Jika melihat muka Eren, demi tuhan kau tidak akan bisa membedakannya dengan badak bercula satu yang sedang pms.

Mikasa yang tidak terima atas perlakuan sang editor terhadap Eren, mengejar sampai pintu depan. Suara gaduhnya terbungkam tembok bata lima belas senti, Eren jadi tidak mampu menguping. Yang jelas si adik meminta editor untuk memberi kakak angkat kesempatan satu kali lagi. Tapi entahlah karena benar-benar tidak terdengar. Kemudian yang daritadi menjelma jadi kentang—Armin-- membuka pintu, mukanya heran melihat drama di hari pertama pindah ke kota.

Armin bertanya dua kali, Eren baru buka suara. "Aku tidak terima!"

.

.

.

.

Chapter 2

"Another word to write."

.

.

.

.

Di bumi Trost, hanya Mikasa dan Armin yang mengenal betul sosok Eren Jeager. Pemuda kulit tan bersurai cokelat biji salak, serta pemilik manik cerah hijau emerald, yang paling semangat mengejar kelinci di hutan Shiganshina sampai menyasar, tidak ditemukan semalaman hingga berita "Eren telah dimakan beruang" sampai ke telinga Carla Jeager membikin sekeluarga jantungan, besoknya Eren ditemukan tertidur di emperan sungai dengan baju compang-camping penuh lumpur. Satu kata "Tidak" takkan mampu mematikan mata pemburunya.

Tapi tidak ada buah yang jadi semalam. Eren ketuk-ketuk meja, menopang dagu ke bingkai jendela putih, membikin angin semeriwing membelai-belai pipi tembam, di hadapannya tertumpuk buku tebal judulnya "Kiat-kiat menjadi penulis" milik Mikasa. Baru melihatnya saja mata sudah memburam, tanda-tanda kurang oksigen atau mengantuk. "Eren, kau tidak perlu memaksakan diri." Mikasa berbicara dari belakang punggung, membikin mata Eren melek. "Tidak tidak. Ini hanya masalah kecil. Aku bisa." Jejarinya kini rajin membuka buku usang itu. Pokoknya Eren tidak akan menyerah.

Kata Mikasa, sang editor akan mengetuk pintu rumahnya jika dia molor tenggat waktu. Eren dengan senang hati memotivasi Mikasa untuk molor lagi. "Tidak bisa Eren, sebelumnya aku tidak pernah luput dari jadwal yang ditentukan." Mikasa menarik kursi kayu di depan Eren, "Kenapa dengan yang kemarin?" Mata yang terpaku dengan deret huruf dalam buku mendelik sedikit, kini melihat si adik yang mengangkat syal merah malu-malu, 'Mungkin aku salah datang saat dia ingin pergi.' Eren mengingat-ingat mini dress yang Mikasa kenakan waktu itu, dikira hendak pergi kondangan.

"Tapi bukan hanya itu, nanti dia akan datang lagi jika ada yang perlu di revisi."

"Bukankah ada telepon genggam atau email?" Eren bertanya,

"Aku tidak tahu nomor teleponnya." Eren bingung,

"Kenapa?"

"Aku tidak minta."

"Kenapa tidak?"

"Karena dia tidak menawarkannya." Jawab Mikasa datar. Jika tidak ditawarkan maka dia tidak akan meminta sedangkan sang editor jika tidak ditanya maka tidak akan ia berikan. Sangat sinkron, Eren cengo.

Tapi apalah, yang penting sebentar lagi mereka akan bertemu.

Setelah itu tidak banyak pelajaran yang masuk otak kecil Eren, diapun minta petunjuk dari Mikasa. "Singkatnya kau harus tahu kebutuhan pembaca." Eren tidak mengerti, "Untuk membuat cerita yang apik bukan sekedar modal plot bagus, penggambaran juga harus diperhatikan." Eren manggut-manggut. "Maksudnya—bagaimana?"

"Jangan gunakan bahasa yang membosankan. Jangan ulang-ulang kata yang sama. Gambarkan keadaan seolah kau ada di dalamnya."

Benar saja, setiap ada "Urusan pernovelan", sang editor datang dan Mikasa melayani, atau kadang Mikasa yang pergi. Tiap lelaki itu datang, Eren curi-curi kesempatan untuk membahas tekadnya, bujuk editor dengan segala cara, memperlihatkan tulisan-tulisan abstrak, dan hasilnya langsung ditampari lewat bahasa verbal, namun Eren tidak menyerah.

Beberapa minggu kemudian, ketika Armin sedang mengurusi pekerjaan di pusat kota dan Mikasa pergi belanja untuk makan malam, bel pintu berbunyi. Suaranya sampai ke telinga Eren, diduga si pelaku bukan teman sekamar, Eren langsung tancap gas ke dapur yang satu bilik dengan sumber suara.

Pintu dibuka cepat--terlalu cepat sampai tulang jemari yang hendak mengetuk pintu menubruk dada—tepat di tonjolan mungil milik Eren.

