FLASH BACK

.

Lima tahun berubah cepat. Sangat cepat, layaknya kilat yang menghunus wajah Bumi. Kehidupan mereka juga sudah banyak berubah. Kedua anak manusia itu, Kyuhyun dan Hyunji kini sudah berusia 5 tahun. Mereka tumbuh dengan baik, dalam lingkungan baik. Keduanya tumbuh menjadi anak yang diberkahi kebaikan dan kecerdasan intelektual yang baik pula.

Namun pada suatu hari, sang gadis kecil tampak kebingunan. Raut wajah cemasnya tidak bisa disembunyikan. Anak lelaki satunya yang sedang bermain robot-robotan menjadi ikut terganggu karena kegelisahan satu-satunya gadis kecil di rumah itu.

"Hyunji-ya."

Gadis kecil yang disebut namanya itu tidak menoleh, ia sibuk mondar-mandir dari satu tempat ke tempat lain.

"Hyunji-ya?"

Kyuhyun kecil hanya menghela nafas ketika saudaranya itu tidak menyahut karena berada di ruangan lain. Ia kemudian terpaksa mengikuti langkah Hyunji yang tengah kalut tersebut.

"Hyunji-ya!" Kyuhyun setengah berseru dan beruntung Hyunji langsung menoleh dan berlari kecil menghampirinya. Mata gadis itu sudah berkaca-kaca, siap menangis kapan saja jika sebuah kalimat keluar dari mulutnya.

"Hei, ada apa? Apa yang kau cari?"

Arah mata Kyuhyun mengarah pada tangan hyunji yang terus memegang lehernya.

"Hyun—" Suara Hyunji tercekat. "Punyaku…" Lanjutnya dengan raut kebingungan.

"Apa?" Kyuhyun makin bingung. Hyunji terlihat sangat takut.

"Kalung… kalung punyaku…"

Sejenak Kyuhyun mengernyit, namun akhirnya ia cepat mengerti kemudian menepuk-nepuk bahu gadis kecil yang lebih pendek darinya itu.

"Kyu, kau tau di mana kalungku?"

Kyuhyun menggeleng pelan. "Aniya. Kau menghilangkannya?"

Hyunji mengangguk. Setetes air mata jatuh di pipi kirinya. Kyuhyun sendiri langsung mengusapnya.

"Coba aku lihat lehermu." Hyunji pikir mungkin saja Kyu menggunakan kalungnya.

"Ini kalungku, kalungmu ada tulisan 'Hyun' dengan tulisan hangul di bagian dalam bandul berbentuk kotak ini. Sedangkan punyaku tulisannya 'Hyun' dengal alfabet." Jelas Kyuhyun dengan suara pelan. Senakal apapun dirinya, Kyuhyun tak pernah berpikir untuk menjahili Hyunji hingga menyangkut pautkan kalung.

Untuk membuktikannya, Hyunji kemudian menekan pembuka kalung itu.

Klik!

Hanya ada tulisan alfabet di sana, sudah jelas jika kalung itu bukan miliknya.

"Kau benar... Ini kalungmu, Kyu." Gadis mungil itu tertunduk lesu. Maniknya yang sebiru samudra mulai meneteskan liquid bening sekali lagi.

"Cobalah mengingat kapan terakhir kau memakai atau melepasnya, Hyunji-ya." Ujar Kyuhyun hati-hati.

Gadis itu menggeleng. "Aku tidak tahu. Aku takut sekali karena aku tidak mengingatnya." Wajah Hyunji sudah memerah di bagian hidung dan matanya.

Kyuhyun kemudian beranjak sambil mengangkat bantal sofa dan menunduk ke kolong-kolong meja dan kursi, ikut mencari benda yang hilang itu.

"Sudah kau cari di semua kamar?" Tanya Kyuhyun sekali lagi. Tangannya sibuk menggeser benda-benda yang menurutnya telah menyembunyikan kalung Hyunji.

"Sudah, tapi tetap tidak ada. Appa pasti marah. Aku menghilangkan kalung dari appa." Terus saja racauan Hyunji terlontarkan. Bibir gadis mungil itu bahkan bergetar.

Kyuhyun menghela nafas, tidak ada gunanya juga pencariannya. Kalung itu tetap tidak ditemukan, kemudian Kyuhyun pun kembali duduk di sofa.

"Duduk di sini!" Suruh Kyuhyun pada saudaranya yang masih berdiri sambil menangis.

Gadis kecil itu dengan patuh menuruti perintah saudara tertuanya, Hyunji duduk di samping Kyuhyun. Tangannya saling meremas karena rasa gelisah.

"Hyunji-ya. Pakai kalungku saja dulu. Nanti biar aku yang bilang pada appa, jika aku menghilangkan kalungku." Kyuhyun berkata sambil melepas kalung di lehernya namun tangan Hyunji menahannya.

"Shireo… ini milikmu." Tolak Hyunji dengan pelan.

Kyuhyun melepas tangan Hyunji yang mencekal pergerakannya, lalu ia kembali melepas kalung miliknya. Kemudian dengan hati-hati, Kyuhyun pun memasangkan kalung itu di leher Hyunji.

"Kyu…" mata bulat gadis kecil itu kembali berkaca-kaca ketika sang kakak memasangkan kalung itu di lehernya.

"Selesai." Laki-laki itu tampak puas dengan pekerjaannya, ia kemudian merapihkan posisi kalung itu dan kembali mengusap air mata Hyunji.

Hyunji menatap penuh tanda tanya pada saudaranya itu. Matanya masih basah meski sang kakak telah menghapus jejak air mata itu. "Bagaimana jika nanti Appa marah padamu?"

Kyuhyun terkekeh, ia mengacak pelan rambut adiknya. "Kau tidak perlu memikirkan itu. Cukup jaga saja kalung milikku sama seperti kau menjaga milikmu. Jangan pernah kembalikan ini padaku sampai kau menemukan milikmu kembali. Kau juga tidak perlu pikirkan bagaimana jika Appa akan memarahiku atau memarahimu. Gwenchana, aku adalah namja. Biar aku yang menghadapi appa. Aku juga akan melindungimu."

Hyunji hanya mengangguk, wajahnya sudah lebih cerah dari sebelumnya. Gadis kecil itu sepertinya telah memahami dan akan mematuhi dengan baik pesan sang kakak.

Flash Back off

.

.

.

.

"Aku tidak menyangka jika kau masih memakai kalung itu Hyunji-ya." Kyuhyun tersenyum simpul.

"Sepertinya kalung lamaku benar-benar hilang ditelan bumi." Lirih sang gadis yang lebih muda. Ia mengingat pesan saudaranya untuk menjaga kalung miliknya hingga milik lamanya kembali. Namun sepertinya Hyunji harus menelan pahit karena kalung lamanya benar-benar tidak pernah kembali.

