Rusa Manly dan Albino Yehet

"Jadi kau ingin mencari pekerjaan di sini?" Tanya Baekhyun sambil terus mengaduk nasi goreng kimchi yang hampir jadi di wajan.

"Yaah, begitulah. Aku tidak ingin hanya berpangku tangan dan menumpang segalanya padamu. Setidaknya aku bisa membelikan bahan-bahan makanan atau ikut membantu membayar tagihan listrik, Baek," sahut Luhan malas. Wajahnya di rebahkan di atas meja makan dan menjadikan tangannya yang terlipat sebagai bantal. Ternyata lelaki cantik itu masih setengah sadar.

Luhan tidur dengan pulasnya dan terbangun saat letak matahari sudah berada pada puncaknya. Namun ia masih merasa mengantuk dan terlihat lingkaran hitam samar di bawah matanya. Tentu saja, walaupun ia berhasil tidur setelah terus gelisah mendengar suara-suara yang ditimbulkan oleh sepupunya dan kekasih tingginya itu, tetap saja ia merasa masih mengantuk karena ia baru berhasil tertidur setelah jam menunjukkan pukul 2 pagi.

Baekhyun melirik Luhan melalui bahunya dan hanya dapat bergeleng kepala. Luhan tidak pernah berubah. Bahkan ia membawa kebiasaannya sejak di China sampai sekarang. Lelaki cantik itu selalu bangun tidur dan langsung berjalan menuju dapur untuk meminta makan. Tanpa membasuh wajah dan menyikat gigi. Bahkan untuk membersihkan beleknya saja Luhan terlalu malas untuk itu. Ewh, menjijikkan.

Beberapa menit yang dilalui dengan keheningan, akhirnya Baekhyun mematikan kompor dan menyajikan makanan di piring. Ia membawa kedua piring itu ke meja makan dan meninggalkannya sebentar untuk mengambil air minum dan gelas. Sepeninggal Baekhyun mengambil minum, perlahan Luhan mendongakkan wajahnya dan menatap lapar ke arah nasi goreng kimchi yang tersaji dengan rapi di depannya. Bahkan makanan itu masih mengepulkan asap samar yang menguarkan aroma nikmat, membuat perut Luhan berbunyi keroncongan. Ia memang belum sempat memakan apapun sejak kedatangannya kemarin.

Diam-diam Luhan menjilat bibirnya yang terasa kering. Ia menyendok sedikit nasi goreng dan mengangkatnya untuk kemudian memasukkannya ke dalam mulut. Namun, sendok itu hanya tergantung di udara saat tiba-tiba saja ada mulut lain yang menerobos untuk melahap nasi goreng di sendoknya. Ya, si Byun Cabe.

"Nyamm... yak! Aku tahu kau belum membasuh wajahmu dan menyikat gigi. Ewh, dasar jorok. Pergilah untuk membersihkan dirimu, Lu. Kau benar-benar bau," dengus Baekhyun dan mengambil tempat duduk di seberang Luhan yang masih terdiam dengan sendok yang masih mengudara.

"Yak, kau!" Teriak Luhan. Ia membanting sendok hingga beradu dengan piring dan menimbulkan bunyi ribut. Namun lelaki cantik itu tetap menuruti perintah Baekhyun dan berjalan menuju kamar mandi dekat dapur sambil mengumpat kasar dalam bahasa ibunya.

"Aku mendengarmu, Cantik~" ucap Baekhyun dengan sengaja menyaringkan suaranya saat menyebutkan kata 'cantik' diiringi dengan nada riang.

"Fuck you!" Teriak Luhan menyahut dari kamar dari.

Baekhyun menyeringai. Tangannya menyendok nasi goreng dan membalas perkataan Luhan sebelum menyuapkannya ke mulut.

"No, Lu. Just Chanyeol the only one who can fuck me."

Dan Luhan tersedak ludahnya sendiri mendengar nada menjijikkan Baekhyun.

