Brengsek.
Ia kehilangan jejak.
Umpatan demi umpatan ia gumamkan sembari mengacak-acak rambut merah menyalanya. Orang itu sungguh yakin bahwa Sakura ada di kedai ramen ini. Salah satu bawahannya tidak sengaja melihat seorang gadis berambut merah muda. Memastikan apakah itu orang yang ia cari atau bukan, tangan kanannya itu segera mengambil sebuah foto dan mengirimkannya melalui jalur pesan pribadi yang tidak dapat dilacak oleh pihak kerajaan. Ia harus segera menghabisi gadis itu sebelum gadis itu menginjak usia delapan belas tahun. Ia masih mempunyai waktu tujuh bulan sebelum itu. Perundang-undangan mengatur bahwa seorang putri akan dijodohkan saat ia berusia delapan belas tahun. Itu adalah aturan yang tidak bisa diubah oleh siapapun, bahkan Raja Kizashi sendiri. Jika Sakura telah mengikat sebuah ikatan dengan orang yang mempunyai kekuatan politik besar—kemungkinan Putra Mahkota Gaara dari Suna—maka rencana ini sama saja bunuh diri dan mendeklarasikan perang. Ia akan dihukum mati.
Ini adalah rekor pelarian Sakura terlama. Sebuah kesempatan besar untuk menghabisi nyawa gadis tersebut. Jika ia berhasil melakukannya, ia akan mempunyai hidup yang nyaman. Harta, kekuasaan, kebebasan akan ia peroleh. Namun yang terpenting adalah keselamatan dirinya dan juga keluarganya. Sudah dipastikan ia kebal akan hukum, para pemegang hukum di atas sana akan melindunginya. Demi sebuah monarki dengan idealisme mereka sendiri, mereka mempermainkan hukum.
Menghela napas panjang, ia mulai menyalakan mesin mobilnya dan kembali ke istana secara diam-diam. Kembali merencanakan langkah selanjutnya untuk bertemu tangan kanannya itu besok pagi.
…
…
…
ran away princess
part ii
…
…
…
…
I was cold, homeless and alone
Before you came I was only one of these stones.
…
…
…
Mereka duduk di ruang tamu kecil di rumah susun Sasuke. Semua tentang rumah susun ini terkesan serba kecil dan minimalis. Barang-barang yang ada juga hanya hal yang paling esensial di rumah.
Sakura duduk di sebuah sofa berwarna putih tulang. Bantalan duduknya sudah tidak empuk lagi sebagaimana sofa pada umumnya. Sesekali dia menggerakkan bokongnya karena merasa sedikit kaku dan itu membantu memperlancar aliran darah di dalam tubuhnya. Dia sangat gugup dan canggung. Kejadian sebelumnya sangatlah memalukan. Sungguh, dia tidak menduga bahwa wanita paruh baya yang dijadikan benteng perlindungan adalah ibu dari Sasuke.
Rasanya hari ini dia ingin mati saja karena tidak kuat menahan malu. Dan oh, wajah Sakura memerah melihat ekspresi Mikoto—ibu Sasuke—yang sepertinya menahan tawanya setelah Sasuke menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka.
"Jadi, kau tidak punya tempat tinggal, Nak?" tanya Mikoto.
Sakura mengangguk. Dilihat dari penampilan Mikoto, dia adalah orang baik. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. "Jika tidak keberatan, bisa kau ceritakan sedikit mengapa kau bisa seperti ini?"
Sakura kembali menceritakan hal yang tidak sepenuhnya kebohongan. Dia sedikit terkejut karena ibu dan anak ini tidak mengetahui siapa dirinya sebenarnya. Lagi, banyak anak gadis di negeri ini yang dengan sengaja mewarnai rambut mereka dengan warna merah muda agar terlihat seperti putri mahkota. Sejak Sakura pertama kali dikenalkan ke publik, pink haired effect menjadi tren di dunia. Tentunya kegelisahan Sakura tidak berarti saat ini. Dia hanya berdoa semoga saja mereka mau menerima Sakura, dia akan pergi sebelum pihak kerajaan mengetahui tempat persembunyiannya sehingga kedua orang baik ini dapat terhindar dari masalah.
Maafkan aku, Sakura berniat hanya malam ini saja merepotkan keluarga kecil ini. Esok sebelum fajar, dia harus segera pergi ke stasiun. Dia akan kabur ke Oto atau Suna.
"Karena ini sudah larut, sebaiknya kau menginap di sini, Nak," ucap Mikoto.
Sakura mengangguk dengan tersipu malu. Dia tersenyum senang. Sungguh sangat berterimakasih kepada Mikoto.
Melihat senyum Sakura, wanita paruh baya tersebut berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan, "Aku ambilkan pakaian ganti."
