(WinkDeep) Cute & Bite
Author : Bang Young Ran
Rating : T
Genre : Romance/Yaoi/Fluff/AU
Main Cast :
Park Jihoon
Bae Jinyoung
Cute & Bite
"You're so cute."
Pertama kali berinteraksi... Park Jihoon seketika dibuat melongo. Bae Jinyoung, adik kelasnya yang populer dan terkenal misterius se-SOPA itu... BERBICARA DENGANNYA?! Omo! Benarkah? Jinyoung memujinya 'cute'. Jihoon tidak sedang bermimpi—
"I wanna bite you. Can I bite you?"
—'kan?
Tidak. Dia pasti sedang bermimpi! Atau lebih tepatnya, salah mendengar. Mana mungkin Jinyoung menanyakan pertanyaan – eheum, ambigu seperti itu padanya.
"Err, ap-apa maksudmu, Jinyoung-ssi. A-aku... tidak mengerti." Jihoon hanya bisa berucap terbata. Terlihat persis seperti anak rusa yang hendak dimangsa oleh singa. Jinyoung berdiri begitu tinggi di hadapannya. Dia terjepit di antara dinding dan namja tampan itu. Dia tidak pernah merasa seciut ini sebelumnya.
Menghela nafas, seolah kepolosan Jihoon menghisap energinya, Jinyoung membawa tangan kanannya keluar dari saku celana, hanya untuk menapak ke dinding, tepat di samping telinga kiri namja mungil berbibir merah itu. "Sunbae, menurutku kau sangat lucu. Bolehkah aku menggigitmu sedikiiiiiit saja?"
Tidak.
Park Jihoon tidak salah dengar. Telinganya benar-benar masih berfungsi dengan baik. Bae Jinyoung bersungguh-sungguh ingin... MENGGIGITNYA?! What the hell!
"N-Neo micheosso?! A-aku bahkan tidak mengenalmu!" pekik Jihoon jengkel. Sayangnya, rasa gugup—mungkin juga takut—lebih mendominasi. Kalau saja orang-orang melihat posisi mereka berdua sekarang... Gosh, apa yang akan mereka pikirkan?!
Park Jihoon, senior dari kelas A... berduaan dengan Bae Jinyoung, Junior dari kelas F... di sudut gedung sekolah...
NO!
Itu akan menjadi gosip heboh!
Jihoon tidak mau hal seperti itu terjadi padanya. Tidak, di saat dirinya nyaris menghabiskan tiga tahun masa Sekolah Menengah Atas, tanpa sedikitpun membuat keributan. Dia adalah siswa beretiket baik. Meskipun nilai-nilai yang diperolehnya dalam pelajaran tidak seberapa tapi, dia tidak pernah membantah guru. Guru-guru menyukainya. Teman-temannya juga menyukainya. Dan sekarang... Bae Jinyoung di hadapannya, bertindak absurd dengan menyudutkannya di sudut sekolah...
APA JINYOUNG BERMAKSUD MENGHANCURKAN SEMUA KEDAMAIAN ITU!?
Sret~
DEG.
Jantung Jihoon nyaris melompat dari mulut. Jinyoung mendekatkan wajah padanya. Dia bersumpah, bisa merasakan nafas hangat namja itu yang menyapu permukaan bibirnya pelan.
"Kau ingin?" Ia berbisik lirih. Suara beratnya menyatu sempurna bersama dengingan serangga musim panas di atas pepohonan ginko sana.
"M-Mwo?"
"Kau ingin mengenalku?"
Tuhan. Apa kesalahan yang telah Jihoon lakukan semasa hidupnya terdahulu hingga makhluk tampan, mempesona, dan berbahaya ini, mengganggunya dengan semua bisikan lirih itu, eoh?
"Let's have a date."
"M-Mwo? Apa ya—"
Jinyoung menyeringai. Membuat wajahnya yang kecil terlihat begitu imut sekaligus berbahaya. "Dengan begitu, kita akan saling mengenal. Aku menyukaimu, Sunbae. Let's have a date."
O. My. GOD.
Jihoon tidak pernah dihadapkan pada situasi super aneh ini sebelumnya. Alhasil, dia hanya mematung di tempat. Menatap Jinyoung dengan mata doe terbelalak seolah namja itu berkepala ganda.
"Aku akan menganggapnya sebagai 'ya'," putus Jinyoung seenaknya. Sedikitpun tidak menunggu reaksi dari Jihoon karena langsung berbalik pergi, kedua tangan kembali memasuki saku celana. Terlihat cool dan misterius. Seperti biasa.
Sret!
