Himchan tertidur sudah sekitar 7 jam yang lalu, perjalanan yang jauh membuat badan serta otot-ototnya kaku dan pegal. Bahkan setelah mandipum Himchan masih bisa merasakan jet lag, kepalanya sedikit pusing dan perutnya mual - membuat Himchan langsung tertidur setelah mandi, tidak memperdulikan handuk yang menutupi wajahnya.
Matanya mulai mengerjap-ngerjap memaksa agar terbuka, tidur yang lama membuat matanya terasa sangat berat. Himchan melewati waktu makan siangnya dan sekarang sudah hampir jam 10 malam. Rasa lapar mengusik tidur nyamannya dan terpaksa Himchan harus membuka paksa mata mungilnya yang tidak bisa diajak kompromi oleh cacing-cacing didalam perutnya.
Himchan mencoba bangkit dari kasurnya tapi dia merasakan sesuatu yang aneh. Gelap. Dia mencoba mengusap-usap matanya beberapa kali dan nihil. Masih gelap. Seperti terkena sambaran listrik, Nafas Himchan tercekat dan kuku-kuku jarinya meremas sprei dengan sangat kuat. Keringat mulai bercucuran disekitar kening Himchan . Himchan panik.nyctophobia-ketakutan terhadap gelap, bukan tanpa alasan Himchan memiliki phobia semacam itu. Himchan mengalami Trauma. Ini sudah Himchan alamai sejak dia berumur 10 tahun. Tangannya semakin bergetar dan dadanya semakin sesak.
"J-jongup". Himchan memanggil Jongup yang tidur di kasur atas. Suara Himchan bukan terdengar seperti memanggil seseorang, tapi seperti berbisik. Himchan benar-benar sudah tidak berdaya walau untuk mengeluarkan suara.
Tidak ada sautan atau pergerakan dari Jongup diatas sana dan tidak ada tanda-tanda kehidupan di kamar mereka.
"Jongup! Yak.. kenapa kau matikan lampunya! Jongup". Himchan mencoba berteriak walau suaranya masih terdengar pelan.
"Jongup! Aku mohon jangan bercanda ini tidak lucu. Cepat hidupkan lampunya! Aku takut". Himchan teriak lebih keras dari sebelumnya dan sedikit mengetuk-ngetuk kasur Jongup dari balik kayu yang menjadi pembatas antara kasur atas dan bawah.
...
...
...
Hening
Himchan baru teringat beberapa waktu yang lalu Jongup berencana untuk keluar melihat keadaan camp mereka. Dan Sudah dipastikan Jongup tidak ada dikamar. Hanya ada dia sendiri. Jadi siapa yang mematikan lampu? Apa diam-diam Jongup datang dan mencoba menjahilinya? Apa Jongup sejahat itu sampai mengerjainya?
Himchan yang semakin takut terus meremas handuknya.
"Ibu". Himchan bergumam sambil duduk disudut kasurnya dan meringkuk disana.
"Euuumm euuuungh". Badan Himchan langsung bergetar ketakutan mendengar suara yang tidak tau berasal darimana. Himchan menoleh kekanan dan kekiri berharap menemukan sumber suara tadi.
"S-siapa disana?". Himchan berteriak sembarangan tidak tahu kepada siapa dia bertanya, nyatanya tidak ada yang menyahut.
Himchan melemparkan bantal kesembarang arah, tidak berapa lama dia mendengar suara decitan ranjang yang kosong di sebelah ranjangnya.
"Euungh". Himchan semakin takut dibuatnya. Jika boleh memilih, Himchan lebih baik pingsan saja jadi tidak perlu dibuat tersiksa seperti ini.
Himchan bingung harus berbuat apa, dia ketakutan dan tidak mungkin juga dia hanya berdiam diri tidak berbuat apapun. Himchan mencoba mendekati asal suara yang berasal dari ranjang disebelahnya. Berdiri saja Himchan sudah tidak mampu lagi, tangan kirinya berpegangan pada nakas disamping ranjang dan tangan kanannya meraba-meraba mencari jalan kearah ranjang kosong. Mulutnya tak berhenti memanggil nama ibunya.
Himchan duduk ditepian kasur yang kosong itu dan merasakan ada sesuatu disana. Himchan meraba-raba kasur tersebut dan sontak saja Himchan dibuat sangat ketakutan karna sebuah tangan menangkap pergelangan tangan Himchan dan menidurkannya dengan sekali gerakan.
"Jangan bunuh aku!". Himchan berteriak sambil memejamkan matanya, berharap seseorang yang berada diatasnya kini melepaskannya.
Klek..
Himchan bersyukur karna bisa melihat cahaya kembali. Sepertinya tuhan mengabulkan doanya dengan menghidupkan lampu kamarnya. Himchan melihat ke arah pintu dimana Jongup berdiri tegak di ambang pintu, ternyata pelaku yang baru saja menekan saklar lampu adalah Jongup.
"Ma-maaf aku mengganggu"
Jongup terlihat menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan berbalik meninggalkan Himchan.
Himchan menatap kepergian Jongup begitu saja, dia masih belum bisa memproses semua yang terjadi. Jongup yang menghidupkan lampu dan pergi begitu saja lalu siapa orang yang tengah berada diatasnya? Himchan beralih melihat seseorang yang sekarang tengah mengungkungnya sambil memegangi kedua pergelangan tangannya dikedua sisi kepala Himchan.
Mereka saling menatap lama. Tunggu. Himchan mengenal pemuda ini. Tapi dimana. Pemuda yang berada diatas Himchan pun memperlihatkan wajah kebingungan sama seperti Himchan.
"Kau"
"Kau"
Pemuda yang berada diatas Himchan segera bangkit dan menunjuk tepat di hadapan wajah Himchan dengan raut wajah yang sedikit tidak bersahabat.
Bang Yongguk
Itulah yang terlintas dipikiran Himchan saat menyadari bahwa orang yang berada satu kamar bahkan satu ranjang dengannya adalah orang yang sama dengan orang yang memukulnya dibandara.
"Haiiish.. kau lagi. Apa kau tidak puas menghinaku sampai-sampai harus membuntutiku sejauh ini?". Yongguk membuang mukanya hanya untuk berdecih tidak suka harus bertemu lagi dengan Himchan.
