(DeepPanWink) The Lucifer Sahara
Author: Bang Young Ran
Rating: M (Warning: Underage s*x, kinky, cheating)
Genre: Smut/Dark/Romance/Yaoi/Fluff/AU
Note: Ff ni tercipta karena Guanlin selalu berada di antara WinkDeep #lol
Main Cast :
Lai Guanlin (1st Grade)
Bae Jinyoung (2nd Grade)
Park Jihoon (3rd Grade)
The Lucifer Sahara
Gelap.
Gelap.
Gelap.
Kenapa semuanya menjadi gelap? Guanlin hanya bisa melihat bagian bawah dari pipinya... tunggu, apa dia di-blindfold? "A-apa yang terjadi? Ap-apakah ada seseorang di sini?" Ia bertanya panik, mencoba menyingkirkan blindfold hanya untuk bergidik ngeri karena...
Deg, deg, deg, deg...
... kedua tangannya terikat ke belakang.
O, my... APA YANG SEBENARNYA TERJADI?! Bukankah sebelumnya Guanlin sedang berjalan santai sehabis pulang berkunjung dari rumah Jihoon... oh, Jihoon Hyung-Nya yang tersayang. Apa yang sedang dilakukannya sekarang? Apakah dia bersama... Jinyoung?
"Kkkk~ Kau sudah bangun?"
DEG.
Suara itu.
"J-Jinyoung Hyung?"
Yeah, suara berat namun kekanakan itu. Kombinasi yang sangat jarang ditemui. Dan satu-satunya orang yang Guanlin kenal dengan suara seperti itu... hanya Jinyoung. Bae Jinyoung, kekasih dari Park Jihoon... yang secara rahasia selalu ia idam-idamkan.
"Ji-Jinyoung Hyung, apa itu kau?" tanya Guanlin mengulang, kali ini mencoba bangkit namun harus menelan kekecewaan saat kedua kakinya juga terikat. What the... apa dia diikat duduk di kursi? "Hyung, aku tahu itu kau. Jawab aku, Hyung, apa yang sebenarnya kau lakukan padaku?!"
Guanlin adalah remaja yang tumbuh besar dengan didikan tata krama sempurna. Dia selalu berbicara lemah lembut, ramah. Tidak perah sekalipun dia meninggikan suara. Bahkan kepada Jinyoung, senior imut dan tampan yang selalu mengalahkannya dalam mendapatkan perhatian Jihoon.
Tapi tidak untuk kali ini.
"HYUNG! JAWAB AKU!"
Sama sekali tidak ada kelembutan di sana. Guanlin berteriak keras hingga telinganya berjengit saat mendengar pantulan suaranya sendiri bergema di dinding. Demi Tuhan, di mana sebenarnya dia berada?!
Prok. Prok. Prok.
Alih-alih mendapatkan jawaban, Guanlin hanya mendengar tepukan ber-ritme.
Tep, tep, tep~
Juga suara langkah kaki ringan yang mendekat.
Sat!
Seseorang—Jinyoung?—duduk di pangkuannya. Lengan berkulit mulus seketika mengalungi leher Guanlin. Nafas hangat beraroma apple dan cinnamon membelai halus permukaan bibirnya...
"Kau tahu? Aku selalu tahu kalau kau bukanlah sepenuhnya anak baik yang dielu-elukan semua orang, ..."
Sret~
Blindfold yang menghalangi pandangannya terlepas.
"... Lai, Guanlin~"
DEG!
Ya, dugaan Guanlin benar.
Ini Jinyoung; Bae Jinyoung dengan wajah imutnya yang tersenyum bak malaikat... begitu dekat dengannya. Guanlin sontak menyentak kepala ke belakang, bermaksud memberi jarak. Sia-sia, karena Jinyoung juga bergerak ke depan, mengikutinya.
"Wae? Apa aku..." menggantung kata, Jinyoung mendekati telinga kiri Guanlin, "... membuatmu merasa tidak nyaman~?" tanya-nya berbisik lirih, bibir nyaris menempeli daun telinga remaja berkebangsaan Taiwan tersebut.