Namun tiba-tiba tubuh tinggi berbahu lebar dan berkepala kecil tersebut berbalik. Menatap Jihoon yang masih melongo dengan seringai khasnya. "Ah, ya, aku hampir lupa. Minggu pagi aku akan menunggumu di Bunny Cafe. Jam sepuluh tepat. Jangan sampai lupa, Sunbae. Berdandanlah yang cute~"
Hanya itu.
Mengedipkan mata, Jinyoung kembali berbalik dan melangkah pergi. Meninggalkan Jihoon yang blank; otak mengembara, bergulat dengan pertanyaan apakah sekiranya dia bermimpi? Apakah kejadian ini benar-benar nyata? Bae Jinyoung mengajaknya... nge-date?
"What. The. F*ck..."
Umpatan lirih yang keluar dari mulut Jihoon seketika disapu oleh angin semilir. Brrr... Meski matahari bersinar terik di atas sana, namja manis ini merasakan tubuhnya menggigil. Horor.
Apa yang sebenarnya Jinyoung inginkan darinya?
~~~~~~~~\(.0)/\(- _ -)/~~~~~~~~
Kiri.
Kanan.
Ibarat pencuri yang takut tertangkap saat sedang beraksi, Jihoon terus-menerus melakukan hal yang sama. Kedua tangannya memegangi ujung tali ransel erat. Berharap dengan melakukan hal itu, dirinya bersama ransel besar yang dikenakannya bisa menciut secara ajaib.
"Kau tidak datang."
Dia salah besar.
"Kyaaaa!" Jihoon berteriak, melarikan satu tangan secara spontan ke dada. Bibirnya nyaris mengumpat jika saja Bae Jinyoung, plus killer glare, tidak menghampirinya di pintu masuk gerbang. "A-apa maumu?"
Tidak diragukan lagi kalau Bae Jinyoung memiliki feature yang banyak diidam-idamkan oleh warga Korea. Dia tampan. Dia juga terlihat imut dengan wajah kecilnya itu. Jinyoung sama sekali tidak mengerikan, tentu saja.
Namun... kenyataan tersebut sama sekali tidak bisa menampik rasa takut yang semakin mencekam, menjalari seluruh sel di tubuh Jihoon. Dia seharusnya pura-pura sakit saja. Dengan begitu, dia tidak perlu menghadapi Bae Jinyoung pada pagi Senin yang cerah ini.
Sret!
Pergerakan cepat dari Jinyoung refleks membuat kedua tangan Jihoon terangkat, bermaksud melindungi wajahnya kalau-kalau namja tampan jarang senyum—atau memang tidak pernah?—ini ingin memukulnya. Akan tetapi...
Srek~
... sebuah belaian lembut lah yang menghampiri kepala Jihoon.
"Kkkk~ Apa yang sedang kau lakukan, Sunbae?"
What the...
Reaksi itu sukses membuat Jihoon menjadi seorang Drama Queen. Jinyoung tidak memukulnya. Jinyoung malah... terkikik, tersenyum sembari membelai puncak kepalanya. Dia baru tahu, saat namja tampan ini tersenyum, akan terbentuk kerutan yang khas pada tulang hidung serta lengkungan bawah matanya. Pemandangan tersebut sempat membuat Jihoon terpeso – oke, WHAT!? "Kau... tidak memukulku?"
Senyum lembut yang menghiasi wajah tampan Jinyoung seketika lenyap. Berganti dengan tatapan menyipit. "Kenapa kau berpikir aku akan memukulmu, Sunbae?"
"A-aku..." Jihoon tidak bisa menemukan kata. Yeah, kenapa dia berpikir Jinyoung akan memukulnya. Namja ini terkenal bukan karena predikat buruk; dia tampan dan misterius. Hanya itu. Tidak ada embel-embel kekerasan seperti memukuli orang lain. Gosh... sekarang Jihoon merasa sangat buruk. "Mi-mian, aku..."
"Huft, sudahlah. Aku mengerti," potong Jinyoung akhirnya, menyerah saat beberapa detik berlalu, namja manis berbibir merah di depannya hanya berdiri congkak dengan wajah tertunduk. Menghindari tatapannya. "Karena kau tidak jadi datang saat kencan kita kemarin... ini untukmu."
Jihoon menatap penuh tanya kantong kertas yang mendadak memasuki jarak pandangnya dalam menunduk. Ada aroma manis dari caramel hangat yang menguar dari sana. Huh? Mengangkat wajah, Jihoon memberi tatapan tidak mengerti kepada Si Penyodor. "I-ini apa?"
"Aku bermaksud membawamu untuk mencicipi ini saat kita kencan. Karena kau tidak datang, aku datang ke cafe pagi ini dan membungkuskannya untukmu. Cobalah. Kau tidak akan menyesal."
