Himchan tengah sibuk memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper merah muda yang lumayan besar. Dia berkemas untuk persiapannya pergi ke Jepang, dimana dia dan sahabatnya - Jongup lulus dalam tes pertukaran pelajar. Mereka mengikuti tes seminggu yang lalu dan dinyatakan lulus setelah 4 hari mengikuti tes, dan besok mereka akan pergi ke Jepang setelah semua persyaratan lengkap, pasport dan yang lainnya.

Saat semua orang mengatakan ini adalah sebuah keberuntungan, tapi tidak dengan Himchan. Nyatanya, kepergian Himchan tidak lebih hanya untuk melarikan diri.

"Apa kau sudah siap mengemas?".

Seorang wanita paruh baya berdiri diambang pintu memperhatikan Himchan yang masih berkutat dengan pakaian dan kopernya.

"Sudah bu. Tidak terlalu banyak yang ku bawa".

Himchan tersenyum melihat ibunya yang sekarang duduk disamping kasur tempat dia tengah menata barang-barang bawaannya.

Wanita yang di panggil ibu olehnya ikut merapikan baju-baju yang akan Himchan bawa. Tersenyum hangat menatap anak lelakinya.

"Jika sudah sampai jangan lupa langsung menelpon ibu ya?".

"Hmmm".

Hanya gumaman kecil yang keluar dari bibir Himchan.

"Jangan makan sembarangan, nanti tidak ada yang menjagamu disana jika kau sakit".

Ibu himchan merapikan beberapa pakaian yang berantakan, mungkin tadi Himchan memilih pakaian yang dia bawa tapi pakaian lain tidak dia rapikan kembali.

Himchan yang sudah selesai merapikan pakaian kini tengah berkutat dengan beberapa kertas dan beralih melihat ibunya.

"Ibu~ aku bukan anak kecil lagi, aku bisa mengurus diriku sendiri. Lagipula ada Jongup bersamaku, dia sudah seperti bodyguard ku. Lagipula aku hanya pergi 3 bulan, itu tidak lama".

"Bagi ibu itu sangat lama Himchan. Bahkan sehari ibu tidak melihat anak tampan ibu ini, ibu akan sangat sangat sangat merindukannya".

Ibu Himchan mencubit pipi mulus serta berisi milik Himchan, memperlakukannya seperti anak kecil.

Meskipun begitu terdengar nada khawatir dari ibu himchan, tentu saja. Himchan adalah anak sulung, dia punya satu adik laki-laki yang berbeda 4 tahun bernama Kim Junhong. Ayah dan ibu Himchan sudah lama bercerai dan lelaki yang seharusnya memberikan nafkah kepada dia dan adiknya malah tidak pernah menemui mereka lagi setelah bercerai 10 tahun lalu. Himchan tidak pernah pergi jauh dari ibunya, ini kali pertama dia meninggalkan ibu dan adiknya.

"Baiklah baiklah aku akan menelpon ibu setiap hari, jadi jangan terlalu mencemaskan ku, 'eum? Lagipula aku ini lelaki, aku bisa menjaga diri". Akhirnya Himchan hanya pasrah meladeni ibunya yang sedikit berlebihan.

Ibu Himchan hanya bisa tersenyum melihat putranya cemberut dengan menggembungkan kedua pipinya akibat dia yang terlalu berlebihan memperlakukan pemuda 21 tahun itu.

"Himchan..".

Tampak ada nada keraguan saat wanita paruh baya itu memanggil Himchan, bahkan suaranya terdengar sangat pelan.

"Ada apa?".

Hanya memandang ibunya sekilas karna dirinya masih sibuk dengan berkas-berkas yang akan dia bawa.

"Bagaimana hubungan mu dan...".

"Ibu, aku sudah mengantuk. Besok pagi-pagi sekali aku harus berangkat".

Belum selesai berbicara, Himchan telah memotong perkataan ibunya. Dia benar-benar tau apa yang akan ibu nya katakan. Himchan langsung memasukka kertas-kertas yang baru beberapa menit lalu dia baca kedalam map dan meletakkannya di atas nakas samping kasur.

"Eum.. tidurlah".

