Kimtae seharusnya tau, kenapa hyungnya berbuat seperti itu. Memang jarang dia berbuat seperti itu, tapi pasti ada alasannya. Hyung membawa tiga lainnya dipundak lebarnya. Dia juga sangat kuat. Tapi sama sekali tidak menginginkan kekuasaan. Tentu saja itu hal biasa untuk kami, membunuh adalah kehidupan kami. Sebagai mahluk super supranatural, seharusnya manusia lebih baik dengan kami. Memberikan kami hewan mereka, padahal kami bisa membayar mereka. Tapi mereka malah mengancam akan memusnahkan kami. Hal seperti ini memang wajar untuk kami dan tetap terus berlanjut.
"hyung, tumben. Katanya tidak suka darah dan lainnya?" Tanya sang adik
"tidak. Kau seharusnya tau apa alasannya."
"apa buah-buahanmu itu sudah habis? Kau bisa membelinya hyung."
"tidak untuk hari ini, sekarang musim kemarau dan petani banyak yang gagal panen."
"tapi kau menculik mereka semua untuk dirimu sendiri?"
"jika kau mau, silahkan ambil." Tawar seokjin
"tidak, ini bukan kesukaan, aku akan memakan mereka ditempat mereka mati. Ini sudah tidak segar lagi" kata Kimtae sambil meninggalkan hyungnya.
.
.
"siapa yang menyebarkan berita palsu ini?" Tanya seorang pemimpin dari mereka
"kami tidak menerima berita apapun, kami melihatnya sendiri." Kata salah satu dari masyarakat disana.
"kalian melihatnya, apa sama dengan pemuda tadi?" pertanyaan yang diajukan pemimpin mereka membuat semua terdiam.
"tidak..sih. tapi aroma parfumnya adalah milik dia." Mereka masih tidak terima.
"kalian tau, dia itu penjual, berarti bisa saja bukan dia." Katanya lagi.
Masyarakat dan pemimpin terusmenerus memberikan pertanyaan dan dijawab dengan baik. Sampai akhirnya mereka menyerah dan pulang. Kecuali pemimpin mereka dan seorang pengawalnya, mereka masih berdiri disana. Sementara sang pengawal berjaga diluar, sang pemimpin yang sering disapa ini masuk kedalam bertemu Jimin.
Dia menghampiri Jimin yang terbaring lelah dengan tatapan kosong. Segera dia mengambil sarung tangannya untuk mengelap luka-luka dikepalanya. Sesekali dia peluk Jimin dan menciumnya.
"Yoongi hyung, hentikan. Nanti mereka melihatnya." Kata Jimin lemah
"tidak. Ada Hoseok didepan, aku percaya dengannya." Kata orang yang bernama Min Yoongi itu. Tetap mengelus dan membelai tubuh Jimin dengan sayang. Tapi Jimin mengahalaunya, dia ingin sekali menjauh dari Yoongi, da membencinya. Tubuhnya yang lemah, menghambatnya.
"sudahlah hyung, kita sudah tidak ada hubungan lagi. Pergi sana" paksa jimin, tanpa sadar air mata mengalir dipipinya.
"Jimin-ah, maafkan aku. Aku terpaksa. Maafkan aku." Dia terus memeluknya erat. "aku akan menjagamu." Janjinya
"tidak hyung, jangan. Nanti masyarakat tidak percaya denganmu. Pergilah hyung." Pintanya lagi
"kumohon, jangan membenciku, bunuh saja aku. Aku memang bodoh" kesalnya
"hentikan, hyung." Pintanya,
.
.
"Hentikan, hyung"
Kimtae mendengarnya semua, bukan haknya. Tapi itu sangat miris. Seokjin masih sibuk dengan makanannya, jimin dan yoongi sedang sibuk bertengkar, sementara dia sedang sibuk mencari kesibukkan.
Dia kembali teringat dengan sosok penyihir yang dia lawan saat ditempat pertarungan antarnarapidana itu. Jubah penyihir itu menutupi wajahnya, dia hanya melihat bahwa penyihir itu menutup matanya dengan kain putih yang sudah usang.
Dia penasaran, bergegas kembali ketempat itu. Butuh waktu satu jam, tempatnya memang sangat jauh, tapi entah kenapa hatinya memaksanya untuk kesana.
Sampai disana, tidak ada siapa-siapa, tempat yang sama tapi dengan aura yang berbeda. Sangat sunyi dan berbau mayat. Menjijikkan. Dia bahkan hampir muntah.
Srekk srekk.
Terdengar suara seseorang membawa sesuatu disana. Segera dia mencari sumber dari suara itu. Dia mencari kesekelling tempat. Tidak menemukannya, aneh. Suaranya terdengar sangat jelas tapi tidak berwujud.
Ttek! sesuatu muncul secara tiba-tiba.
Sebuah batu berhasil memukul kepalanya dari belakang. Kimtae segera memalingkan wajahnya kebelakang. Sosok yang dia cari disana. …engg.. kelinci?
"hey?" sapa penyihir itu lebih dulu.
"h-hey.?"
"kau mencariku? Mau bertanding lagi?" tantang sang penyihir itu.
"Jungkook-ssi? Hehe"
"kau masih mengingatnya? Wahh, baik sekali. Aku bahkan tidak mengingat namamu." Kata penyihir itu.
Kimtae terlihat bingung, sangat bingung. Kenapa banyak sekali kelinci ditempat mengerikan seperti ini. Yang lebih anehnya lagi, kelinci-kelinci memikul benda-benda besar. Jangan lupa, dia penyihir.
Suara angin terasa sangat cepat. Seperti ada seseorang yang akan datang. Karena tempat ini seperti bangunan tua, tembok-temboknya pun runtuh.
Secepatnya Kimtae menarik penyihir itu bersembunyi bersamanya. Berdiri berhadapan dengan Jungkook berada dipelukan Kimtae. Yang memeluk merasa harus was-was, karena benar perkiraannya, kakak keduanya datang mencarinya, Kim Namjoon.
Tanpa sengaja Kimtae memeluk penyihir itu erat karena takut ketahuan. Hingga membuat penyihir itu sesak nafas. Sekitar sepuluh menit, kakak tertuanya itu pergi meninggalkan tempat itu.
Kimtae bernafas lega dan juga penyihir itu. Dia kaget karena memeluk penyihir itu, bahkan membuat pengikat tutup matanya longgar dan terlepas.
Sepasang mata saling bertemu.
Badumb, badumb..
Matanya sangat indah…
-Chap.4, END-
Sorry kalo banyak typo.