Gadis dengan irish berwarna biru itu mengerjapkan mata beberapa kali, ia baru saja mengenang masa kecilnya dengan Kyuhyun. Kini keduanya berdiri bersebelahan, tinggi Hyunji hanya sebatas telinga Kyuhyun. Perempuan memang lebih pendek daripada laki-laki, itu bukanlah sesuatu yang perlu dipermasalahkan.

Keduanya mengfokuskan pandangan ke arah pantulan diri mereka yang ada di cermin. Kembar? Itu adalah istilah yang mereka berdua yakini selama ini. Entah bagaimanapun kebenarannya, Hyunji serta Kyuhyun tak ingin ambil pusing.

Kesamaan yang kentara dari keduanya adalah kulit yang sama pucatnya, hidung mancung, bentuk bibir, dan mata yang sama. Hanya saja, irish mata Hyunji yang berwarna biru sedangkan Kyuhyun berwarna coklat karamel. Tentu saja, keduanya memiliki bola mata yang sama indahnya.

Jemari lentik Hyunji meraba bandul kalungnya. "Kalung ini dipesan appa dari Itali. Aku masih merasa bersalah, kau dimarahi appa karena menghilangkan kalung kembar kita." Wajahnya nampak murung dan kecewa. Kejadian di masa lalu sangat membekas dalam ingatan Hyunji.

Tangan kiri Kyuhyun menepuk-nepuk pundak adiknya. "Tapi sekarang tidak masalah, kejadian itu belasan tahun yang lalu. Aku sudah memiliki kalung yang baru. Lagipula, aku sudah cukup senang karena kau tidak menghilangkan kalung lagi untuk yang kedua kalinya." Ucapnya menenangkan.

Hyunji menyentuh bandul kalungnya. "Ne, sekarang kalung kita memiliki tulisan 'Hyun' dengan huruf alfabet. Tanpa perbedaan lagi seperti dulu." Inilah yang disukai oleh Hyunji, setelah appa marah luar biasa, beliau langsung menghubungi perancang kalung itu lalu memesan sebuah kalung lagi. Hingga kini keduanya memliki kalung yang sama persis.

"Hyunji-ya, berjanjilah untuk tidak melepaskannya apapun yang terjadi. Namun tetap sembunyikan kalung ini. Tetap lanjutkan tugasmu untuk menjaga kalung itu sampai kapanpun, tapi kau tidak boleh sembarangan membiarkan kalungmu terekspos begitu saja." Ucap Kyuhyun tenang dan penuh permohonan. Hatinya tergerak secara spontan mengatakan kalimat tersebut.

Hyunji mengernyit. "Memangnya kenapa? Ada apa?" Bertanya alasan yang jelas. Tidak biasanya Kyuhyun melontarkan kalimat yang terkesan abstrak tanpa keterangan apa atau mengapa.

Menghela nafas pelan, Kyuhyun terkekeh kecil lalu mengacak rambut yeoja bermata biru itu. "Aku hanya tidak ingin semuanya tau kalau kita memiliki kalung yang sama." Jawabnya ringan yang terdengar cukup logis di telinga Hyunji.

"Ah, kau membuatku was was saja." Sepasang netra Hyunji mengerjap, ia mengangkat tangannya untuk balas merangkul bahu Kyuhyun.

"Kau tidak perlu cemas, aku menyembunyikan kalungku dengan baik di balik kemeja. Bukankah kau juga melakukan hal yang sama? Tentu saja aku akan menjaga dan menyembunyikan kalungku sampai kapanpun." Bibir Hyunji bergerak dengan cepat kala mengucapkan hal tersebut.

Mengangguk mantap. "Ya, kalungku tersembunyi dengan baik..."

"Kau tahu tidak? Sampai saat ini, ketika aku kesepian, aku suka memandangi foto kelurga kita yang tersemat di dalam bandul." Ada binar rasa rindu bercampur kesenangan di sana. Binar yang tersirat samar sehingga tidak semua bisa menyadarinya.

"Eoh, foto Kibum oppa sungguh menggemaskan." Hyunji tersenyum lebar, ia membuka liontin kalung yang dikenakannya lalu melihat potret bocah lelaki dengan gigi depan yang baru tanggal. Mirip seperti jendela.

"Hahahaha, Kibum hyung pasti menjewer telingamu karena menyebutnya 'menggemaskan'." Kyuhyun tertawa lepas, pikirannya membayangkan ekspresi Kibum yang bersungut-sungut karena disebut 'menggemaskan'.

Hening sejenak. Keduanya sama-sama menatap bayangan tubuh masing-masing yang tercetak di cermin. Pikiran mereka berkelana menjelajahi banyak hal yang terjadi belakangan.

"Ada satu pertanyaan yang sampai saat ini masih mengggangguku." Gadis bermata biru itu mulai berpikir jika bertanya sedikit bukanlah sebuah masalah besar.

Kyuhyun mengangkat sebelah alis. "Pertanyaan apa?"

"Sebenarnya yang terlahir lebih dulu itu aku atau kamu?" Si gadis bermata biru akhirnya mampu melontarkan pertanyaan yang selama dua puluh tahun mengganjal di otaknya.

Mengendikkan bahu acuh, "Aku juga tidak tahu... Kita sepakat berganti posisi setiap appa marah. Yang dimarahi harus menjadi adik." Salah satu sudut bibir Kyuhyun tertarik membentuk sebuah seringai.

Ya, kesepakatan konyol tentang yang dimarahi harus menjadi adik adalah kesepakatan mereka sejak kecil yang masih mereka anut sampai sekarang karena diantara keduanya, tidak ada yang tahu siapa yang terlahir duluan.

Sang gadis mengerlingkan matanya, "Itu mengesalkan. Akulah yang sering dimarahi oleh appa karena tidak menuntaskan kursus memasak, piano, dan menjahit." Hyunji merasa kesal karena dirinya yang lebih sering mendapatkan omelan. Kibum dan Kyuhyun diasuh dengan didikan yang sama, namun dirinya tidak. Terlalu banyak kursus memasak, menjahit, tata krama yang diikuti Hyunji atas perintah sang appa. Terkadang, semua hal itu membuatnya muak. Bahkan sangat sering ketika gadis itu merasa bosan, pilihan kabur untuk menghampiri tempat latihan karate Kyuhyun dan Kibum selalu dilakukannya.

Kyuhyun tertawa lepas. "Hahahaha, ingatlah Hyunji-ya. Kita ini saudara yang diadopsi, tidak ada yang tau siapa yang lahir terlebih dahulu. Bahkan saat kecil, appa dan eomma membebaskan kita untuk memilih siapa yang menjadi kakak ataupun adik." Inilah sebuah kenyataan yang terungkap beberapa tahun silam. Mereka berdua hanyalah anak adopsi yang diambil dari panti asuhan.