Rasa hangat menyeruak di dalam hati Sakura. Jika saja ia mempunyai ibu selembut wanita ini, mungkin saja ia akan betah tinggal di istana dan berkelakuan baik. Sejak ia kecil ibu Sakura—Ratu Mebuki selalu menjaga jarak dengannya. Bahkan ia tidak ingat kapan terakhir kali ibunya memeluknya. Sakura merasa seumur hidup ia belum pernah merasakan pelukan dari ibunya. Sakura sedikit iri dengan Sasori. Walau mereka adalah keluarga kerajaan, tetap saja dulu sebagai anak-anak ia seperti anak lain pada umumnya. Selalu mencoba mendapatkan perhatian dan pengakuan dari orang-orang di sekitarnya. Ia sering melihat Sasori dipeluk dan bangga-banggakan oleh ibunya. Perbedaan kasih yang diberikan semakin menjadi-jadi ketika Sasori terpaksa menanggalkan posisinya sebagai putra mahkota. Sejak saat itu Sakura semakin jarang bertemu dengan Mebuki. Saat makan malam bersama hanya kebisuan yang ia dapat. Barang senyum kecil ataupun sapaan belum tentu ia peroleh ketika mereka bertemu. Para pengasuh Sakura mengatakan bahwa Ratu Mebuki melakukan itu—hal dingin tersebut— adalah untuk membuat Sakura menjadi pribadi yang kuat, karena nanti Sakura akan menjadi ratu di kemudian hari.
Bukan, bukan karena itu, Sakura ingin berteriak. Ada hal lain yang ibunya sembunyikan.
Sasuke melihat raut wajah Sakura yang beberapa menit lalu tersipu bahagia. Namun sekarang terlihat akan meledak dengan sebuah emosi yang Sasuke paham betul itu adalah kemarahan, kekecewaan, dan kecemburuan. Sasuke terlatih membaca bahasa tubuh orang lain. Saat Sasuke hendak mengatakan sesuatu, tiba-tiba saja gadis berambut merah muda itu menoleh. Tatapan mata mereka bertemu. Sasuke terdiam, berusaha membaca lebih bahasa tubuh gadis itu. Lagi, raut wajah itu berubah. Kini Sakura tersenyum lebar tapi canggung kepada Sasuke.
Gadis gila.
Sasuke berpamitan untuk membersihkan dirinya dan pergi meninggalkan Sakura seorang diri. Itu tidak berlangsung lama karena Mikoto segera kembali dengan membawa satu setel pakaian ganti untuk Sakura. Bersama-sama mereka memulai menutup hari yang melelahkan tersebut.
…
…
…
…
…
…
Sakura terbaring di sebuah futon tipis di samping Mikoto. Ia tidak bisa tidur. Bukan karena kondisi tempat ini, melainkan ada sesuatu yang terus menghantui kepalanya. Tentang Sasori, kakaknya. Ia sangat menyayangi kakaknya itu. Bahkan ia yakin Sasori juga menyayanginya—sangat menyayanginya. Namun akhir-akhir ini ada sebuah kegelisahan yang tersirat di wajah kakaknya tersebut. Menghantui Sasori hingga membuatnya harus minum obat penenang lebih dari biasanya. Atau bahkan saat ia menemui Sasori di kediamannya, kakaknya tersebut sedang mabuk berat.
Fajar sudah hampir datang dan ia sama sekali belum tidur. Tidak ada gunanya terus berbaring berusaha untuk tidur. Sakura bangkit dan beranjak dari futon tersebut, namun setelahnya ia mendengar suara Mikoto memanggilnya.
"Aku ingin ke kamar kecil," ucap Sakura. Mikoto mengangguk dan ikut beranjak, karena sudah pagi lebih baik lekas memulai hari. Tidak ada gunanya bermalas-malasan, banyak pekerjaan menantinya.
Menuju ke kamar mandi kecil di ujung lorong, Sakura dengan perlahan memperhatikan rumah kecil tersebut. Ada aura berbeda dengan rumah ini. Perbedaan sangat dratis yang membuat rasa nyeri seperti jatuh ke perutnya. Rumah ini kecil namun penuh dengan sentuhan hangat sebuah keluarga—semua tertata cukup rapi. Setiap sudut ruangannya mewakili pribadi pemilik rumah. Sebuah lemari kaca penuh dengan piala, vas bunga lili putih kecil di meja, sebuah kipas angin di samping televisi kecil, dan dua kursi mengampit meja makan di samping dapur. Semua perabotan mempunyai fungsi. Tidak seperti di kediamannya, banyak sekali perabotan yang dipajang hanya untuk pajangan atau sekadar mengatasnamakan seni desain. Contohnya, seperti beberapa set sofa yang ada di kediamannya. Dalam hitungan bulan, belum tentu ada yang duduk di sofa-sofa tersebut, namun pelayan tetap saja membersihkannya setiap hari. Hal yang tidak berguna dan sia-sia.
