.

.

Naruto milik Masashi Kishimoto

Story by Swinysoo

AU, OOC, typo(s), absurd.

Uchiha Sasuke, Haruno Sakura, etc.

.

.

Happy Reading

"Jangan memasang wajah mengerikan seperti itu di depanku, Tuan."

Tak ada perubahan berarti diraut wajah orang yang kusebut dengan Tuan ini. Sejak memasuki mobil dan mengendarainya, lelaki yang telah resmi menjadi bosku tersebut hanya terfokus pada jalanan semata. Ia seperti tak menganggapku ada, bahkan saat aku mulai mengeluh karena tingkah yang ia perlihatkan, lelaki ini tetap saja mengabaikanku entah untuk yang keberapa kalinya.

"Kita sudah sampai." Ujarnya.

Aku tersadar dari lamunan dan menyudahi aksi kagumku pada jalanan kemudian turun mengikuti langkah Tuanku di depan. Seketika aku terperangah menyaksikan sekitar area apartemen ini. Ya, apartemen yang sudah pasti pemiliknya adalah Tuanku ini. Tidak begitu luas memang, tapi sangat indah terlihat oleh indera. Ditambah lagi dengan bunga-bunga yang tumbuh mengelilinginya.

"Tunggu apa lagi? Masuklah,"

Suara menyebalkannya kembali terdengar. Mau tidak mau aku harus menoleh pada sumber suara, yang lagi-lagi mengacaukan acara ku mengagumi. Sepertinya aku telah melupakan sesuatu jikalau orang itu memang tak sabaran. Bukannya masuk, ia malah menungguiku di depan pintu.

Dengan patuh aku mulai melangkah kembali mengikutinya. Sesaat setelah memasuki apartemen, sosok seorang pria muncul melalui balik pintu salah satu ruang. Pria itu nampak terkejut dengan kedatangan kami, berbanding terbalik dengan ekspresi Tuan ku yang datar-datar saja setelah melihat pria itu.

"Wah, wah, wah... lihatlah siapa yang datang sekarang," ujarnya sambil tersenyum aneh.

Tuan ku sama sekali tak menyahut, terlihat jelas kalau ia nampak bosan dengan pria itu.

"Siapa yang pernah berkata kalau dia tak akan membawa seorang wanita, ya?" Pria itu berucap sambil mengejek kearah Tuan ku, lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada sembari melanjutkan perkataan, "Ah, tidak, sepertinya dia seorang gadis." Pandangannya kini mengarah padaku.

"Bukan urusanmu." Sahut Tuan ku.

Pria itu masih saja menatapku. Mau tidak mau aku jadi salah tingkah ditatap selekat itu.

"Ada masalah apa lagi kali ini?" Tanya Tuan ku. Aku akhirnya dapat bernapas lega, pria itu telah mengalihkan pandangannya.

"Kau tahu Sasuke... masalahnya sama." Sahut pria itu yang kali ini terlihat lesu. Entah untuk apa dan kenapa, aku sama sekali tak mengerti.

"Hn. Berapa lama kau ingin melarikan diri darinya? Aku tak ingin direpotan dengan wanita itu yang akan terus bertanya kepada ku dimana keberadaanmu."

Pria itu tersenyum, "Tidak akan lama," kemudian dia memajukan wajahnya seperti sedang berbisik, "Aku hanya ingin menghindari omelan darinya."

"Ck,"

Setelah itu, Tuan ku hanya mengangkat bahu tanda tak acuh lalu ia melenggang pergi melewati pria itu. Aku masih mengekor dibelakang. Namun, saat giliranku yang lewat, pria itu malah mengedipkan sebelah matanya padaku. Aku yang melihat itu segera menunduk guna menghindari tatapannya. Buru-buru ku percepat langkah untuk mengimbangi langkah Tuan ku. Bisa dijamin kalau Tuan ku ini tak tahu apa yang baru saja pria yang mungkin temannya itu lakukan padaku.

Huh, menyebalkan.

.

.

.

"Ini kamarmu. Tempatnya mungkin agak sedikit kotor berhubung aku memang tak pernah membersihkannya. Kalau kau perlu sesuatu, jangan sungkan untuk bertanya pada manajerku."

Mendengar itu aku langsung cemberut. Selain menyebalkan, ternyata ia juga bukan tipe orang yang baik dengan penuh kesopanan. Kalau mengingat tingkah lakunya sejak tadi, kurasa kata itulah yang sangat cocok dengannya.