"Ha?". Himchan yang mendengarnya benar-benar kehilangan kata-kata. Himchan tertawa mengejek sambil melihat kearah Yongguk.
"PD sekali kau. Seharusnya sekarang kau berada di balik jeruji besi karna perbuatan mu. Kau memukul orang dan pergi begitu saja".
Bukannya memperlihatkan tampang menyesalnya, Yongguk malah tersenyum sombong.
"Lalu kau mau apa? Melaporkanku? Cih.. kekanakan sekali"
"Bukankah kau yang lebih kekanakan? Memaki bahkan memukul orang padahal itu salahmu sendiri. Kau seharusnya sadar dan minta maaf atas kelakuanmu".
"Tsk.. berhenti mengoceh dan minggir dari ranjangku. Aku lelah"
Yongguk seakan menulikan pendengarannya dan memutar bola matanya malas. Sikutnya mendorong lengan kiri Himchan agar pergi dari ranjangnya.
Yongguk benar-benar tidak habis pikir dia akan bertemu dengan Himchan lagi. Saat dia memasuki kamar dan melihat pemuda tertidur dengan handuk yang menutupi wajahnya, dia sama sekali tidak curiga kalau dia adalah Himchan.
"Apa kau tidak ada niat sedikitpun untuk meminta maaf?". Himchan tetap mempertahankan posisinya duduk di kasur Yongguk.
"Minggir atau aku akan menghajarmu lagi!". Yongguk mendorong Himchan agar pergi dari ranjangnya dan berhasil. Himchan berdiri di samping ranjang Yongguk sambil menggelengkan kepalanya tidak percaya bahwa masih ada orang sesombong Yongguk yang hidup didunia ini.
Himchan menyerah dan membalikkan badannya, meninggalkan Yongguk dan kembali kekasurnya hanya untuk mengambil dompetnya. Dia berencana makan diluar karna sepertinya dia tidak akan pernah menang jika berurusan dengan seseorang yang bernama Yongguk itu.
Baru saja Himchan memasukkan dompet kesaku celanannya, Yongguk bangkit dan duduk ditepian ranjang sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Kau terus saja merengek memanggil ibumu seperti bayi, kau tau daritadi suara mu mengganggu tidurku. Apa kau kehausan dan ingin menyusu pada ibumu?"
Yongguk benar-benar sudah melewati batas kali ini. Dia berbicara seolah itu hanyalah basa-basi saja.
"Sialan kau!". Himchan menarik kerah baju yang Yongguk kenakan, mencengkramnya hingga terdengar bunyi robekan. Belum lagi tatapan membunuh Himchan serta suara deru nafasnya, dia benar-benar emosi kali ini dan seorang Bang Yongguk harus membayarnya.
Bukan Bang Yongguk namanya jika dia takut dengan sebuah gertakan, sebaliknya Yongguk menaikkan sebelah alisnya - seolah menantang Himchan.
"Memang benarkan? Kau tidak lebih dari seorang anak mami yang selalu bersembunyi diketiak ibumu".
Bugh...
Satu pukulan Yongguk terima tepat diatas pipi kirinya, bahkan Yongguk sampai tesungkur kelantai mendapat serangan dari Himchan.
Jika sudah menyangkut ibunya, Himchan benar-benar tidak akan tinggal diam. Sesuatu yang akan membuat dia sangat marah sampai tidak bisa meredam emosinya adalah mendengar seseorang yang mengolok bahkan menjadikan ibunya sebagai bahan lelucon.
"Haissh.. beraninya kau". Yongguk bangkit dan balik menyerang Himchan.
"Bang Yongguk". Seseorang yang Himchan kenal masuk melerai perkelahian mereka. Hanbyul. Mendorong tubuh Yongguk kasar yang sebelumnya ingin menyerang Himchan tapi untung dia belum sempat menyakiti Himchan.
"Sudah kubilang jangan buat masalah. Sialan!". Hanbyul mendorong tubuh Yongguk kedinding dengan kasar dan menyudutkannya.
"Apa? Kau mau membelanya lagi?". Yongguk berteriak menantang Hanbyul.
"Keluar!". Hanbyul menatap lekat pada Yongguk dan menunjuk kearah pintu agar Yongguk keluar dari kamar.
"Haisshh". Yongguk mengacak rambutnya kasar, melangkah pergi dengan emosi. Dan..
Blam...
Pintu ditutup dengan keras.
Hanbyul memijat keningnya dan memejamkan matanya hanya untuk sekedar menengkan diri dari apa yang barusan terjadi. Hanbyul tersadar ada Himchan dikamar itu dan berbalik mendekati Himchan.
"Himchan kau tak apa?". Hanbyul menepuk bahu Himchan yang masih mengatur nafas meredakan emosinya.
Himchan menggeleng dan tersenyum kecil.
"Dasar anak itu. Awas saja!". Hanbyul kembali menatap pintu yang ditutup kasar oleh Yongguk, dia menatap tajam kearah pintu seolah pintu tersebut adalah Yongguk.
"Hei.. Aku tidak apa-apa". Himchan menepuk bahu Hanbyul dan tersenyum.
Hanbyul menatap Himchan yang tersenyum padanya, dia tahu bahwa Himchan sebenarnya tidak baik-baik saja.
"Oh iya, Kenapa kau ada disini Himchan?". Hanbyul mencairkan suasana yang sedikit tegang tadi, tidak enak juga jika harus membahas soal Yongguk terus.
"Ini kamar ku".
"Ooooh jadi kita satu kamar?". Hanbyul tersenyum girang berada satu kamar dengan Himchan.
"Sialan". Himchan terlihat merutuk sendiri sehabis mendengar penuturan dari Hanbyul.
Hanbyul yang mendengar rutukan Himchan seketika memasang wajah kaget dan salah tingkah.
"Eh? Kau tidak suka ya? Kalau begitu aku bisa pindah kamar saja"
"Bu.. bukan begitu. Aku senang kita satu kamar. Hanya saja kenapa aku sial sekali bisa satu kamar dengan orang itu lagi". Hanbyul paham yang Himchan sebut dengan orang ituadalah adiknya. Tapi dia malah tersenyum melihat bagaimana seorang Kim Himchan terlihat imut dengan tampang kesalnya.
Hanbyul terburu sadar dari lamunannya bagaimana imutnya Himchan - dan segera menggelengkan kepalanya.