"Kau benar Kyu... Itulah alasannya kenapa aku malas memanggilmu 'oppa' karena pada akhirnya kita akan bertukar lagi." Hyunji mengerjap. "Ah, tapi saat kita batita. Akulah yang menjadi kakakmu." Lanjutnya dengan nada kebanggaan yang membuncah. Menjadi kakak adalah sesuatu yang berkesan bagi Hyunji karena dia bisa menyuruh-nyuruh Kyuhyun melakukan beberapa hal.

Senyuman di wajah Kyuhyun menguap seketika berubah menjadi cebikan jengah. "Itu karena aku belum lancar berbicara Hyunji-ya." Maniknya berputar malas menanggapi kenyataan yang memang benar adanya di masa lampau.

"Kyunnie... Sini peluk nuna!" Hyunji membalikkan tubuh, merentangkan kedua tangannya dengan semangat.

Bergidik ngeri, Kyuhyun mengambil langkah menjauh. "Kau lebih terlihat seperti tante genit daripada menjadi seorang kakak." Wajahnya menunjukkan ketidak sukaan yang kentara. Mimpi apa dia kemarin? Hyunji sangat tidak pantas bersikap sok manis.

"Aigooo, tidak bisakah kau berhenti menggodaku satu kali saja?" Mengerucutkan bibir kesal. Hyunji mengubah tangan yang tadinya ia rentangkan menjadi bersedekap di depan dada.

Menggeleng beberapa kali. "Aniya! Menganggumu adalah kesenangan tersendiri bagiku. Hahaha!" Tawa renyah itu mengikis rasa sedih yang tadinya menumpuk di hati Hyunji kala terbesit kejadian mengesankan saat mereka balita.

Keduanya kemudian kembali membahas kejadian masa kecil mereka. Sesekali, tawa lepas meluap diantara keduanya.

Sebenarnya, hanya ini yang bisa dilakukan Kyuhyun. Ia tahu perasaan lain yang dirasakan oleh Hyunji. Gadis itu tidak tampak dalam suasana hati yang baik meski keduanya selalu tertawa. Semuanya karena Hyunji adalah bukan seseorang yang mudah mengungkapkan perasaan atau suasana hatinya yang buruk. Tidak mungkin juga Kyuhyun yang mulai bertanya, Hyunji bukanlah orang yang mudah mencurahkan isi hatinya dengan mudah. Apapun itu, dikala rasa sedih mendatangi si gadis bermata biru, Kyuhyun hanya bisa untuk tetap berada di sampingnya untuk mengikis perasaan buruk yang dirasakan gadis itu dengan caranya sendiri.

.

.

.

.

.

.

.

Sore itu, dua sosok bersetelan serba hitam yang membalut tubuh keduanya saling duduk berhadapan dengan fokus yang penuh pada laptop mereka masing-masing.

Gadis satu-satunya di ruangan itu mengangkat kedua tangannya keatas kepala ketika pegal menghinggapi kedua bahunya.

"Aku pegal sekali." Si gadis bersuara. Mengeluh adalah kebiasaan yang paling sering diucapkannya.

"Bahu dan mataku pegal karena terlalu lama menatap laptop. Hei, Kyu. Istirahatkan dirimu." Keluhnya sekali lagi.

Hyunji, gadis itu hanya mencebikkan mulutnya ketika laki-laki didepannya tidak memberi respon apapun. "Aku berbicara denganmu, tuan muda yang sibuk." Sunggutnya kesal.

"Katakan saja." Singkat Kyuhyun.

"Aku baru saja mengatakannya padamu!" Astaga! Hyunji benar-benar bisa naik darah hanya dengan meladeni sifat Kyuhyun yang selalu mengacuhkannya.

Kyuhyun masih tidak mengalihkan matanya dari laptop. "Apa yang kau bicarakan?"

"Lupakan." Hyunji meletakkan laptopnya di meja lalu menyandarkan kedua kakinya di meja.

Menyadari bahwa gadis sebelahnya setengah merengut, Kyuhyun akhirnya mengangkat tatapannya. "Apa? Apa yang kau katakan tadi?"

"Bagaimana?" Hyunji justru balik bertanya dan duduk mendekat.

"Apanya yang bagaimana?"

Sang gadis menghela nafas. "Menurutmu apalagi? Tentu saja aku menanyakan hasil uji sampel darah di dalam kaleng."

"Ahh, hasilnya masih belum keluar. Kepala tim forensik Im kesulitan meneliti sampel tersebut saat jam kerja, jadi ia menyusup ke laboratorium ketika hari minggu."

Mereka memang sepakat untuk meneliti lebih lanjut 'surat kaleng' misterius yang ditemukan tepat dua hari lalu. Mereka melakukan penyelidikan ini bukan tanpa maksud. Katakanlah ini adalah 'Penyelidikan tersembunyi' mungkin itu istilah yang lebih tepat dibanding 'penyelidikan ilegal'.

"Aku sudah penasaran. Sangat!" Hyunji menutup laptonya agak keras, meletakkan benda itu ke atas meja. Mimik kesal di wajahnya tampak jelas.

"Bukan hanya kau yang merasa penasaran disini, nona." Kyuhyun menyandarkan punggungnya ke sofa setengah malas. Tidak berminat melontarkan gagasan sarkastik yang biasa dilakukannya.

Cklek

Pintu terbuka, memunculkan siluet tubuh tinggi tegap yang berjalan sembari mengendong sekotak kardus.

"BERKAS BARU!" Pendatang itu berseru kencang, membuat kedua detektif yang bergelut dengan pikirannya terlonjak kaget karena tidak memyadari kedatangan sosok berpangkat tinggi itu.

Atensi Kyuhyun menatap nyalang pada orang yang mengagetkannya. "Donghae hyung, aku pikir kau tahu tentang tata krama untuk mengetuk pintu sebelum masuk." Sindirnya.

Sang kepala polisi malah menolehkan kepala menatap sang detektif baru yang memandangnya datar. "Wahh, detektif Hyun ternyata ada di sini." Ucapnya berbasa-basi. Nyatanya, Donghae sudah tau jika sepasang kakak adik itu berada di satu ruangan sejak pukul 8 pagi, entah untuk mendiskusikan apa.

Fokus Hyunji berpindah dari wajah sang kepala polisi menuju ke kotak kardus. "Berkas apa yang oppa bawa?" Sepasang maniknya berbinar penasaran.