Tuanku ini sedang membuka salah satu ruang kamar yang ada diapartemen. Kamar yang akan kutinggali selama disini untuk beberapa bulan kedepan. Tak ingin berlama-lama, aku mulai memasuki kamar itu dan melewatinya acuh lalu bermaksud menata pakaian ku. Tapi, aku dikejutkan dengan dirinya yang juga ikut masuk kemudian mulai merapikan sesuatu yang tergeletak diatas nakas.

"Apa Tuan tinggal sendiri disini?"

"Hn." Sahutnya sambil terus mengumpulkan sesuatu itu. "Memangnya kenapa?"

"Tidak apa-apa. Hanya ingin bertanya saja,"

"Kau tak perlu khawatir," Ia kemudian berbalik dan menatapku, "Manajerku biasanya sering berkunjung kesini. Tak jarang pula ia akan menginap. Mungkin sebentar lagi dia datang."

Aku mengangguk paham, "Kalau boleh tahu, siapa pria yang tadi itu?"

Bukannya menjawab, ia malah semakin menatapku entah untuk apa dan mengapa. Menyadari bahwa sepertinya aku telah melakukan kesalahan dengan banyak bertanya padanya, aku mulai gelagapan sendiri, "Maaf, kalau saya sudah lancang bertanya Tuan." Kemudian aku beralih pada pakaian yang telah ku keluarkan tadi melalui koper dan mulai melipatnya.

"Namanya Namikaze Naruto. Dia pemilik apartemen tidak jauh dari sini. Tak perlu heran, dia memang sedikit aneh orangnya."

Kembali aku menganggukan kepala, tetap diam berniat mendengar jawaban lanjutan darinya.

"Urusanku telah selesai. Sebaiknya kau istirahat. Aku keluar sekarang,"

Lagi-lagi tidak seperti yang ia bayangkan. Tuannya ini benar-benar sesuatu. Kenyataan bahwa ia seorang yang sangat terkenal, angkuh, dan kaku memang sangat mudah terbaca, apalagi dengan tingkah yang ia tunjukan. Semakin lama ia berada didekat lelaki itu, semakin besar pula minatnya untuk tetap melontarkan pertanyaan-pertanyaan mulai dari sekarang. Pasti akan sangat menyenangkan melihat ekspresi datar yang mengandung berbagai macam pemikiran didalamnya. Benar saja, ia sangat ingin melihat itu. Ia sudah tak sabar menunggu hari esok dan seterusnya selama ia berada di tempat ini bersama lelaki tampan itu.

"Hm, aku harus istirahat."

.

.

.

Dua orang lelaki dewasa tengah berbincang sambil meneguk secangkir kopi ditengah malam yang dingin. Salah satunya nampak tenang dengan terus memandang ke luar jendela, sedangkan yang satu lagi terus berbicara dengan berbagai macam ekspresi diwajahnya. Tak ada yang tahu, pikiran macam apa yang ada diotak sang lelaki berwajah tenang. Matanya yang teduh justru membuat lelaki itu terlihat berbeda hari ini. Lelaki yang sering menampakan karisma dan popularitas itu kini sedang dalam pemikiran yang tak bisa diprediksi oleh pihak lelaki dengan berbagai ekspresi tadi. Melihat itu, si lelaki yang penasaran akhirnya berucap.

"Aku tak menyangka kau mau menerima gadis itu sebagai pembantumu?"

"Dia tak seburuk itu untuk kau katakan menjadi seorang pembantu." jawab sang tenang dengan wajah khas miliknya.

"Apa si tua itu tahu akibat dari ulahnya ini nanti? Bisa saja 'kan gadis itu hanya mempermainkanmu. Kau bisa saja telah masuk kedalam perangkapnya, Sasuke."

Si tenang mengambil napas, "Manajerku tak akan bodoh menerima gadis itu tanpa pertimbangan sama sekali. Menurutmu apa yang membuatku seperti sekarang ini? Kalau bukan karenanya, aku mungkin bukan apa-apa. Pasti ada alasan kenapa ia menerima gadis itu sebagai asistenku."

"Wah... kau sepertinya tidak keberatan sama sekali dengan kedatangan gadis itu. Apa dia adalah sosok yang selama kau cari?"

Kali ini Sasuke tampak agak terkejut dengan kata-kata yang keluar dari mulut Naruto. Apa maksud lelaki itu?

"Tentu saja aku keberatan. Aku bahkan harus menarik manajerku menjauh untuk bicara. Namun yang kudapat hanya senyuman darinya."

