Kimtae ternyata tertarik dengan pertandingan kemarin. Dia kembali kesana, tujuannya ya untuk bersenang atau mencari mangsa. Kimtae menyebutkan dirinya Predator. Tidak seperti Seokjin kakaknya, yang lebih menyukai jus buah daripada darah.
.
"BAIKLAH! SEMUA. SIAPKAN UANG KALIAN, SIAPKAN TARUHAN KALIAN!" Pembawa acara yang bekerja seperti biasanya, membawa suasana menjadi ganas karena para penonton akan mempertaruhkan hartanya untuk pemenang. Pembawa acara itu tidak seperti biasanya, kali ini dia membawa selembar kertas dari nama-nama narapidana yang akan dijadikan korban. Dia takut kejadian semalam akan terulang. Dia berharap manusia menjijikan itu tidak ada, benar dia sudah memeriksanya dengan teliti.
"SEBELAH KANAN SAYA, ADA PENYIHIR KELINCI DAN SEBELAH KIRI SAYA ADA .. kenapa ini tidak jelas. Sial. KITA PANGGIILAKAN SAJA MEREKA BERDUA. KELUARLAH!" Pembawa acara itu sepertinya tidak melihat jelas nama seorang narapidana disana. Tapi dia tidak takut asalkan bukan orang semalam.
Seorang pemuda dengan tubuh penuh luka karena cambuk keluar dari sebelah kanan pembawa acara itu. Dia terlihat sedih tapi tidak terlihat dari wajahnya yang penuh darah. Hanya dirinya sendiri yang mengerti dirinya saat ini. Tangan yang diborgol itu terlepas setelah satu tiupan kecil dari mulutnya. Semua orang terpana melihatnya. Beberapa dari orang-orang kejam itu memasang taruhannya kepada pria muda yang disebut Penyihir kelinci tersebut.
"LIHATLAH! LIHATLAH! DIA BEGITU KUAT BUKAN?! HANYA TIUPAN SAJA BISA MELEPASKAN BORGOL ITU. BERSIAPLAH UNTUK PETANTANG KEDUA. KELUARLAH!" teriaknya heboh disertai sorakan penonton.
Seorang pria muda juga, dengan bertutupan jubah merah. Ditangannya membawa sebilah pisau kecil. Lalu dia berjalan kedepan, dia juga melempar pisau itu tidak jaug dari tempatnya berdiri.
"SEBUTKAN NAMAMU NARAPIDANA, NAMAMU TIDAK JELAS DISINI" Tanya pembawa acara itu
Dia mencampak jubahnya keatas lalu jubah itu terbakar. Semua orang juga ikut terpana, diserati ketakutan.
"aku Kimtae. Senang berjumpa dengan kalian sekali lagi. HAHAHA!" Smirk Smile dari bibirnya terlukis disana. Dia seperti melihat santapan lezat hari ini.
"KAU! PERGILAH. KAMI TIDAK INGIN KAU ADA DISINI, PEMUDA GILA!" ejek si pembawa acara itu. Para penonton itu kembali melemparnya dengan batu, hanya batu.
"KALIAN.. TIDAK BISA MEMBUNUHKU. KARENA KALIAN ADALAH MAKANANKU! HAHAHA" Dengan kecepatan kilat, Kimtae berlari keatas para penonton sebelah kiri dan memenggalnya dengan pisau kecil yang dia bawa tadi. Dia kembali setelah penonton disebelah sana mati tanpa kepala.
Pembawa acara itu kaget dan lari terbirit-birit diikuti penonton yang lain.
"HEI ! KALIAN TIDAK INGIN MELIHATKU BERTANDING HAH?! HEII!" Kimtae berteriak sedikit menyesal. Karena pertunjukkannya telah selesai dengan cepat.
Dia lupa bahwa ada seseorang disana berdiri berhadapan dengannya. Mungkin tebakkan kalian benar, dia adalah narapidana yang disebutkan pertama kali, Si Penyihir kelinci. Tidak ada yang tau kenapa ada kelinci dibelakang namanya.
"he-hei, kau tidak pergi? Tidak takut?" Tanya Kimtae.
"tidak. Aku disini untuk bertanding, aku pikir kau adalah lawanku" jawabnya
"hei pria muda. Lihatlah tubuhmu itu, penuh luka, kau tidak mau menyerah? Aku akan mengampunimu kali ini, pergilah. Ck" saran Kimtae sambil mengumpulkan kepala-kepala korbannya.
