecil, matanya mengerling jenaka. "Wah, wah, wah, detektif Cho sudah berani membawa kekasih ke apartment eoh?... Suara gadis yang mengalun merdu di pagi buta hanya untuk menanyakan 'bantal'. Menarik sekali. Ckckck." Berdecak kagum dan sedikit memicingkan mata.

Mendengus kesal. Kyuhyun tidak mengangkat pandangannya sama sekali dari lembaran kertas yang dibacanya. "Kekasih? Dia saudaraku."

"Uhuk, uhuk." Tersedak. Si tamu menatap detektif Cho dengan tidak percaya seolah ia mendengar berita jika ada pinguin yang melahirkan. "Sa-saudara? Kau tidak pernah memberitahu jika punya saudara perempuan."

"Kyu, dimana shampoku?" Suara itu terdengar sekali lagi.

Si tamu mengendikkan dagu ke arah pintu kaca geser. "Dia memanggil, sebaiknya kau mendatanginya." Menyarankan agar detektif Cho segera menghampiri saudara perempuannya.

"Biarkan saja, kakinya masih cukup sehat untuk menghampiriku." Tanggap Kyuhyun dengan cuek. Ia sedang tidak berniat untuk meladeni Hyunji yang selalu menghebohkan di pagi hari.

Greet

Pintu kaca bergeser, Hyunji berjalan dengan cepat menghampiri Kyuhyun. "Kyu, kau menyembunyikan kaos bergambar tengkorak milikku di ma —" Perkataan Hyunji terputus tatkala ia menyadari bahwa ada seorang namja asing yang duduk di sofa ruang tamu. "Ekhem, rupanya ada yang bertamu." Lanjutnya dengan sedikit gugup.

"Bantal ada di kamarku, shampo tergeletak di dekat washtafel dapur, kaos bergambar tengkorak masih tergantung pada jemuran di balkon." Masih dengan posisi yang sama, Kyuhyun menjawab semua pertanyaan Hyunji tanpa melirik sedikitpun.

"Ahhh... Ku kira kau memakai kaos milikku lagi. Biasanya kau selalu begitu." Hyunji menganggukkan kepala, tangannya meraih cangkir kopi milik Kyuhyun lalu menengguk cairan pekat itu hingga tandas.

"Itu karena kau sering meletakkan baju di kamarku." Kyuhyun menyanggah, kepalanya menggeleng lalu meralat ucapannya. "Ahhh... Tidak, semuanya salah eomma. Eomma banyak memberikan kita pakaian yang sama. Bahkan kau lebih sering mengenakan boxer dibandingkan hotpans, memakai kaos laki-laki daripada mini dress. Jadi eomma mengirimkan banyak baju dengan model yang sama, hanya berbeda satu ukuran saja." Rentetan kalimat tersebut sukses membuat si tamu tertegun. Belum pernah sekalipun ia mendengar kalimat sepanjang itu keluar dalam satu tarikan nafas dari detektif Cho yang terkenal to the point ketika berbincang.

"Cihhh, kau bertingkah seperti remaja labil." Hyunji mendecih, meletakkan cangkir kopi yang sudah kosong dengan keras ke atas meja.

Dengan santai Hyunji melenggang pergi setelah menyambar satu dokumen yang di bawa Kyuhyun.

Tangan Kyuhyun terangkat untuk memijat pelipisnya. "Astaga! Apa salahku hingga mendapatkan saudara sepertinya."

Hidup di samping Cho Hyunji bagaikan hidup abadi di dunia yang sedang sekarat. Sengsara, bingung, dan serba salah adalah tiga hal yang selalu menimpa Kyuhyun dalam eksistensi masa hidupnya.

"Aku turut prihatin." Suara bass dari si tamu membuat detektif Cho menolehkan kepalanya.

"Hahhh... Mengesalkan sekali." Rambut yang tadinya kusut kini tak lagi berbentuk karena diacak sendiri oleh detektif Cho.

Si tamu menggeser tubuhnya, mencondongkan kepala lalu membisikkan sesuatu pada detektif Cho. "Detektif Cho, bolehkan jika saya meminta nomer ponsel saudara anda yang cantik itu?"

Plukk

Sebuah buku melayang mengenai ubun-ubun si tamu. Siapa lagi pelakunya jika bukan detektif Cho yang kini sedang menatap tajam sambil mendesis. "Profesor Kim Jongwoon. Carilah gadis lain! Sampai mati, saya tidak sudi menjadi saudara ipar anda!"