Naruto bukannya tak mengerti maksud Sasuke. Sasuke bukanlah tipe seseorang yang mau ambil pusing dengan banyak bertanya pada orang lain. Selagi itu baik dan tidak menganggunya, ia tak akan berontak. Lagi pula apa yang selama ini Hatake Kakashi-Manager Sasuke-lakukan memang tak pernah mengecewakan. Sehingga Sasuke tak pernah meragukan langkah yang dibuat Kakashi padanya selama menjadi seorang Idol sekaligus aktor. Dengan mudah Sasuke akan percaya apapun keputusan yang dipilih Kakashi untuknya. Lihat saja, kalau Kakashi tidak dapat mengambil kepercayaan Sasuke, maka ia tak akan mungkin menjadi manajernya 'kan?

"Kau sendiri, kenapa harus melarikan diri begini?" Ujar Sasuke bertanya. Ia tak ingin pembicaraan ini hanya tertuju padanya semata. Ia merasa tak nyaman dengan hal itu. Ditambah lagi ia ingin mendengar alasan Naruto kali ini.

Memang bukan hal aneh lagi bagi Sasuke mendengar kalimat menghindar dari mulut Naruto. Lelaki itu hampir setiap bulan, atau tidak seminggu sekali selalu mengapeli apartemennya dengan alasan yang sama. Siapa yang tak mengenal Namikaze Naruto? Seorang Idol dan juga aktor sama seperti Sasuke. Naruto juga tak kalah populer dari Sasuke. Dia memiliki wajah yang rupawan dan juga periang. Sekali lihat saja semua orang pasti langsung menyukainya. Belum lagi sikap pecicilan yang tentu sangat disukai banyak orang, terutama anak-anak bahkan remaja. Hal itu menjadikan Naruto memiliki daya tarik yang cukup unik. Berbeda dengan Sasuke yang nyatanya sangat kaku dan pendiam.

Jika dilihat, perbedaan diantara keduanya itu amat sangat kontras. Sasuke selain orang yang kaku dan angkuh, juga sangat tak menyukai yang namanya hubungan asmara. Ia bahkan tak pernah berkenalan dengan yang namanya cinta selama hidup. Baginya ikatan semacam itu hanya akan membuat hancur dan merusak dirinya. Ia tak ingin hal itu terjadi dan merenggut apa yang sudah ia miliki sejauh ini. Popularitas dan ambisi untuk menjadi yang terbaik telah ia tanamkan sejak awal dan ia hanya akan memetik hasil dari apa yang ia tanam sekarang. Ia menikmati bagaimana hidupnya, bagaimana semua orang memujanya, mengaguminya, menghormatinya, dan menatap penuh minat serta iri padanya. Ia merasa begitu senang dengan hal itu. Ia suka dan menikmati kesendirian tanpa pelengkap ataupun warna-warni kehidupan. Meski kadang kesepian tak jarang menyapa, ia tak pernah mempermasalahkannya.

Naruto tentu kebalikan dari Sasuke. Naruto begitu santai, cenderung terlalu banyak bermain-main dengan hidupnya. Ia begitu menyukai yang namanya asmara dan sering kali tertangkap basah membawa beberapa wanita yang berbeda-beda ke apartemennya. Tidak jarang pula lelaki itu akan membawa wanitanya ke apartemen Sasuke. Naruto terkenal begitu ceroboh dan tanpa berpikir panjang dalam mengambil tindakan. Sikapnya ini tentu tak cukup bagus mengingat ia adalah seorang aktor dan Idol. Publik figurseperti dirinya tentu banyak disorot dan diperhatikan oleh media. Jangankan yang terang-terangan seperti Naruto, yang diam-diam saja masih bisa dengan mudah tercium oleh media.

Sasuke yakin jawaban lelaki itu tak jauh berbeda dari biasanya. Lelaki itu pasti beralasan kalau manajernyalah penyebab dari kaburnya ia kemari. Memangnya siapa lagi? Manajer Naruto itu pasti marah besar dengan kelakuan tak senonoh Naruto. Berganti wanita hampir tiap saat dan menimbulkan skandal-skandal yang pasti akan merugikan pihak manajemen dan Naruto, siapapun orangnya juga pasti akan murka. Apalagi manajer Naruto ini juga termasuk keras dan penuh dengan ambisi, hampir sama dengan Sasuke.

"Kalau aku jawab aku membawa seorang wanita lagi, kau pasti sudah sangat hapal. Tapi, kali ini berbeda. Wanita ini bukan wanita biasa seperti yang sudah-sudah. Dia marah padaku karena wanita yang ku kencani kali ini adalah seorang modelling."