"Ah-" Eren meringis,

Pria itu mengerutkan alis, setelah beberapa sekon dibiarkan bergesekan, dia lekas menarik tangannya.

"Ap-apa yang anda lakukan Pak!?" Eren ikut menarik badan, tidak percaya dengan yang barusan terjadi, kedua tangan melindungi dada yang ternoda,

"Tidak sengaja, saya ingin bertemu dengan nyonya Ackerman untuk merevisi naskah tempo harinya." Eren diam beberapa saat, memperhatikan kerutan-kerutan di wajah yang kentara. Ia pikir ekspresi lelaki itu sangat minim. Marah, bosan, datar. Eren bilang Mikasa sedang belanja dan tidak tahu kapan pulang karena baru pergi beberapa menit lalu, sang editor bilang akan menunggu. Rupanya dia orang yang sanggup menunggu.

"Pak, aku ingin kau menjadi editorku!" Bocah brunet yang tidak pernah kapok mulai mencobanya lagi,

"Sudah kubilang, buang saja impianmu—"

Eren tarik napas dalam-dalam, "Ini bukan impian!" dia terdiam, Eren melanjutkan kata-katanya "Aku kemari untuk menjadi penulis profesional, mengalahkan Mikasa yang sudah best seller ratusan kali, dan hidup sukses! Aku tahu kalau yang barusan terdengar konyol, tapi aku tidak peduli. Aku bersungguh-sungguh, sangat. Aku dan Bapak tidak sedang bermimpi." Sang editor tidak puas,

"Jelaskan, bagaimana caranya kau mewujudkan itu semua?"

"Akan kubuat mata bapak berpaling hanya padaku." Alisnya menukik kebawah, memperlihatkan betapa serius dirinya.

"Ho. Tidak buruk nak." Mereka saling pandang, walau tidak ada yang berubah darinya--muka datar dan suara seberat tuba, namun Eren mendengar pujian yang tersirat. "Sampai kapan kau memanggilku "Bapak" dasar bocah, aku punya nama." Dia mengeluarkan laptop,

"Namaku Levi." Caranya menyebut nama terdengar amat seksi. Eren teguk ludah, apa yang tadi dia katakan melenceng jalur?

Kini Eren jauh lebih serius. Tidak ada semut-semut lagi yang berderet di tembok, setidaknya dapat membantu konsentrasi. Si brunet telah menelan mentah-mentah banyak pelajaran "menulis" dari banyak sumber, tetapi belum pernah coba mempraktekannya.

"Apakah anda harus ada di belakangku saat aku menulis Pak Levi?" tangannya kedutan diatas keyboard, masih tidak terbiasa dengan hawa mencekam milik sang editor,

"Sebelum aku mengoyak dan melahap pantat manismu atau memijit-mijit paha mulusmu yang tidak akan terjadi karena kau masih bocah ingusan Eren cepatlah menulis, sementara aku menunggu perempuan itu kembali." Eren kembali produktif, tidak berani tanya-tanya lagi. Eren mengingat-ingat lagi kiat-kiat dari guru Mikasa.

"Jangan gunakan bahasa yang membosankan!" Eren coba membuka google tempo hari, cari-cari dan menemukan aplikasi tesaurus, isinya sinonim-antonim. Eren mangut-mangut. Kata-katanya tidak akan membosankan.

"Deskripsikan seolah kau dapat melihatnya, dapat merasakannya!" Eren mangut-mangut lagi. Tuliskan apa yang dirasakan penulis!

Masih dengan tantangan lama, percintaan. Eren tidak mampu memikirkan yang sulit-sulit, jadi memilih kisah cinta yang klise. Skenarionya tentang gadis biasa yang tiba-tiba ditaksir oleh lelaki paling tampan di wilayahnya. Dia mulai mengetik, dengan handphone di samping kanannya, membuka aplikasi yang baru di unduh tempo hari. Lihat saja Levi, mulai sekarang akan kubuat kau berdecak kagum!

Pantatnya mulai terasa panas, Eren ingin segera menyudahi urusannya. Saudari perempuan maupun teman main sejak kecilnya belum juga pulang ke rumah, langit di luar jendela mulai kelabu. Sedari tadi hanya suara ketikan keyboard yang memenuhi liang telinga, juga bisikan napas dari masing-masing raga yang hidup di ruangan. Tidak ada percakapan, Eren juga tidak toleh-toleh belakang untuk memastikan Levi masih hidup. "Bocah," Katanya,

"Kapan saudarimu kembali?" Levi bertanya, Eren tengok jam di dinding yang menunjuk pukul lima sore, semetara Mikasa telah pergi tiga jam yang lalu. "Mungkin masih di supermarket, atau semacamnya. Pak, aku sudah selesai!" Suara hentakan keyboard di ujungnya terdengar mantap.

"Ho? Cepat sekali nak. Kuberi saran, sebelum kau meminta seseorang menjadi editormu ada baiknya kau coba membuat satu cerita utuh sebelumnya, tidak dadakan begini." Terdengar suara langkah kaki mendekat, Eren bangkit dari kursinya mempersilahkan duduk. Levi langsung koreksi di tempat.