"Ini berkas kiriman yang baru saja datang. Kasus pembunuhan berantai, dokumen 258." Sang kepala polisi menaruh kardus tersebut ke atas meja. Membiarkan dua pasang mata menatap kardus itu dengan lekat.

Mengulum senyum, Hyunji menatap ragu ke arah Donghae yang sudah dianggapnya sebagai kakak ke 3 setelah Kyuhyun dan Siwon. "Boleh aku melihatnya?"

"Tentu. Buka saja."

Kardus pun terbuka, di dalamnya terlihat banyak keping CD, album foto, beberapa amplop, lalu tumpukan dokumen yang tertumpuk rapi. Masih ada barang-barang lain yang pastinya merupakan barang bukti penting.

Dengan semangat, Hyunji meraih satu dokumen yang berada paling atas. "Eh, kenapa dokumennya bernomor 233?"

Kyuhyun beranjak dari sofa, ia menghampiri Hyunji yang berdiri bersebrangan dengan sang kepala polisi. "Jangan bercanda!" Tidak percaya ketika Hyunji mengatakan sebuah nomor dokumen kasus yang berbeda. Salah paket bukanlah sesuatu yang pantas terjadi.

"Ada suratnya." Sang kepala polisi mengambil sepucuk surat yang juga berada di atas lalu memberikannya pada Kyuhyun.

Tatapan detektif Cho menajam, tanda jika ia mulai berkonsentrasi penuh. Dengan cepat tangan Kyuhyun membuka amplop surat tersebut. "Kepala kepolisian Lee. Berkas 233 diduga berkesinambungan dengan berkas 258." Sederet kalimat itu menjelaskan setidak wajaran yang ada. Apalagi? Berkesinambungan? Yang benar saja!

"Aigoo... Kasus ini sudah sangat tua. Kenapa kita harus membongkar satu lagi kasus lama?" Bibir Hyunji bergerak untuk menggerutu ketika ia melihat tanggal yang tercetak di halaman pertama dokumen.

Sepasang manik mata detektif Cho bergerak menjelajahi deretan huruf. "Kasus pembunuhan nomor 233. Identifikasi TKP menunjukkan jika korban adalah CEO Lee Corp bernama Lee Donghwa usia 37 tahun." Kyuhyun membaca kalimat kedua yang tercetak di surat itu.

Deg!

Terpaku, Lee Donghae - sang kepala polisi itu merasa pikirannya tersedot ke masa lalu. Nama, perusahaan, umur yang didengarnya telah membuat dampak luar biasa pada tubuhnya. Netranya mendadak kosong seolah tak ada gairah hidup di sana.

Sementara itu kedua detektif muda tidak menyadari perubahan signifikan yang terjadi pada sang kepala polisi. Mereka terus saja membongkar-bongkar dokumen yang lainnya.

Dengan santai Hyunji membuka halaman terakhir dari dokumen yang dibawanya. "Korban bernama Lee Donghwa ditemukan tewas dengan kondisi mengenaskan, tusukan di bagian perut dan beberapa sayatan tajam di bagian lengan serta bahu sebelah kiri. Hasil olah TKP tidak menunjukkan adanya bukti jejak DNA si pelaku yang tertinggal. Rekaman CCTV bahkan para penjaga mansion Lee berhasil dilumpuhkan oleh tersangka."

"L-lee Dong-donghwa." Suara tersendat dari kepala polisi sontak saja membuat Hyun bersaudara menatap ke arahnya.

Heran, keduanya menaikkan sebelah alis begitu melihat wajah sang kepala polisi yang sudah seputih kertas. "Kepala polisi Lee, anda baik-baik saja?" Kyuhyun menyentuh bahu Donghae.

Tersadar dari masa transisinya. Donghae mengerjap masih dengan tatapan kosong. "Ini berkas tentang kasus kematian orangtuaku." Bibirnya mengucapkan sebuah kalimat yang sukses menyentak Hyun bersaudara.

Tuk

Terkejut.

Ya. Keduanya terkejut.

Obsidian Hyunji bahkan terbelalak lebar dan tangannya secara refleks menjatuhkan dokumen yang dibawanya ke atas lantai begitu saja. "A-apa?" Terbata-bata. Ini sebuah kejutan luar biasa yang mampu membuat otaknya macet.

"Orangtua?"

Diam, namja bernama Lee Donghae hanya menganggukkan kepalanya singkat sebagai pembenaran. Pikirannya masih kalut, kasus 233 memang dihentikan penyelidikannya karena bukti yang kurang akurat untuk meringkus sang pelaku.

"Aigoo... Kepalaku terasa berputar." Tangan kanan Hyunji terangkat memijat pelipis, kepalanya terasa pening.

Kyuhyun menghela nafas, ia menarik lengan Donghae, membawa namja itu agar duduk di atas sofa untuk menenangkan psikisnya. Wajah si kepala polisi bahkan sudah seputih mayat sekarang.

Srak

Srak

Srak

Tangan Kyuhyun bergerak cepat mengeluarkan apapun yang ada di dalam kardus. Menata semua barang ke atas meja dengan runtut berdasarkan nomor seri yang tercetak.

233 dan 258. Rupanya kardus itu memuat dua berkas yang sudah berlabel nomor sebagai penanda. "Hyun, kau bertugas memeriksa berkas 233. Berkas 258 biarkan aku yang mengatasinya." Ini keputusan final. Membongkar kasus lama bukanlah perkara mudah, apalagi jika berkasnya sebanyak ini jika digabungkan dengan berkas 258 yang sudah mereka bongkar kemarin.

"Baik." Hyunji mengangguk mantap. Akhirnya ia mendapatkan satu tugas yang lengkap tanpa berbagi jatah dengan Kyuhyun.

"Kita perlu merangkum kejanggalan yang terdapat pada kedua berkas ini. Jika perlu, kita harus mendatangi TKP atau jika memang dibutuhkan kita akan mengumpulkan ulang alibi saksi mata." Suara datar Kyuhyun saat melontarkan strateginya membuat Hyunji mengernyitkan dahi.

Nada yang datar tanpa intonasi itu membuat ingatan Hyunji berputar pada masa tertentu. Saat Kyuhyun menatap semuanya bagaikan warna abu-abu. Ya, warna yang paling dibenci oleh Kyuhyun hingga saat ini.

.

.

.

.

.

"Kencan buta?" Alis Kyuhyun terangkat sebelah mendengar sepasang kata yang diucapkan Hyunji.

"Eomma, usiaku memang 22 tahun dan cukup produktif untuk mencari pasangan. Tapi… ah, ayolah. Karirku di dunia detektif baru saja dimulai. Aku baru mendapatkan kasus baru. Aku tidak bisa membuat prioritas yang membuatku harus memilih antara menjadi kekasih yang baik dan detektif yang hebat. Aku tidak bisa…" Suara gadis bermata sebiru samudra itu bahkan terdengar merengek sekarang.