Blush~
Rona merah padam menjalari wajah putih Guanlin. Telinga kiri adalah salah satu bagian tersensitif di tubuhnya. Dia mengetahuinya secara tidak sengaja saat Jihoon berbisik padanya di sana. Ah, Jihoon... "H-Hyung, ap-apa yang sebenarnya sedang kau lakukan? Bagaimana dengan Jihoonie Hyung?!"
Menarik wajah, Jinyoung menatap Guanlin tepat di kedua mata. "Ada apa dengan Jihoonie?"
Mata doe itu... sewarna dengan madu, namun lebih terang. Guanlin baru menyadari, ini adalah kali pertama dia benar-benar menatap Jinyoung. Begitu dekat. Cahaya hangat dari mentari yang menembusi jendela kaca mengenai mereka, membuat marbel menakjubkan tersebut seolah berkilauan. Seperti mimpi. Bae Jinyoung terlihat tidak nyata. Apa dia selalu terlihat seperti ini?
"A, are you... checkin' me out?"
Blush~
Layaknya maling yang tertangkap basah, wajah Guanlin semakin memerah kalau itu mungkin. Jinyoung menangkapnya. Memalukan. Namun mengapa... dia tidak bisa memalingkan wajah dari marbel menakjubkan itu?
Sret~
Jinyoung mendekat tanpa sedikit pun memutus kontak mata mereka. Luar biasa dekat hingga nafas Guanlin terhenti karena bibir tipis, kenyal, dan berwarna pink tersebut nyaris menyentuhnya. Hanya satu; satu sentimeter yang menyiksa. "Do you like what you see~?"
Oh~
Bisikan lirih itu lagi.
Aroma hangat dari apple dan cinnamon bagai menyelimuti Guanlin—pikirannya.
Seolah mengetahui pasti dampak yang dihasilkannya terhadap remaja tampan yang pangkuannya tengah ia duduki... Jinyoung menyeringai. Gosh, adakah seseorang yang masih terlihat seperti malaikat meskipun sedang menyeringai? Adakah?
"Kkkk, you difinitely like it, huh? Jangan khawatir, aku akan mengabulkan apapun itu yang sedang melintas di benak kotormu saat ini."
What?
Guanlin tidak sempat bereaksi saat bibir tipis yang kenyal itu...
Cup!
... mengecupnya. Cepat.
Jinyoung menatapnya tanpa ekspresi. Seolah menunggu sesuatu. Dan kembali mendekat...
Cup!
... 1 – 2.
Cup!
... 3.
Cup! Cup!
... 4, 5.
"..."
"..."
Tidak ada lagi kecupan. Jinyoung hanya di sana, wajah beberapa centi dari Guanlin, balas menatapnya dalam dengan marbel light honey menakjubkan...
Oh, Persetan.
"Umph~" Jinyoung mengerang.
Dengan kasar Guanlin meraup bibir pink kenyal itu. Menghisapnya keras, menelusupkan lidah. Seolah dirinya sudah berhari-hari tersesat di Gurun Sahara, kehausan, dan Jinyoung adalah air menyegarkan yang saat ini dibutuhkannya untuk melepas dahaga.
"Oh, humm... Guanlinhh~"
Namja imut tersebut bergumam, memanggil namanya sembari mendesah. Guanlin semakin kehilangan akal sehat. Dia tidak pernah melakukan ini dengan siapapun. Ini adalah ciuman pertamanya—pergumulan panasnya yang pertama.
Dia menginginkan lebih.
Ckmph~
Melepas ciuman dengan suara berkecipak nyaring, Guanlin langsung membawa bibirnya menelusuri leher jenjang tersebut, mengecup pelan, menghisap keras, dan... menggigitnya. Meninggalkan jejak merah semu, dan pekat, setiap kali Jinyoung memekikkan erangan—lena.
Tapi...
Guanlin tidak puas. Penjelajahannya harus terhenti oleh t-shirt putih itu. Dia ingin melepasnya dari tubuh Jinyoung. Dia ingin melihat semuanya. Jika saja tangannya tidak terikat...
Seolah membaca pikiran Guanlin, atau mungkin membaca dari tatapan lapar yang diberikan namja itu pada tubuhnya, Jinyoung menarik dan meloloskan kaus dari kepala, mengekspose tubuhnya yang kurus namun atletis dengan abs rata nan keras.