"Sudahlah. Anggap saja dia tidak ada". Hanbyul mengibaskan tangannya mengisyaratkan untuk tidak mengambil pusing tentang adiknya.
Himchan hanya tertawa sambil mengelap keringatnya yang bercucuran menggunakan lengan bajunya.
"Keringat kau banyak sekali Himchan. Anak itu benar-benar sudah keterlaluan padamu. Aku benar-benar kewalahan bagaimana menangani anak nakal itu". Hanbyul menghebuskan nafas beratnya.
"Kkkk... aku berkeringat bukan karna si bodoh itu. Hehee.. maaf". Himchan langsung menutup mulutnya karna tidak sengaja terlontar kata-kata bodoh dari mulutnya. Meskipun dia membeci si Yongguk itu, tapi dia tetaplah adiknya Hanbyul.
"Kenapa meminta maaf? Dia kan memang bodoh Himchan. Kau bisa memakinya sesukamu, karna semua kata-kata makian memang pantas disematkan untuknya".
Himchan hanya menggelengkan kepalanya melihat Hanbyul seperti orang stress, bukannya merasa kasian - malah terlihat lucu seperti ibu-ibu yang kewalahan mengurus anak nakalnya.
"Lalu kau kenapa berkeringat seperti itu?".
"Aku punya phobia terhadap gelap, Nyctophobia. Tadi sewaktu bangun tidur kamar sangat gelap, phobia ku langsung kambuh. Aku langsung berkeringat dan sesak nafas". Himchan kembali mengingat kejadian tadi, mungkin bagi sebagian orang itu biasa saja dan akan mengatakan Himchan sangat berlebihan tapi bagi Himchan kejadian tadi seperti neraka.
"Oooh". Hanbyul hanya mengangguk paham.
"Sepertinya Yongguk yang mematikan lampunya tadi. Dia tidak bisa tidur dengan lampu menyala. Ya sudah nanti aku beritahu dia jangan mematikan lampu atau aku suruh saja dia pindah kamar".
"Eh tidak usah. Aku masih bisa mengatasinya. Nanti jika aku sudah tidur sangat lelap, keadaan gelap pun aku tidak akan menyadarinya".
"Aku jadi tak enak padamu". Seketika wajah Hanbyul berubah murung.
"Kenapa?". Himchan terlihat bingung atas perubahan mimik wajah Hanbyul.
"Sudah dua kali anak itu berbuat seenaknya padamu. Kau tau aku sudah sebisa mungkin mengingatkannya untuk menahan tempramennya, tapi dia sudah kebal dengan ocehan bahkan ancamanku". Hanbyul kembali membuang nafasnya kasar.
"Sudah sudah, aku tidak apa-apa. Jika aku tidak tersulut emosi kejadian seperti tadi tidak akan terjadi. Itu tidak sepenuhnya kesalahan Yongguk, aku juga salah". Himchan mengusap punggung Hanbyul mencoba menenangkan.
"Haish.. seandainya yang jadi adikku itu kau. Pasti hidupku akan penuh kedamaian". Hanbyul mengacak surai hitam milik Himchan karna gemas.
Kruuuuk...
Himchan mati-matian menahan malu dan tak berani menatap Hanbyul yang menatapnya heran. Salahkan suara cacing-cacingnya didalam perut yang memberontak ingin makan.
"Hehe.. Aku belum makan daritadi". Himchan menggaruk tengkuknya sambil menahan malu.
Hanbyul hanya tersenyum maklum dan kembali mengacak surai hitam Himchan kembali.
"Bagaimana kalau kita makan diluar? Aku traktir".
000
Hanbyul dan Himchan pergi kekedai tidak jauh dari camp mereka. Hanya berjalan sebentar melewati gang diujung jalan, untung mereka menemukan kedai yang masih buka padahal ini sudah hampir tengah malam.
Himchan dengan lahap memakan udon, dia sangat kelaparan sampai-sampai sudah memesan 3 mangkuk miso soup dan masih menambah sepiring takoyaki.
"Kau datang juga". Himchan menoleh ke arah Hanbyul yang duduk didepannya dan ada seseorang yang datang - Yongguk baru saja datang dan berdiri disamping Hanbyul sambil memandang kearah Himchan. Himchan menghiraukannya dan lanjut memakan takoyakinya.
"Haish..". Yongguk kembali membalikkan badannya ingin pergi. Tampak wajahnya tidak suka melihat Himchan, seharusnya dia tidak percaya begitu saja saat Hanbyul menelpon memintanya untuk datang kesana untuk makan - nyatanya ada Himchan bersamanya.
"Mau kemana?". Hanbyul menahan tangan Yongguk yang akan pergi.
"Aku sudah tidak lapar". Yongguk melirik kearah Hanbyul yang sedang menatapnya dengan tampang lelahnya, sepertinya dia sudah tidak sanggup lagi menghadapi adiknya itu.
"Jangan banyak alasan. Sekarang duduk dan makan makananmu. Sehabis itu aku ingin berbicara". Yongguk menepuk-nepuk bangku disampingnya menyuruh Yongguk disana.
Yongguk dengan terpaksa menuruti perkataan Hanbyul dan mendaratkan bokongnya di bangku sebelah Hanbyul. Menyantap makanan yang sudah dipesan Hanbyul dengan lahap.
"Tsk.. lihat siapa yang baru saja mengatakan tidak lapar tapi sekarang makan dengan lahap seperti orang kerasukan".
Hanbyul bergumam dan hanya menggelengkan kepala melihat adiknya itu, Yongguk memang sangat susah diatur tapi itu tidak membuat rasa sayang Hanbyul terhadap Yongguk hilang. Yongguk hanya kurang kasih sayang dan perhatian dari orang tua mereka, lebih tepatnya ibu mereka - karena Hanbyul dan Yongguk itu berbeda ayah.
"Uhuk.. uhuk..". Hanbyul tersadar saat mendengar batuk Himchan, sepertinya Himchan tersedak.
"Kau kenapa himchan?". Hanbyul memukul pelan tengkuk Himchan dan memberikan segelas air putih pada Himchan yang masih saja batuk.
"Ini minum dulu". Himchan langsung menyambar air putih yang Hanbyul berikan dan meminum habis semuanya sambil sesekali masih batuk.