Oh?
Jinyoung... tidak marah?
Jihoon secara kasar—meskipun kencan ini adalah ajakan sepihak dari Jinyoung tapi tetap saja, Jihoon tidak muncul—menolak ajakan kencannya dan dia tidak marah? Jinyoung juga... memberinya sesuatu...
Omo. Jihoon benar-benar merasa buruk sekarang. Dia tidak seharusnya menyimpulkan siapa itu Bae Jinyoung seenaknya. Ne, namja itu menyudutkannya ke dinding dua hari yang lalu tapi... dia tidak melakukan apapun. Jinyoung hanya berbicara empat mata dengannya.
Dia seharusnya tidak menghakimi seseorang berdasarkan pandangan orang lain. Sejak kapan dia menggunakan sudut pandang orang lain dalam menilai seseorang, eoh? Sejak kapan dia jadi tidak percaya dengan dirinya sendiri?
Srak~
Tangan besar itu kembali menggusaki puncak kepala Jihoon yang berwarna cokelat caramel. Jinyoung tersenyum. "Sudahlah jangan dipikirkan, Sunbae. Lain kali aku akan mengajakmu kencan lagi. Kuharap untuk berikutnya kau akan menerima ajakanku dan benar-benar datang."
Omo. Bagaimana bisa Jinyoung tersenyum ramah saat mengatakan semua itu? Bukankah dia seharusnya kecewa? Menatap Jihoon penuh benci? Tidak ingin berbicara lagi dengannya?
Sementara satu-satunya permintaan Jinyoung hanyalah pergi kencan dengannya agar mereka saling mengenal. Hanya itu. Tidak ada pemaksaan kalau Jihoon harus menjalin sesuatu dengannya.
Set.
Kantong kertas berpindah tangan.
Jinyoung memberikan senyuman lembut—kemana perginya seringai berbahaya yang pernah Jihoon lihat?—terakhir kali sebelum berbalik, memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana, dan melangkah pergi.
Familiar.
Lagi, namja tampan tersebut pergi meninggalkan Jihoon yang menatapi nanar punggung serta bahu lebarnya.
Jinyoung terlihat baik-baik saja. Dia melangkah dengan normal. Tapi Jihoon tahu, apa yang Jinyoung rasakan tidak seperti itu. Sekarang dia mengerti, Bae Jinyoung bukanlah namja misterius seperti yang orang-orang gambarkan tentangnya. Dia hanyalah pemuda yang tidak tahu bagaimana caranya bersikap dengan benar di hadapan orang lain. Dia hanyalah pemuda tampan dengan sejuta pesona yang sama sekali tidak bangga akan semua kelebihannya. Dia tidak percaya diri di bawah tatapan nanar orang lain yang terpesona oleh ketampanannya serta wajahnya yang kecil.
Bae Jinyoung tidak misterius.
Dia hanya canggung.
"Bagaimana kalau sore ini?"
Tap.
Langkah Jinyoung terhenti. Ia berbalik, "ne?"
"Sore ini, ayo kita berkencan dan saling mengenal."
Jihoon tidak tahu apa yang membuat prinsipnya berubah. Dia cinta damai dan ketenangan. Menjalin sesuatu bersama namja populer seperti Bae Jinyoung pastilah akan mengakhiri semua ketenangan itu. Kebanyakan kaum yeoja di sekolah, mungkin juga namja, akan membencinya; setiap saat akan ada rutukan serta umpatan tersembunyi, maupun terang-terangan yang ditujukan padanya tapi... hei, semua itu belum tentu terjadi.
Itu hanya satu opsi di antara opsi yang lainnya. Mungkin saja, kan, banyak yang akan mendukung mereka? Mengelu-elukan betapa serasinya mereka berdua? Bahkan mungkin... akan ada beberapa orang kreatif yang menciptakan namja 'ship' khusus untuk mereka berdua...
Oke, STOP!
Dia lagi-lagi berpikiran terlalu jauh. Demi Tuhan, Jinyoung bahkan belum mengiyakan ajakan kencannya! Bagaimana kalau sendainya namja tampan itu sudah berubah pikiran, eoh, dan tidak mau lagi berkencan dengannya?! Bagaimana kalau...
"Boleh."
... Jihoon terlalu banyak berpikir. Jinyoung sudah kembali berhadap-hadapan dengannya. Entah sejak kapan namja tinggi itu mendekat. Sangat dekat. Hingga wajah putih berseri milik Jihoon bersemu hangat karena ujung hidung mereka pastilah bersentuhan jika saja tidak ada perbedaan tinggi tubuh yang cukup nyata. Alhasil, nafas hangat Jinyoung membelai permukaan keningnya, dan Jihoon... dia berhadap-hadapan dengan leher jenjang itu.