Guanlin tanpa sadar menjilat bibir. Bae Jinyoung adalah senior populer di sekolahnya. Dia sangat terkenal akan wajah kecil serta tubuhnya yang langsing semampai. Namun yang orang-orang tidak tahu... betapa sempurnanya tubuh yang Jinyoung miliki di balik semua pakaian oversize itu. Jinyoung sangat seksi; memabukkan.
"Nah, apa yang kau tunggu?"
Seringai menantang, tubuh, serta wajah imut tersebut seolah saling bertarung di dalam satu jiwa. Siapa Bae Jinyoung sebenarnya? Bukankah dia adalah namja tampan dan imut yang semua orang kagumi? Dia juga ramah dan senang bergaul dengan siapa saja. Tapi sekarang... Jinyoung berada di pangkuannya. Menyeringai. Bertelanjang dada. Menggoda.
"Siapa kau sebenarnya, Hyung?"
Mata doe menakjubkan Jinyoung membulat, tersentak karena sepertinya tidak pernah memperhitungkan pertanyaan tersebut akan terlontar dari mulut Guanlin. Namun hanya sesaat, karena berikutnya bibir tipis itu kembali menyeringai, mendekat, dan berbisik. "Aku? Aku hanya namja posesif yang akan melakukan segalanya agar namja-namja pengganggu dan tidak tahu malu sepertimu menjauh dari kekasihku."
DEG.
Mwo?
Menyadari keterkejutan Guanlin, Jinyoung menarik diri, sekarang memberi jarak yang cukup jauh pada wajah mereka. Tidak ada lagi seringai di sana. Hanya tatapan tajam. Seandainya tatapan dapat membunuh seseorang, Guanlin pastilah sudah menjadi onggokan mayat yang tercabik-cabik sekarang. "Kau pikir bisa menipuku? Kau memiliki perasaan khusus terhadap Jihoon."
DEG!
"Di depan semua orang kau selalu berkata kalau kau menyukai kami berdua. Kau berkata kami berdua adalah yang tertampan di sekolah. Tapi setiap kali ditanyai siapa yang paling tampan di antara kami berdua... kau akan menjawab Jihoon. Kau selalu menatap kekasihku nanar. Kau berpikir tidak ada yang menyadarinya, tapi kau tahu? Aku tidak bodoh, Lai Guanlin. Aku bisa membedakan dengan jelas apa itu tatapan kagum, dan apa itu tatapan memuja. Kau sangat licik. Munafik. Kau sadar itu?"
Bagai ditelanjangi. Jinyoung membacanya seperti buku yang terbuka. Alhasil, Guanlin tidak bisa berkata-kata, apalagi membantah. Untuk apa? Itu semua benar. Tidak satu – dua kali dia berpikir, berharap Jihoon akan berpaling padanya. Jinyoung dan Jihoon memang terlihat serasi bersama. Semua orang menyetujuinya. Di depan orang-orang Guanlin juga menyetujuinya. Tapi... dia boleh bermimpi, 'kan? Mungkin saja Jihoon akan terlihat lebih serasi bila bersamanya?
"Kkkk..."
Kikikan tersebut memutus pemikiran penuh intrik Guanlin. Yeah, dia sangat licik. Munafik.
"See? Aku bisa melihat dengan sangat jelas semua harapan konyol itu berseliweran di matamu. Kau menipu semua orang dengan kepolosan ini." Jinyoung menepuk-nepuk pelan pipi kanan Guanlin, gestur yang begitu mudah dibaca sebagai peringatan keras. "Tapi aku berbeda."
Guanlin bisa melihatnya.
"Kau tidak bisa membodohiku, Guanlin. Kau tahu kenapa?" Jinyoung ber-retorik. Dia tahu, kalau Guanlin tahu. "Karena kita sama. Kita memakai topeng malaikat ini untuk menipu orang-orang. Kita tak ubahnya Lucifer, berjalan di permukaan bumi untuk memperdaya, dan menipu semua orang; menyesatkan mereka untuk berpikiran persis seperti apa yang kita mau."
Yeah, itu benar.
Mereka sama.