"Aish..." Profesor Kim Jongwoon hanya mampu merengut kecewa. Belum juga ia mendekati 'si cantik yang arogan', nyatanya 'si detektif' sudah mencoret namanya dari daftar calon saudara ipar.

.

.

.

.

.

Flash back

Mata yang sarat akan ketakutan itu kembali membuka namun beberapa detik kemudian sorot itu kembali menutup ketika tubuhnya meraungkan rasa sakit dan perih.

Anak itu tidak mengatakan apapun, hanya ringisan kecil yang mewakilkan apa yang ia rasakan saat ini.

Sakit.

Pusing.

Takut.

Bingung... ia melupakan apa yang terjadi padanya. Ia tidak tahu apa yang terjadi. Akalnya sulit memproses tentang apa yang telah menimpanya. Batinnya terus bergejolak tentang dimana ia sekarang dan mengapa ia sendiri.

Hatinya terasa pedih karena terus mengaumkan. 'Apa yang telah terjadi?'. Namun gejolak itu tidak mampu menguasai dirinya. Tubuhnya tidak bisa melakukan apa yang ada di pikiran dan hatinya.

Kaki kecilnya meringkuk ketika merasakan ledakan lain yang tidak jauh darinya. Ia memeluk dirinya sendiri ketika hawa panas, bau gas, dan asap yang mengepul membuat nafasnya sedikit sesak.

Anak berwajah lugu itu ingin menangis. Ia ingin berteriak, menyuarakan segala ketakutan dalam dirinya. Namun mulutnya hanya terkatup dan sedikit bergetar. Tindakan refleksnya dengan menggenggam kalung di lehernya sama sekali tidak membantu. Anak itu sangat takut. Takut sekali, semenjak ia membuka mata dan menyadari tempat asing yang mengerikan ini.

Sebuah tempat dengan tanah dan bebatuan yang kering. Aroma asap melingkupi daerah itu, suara ledakan beruntun tadi menggema di telinganya. Namun bocah itu terlampau takut untuk bisa menyadari dan menyimpulkan dimana ia berada sekarang. Bahkan untuk sekedar menengok ke belakang untuk mengetahui ledakan apa itu, ia tidak berani.

BRAAKK!

Suara benturan, ledakan dan gesekan tanah terjal kembali menggema di kepalanya. Bocah itu mencengkeram rambutnya sendiri. Suara menakutkan itu menjelma menjadi trauma lain di otaknya.

"Ukh, hiks..."

Naluri tubuhnya memaksa ia untuk merangkak perlahan dan meninggalkan tempat mengerikan itu. Anak itu terlihat begitu kacau sekarang. Pakaiannya lusuh, rambutnya berantakan dan tatanannya yang aneh. Sepatunya sedikit melepuh, dan wajahnya sedikit tergores oleh luka kecil yang kemudian dihiasi oleh debu dan abu di pipinya.

Melangkah.

Pergi.

Menjauh.

Hanya itu kata-kata yang bergumam di pikirannya. Setelah beberapa langkah tertempuh, ia duduk bersandar pada sebuah pohon yang mengering. Ia sudah berada cukup jauh dari tempat itu, tidak ada lagi suara bebatuan jatuh maupun ledakan susulan. Hanya ada suara kendaraan yang melintas.

Kendaraan? Ya. Ia berada tidak jauh dari pinggiran jalan raya. Bocah itu duduk memeluk kedua lututnya, menikmati angin menghembus poninya yang berantakan.

Hingga beberapa saat kemudian, ia melangkah kembali. Melintas menuju ke tengah jalan raya. Entah apa yang membawanya untuk berjalan dan membawa dirinya dalam bahaya. Bocah itu masih terlalu muda, bahkan ia tidak bisa memikirkan bahwa ia bisa saja —-—

CKIIITTT!

— tertabrak.

"Aigoo, anak siapa itu? Kenapa dia menyeberang sembarangan! Kita baru saja pulang dari panti asuhan." wanita yang merupakan penumpang di mobil itu sedikit memekik.

"Haera-ya, sudah kubilang berhenti membicarakan dan jangan mengungkit tempat asal anak itu! Sekarang Hyun sudah sah menjadi tanggungjawab kita, biarkan masa suram itu terkubur bersamaan dengan ingatannya. Kau terus membicarakan itu dan sekarang kau merusak konsentrasiku dan hampir menabrak anak kecil." Protes seorang pria yang menyetir mobil itu.