"Terima kasih". Himchan membersihkan sisa-sisa air dimulutnya menggunakan punggung tangannya.
"Ada apa?". Hanbyul bertanya penasaran karna Himchan seperti orang kaget sampai bisa tersedak seperti itu.
"Ah tidak. Aku hanya tersedak". Himchan hanya menggeleng lalu tersenyum meyakinkan Hanbyul bahwa dia baik-baik saja.
Yongguk hanya berdecih sebal melihat keakraban mereka berdua.
"Kau makan seperti babi kelaparan. Pantas saja tersedak begitu"
Meskipun Yongguk tidak melihat kearah Himchan saat berbicara seperti itu dan fokus pada acara makannya tapi Hanbyul juga Himchan sudah tau kalimat tersebut ditujukan pada siapa.
Dengan geram - Hanbyul memukul kepala Yongguk yang sedang menikmati udon.
"Shhhh.. sakit bodoh".
Hanbyul memelototi Yongguk dan mulutnya bergumam pelan memperingatkan Yongguk akan kata-katanya barusan.
"Hanbyul aku duluan ya? Jongup mengirim pesan, dia mencari ku". Himchan bangkit dari tempat duduknya merapikan semua bekas sisa makanan dia.
Hanbyul mengangguk paham dan ikut bangkit dari bangku dia.
"Oh ya sudah, hati-hati dijalan. Masih ingat kan jalan pulang?".
"Tentu saja, aku tidak pelupa. Oh ya terimakasih untuk traktirannya". Himchan menepuk pundak Hanbyul mengucapkan terimakasih lalu pergi setelahnya. Hanbyul memperhatikan Himchan yang berlalu pergi dari tempat duduknya.
"Kenapa kau dekat sekali dengannya?". Perkataan Yongguk mengalihkan perhatian Hanbyul dari memandang kepergian Himchan dan beralih menatap Yongguk.
Hanbyul hanya memutar bola matanya malas.
"Seharusnya aku yang bertanya padamu. Kenapa kau selalu mengganggu Himchan?"
"Oh jadi namanya Himchan". Yongguk hanya menggangguk tidak tertarik menanggapi jawaban Hanbyul.
"Jawab pertanyaanku".
"Memangnya kau bertanya apa?". Yongguk tuli atau memang sengaja menulikan kupingnya sendiri berpura-pura tidak memperdulikan Hanbyul.
"Huft.. aku langsung ke intinya saja". Hanbyul dibuat kehilangan kesabaran jika sudah berdebat dengan Yongguk.
"Minta maaf pada Himchan". Hanbyul berbicara sambil meminum minuman kalengnya.
"Uhuk.. uhuk...". Hampir saja Yongguk menyemburkan semua air putih didalam mulutnya saat mendengar perkataan Hanbyul.
Yongguk memukul-mukul dadanya - meredakan batuk akibat tersedak.
"Tidak akan!". Yongguk langsung menggeleng cepat.
"Kenapa aku yang harus meminta maaf sudah jelas-jelas dia yang salah". Yongguk menatap Hanbyul melontarkan pembelaannya.
"Aku tidak mengerti mengapa kau sangat susah diatur. Hanya meminta maaf saja Yongguk. Meminta maaf. Itu tidak akan membuat tato-tato disekujur tubuhmu itu luntur". Hanbyul menekan-nekan tato yang berada dilengan kanan Yongguk.
"Yak kenapa malah membahas tato ku? Tatoku tidak ada hubungannya dengan semua ini". Yongguk menarik lengannya menjauhkan dari Hanbyul yang terus menekan-nekan tato bergambar dewa zeus dilengan kanannya itu.
"Tidak ada pembelaan apapun. Yang jelas aku mau kau minta maaf". Hanbyul melipat kedua tangannya didada sambil menghadap kearah Yongguk.
"No. Itu tidak akan pernah terjadi". Seperti mengejek - Yongguk memperagakan gerakan Hanbyul dengan melipat kedua tangannya didada dan balik menatap Hanbyul.
"Kalau begitu aku tidak akan membatumu. Urus dirimu sendiri dan kekacauan yang kau buat". Hanbyul beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Yongguk.
"H-hei.. kau mau kemana?".
"Menelpon mom". Hanbyul mengangkat ponselnya sambil menggerak-gerakkannya diudara memperlihatkannya pada Yongguk yang masih duduk disana menatapnya, tentu saja mendengar kata-kata mom keluar dari mulut Hanbyul membuat Yongguk bangkit mengejar Hanbyul.
"Nooooo. Aish shit damn asshole kau Byul". Yongguk langsung berlari kearah Hanbyul dan mencoba meraih ponselnya dan mendapatkannya - lalu dengan cepat dia memasukkan ponsel tersebut kedalam saku celananya.
"Tsk.. kau pikir aku bodoh? Aku masih bisa menelpon dengan ponsel teman ku, aku hafal nomor telpon mom". Hanbyul membalikkan badan hendak meninggalkan Yongguk yang beberapa waktu lalu merayakan kemenangannya.
"Huuuuft.. baiklah baiklah... aku turuti permintaanmu". Yongguk membuang nafasnya kasar.
"Aku akan meminta maaf pada si Babi rakus itu". Yongguk berdecih sebal sambil membuang mukanya - merasa muak.
Hanbyul yang sudah senang mendengar penuturan Yongguk kembali memasak wajah malas dan berbalik hendak meninggalkannya.
Yongguk menyusul langkah Hanbyul dengan cepat dan langsung berdiri merentangkan tangannya menghalangai jalan Hanbyul.
"Himchan. Pada Himchan". Yongguk menekan nama Himchan sambil memasang senyuman yang dibuat-buat.
000
Himchan ternyata tidak kembali ke camp, dia hanya duduk dikursi taman yang berada di samping camp mereka.
Himchan membuka ponselnya kembali, membaca pesan dari ibunya yang tadi sempat membuatnya tersedak saat makan bersama Hanbyul.
'Minjae datang kerumah kita. Dia menanyakan mu'
Sebenarnya apa yang diinginkan Minjae sampi-sampai harus datang kerumahnya? Untuk apa dia mencarinya disaat hari pernikahnnya hanya hitungan hari lagi?
Himchan kembali mematikan ponselnya dan lebih memilih menikmati setiap hembusan angin menerpa rambut dan wajahnya. Bunga sakura yang berguguran diterpa angin seakan merasakan apa yang Himchan rasakan sekarang.