Sasuke mengernyit. Seorang modelkah? Lalu pemikiran Sasuke langsung tertuju pada satu orang yang akhir-akhir ini sedang ramak dibicarakan media. Apa benar wanita dalam pikirannya itu yang telah dikencani Naruto?

"Kau tahu orangnya," Kata Naruto yang paham akan raut wajah temannya itu."Aku tak bohong. Wanita itu..."

"...Karin, Sasuke."

Meski terkejut, Sasuke tetap pada raut santainya, seakan tak ada hal yang perlu diherankan dengan pernyataan yang bisa disebut nekad itu. Tak tanggung-tanggung lagi, kini Naruto dengan berani mengencani seorang modelling muda terkenal cantik pula. Well, siapa sangka, wanita itu ternyata terpikat oleh Naruto. Ia akui, Naruto memang seorang dengan berjuta pesona didalam dirinya. Siapa saja, pasti mau jika diajak berkencan dengannya. Tapi, wanita itu juga terbilang cukup berani dengan menjadikan temannya seorang kekasih. Dengan setumpuk skandal yang akhir-akhir ini banyak menuai pro dan kontra, bisa jadi akan mengancam reputasinya sebagai seorang model. Apa ia tak memikirkan hal itu?

Siapa yang tak kenal Karin? Ya, Uzumaki Karin. Sosok wanita yang menjadi idaman para lelaki. Cantik dan berprestasi diusianya yang dini. Seorang wanita menawan, anggun, dan elegan secara bersamaan. Tak ada celah yang dapat menjatuhkan martabat dan tabiat wanita ini. Semua tampak pas dan serasi, skandal tak pernah terdengar meliputi dirinya. Entah dengan cara apa wanita itu bisa menjaga image-nya dengan begitu sempurna. Lalu, kenapa Karin bisa berlaku seperti ini? Tak tahukah ia, langkah yang ia ambil cukup beresiko?

Karin benar-benar cari mati. Bagaimana bisa ia mau mengencani seorang lelaki seperti Naruto. Lelaki dengan penuh masalah dan seringkali ditemukan masuk trending topik dunia. Parahnya Naruto masuk trending topik bukan karena prestasinya, melainkan insiden-insiden kencan dengan berbagai wanita itulah masalahnya. Reputasi wanita itu bisa saja hancur dalam sekejap jika hubungan mereka berhasil diungkap oleh media. Sungguh tak terduga. Apa yang sebenarnya ada dibenak wanita itu?

Apalagi Naruto, apa yang sebenarnya lelaki itu pikirkan? Kenapa harus seorang model? Mengapa harus Karin yang ia pilih? Sebelum ini Naruto tidak pernah mengencani wanita yang bisa dibilang sederajat dengannya. Semua wanita yang pernah ia kencani sebelumnya berasal dari jalanan, murah, dan jalang. Lalu, kenapa kali ini berbeda?

Karin pula. Kenapa ia menerima Naruto sebagai kekasihnya dengan keadaan yang penuh skandal? Apa motif dibalik hubungan mereka? Apa Karin merencanakan sesuatu? Apa mungkin Karin ingin menjebak temannya itu?

Tsk

Begitu banyak pertanyaan yang tak bisa dimengerti disini. Namun, Sasuke yakin, pasti ada pihak diantara mereka yang mengambil keuntungan entah apa itu. Jika benar, Karinkah? Atau, Narutokah?

.

.

.

Sakura bersyukur, setidaknya sampai hari ini ia baik-baik saja. Kejadian kemarin memang sempat membuatnya terpukul. Kecelakaan itu membuat tubuhnya serasa mati, terutama dibagian bahu yang sampai detik ini masih terasa sakitnya. Tiba-tiba Sakura merasa teramat malu, kejadian dimana ia berteriak dan menangis dihadapan orang asing yang ia tolong kemarin begitu menohok hatinya. Terlebih lagi, orang asing itu sekarang telah menjadi bosnya sendiri. Keadaan juga semakin rumit ketika takdir mengharuskannya untuk tinggal seatap dengan sang bos.

Sakura kini gelisah setengah mati, karena dengan begini secara otomatis ia akan sering bertatap muka dengan si bos. Rasa bersalah, malu, dan canggung pada akhirnya melebur jadi satu. Dengan situasi semacam ini, Sakura tak yakin bisa melihat wajah bosnya itu nanti dengan sebuah senyuman. Padahal, jika ia pikir-pikir kembali peristiwa kemarin itu tidak begitu buruk juga. Tapi, ia malah sangat frustasi hingga menangis sejadi-jadinya seakan tak ingin berhenti.