"Tapi..." Jemari lentik Jinyoung menelusuri lekukan Adam's apple pada leher Guanlin, sesaat menekannya cukup keras. "Satu hal yang perlu kau tahu, aku lebih dari itu. Aku sama sekali tidak tertarik menyesatkan. Aku... lebih suka menghancurkan mereka. Aku akan menghancurkan siapapun itu yang menjadi penghalang. Dan kau..."
"Argh!" Guanlin mengerang. Jinyoung mengigit keras Adam's apple-nya, meninggalkan barisan gigi seri atas dan bawah yang diyakininya berwarna merah pekat oleh darah. Meski menyakitkan, luka tersebut menyengat otot saraf Guanlin seperti sengatan listrik.
Jinyoung tersenyum puas, menelusuri luka yang diciptakannya dalam satu jilatan pelan, lalu mengangkat wajah dan melarikan pad ibu jari ke bibir bawah, menyapu noda darah di sana hanya untuk menyebarkannya kacau. Bibir yang sebelumnya pink gelap—hasil dari pergumulan panas mereka sebelumnya—sekarang berwarna merah. Merah yang kacau. Mengundang.
"... perasaanmu yang menyedihkan ini, adalah penghalang terbesar yang akan kuhancurkan, Lai Guanlin."
~~~~~~~~\(o.o)/\(- _ -)/~~~~~~~~
"Nnh... please, Hyung... le-lepaskan ikatan ta – ohh~" Guanlin mendongak, menutup matanya yang serasa berputar ke belakang kepala. Larut dalam lena.
"Kkkk~"
Entah kenapa dia repot-repot meminta. Toh, kenyataannya, tidak satu pun keinginannya Jinyoung penuhi. Wajah mempesona namja itu berada di antara selangkangannya saat ini, menghembuskan nafas hangat, namun tidak benar-benar melakukan apapun. Hanya di sana. Menatapnya menyeringai.
"Kenapa aku harus membuka ikatan tanganmu? Apa yang akan kau lakukan dengan tanganmu itu kalau aku mengabulkannya, Guanlin? Memaksaku melakukan ini?" Jinyoung menurunkan zipper jeans yang Guanlin kenakan... menggunakan giginya... pelan...
"Urgh... Gosh!"
Hanya ada jeda beberapa detik yang menyiksa saat kedua tangan halus Jinyoung mengeluarkan tubuh kecil Guanlin dari balik boxer.
"..."
Namun hanya itu.
Dia lagi-lagi tidak melakukan apapun selain mendongak dari tempatnya berjongkok, menatap Guanlin nanar.
"Gosh, you can't do this to me, Hyung! A – ahh... please!"
Depresi bukan kata yang tepat menggambarkan apa yang Guanlin rasakan saat ini. Dia gila, haus, menunggu sentuhan Jinyoung. Oh, seandainya kedua tangannya tidak terikat...
"Kkkk... You're a mess~" komentar Jinyoung meremehkan. Bibir merah menyentuh permukaan bawah organ vital yang menegang di depannya, dengan sengaja mendengungkan gumaman tanpa arti hanya untuk menggodai Sang Pemilik.
"Ahh~"
Tentu saja, Guanlin memberikan reaksi yang diinginkan.
"Say it. What do you want. Say it."
Ujung lidah yang mungil, memberikan kitten lick basah di kepala kesejatiannya yang dibanjiri pre-cum.
"Aaaahhhh..."
Apa daya, Guanlin kembali mendongak dan menutup mata. Jinyoung hanya menggodainya sedari tadi. Dia sudah begitu panas, begitu tegang hingga ke tahap menyakitkan. Sentuhan seringan bulu seperti ini bisa saja membuatnya cumming tiba-tiba.
Grab!
Tapi lagi-lagi Jinyoung membacanya. Kedua tangan lembut tersebut sekarang mencengkeram bagian dasar dari kesejatian Guanlin, menahan apapun itu yang mengancam keluar dari sana.
"Akh! Don't!"
Itu. Sangat. Menyakitkan.
"Hahahaha..." Jinyoung tertawa seperti maniak. "Kita bahkan belum memulai apapun, dan kau sudah ingin cumming? Apa kau selemah itu?" tanya-nya berpura-pura innocence, dengan sengaja menirukan suara anak kecil hanya untuk mengerucutkan bibir setelahnya. "Come on... hold it, okay~?"
Apa Guanlin terlihat memiliki pilihan di sini?
