"DON'T GIVE UP!"
Naruto © Masashi Kishimoto
Pair : U. Sasuke x U. Naruto
Genre : Romance & Hurt/Comfort(?)
Rate : M
Warning : AU, Boys Love, Alur Cepat, School life, OOC, non-standard language, typo
All character in this story belong to Kishimoto-sensei, but this story is mine.
Bagi yang gx suka BL atw YAOI, turn Back, please.
Happy reading...
- ©|®©/£ -
Jam di atas nakas menunjukkan pukul sebelas malam lewat, sudah dua jam lebih semenjak jam malam berlalu. Naruto memandang tempat tidur di seberangnya, kosong. Sang pemilik belum juga kembali sejak makan malam. Bukannya ia khawatir atau apa, heh apa pedulinya jika sang Uchiha tidak kunjung pulang. Ia malah berharap dia tidak kembali selamanya sehingga kehidupannya akan kembali seperti semula. Naruto tersenyum sembari menatap langit-langit kamarnya. Hanya saja jika benar Sasuke tidak kembali, ia tidak bisa membalas perbuatannya beberapa waktu yang lalu, memikirkannya membuat Naruto cemberut kembali.
"Aish, kenapa juga gue pusing-pusing mikirinnya?" Naruto memilih untuk segera tidur, besok ia masih harus menghadapi latihan keras dari sang kapten.
Keesokan paginya, semua masih sama. Tempat tidur itu masih kosong. Bahkan saat Naruto 'iseng' meraba alas tidur itu, hanya dingin yang menyapa permukaan kulitnya. Naruto menghela napas. "Apa yang barusan gue lakuin? Arghh ini konyol!" gumam Naruto sambil mengacak surai pirangnya.
Pagi hari yang biasanya ramai oleh celotehan anak-anak kini terasa sepi, maklum ini kan hari Sabtu. Kebanyakan anak-anak akan memilih untuk bangun siang atau bermalas-malasan di kamar masing-masing. Ada juga yang pulang ke rumahnya atau hanya sekedar hang out untuk menghilangkan stres karena pelajaran. Di sepanjang lorong menuju kafetaria, Naruto berjalan pelan sambil menundukkan kepalanya. Entah apa yang sedang dipikirkan si Pirang.
"Hey!" sebuah suara diiringi tepukan pada bahunya membuat Naruto tersadar dari dunianya. Ia melayangkan deathglare pada siapapun yang mengagetkannya.
"Ow..ow.. slow man! Ini masih pagi, udah ngelamun aja." ujar seseorang yang ternyata salah seorang rekannya dalam tim basket, Houzuki Suigetsu. Naruto cuma mendecih. Ia kembali menatap ke depan.
"Heee... malah dicuekin!" gerutu Suigetsu. "Oh ya Nar, mana Sasuke? Bukannya dia ada 'kencan' sama Kakashi-sensei?" lanjutnya melihat keterdiaman si Pirang.
"Kenapa nanya sama gue?" balas Naruto ketus.
"Jelas dong, kan elo yang sekamar sama dia." sahut Suigetsu.
"Meski gue sekamar sama dia, bukan berarti gue tahu semua kesehariannya." ujar Naruto masih terdengar ketus.
"Aish, iya iya deh sorry." gumam Suigetsu diikuti gerutuan pelan.
"Ah, ngomong-ngomong lo bilang ngga tahu berarti Sasuke ngga ada di kamar begitu maksudnya?" sela seseorang tiba-tiba. Kedua makhluk Tuhan yang sedari tadi sedang bersitegang itu kompak menoleh ke belakang. Dan terlihatlah manusia bertubuh tinggi gede berambut oren berdiri tepat di belakang mereka.
"JUUGO!" seru keduanya serentak, kaget.
"Nggg? Kenapa?" tanyanya bingung.
"Sejak kapan lu di belakang kita?" tanya Suigetsu
"Errr sejak kalian ngobrol?" balas Juugo.