"Apa Anda ada didalam? Boleh saya masuk?"

"Uhm," Sakura terkesiap ketika mendengar pintu kamarnya diketuk. Seakan tersadar Sakura segera bangkit dari ranjangnya. "Sebentar,"

Ia terkejut melihat sosok yang berada didepannya setelah tadi terlebih dulu membukakan pintu. Orang itu tersenyum ramah pada Sakura.

"Bagaimana? Apa Anda sudah merasa lebih baik sekarang?"

Sakura mengangguk berkali-kali sebagai jawaban. "Tentu saja. Bahkan jauh lebih baik." Lalu tersenyum manis, " Ini semua berkat Anda, Kakashi-san."

Mendengar itu Kakashi merendah, "Itu bukan apa-apa, Nona. Saya hanya ingin memberi yang setimpal atas apa yang telah Anda lakukan."

"Panggil saja Sakura." Gadis musim semi itu masih tersenyum kearah Kakashi, "Rasanya tidak pantas jika Anda memanggil saya dengan sebutan Nona. Itu terlalu formal untuk gadis seperti saya."

Lelaki paruh baya itu terkekeh mendengar perkataan Sakura. "Baiklah. Kalau Anda memaksa, saya bisa apa?" Ujarnya.

Sakura maupun Kakashi tergelak bersama setelah percakapan itu. Mereka menjadi lebih akrab satu sama lain dalam kurun waktu yang sangat singkat. Sakura juga tak mengerti mengapa ia sangat mudah bercakap-cakap dengan Kakashi, begitupun sebaliknya. Mereka seakan menemukan pasangan serasi untuk diajak bicara. Cukup lama mereka berbincang, hingga Kakashi teringat akan sesuatu dan membawa Sakura menuju dapur yang ada di apartemen tersebut. Disana telah tersedia beberapa sayuran dan juga buah-buahan segar tertata diatas meja makan.

Sakura yang melihat itupun bertanya, "Ini, apa maksudnya?"

"Seperti yang kau lihat. Semua ini adalah bahan-bahan untuk dimasak. Karena sekarang kau yang akan bertugas, aku akan memberitahukan beberapa hal penting padamu."

Sakura menaikan satu alisnya. Ia belum mengerti sama sekali.

"Duduklah. Aku akan memberitahumu sesuatu." Tanpa basi-basi Sakura langsung mendudukan diri dikursi yang berseberangan dengan Kakashi.

Kakashi membenahi duduknya, ia terlihat serius lalu mulai menjelaskan maksud dan tujuannya yang ingin mengajarkan Sakura beberapa cara agar menjadi asisten yang baik bagi Sasuke. Hal itu tentu sangat penting dan perlu untuknya, agar nanti ia tak membuat kesalahan selama bekerja.

Kakashi mulai menjabarkan satu persatu. Apa saja yang lelaki itu tak sukai dan sukai, terutama mengenai makanan. Kakashi memberitahu bahwa Sasuke itu orangnya cukup pemilih. Ia tidak suka makanan yang manis-manis dan juga yang terlalu pedas. Ia juga bilang kalau Sasuke benci cumi-cumi, tomat, serta makanan-makanan organik semacam kue dan kawanannya. Kakashi berharap Sakura ingat akan hal itu dan membuat semuanya baik-baik saja.

Kakashi juga bilang Sasuke sangat menyukai yang namanya kebersihan. Lelaki itu bisa saja marah-marah kalau ia dengan atau tanpa sengaja menangkap ada setitik saja noda pada dapur dan perabotan-perabotan lain yang terdapat didalam apartemennya. Sakura harus memastikan tidak ada sarang laba-laba ataupun debu-debu menempel dikaca. Tak ada serangga. Tak ada yang namanya bau amis dan apek pada ruangan. Dan satu lagi, semua pakaian harus dikucek menggunakan tangan. Tak ada yang dimasukan ke mesin cuci.

Mendengar itu Sakura hampir jantungan. Matanya terbelalak dan terlihat shock. Ini namanya berlebihan. Sakura baru menginjak usia 17 tahun, dirumah pun ia jarang bersih-bersih. Lalu, bagaimana ia bisa membersihkan seperti yang dikatakan Kakashi itu?