O. My...
Kenapa pagi yang dingin ini mendadak begitu panas?
"Seriously, Sunbae, you are so cute. Why are you so cute?"
Mengerang malu, Jihoon bermaksud mundur untuk memberi jarak pada tubuh mereka. Namun Jinyoung meraih kedua pergelangan tangan kurus itu, membuatnya tidak bisa menarik diri terlalu jauh. Gosh, ini memalukan!
"Kau mau ke mana, Sunbae?"
"A-aku mau k-ke kelas!" Lagi-lagi Jihoon terlihat seperti mangsa yang tertangkap oleh predator. Dia tidak mampu berbuat apa-apa. Bae Jinyoung yang berbicara dua hari lalu dengannya kembali! Apa namja ini memiliki kepribadian ganda?
"Oh, baiklah."
Syukurl—
"Tapi sebelum itu, bolehkah aku menggigitmu?"
—freakin' sh*t.
Jadi request ambigu yang aneh itu serius!?
"Pleaaaaasee? Sedikiiiiiiiit saja, Sunbae. Aku berjanji!" Layaknya bocah, Jinyoung mengangkat satu tangan membentuk 'v', sementara tangan yang lain menapak di dada. Mata cokelatnya berbinar, menatap Jihoon intens—penuh harap.
Urgh...
"Katakan, kenapa kau ingin menggigitku? Bukankah menurutmu... itu terdengar sangat aneh?"
"Err," Jinyoung berpaling, satu tangan menggaruk tengkuk dengan awkward.
Dia terlihat... malu?
"Ini kebiasaanku sedari kecil. Saat melihat sesuatu yang lucu dan membuatku gemas, aku... tidak kuasa menahan diri untuk tidak menggigit."
Oh.
Well, itu benar-benar kebiasaan yang... unik. Jika ada yang tahu, Jinyoung pastilah akan dicap sebagai orang aneh. Apa karena kebiasaan itu Jinyoung jadi canggung berinteraksi bersama yang lain? Dia menutup diri karena tidak ingin orang-orang tahu mengenai kebiasaan unik dan childish-nya.
Tapi... Jinyoung sejak awal sudah membuka diri padanya. Begitu blunt hingga Jihoon dibuatnya takut dan berpikir namja itu gila. Yeah, tidak setiap hari kau disudutkan oleh orang asing yang meminta untuk mengigitmu.
"Aku tahu ini sangat aneh, Sunbae." Minimnya reaksi dari namja manis yang ditatapnya, membuat Jinyoung gugup. Dia takut kalau Jihoon akan menarik kembali ajakan kencan mereka karena kebiasaan anehnya. "Aku pernah mencoba untuk menghilangkan kebiasaan aneh ini, tapi selalu gagal. Ta-tapi aku akan mencoba lebih keras lagi! Jadi kumohon, jangan batalkan ajakan kencan itu, Sunb—"
"Jihoon Hyung."
"Ne?"
"Aish! Bukankah kau ingin kita saling mengenal? Mengapa tidak memulainya dengan memanggil nama masing-masing? Tenang saja, aku tidak akan membatalkan kencan kita hanya karena kau memiliki kebiasaan unik."
Mata doe Jinyoung terbelalak. Takjub sekaligus tidak percaya. "Benarkah, S – Jihoon Hyung? Kau tidak keberatan?"
"E-heum."
"Kalau begitu... boleh aku menggigitmu?"
Aigoo...
Jinyoung tidak pernah lupa.
Gigih sekali, huh?
Menyerah, Jihoon menghembuskan nafas panjang sembari memutar bola mata. "Huft! Baiklah!" rutuknya jengkel, menyingsing lengan baju menggunakan tangan yang tidak memegangi kantong karton hingga keseluruhan lengan kanan bawahnya terlihat, dan menyodorkannya pada Jinyoung. "Just once – AAAA!"
Belum selesai berbicara, Jinyoung sudah membungkuk, menggigit bagian luar lengannya. Keras. Hanya sejenak, namun cukup meninggalkan bekas memar kemerahan berbentuk barisan gigi di lengan putih Jihoon.
"That's hurt!" pekik namja manis itu mengerang. Bibir merahnya mengerucut maju, menatap iba tangannya yang memar.
"Kkkk~ It's a love bite, Hyung! And you're so cute~ I'll bite you more when we get to know each other on the future. Hahahha..."
What the...
Nafas Jihoon terhenti.
What he getting himself into?
END