"Heh kalo lu mau nimbrung setidaknya kasih tanda-tanda kehidupan elo dong, jangan tiba-tiba nongol. Kaya hantu aja!" ujar Suigetsu membuat Naruto dan Juugo menatapnya aneh. "Kenapa? gue salah ngomong?" lanjutnya. Bukannya menjawab, keduanya malah kembali berjalan meninggalkan Suigetsu yang masih mematung. "Ehhh heyy jangan tinggalin gue!" teriak Suigetsu sambil berlari.
Setibanya di kafetaria, hanya terlihat beberapa anak saja yang mayoritas anak basket. Ketiganya berjalan ke konter makanan dan mengambil jatah masing-masing. "Naru, di sini!" teriak seseorang. Naruto menoleh dan mendapati Gaara sedang melambaikan sebelah tangannya. Naruto berjalan ke arah mereka diikuti Suigetsu dan Juugo.
"Boleh duduk di sini?" tanya Suigetsu yang diangguki oleh Gaara.
"Kenapa lu? Tumben pagi-pagi muka lu udah lecek kaya gitu?" tanya Suigetsu-yang dari sononya emang kepo-pada seseorang yang sedari tadi merebahkan kepalanya di atas meja, mengabaikan sarapannya. Yang ditanya cuma meliriknya sekilas lalu kembali melanjutkan kegiatannya mengetuk-ngetuk meja tidak jelas.
"Oh God, kenapa pagi ini gue selalu dicuekin sih?" keluh Suigetsu lalu memilih melahap sarapannya. Setelahnya hanya terdengar denting peralatan makan dan ketukan di meja.
"Inuzuka, berhenti ngetuk meja ato kepala lo yang bakal gue ketuk pake meja!" desis Naruto rendah. Bak radio yang dimatikan, Kiba langsung mengerem telunjuknya yang hampir mengenai permukaan meja. Ia menatap Naruto dan mendapati aura dewa kematian menguar dari si Pirang. Kiba meneguk ludah susah payah. 'Mampus gue!' batinnya menjerit.
"Sudahlah Naru, Kiba cuma sedang frustasi." ujar Gaara menenangkan si Pirang. Kiba menatap Gaara dengan pandangan Kau-dewa-penyelamatku. Agaknya Naruto sedikit tertarik, ia menoleh ke arah Kiba lalu menaikkan sebelah alisnya.
"Ahh nee-chan gue maksa gue buat masuk jurusan Kedokteran." ujar Kiba memulai ceritanya.
"Hah? Kedokteran? emang lu mau ikut kelas akselerasi?" tanya Sui bingung.
"Nah itu dia yang bikin gue frustasi, gue kan masih kelas dua. Masih ada setahun lagi buat gue masuk universitas tapi nee-chan malah udah ngerencanain masa depan gue." jawab Kiba lesu.
"Tapi bukannya nee-chan lu itu baik, dia udah ngerencanain masa depan adenya dari sekarang?" tanya Juugo.
"Iya sih tapi masalahnya gue ngga tertarik masuk kedokteran, gue maunya jadi arsitek." timpal Kiba sedikit emosi.
"Ya lu tinggal bilang sama nee-chan elo lah, bereskan?" kata Sui enteng.
"Kalo masalahnya segampang itu sih gue ngga bakal pusing kaya gini. Nee-chan gue ngga ngijinin dan semua keluarga gue juga setuju. Mentang-mentang keluarga dokter, gue juga harus ngikutin jejak mereka." Kiba pun kembali merebahkan kepalanya di atas lain hanya terdiam, menatap prihatin pada sang bungsu Inuzuka.
"Oh God apa yang harus gue lakuin? Jalan mana yang mesti gue pilih?" keluh Kiba.
"Konyol, tentu saja jalan yang benar." ujar Naruto sambil meletakkan peralatan makannya, ia sudah selesai.
"Huh?"
"Kalo elo milih jalan yang salah yang ada elo malah nyasar. Makanya gue bilang pilih jalan yang benar." terang Naruto. Semua makhluk yang satu meja dengannya sweatdrop berjamaah.
"Nar, ngga lucu." ujar Kiba.