Haera, nama wanita itu, mendesah pelan. "Ne, aku akan mengunci mulutku rapat-rapat. Bagaimanapun, aku memiliki hutang pada YoungJi. Aku akan menebusnya dengan mengurus Hyun hingga dewasa dan menjadikannya seseorang yang sukses."

"Sudahlah, jangan bahas hal ini lagi. Aku akan turun untuk melihat anak itu." Sepasang suami istri itu kemudian turun dari mobil dan melihat keadaan.

Membiarkan seorang anak kecil tertidur pulas di kursi penumpang belakang dengan selimut yang membalut tubuhnya hingga sebatas dagu. Anak menggemaskan bernama 'Hyun' yang barusaja mereka adopsi dari panti asuhan.

Di luar mobil. Sepasang suami istri itu sempat terkejut namun mensyukuri sejenak karena sosok yang hampir mereka tabrak dalam kondisi baik.

Apa yang mereka lihat hanyalah seorang anak kecil dengan pakaian lusuh serta memar dan beberapa luka kecil di bagian tubuhnya. Haera mendekati anak kecil itu duluan, ia berjongkok untuk menyamakan tinggi keduanya.

"Adik kecil, di mana orangtua-mu?" Tanyanya dengan lembut.

"..." Tidak ada respon. Manik mata anak kecil itu bergerak-gerak tidak fokus.

"Kenapa kau berjalan sendirian di tempat ini?" Sekali lagi Haera melontarkan pertanyaan.

"..."

Merasa tidak ada tanggapan. Haera menyentuh bahu anak itu, berusaha menarik perhatian dari sepasang manik yang masih bergerak gelisah. "Apakah kau korban penculikan? Katakan sesuatu, kami akan menolongmu."

"..."

Anak itu tidak menjawab. Raut wajahnya sulit ditebak. Karena tidak kunjung mendapat jawaban, Haera menatap pasrah suaminya. "Dia terluka dan pakaiannya lusuh. Apa mungkin benar dia korban penculikan yang melarikan diri?"

Jaesuk juga tidak menjawab apapun, ia kemudian berjalan di daerah yang tidak terlalu ramai kendaraan itu. Lelaki itu melewati sebuah pembatas kecil yang telah rusak parah dan menatap jauh sebuah jurang yang menganga disana.

"Kau mau kemana?" Tanya Haera dengan penasaran.

Jaesuk tidak menjawab apapun, ia dengan hati-hati melihat pinggiran jurang. Samar-samar, ia bisa melihat kepulan asap menguar dari dasar jurang. Tepi pinggir puncak jurang yang dipijaki Jaesuk tidak curam dan menjorok kebawah, jadi Jaesuk bisa berdiri dengan baik meski tetap harus berpegangan.

"Haera, ambilkan periskop di kursi belakang dan tetap jaga anak itu."

"Apa yang kau lakukan? Disana berbahaya!" Merasa kebingungan. Kenapa suaminya malah mencondongkan tubuh untuk melongok ke jurang.

"Sudah, ambilkan saja. Aku hanya penasaran, sepertinya telah terjadi sesuatu disini."

Haera hanya menurut, dalam beberapa detik saja ia menyerahkan benda yang dimaksud. Wanita itu juga sudah menggendong anak yang sudah memalingkan wajahnya dari pemandangan jurang itu. Anak yang tadinya nyaris mereka tabrak.

"Ya Tuhan." Tangan Jaesuk gemetar. Netranya menangkap sebuah pemandangan yang mengenaskan di dasar jurang tersebut.

"Ada apa? Apa yang kau lihat?" Wanita berwajah manis itu mencerca suaminya dengan dua pertanyaan beruntun.

Jaesuk mengepalkan tangannya. Ia kemudian mengambil langkah mundur dan mendekati istrinya lagi. Pria itu juga lagi-lagi tidak menjawab pertanyaan istrinya dan ia hanya mengelus rambut bocah malang itu.

"Ini sungguh milikmu?" Jaesuk menanyakan benda yang berada di leher bocah itu. Sebuah liontin perak dengan foto kecil dibalik bandulnya.