Terdengar nada kekecewaan dari ibu Himchan, dia sudah tau jika hubungan Himchan dan Minjae sudah berakhir tapi dia tidak pernah tau apa penyebab hubungan mereka yang sudah dua tahun ini bisa berakhir begitu saja. Minjae sudah sangat dekat dengan dia dan adik Himchan, sangat disayangkan mereka sudah tidak bersama.

Wanita paruh baya itu menyelimuti Himchan yang sudah memejamkan matanya dan pergi meninggalkan kamar Himchan. Sengaja ibunya tidak mematikan lampu kamar, karna Himchan sangat takut jika tidur dengan keadaan gelap.

Himchan tidak sepenuhnya tertidur, dia hanya ingin menghindari ibunya yang terus menanyakan tentang hubungannya dan Minjae.

Himchan bangkit dan duduk bersandar pada tepian kasur. Tangan Himchan meraih boneka koala yang berada di atas meja samping tempat tidurnya. Sesaat wajah Minjae memenuhi pikirannya kembali. Itu boneka koala yang Minjae berikan pada Himchan sebagai hadiah anniversary mereka yang pertama.

Semua barang, foto atau apapun yang berkaitan dengan Minjae sudah Himchan buang, tapi tak ada sedikitpun niat Himchan untuk membuang boneka koala itu. Himchan hanya tidak tega harus membuang boneka lucu yang sudah menjadi temannya saat dia tidur selama ini.

"Akhh...!! Enyahlah dari pikiranku wanita sialan!!".

Himchan melempar boneka koala itu ke dinding, berteriak frustasi dan mengacak rambutnya dengan ganas. Nafasnya naik turun karna emosi yang meledak, bahkan dia memukul dadanya yang semakin sesak.

Himchan menekuk kakinya hingga menyentuh dada, memeluk erat kaki yang tengah bergetar menahan tangis seperti orang yang sedang kedinginan dan menjatuhkan ujung kepala pada ujung dengkulnya.

"Hiks.. Kenapa? Kenapa aku harus hidup seperi ini? Hiks.. hiks..".

Himchan terisak, pikirannya semakin kacau.

"Hidup mu penuh dengan kesialan Kim Himchan. Tidak ada seorangpun yang mengininkanmu!! Hiks.. hiks..".

Mulut Himchan tak pernah berhenti mengutuk dan menghakimi dirinya sendiri.

Bukan tanpa alasan Himchan mengatakan hal itu - ayah yang seharusnya menjadi tempat dia belajar menghadapi kerasnya kehidupan meninggalkannya tanpa alasan dan tanpa bisa Himchan pahami, kekasih yang 2 tahun terakhir ini selalu mengisi hari-hari beratnya dengan tawa malah mencampakkan dan menginjak-injak harga dirinya beberapa hari yang lalu.

Bukankah itu seperi paket lengkap yang menghampiri hidup Himchan? Belum lagi kehidupan keluarganya yang pas-pas an, bahkan ibu Himchan harus membanting tulang demi menghidupi dia dan adiknya.

Suara isakan semakin jelas terdengar mengisi setiap sudut ruangan kamar yang tidak terlalu besar tersebut. Bahkan suara lolongan anjing malam dan suara denting jam terdengar seperti mengejek Himchan dengan kesedihan malam itu.

Himchan berjalan mengekori Dosen pembimbing dan teman-temannya yang beruntung mengikuti pertukaran pelajaran kedalam bus - yang akan mengantar mereka ke Bandara. Semua mahasiswa terlihat bahagia dan bersemangat, terdengar dari kebisingan yang mereka buat didalam bus. Tetapi Himchan memilih duduk sendiri dan mengambil tempat di dekat jendela.

Baru ingin memasang headset untuk meredam kebisingan, Jongup - sahabatnya datang dan mengambil tempat duduk disamping Himchan.

"kenapa wajahmu kusut? Kau terlihat sangat jelek!".

Jongup menarik headset yang baru saja menempel pada telinga kiri Himchan.

"Diamlah aku sedang tidak ingin di ganggu".

Himchan mencoba mengambil kembali headset yang berada di genggaman Jongup.

Jongup semakin menggeserkan badannya menghimpit Himchan yang sedang bersandar nyaman - mendekatkan mulutnya ketelinga Himchan yang sedang disumbat headset itu. Jongup tau Himchan masih sibuk mencari lagu di HP nya, jadi kemungkinan bisikan dia masih bisa didengar Himchan. "Masih memikirkan Minjae, ha?".