"Lucu? Lo kira gue lagi ngelawak gitu? Gue serius sialan." balas Naruto emosi. Sepertinya kali ini si Pirang positif salah fokus.
Setelah mengakhiri pembicaraan yang mulai tidak jelas itu, mereka memilih untuk melakukan pemanasan di gymnastium, kecuali Kiba yang memang bukan anggota tim basket. "Naru, besok kalo ngga ada latihan temenin gue ke perpustakaan ya?" ujar Gaara. Naruto cuma menganggukkan kepalanya membuat Gaara tersenyum lalu berlari mengambil bola setelah mengacak surai si Pirang.
- ©|®©/£ -
Hari semakin beranjak sore, anak-anak mulai membereskan bola-bola yang habis dipakai ke dalam keranjang. Terlihat Neji berjalan ke arah Naruto.
"Naru." panggilnya setelah cukup dekat dengan si Pirang. Hanya terdengar gumaman tidak jelas sebagai balasannya. Semua anak yang tersisa di sana langsung menghentikan kegiatan masing-masing, mengalihkan atensi kepada dua orang yang sedang berhadapan itu.
"Pas istirahat gue ke ruang guru buat nyerahin laporan hasil latihan ekskul basket terus ketemu sama Kakashi-sensei, beliau nanya apa Sasuke latihan hari ini? Gue jawab kalo dia ngga dateng, ijin buat nemuin beliau. Tapi sensei bilang kalo Sasuke ngga dateng ke kantornya."
"Terus apa hubungannya sama gue?"
"Elo kan yang sekamar sama dia, pasti lo tau kan kemana Sasuke pergi?"
"Pasti?" balas Naruto emosi. "Sial, emang gue orang tuanya yang kemana pun dia pergi harus pamit sama gue?"
"Huh?"
"Gue ngga tau! Kenapa ngga ngehubungin lewat ponselnya aja?"
"Ah! Bener juga. Kalo begitu cepat telepon Sasuke sekarang!" titah Neji seenak rambut panjangnya.
"WTF, telepon aja sendiri!"
Setelahnya Naruto berbalik dan berlalu meninggalkan yang lain dalam keterdiaman. Neji berbalik memandang anggota timnya. "Dia kenapa? Apa ada yang salah sama perkataan gue?" tanya Neji bingung yang dibalas helaan napas dan tepokan jidat dari anggotanya.
"Ngga ada kok kapten, cuma kurang peka aja." balas Suigetsu lalu meraih bola terakhir sebelum memasukkannya ke dalam keranjang.
"Kurang peka? Hei apa maksudnya?" Namun Suigetsu sudah melenggang keluar gymnastium bersama yang lain.
Naruto menyusuri koridor sekolah yang sepi. Dari sini ia bisa melihat anak-anak lain bercengkrama dengan para siswi dari sekolah putri. Yeah Konoha Academy adalah sekolah lanjutan tingkat atas berbasis asrama yang terdiri dari dua bagian, sekolah putra dan sekolah putri. Bahkan asrama mereka pun dipisah. Para murid hanya diperbolehkan keluar area sekolah jika akhir pekan.
Naruto tersenyum kecut saat mengingat kenapa dia bisa berakhir di sekolah membosankan ini. Dan ngomong-ngomong soal membosankan, apa yang akan ia lakukan setelah ini? Inikan malam minggu, tak ada salahnya kan kalau dia pergi keluar? Sudah lama ia tak ke sana. Naruto mempercepat langkah kakinya menuju kamarnya.
Tigapuluh menit telah berlalu. Kini Naruto sudah siap untuk pergi. "Oke, let's go!" ujar Naruto dan keluar meninggalkan kamarnya. Dengan lihai Naruto menghindari teman-temannya yang hendak menuju ke kafetaria. "Huft, akhirnya bisa keluar juga. Bakal repot kalo mereka liat gue pergi." gumamnya sambil melewati gerbang megah sekolah untuk kedua kalinya semenjak dirinya menginjakkan kaki di Akademi ini.