"Andwae! Aku tidak mau!" Penolakan tegas terucap sudah dari bibir merah Cho Hyunji.

Pipp

Sambungan telefon diputuskan secara sepihak oleh Hyunji. Kakinya menghentak keras lantai marmer yang mengkilap dengan sepatu pantofel hitamnya.

Kyuhyun mendengus, melihat ekspresi adiknya yang tertekuk sedemikian rupa bukanlah sesuatu yang menarik. Namun melihatnya itu seperti lama-lama ia gemas sendiri.

"Jujur saja, apa yang dikatakan eomma tidak buruk juga. Pergilah kencan dengan seseorang, mengajak komitmen lebih lanjut dengannya, dan menikah. Kau bisa berikan aku keponakan yang lucu dan mungkin bisa beralih menjadi seorang fashion desainer untuk kehidupanmu selanjutnya." Sekalipun Kyuhyun tak habis pikir. Adiknya itu mempunyai postur tubuh proporsional, cukup menjual sebagai artis atau model kelas kakap.

"Telingaku panas sekali mendengar itu, Kyuhyun. Tidak ada yang bisa mendepakku dari kantor kepolisian. Sekalipun yang menyuruhku adalah calon kekasihku, eomma, bahkan kau! Tidak ada yang bisa." Sepasang mata Hyunji berkilat tajam, ia tidak suka diperintah untuk meninggalkan sesuatu yang memang disukainya.

"Detektif Hyun. Berikan rasa pedulimu pada eomma, berpikirlah logis siapa lagi yang akan meneruskan Daily Fashion jika bukan anda?" Masih tidak mengalihkan topik bahasan, Kyuhyun melanjutkan aksi pengarahannya.

Gadis bermata biru itu mendelik. "Istrimu saja." Ucapnya sarkastik.

"Istriku? Itu masih lama. Aku akan menikah ketika berumur 30 tahun. Lagipula, tidak baik juga apabila seorang gadis terlalu lama menunda pernikahannya." Jawab Kyuhyun santai. Ia melangkah mendekat menghampiri Hyunji yang masih mempertahankan tatapan membunuhnya.

Tangan Kyuhyun mendarat di bahu Hyunji, memutar tubuh gadis itu agar menghadap ke arah cermin yang bertengger manis melekat di dinding. "Lihatlah! Kau ini seorang gadis. Kau memang bukan shoppaholic yang menggilai department store setiap hari. Tapi semua barangmu diambil dari brand terkenal. Jam tangan Rolex, Alexandre Christie. Tas Gucci... Oh, apalagi? Sepatu, Perhiasan, bahkan mobilmu lebih mahal dibandingkan mobilku." Kyuhyun mulai mengabsen setiap barang yang dimiliki adiknya. "Toner, milk cleanser, face cream, foundation, concealer, bedak, eye liner, maskara, lip gloss, lip stick, eye shadow, blush on, penjepit bulu mata. Semua itu menghiasi nakas kamarmu. Facial foam, lulur, sabun, pasta gigi, masker, deodorant, mouthwash. Terpajang rapi di kamar mandi. Lotion, parfum, lip stick, dan sun cream. Tidak pernah absen menghuni tas selempangmu." Lanjutnya dengan lugas tanpa melewatkan satupun jenis kosmetik adiknya yang pesolek namun berkepribadian layaknya seorang namja karena tidak menyisakan kesan anggun sedikitpun.

"Aku tetaplah seorang wanita biasa yang membutuhkan komestik. Lalu apa masalahmu?" Dagu Hyunji terangkat, ia menyentak keras tangan Kyuhyun yang ada di bahunya.

"Selamat detektif Hyun. Anda berhasil membangun toko kosmetik di apartment ini." Ucap Kyuhyun dengan santai namun tetap menyisakan sindiran halusnya.

Tersenyum miring, Hyunji mendengus sekali lalu terkekeh layaknya anggota mafia yang tengah menghadapi rivalnya. "Aku tersanjung. Rupanya oppa mengingat semua barang milikku dan mampu mengingatnya satu persatu."

Brakkk!

Dengan kecepatan luar biasa, Hyunji mendorong tubuh Kyuhyun ke dinding. "Berhenti merecoki hidupku, Cho Kyuhyun!" Peringatnya tegas dengan sepasang onix yang berkilat tajam. "Sekali lagi kau menyuruhku berhenti menjadi detektif, saat itulah aku akan mencekikmu dengan tanganku sendiri." Hyunji mencengkram erat kerah kemeja Kyuhyun, tidak perduli meskipun cengkramannya sudah menyerupai cekikan erat.

Brakkk!

Membalikkan keadaan, Kyuhyun menyentak keras cekikan Hyunji lalu mendorong gadis itu ke sisi dinding yang lain. "Kekuatanku jauh lebih besar darimu Hyunji-ya. Kaulah yang harus menjaga sikap, jadilah adik yang baik." Tersenyum simpul setengah meremehkan.

Puk

Puk

Puk

Kyuhyun menepuk-nepuk kepala Hyunji dengan ringan.

"Sialan kau Detektif Cho!" Nafas Hyunji menderu, ia mengumpat keras tak perduli akan aturan tata krama.

"Simpan tenagamu. Kasus pembunuhan berantai keluarga Kim mulai diselidiki besok." Kyuhyun berjalan menjauh meninggalkan adiknya.

"Aku bersumpah akan mencekikmu, jika kau memperlakukanku dengan tidak elit sekali lagi." Hyunji tidak pernah main-main. Apapun akan dilakukannya untuk mempertahankan posisinya.

"Ya ya ya. Silakan saja jika kau ingin mendapat berita pagi yang konyol tentang seorang kakak laki-laki mati dicekik yang dibunuh adik perempuannya hanya karena tidak mau disuruh menikah. Aigoo."

Hyunji berdecak kesal. Ia kemudian meninggalkan Kyuhyun dengan kaki setengah menghentak

Posisi sebagai detektif agar ia bisa membongkar sesuatu yang berkaitan dengan Kyuhyun. Ya, ia harus bergerak cepat sebelum Kibum mengambil alih segalanya.

.

.

.

.

.

Dinding putih bersih itu masih berdiri dengan kokoh. Jam yang tergantung di sana masih juga berdetik dengan teratur. Waktu tidak bisa ditarik ataupun dipercepat, itulah ketentuan yang sudah digariskan oleh Tuhan. Waktu akan berlalu dan menyisakan sebuah kenangan untuk kita. Kenangan akan sebuah cerita pahit ataupun manis perjalanan hidup.

Sepasang saudara berbeda gender terlihat menempati sebuah ruangan yang sama. Namun salah satu dari keduanya tampsk membulatkan mara disertai ekspresi terkejutnya.