"Sudah berapa kali ku bilang jangan menyebut namanya lagi! Kau membuat mood ku tambah buruk!".

Himchan mendorong tubuh Jongup yang semakin lama menghimpit ke arahnya, Himchan jadi menyesal kenapa dia lama sekali memilih lagu dan alhasil dia malah mendengar bisikan Jongup.

Jongup bukannya takut mendengar teriakan Himchan dan tatapan membunuhnya - Jongup malah terkekeh karna berhasil membuat seorang Kim Himchan marah.

"Kkk... Salah kau sendiri masih terus memikirkannya. Itu sebabnya mood mu tidak pernah baik".

Jongup menepuk bahu Himchan tapi Himchan langsung membuang kasar tangan Jongup. Himchan beralih memandang ke luar jendela, dia benar-benar sangat marah.

Sebenarnya Jongup sudah mengetahui perihal putusnya hubungan Himchan dan Minjae semenjak pertama kali mereka putus, saat itu Himchan benar-benar seperti orang gila - menenggak beberapa botol wine disebuah club sampai-sampai dia mabuk berat, saat itulah Himchan mencurahkan semua masalahnya kepada Jongup yang hanya bisa menatap kasihan pada Himchan.

Dan beberapa hari yang lalu setelah mengikuti tes pertukaran pelajar, kejadian itu terjadi lagi tapi lebih gila dari sebelumnya. Himchan yang mabuk berat berteriak dan merusak isi club dengan brutal. Untung Jongup berada disana, dia bekerja paruh waktu sebagai dj di tempat itu. Jongup membantu menenangkan Himchan, karna hampir saja Himchan menjadi bulan-bulanan para penjaga club kalau saja tidak ada Jongup yang meyakinkan akan mengurus Himchan sendiri dan membawanya dari tempat itu.

Dari situ Himchan mulai membuka suara mengenai persoalan Minjae yang menemui lagi.

Bus sudah bergerak sejak 15 menit yang lalu, membawa mereka ke Bandara. Selama itu pun Himchan dan Jongup masih belum berbicara semenjak Jongup menyinggung soal Minjae. Himchan tidak bergeming terus memandang keluar Jendela - bukan melihat pemandangan diluar sana melainkan hanya pandangan kosong, dia sama sekali tidak tertarik dengan segala hal yang dilewati bus. Sedangkan Jongup sedang berkutat dengan HP memainkan game dan lebih memilih membiarkan Himchan, Himchan akan tenang dengan sendirinya - Jongup sudah hafal bagaimana sifat Himchan.

"Moon, Apa yang harus ku lakukan?".

Himchan membuka suara, tapi pandangannya masih tidak lepas keluar sana.

Bukannya menjawab, Jongup malah menghela nafas. Pandangannya masih tidak lepas dari layar smarphone-nya

"Huft... Kau sudah tau jawabannya. Kenapa masih bertanya?".

Tidak ada tanggapan dari Himchan - membuat keadaan jadi sunyi kembali.

Jongup menoleh ke arah Himchan, dia merasa kasihan melihat keadaan Himchan sekarang. Inilah keadaan Himchan yang paling tragis sejauh dia berteman dengannya.

"Cobalah untuk melupakannya".

Himchan menghela nafas. "Kau pikir itu mudah?".

"Kalau begitu terima saja tawaran dia".

"Aku masih punya harga diri Moon!".

Jongup kembali pada smartphonenya dan sibuk menekan-nekan layar persegi panjang itu melanjutkan game yang sempat tertunda.

"Dari awal harga dirimu memang sudah tidak ada Kim Himchan".

"Beraninya kau Moon Jongup!".

Sepertinya Jongup harus lebih berhati-hati dengan perkataannya, karna sebuah pukulan keras melayang tepat mengenai kepala belakangnya.

Jongup mengusap bagian belakang kepalanya dan tidak lupa umpatan yang dia keluarkan untuk pelaku kekerasan itu.

"Lalu apa namanya jika seseorang yang sudah di campakkan masih ingin kembali dengan orang yang men-cam-pak-kan-nya?".