Himchan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Memijat dahinya karna merasakan denyutan hebat dikepalanya.
"Hei". Sebuah suara menyadarkan Himchan dan beralih menatap seseorang yang tengah mendekatinya.
"Sedang apa kau disini?". Dia adalah Hong Jonghyun, mahasiswa jurusan musik di universitas yang sama dengan Himchan. Himchan dan Jonghyun sudah saling kenal meskipun mereka tidak dekat.
"Ha? Eum.. a-aku... aku sedang.. sedang menikmati udara disini". Himchan bingung harus mencari alasan yang tepat, dia hanya tersenyum canggung.
"Udara malam tidak baik untuk kesehatan. Lagipula apa kau tidak lelah karna perjalanan tadi?"
"Aku sudah tidur cukup lama tadi jadi lelah ku sudah hilang"
"Eum.. ya sudah aku ikut bergabung denganmu saja disini. Di kamar terus aku bosan. Boleh kan?". Jonghyun mendaratkan bokongnya di kursi bersebelahan dengan Himchan.
"Tsk.. kau ini seperti dengan siapa saja. Ya sudah temani aku saja, aku pun bosan sendirian". Himchan menepuk bahu Jonghyun.
Jonghyun mengelurkan bungkus rokoknya dari dalam saku jaket yang dia kenakan. Menyalakan dan menghisapnya. Himchan hanya memperhatikan kegiatan Jonghyun. Lalu Jonghyun menyodorkan bungkus rokok itu pada Himchan.
"A-ah.. aku tidak merokok. Kau saja". Himchan menggeleng menolak rokok yang diberikan Jonghyun.
Jonghyun menatapnya heran, keningnya sedikit berkerut mendengar penuturan Himchan.
"Kau benar-benar tidak merokok?"
"Eum". Himchan mengangguk. Himchan bahkan tidak pernah menyentuh rokok sekalipun, saat dibangku SMA teman-temannya sudah banyak yang merokok tapi Himchan sama sekali tidak tertarik, bahkan Jongup saja sudah merokok saat awal mereka masuk SMA. Tapi Himchan berpendirian hanya akan fokus pada pelajaran. Saat dibangku kuliahpun dia tidak menyentuh rokok. Dia tidak mau uang yang diberikan ibunya terbuang percuma hanya untuk dibakar.
Jonghyun mengerti dan menyimpan kembali bungkus rokok itu dijaket nya.
"Saat stress seperti ini merokok bisa membuatku sedikit tenang". Ntah sudah berapa kali Jonghyun menghisap batang kecil yang menjadi candu bagi sebagian orang itu.
"Memangnya kau stress kenapa?".
"Hanya stress biasa. Aku ada masalah dengan orang tuaku".
Himchan tidak berani bertanya lagi, jika itu masalah dia dan orang tuanya berarti sudah termasuk privasi dia.
Himchan menatap Jonghyun yang sedang melihat kearah langit - sambil menghisap rokoknya seperti menikmati makanan yang enak saja.
"Aku merokok bukan karna kebutuhan tapi memang karna aku ingin saja. Aku tau dampaknya jika sering merokok". Jonghyun melihat kearah Himchan yang menatapnya.
"Apa aku boleh mencoba?". Sungguh, Himchan tidak habis pikir kata-kata tersebut bisa terlontar dari mulutnya. Apa dia sudah mulai gila-pikirnya.
"Kau bilang tidak merokok"
"Eeumm.. aku ingin mencobanya. Kau bilang bisa membuatmu sedikit tenang, aku juga mau merasakannya".
Himchan mengambil satu batang dari bungkus rokok yang diberikan Jonghyun. Mengimpitnya diantara bibir atas dan bawah. Jonghyun menyalakan mancis dan Himchan mendekatkan rokok yang sudah berada dibibirnya agar mendapat api. Sekiranya itulah yang Himchan lihat dari orang lain.
Asap mulai keluar dari ujung rokok yang terkena api dan Himchan mulai menghisapnya. Satu hisapan dan asap bergumul didalam mulutnya.
"Uhuk.. uhuk...". Himchan tersedak, asap rokok yang melewati kerongkongannya membuatnya batuk. Belum lagi asap yang masuk kedalam hidungnya, membuat kepalanya sakit.
"Kkkk... dasar payah". Jonghyun menepuk-nepuk punggung Himchan berharap itu bisa meredakan batuk Himchan.
"Sudah sudah jangan dilanjutkan. Nanti terjadi apa-apa padamu aku yang disalahkan". Jonghyun mengambil rokok dari tangan Himchan. Mematikan ujung rokok yang masih menyala tersebut dengan menekannya pada bangku taman.
Himchan masih sibuk mengatur nafasnya sambil mengibas-ngibaskan tangannya agar asap rokok disekitarnya hilang.
"Apa kau sedang ada masalah?".
"Begitulah". Himchan mengendikkan bahunya.
"Dibawa santai saja. Lakukan apapun yang kau suka yang bisa membuat stress mu hilang". Jonghyun menepuk bahu Himchan.
"Apa membunuh orang juga termasuk?"
"Yak.. kenapa harus membunuh orang?". Jonghyun yang sedang menepuk bahu Himchan beralih menjadi memukul punggung Himchan, karna kata-kata Himchan barusan.
"Kau bilang lakukan apapun yang kusuka"
"Kau benar-benar. Bukan begitu maksudku"
Jonghyun membuang rokoknya yang sudah semakin pendek itu ketanah dan memijaknya. Dia menatap lurus dan menghembuskan nafas beratnya.
"Yang punya masalah itu kau Himchan dan yang tau bagaimana masalah itu bisa diatasi itupun kau. Tinggal bagaimana kau menyikapinya, kau akan menghadapi masalah itu atau kau akan lari darinya"
Jonghyun masih menatap lurus saat mengatakan itu semua.
"Lalu, kau lebih sering memilih yang mana? Menghadapi masalah itu atau lari?"
"Tergantung seberapa besar masalahnya. Tapi aku lebih banyak lari sepertinya, hehe... hanya saja lari bukan berarti aku menyerah tapi lebih tepatnya seperti mengalah. Menyerah dan mengalah itu berbeda, saat kau bilang menyerah masih ada suatu penyesalan yang tertinggal disana tapi saat kau bilang mengalah tidak ada lagi penyesalan yang akan menghantui hari-harimu. Masalah itu bukan beban yang harus dipertahankan ada banyak cara untuk melewatinya Himchan".