"OH MY GOD! CHO KYUHYUN, WHAT ARE YOU DOING?" Teriakan keras menggema begitu saja, untungnya telinga si pemilik ruangan sudah biasa mendengar sentakan tanpa peringatan seperti itu.

Si pemilik ruangan - Kyuhyun, memutar bola mata menanggapi adiknya yang labil dan sungguh membuatnya jengah. "Mengemasi beberapa barang." Menjawab dengan malas tanpa menatap sang adik yang kini sudah berdiri di samping kanannya.

"Orang bodoh juga tahu kau sedang berkemas, tapi untuk apa?" Tanya Hyunji lebih lanjut.

Tangan detektif Cho bergerak mengambil banyak dokumen, memasukkannya ke dalam map yang sudah ditandai. "Bersiaplah. Kita akan pergi ke Gangnam."

"Gangnam? Untuk apa?"

"Untuk menyelidiki kasus." Terang Kyuhnyun sekali lagi.

"Kapan?" Bertanya dengan polos. Hyunji benar-benar membuat Kyuhyun jengkel. Bukankah jadwal kegiatan sudah diatur sedemikian rupa.

Kyuhyun menghela nafas, merengangkan lengannya yang terasa kaku karena terlalu lama bergulat dengan berkas-berkas. Namja berkulit pucat itu menegakkan tubuh, berbalik lalu melipat tangan di depan dada. "Besok pagi. Perjalanan sangat panjang, ada 5 kantor kepolisian yang akan kita kunjungi untuk mengirimkan berkas titipan dari kepala penyidik Kim. Detektif Hyun, aku menghimbau agar kau menyiapkan banyak perlengkapan karena kita harus menginap di sana." Kyuhyun berharap otak Hyunji mampu menyerap deretan penjelasan yang telah terlontarkan.

"Berapa lama? dan siapa saja partner yang ikut?" Wajah Hyunji dengan antusiasme yang menggebu, sungguh mirip dengan bocah yang mendengar kata 'liburan'.

"Tiga hari. Kepala polisi Lee Donghae dan death photografer Lee Sungmin." Bibir Kyuhyun mengucapkan dua nama yang akan ikut serta menyelidiki TKP di Dongdaemun.

Kepala Hyunji mengangguk-angguk kecil -reaksinya kala memahami sesuatu- dengan wajah polos. "Hakim Choi Siwon. Tidakkah sebaiknya dia juga diikutsertakan?"

Alis Kyuhyun terangkat sebelah. Heran sekali mendengar nama sang hakim disebutkan dalam situasi seperti ini. "Detektif Hyun, tugas seorang hakim adalah menjatuhkan vonis hukuman pada tersangka. Habitat yang tepat bagi hakim adalah kantor pengadilan bukan menelisik TKP. Andai kau mengajukan jaksa Park Jungsoo, aku bisa mempertimbangkan keikutsertaannya karena tugas seorang jaksa adalah menuntut pelaku. Jaksa juga perlu menelisik TKP untuk memperkuat tuntutannya, namun tetap dalam konteks terbatas yang sudah tercantum dalam prosedur." Pikiran Hyunji haruslah diluruskan dengan cara memperinci segalanya, menunjukkan prosedur secara tidak langsung dengan kalimat sindiran.

Bibir yeoja bermata biru itu mencebik, lalu netranya menatap detektif Cho dengan tajam, mimik wajah yang dikenali jikalau si detektif Hyun sangat kesal karena ucapan barusan. "Detektif Cho, entah kenapa semakin lama tingkat kebencianku padamu semakin tinggi."

Benarkan saja, Hyunji tidak suka ketika Kyuhyun mendikte kesalahannya secara abstrak. Bibir si detektif Cho tersenyum, ia semakin ingin membuat detektif Hyun kesal. "Terima kasih. Frasa yang anda ucapkan sangat indah detektif Hyun. 'BenCi' dalam rumus frasa remaja berarti 'Benih Cinta'. Ahhh, rupanya anda sungguh mencintai saya sebagai kakak."

Mata berwarna biru itu melebar karena terkejut dengan kalimat yang dilontarkan untuk menanggapi jauh dari konteks wajar.

Tap

Tap

Tap

Detektif Cho berjalan meninggalkan detektif Hyun yang masih terpaku dengan ekspresi aneh. Bahkan tubuhnya sudah mirip dengan patung karena terlalu kaku.

"Sampai jumpa di apartemen, detektif Hyun!" Kyuhyun berseru kala kakinya sudah menapak di luar ruangan dan tetap membiarkan pintu tetap terbuka.

Brakkk!

Terkejut? Tidak sama sekali. Namun Kyuhyun menangkap beberapa anggota polisi yang terlonjak kaget. Suara gebrakan tadi tentunya berasal dari Hyunji yang memukul telak meja kayu berpelitur.

"CHO KYUHYUN! AKAN KU CEKIK KUCING PERSIA MILIKMU!" Ancaman menggema ke seluruh ruangan. Kyuhyun mengendikkan bahu acuh, tetap berjalan menjauh menuju lift. Baginya menganggu Hyunji merupakan kesenangan tersendiri yang takkan pernah disia-siakannya.

Di sisi lain koridor, dua pasang mata mengerjap lalu saling melempar pandangan. Kejadian barusan merupakan sesuatu yang tidak biasa terjadi di kantor polisi.

"Aigooo, aku sungguh takjub dengan detektif Cho. Dia mampu bertahan hidup dengan detektif Hyun. Ckckck." Salah satu dari kedua sosok itu yang tak lain adalah kepala penyidik Kim melontarkan keprihatinannya. Hyunji bukan gadis biasa yang akan berlemah lembut, justru cenderung bersikap bar-bar.

"Aku penasaran dengan masa lalu Cho Kyuhyun." Kepala polisi Lee menatap lurus ke arah siluet tubuh detektif Cho yang menunggu di depan pintu lift. Tanpa sadar, ia mengucapkannya dengan lirih.

"Kepala polisi Lee, apa anda mengatakan sesuatu?" Mengernyit heran. Kepala penyidik Kim menangkap kalimat yang tidak biasa.

Tersentak, kepala polisi Lee mengibaskan tangannya. "Ah, aniya! Aku tidak mengatakan apapun."

Tanpa mereka sadari, Hyunji mendengar semuanya. Gadis itu kini menatap kedua namja berbeda pangkat itu dengan tatapan datarnya.

.

.

.

.

.

Flash back

Tempat penuh aturan, buku, dan tuntutan nilai, begitulah sebagian orang memandang bagunan megah yang didirikan sebagai tempat menimba ilmu. Sekolah elit yang hanya diperuntukkan bagi anak-anak orang kaya berpenghasila tinggi.