Jongup menekankan kata terakhir yang dia ucapkan dan menatap lekat pada manik mata Himchan.

Himchan menghindari tatapan Jongup saat setelah Jongup melontarkan pertanyaan padanya. Kembali menatap keluar jendela sama seperti sebelumnya.

"Kau memikirkannya sama dengan kau berharap kembali padanya Kim Himchan".

Skak mate!

Himchan bungkam. Dia tidak bisa mengelak lagi bahwa apa yang dikatakan Jongup 1000% sangat benar.

"Aku bingung. Di lain sisi aku sangat membencinya tapi disisi lain aku tidak ingin kehilangan dia".

Jongup yang mendengar hal itu hanya bisa memutar bola matanya malas, perkataan Himchan terdengar seperti sebuah puisi ditelinga Jongup.

"Mau ku beri saran?".

Himchan tidak menjawab, lebih memilih mendengar apa yang ingin dikatakan Jongup.

"Carilah seseorang"

Himchan menggeleng lemah. "Aku benci untuk berhubungan lagi"

"Kalau begitu cobalah hal yang baru"

"Maksudmu?". Himchan langsung menoleh ke arah Jongup yang sekarang tengah menatapnya juga.

"Berhubunganlah dengan seorang pria"

"Kau gila!".

Himchan berteriak, membuat seisi bus menatap kearah dimana mereka duduk. Terkadang Himchan benar-benar tidak bisa menebak jalan pikiran sahabatnya itu. Jongup selalu menempatkan sebuah masalah sebagai bahan lelucon.

Himchan lebih memilih mengacuhkan Jongup yang sedang menahan tawa disampingnya dan memasang headsetnya kembali. Jongup dan selera humornya benar-benar menakutkan.

_ooo_

JEPANG

Himchan memilih pergi kesebuah coffee shop yang berada dilingkungan bandara untuk membeli americano. Dia bosan hanya duduk menunggu bus jemputan mereka datang.

Himchan langsung mengambil antrian dan menunggu dengan sabar, sambil sesakali melihat-lihat sekeliling mana tahu ada yang menarik perhatiannya. Namun sepertinya tidak ada, hanya ada beberapa kafe disekitar situ.

"Ooh shit!! What the hell are you doin' ?! You punk! Apa kau tidak mempunyai mata?!".

Seorang pemuda berteriak pada salah seorang pemuda berkacamata yang tengah memegang cup coffee. Sepertinya kopi pemuda itu mengenai bajunya.

Sontak Himchan langsung melihat kearah mereka, tidak hanya Himchan tapi semua pengunjung yang tengah mengantri juga. Turis? Himchan bergumam, melihat perawakan serta aksennya Himchan tahu bahwa pemuda yang berteriak tadi adalah seorang turis. Tetapi melihat wajahnya dia terlihat seperti orang asia, hanya saja wajahnya yang tegas tidak kebanyakan seperti orang asia lainnya. Mungkin dia blasteran atau memang wajahnya seperti itu. Himchan berasumsi sendiri di dalam pikirannya.

"So-sorry.".

Pemuda yang menjadi tersangka hanya bisa menunduk dan terus membungkuk meminta maaf seperti kebanyakan orang Jepang lainnya.

"Maaf tidak akan membuat bajuku bersih kembali! Kau tahu?!".

Pemuda itu masih terus memaki pemuda dihadapannya dengan aksen inggrisnya dan sedikit dicampur bahasa Jepang. Setidaknya itu yang Himchan dengar dan pahami.

"Apa yang kau lakukan? Jangan menyentuh ku! Sial!".

Pemuda itu mendorong pemuda berkacamata itu saat hendak membersihkan bajunya yang terkena tumpahan kopi.

Tidak tahan melihat keadaan seperti itu dan sepertinya juga tidak ada seorang pun yang berniat membantu pemuda yang tengah dimaki habis-habis disebrang sana, Himchan pergi dari antriannya dan menghampiri kedua pemuda yang tengah menjadi pusat perhatian tersebut. Himchan menghampiri pemuda berkacamata yang terjatuh akibat didorong keras oleh pemuda asing itu dan membantunya untuk bangkit. Manik mata Himchan langsung menatap pemuda asing tadi.

"Apa?!".