"Chanyeol bilang akan membantumu saat hari pertamamu bekerja di tempatnya. Kau akan menerima pekerjaan itu?" Tanya Baekhyun memastikan sambil terus memacu mobilnya dengan kecepatan sedang.

"Hm," gumam Luhan sebagai balasan. Bahkan ia tidak merasa harus menoleh ke arah Baekhyun karena lelaki cantik itu tengah sibuk bermain game di ponselnya.

"Lu, ini terakhir kalinya aku bertanya padamu, dan aku serius. Kau benar-benar akan menerima pekerjaan yang ditawarkan Chanyeol?" Baekhyun menoleh sesekali kepada Luhan.

Luhan menurunkan ponselnya dan menatap Baekhyun. "Baek, tidak ada yang lebih ku cintai selain musik. Dan menjadi DJ merupakan salah satu bentuk realisasi dari itu. Dan jika kau mengkhawatirkan keselamatanku, kenapa kau harus khawatir? Maksudku, pemilik pub itu adalah Chanyeol - kekasihmu. Kenapa kau tidak memercayai keamanan yang ditawarkan olehnya?"

"Bukan begitu. Maksudku, Chanyeol tidak selalu akan berada di pub dan mengawasi orang-orang sialan yang mendekatimu. Kau tidak bisa terus bengantung dengan Chanyeol, dan kau terlalu lemah untuk melindugi dirimu sendiri," Baekhyun menghela napasnya lemah.

"Baek, sudahlah. Aku tidak ingin membahas ini lagi. Keputusanku sudah bulat," putus Luhan. Ia membuang pandangannya ke arah jendela dan menatap keramaian di balik kaca mobilnya. Mengabaikan eksistensi Baekhyun yang jelas-jelas berada dalam lingkup yang sama dengannya. Bahkan sekarang ia tidak memiliki mood untuk menyambung game yang dimainkannya tadi.

Sedangkan Baekhyun hanya menghela napasnya lelah. Matanya masih sesekali melihat ke arah Luhan dengan tatapan sendunya.

"Huh. Aku hanya khawatir, Lu. Kau tahu betul aku akan menjagamu dengan seluruh kemampuanku. Aku sangat menyayangimu, begitu juga dengannya, Lu."

Tubuh Luhan menegang seketika. Tatapannya berubah kosong, seakan jiwanya baru saja tersedot keluar dari raganya. Dan seakan menyadari itu, seketika saja perasaan bersalah melingkupi hati Baekhyun.

"Ah, Lu. Aku tidak bermaksud mengungkitnya di percakapan kita," sesal Baekhyun.

Luhan tersenyum miris. Menatap Baekhyun dengan pandangan yang seolah mengatakan bahwa ia baik-baik saja yang mana membuat Baekhyun semakin merasa bersalah.

"Aku baik-baik saja, Baek. Ini sudah tiga tahun dan semua telah kembali seperti seharusnya," ucap Luhan sambil tersenyum manis. Namun senyuman itu terlihat begitu dipaksakan, dan Baekhyun sangat menyadari hal tersebut.

Luhan kembali mengarahkan pandangannya ke depan. Pub tempat tujuan mereka mulai terlihat dari kejauhan berkat lampu mewahnya dan keramaian yang mengelilingi tempat tersebut.

Baekhyun memarkirkan mobilnya di depan pintu masuk dan memberikan kuncinya kepada petugas pub. Lalu mengajak Luhan untuk segera turun.

Begitu Luhan keluar dari mobil dan menatap bangunan di depannya, mulutnya hanya dapat terbuka dan matanya berbinar penuh kekaguman. Bahkan ia langsung melupakan kesedihannya begitu melihat kemewahan dari pub tempatnya akan bekerja itu.

"Lu? Ayo, Chanyeol pasti sudah menunggu di dalam," tegur Baekhyun membuat Luhan kembali ke realita. Ia mengangguk singkat dan mengikuti langkah Baekhyun memasuki bangunan mewah itu.