Himchan diam. Mencoba mencerna setiap kata yang Jonghyun katakan. Selama ini dia terlalu larut memikirkan masalahnya- Minjae. Sampai-sampai tidak memikirkan bagaima dia bisa melupakan Minjae. Dia lari karna dia menyerah pada Minjae, bukan karna mengalah merelakan Minjae.
"Kkkk ". Himchan menoleh menatap Jonghyun yang sedang tertawa.
"Kau kenapa?"
"Tidak ada. Hanya saja ini terlihat lucu. Aku terlihat sok dewasa sekali". Jonghyun melihat Kearah Himchan sambil terkekeh geli.
Himchan hanya menggeleng melihat Junghyun terkekeh seperti itu.
"Siapa bilang sok dewasa? Justru perkataanmu itu benar"
"Hmm.. benarkah? Huuuuft.. Ya sudah kita kembali ke camp saja. Aku mulai mengantuk". Jonghyun bangkit dari tempat duduknya.
"Eumm.. kau duluan saja. Terimakasih sudah menemaniku dan nasehatmu juga".
"Eum". Jonghyun mengangguk.
"Kapan-kapan kalau kau butuh teman mengobrol, kau bisa menghubungiku".
"Eum baiklah"
Bukannya berlalu pergi, Jonghyun justru masih berdiri disana menatap Himchan.
"Apa?". Himchan menatap heran pada Jonghyun yang mengulurkan tangan pada himchan.
"Masih mau menghisapnya?". Mata Jonghyun melihat kearah bungkus rokok yang berada ditangan kiri Himchan, Himchan lupa mengembalikannya.
Himchan tersadar dan langsung memberikan bungkus rokok tersebut.
"Tidak. Sepertinya aku memang tidak ada bakat merokok"
"Dasar kau, pria macam apa tidak bisa merokok. Ya sudah aku duluan". Jonghyun berlalu pergi setelah sebelumnya mengacak surai hitam Himchan.
000
Himchan kembali kedalam kamar setelah 15 menit Jonghyun pergi duluan meninggalkannya sendirian di bangku taman. Dia merapatkan kedua tangannya kedalam jaket yang dia kenakan karna udara semakin dingin saja.
"Kau darimana?". Jongup yang sedang membaca komiknya menyapa Himchan dari kasur atas.
"Makan. Kau sendiri?". Himchan melepaskan jaketnya dan meletakkan digantungan baju.
"Aku? Memangnya aku kemana?". Pandangan Jongup tidak teralihkan dari komik one piece yang sedang dia baca, maklum saja Jongup adalah seorang otaku. Itulah yang membuatnya tertarik untuk pergi ke jepang.
"Aku tau daritadi kau tidak ada dikamar". Himchan berbaring dikasurnya, menatap langit-langit kayu yang menjadi pembatas kasurnya dan Jongup.
"Hanya berkeliling camp saja"
"Lalu apa yang kau dapat?"
"Banyak. Aku dapat kenalan baru, kau tau ternyata di camp ini banyak sekali mahasiswi dari luar negri. Mereka cantik-cantik dan tentunya aku dapat nomor ponsel mereka. Kkk..". Jongup menyembulkan kepalanya melihat Himchan dibawah sana, dengan khas cengiran dia. Himchan yang mendengarnya hanya memutar bola matanya malas dan langsung memejamkan matanya.
"Aku mau istirahat"
"Oh iya. Maaf tadi aku mengganggu acara kalian". Jongup masih menyembulkan kepalanya ingin melihat reaksi Himchan.
"Acara apa?". Benar saja, Himchan langsung membuka matanya dan menatap Jongup-lebih tepatnya wajah Jongup karna hanya itu yang bisa himchan lihat.
"Aku tidak tau jika kau sudah tidak phobia gelap lagi. Haaa.. aku menyesal tadi datang, yang ada aku malah mengganggu kalian".
Himchan tahu betul yang diceritakan Jongup akan mengarah kemana. Dia menggapai kepala Jongup menggunakan kaki kirinya.
"Moon Jongup sialan"
"Lalu apa yang kalian lakukan?". Jongup terus saja meledek Himchan.
"Diamlah". Himchan menutup telinga serta wajahnya menggunakan bantal, agar suara Jongup tidak mengganggunya.
"Ngomong-ngomong siapa lelaki tadi? Kau kenal dimana?". Jongup tidak peduli dan terus saja mengganggu Himchan.
Himchan diam memilih menghiraukan Jongup.
"Yak.. Himchan". Jongup sengaja menggoyangkan ranjang mereka sehingga terdengar decitan-decitan kecil, otomatis ranjang Himchanpun ikut bergoyang. Himchan berdoa semoga ranjang mereka tidak rubuh akibat ulah Jongup. Terlebih lagi, jika benar-benar rubuh Himchanlah yang akan menderita harus tertimpa Jongup yang berada diatas.
"Aku tidak kenal". Barulah Jongup berhenti menggoyangkan ranjang mereka saat Himchan menjawab pertanyaannya.
"Waaah.. dengan orang yang tidak kenal kau sudah berbuat sejauh itu?". Jongup berteriak antusias.
"Diamlah Moooon aku ingin tidur". Himchan yang sudah tidak tahan dengan semua pertanyaan Jongup melepaskan bantal yang tadi menutup wajah dan telinganya.
"Cepatlah cerita padaku. Siapa namanya? Dan sejak kapan kalian saling menyukai?"
Himchan membuang nafasnya kasar.
"Kau tau Moon Jongup. Dia orang yang menghaja .."
Cklek..
Belum selesai Himchan berbicara, pintu kamar sudah dibuka oleh seseorang. Himchan jadi mengurungkan niatnya untuk memberitahu Jongup jika orang yang dia lihat tengah mengungkungnya tadi adalah orang yang menghajarnya dibandara.
"Hei Himchan". Hanbyul menyapa sambil melambaikan tangannya pada Himchan dan beralih melihat kearah Jongup dan tersenyum.
"Jongup".
"Hai". Himchan balik menyapa dan tersenyum.
"Kenapa kau ada disini?". Jongup mengerutkan dahinya heran.