Pemuda itu malah membentak Himchan saat Himchan menatapnya.

Tanpa basa basi Himchan memberikan sapu tangannya ke pemuda itu, namun malah di tatap sinis olehnya.

"Kau bisa menggunakan ini untuk membersihkannya".

"Cihh"

Bukannya menerima baik sapu tangan yang diberikan Himchan, Pemuda itu malah meludah dihadapan Himchan dan menatap sinis pada Himchan.

Himchan hanya menghela nafas melihat tingkah pemuda yang terbilang sangat kekanak-kanakan itu.

"Apa perlu aku yang membersihkannya?".

Himchan mencoba meraih bagian baju yang terkena cairan kopi, jika dilihat dari dekat bagian yang terkena kopi tidak terlalu parah. Himchan berdecak sebal.

"Bukankah sudah kubilang? Jangan menyentuhku!". Pemuda itu melempar sembarang sapu tangan Himchan.

Himchan yang sedari tadi sabar menghadapi pemuda asing tersebut tesulut emosi dan berteriak.

"Kalau begitu berhenti bersikap seperti itu padanya!"

"Dia yang memulainya duluan"

"Dia sudah meminta maaf dan di tidak sengaja melakukan itu. Lagipula itu salahmu sendiri"

"Apa?!".

Pemuda itu menatap Himchan dengan lekat, seperti maling yang tertangkap basah.

"Kau tidak lihat semua orang mengantri? Maaf harus mengatakan ini, tapi jangan membawa kebiasaan mu ke sini. Aku tahu kau turis"

"Sialan!"

Buughh

Buughh

Satu. Dua pukulan mengenai pipi kiri Himchan, dan himchan bisa merasakan darah mengalir dari sudut bibinya.

"Kau berani berbicara seperti itu padaku?!".

Pemuda itu mencengkram baju Himchan dan hendak melayangkan tinjunya lagi.

"Wow... wow.. hey hentikan! Stop it!".

Seorang pemuda lain mendorong pemuda itu dan menahannya agar tidak mendekati Himchan.

"Lepaskan aku. Biar aku hajar dia, dia baru saja merendahkanku. Sialan kau!".

Pemuda itu terus meronta dan terus berteriak mengumpati Himchan yang tengah memegangi bibirnya menahan sakit, sementara pemuda yang dibelanya memegangi tubuh Himchan.

"BANG YONGGUK!!".

Pemuda yang melerainya tadi berteriak, Bang Yongguk? Sepertinya itu nama pemuda asing itu.

"BANG YONGGUK!! Sudah kubilang jangan buat masalah kan?".

Pemuda itu mencengkram baju pemuda yang dipanggil Bang Yongguk dan menatap nya.

"Ta-tapi dia..".

Seperti seorang anak kecil yang tengah dimarahi ibunya, pemuda bernama BangYongguk itu langsung tenang saat pemuda itu menatapnya.

Pemuda itu menggelang dan terus menatap tajam padanya.

"Shitt".

Seperti tidak ada kejadian apapun yang terjadi sebelumnya, Bang Yongguk pergi meningalkan tempat tersebut tanpa memperdulikan Himchan yang masih berdiri menahan sakit disana.

"Are you oke?".

Pemuda yang melerai perkelahian dan membuat Bang Yongguk pergi tadi menghampiri Himchan.

"Hmm".

Himchan mengangguk dan tersenyum pada pemuda itu.

Pemuda tadi membawa Himchan untuk duduk, setelah sebelumnya Himchan meyuruh pemuda berkacamata tadi untuk pergi dan meyakinkannya bahwa dia tidak apa-apa.

"Thanks".

Pemuda tadi membawakan minuman dingin untuk Himchan serta alkohol untuk membersihkan lukanya.

"Sini biar ku obati".

Pemuda itu menuangkan alkohol ke sebuah kapas dan mengarahkannya pada bibir Himchan yang luka.

"Tidak usah, aku bisa sendiri".

Mengerti bahwa Himchan terlihat tidak nyaman dengan perlakuannya dia membiarkan Himchan mengobati lukanya sendiri.

"Apa kau dari korea?".

Pemuda itu membuka suara setelah hening beberapa menit karna fokus pada Himchan yang sedang mengobati lukanya. Himchan menatap pemuda itu dengan tatapan aneh, padahal mereka berdua tengah menggunakan bahas korea dan pemuda itu masih bertanya dia darimana.