Naruto menarik napas dalam-dalam. "Hahhh gue bahkan lupa rasanya udara bebas kaya gini." Ia pun kembali berjalan menyusuri trotoar mencari halte terdekat. Tak jauh dari tempatnya terlihat sebuah halte yang cukup sepi untuk ukuran di tengah kota dan jam pulang kerja seperti ini. Tak mau memikirkannya lebih jauh, Naruto mendekati halte tersebut. Ia memilih duduk di tepian halte, hanya ada empat orang termasuk dirinya yang sedang menunggu bus selanjutnya.
Naruto melirik jam tangannya sekilas. Jam enam lebih lima. "Ah masih sempat ke konbini." gumamnya kemudian clingak-clinguk mencari tempat yang dimaksud. Setelah menemukannya, Naruto melangkah menjauhi halte. Namun ia merasa sedari tadi ada seseorang yang menatapnya. Ia menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang. Sembari menyipitkan kedua matanya, Naruto mengamati sekeliling. 'Mungkin cuma perasaan gue.' pikirnya lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Lima belas menit kemudian, Naruto sudah berada di halte yang sama dengan beberapa kantong belanjaan di kedua tangannya. "Semoga mereka suka." gumamnya sambil menatap kantong-kantong tersebut lalu tersenyum kecil.
"Heh, ternyata lu bisa tersenyum manis juga." ujar sebuah suara yang membuat Naruto hampir terjungkal dari tempat duduknya sangkin kagetnya. Naruto menoleh ke sumber suara dan mendapati sumber kekesalannya sepanjang hari ini sedang duduk menumpukan sebelah kakinya di atas tempat duduk.
"Teme!"
Sasuke melambaikan sebelah tangannya lalu menarik sedikit sudut bibirnya ke atas, "Hai~"
Kekesalannya yang sudah reda kini kembali muncul di permukaan. "Ngapain lu di sini? Darimana aja lu?!" tanya Naruto yah meski lebih cocok disebut bentakan.
"Wow, gue ngga nyangka elo khawatir sama gue." balas Sasuke dengan seringaiannya.
"Cih, jangan terlalu berharap sialan. Gue cuma capek selalu ditanyai tentang elo sama yang lain." ujar Naruto kesal. Sasuke terkekeh mencemooh. "Araa... tanpa keberadaan gue pun masih bisa bikin lo menderita eh? Kedengarannya menyenangkan."
Naruto menatap Sasuke nyalang, "Lo tau teme, elo itu kesialan buat hidup gue." Keheningan menyelimuti keduanya dan menyadarkan Naruto jika hanya ada mereka berdua saja di halte tersebut. Hanya gemerisik dedaunan diterpa angin dan suara lagu metal dari toko seberang halte yang terdengar, sesekali bunyi kendaraan ikut mengisinya.
Sasuke menengadahkan kepalanya, menatap langit berbintang di atasnya. "Hontou ni?" gumamnya pelan. "Tentu saja." lanjutnya lalu terkekeh yang anehnya terdengar sedih? di telinga Naruto. Sasuke beranjak dari tempatnya dan mulai berjalan menjauhi halte.
"Kalo ada yang nanyain gue lagi, bilang aja udah mati." ujar Sasuke. Naruto mematung di tempatnya, memandangi sosok Uchiha bungsu yang kian menjauh sebelum berbelok masuk ke dalam gang. Hingga bunyi klakson bus membuyarkan lamunannya. Naruto melangkahkan kakinya menaiki bus dan berjalan linglung ke arah tempat duduk yang kosong.
Kedua shappirenya menatap kosong jalanan. 'Apa yang telah gue lakuin? kenapa gue ngomong kaya gitu?' batinnya. Tapi bukannya semua itu benar? Semenjak dirinya bertemu dengan Sasuke hidupnya tak pernah 'tenang' seperti dulu. Ada saja hal yang berpotensi membuatnya terkena hipertensi dan itu semua selalu bersumber dari Sasuke. Sebenarnya kalau Naruto boleh jujur ia sendiri tidak tahu kenapa Sasuke selalu saja mencari gara-gara dengannya.