"Kita satu kamar". Hanbyul menjawab singkat.
Jongup hanya menggangukkan kepalanya paham dan beralih menatap pemuda disebelah Hanbyul yang baru datang, dan itu adalah pemuda yang tadi dilihatnya bersama Himchan.
"Oh iya eum.. perkenalkan dia adik ku". Hanbyul merangkul pundak Yongguk dan memperkenalkannya dengan Jongup.
"Hai. Moon Jongup". Jongup mengulurkan tangannya dan tersenyum.
"Bang Yongguk". Yongguk berjabat tangan dengan Jongup tapi hanya sebentar, tidak ada ekspresi apapun dan langsung pergi ke ranjangnya.
Yongguk menempati kasur bawah sedangkan Hanbyul menempati kasur atas. Otomatis kasur Himchan bersebelahan dengan kasur Yongguk.
Yongguk langsung berbaring ke kasurnya begitupun Hanbyul, tidak berapa lama suara dengkuran halus terdengar disekita kamar itu. Mereka berdua sudah menyelam ke alam mimpi masing-masing.
Ting..
Saat Himchan mencoba memejamkan matanya untuk tidur, ponsel dia berbunyi pertanda pesan masuk. Dia meraba-raba ponselnya yang berada disamping bantalnya dan mendapati pesan yang dikirim Jongup. Himchan mengerutkan dahinya.
"Kau hebat"
Itulah yang Himchan baca saat membuka pesan masuknya.
"Maksudmu?"
"Setelah Hanbyul, sekarang kau mendekati adiknya"
Ternyata balasan pesan tidak sesuai apa yang diharapkan Himchan. Seharusnya Himchan sudah tahu jika Jongup adalah Jongup, bocah menyebalkan yang selalu mengganggunya.
"Dasar Gila"
"Sebagai sahabat yang baik, aku lebih setuju kau dengan Hanbyul, kau tau wajah si Yongguk itu terlihat seperti yakuza jepang terlebih lagi suaranya"
Antara kesal dan lucu. Himchan menutup mulutnya karna hampir saja dia tertawa membaca pesan Jongup. Himchan lebih memilih tidak membalas pesan Jongup dan menunggu pesan selanjutnya.
"Sudah tidur?"
Himchan tidak membalasnya.
"Ya sudah. Goodnight".
Akhirnya Jongup mengakhiri pesannya, dia berpikir Himchan sudah tidur.
Himchan meletakkan kembali ponselnya disamping bantal dan memejamkan matanya menyusul kealam mimpi.
000
Suasana pagi dikamar Himchan diawali dengan teriakan Hanbyul yang sedang berdiri didepan kamar mandi sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi.
"Yak Jongup kau lama sekali. Cepat aku sudah tidak tahan"
Himchan yang sedari tadi sudah bangun hanya menggeleng lucu melihat Hanbyul tersiksa pagi-pagi. Dia beranjak dari atas kasur dan merapikannya.
"Kau ribut sekali". Jongup keluar dari dalam kamar mandi seperti orang yang tidak berdosa, menatap Hanbyul yang sedari tadi mengganggu aktivitasnya mandi pagi.
"Minggir". Hanbyul menarik Jongup yang berada diambang pintu dengan setengah telanjang, Jongup hanya mengenakan handuk yang dililitkan sebatas pinggang - memperlihatkan lekukan abs sempurnanya ditambah lagi Jongup memiliki kulit kecoklatan yang membuatnya terlihat sangat manly dan badboy?
Berselang 15 menit Hanbyul keluar dan keadaannya pun sama seperti Jongup tadi, hanya memakai handuk sebatas pinggang. Hanbyul memiliki abs juga tapi jika dibandingkan dengan Jongup, dia masih kalah jauh.
Himchan bergegas menuju kamar mandi. Tapi ada yang menarik tangannya - Yongguk berdiri disamping Himchan.
"Apa?". Himchan bertanya heran.
"Aku duluan". Tanpa basa basi, Yongguk melenggang pergi menuju kamar mandi tidak memperdulikan tatapan heran Himchan.
"Enak saja. Aku bangun duluan sebelum kau, jadi aku yang berhak mandi dulu".
"Tidak ada aturan seperti itu. Lagipula aku bangun kesiangan karna kau, aku tidak bisa tidur dengan lampu menyala seperti itu. Tidurku jadi tidak nyenyak". Yongguk melipat kedua tangannya didada, menyudutkan Himchan dengan menyalahkannya.
"Kenapa kalian berdua ribut sekali. Cepatlah acara sudah mau dimulai". Hanbyul mengingatkan-pagi ini adalah acara penyambutan bagi pertukaran mahasiswa dan Menentukan mereka akan dikirim kedaerah mana.
"Kalau dari kalian tidak ada yang mau mengalah. Ya sudah mandi berdua saja"
"Diam!". Yongguk serta Himchan menatap kearah Jongup yang baru saja memberi saran aneh kepada mereka.
"Bagaimana kalau kita tentukan dengan batu gunting kertas?". Himchan menantang Yongguk.
"Baiklah. Lagipula sudah pasti aku yang menang"
Mereka berdua mulai bermain batu gunting kertas. Himchan mengeluarkan gunting dan yongguk mengeluarkan kertas. Sudah dipastikan Himchanlah pemenangnya.
"Kau kalah". Himchan menunjuk Yongguk dan tersenyum bangga, dia memperoleh kemenangannya dan bergegas menuju kamar mandi.
Sekitar 15 menit Himchan baru keluar dari kamar mandi. Dia hanya melilitkan handuk sebatas pinggang dan handuk kecil diatas kepala yang dia gunakan untuk mengeringkan rambutnya.
Himcham mempunyai kulit putih bersih seperti susu, tubuh ramping dan sedikit abs disana, bahkan kaki jenjangnya bisa membuat semua wanita iri, bibirnya yang berbentuk M shap dan merah membuatnya benar-benar terlihat sempurna bahkan wanitapun sudah pasti kalah, belum lagi rambut basahnya yang hitam setelah mandi berpadu dengan kulit putihnya membuat Himchan terlihat sexy dan imut. Dia benar-benar cantik.
Yongguk yang sedari tadi menatap Himchan yang berada diambang pintu kamar mandi tidak berkedip sedikitpun. Dia memperhatikan Himchan dari ujung rambut hingga ujung kaki Himchan.