Seketika musik menghentak, bau alkohol, dan asap rokok langsung menyapa indra penciuman Luhan. Ia sudah lama tidak berkunjung ke pub dan semacamnya sejak ibunya menikahi seorang pria disiplin dan tegas yang mengadakan jam malam untuknya dan saudara tirinya. Sekarang ia baru merasakan yang namanya hidup kembali. Tidak salah ia memilih untuk mengungsi ke Seoul dan hidup bersama Baekhyun.

Kakinya terus melangkah mengikuti Baekhyun. Mereka melintasi dance floor yang padat oleh orang-orang yang sibuk meliukkan tubuhnya untuk memotong jalan menuju sofa khusus di pojok ruangan, tempat Chanyeol telah menunggu mereka, dan hal tersebut berhasil membuatnya tertinggal beberapa langkah di belakang Baekhyun.

Begitu sibuk mengejar ketertinggalannya, tiba-tiba Luhan merasa dorongan dari belakangnya, membuatnya terhuyung sejenak. Saat sudah dapat menyeimbangkan tubuhnya kembali, ia kembali mendapat serangan berupa sikutan dari sisi kirinya, membuatnya kembali terhuyung dan rebah di dekapan seseorang.

"Akh!" Ringisnya merasakan ngilu pada rusuknya yang tadi terkena sikutan.

"Hei, santai saja Sayang. Aku tidak akan ke mana-mana," sebuah suara berat memasuki indra pendengaran Luhan. Membuat lelaki cantik itu mendongak untuk menatap orang yang tengah mendekapnya. Dan Luhan nyaris mengumpat begitu mendapati lelaki tampan itu sedang menatapnya dengan nakal.

Ya, tampan. Luhan akui lelaki itu tampan. Alis tebalnya, mata tajamnya, hidung mancungnya, bibir merah tipisnya, dan rahang tegasnya yang terlihat kokoh. Kulitnya yang sepucat pualam terlihat menggoda di terpa sinar kerlap-kerlip lampu disko yang menggantung di tengah-tengah ruangan.

Luhan tersentak saat lengan kokoh lelaki itu menyentaknya untuk berdiri dengan tegak. Namun lelaki itu tetap tidak melepaskan lingkaran tangannya di pinggang Luhan meskipun lelaki cantik itu sudah mampu berdiri sendiri dengan tegak.

"Maaf," gumam Luhan dan berbalik untuk melepas kungkungan lelaki itu dan menjauh mencari sepupunya. Namun lelaki itu kembali menyentak Luhan untuk berbalik menghadapnya, membuat Luhan membulatkan mata rusanya yang cemerlang.

"Aku..." ucap lelaki itu pelan. Ia melarikan sebelah tangannya memeluk pinggang Luhan kembali, sedangkan tangan lainnya bergerak menyeret dari kening Luhan hingga pipi lelaki cantik itu.

"... sangat suka matamu," lanjutnya membuat Luhan semakin membulatkan matanya.

Lelaki pucat itu menahan tengkuk Luhan dan mendekatkan wajahnya. Begitu bibir mereka hampir bersentuhan, lelaki itu kembali bersuara.

"Bagaimana kalau kita habiskan malam ini bersama?"

Ucapan lelaki itu menyambar Luhan bagaikan petir di siang bolong. Apa dia baru saja dilecehkan? Apa lelaki ini menganggapnya sama dengan lelaki dan wanita murahan lainnya?

Hanya satu kalimat yang terlintas di kepala Luhan.

Fuck off!

TBC

Udah, segitu aja dulu. Kayaknya udah pada bisa nebak kan siapa cowok brengsek yang berani grepe-grepe Lulu?

Buat awal gua kasih fast update. Tapi entaran, kayaknya bisa sampai setahun sekali wkwk #pengalaman.

RnR pleaseu