Mengerjap, hanya gerakan itu yang diberikan oleh si anak kecil penuh peluh. Tak ada sepatah kata, namun gurat ketakutan nampak jelas pada sepasang obsidiannya yang kini dipenuhi liquid bening.

"Ya Tuhan! aku mengerti sekarang. Jadi benar kau anaknya. Ayo ikut dengan paman! Kita bisa hidup bersama."

Haera memandang suaminya dengan wajah terkejut bukan main.

"Apa maksudmu sebenarnya? Kenapa kau —"

"Haera-ya, mulai sekarang anak ini juga menjadi tanggungjawab kita." Perkataan Haera terputus karena Jaesuk langsung memotongnya.

"Jaesuk, jangan bercanda! Aku tahu anak ini sangat malang meski aku belum lama sah menjadi seorang ibu, namun aku bisa merasakan kesakitan apa yang dialaminya. Tapi, kita tidak bisa memutuskan begitu saja untuk mengadopsinya. Kita baru saja mengambil Hyun dari panti, lalu sekarang kau membawa seorang anak lagi." Menggeleng keras, Haera tidak menyetujui usulan suaminya.

"Bukankah itu hal yang bagus jika kita mempunyai satu lagi? Kau tenang saja, aku akan bekerja keras untuk menghidupi keluarga kita." Tersenyum menenangkan, Jaesuk menatap istrinya dengan penuh permohonan.

Kepala Haera menggeleng lemah. "Mengadopsi seorang anak tidak semudah yang kau pikirkan. kita perlu kembali mengurus identitasnya ke kantor sipil. Kita juga tidak tahu, barangkali orang tuanya memang masih ada dan sedang mencarinya. Kita tidak bisa, Jaesuk-ah —"

Jaesuk meraih kedua pundak kecil istrinya, sebelah tangannya mengusap lembut punggung anak itu yang kini telah tertidur beberapa saat yang lalu. Pria itu tersenyum lembut pada wajah polos ketika tertidur itu, wajah yang tidak bisa berbohong meski ia yakin telah terjadi sesuatu yang mengerikan sebelumnya.

"Dia akan menjadi kembaran Hyun. Kita membutuhkan satu anak yang bisa membantu kita menyembunyikan keberadaan Hyun dari 'dia'." Putus Jaesuk. Membujuk istrinya haruslah dengan alasan yang kuat.

"Tidak! Tunggu, apa yang kau maksud?" suara Haera melemah, ia sulit mengerti isi pikiran suaminya sendiri. "Kumohon... jangan bilang kau menggunakan identitas anak ini sebagai tameng untuk Hyun? Tapi kita tidak bisa melakukannya! Anak ini pasti mempunyai orang tua, ia mempunyai sebuah keluarga. Lebih baik kita bawa ia ke kantor polisi dan membiarkan mereka mengurusnya. Jaesuk-ah, kita —"

Menggeleng tegas, Jaesuk meremas bahu istrinya. "Tidak. Anak ini tidak lagi memiliki seseorang yang bisa melindunginya, termasuk kedua orang tuanya. Kita akan merawatnya mulai sekarang karena dia akan menjadi tanggung jawab kita." Ketika tangan Jaesuk lepas dari kedua bahu Haera, wanita itu menahannya. Ia meremas tangan suaminya, mengenggam dengan sedikit gemetar.

"Jangan bilang kau mengenal anak ini, Jaesuk-ah." Sepasang obsidian Haera mulai berkabut.

Jaesuk menghela nafas panjang, lebig baik ia mengatakan yang sebenarnya. "Dia adalah anak dari Lee Donghwa."

"A-apa?" Tergagap. Haera memundurkan tubuhnya beberapa langkah. Terlalu terkejut dengan fakta yang ia dengarkan.

Jaesuk mengangguk tegas. "Dia adalah anak dari Lee Donghwa. Aku yakin ia memiliki trauma besar yang menyakitkan pasca kecelakaan mobil yang telah terjadi. Aku tidak, maksudku kita harus merawatnya."

"Kecelakaan mobil? Kecelakaan apa yang kau —" Tangan kanan Haera membekap mulutnya sendiri ketika pandangannya jatuh pada periskop yang masih dipegang suaminya.

"Periskop? jurang? a-apakah? —" Pikirannya kini menemukan titik temu antara kejadian-kejadian barusan.