"tidak. Lawan aku. Jika kau kalah, aku akan memenggal kepalamu seperti mereka." Kata pemuda itu sambil tetap menutup mata. Sejak pertama kali dia disana, dia memang menutup matanya. Sepertinya dia tau apa yang akan terjadi disana. Pemandangan mengerikan dan menyedihkan baginya.
"baiklah, jika itu maumu-" Kimtae dengan kekuatan supernya melaju kearah penyihir itu. Dimulai dari setiap pukulan, tapi dapat ditangkis dengan baik.
Ini adalah pertarungan tanpa penonton. Hanya mereka berdua beradu kekuatan. Penyihir itu hanya menangkis serangan Kimtae sedari tadi. Dia belum mebalas satupun kepda pria arogan itu.
"kenapa kau tidak membalasku ha?" Tanya Kimtae. Dia terus menyerang tanpa serangan balik. Hingga saatnya tiba, Kimtae kelelahan. Dia terduduk diatas sana, tempat para penonton. Melihat dari kejauhan penyihir yang sedari tadi tidak membalasnya, bahkan menangkis serangnnya dengan mata tertutup.
"kau hebat juga." Puji Kimtae dengan menengguk segelas darah yang dia bawa disakunya.
"apa aku menang sekarang? Kau terlhat kelelahan." Kata penyihir itu.
"jadi, apa kau mau memenggal kepalaku?" balasnya si pemuda peminum darah tersebut.
"Tidak. Aku hanya ingin pulang kerumah."
"kau punya rumah? Aku yakin kau bukan orang biasa, sama sepertiku." Pembicaraan mereka mulai tenang.
"jangan samakan aku denganmu. Aku bukan pembunuh bodoh sepertimu. Aku hanya ingin kedamaian." Kata si penyihir itu sambil meniupkan angin keseluruh tubuhnya yang memar dan bekas luka. Tiupan itu membuat tubuhnya kembali semula, tanpa bekas luka.
"ugh! Hebat! Bagaimana bisa?!" Kimtae sontak membelalakan matanya melihat keajaiban disana.
"ini masih lemah. Seandainya aku bisa menghidupkan orang mati. Aku pasti akan lebih kuat dari ini" kata sang penyihir.
Perbincangan mereka berakhir disana, ketika Kimtae tiba-tiba saja ditarik seseorang dari atas. Seseorang membawanya pergi, mungkin itu salah satu kakaknya.
"HEI! SEBUTKAN NAMAMU! NAMAKU KIMTAE!" teriaknya dari atas langit.
Secarik kertas melayang kearahnya, tertera nama disana.
"JUNGKOOK?! MARI KITA BERTEMU KEMBALI!" sambil melambaikan tangan.
.
.
.
Seorang pria dengan sayap besar berwarna hitam duduk disinggasananya. Berwajah kesal sambil menatap adiknya yang terlalu sering berbuat kekacauan dialam luar. Dia sangat kesal, karena orang-orang akan semakin mengetahui keberadaan mereka.
"Tae-ya! Bisakah kau nurut ?! aku lelah, aku bersumpah!" kata pria itu
"Namjoon hyung, aku bosan disini terus." Belanya Kimtae
"tidak ada alas an, kumohon. Alasannya selalu itu saja, aku sudah membelikanmu mainan-mainan yang mewah, bahkan game yang sangat trendy saat ini." Kata pria yang bernama Namjoon itu.
"tapi, hyung.."
"TIDAK! TIDAK TIDAK TIDAK! TIDAK ADA TAPI-TAPIAN. AKU LELAH, MASUK SANA!" suruhnya kepada si adik yang nakal.
Kimtae kembali masuk kekamarnya, terlihat banyak penjaga disana.
Seokjin kakak Pertama menghampiri Namjoon dengan membawakan Wine Anggur kesukaannya.
"kasihan adikku, selalu sendiri dan selalu dimarahi. Hahaha" candanya dengan Namjoon.
"sudahlah hyung. Dia memang harus diperlakukan seperti itu. Aku tidak mau, perjanjian pertunangannya dengan kerajaan sebelah ditolak karena masalah."
Seokjin yang menjadi kakak pertama diantara mereka dan juga memiliki kasih saying lebih kepada adiknya yang kedua, Namjoon. Menenangkan mereka berdua. Karena Cuma dia sendirilah yang kalem.
Didalam sana, Kimtae. Dia sibuk menggali lubang untuk kabur. Dia benar-benar tidak suka diperintah seperti itu. Dia ingin bersenang-senang lagi.
"aku harus membunuh orang-orang lagi" batinnya.
-Chap.2-end-