Jika diberi kesempatan untuk bermimpi, Sakura ingin tinggal di sebuah rumah kecil. Sering ia membayangkan terlahir sebagai rakyat biasa. Tinggal di rumah mungil, tidur dalam satu ruangan bersama ayah, ibu, dan kakaknya. Semua dalam rengkuhan hangat sebuah keluarga. Bersama memasak makanan, membersihkan rumah, dan mungkin ikut bekerja paruh waktu. Semua terlihat begitu bermakna. Bekerja untuk menghidupi diri sendiri dan keluarga. Bertanggungjawab atas semua aspek di dalam hidupnya dengan apa yang ia hasilkan. Tidak seperti sekarang, Sakura dan keluarga kerajaan lainnya hidup dari pajak rakyatnya.
Sejatinya mereka adalah pelayan yang harus mengayomi rakyatnya, bukan sebaliknya.
Konoha dan Suna adalah dua negara berbentuk monarki absolut yang tersisa hingga saat ini. Dalam beberapa dekade terakhir, banyak negara yang mengubah bentuk pemerintahan dan negaranya seperti menjadi demokrasi dan republik. Monarki hanya menjadi sebuah simbolisasi saja, semua laju pemerintahan diserahkan kepada pilihan rakyat. Rakyat yang bersuara, karena bentuk pemerintahan monarki absolut sangat rentan terhadap korupsi, penyelewengan kekuasaan dan segala hal yang mengikutinya.
Uang saku dan tunjangan tidak masuk akal diterima Sakura setiap bulannya. Ia sudah kehabisan akal untuk dibelanjakan apa lagi uang tersebut. Pakaian sudah ia dapatkan secara gratis dari perancang busana ternama kelas dunia. Rasa bersalah menggerogotinya, karena ia tahu bahwa uang yang setiap bulan mengalir ke dalam rekeningnya adalah uang pajak yang dibayarkan rakyatnya dengan kerja keras.
Seperti keluarga kecil ini, mereka bekerja keras untuk hidup mereka dan hidup keluarga kerajaan karena mereka juga membayar pajak. Sakura bersumpah suatu saat nanti, ia akan membalas kebaikan keluarga kecil ini dengan uangnya sendiri. Bayangan menjadi orang nomor satu di Konoha tidaklah secerah yang orang pikirkan. Beberapa kali Sakura membayangkan dirinya menduduki tahta, tentang bagaimana dirinya menjadi ratu yang memerintah seluruh rakyatnya, tentang dirinya yang membuat Konoha lebih makmur.
Tidak, bayangan Sakura tidak sampai sejauh itu. Ada sebuah titik gelap di masa depan yang tidak bisa ia lewati. Seolah memang ia tidak diizinkan untuk membayangkannya karena hidupnya tidak akan sejauh itu. Kecemasan yang datang dari alam bawah sadarnya. Hal tersebut terus menghantuinya padahal usianya masih sangat belia.
"Jangan melamun saat berjalan."
Sakura terkejut dan menghentikan langkahnya saat wajahnya hampir saja terbentur dada bidang Sasuke. Hampir. Sasuke baru saja selesai mandi yang bersiap ke kampus dan bekerja, memulai harinya. Aroma maskulin kayu manis dan cokelat tercium darinya. Sakura mendongak dan menatap wajah Sasuke. Tatapan mata mereka bertemu. Sakura tidak bisa mengalihkan pandangannya dari oniks kembar tersebut. Seolah tenggelam dalam kegelapan malam yang membuat rasa penasaran ada apa di baliknya.
Waktu seolah terhenti. Kerancuan dan kegelisahan yang Sakura rasakan menghilang begitu saja.
Jika saja ia dapat terus berada dalam waktu yang terhenti tersebut. Namun, sayangnya itu hanyalah sebuah pikiran tidak realistis.
Tangan Sasuke bergerak menutup kedua mata Sakura dengan halus. "Aku sudah selesai," ucapnya. Lalu Sasuke berjalan melewati Sakura yang masih mematung di depan kamar mandi.
…
…
…
…
…
…
Sasuke menutup pintu kamarnya dan bersandar di depannya.
Bodoh, apa yang baru saja aku lakukan.