Bunyi dering ponsel mengalihkan pikiran sekaligus tatapannya dari jalanan. Naruto merogoh saku jaketnya dan melihat sebuah panggilan di layar smartphonenya.
'Okaa-san calling...'
Kedua matanya langsung berbinar senang, tanpa pikir panjang ia langsung mengusap tombol hijau lalu menempelkannya ke depan telinga.
"Moshi-moshi" jawabnya kelewat senang.
"..."
"Ne, Naru baik-baik saja. Bagaimana dengan Kaa-san?"
"..."
"Hai"
"..."
"Ketemu?" tanya Naruto antusias.
Namun raut senang itu langsung hilang secepat datangnya. "Gomen Kaa-san. Naru tidak bisa, Naru sudah ada janji dengan teman Naru tadi." balas Naruto lalu menggigit bibirnya. "Ne, jaa." dan sambungan pun terputus. Naruto menatap nanar layar ponselnya, "Ngga, hidup gue udah hancur sejak saat itu." Ia mengertakkan giginya. Sepanjang sisa perjalanannya hanya diisi isakan dalam diam.
...
Hari Minggu pagi di Konoha sama saja dengan hari-hari yang lain, ramai. Namun bedanya jalanan ramai oleh orang-orang yang berolahraga dan salah satunya adalah pemuda dengan surai seterang mentari pagi. Naruto berhenti sejenak dari acara lari paginya. Sekolahnya masih jauh di depan sana, ia memutuskan untuk istirahat dulu di bangku dekat taman. Ia menjatuhkan tubuhnya di bangku lalu mengusap peluh di wajahnya. Ia meraih botol air mineral yang sedari tadi dibawanya lalu membuka tutupnya. Naruto meneguk air mineral itu dengan rakus, ia tak menyangka tempat itu dengan sekolahannya bisa sejauh ini jika ditempuh tanpa kendaraan.
Namun ia merasa jika ada seseorang yang ikut bergabung dengannya di bangku tersebut. Saat Naruto menolehkan kepalanya untuk melihat siapa gerangan orang tersebut, ia langsung menyemburkan air yang belum selesai ia telan.
"Shit!" umpat sang korban hujan dadakan dari Naruto. "Apa masalah lo hah?!"
Namun Naruto masih sibuk memelototi sosok si korban. Merasa diabaikan, si korban merebut botol minuman yang digenggam Naruto lalu menyiramkannya ke atas kepala si Pirang. Sontak hal itu membuat Naruto kembali tersadar.
"Apa masalah lo hah?!" bentak Naruto.
"Jangan mengulangi perkataan gue idiot!" balas si korban lalu meraih sebelah tangan Naruto dan meletakkan botol yang sudah kosong itu diatas telapak tangan Naruto. "Gue anggep ini impas." lanjutnya lalu beranjak berdiri.
Naruto menatap bodoh botol kosong itu lalu meremasnya dan melemparkannya tepat mengenai kepala si korban. Orang itu menoleh dan menatap tajam Naruto.
"Teme menyebalkan, mati aja lo!" umpat Naruto kesal. Ia tidak habis pikir kenapa setiap mereka bertemu, orang yang ada di hadapannya ini selalu membuatnya dongkol setengah mampus.
Dengan tidak sabaran, orang itu menarik kasar kerah jaket orange milik Naruto membuat wajah keduanya hanya berjarak beberapa senti saja. "Dengar ya Pirang! Seharusnya lo bersyukur karna hari ini gue lagi ngga mood buat ngirim orang ke rumah sakit!" desisnya sambil mengeratkan cengkramannya membuat Naruto mulai sesak napas. "Tapi karna gue ini bukan orang yang sabar, apalagi baik hati. Jadi ngga a—" orang itu tidak melanjutkan perkataannya karena Naruto dengan sekuat tenaga memukul wajahnya hingga melepas cengkramannya pada kerah jaket Naruto.
Naruto meraup oksigen sebanyak-banyaknya, "Sialan lo! niat banget buat bunuh gue!" dan ia tersentak saat menatap kedua manik kelam dihadapannya itu. 'Tatapan itu... Sasuke...' Naruto dengan susah payah meneguk ludahnya sendiri.