Merasa kesejatian dalam genggamannya tidak lagi menunjukkan reaksi akan cumming, Jinyoung melepasnya, mendekatkan wajah dan memberikan kecupan serta hisapan kecil di sana-sini.
"Ahh, please... hh..."
Pergerakan bibir Jinyoung berhenti sepenuhnya, mengundang erangan kecewa. "Please what? Say it, Guanlin. Say it. Out loud."
"PLEASE SUCK MY D*CK AND MAKE ME CUM HARD, HYUNG!"
"Kkkk, lihat? Itu tidak begitu sulit, 'kan?"
"F*ck you, Hyung."
"Oh, you will~ After this."
Jinyoung tidak lagi berbicara setelahnya. Bibirnya yang merah tertarik hingga menipis, mencoba meraup kesejatian putih pucat tersebut secara keseluruhan, memasukinya hingga ke belakang tenggorokan. Dia menghisapnya antusias, menjilati permukaannya yang hangat, merasakan bagaimana benda itu berkedut di dalam mulutnya.
Ingin rasanya Guanlin menutup mata, menikmati sensasi memabukkan ini. Tapi tidak. Dia ingin melihatnya; melihat bagaimana bibir mungil itu mengulum tubuh kecilnya. Jinyoung menghisap seperti profesional. Well, bukan berarti Guanlin pernah diberi blowjob sebelumnya tapi... dia tahu, kalau ini bukanlah kali pertama namja imut tersebut melakukannya.
"Ckmph... ummh~"
Dan suara erangan lirih itu...
"Mmh~~"
Oh... Jinyoung menutup mata sembari menghisap kesejatiannya. Seolah tengah menikmati lolipop dengan rasa favorit, menjilatinya... lalu melakukan gerakan menelan yang membuat Guanlin mau-tidak-mau mendongak, menutup mata. Melihat bintang.
"Oh, Gosh... Hyunghh... Y – hh... you're sooo good... hh... so f*ckin good... ahh~" puji Guanlin dipenuhi lena. Namun dia merasa, ingin, menjadi seseorang yang egois. Dia menginginkan lebih. Dia ingin menautkan jemari ke belakang kepala kecil itu, memainkan surai halus sehitam arang di sana, dan mendorongnya naik-turun. He wanna f*ckin Jinyoung's perfect mouth hard and fast so bad.
Alhasil, Guanlin bergumul dengan tali pengikat pergelangan tangannya. Mencoba merasakan apakah benda itu terbuat dari bahan yang sulit dilepas atau tidak.
And d*mn!
Oh, betapa konyolnya.
Jinyoung ternyata hanya mengikatnya dengan tali plastik. Guanlin sontak memutar kedua tangan ke arah berlawanan berkali-kali, mencoba melonggarkan ikatan dan...
Srat~
... ia terbebas. Dia seharusnya melakukannya sedari tadi. Dengan begitu, Guanlin Junior tidak akan tersiksa seperti ini.
Greb~
Jinyoung yang sama sekali tidak menyadari apa yang sedang terjadi sedikit terlonjak kaget. Merasakan tangan lebar Guanlin memegangi kedua sisi kepalanya. Namja tampan itu menyeringai.
"My turn, Cutie~"
#########\(-o-)/#########
"Ngh! Ah! Ah!"
Suara nyaring dari erangan, desah, serta gesekan basah bergema, memantuli dinding sebuah apartemen modern minimalis. Tak jarang suara berkecipak dan desahan tinggi menyelingi. Membuat siapapun yang lewat di luar lorong sana akan menyadari langsung apa yang tengah terjadi di balik pintu apartemen.
"Argh... Hyung, you feel sohh... goodhh~" Guanlin tanpa henti memuji, menatap lapar wajah imut yang tengah tenggelam dalam kenikmatan di atasnya. Mereka tidak lagi saling berpangku di atas kursi, melainkan di atas queen size bed berseprei putih. Ranjang Jinyoung. Kamar tidur Jinyoung.
Namja itu ternyata menyekapnya di apartemen 'rahasia'nya. Guanlin tidak mengerti kenapa Jinyoung memerlukan sesuatu seperti apartemen rahasia. Apa ini semacam hobi unik para kaum jetset?