Ia memandang tangan kanannya yang baru saja ia gunakan untuk menyentuh Sakura. Ia tidak menyadari tangannya bergerak dan menyentuh gadis itu. Tangan itu bergerak sendiri seolah ingin meraih hijau emerald yang turut menariknya. Ia tidak menyangka bahwa kulit gadis itu sangatlah lembut, jauh lebih lembut dari yang ia bayangkan sebelumnya. Atau saat mata emerald kembar itu tertutup mengikuti saat tangannya mendekat. Setidaknya tiga detik tangan Sasuke menyentuhnya, selama tiga detik itu pula waktu berhenti di dalam pikiran Sasuke. Dari ujung mata Sakura, Sasuke merasakan basah air yang membasahi telapak tangannya. Gadis itu hampir menangis karena lamunannya.
Tuhan, bajingan macam apa dia saat berpikir untuk tidak menolong gadis yang tidak berdaya semalam.
Mengembuskan napas pelan, Sasuke meraih tas kuliahnya di sudut meja belajar. Kemudian keluar untuk berpamitan dengan ibunya. Ada beberapa hal yang harus ia urus sebelum ke kampus. Ada orang yang ingin bertemu dengannya. Sasuke sungguh kenal orang tersebut, terlambat satu menit saja ia akan mengamuk dan berteriak-teriak. Hal terakhir yang Sasuke inginkan adalah menarik perhatian publik.
Saat Sasuke hendak berpamitan pada ibunya, Sasuke menyadari ada hal yang aneh dari ibunya. Mikoto sedang duduk di kursi dapur. Tangan wanita paruh baya itu memijat pelipis matanya.
"Ibu?"
Tidak ada jawaban dari Mikoto. Kemudian Sasuke berjalan mendekat. Digoyangkannya perlahan bahu ibunya tersebut sembari memanggilnya. "Ibu baik-baik saja?"
Mikoto mendongak dan menatap putra semata wayangnya dengan tatapan lelah. Hari belum dimulai namun tubuhnya berontak dan sangat kelelahan. Dia merasa pusing dan sangat lemas.
"Ibu tidak apa-apa, hanya pusing sedikit," jawab Mikoto. Senyum hangat tidak absen dari wajahnya.
Sasuke tidak percaya perkataan ibunya tersebut. Jelas ini lebih dari sekadar pusing. Hal tersebut tidak pernah menghentikan aktivitas Mikoto sebelumnya. "Aku bisa izin tidak masuk untuk menemani Ibu."
Mikoto menggelengkan kepalanya, "Tidak, Nak. Kau harus tetap kuliah. Lalu kenapa pagi sekali sudah siap?"
"Ada beberapa urusan yang harus aku urus sebelum ke kampus. Tapi hal tersebut bisa menunggu. Ibu lebih penting."
Saat ini, keluarga yang dimiliki Sasuke hanyalah ibunya. Ia akan melakukan apa saja untuk ibunya karena ia lebih penting dari segalanya.
"Duduklah, Sasuke."
Tanpa bicara lebih lanjut, Sasuke menuruti permintaan ibunya. Ditariknya sebuah kursi di hadapan ibunya.
"Tentang rencanamu setelah lulus kuliah, bagaimana?"
Sasuke terdiam beberapa saat. Ia mempunyai sebuah rencana setelah lulus kuliah. Namun, rencana tersebut tidak ada hubungannya dengan Konoha. Ia ingin pergi dari negara ini. Tidak ada kontrak atau perjanjian yang mengharuskan Sasuke untuk tetap tinggal di Konoha atau menjadi bagian dari pasukan pengaman kerajaan setelah ia lulus, walau ia telah diberi beasiswa oleh negara. Ada satu negara yang Sasuke pikirkan, yaitu Oto. Ibunya berasal dari Oto. Pasti tidak sulit untuk mendapatkan izin tinggal kembali di Oto. Dan jika itu diperlukan, Sasuke tidak akan menemukan masalah yang berarti jika ia ingin pindah kewarganegaraan.
Walau Mikoto tidak pernah mengatakannya, Sasuke sadar betul ibunya tidak ingin tinggal di Konoha. Semua luka dan kepedihan mereka dapatkan di negera ini. Mungkin Mikoto tidak pernah menyinggung tentang ketidaknyamanannya tinggal di negara yang merenggut nyawa orang-orang yang dikasihinya adalah karena Sasuke. Demi pendidikan Sasuke, karena kuliah di universitas ternama merupakan hal yang tidak mudah dan murah.
"Apa ibu ingin pulang?"
Raut wajah Mikoto berubah terkejut. Wanita paruh baya tersebut terdiam. Menelisir maksud dari pertanyaan putra semata wayangnya tersebut. Walau jauh di dalam hatinya Mikoto sudah begitu mengerti.
"Ibu sudah di rumah."
"Bukan itu…"
Sanggahan Sasuke terhenti oleh Mikoto, "Nak, tinggal di Konoha atau Oto sama saja, asal ibu bisa melihatmu, ibu sudah di rumah."