"Iya. Kau juga?".

Himchan membuang semua pemikiran anehnya dan langsung tersenyum menjawab pertanyaan pemuda yang mempunyai paras tampan itu.

"Ah tidak. Aku dari london, tapi orang tua ku orang korea".

Himchan mengangguk paham.

"Oh iya, perkenalkan namaku Jason dan nama koreaku Jang Hanbyul. Kau bisa memanggilku Hanbyul atau Jason. Terserah mu saja".

Pemuda itu mengulurkan tangannya dan berbicara sangat ramah pada Himchan.

"Aku Kim himchan, kau bisa memanggilku Himchan".

Himchan menyambut baik uluran tangannya dan balik tersenyum pada Hanbyul.

"Ah Himchan? Nama yang unik"

"Kalau begitu aku memanggilmu hanbyul saja"

"Hmm terserah"

"Jadi kau itu orang korea atau blasteran korea?".

"Aku blasteran korea. Ibu ku yang orang korea dan ayahku orang ausie".

Himchan mengangguk dan tak lupa mulutnya yang kecil dan tipis itu membentuk huruf O saat Hanbyul selesai berbicara.

"Lalu apa yang kau lakukan disini?"

"Aku ikut pertukaran pelajar"

Hanbyul yang mendengar itu membelalakkan matanya tidak percaya.

"Waaah... Aku juga ikut pertukaran pelajar".

"Waah ini seperti takdir. Kkk..".

Himchan ikut membelalakkan matanya tidak percaya bahwa mereka sama-sama mahasiswa pertukaran pelajar.

"Lalu kau mahasiswa jurusan apa?"

"Photography".

Hanbyul Meloloskan cairan berwarna hitam kedalam tenggorokannya yang kering.

"Sepertinya kita memang di takdirkan untuk bertemu, kkk..".

Himchan terkekeh mendengar jawaban Hanbyul.

"Maksudmu, kau jurusan photography juga?"

"Hmm"

"Waw.. awesome. Daebak!!".

Hanbyul kembali membulatkan matanya dan mulutnya terlihat terbuka lebar tidak percaya.

Himchan terkekeh melihat tingkah Hanbyul yang seperti anak kecil itu.

"Shh".

Himchan memegangi sudut bibirnya yang mulai berubah warna menjadi biru.

"Apa masih sakit?". Hanbyul terlihat khawatir pada Himchan.

"Tidak terlalu".

Himchan menggeleng dan tersenyum pada Hanbyul yang wajahnya berubah menjadi khawatir menatap Himchan.

Hanbyul menuangkan alkohol lagi dan membersihkan luka Himchan.

"Aku minta maaf himchan"

"Kenapa kau yang minta maaf? Kau tidak melakukan apapun. Seharusnya pria sombong itu yang meminta maaf. Tapi dia pergi begitu saja, benar-benar tidak gentle"

Hanbyul langsung berdiri dan membungkuk dihadapan Himchan.

"Dia memang seperti itu. Jadi sekali lagi aku benar-benar minta maaf, maafkan aku Himchan"

Hanbyul terus membungkuk dihadapan Himchan.

"Hey sudah sudah".

Himchan menarik Hanbyul untuk duduk kembali.

Himchan penasaran mengapa Hanbyul sangat membela pemuda sombong tadi.

"Memangnya dia siapa mu?".

Tanya Himchan sambil meminum minuman dinginnya.

"Adikku"

Hampir saja Himchan mengelurkan semua air yang berada dimulutnya. Untung dia berhasil menelannya walaupun dengan susah payah.

"A-adikmu?"

"Hmm"

Himchan tidak percaya dengan apa yang dikatakan Hanbyul, tentu saja. Hanbyul memiliki sifat 360 derajat berbanding terbalik dengan pemuda yang diklaim sebagai adiknya itu. Yang satu sangat ramah dan sangat peduli pada orang lain dan satu lagi sangat kasar dan tidak sopan.

Baru saja Himchan ingin menanyakan beberapa hal terkait dengan adiknya, Hanbyul sudah terlebih dahulu mengangkat ponselnya karna ada yang menelpon.