"Kyu..." Panggilan lirih itu menggema di sepanjang koridor yang mulai sepi. Jam sekolah telah berakhir 10 menit yang lalu, nyaris semua murid telah dijemput oleh orangtua masing-masing.

Tap

Tap

Tap

Langkah sepasang kaki mungil mengetuk lantai berwarna coklat muda yang nampak sedikit berdebu, surai kecoklatan yang dikuncir kuda bergerak-gerak kala kepalanya menoleh ke kanan-kiri untuk mencari sosok saudaranya.

Satu

Dua

Ada dua siswa yang terlihat bercengkrama. Gadis kecil bersurai coklat itu tersenyum tipis. "Hei, apa kalian melihat Kyuhyun?" Ia bertanya dengan antusias pada kedua siswa yang lumayan dikenalinya sebagai anggota tim sepak bola.

"Aniya." Keduanya serempak menggeleng. Secara tidak langsung, jawabab tersebut melunturkan senyuman si gadis kecil.

Hari sudah petang. Gadis kecil itu harus segera menemukan saudaranya yang entah kabur ke mana. "Kyu!" Panggilnya agak keras. Masih cukup berbahaya jika berteriak saat seonsaengnimdeul masih belum pulang.

"Kyu, eodiga!" Semakin lama. Rasa khawatir menyusup dalam hati gadis kecil itu.

Lelah... sepasang kaki berbalut sepatu putih itu sudah terasa lelah karena menyusuri koridor tanpa henti. "Hiks, Kyu... Jangan bercanda! Katakan kau ada di mana?" Sepasang netra berwarna biru mulai berkabut tipis.

Gadis kecil bernama Hyunji itu memutuskan untuk duduk di tengah-tengah korodor sembari menselonjorkan kakinya. Tangannya menakup wajah yang kini sudah berderai air mata.

Brakkk!

Gebrakan keras terdengar dari arah gudang. Hyunji terkejut dan beringsut mundur ke arah tembok.

"Ugggh..." Lenguhan itu membuat sepasang netra Hyunji terbuka lebar. Tidak, ia tidak mungkin salah dengar. Suara tadi pasti berasal dari Kyuhyun.

Gudang itu penuh debu. Banyak meja yang rusak ditumpuk pada satu sisi bagian gudang. Adapula beberapa kardus berisi buku-buku usang yang sudah tidak terpakai lagi.

"Katakan! Apa kau anak adopsi Cho Jaesuk!" Seorang pria bermasker hitam sedang mencekik leher siswa kelas 2 yang tidak lain adalah Cho Kyuhyun.

Sakit... Leher Kyuhyun terasa tercekik dengan lumayan kuat. "..." Tangan Kyuhyun terangkat dan mencengkram lengan pria itu. Namun semua tenaga Kyuhyun tetap saja tidak akan bisa membuat cengkraman tersebut terlepas.

Di koridor...

Hyunji meremas tangannya hingga buku jarinya memutih. Dengan memantapkan keberanian, Hyunji pun mendekati gudang. Tangan kanannya bergerak untuk menggeser kenop pintu.

Deg

Terpaku, sepasang netra Hyunji terfokus pada Kyuhyun yang sudah terlihat sangat kacau dengan banyak luka mengerikan.

"Bocah, cepat katakan!" Pria berpakaian serba hitam itu berteriak marah.

"..." Kepala Kyuhyun menggeleng susah payah. Tidak, ia tidak akan mengatakan kepada siapapun mengenai jati dirinya. Appa dan eomma sudah berpesan agar ia serta Hyunji tidak boleh mengatakan kepada siapapun.

Duaghh!

"Uhuk, uhukk." Kyuhyun terbatuk setelah dihajar dengan keras pada bagian perutnya.

Nafas Hyunji berderu. Ia tidak bisa tinggal diam melihat Kyuhyun dianiaya. "K-kyu..."

Suara lirih yang terbata berhasil membuat si pria menolehkan kepalanya ke arah pintu. Di sana ada gadis kecil dengan netra sebiru samudra yang menatap nyalang ke arahnya. "Ah, si manis yang menggemaskan datang." Pria itu menyeringai di balik masker yang menutupi sebagian wajahnya. Ia hanya memancing dengan satu umpan, namun ikan yang didapatinya ada dua. Sungguh keberuntungan yang sangat bagus.

Tap

Tap

Tap

Langkah kaki Hyunji perlahan mendekati si pria berpakaian hitam. Di atas lantai penuh debu, Kyuhyun beringsut bangkit.

"Hyunji, per-pergi!" Susah payah Kyuhyun meloloskan kata. Seluruh tubuhnya terasa sangat sakit, apalagi tadi ia juga dicekik dengan keras.

"Jahat! Kau ahjusi jahat!" Hyunji memandang penuh benci.

Grep

Dalam satu tarikan. Hyunji sudah berada dalam dekapan erat pria itu. "Akkkh..." Rintih Hyunji ketika bahunya dicengkram sangat erat.

"Kau pasti saudaranya. Katakan! Siapa nama orangtuamu!" Pria itu makin menguatkan cengkramannya.

Hyunji pikir inilah penyebab Kyuhyun disiksa. "Cho Haera dan Cho Jaesuk." Nalar Hyunji hanya menyimpulkan jika ini cara terakhir yang harus dilakukan agar si pria mau melepaskan dirinya serta Kyuhyun.

Pria itu masih menahan Hyunji dalam kungkungannya. "Ternyata benar, kalian berdua adalah anak yang diadopsi oleh Haera dan Jaesuk." Fakta inilah yang dibutuhkannya. Sebuah jawaban sederhana yang mengandung sebuah kenyataan berkesinambungan dengan dendam.

"Lepaskan Hyunji!"

Bugh

"Akkh!" Rintih si pria berbaju hitam ketika sebuah balok kayu menghantam kepalanya. Spontan saja cengkramannya pada bahu Hyunji terlepas.

Bugh

"Bocah kurang ajar!" Pria itu mengumpat, dia berbalik lalu melayangkan serangan balasan.

Duagh

Brugg

Hyunji terkejut, nafasnya menderu kala atensinya menatap sang saudara kembar yang tergeletak dengan kondisi setengah sadar. "KYUHYUN!"

"Akkkh..." Rintihan meluncur, Kyuhyun kecil merasa kesakitan. Teriakan Hyunji hanya terdengar sayup-sayup di telinganya.

Pria misterius itu menatap sengit, tangannya terkepal erat dan bersiap memberikan bogem pada bocah laki-laki yang telah mengusiknya.