Dirumahnya saja ia hanya membersihkan ruang kamar sendiri, selebihnya itu adalah tugas ibunya. Ia jarang sekali bisa memiliki waktu bersih-bersih karena ibunya selalu melarang dengan alasan Sakura hanya harus terus belajar, sehingga tak perlu memikirkan masalah bersih-bersih. Seketika Sakura menyesali tindakannya yang selalu mengalah pada sang ibu.

"Kakashi-san, aku... emm... aku..."

"Tenang saja. Aku akan membantumu untuk beberapa hari kedepan." Kata Kakashi yang seolah tahu isi kepala Sakura. "Aku tahu ini agak sedikit berlebihan, tapi yah... mau bagaimana lagi?"

Gadis itu nampak berpikir lalu menghela napas, "Kuharap aku bisa melakukannya dengan baik."

"Kau pasti bisa, Sakura. Aku sangat yakin itu." Ujar Kakashi meyakinkan.

Semoga saja.

"Eh, Kakashi-san. Jadi yang selama ini membantu Tuan Sasuke siapa? Tidak mungkin 'kan dia membersihkan apartemen ini seorang diri. Ia pasti tak punya banyak waktu untuk hal semacam itu."

Kakashi kembali tertawa kecil, "Sudah kuduga kau akan bertanya." Dahi Sakura mengkerut, "Akan kujelaskan."

"Kau pasti tahu Sasuke bukanlah orang biasa. Dia adalah seorang Idol sekaligus aktor disini. Nah, kau pasti tahu 'kan seorang Idol sangat diperhatikan. Apalagi Sasuke menjadi semakin terkenal semenjak menerima tawaran untuk bermain peran. Saat itu film yang ia bintangi sukses hebat, karena itulah ia menjadi seorang aktor. Diposisi Sasuke sekarang, tentu sangat tak memungkinkan untuk ia memiliki seorang asisten. Media bisa saja mengorek masalah ini dan membuat kegaduhan diinternet. Lagipula para fans Sasuke pasti sangat tidak setuju jika Sasuke memiliki seorang asisten, jangankan perempuan, lelaki pun mereka tak terima." Ia menghela napas napas sejenak, "Kau juga pasti tahu bagaimana kejamnya para penggemar disini. Mereka tak akan segan-segan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Nah, ini juga merupakan salah satu penyebabnya."

Sakura mengangguk-anggukan kepala. Ia mengerti sekarang. Betapa bodohnya ia tak menyadari hal itu. Sakura mengumpat dalam hati karena merasa mempermalukan diri sendiri.

"Lalu, siapa yang membersihkan apartemen ini? Siapa yang membantunya?"

"Sasuke sendiri." Sahut Kakashi santai. "Kadang kalau memang sedang tak punya waktu karena jadwalnya yang padat, aku akan meminta bantuan dari orang lain untuk membersihkan apartemen ini ataupun sekedar menyiapkan makanan untuknya."

Sakura kembali mengangguk kecil, namun sejurus kemudian ia seperti menyadari sesuatu. "Eh, sebentar. Lalu, kenapa Kakashi-san menerimaku? Bukankah ini tak baik untuk Tuan Sasuke?"

"Sudah jelas 'kan, aku menerimamu karena kau telah menyelamatkan Sasuke. Kami berhutang budi padamu. Kau sendiri juga tidak menerima imbalan kami dengan percuma saat itu. Kau juga meminta agar kami memberimu pekerjaan, dan kurasa inilah yang cocok untukmu."

Benar juga, Sakura terdiam beberapa saat. Kini ia sepenuhnya mengerti. Ia diterima bekerja disini bukan karena mereka yang menawarkan, tetapi karena Sakuralah yang meminta. Ia ingat pada saat itu menolak diberi uang untuk membeli tiket pesawat kembali dengan cuma-cuma, walaupun ia sudah monolong Sasuke. Seandainya saja Sakura memiliki sisa uang lebih, ia pasti tidak akan meminta pekerjaan pada mereka. Sakura sepenuhnya ikhlas menolong Sasuke, ia bahkan tak meminta apa-apa kala itu, Sasukelah yang berinisiatif untuk memberinya uang.

Huh. Membicarakan ini membuat Sakura teringat pada kedua orang tuanya. Ngomong-ngomong, ia sudah sangat merindukan sosok hangat ibu dan juga ayahnya. Sakura yakin mereka pasti sangat khawatir sekarang dengan kemunduran kepulangannya. Apalagi ia belum menghubungi mereka sejak kemarin.

Sakura juga merindukan Ino, sahabatnya dan juga kekasihnya, Neji. Apa mereka baik-baik saja?

.

.