"Ada apa? Apa? Baiklah baiklah.. aku akan kesana. Yak tidak bisakah kau berbicara sopan padaku?!"

"Tsk.. dasar anak ini".

Ntah pada siapa Hanbyul mengomel, karna dia sudah selesai menelpon dan menatapa layar ponselnya.

"Himchan, sepertinya aku harus pergi sekarang".

"Ah kau sudah mau pergi?"

"Iya. Bus jemputan kami sudah datang". Hanbyul memakai tas ranselnya dan bersiap untuk pergi.

"Ya sudah kalau begitu".

Himchan mengangguk dan tersenyum.

"Kau tidak pergi juga?"

"Sebentar lagi, aku menunggu temanku"

"Kau bersama temanmu?"

"Iya, tadi dia permisi ingin ke toilet. Tapi belum kembali juga".

Himchan melihat jam tangannya, menimang-nimang sudah berap lama Jongup permisi padanya untuk pergi ke toilet. 30 menit. Astaga.. Himchan lupa bahwa Jongup tidak bisa berbahasa Jepang dengan baik, himchan bangkit hendak menyusul Jongup.

"Maaf himchan tadi aku lupa arah ke sini dan harus bertanya dulu".

Himchan kaget melihat Jongup dengan nada terengah-rengah dan keringat yang bercucuran disekitar dahi serta lehernya. Himchan menatap curiga pada Jongup, apa yang sebenarnya dia lakukan di kamar mandi sampai sampai kondisinya bisa seperti itu.

"Ke-kenapa?"

Seperti tahu apa yang tengah dipikirkan Himchan, Jongup membela dirinya.

"Tadi sangat antri di kamar mandi dan aku hampir tidak bisa keluar sangking berdesak-desakan. Belum lagi aku tadi salah jalan dan harus bertanya pada orang-orang dengan bahasa jepangku yang pas-pasan ini".

Jongup menjelaskan panjang lebar tentang apa yang menimpanya untuk menghindari pikiran-pikiran aneh Himchan.

"Aku kira kau terkunci di kamar mandi"

"Kau ini ada-ada saj... Himchan kenapa dengan wajahmu?".

Belum selesai menyelesaikan kalimatnya, Jongup menangkap sesuatu yang aneh pada wajah tampan Himchan. Ada luka lebam di ujung bibirnya.

"Ah ini.. tadi aku.."

"Apa kau yang membuat wajah temanku seperti itu?".

Himchan membelalakkan matanya saat tangan Jongup menarik kerah baju Hanbyul yang berada di sebelahnya, dan jangan lupakan tatapan membunuh Jongup pada Hanbyul. Himchan yakin sekarang ini pastilah Hanbyul tengah ketakutan setengah mati.

"Ha?".

Hanbyul terlihat bingung saat Jongup menyudutkannya di depan meja tempat dimana mereka duduk. Hanbyul melihat kearah Himchan meminta pertolongan.

Himchan yang sadar akan tatapan memohon Hanbyul, langsung saja menarik tangan Jongup dan menjauhkannya dari Hanbyul.

"Hey hey bukan dia. Kau ini jaga sikap mu, malahan dia tadi yang membantuku"

"Ha?".

Jongup masih belum bisa memproses perkataan Himchan barusan.

"Minta maaf padanya".

Himchan mendorong Jongup untuk meminta maaf atas kelancangannya pada Hanbyul yang sekarang tengah merapikan bajunya akibat cengkraman Jongup tadi.

"Aaah ma-maaf. Maafkan aku".

Jongup membungkuk berkali-kali dihadapan Hanbyul.

"Ah tidak apa-apa. Jangan seperti ini"

"Oh iya perkenalkan dia temanku Moon Jongup. Maaf atas kelancangannya padamu, dia sudah seperti bodyguard ku jadi mohon di maklumi saja jika kelakuannya seperti itu. Kkk..".

Himchan terkekeh geli melihat Jongup dengan wajah yang merah padam menahan malu.

"Ah baiklah kalau begitu. Aku pergi dulu".

Hanbyul membungkuk seperti kebanyakan orang korea lainnya saat akan pergi.

"Anyeong..".

Himchan melambaikan tangan pada Hanbyul dan menatap pemuda itu keluar dari dalam kafe.