"Kayaknya elo bener-bener orang yang ngga perlu di kasihani." ujar orang itu lalu meludahkan darah dari luka robek di bibirnya. Naruto dengan teratur melangkah mundur dan berbalik hendak melarikan diri. Tapi sayangnya, tangan orang itu lebih cepat meraih tudung jaketnya hingga membuat Naruto hanya lari di tempat. "Mau kabur ke mana 'sayang'?" ujar orang itu dengan nada sing a song.
Sekarang Naruto benar-benar ketakutan. "Lepaskan gue Sasuke!" serunya reflek. Dan orang itupun melepaskan cengkramannya, tentu saja hal itu tidak disia-siakan Naruto untuk segera kabur dari sana. Naruto berlari seperti orang dikejar setan dan itu memang benar, ia baru saja lepas dari cengkraman setan yang meniru sosok Uchiha bungsu. Itu sih menurut pemikiran si Pirang saja. Ia bahkan tidak mempedulikan tatapan aneh dari orang-orang yang dilewatinya atau makian dari orang yang ditabraknya saat berlari. Ia tidak peduli, yang penting saat ini hanyalah menjauh sejauh mungkin dari jangkauan orang-oh bukan tapi setan itu.
Tak jauh dari tempatnya, Naruto bisa melihat bangunan megah sekolahnya. Dan untuk pertama kalinya, ia bersyukur saat melihatnya. Naruto langsung memasuki gerbang sekolahnya tanpa mengurangi kecepatan larinya yang lagi-lagi membuatnya mendapati tatapan aneh dari satpam sekolahnya. Naruto berlari melewati lorong sekolah yang sepi menuju gedung asrama yang berada di belakang gedung sekolah.
Setibanya di depan pintu kamarnya, Naruto merogoh saku celananya dan dengan tergesa memasukkan kunci pintu. "Yo, Naru. Abis dari mana?" sapa Kiba riang, sepertinya ia sudah mendapat pencerahan tentang masalahnya kemarin. Bukannya menjawab, Naruto malah membuka pintu, masuk dan langsung menutupnya kembali. Menyisakan Kiba dengan tampang cengonya.
Naruto segera mengunci pintu kamarnya kemudian bersandar pada daun pintu. Dadanya serasa ditusuk-tusuk. Sumpah ini pertama kalinya Naruto berlari secepat itu hanya untuk melarikan diri dari seseorang atau setan? Pengecut atau konyol? What the... ia tidak peduli! Naruto menjambak surainya dan merosot terduduk.
"Wait, kenapa saat gue manggil Sasuke dia ngelepasin gue ya? Atau dia emang Sasuke?" ujarnya lalu mengacak surainya yang sudah berantakan menjadi tambah kusut. Mungkin ada yang salah dengan dirinya. Iie, bukan dirinya yang salah tapi tatapan Sasuke lah yang aneh.
Naruto menumpukan dagunya pada lututnya yang ditekuk, pandangannya menerawang ke depan. 'Tatapan Sasuke tadi beda banget sama tatapannya yang biasa. Bahkan aura intimidasinya juga beda, kaya orang lain. Insting gue juga merasa kalo orang itu berbahaya.' pikir Naruto memulai analisisnya. Dan sejauh ia mengenal Sasuke, Naruto yakin meski Sasuke memang tidak pernah memanggil namanya, ia tidak pernah dipanggil dengan sebutan pirang oleh Sasuke. Oke, memang pernah sekali Sasuke memanggil dengan marganya, tapi itukan hanya untuk mengerjainya. Selebihnya hanya kata-kata panggilan ala berandalan.
"Astaga, orang itu benar-benar merusak hidup gue." gumam Naruto lalu menghela napas berat.
...