Dulu, saat mereka tidak mempunyai tempat tinggal, tidak sekali pun ibunya mengeluh. Bagi Mikoto, rumah adalah tempat anaknya berada.
Ia tersenyum tipis penuh pengertian.
"Tapi dia tidak mempunyai rumah untuk pulang."
Sasuke mengerang tidak percaya. Ia tahu siapa orang yang ibunya itu maksud.
"Kita pernah merasakannya, Sasuke. Pikirkan baik-baik."
Sebelum Sasuke sempat menjawab, suara air mendidih dari teko mulai nyaring terdengar, namun Mikoto tidak segera beranjak mematikan kompor. Perlahan wanita paruh baya tersebut mencoba beranjak dari kursi, namun kembali jatuh.
"Ibu? Aku tidak akan berangkat kuliah hari ini."
"Sasuke," ucap Mikoto memperingatkan Sasuke. "Ini hanya kelelahan."
Mereka tidak pernah berdebat serius. Namun hal ini adalah hal yang penting. Bagi Sasuke, tidak bisakah ibunya tersebut menurut dan membiarkan anaknya menjaganya. Bagi Mikoto, ini bukanlah hal besar dan tidak cukup berarti untuk membuat Sasuke bolos kuliah. Walau dalam cara yang berbeda, sebenarnya ibu dan anak itu sama-sama keras kepala.
"Aku bisa menjaga Bibi Mikoto."
Sasuke menoleh melihat Sakura yang sudah selesai mandi. Gadis tersebut kembali mengenakan pakaian yang dikenakan kemarin. Sasuke menimbang-nimbang apa itu adalah hal yang bijak untuk mempercayai bocah tersebut.
Mikoto tersenyum, "Dengar? Ada Sakura. Kau tidak perlu membolos, Sasuke."
Sasuke menatap ibunya, kemudian menyerah. Ia sudah hampir terlambat. Ia kemudian berpamitan pada Mikoto dan berjalan melewati Sakura sembari menepuk pundaknya.
Sakura mengerti apa maksud dari tepukan Sasuke tersebut. Pria itu mempercayai Sakura untuk menjaga ibunya, setidaknya sampai ibunya membaik dan ia pulang. Sakura melihat Sasuke menghilang di ujung ke ruang utama, kemudian terdengar suara pintu terbuka dan tertutup kembali. Ia menghela napas lega. Ia sangat gugup karena kejadian beberapa saat yang lalu. Sungguh, Sakura tidak mengerti maksud Sasuke saat pria itu menutup matanya. Apa karena ia kepergok menangis, atau karena tidak nyaman ditatap. Ia hanya bisa berharap tidak ada salah paham. Hal itu akan membuat suasana menjadi aneh dan semakin tidak nyaman.
Lebih baik hari ini segera berakhir. Sakura kemudian mendekati Mikoto, namun sebelumnya ia mematikan kompor yang masih menyala. Sasuke mungkin lupa mematikannya dan Mikoto terlalu lemah untuk bergerak mematikannya. Melihat terdapat tiga cangkir berisi teh di meja, Sakura segera menuangkan air panas ke dalam dua cangkir dan meletakkan satu cangkir lainnya di tempat mencuci piring.
"Apa Bibi Mikoto suka teh manis? Berapa sendok gulanya?"
"Satu saja, Nak. Bibi tidak bisa mengkonsumsi banyak gula."
Sakura mengangguk dan segera menuangkan satu sendok gula ke cangkir Mikoto dan dua sendok untuk dirinya.
"Apa Bibi Mikoto mempunyai obat?" tanya Sakura. Mikoto mengangguk dan menunjuk ke kabinet paling atas di sudut kiri. Sakura membuka kabinet tersebut, ia menemukan beberapa vitamin dan obat-obatan komersil yang sebagian besar hanya tinggal botol kosong. Karena tidak mengetahui obat yang mana, Sakura mengambil semuanya dan meletakkan botol-botol obat tersebut di meja di hadapan Mikoto. Mikoto tersenyum berterimakasih. Pagi itu segera berlalu, semuanya segera membaik. Satu demi satu.
…
…
…
…
…
Matahari musim panas sudah sangat tinggi. Setelah membantu Mikoto berbaring di kamarnya. Sakura tidak mempunyai hal yang harus ia lakukan. Ia duduk di depan televisi sembari melihat berita. Tidak ada berita tentang dirinya sama sekali. Entah Sakura tidak tahu perasaan apa yang seharusnya ia rasakan. Senang karena akhirnya ia bisa bebas, atau sedih menyetahui tidak ada yang memperdulikannya. Lalu, Mikoto juga tidak menanyakan padanya apa rencana Sakura selanjutnya. Dalam hati Sakura bersyukur karena itu. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
Mengembuskan napas keras, Sakura mematikan televisi tersebut. Tidak ada gunanya lama-lama melihat acara yang tidak bermanfaat. Semua acara di televisi tersebut hanyalah acara reality show atau opera sabun, tentu karena masih siang dan kebanyakan pada jam-jam seperti ini hanya ibu rumah tangga yang menontonnya.