"Jika yang ada di pikiranmu adalah aku baru saja melihat sebuah mobil yang telah hangus terbakar di dasar jurang, maka kau benar." Mata Haera berkaca-kaca, refleks ia memeluk erat anak yang masih digendongannya itu membuat si kecil sedikit terusik.

"Ki-kita harus memanggil polisi. Panggil polisi sekarang, Jaesuk! A-aku khawatir, bagaimana jika masih ada korban hidup dibawah sana?"

Jaesuk menggeleng lemah menanggapi perintah Haera yang nampak panik.

"Meski dasar jurangnya tidaklah dalam dan curam, namun mobil itu telah hangus terbakar di bagian depan dengan semua pintu yang masih tertutup. Hanya ada jendela sebelah kiri yang terbuka. Tidak akan ada korban selamat, kecuali anak ini. Aku yakin dia sebelumnya sengaja dilemparkan jauh sebelum mobil meledak." Perjelasan singkat tersebut menjawab segalanya.

Lutut Haera terasa lemas, nyaris saja ia jatuh terduduk namun sempat ditahan oleh Jaesuk. Wanita itu menangis pelan dan mengecup pelipis anak itu yang terluka. Sebagai seorang wanita dan seorang ibu, hatinya teriris perih ketika mendengar penuturan suaminya itu.

"Demi Tuhan! Aku tidak mengarang cerita ini, sayang. Kumohon, percayakan semuanya padaku. Dia adalah anak dari Lee Donghwa dan kita harus merawatnya. Kita juga adalah saksi hidup dari kecelakaan yang telah terjadi ini. Aku janji akan melaporkan ini pada polisi namun aku akan meminta mereka menjaga keamanan informasi ini." Wanita berwajah manis itu hanya terdiam, membiarkan pria yang dinikahinya itu mengusap air mata yang mengalir di pipinya.

"A-aku... aku tidak bisa membiarkannya hidup menderita... tapi, ta-tapi aku takut ia tersandung dalam bahaya lain jika kita menjadikannya sebagai salah satu tanggung jawab kita, Jaesuk-ah. Aku takut dan khawatir pada anak ini..." Kecemasannya kali ini terasa memuncak. Membawa anak bungsu Lee Donghwa hanya akan membuat semuanya semakin rumit, melebihi kerumitan mereka menyembunyikan identitas Hyun.

"Haera-ya, lihatlah luka dan memar yang ada pada tubuh anak ini. Ia masih kecil dan ia telah menderita. Jika kita membawanya ke panti asuhan, itu tidak akan membantu karena ia akan tumbuh menjadi anak yang pendiam dengan trauma di kepalanya. Kita harus menjadi orang tua angkatnya, untuk membantu menghapuskan ingatan mengerikan yang terakhir diingatnya."

Wanita itu menarik nafas panjang untuk menetralkan emosinya, ia kemudian tersenyum lembut dan meyakinkan Jaesuk. "Kurasa, tidak akan masalah jika Hyun mempunyai seorang saudara."

Inilah yang dinantikan Jaesuk, sebuah jawaban persetujuan. Pria itu membawa sang istri ke dalam pelukannya, lalu mengecup lembut dahi wanita itu.

"Aku tahu, aku bisa mempercayaimu dan kau bisa mempercayakanku." Ucap wanita itu lagi dan membuat Jaesuk bisa tersenyum tenang sekarang.

"Ja-jadi, dia adalah adik Donghae?" Ulang Haera memastikan. Ya, ia mengenal Donghae karena bocah lelaki manis itu pernah ditemuinya.

"Ya, ini adik Donghae dan akan menjadi anak kita."

Jemari lentik Haera mengusap rambut lebat yang agak kotor itu dengan lembut. Kini, nalurinya sebagai seorang ibu kembali muncul ketika melihat anak itu masih tertidur dengan nafas teratur.

"Kita harus memberikan sebuah nama untuk kedua anak kita." Jaesuk berpikir sejenak, lalu ia kembali tersenyum cerah setelah mendapat nama yang pantas dan baik.

"Cho Kyuhyun dan Cho Hyunji. Tidakkah itu nama yang bagus? Apa kau setuju?"

Tersenyum simpul, Haera mengangguk antusias. "Itu nama yang bagus Jaesuk-ah."

"Sangat kebetulan karena mereka lahir di tahun dan tanggal yang sama, hanya berbeda bulan kelahiran. Itu bukan masalah besar..." Bahu Jaesuk mengendik.