Tik tok tik tok tik tok

Deg deg deg deg

Detikan jam dan degupan jantung jalan beriringan, membuat sinkronisasi yang padu. Keheningan beda dari sebelumnya, takut Pak Levi merajuk lagi, takut ada kesan jelek dalam tulisannya. Deritan kursi empuk memecahkan segala pikiran buruknya. Eren tatap lekat-lekat manik obsidian milik Levi.

"Bocah."

"Y-ya Pak?!" Jari dengan tulang-tulang menonjol itu menunjuk layar laptop, Eren maju-maju sampai dekat jarak bacanya, lalu melihat kalimat hasil terapan ajaran Mikasa, "Jangan pakai bahasa yang membosankan,"

"Bagaimana bisa kau menulis kalimat "Daek menggondol kembang untuk menerkam awewe." Nak?" Eren diam sebentar,

"Tapi Pak—"

Shush.

"Pak—"

Shuush.

Jari telunjuk dari layar diacungkan. Sang dirijen minta band nya untuk diam.

"Kata menerkam saja sudah keluar garis nak. Apa yang coba kau tulis."

"Ehm, singkatnya si lelaki mau mengencani perempuan yang ditaksir dengan membawa bunga. Kurasa kata menerkam mampu membuat penekanan yang eksplisit." Eren asal-asalan bicara. Terlihat kerutan di antara alis Levi.

"Tapi Pak! Aku menggunakan tesaurus dan mengambil kata-kata yang jarang di pakai, katanya itu bumbu terpenting dalam sastra."

"Otakmu sangat luar biasa Eren aku ingin menyajikannya di piring anjing tetangga."

"Tetanggamu punya anjing?"

"Berpikirlah yang benar bocah. Diksi jeniusmu tidak menggugah hati titan sama sekali."

"Ini bukan alternatif univers?"

"Kiasan." eren mangut-mangut lagi. Levi tidak kapok membacanya, kemudian menunjuk satu paragraf.

"Aku berada di ruangan dengan tembok warna putih dengan lubang sedikit di bawahnya, juga lubang di kanan dan kirinya, banyak sawang di atasnya, ada lampu yang menempel ditengah-tengahnya. Aku berdiri di atas kotak-kotak ubin putih, ada garis-garisnya melintang sejajar kabah. Aku—" Levi menghembuskan napas panjang sekali,

"Eren katakan padaku apa kau telah menghitung jumlah batu bata yang ada di ruangan ini?"

"Tidak pak."

"Sungguh pembaca tidak butuh penjelasan serinci itu bocah kadal, novelmu akan terbit seribu tahun lagi kemudian laku di perloakan kertas bekas. Cukup jelaskan hal-hal yang penting Eren." Dia angguk-angguk.

Percakapan berakhir dengan koreksi sana sini, Eren diam seribu bahasa. Setidaknya niatan awal berhasil, membuat Pak Levi berdecak. Sepanjang pengoreksian suara decakan lidahnya menggema di telinga kanan dan kiri. "Apa kau pernah bercinta Eren?" Lidah Eren kelu,

"Aku tidak pernah menikah Pak."

"Bercinta tidak hanya dilakukan setelah menikah bocah. Bocah SMP juga ada yang ketagihan."

"A-Aku tidak pernah! Aku bahkan tidak pernah pacaran, juga jatuh cinta dan semacamnya." Bocah brunet berterus terang, dia adalah perjaka tulen di usia 22 tahun.

"Tidak ada perempuan yang menarik matamu?"

"Tidak ada, aku hanya kenal Ibu dan Mikasa. Errr.. bahkan dalam setahun terakhir aku lupa kalau Mikasa adalah seorang perempuan." Mereka tatap-tatapan. Levi datar dan Eren cengo.

Eren bukanlah lelaki yang tertarik dengan hal-hal berbau percintaan layak lelaki pada umumnya, seumur hidup lebih memilih lari-lari dengan teman main sepak bola, makan masakan rumah ibu, bersantai di rumah, tidak pernah terbesit untuk cari jodoh atau membuat keturunan.

"Dalam kasusmu, kau tidak akan bisa menulis hal-hal romantis." Levi diam sebentar, "Mungkin lebih baik jika diperagakan." Lelaki rambut hitam arang itu bangkit dari kursinya.

Tbc.

Haiii~ REDTREEDS disinii xD

Yaak bagi yang belum tau, aku baru aja ganti penname beberapa hari lalu. TWT) dikarenakan ada beberapa hal sepele yang mengganggu pikiran, akhirnya diputuskanlah Reffrainbow diganti Redtreeds. Semoga ga bikin bingung ya :D Buat cerita-ceritaku yang belum di edit, sebentar lagi aku ganti. /mager mager mager/

Yak sampai jumpa di chapter selanjutnya UwU, hayo Levi mau ngapain wkwkwk

With my new pen name,

Redtreeds.