Melihat ke sekeliling, pandangan Sakura terhenti pada beberapa botol kosong obat dan vitamin di meja. Ia beranjak dan mengambil beberapa botol kosong tersebut. Membaca label yang tertera pada setiap botol dengan seksama.
Mungkin memang ada hal yang bisa ia lakukan.
…
…
…
…
…
…
Sakura melihat harga tiket kereta di mesin untuk membeli tiket secara mandiri. Uang yang tersisa hanyalah sepuluh ribu ryo. Ia terlalu bersemangat saat membeli vitamin dan obat tadi. Uang bukanlah sebuah masalah, membelikan vitamin dan obat yang telah habis merupakan hal yang bisa ia lakukan. Sakura yakin Mikoto maupun Sasuke tidak akan menerima imbalan berupa uang. Harga sebuah tiket kereta ke Oto paling murah adalah tujuh puluh ribu ryo, sedangkan Suna adalah enam puluh ribu ryo. Itu adalah tarif pelajar.
Alternatif lainnya adalah menggunakan bus. Sepuluh ribu ryo akan membawanya ke Suna. Memastikan tidak ada yang mengenalinya, Sakura menunduk berjalan menuju halte bus terdekat.
Cuaca berubah begitu cepat. Awan mendung terlihat menutupi sinar matahari. Hari menjadi semakin gelap. Sakura berjalan lebih cepat. Ia merasakan ini merupakan pertanda sesuatu yang buruk akan terjadi.
Bus menuju Suna datang beberapa menit setelah Sakura sampai di halte. Segera Sakura masuk naik ke dalam bus. Kepalanya masih menunduk karena takut ada orang yang mengenalinya. Mengambil tempat duduk paling belakang di samping jendela. Ia sangat lelah. Kepalanya menempel pada kaca jendela. Pandangannya melihat keluar, melihat jalanan Konoha yang akan memulai kehidupan malamnya. Lampu-lampu mulai menerangi jalan. Beberapa toko mulai tutup namun ada pula yang bersiap buka. Di sepanjang trotoar, ia melihat banyak orang berjalan. Mereka adalah orang biasa, bukan seperti dirinya. Mungkin mereka berjalan pulang ke rumah setelah seharian bekerja, pulang menuju keluarga mereka. Atau mungkin mereka baru saja pergi dari rumah, pergi keluar untuk menemui teman atau kekasih hati mereka. Mereka bebas pulang dan pergi, menentukan ke mana kaki mereka melangkah. Sakura tersenyum kecil melihat mereka, ada kedamaian kecil yang ia rasakan. Karena kedamaian kecil itu, kali ini Sakura tidak berani berandai dan bermimpi.
Kemudian tetes hujan pertama terlihat. Konoha diguyur hujan. Namun, tetesan air dari langit itu bukanlah satu-satunya air yang terjatuh, pipi Sakura basah karena air matanya yang menetes.
Memejamkan mata, rasa lelah yang hebat mengantarkannya menuju alam mimpi.
…
…
…
…
Tiba-tiba saja bus tersebut berhenti, membuat Sakura terbangun. Jam digital di bus tersebut menunjukkan pukul sembilan malam. Sudah empat jam perjalanan dan itu berarti ia telah hampir sampai di perbatasan Konoha dan Suna. Hanya ada enam orang penumpang di dalam bus tersebut. Mereka semua tersentak kaget dan berdiri berusaha melihat ke arah depan, mengapa supir bus tersebut berhenti menginjak pedal rem mendadak. Sakura juga turut berdiri melihat ke depan. Supir bus tersebut sepertinya marah-marah pada seseorang. Semakin penasaran, Sakura dan para penumpang lainnya berusaha melihat dengan siapa supir bus berbicara. Di depan bus tersebut, berhenti sebuah mobil hitam dengan tipe yang begitu Sakura kenal. Lalu empat orang berpakaian serba hitam keluar dari mobil tersebut.
Tanpa aba-aba, salah seorang dari mereka mengeluarkan sebuah pistol dan menembakkannya pada kedua ban depan bus tersebut. Semua orang di dalam bus tersebut berteriak panik.