"Bagaimana bisa kau mengetahui persis kapan anak ini lahir?"

Terkekeh pelan, Jaesuk sungguh terhibur dengan ucapan istrinya yang kentara sekali jika ia tengah kebingungan. "Itu karena aku mengenal Donghwa dengan baik."

Haera hanya mengangguk-angguk saja. "Kita harus segera mendaftarkannya ke kantor sipil. Tapi kita harus mengobati lukanya terlebih dahulu agar tidak ada yang mencurigainya, benar bukan?"

"Kau tenang saja. Choi Taehwa bisa membantu kita untuk mendaftar ke catatan sipil."

Choi Taehwa, sahabat dekat Jaesuk yang akan membantu untuk mengurus identitas kedua anak adopsi mereka.

Flash back off

.

.

.

.

.

Pagi yang tenang. Kyuhyun baru keluar dari kamarnya, berjalan menuju dapur untuk menyantap sarapan yang pastinya telah terhidang di meja makan.

Sepi? Suasana seperti ini sungguh tidak biasa.

Tap

Tap

Tap

Memutar tumit, Kyuhyun memutuskan untuk mengitari apartment. Alis Kyuhyun bertaut tatkala ia menangkap siluet tubuh Hyunji yang berdiri di dekat pintu, ia tidak bisa melihat dengan jelas karena Hyunji memunggunginya.

"Apa itu?" Kyuhyun bertanya dengan melongokkan kepala tepat disebelah telinga Hyunji, dagunya bahkan sudah menempel di bahu adiknya.

"Aigoo! Kau membuatku terkejut!" Nyaris saja Hyunji melemparkan kaleng misterius yang dibawanya.

Alis Kyuhyun terangkat, terlalu heran melihat kaleng yang dibawa Hyunji. "Surat kaleng? Kau punya stalker?" Tanya Kyuhyun penasaran. Di Amerika dulu, Hyunji sangat populer di sekolah pelatihan. Beberapa kali adiknya menerima surat kaleng dan banyak bingkisan serta bunga yang terongok di depan pintu flat.

"Lihat ini!" Hyunji menunjukkan kertas itu pada Kyuhyun. Surat yang tadinya tertindih di bawah kaleng.

Srett

Tangan Kyuhyun bergerak cepat meraih kertas tersebut, manik matanya bergerak menjelajahi sederet kalimat yang tertulis di kertas tersebut. "Akar Keluarga Kim Akan Dibabat Habis!" Bibirnya bergerak-gerak membaca tulisan tersebut.

Hidung Hyunji mendengus, telunjuk kanannya menggaruk pelipis. "Kim? Sepertinya surat kaleng ini salah alamat." Marganya adalah Cho, begitu juga dengan Kyuhyun. Tapi kenapa surat kaleng tersebut menuliskan marga 'Kim'? Sungguh membingungkan.

Plop

Karena penasaran, Hyunji membuka kaleng itu. Telunjuk dan ibu jarinya menjumput sebuah kertas yang tergulung di dekat mulut kaleng.

Deg

Detak jantung Hyunji berpacu. Apa yang dilihatnya sungguh mengejutkan. "K-kyu..." Tangan Hyunji bergetar saat ia memegang kertas yang ternyata merupakan selembar foto.

Srett

Kyuhyun langsung mengambil foto yang tengah dibawa Adiknya, bibirnya mencebik. "Ckck, ini foto kita." Sepersekian detik kemudian, Kyuhyun terbelalak. Ada setitik bercak merah di bagian bawah kertas foto tersebut.

"Lepaskan kaleng itu!" Perintahnya pada Hyunji.

Yang disuruh malah mengerutkan dahi karena bingung dengan perintah Kyuhyun. "Wae?"

Tukk

Dengan cepat Kyuhyun merampas kaleng tersebut dan membawanya ke atas meja ruang tamu.

"Aroma darah." Ucap Kyuhyun lirih. Indra penciumannya memang tidak terlalu peka karena flu, namun 100% ia yakin jika bau amis yang diciumnya detik ini adalah darah.

Mendengar kata 'darah' membuat Hyunji langsung mendekat.