"Ada apa?". Himchan yang dari tadi tengah menjadi pusat perhatian Yongguk terlihat heran. Belum lagi hanya ada mereka berdua disana, Jongup dan Hanbyul sepertinya sudah pergi duluan.
"Ti-tidak ada". Yongguk hanya menggeleng seperti orang bodoh.
"Katanya kau mau mandi". Yongguk yang sedikit salah tingkah barusan mencari-cari handuknya dan langsung pergi kedalam kamar mandi.
000
Himchan menghampiri Jongup yang sedang duduk berkumpul bersama teman-teman yang lain. Acara memang belum dimulai.
"Bagaimana?". Jongup melontarkan pertanyaan saat Himchan baru saja mendaratkan bokongnya.
"Bagaimana apanya?". Himchan terlihat bingung.
"Kau dan si Yongguk itu? Apa kalian sudah melakukannya?". Jongup tersenyum jahil.
"Melakukan apa?". Himchan hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan mengerjapkan matanya, bingug dengan pertanyaan Jongup.
"Lupakan". Jongup membuang wajhnya kasar dan lebih memilih mengobrol dengan teman-temannya yang lain.
Acara berlangsung selama 3 jam, ternyata para mahasiswa akan dibagi menjadi beberapa kelompok dan akan diberangkatkan kedaerah-daerah yang sudah ditentukan, mereka akan belajar bagaimana budaya jepang dan juga lainnya. Selama mereka berada diJepang, mereka akan mempunyai orang tua asuh.
Himchan serta Jongup pergi ke kantin dekat camp mereka. Sengaja kantin ini sediakan memang untuk para mahasiswa. Himchan dan Jongup membawa makanan mereka yang sudah mereka pesan dan tengah mencari tempat duduk, karna hampir semua tempat duduk diakntin itu sudah penuh.
"Himchan". Himchan menoleh kesumber suara yang memanggilnya, Hanbyul melambaikan tangan dan tersenyum padanya.
Himchan serta Jongup menghampiri Hanbyul yang sedang duduk berdua dengan Yongguk.
"Duduk disini saja, sengaja aku sisakan untuk kalian berdua". Hanbyul menepuk-nepuk kursi panjang disampingnya.
"Thanks. Kau baik sekali". Himchan tersenyum dan duduk disamping Hanbyul dan berhadapan dengan Yongguk, sedangkan jongup berhadapan dengan Hanbyul.
"Aku pesan minum dulu". Himchan bergegas pergi ke stan yang menyediakan minuman.
Himchan sedikit bingung karna banyaknya aneka jenis minuman yang ada disana. Setelah beberapa menit memilih, akhirnya dia memutuskan untuk membeli milkshake strawberry. Hanya saja dia suka warnanya, pink-warna favorit Himchan.
Saat menunggu pesanannya, Himchan kaget karna Yongguk sudah berdiri disampingnya.
Yongguk memesan minumannya ditempat sama dimana Himchan membeli minuman dia juga. Mereka tidak berbicara sepatah kata pun dan diam berdiri menunggu pesanan masing-masing. Tidak berselang lama, minuman keduanya datang. Yongguk mengambil pesanannya begitupun Himchan, dan saat Himchan ingin membayar minumannya Yongguk sudah membayarnya duluan.
"Aku traktir. Anggap saja permintaan maafku". Yongguk menatap Himchan yang masih bingung lalu pergi begitu saja.
Himchan masih berdiri tegak didepan stan minumana tadi, dia masih belum bisa mencerna apa yang barusan terjadi. Yongguk meminta maaf? Si pria sombong itu meminta maaf? Himchan menepuk-nepuk pipinya berharap ini bukanlah mimpi.
Setelah makan siang Himchan lebih memilih kembali kekamarnya, sedangkan Jongup pergi bersama Hanbyul. Jongup berencana mengenalkannya pada mahasiswi-mahasiswi luar negri yang baru saja dia kenal, sebenarnya Himchanpun diajak tapi dia tidak tertarik. Lagipula sebentar lagi pengumuman nama-nama kelompok mereka akan keluar.
Sudah 10 menit menunggu, akhirnya nama-nama kelompok mereka sudah bisa dilihat. Himchan membuka laptopnya dan langsung memasukkan link yang bisa melihat nama kelompoknya.
Himchan memperhatikan dengan teliti setiap nama yang berada di list kelompok Himchan. Ada 4 orang dan salah satu dari mereka ada yang Himchan kenal. Jonghyun. Selebihnya mahasiswa dari luar negri. Otomatis dia dan Jongup akan berpisah.
"Shhhh.. sialan". Himchan menoleh keasal suara, ternyata Yongguk- sepertinya sikut kirinya tergores sudut pintu sampai-sampai dia meringis begitu.
Yongguk mengambil koper yang berada dibawah ranjangnya dan meletakkan di atas kasurnya.
"Kau tidak apa-apa?". Himchan memperhatikan Yongguk yang sedang mencari-cari sesuatu didalam kopernya. Bukannya menjawab, Yongguk malah menghiraukannya.
Saat tengah mengacak-acak isi kopernya, Yongguk tidak sengaja menjatuhkan pasport miliknya tapi dia tidak tahu. Himchan yang melihatnya beranjak dari tempat tidur dan mengambilnya.
Himchan membuka pasport milik Yongguk, Himchan hanya penasaran saja. Toh Yongguk pun tidak menyadarinya.
Jayden Peter Brown. Sekiranya itulah nama yang tertera pada pasport yang dia pegang. Lalu dia beralih pada foto yang tertempel disana, Yongguk?. Itu foto yongguk tapi mengapa namanya berbeda? Himchan tidak ambil pusing, mungkin nama itu adalah nama lain Yongguk mengingat dia adalah campuran.
"Jayden Peter Brown ?". Himchan kembali membaca nama yang tertera pada pasport itu dan matanya membelalak seperti orang yang baru saja mendengar berita buruk.
"Tunggu..". Himchan pergi kekasurnya dengan buru-buru kembali pada laptopnya yang masih menyala dan melihat list kelompoknya.
"Kau". Himchan menunjuk Yongguk yang sedang mengambil paksa pasport yang berada ditangan Himchan.
.
.
.
TBC
Love or Leave comeback !