Sakura membeku di tempatnya berdiri. Ia harus melakukan sesuatu, ia harus lari. Firasatnya mengatakan orang-orang tersebut tidak mempunyai niat baik. Mereka bukan orang sembarangan. Setelah beberapa detik yang serasa lama sekali, akhirnya Sakura dapat bergerak mundur satu langkah. Lalu dua langkah dan ia segera menuju pintu bus belakang. Ia lari dengan cepat, sangat cepat hingga ia tidak menghiraukan sekelilingnya. Samar-samar ia mendengar orang-orang berteriak. Namun detik kemudian terdengar suara tembakan sebuah peluru.
Hening.
Jantung Sakura semakin cepat berdetak. Tidak pernah sebelumnya ada orang yang berani menembakkan senjata api di dekatnya. Dan Sakura sadar bahwa ini bukan main-main. Orang-orang itu akan membunuhnya. Ia terus berlari hingga kakinya menepak pada trotoar, di ujung depan ia melihat sebuah gang kecil. Ia tidak memperdulikan orang-orang yang panik saat ia melihat Sakura. Para pria berpakaian serba hitam yang mengejarnya membawa senjata api menahan tembakan mereka di antara kerumunan orang. Sakura takut jika ia menghentikan langkah kakinya, maka hidupnya akan berakhir. Sakura memasuki gang kecil tersebut. Ternyata gang kecil tersebut merupakan awal dari gang-gang tikus lainnya. Ia sadar betul jika beberapa dari gang tersebut adalah jalan buntu. Presentase untuknya selamat semakin menipis. Gang kecil utama memperlihatkan sebuah jalan buntu di ujungnya. Namun, ada beberapa cabang gang lain, melihat ke belakang, Sakura mulai mendengar derap langkah cepat.
Ia segera berlari berbelok mengambil belokan gang pertama di dekatnya. Napas Sakura tercekit di tenggorokannya. Di hadapannya adalah jalan buntu.
Tergesa-gesa, ia berbalik.
Tiba-tiba saja sebuah tangan meraihnya dan membekap mulutnya. Sakura merasakan besi dingin dari sebuah pistol menempel di pelipisnya.
Ia sudah tertangkap. Ini sudah berakhir. Sakura akan mati di gang gelap dan sempit ini. Tidak ada orang yang akan menemaninya. Ia akan mati sendiri. Air mata menetes dari matanya. Ia sangat takut dan gemetar. Tubuhnya mati rasa, menunggu peluru melesat menembus kepalanya.
Seumur hidup Sakura selalu merasakan kesepian. Ia selalu sendiri, seolah hidup sendiri. Kini ia akan mati sendiri. Sakura memejamkan matanya, hati kecilnya sudah pasrah. Mungkin ini adalah hukuman baginya. Hukuman karena tidak bersyukur untuk setiap napas yang ia hirup setiap detiknya.
Suara derap langkah terhenti di hadapannya. Orang-orang yang mengejarnya tadi sudah berhasil menangkapnya.
"Aku harap kau tidak berpikir kau akan mati saat ini."
Suara yang Sakura kenal terdengar dari orang yang membekapnya. Rasa dingin besi di pelipisnya hilang. Tangan kiri orang tersebut yang membekap mulutnya kencang kini mulai melemah, tapi belum melepaskannya. Lalu tangan kanan yang memegang sebuah pistol terulur ke depan, mengarahkan senjata api tersebut ke empat orang di hadapannya.
"Kau pikir kau bisa menang melawan kami sendirian?" ucap salah seorang pria berpakaian serba hitam.
Sasuke menyeringai tipis, "Kau yakin?"
Para pria tersebut terlihat kebingungan. Mereka mengarahkan senjata api mereka masing-masing ke arah Sasuke dan Sakura.
Satu detik kemudian terdengar mereka berempat tersungkur jatuh, setelah beberapa pukulan keras mendarat di tekuk leher mereka dengan cepat.
"Ups," ucap Suigetsu lalu terkekeh.
Sasuke melepaskan Sakura, namun karena adrenalin yang masih terpacu kencang, membuat kedua kaki Sakura lemas. Gadis tersebut tertunduk jatuh. Akhirnya ia bisa menghirup napas yang seolah tidak ia lakukan dalam waktu yang lama. Kedua tangannya mengepal kuat, menahan gemetar yang belum dapat ia kendalikan. Dan lagi, tangis airmatanya yang kini mengalir membasahi pipinya.
…
…
…
…
Mereka duduk di sebuat bangku kayu di pinggir sungai yang terletak lima kilometer dari perbatasan Konoha dan Suna. Tangan Sakura memegang sekaleng soda yang ia genggam erat, seakan hidupnya bergantung pada kaleng soda tersebut.
Sasuke hanya terdiam duduk di sampingnya. Ia tidak mempunyai kemampuan untuk menenangkan bocah yang baru saja terhindar dari pintu maut. Sudah sepuluh menit mereka terdiam, dan Sasuke tidak mempermasalahkan itu.