"Nnh... a-ah, Guanlin~!"
Pelukan Jinyoung pada lehernya semakin erat. Guanlin tahu namja imut itu akan segera cumming, mengingat kehangatan basah yang semakin mencengkeram kesejatiannya erat di bawah sana. Akan tetapi...
Slop~
... Guanlin dengan sengaja mencengkeram bokong kenyal di kedua tangannya keras, mengangkat tubuh kurus Jinyoung hingga terlepas dari kesejatiannya. Dia tidak menyisakan ruang bagi Si Imut untuk sekedar protes karena langsung merubah posisi mereka, membaringkan punggung Jinyoung di ranjang, dan mengambil posisi di antara kaki yang terbuka. Guanlin kembali menyelimuti kesejatiannya ke dalam kehangatan basah yang langsung menyambutnya erat.
"Ahh..."
"Argh~"
Mereka mendesah serta mengerang bersamaan—di antara frustrasi dan tenggelam.
Tangan kiri Guanlin mencengkeram pergelangan kaki kecil tersebut, membawanya ke atas, melebarkannya ke samping. Sementara tangan yang lain meraih ke depan, tepat menyelinap ke belakang leher Si Imut dan menariknya ke dalam pergumulan panas dari mulut ke mulut. Pinggul kembali bekerja, menghentak ke depan..., lalu ke belakang dalam gerakan frustrasi bercampur antusias. Mereka berdua sangat dekat.
"Umhh~ ah! Ah!" Jinyoung kesusahan mendesah di antara lidah Guanlin, dengan liar meraba langit-langitnya. Juga... hentakan luar biasa dari kesejatian keras dan berkedut itu... Dia – mereka berdua, tidak bisa berpikir jernih. "A – nhh~ aku akan... humph~"
Guanlin menghisap keras lidah mungil yang tidak sengaja menelusup ke dalam mulutnya, memberi gigitan pelan hanya untuk melepas setelahnya dan berkata, "... hh... together, Youngiehh~"
Pandangan Jinyoung kabur oleh air mata, namun dia bisa melihat bagaimana tubuh liat, putih pucat Guanlin yang dibaluti keringat tipis, sekarang bersemu. Menaunginya dengan sangat sempurna. Otot lengan tampak menonjol ketika kedua tangan lebar menapaki belakang pahanya, melipat tubuhnya menjadi dua. Dan...
"Ah! Ah! Ah! AHH!"
... kesejatian yang seketika menghujaminya bak piston.
Betapa Jinyoung tidak berdaya. Guanlin dengan begitu mudah merajainya. Hasrat dan gairah yang menguasai tubuh namja itu begitu besar. Hingga Jinyoung tidak bisa melakukan apa-apa selain mengikuti. Layaknya boneka.
"I – Urgh... I'm com-minghh..."
Satu,
Dua,
... Tiga hentakan keras ke depan...
"AKH!"
"ARGH..."
Mereka mencapai puncak kenikmatan bersama. Guanlin untuk kali ke dua... dan Jinyoung yang tidak tersentuh.
~~~~~~~~\(o.o)/\(- _ -)/~~~~~~~~
"Kalau begitu aku pergi dulu, ya, Jinyoungie." Jihoon tersenyum begitu manis, meraih satu pipi Jinyoung agar membungkuk dan mengecup sisi pipinya yang lain. "Aku sangat senang ternyata kau sudah baik-baik saja."
Tersenyum, Jinyoung menangkup tangan mungil di pipinya. "Mianhe, Hyung, aku seharusnya memberitahumu. Aku hanya tidak ingin membuatmu khawatir. Tapi sekarang aku baik-baik saja. Jangan mencemaskanku, ne? Aku tidak ingin fokusmu pada pelajaran terganggu. Kau sebentar lagi akan mengikuti ujian akhir. Aku tidak ingin kau gagal."
"Kkkk, aigoo... you're so sweet. Tapi lain kali beritahu aku, ne? Aku sangat mencemaskanmu, Jinyoungie. Kau hanya tinggal sendiri di Seoul." Bibir merah Jihoon mengerucut, membuat Jinyoung tergoda dan tidak tahan untuk tidak mengecupnya pelan.
"Hyung, aku hanya terjatuh di kamar mandi. Tidak ada yang perlu dicemaskan."