Hari sudah menjelang senja. Pada akhirnya Naruto menghabiskan sisa akhir pekannya dengan menemani Gaara di perpustakaan yang jelas sepi pada hari libur seperti ini. Naruto mendengus meremehkan, entah untuk keberapa kalinya hingga membuat si bungsu Sabaku akhirnya mengalihkan atensinya dari Novel yang baru saja diambilnya ke arah Naruto. "Naru." panggilnya membuat Naruto mengalihkan tatapannya dari buku yang sedang dibacanya. Ia menaikkan sebelah alisnya sebagai ganti kalimat tanya.
"Sebenarnya elo lagi baca buku apaan?"
Naruto lagi-lagi mendengus. "Bukan apa-apa. Ngga penting."
Gaara mengerutkan keningnya. "Ngga penting?"
Naruto mengerucutkan bibirnya. "Habis isinya aneh banget sih."
"Coba liat sampulnya. Bikin penasaran aja." pinta Gaara. Pasalnya sahabatnya yang satu ini jarang sekali terlihat antusias terhadap buku, cuma buku semacam komik yang sering Gaara lihat dibaca Naruto.
Naruto menyodorkan bukunya kepada Gaara yang kemudian membalikkan ke sampul belakangnya. Beberapa saat hanya terisi oleh keheningan. Naruto mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru ruangan. Ia baru menyadari jika hanya ada mereka berdua dan sang petugas perpustakaan di ruangan seluas itu.
Naruto kembali menatap Gaara saat ia mulai bersuara. "Gue baru tau kalo elo suka cerita yang berbau misteri." ujar Gaara lalu mengembalikan buku itu kepada Naruto.
"Ngga juga. Cuma iseng, daripada gue mati bosan di sini." balas Naruto enteng dan kembali menekuni bacaannya. Sungguh ia tidak tahu jika perkataannya itu seperti menyindir sang Sabaku, meski ia sama sekali tidak bermaksud seperti itu. Gaara menghela napas, karena sudah tahu kelakuan Naruto ia hanya bisa memakluminya.
Gaara melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. 'Sudah sore rupanya' batinnya lalu mulai membereskan buku-buku yang berserakan di atas meja.
"Naru, ayo pulang." ajak Gaara
Naruto yang ternyata sedang serius dengan bacaannya terlonjak kaget saat Gaara menepuk bahunya. "Gaara! Jangan ngagetin dong!" seru Naruto sambil mengelus dada.
Bukannya meminta maaf Gaara malah tersenyum mengejek. "Tadi katanya ngga penting. Kok serius banget?"
Naruto menggerutu pelan. Saat ia hendak melanjutkan bacaannya lagi-lagi bahunya ditepuk oleh Gaara. "Apaan sih Gaara? Belum puas ngeledeknya?" ujar Naruto sewot, ia hanya ingin mengetahui nasib si tokoh utama. Gaara kembali mengulas senyum. "Ayo pulang, sebentar lagi jam makan malam." ajaknya lagi.
Naruto mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya. "Loh kok pulang? Gaara udah selesai bacanya?" tanyanya dengan nada tidak rela. Gaara menggelengkan kepala merahnya. "Belum. Gue mau pinjem ni buku." balasnya lalu beranjak ke meja petugas. Naruto menatap sejenak buku yang berada di depannya lalu mengekori Gaara ke meja petugas.
Setelah itu, mereka berdua meninggalkan perpustakaan dan langsung menuju kafetaria. "Naru, kalo gue boleh tau Sasuke ke mana? Soalnya dicariin Kakashi-sensei." tanya Gaara mencoba membuka percakapan.
Naruto yang masih asyik membaca buku yang baru dipinjamnya itu menjawab asal, "Dia udah mati." Sontak saja membuat sang Sabaku menghentikan langkahnya. Gaara langsung menatap horor Naruto yang berjalan melewatinya masih dengan mata yang mengarah pada buku. Ia teringat dengan perkataan Naruto sesaat setelah makan malam sebelum Sasuke menghilang.
"Naru elo se-serius?" tanyanya mulai kembali berjalan namun tetap menjaga jarak dengan Naruto.
Naruto menghentikan langkahnya yang otomatis diikuti oleh Gaara. Ia menoleh ke belakang, "Serius? soal apa?" jawabnya balik tanya.