Setelah pertemuan kecilnya tadi pagi sebelum kuliah dan sebuah permintaan yang diberikan pada Sasuke, ia telah mengetahui identitas Sakura sebenarnya. Namun, untuk saat ini Sasuke tidak akan terlalu menekan masalah ini lebih lanjut. Jika ia bertindak sekarang, itu terlalu gegabah. Tindakan yang terlalu cepat dilakukan tanpa perencanaan terlalu beresiko.
Pandangan Sasuke mengikuti Sakura yang beranjak berdiri. Kepala gadis itu menunduk dan kemudian menatap Sasuke. Memperlihatkan hijau emerald yang begitu unik bagi Sasuke.
"Terima kasih," ucap Sakura pelan sembari membungkuk lurus, "aku sudah terlalu banyak merepotkanmu. Aku tidak ingin melibatkanmu lebih jauh lagi. Aku tidak akan bertanya mengapa kau mempunyai senjata api atau berada di gang tersebut."
Suara gadis itu terlihat begitu tersesat dan kesepian.
Mengusap air mata yang kembali menetes dari emerald kembarnya, Sakura tersenyum kecil menatap Sasuke. "Kau pasti juga sudah sadar siapa aku sebenarnya. Aku akan sangat berterimakasih jika kita kembali ke jalan kita masing-masing. Anggap saja kita tidak pernah bertemu. Suatu saat, aku akan membalas kebaikanmu dan ibumu."
Sakura kembali membungkuk sebagai bentuk rasa terima kasih dan hormat. Kali ini, senyum tulus menghiasi wajahnya saat tatapan mata mereka bertemu.
Sasuke terdiam. Ia memperhatikan dengan seksama bahasa tubuh gadis tersebut. Senyuman Sakura memang tulus, tapi dengan mata berkaca-kacanya membuat Sasuke gelisah. Sasuke ingat percakapannya dengan ibunya tadi pagi sebelum ia pergi dari rumah.
"Ke mana?" tanya Sasuke singkat. Samar pupil gadis berambut merah muda tersebut membulat terkejut.
Sakura terdiam. Ia tidak mempunyai tempat pulang dan tujuan berikutnya. Ia hanya ingin lari dari semuanya. Istana mungkin tempat ia lahir dan dibesarkan, tapi tempat itu bukan rumah. Bukan tempat untuk berpulang. Istana hanya sebuah bangunan mewah, yang mana di sana ada keluarga kerajaan. Namun, Sakura tidak merasakan bahwa mereka adalah keluarganya. Mereka bukan orang-orang tempat Sakura berpulang. Karena rumah lebih dari sekadar orang-orang yang saling mempunyai ikatan darah yang mengisinya.
Untuk kedua kalinya dalam rentan waktu yang singkat Sakura kembali dikejutkan oleh tindakan Sasuke. Pria tersebut meraih tangannya.
Kalimat yang tidak terduga keluar dari mulut Sasuke. Dua kata yang mampu mengembuskan rasa hangat ke seluruh tubuhnya. Memberikan bayangan kecil tentang hidup. Sasuke menarik tangannya dan berjalan dengan langkah pasti, menuju sebuah tempat yang mungkin hanya dapat Sakura impikan sebelumnya.
"Kita pulang."
…
…
…
…
bersambung…
…
…
…
…
…
A/N:
Di sini Sakura masih remaja, jadi segala kelabilan emosi yang ada pada dirinya saya buat sewajar mungkin. Kalaupun ada sifat dewasa (super ego), pasti ada saatnya sisi kelabilan (id) tersebut akan menyeruak ke luar (ego) jika dihadapkan pada situasi yang mengancam jiwanya.
Bagian kedua ini sulit ditulis, saya hampir saja menyerah (ini alasan kenapa lama update, selain karena sibuk bekerja). Tapi melihat banyak respon positif dari kalian, saya kembali mencobanya.
Lalu, yang tanya akun wattpad (saya tidak menggunakannya) dan sosial media (hanya ada Instagram yang berisi lukisan dan Twitter yang jarang digunakan). Saya sudah empat tahun terakhir ini diet smartphone, dan menjalani hidup lebih fokus pada kesadaran. Pada masa remaja saya benar-benar kecanduan smartphone dan internet, bisa dikatakan jenuh tapi tidak bisa lepas. Sebagian besar waktu saya dulu habis di depan laptop atau ponsel. Depression, anxiety, sleeping disorder, eating disorder, dan beberapa disorder lainnya, saya pernah mengalaminya. Tapi itu sudah jadi masa lalu. Alles wird perfekt.
Jaga diri kalian baik-baik.
Best Regards,
Fu.