Menggeleng pelan, sekali lagi Kyuhyun meyakinkan dirinya yang sangat mengenal aroma darah. Kaleng tersebut memiliki tinggi 30 cm, berdiameter 10 cm, dan ketebalannya nyaris 3 mm. Ia butuh sesuatu untuk memastikan semuanya. "Hyunji-ya, masuk ke kamarku. Ambil sarung tangan, senter kecil, plastik, serta kamera di dalam laci paling bawah nakas sebelah kiri. Ambilkan juga peralatan untuk identifikasi sidik jari (Fingerprint) di dalam tas ranselku!"

Tanpa banyak bicara, Hyunji berlari kecil menuju kamar Kyuhyun untuk mengambil barang-barang yang dimaksud. Tak lupa, ia juga membawa laptopnya. Insting Hyunji berkata jika surat kaleng tersebut pastilah memiliki makna terselubung yang cukup menarik.

Sekembalinya Hyunji ke ruang tamu. Kyuhyun langsung memberi isyarat agar Hyunji membantunya. Sebelum memeriksa kaleng tersebut, mereka memakai sarung tangan. Mencegah sidik jari mereka tercetak sekali lagi di permukaan kaleng.

Keduanya bekerjasama, mengumpulkan keseluruhan sidik jari yang menempel pada kaleng. Karena kaleng tersebut terbuat dari stainless stell berarti jejak sidik jari tergolong latent (jejak sidik jari yang tidak terlihat). Jejak sidik jari jenis ini tidak selalu bisa dilihat dengan jelas secara visual. Untuk membuatnya lebih jelas/kontras, digunakan zat kimia yang akan bereaksi dengan zat sekresi tersebut dan menghasilkan efek visual yang membuat sidik jari nampak lebih kontras.

Setiap memegang permukaan benda, jari kita mengeluarkan zat sekresi (lemak dan keringat), yang dihasilkan kelenjar keringat. Zat sekresi ini pada dasarnya adalah larutan elektrolit/garam yang bercampur dengan Urea dan lemak serta senyawa organik lainnya.

Identifikasi finger print 'latent' menggunakan zat kimia, seperti lem (sianoakrilat), iodin, perak klorida, dan ninhidrin.

Karena ukuran kaleng yang cukup besar, keduanya sepakat untuk menggunakan 'larutan Ninhidrin (perak nitrat)'. Jika perak nitrat di campurkan dengan natrium klorida, akan di hasilkan natrium nitrat yang larut dan endapan perak klorida. Keringat dari pelaku mengandung garam (NaCl) yang di keluarkan melalui pori-pori kulit.

Larutan perak nitrat ini di semprotkan ke permukaan benda yang di duga tersentuh pelaku. Setelah 5 menit, permukaan benda akan kering dan perak nitrat pun muncul. Kemudian, sidik jari yang muncul tersebut disinari lagi oleh ultra violet, nantinya sidik jari akan terlihat jelas. Seperti halnya iodin, warna yang dihasilkan tidak bertahan lama sehingga harus segera di potret agar dapat di dokumentasikan.

"Kaleng ini begitu bersih. Tidak ada sidik jari." Kyuhyun mengacak rambutnya kesal. Tiga puluh menit, waktu yang dihabiskannya untuk mengumpulkan finger print. Namun hasil keseluruhan hanya ada sidik jarinya dan Hyunji.

"Kaleng ditemukan pukul 06.45 pagi, dengan jarak kurang dari satu jengkal di depan pintu." Jari Hyunji yang masih mengenakan sarung tangan, mengetikkan posisi kaleng temuannya pada keyboard.

"Di bagian dasar kaleng ada darah yang nyaris mengering." Kyuhyun menambahkan. Ia menutup permukaan kaleng dengan plastik, lalu memasang penutupnya lagi. Sampel darah tersebut akan dibawanya ke laboratorium untuk dianalisa.

Bingung.

Heran.

Kesal.

Tiga kata itu menggambarkan psikis Hyunji dan Kyuhyun. Kaki mereka bersila di atas karpet, sementara mata tidak lepas mengamati kaleng dan surat misterius yang sukses mengguncang suasana pagi yang seharusnya sunyi.

"Kapan kita berfoto dengan pose seperti itu?" Dagu Kyuhyun mengendik pada selembar foto yang kini sudah terkurung dalam plastik transparan.

Mata Hyunji berubah menjadi sendu saat ia melihat potret tubuhnya yang mengenakan jaket berwarna biru laut. "Itu jaket milikku yang hilang..." Ucapnya dengan lirih. Bukannya menjawab langsung, namun malah mengatakan hal yang melenceng dari topik bahasan. Nadanya yang lirih, kentara sekali menyiratkan jika jaket tersebut sangatlah berarti baginya.