.

Ketika malam tiba aku masih saja bekerja. Ya, bekerja. Bersih-bersih didalam apartemen Uchiha Sasuke, bosku. Jangan ditanya apakah aku merasa lelah ataupun tidak. Tubuhku terasa lengket karena dibanjiri keringat, padahal aku sudah mandi. Huh, kurasa aku harus mandi lagi.

Ku usap keringat yang terus mengalir dari pelipusku. Sekarang aku sedang berkutat didapur. Setelah seharian ini belajar memasak dengan Kakashi-san aku jadi tahu makanan seperti apa yang Tuanku sukai.

Aku bukannya tak bisa memasak, hanya saja Tuanku adalah orang yang berbeda. Dia amat pemilih mengenai makanan, aku harus tahu selera macam apa yang ia suka. Awalnya aku membuat banyak kesalahan seperti sayur yang terlalu lama direbus dan rasa yang terlalu asin. Aku saat itu mengernyit binggung, perasaan tidak asin sama sekali. Rasanya pas dilidahku. Tapi ternyata tidak dilidah Kakashi-san, dia bilang Sasuke tidak akan mau memakan masakanku jika asin begitu. Menyebalkan sekali, aku harus mengulang beberapa kali hingga benar-benar bisa menyamai rasa makanan milik Kakashi-san yang katanya sesuai selera Tuanku itu.

"Ah, selamat malam, Tuan." Sapaku pada pemilik apartemen. "Anda pasti sangat lapar. Duduklah, saya baru saja ingin memanggil Anda untuk makan malam."

Kulihat ia melirik makanan buatanku diatas meja, yang sudah ku tata sedemikian rupa. Aku berharap kesan pertama bekerja akan baik, "Tidak. Aku tidak mau makan." Ujarnya.

Dasar sialan. "Kenapa? Apa saya melakukan kesalahan?" Aku mati-matian menahan amarah, wajahku kupaksakan untuk tetap tersenyum. Aku bersumpah jika ia membenarkan pertanyaanku, akan ku gantung tubuhnya diatas gedung apartemen ini!

"Aku sedang tak nafsu makan."

Keparat. "Mengapa begitu? Anda bisa sakit kalau tidak makan, Tuan." Ucapku berusaha tetap terdengar wajar-wajar saja.

"Bukan urusanmu. Aku akan keluar sekitar dua puluh menitan lagi. Aku kesini hanya ingin memintamu untuk membuat kopi. Dan makanan ini..." Ia melirik makanan buatanku lalu beralih menatapku, "... sebaiknya kau yang makan."

Oh ya ampun. Aku-benar-benar membencinya. Hampir saja aku melancarkan umpatan yang tertahan dilidahku sejak tadi. Beruntung sosoknya telah pergi sebelum sempatku membuka mulut.

Sabar Sakura, ini tak akan lama. Bertahanlah sedikit lagi, kau pasti bisa!

"Silahkan dinikmati kopi Anda, Tuan."

"Hn."

Aku masih memaksakan senyum diwajahku tidak memudar. Kuharap wajahku ini tak terlihat menyeramkan dimatanya. Jujur saja, aku sendiri tak tahu bagaimana rupaku sekarang saat berhadapan dengannya. Setelah kejadian beberapa saat yang lalu didapur, aku telah memikirkan cara agar lelaki sok tampan ini setidaknya bisa menghargai hasil kerja orang lain. Lihat saja nanti, ia pasti akan menyesali perbuatannya.

"Aku pergi dulu. Kau jaga apartemen baik-baik. Jangan sesekali mencoba keluar dari sini tanpa seizinku." Perintahnya setelah menyeruput habis kopi espresso buatanku.

"Saya mengerti, Tuan. Saya tidak akan keluar sesenti pun dari sini sesuai keinginan Anda." Sahutku dengan nada penuh penekanan disetiap katanya, meskipun begitu senyumku tak pernah hilang dari wajahku.

Selanjutnya ia melihatku seperti menyeringai, "Baguslah kalau begitu." lalu beranjak pergi.

Astaga, dia benar-benar menyebalkan.

Seorang Idol ini secara terang-terangan mengencani modelling wanita terkenal. Diduga keduanya telah berkencan dan tertangkap sedang berduaan oleh seorang penggemar disalah satu restaurant ternama Seoul, kamis lalu.