Himchan dan Jongup duduk bersebelahan didalam bus. Sedari tadi Himchan hanya diam dan terkesan tidak menganggap Jongup ada disana bersama dia. Himchan memainkan ponselnya dari awal bus itu bergerak.

"Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Dan siapa Hanbyul itu?".

Jongup membombardir Himchan dengan pertanyaan bertubi-tubi saat Himchan mendiaminya.

"Hanya ada kesalahpahan saja tadi. Sudahlah tidak usah di ungkit lagi".

Himchan tidak beralih dari layar ponselnya saat menjawab pertanyaan Jongup, dia tengah mengetik pesan untuk ibunya. Karna kejadian tadi membuat Himchan lupa memberitahu ibunya jika dia sudah sampai ke Jepang dengan selamat.

"Lalu Hanbyul itu?".

"Dia hanya kenalan"

Tanpa Himchan sadari Jongup terlihat mengeluarkan smirk-nya.

"Sepertinya akan ada yang punya pacar baru"

"Eh? Siapa?"

Himchan menatap Jongup dan tidak mengerti apa yang dikatakan Jongup padanya.

Bukannya memberi jawaban atas kebingungan Himchan, Jongup malah tersenyum dan menaik turunkan alisnya membuat Himchan tambah bingung.

Setelah beberapa menit Himchan berpikir keras menemukan jawaban, akhirnya terngiang ditelinganya apa yang dikatakan Jongup saat diKorea.

"Sialan kau Moon! Hentikan pemikiran gila mu itu. Aku ini normal!"

"Kkk... "

Jongup hanya bisa terkekeh geli berhasil mengerjai Himchan.

*

"Waaah.. bagus sekali rumahnya".

Mata Jongup tidak henti-hentinya menatap kedepan sana dimana terdapat sebuah rumah berukuran cukup besar yang akan menjadi camp mereka selama tinggal di Jepang. Terdapat pohon sakura di tengah-tengah halaman rumahnya dan beberapa pohon sakura lagi di samping rumah itu. Terlihat sangat indah karna saat itu bunga sakura tengah bermekaran.

"Kau harus menjaga sikapmu. Karna ada beberapa mahasiswa dari luar juga yang akan tinggal bersama kita"

Himchan memperingatkan Jongup yang suka sekali lost control jika sedang tidak bersama dengannya.

"Pasti akan banyak wanita bule yang tinggal bersama kita".

Himchan hanya memutar bola matanya malas mendengar perkataan Jongup.

"Himchan, Jongup". Salah satu dosen laki-laki setengah baya memanggil mereka.

"Kamar kalian di lantai dua nomor 11". Dosen itu memberikan kunci kamar ke Himchan.

"Nyamannyaaa"

Jongup membaringkan tubuhnya dikasur dan berguling-guling.

"Aku bagian atas ya?".

Jongup naik kekasur bagian atas dan berguling-guling disana. Itu kasur dengan 2 tingkat, dan ada 2 kasur tingkat seperti itu didalam ruangan. Jadi total semuanya ada 4 kasur.

"Terserah kau saja. Asalkan jangan pernah kau matikan lampu kamarnya".

Himchan meletakkan koper merah mudanya di bawah kasur.

"Kau mau kemana?"

"Mandi"

"Kalu begitu aku akan melihat sekeliling".

Jongup turun dari kasur atas dan bergegas mengganti bajunya.

"Kita disini bukan untuk liburan Moon, besok kita banyak kegiatan. Sebaiknya kau istirahat".

"Huft.. Baiklah".

Dengan kecewa Jongup kembali berbaring dikasur dan mengurungkan niatnya untuk pergi keluyuran.

Baru saja Himchan menutup pintu kamar mandi, Jongup yang tengah berbaring bergegas pergi dengan berhati-hati agar tidak menimbulkan suara dan ketahuan oleh Himchan karna itu hanya akan membuat Himchan tambah mengomelinya lagi.

TBC

Next chap

/jaga sikapmu atau aku tidak akan membantumu/

/Yak Moon kenapa kau matikan lampunya?/

/shh.. kau?!/

/jangan berbicara padaku seolah kita sudah saling kenal !/

/aku sangat menyukai bunga sakura/

/apa dia baru saja menangis?/