"Soal Sasuke yang... udah mati?"
Naruto mengerutkan dahinya. "Kata siapa si Teme udah mati?"
Gaara ingin rasanya membenturkan kepalanya ke tembok terdekat. "Hah? kan barusan elo yang ngomong sama gue."
Naruto menggaruk sebelah pipinya. "Benarkah? yah sebenernya gue cuma bilang apa yang si brengsek itu katakan." Jawabnya sambil mengangkat bahu.
"Maksudnya?"
"Ya kaya gitu."
Setelahnya, Naruto kembali berjalan meninggalkan Gaara yang masih kebingungan.
Hari Senin adalah hari yang paling menyebalkan menurut para siswa KA. Karena jam masuk akan tigapuluh menit lebih awal dari biasanya. Dalam keadaan biasa, Naruto pasti akan sependapat dengan yang lainnya. Namun saat ini ia malah ingin cepat-cepat pergi dari ruangan yang disebut sebagai kamarnya. Bahkan jarum jam belum sepenuhnya menunjuk angka enam saat Naruto menata perlengkapan sekolahnya.
Sesekali ia melirik ke seberang ruangan atau lebih tepatnya pada sosok yang sedang mengamatinya dari sejam yang lalu. Tolong makhluk mana yang tidak akan kesal jika diperhatikan seperti itu. Ingin rasanya ia mencongkel kedua bola mata kurang ajar itu lalu melemparnya ke dalam kolam ikan di taman belakang. Namun itu pada akhirnya hanya sebuah khayalan yang takkan terealisasi. Faktanya ia bahkan tak memiliki keberanian untuk mengonfrontasi sosok tersebut. Ia masih trauma dengan kejadian kemarin.
Naruto menggendong tas sekolahnya lalu meraih jas sekolah dan berlalu menuju pintu kamar.
"Kenapa buru-buru?" Ujar sebuah suara sesaat sebelum Naruto meraih handle pintu. "Ngga kangen sama gue?" tambahnya dengan nada mengejek yang kentara.
Naruto membeku seketika. Ia tetap berdiri membelakangi sosok tersebut. Si Pirang nyaris terlonjak saat sebuah tangan tiba-tiba mendarat di tembok sebelah kanannya. Terlalu takutkah ia hingga tidak mendengar langkah kakinya yang mendekat? Tapi bukan itu masalahnya sekarang. Bahkan hembusan napasnya yang seharusnya hangat terasa dingin pada tengkuk Naruto.
"Jelaskan semua tentang malam itu." gumam Sasuke nyaris berbisik. Naruto tetap bungkam, entah kenapa pita suaranya seolah kaku. Detik demi detik berlalu dalam hening.
"Seingat gue, elo belom bisu Do-be." lanjutnya dengan nada sedingin salju.
Naruto memejamkan kedua matanya. Ia harus fokus, tak ada alasan bagi dirinya untuk takut pada sosok di belakangnya itu.
"Gue ngga ngerti." jawab Naruto akhirnya. Sedetik kemudian tubuhnya sudah berbalik dengan punggung yang menghantam daun pintu. Naruto meringis.
"Jangan bikin gue marah." desis Sasuke menatap tajam pemuda di hadapannya.
Naruto mendongak, membalas tatapan dengan tak kalah tajam. "Dengar Teme, gue beneran ngga ngerti apa yang elo omongin."
"Malam saat kepala gue terluka." jelas Sasuke.
Naruto mengernyitkan dahinya, terlihat sedang berusaha mengingat. Hingga potongan-potongan ingatan merangsek masuk ke dalam benaknya. Raut wajah Naruto langsung berubah. Dengan sekuat tenaga ia mendorong Sasuke hingga memberi jarak diantara keduanya.
Naruto mengeratkan gigi-giginya. "Lo!"
.
.
.
Tsuzuku
Akhirnya bisa update chap baru. Moga masih ada yang mau baca dan review, maaf juga kalo alurnya jadi semakin gaje :D
bye-bye...
Rei