"Hilang?" Ucap Kyuhyun pilon. Sadar memang ia mengenal betul jaket biru polos itu adalah milik adiknya.

Kepala Hyunji menyandar di bahu kakaknya. Perutnya sudah lapar, namun ia terlalu malas untuk sarapan setelah kejadian tak terduga barusan. "Foto ini pasti diambil sekitar 2-3 tahun lalu." Otaknya mencoba mengingat-ingat waktu ketika ia mengenakan jaket biru polos itu.

"Darimana kau yakin?"

Mendengus kesal. Hyunji ingin sekali menjitak kepala kakaknya dengan sebuah batu. "Cho Kyuhyun, bekas lukamu di pelipis terlihat jelas di foto ini." Ucapnya dengan gemas.

"Ah, kau benar. Itu bekas luka yang aku dapatkan setelah mengikuti latihan menembak." Dengan polosnya, Kyuhyun hanya menganggukkan kepala. Jarinya mengetuk-ngetuk dagu -pose berpikir- kala dirinya mencoba mendalami sesuatu.

Sapasang mata berwarna biru samudra mengerjap. "Kyu, firasatku buruk." Beginilah Hyunji kalau ia merasa ketakutan.

Grep

Tak ada yang mampu Kyuhyun lakukan selain merangkul bahu adiknya, mengusap lengan Hyunji sambil sesekali menepuk kepalanya. "Hyunji-ya, kau harus menuliskan sebuah data lagi. Ternyata, nama kita tertulis di bagian dalam kaleng."

Mengerucut kesal. Hyunji sungguh tidak habis pikir jika ada orang yang nekad mengerjainya lagi. "Siapa? Siapa orang gila yang mengirimi kita hal konyol seperti ini? Aigooo..." Tangannya menakup wajah, serasa ingin berteriak kencang agar penat di kepalanya menghilang.

"Yang pasti, orang ini berasal dari kalangan atas. Kaleng ini dibuat dari logam stainless steel kualitas terbaik, terbukti dengan tidak menempelnya magnet pada kaleng. Foto ini memiliki kualitas yang bagus, menunjukkan jika pemotretnya bukanlah seorang amatir. Darah ini? Ini 100% adalah aroma darah manusia. Darah hewan tidak seperti ini. Ada aroma asing di luar kaleng, sepertinya ini aroma parfum 'si peneror'. Apa kau bisa mengenalinya?"

Bibir Hyunji mengerucut kesal, jarinya mengetuk-ngetuk meja. "Ini parfum mahal. Kita beruntung karena aroma parfum ini bisa bertahan dengan cukup baik karena ada gulungan kain sebagai sabuk kaleng, dan juga aroma parfum masih tercium meskipun ada aroma darah yang menguar dari dalam kaleng. Aku akan memastikannya besok di toko parfum. Biasanya satu brand memiliki karakteristik aroma yang sama."

Benar, suatu brand parfum memiliki karakter yang sama meskipun memproduksi jenis aroma yang berbeda. Kadar senyawa kimia dalam sebuah parfum dapat mempengaruhi daya tahan serta seberapa menyengat aromanya.

To be continue...

Ara! #TeriakKencangKePartner

Aku publish dulu chapter 1 nya. Aku butuh support. -_- Lalu kita kerjasama lagi minggu depan.

Readerdeul jangan lupa review yang banyakkkkkkk!

Dari kemarin aku bingung nerusin ketikan draft. Jadi aku mau cari informasi lagi. Well, ada yang bisa koreksi bagian 'finger print'?

Aku mengingat sebanyak yang mampu aku cakup. -_- Dan aku merasa ada satu yang janggal di situ. Aku bingungnya di bagian logam "aluminum atau stainless stell" yg bisa meninggalkan jejak sidik jari. Aku sudah 3 tahun tidak lagi melakukannya. Mohon koreksinya ya! Kalau salah, nanti aku ganti lagi lalu publish ulang.

Barangkali reader ada yang jadi Polisi? #NyengirAlaSiwon

Siap2 keliatan bodohnya klau bneran salah. T.T #NangisDiKamar

Aira! Kakakmu (Ara) yg jdi partnerku. Sudah tau? Kurasa Ai tdak tau. Kkkkkk