"HYUNJI! KYUHYUN! KALIAN DI MANA?" Panggilan dari seorang wanita membuat pria itu tersentak, gerakannya terhenti lalu berjalan mundur. "Sial!" Umpatan terlontar, gurat kemarahan jelas terpantri di wajahnya yang tertutupi.

"Dengar! Kali ini kalian lolos dari siksaanku, namun tidak untuk selanjutnya." Ancaman yang mengerikan untuk kedua saudara kembar.

Cklek

Pintu gudang terbuka, wanita berusia tiga puluh tahunan tampak lega mendapati kedua anaknya di dalam gudang.

Tap

Tap

Dua langkah lebar diambil, wanita itu terbelalak mendapati komdisi yang tidak biasa. Seragam lusuh, rambut acak-acakan, juga beberapa lecet dan memar.

"Hyunji! Kyuhyun!" Tangan wanita itu bergetar, perlahan mendekati Hyunji dan Kyuhyun yang jelas tidak baik-baik saja.

Bibir tipis itu bergerak, sang putra menatap wajah wanita itu dengan sayu. "Eomma ..." Hanya suara lirih, tenggorokan tak mampu lagi bersuara.

Brug

"Aigoo ... Kyuhyun." Tubuh mungil Kyuhyun tergeletak tidak sadarkan diri, napasnya lemah dan tubuhnya terasa dingin.

Flash back off

Gelap.

Dingin.

Sepi.

Ruangan itu sangat temaram dengan seberkas cahaya dari lampu tidur di atas nakas. Dua ranjang berukuran single terletak bersebelahan, nampak dua manusia yang terlelap nyaman di sana dengan selimut putih. Sepoi angin membelai korden jendela yang sengaja dibuka, membiarkan hembusan malam menyusup ke dalam kamar.

"Hiks, hiks..." Sebuah isakan memecah keheningan, mengusik seseorang yang tidur di ranjang sebelah kiri.

Merasa tidak nyaman, tubuh yang terlelap di ranjang kiri mulai menggeliat. Netranya terbuka lalu mengerjap beberapa kali karena kelopak mata yang seakan begitu lengket.

Memicing, mengfokuskan penglihatan pada sosok lain yang tidur satu ruangan dengannya di ranjang sebelah kanan. "Hyunji, kau kenapa?" Melontarkan pertanyaan. Dahi Kyuhyun berkerut saat melihat Hyunji yang bergerak gelisah dalam tidurnya.

"Hiks, Kyu... Kyu..." Isakan itu sekali lagi terdengar disertai gumaman nama.

Panik, Kyuhyun menyingkap selimutnya lalu meloncat turun kemudian duduk di tepi ranjang Hyunji sembari menepuk-nepuk pipinya. "Hei, Cho Hyunji!"

'Hyunji bermimpi buruk' itulah kesimpulan singkat atas keadaan Hyunji yang memejamkan mata erat sembari bergerak-gerak gelisah. Peluh membanjiri tubuh gadis bermata biru itu.

Masih tertutup rapat, lelehan air mata sudah membasahi bantal putih bermotif polkadot. "Hiks... Kyuhyun, jangan mati!"

Deg

'Mati' satu kata yang didengar Kyuhyun dari igauan Hyunji semakin membuatnya panik. Gerangan apa yang menyebabkan Hyunji meloloskan kata 'mati' dalam mimpinya?

"Hei, Cho Hyunji! Ireona!" Kyuhyun berusaha membangunkan, menguncang bahu bahkan mencubiti lengan Hyunji.

Tidak ada respon. Kelopak mata itu masih menyembunyikan sepasang onix sebiru samudra.

Plakk!

Tamparan keras terpaksa dilakukan Kyuhyun. Beruntung sebuah tamparan berhasil menyentak Hyunji dan menarik kesadarannya dari alam mimpi.

"Hah, hah, hah..." Nafas Hyunji tersengal, spontan ia memeluk erat Kyuhyun. Potongan-potongan kejadian yang dilihatnya sungguh mengerikan, masa lalu itu datang dan menyiksanya secara tiba-tiba.

"Aigoo, kau menakutiku!" Tangan Kyuhyun terangkat, membalas pelukan erat Hyunji sambil mengelus punggungnya.

"Kyu, kau tidak terluka?" Pertanyaan rancu itu membuat Kyuhyun tertegun. Kyuhyun menyimpulkan jika Hyunji belumlah tersadar sepenuhnya dari mimpi buruk.

"Ani. Nan gwenchana Hyunji-ya." Tangan Kyuhyun terangkat, menepuk-nepuk pelan kepala Hyunji.

"Hiks, hiks..." Rupanya isakan itu berlanjut, Hyunji menenggelamkan kepalanya di dada Kyuhyun. Tangannya meremas piama bagian belakang Kyuhyun dengan erat, tidak perduli jika kukunya bisa saja patah atau melukai telapak tangannya sendiri. Opsi terburuk, kuku panjang Hyunji bisa melukai punggung Kyuhyun dan merobek piamanya.

"Aigoo, kenapa menangis lagi eoh?" Kyuhyun sungguh mengantuk, ia belum lama terlelap karena mengerjakan banyak berkas.

Ekor mata Kyuhyun melirik ke arah jam dinding, pukul 2 dini hari, berarti baru 3 jam ia terlelap dan harus terbangun paksa karena terusik oleh isakan Hyunji.

"Hiks, aku takut."

Kyuhyun masih berusaha menenangkan. "Uljima, aku di sini. Tak perlu takut Hyunji-ya." Memang ia tidak sepandai Kibum yang bisa menghibur Hyunji kala murung ataupun sedih. Kyuhyun bahkan menjadi manusia pertama yang sering menjahili Hyunji hingga gadis itu menangis keras.

Jujur saja, ini kali pertama Kyuhyun mendapati Hyunji begitu ketakutan karena sebuah mimpi buruk. Kyuhyun sangat tau jika Hyunji bukanlah gadis penakut, ia bisa menghajar puluhan preman, mencari jejak di dalam hutan belantara, maupun membebaskan sandera dari teroris.

"Ahjusi jahat itu datang... Dia datang untuk membunuh kita." Ucapan lirih itu dilontarkan Hyunji tanpa sadar.

Deg

Tubuh Kyuhyun menegang. 'Siapa? Siapa yang dimaksudkan Hyunji? Ahjussi siapa? Lalu kenapa ia dan Hyunji ingin dibunuh?' Rentetan pertanyaan itu muncul secara otomatis memenuhi pikiran Kyuhyun.

Masa lalu, Kyuhyun butuh membongkar masa lalu yang tidak diketahuinya. Tapi bagaimana? Bagaimana caranya ia menyelidiki 'ahjussi' yang dimaksudkan Hyunji? Pasti ada sesuatu yang besar terjadi di masa lampau.

To be continue...