Pandanganku kini tertuju pada acara televisi yang memuat berita entertainment.Pertama kali melihat itu, aku bersikap tak peduli, seolah tak ingin ambil pusing dalam urusan mereka-para Idol. Apa untungnya juga? Lagipula aku sedang tidak dalam mood yang baik sekarang. Ketika aku ingin melangkah pergi, suara pembawa acara itu membuatku terhenti.

Keduanya tampak mesra dengan saling menggenggam satu sama lain. Hal itu tak disia-siakan oleh penggemar untuk mengabadikan momen tersebut. Namun, beberapa dari mereka menyebut bahwa keduanya benar-benar berani dengan penampilan yang sangat mencolok.

Tapi, yang membuatku terkejut adalah foto-foto yang terpampang jelas dilayar televisi itu. Wajahnya... tak asing bagiku. Wajah itu mengigatkanku pada seseorang. Sedetik kemudian aku membelalak tak percaya.

HA, LELAKI MESUM KEMARIN!

.

Tok tok

Aku mengeram mendengar ketukan dari luar apartemen. Jangan bilang dia adalah lelaki menyebalkan itu. Tolong, jangan bilang itu Tuanku. Apa kini ia juga mengerjaiku dengan mengetuk pintu iseng begitu? Persetan dengan dia, aku hanya perlu membunuhnya jika itu benar-benar ulahnya.

Tok tok tok

"Sebentar," Ujarku sambil menyambar knop pintu.

"Selamat malam. Maaf menganggu, tapi apa saya bisa bertemu dengan Sasuke?"

Aku benar-benar terkejut dengan pemandangan yang ada didepanku. Seorang wanita cantik dengan gaun selutut berwarna cream tengah tersenyum ramah kearahku. Aku seakan tuli dengan ucapannya, mataku tak bisa untuk tidak memperhatikannya. "Maaf, apa Sasuke-kun ada?"

Mendengar itu aku ahkirnya tersadar dari lamunan setelah mendengar embel-embel yang dipakai wanita itu pada Tuanku. Siapa sebenarnya wanita ini? Apa Tuanku mengenalnya?

.

"Cih. Dasar wanita aneh." Aku kesal sendiri setelah wanita cantik itu pergi. Dia bertanya padaku lalu kemudian ketika aku bertanya balik padanya, ia mengabaikanku seenak jidat. Setelah wanita itu tahu bahwa Sasuke sedang pergi, ia juga ikut pergi tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Demi jidatku yang lebar, semua orang dimalam ini benar-benar membuatku naik pitam.

Tok tok tok

Oh shit! Siapa lagi itu?

Tok tok tok tok tok.

Sakura tersentak ketika lagi-lagi pintunya diketuk. Kali ini lebih keras dan terdengar menuntut. Orang macam apa yang bertamu ini sebenarnya. Benar-benar merepotkan saja. Ah, aku lupa. Jangan-jangan wanita yang tadi itu pacar Sasuke? dan yang berada diluar sana selingkuhannya? Bisa jadi 'kan Tuannya itu memiliki pacar diam-diam dan juga memiliki selingkuhan. Dengan wajah rupawan dan mempesona yang dimiliki Tuan tentu bukan hal sulit untuknya mendapatkan wanita. Sekali kedip saja wanita manapun pasti mampu dijeratnya. Well, kecuali aku, tentu saja.

"Apa Anda tak tahu caranya mengetuk dengan baik-"

"Naruto! Apa Naruto berada disini? Cepat panggilkan dia untukku. Bilang padanya dia tidak akan selamat ditanganku kali ini jika ia berani kabur lagi dariku."

Sakura bergeming, ia tak menyangka akan mendapat tamu seperti wanita ini. Sakura bahkan belum menyelesaikan bicaranya tadi.

Oh Tuhan, malam ini sungguh menakjubkan.

.

.

.

Tbc

Catatan:

Astaga! Aku tidak tahu harus berkata apa? Pokoknya fict ini benar-benar hancur. Aku menulis ini kebut-kebutan. Jadwal yang padat dan juga tugas yang menumpuk selalu menungguku. Aku juga sudah lupa kapan publish fict ini.

Sekedar memberitahu, aku akan menyelesaikan fict ini apapun yang terjadi. Entah itu lama atau tidak aku akan tetap melanjutkannya. Jujur, aku juga sangat tak menginginkan fict ini tidak selesai alias mogok tengah jalan. Aku akan berusaha semampuku untuk tetap melanjutkan dan update lebih cepat mulai sekarang. Semoga saja itu bisa terjadi. Makasih buat yang udah nyempatin waktu baca fict aku yang tak bermutu ini, huhu...

Cukup sekian dan terima kasih,

Swinysoo