"Tsk! Bagaimana aku tidak mencemaskanmu? Lihatlah, kau berjalan terseok-seok, Jinyoungie...! Jika kau tidak berkata sudah memeriksakannya ke dokter sore tadi, aku pasti sudah menyeretmu ke rumah sakit sekarang!"
Greb~
Jihoon panik. Maka dari itu Jinyoung melakukan satu-satunya cara yang selalu dilakukannya setiap kali kekasihnya yang cantik ini panik; dia memeluknya erat, tanpa sedikitpun menyisakan celah di antara mereka. "Tenanglah, Baby... Dokter sudah mengatakan kalau aku baik-baik saja dan akan pulih setelah beristirahat. Aku akan berjalan normal dalam beberapa hari. Kau tidak perlu cemas."
Berhasil.
Bahu Jihoon yang sebelumnya kaku sekarang rileks. Dia balas memeluk pinggang Jinyoung erat, menyembunyikan wajah di dada bidangnya, menghirup aroma maskulin bercampur apel hijau menyegarkan di sana. Apa Jinyoung baru saja keluar dari shower? "You smell good," pujinya tiba-tiba, membuat tubuh yang dipeluk bergetar oleh tawa.
"And you smell cute, Baby."
Mendengus, Jihoon akhirnya dengan berat hati melepas pelukan mereka. Dia sebenarnya ingin terus berada dalam dekapan kokoh yang selalu memberikannya kehangatan itu. Tapi Jinyoung butuh istirahat agar segera pulih. "Aku tidak pernah mendengar seseorang menyebut aroma itu 'cute'. Mungkin kau benar-benar butuh istirahat, Jinyoungie. Aku pergi. Jaga dirimu dan hubungi aku kalau terjadi apa-apa, arraso?"
"Ne, Mommy."
Jinyoung mendapat desisan jengkel main-main atas godaan tersebut, yang membuatnya tertawa keras dan menarik tubuh mungil Jihoon kembali dalam dekapan, memeluknya gemas sesaat, sebelum melepasnya pergi dengan saling berjanji akan menghubungi serta memberi kabar satu sama lain.
Siiiiiiiiiiiiinnnngg...
Apartemen mewah yang Jinyoung tempati kembali suny—
Greb~
"Terjatuh dari kamar mandi, huh?"
—atau tidak.
Sepasang lengan kokoh memeluk pinggangnya dari belakang. Wajah tampan menelusup di antara lekukan lehernya, menghirup aromanya dalam. Namja itu bertelanjang dada.
"Kau seharusnya setuju untuk memeriksakan diri ke rumah sakit bersama Jihoon Hyung." Guanlin bergumam, menghembuskan nafas hangat yang membuat tubuh Jinyoung bergetar.
"Huh. Dan membuat semuanya terbongkar agar kau dengan mudah merebut kekasihku?"
Tubuh yang memeluknya bergetar oleh tawa. "Ani. Agar kau segera putus dengannya dan bisa bebas bersamaku, Cutie~" Guanlin mengoreksi, menyeringai penuh arti sembari menggigit kecil kulit leher yang sebelumnya ia kecup.
"Tsk. Teruslah bermimpi, Lai Guanlin." Jinyoung berbalik. Marbel light honey menatap lurus ke dalam marbel cokelat gelap milik Guanlin. "Aku tidak akan pernah berpisah dari Jihoonie. Aku sangat mencintainya. Kau bisa memiliki tubuhku. Tapi tidak dengan hatiku."
Deg, deg, deg, deg...
Keseluruhan diri Jinyoung.
Pelukannya yang begitu hangat... mencengkeram.
Guanlin salah. Jinyoung bukanlah air. Bae Jinyoung adalah Sahara itu sendiri; Sahara yang menyesatkannya dengan oasis fatamorgana. Fatamorgana terindah yang sedikit pun tidak memiliki celah. Guanlin tidak bisa kabur. Dia tenggelam. Tersesat. Hancur lebur.
Grep~
"Alright... I'm okay with just that. As long as your body with me. I'm okay."
Guanlin boleh bermimpi, 'kan?
Mungkin saja... suatu saat nanti Jinyoung akan terlihat lebih serasi bila bersamanya.
END
