SWEET LIES
^ByunYuna^
Pairing:
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
Other cast:
Xi Luhan
Oh Sehun
Kim Jongin
Do Kyungsoo
Cast akan bertambah dengan sendirinya
Warning
Genre cerita Boys Love, Yaoi,
Mohon yang tidak suka, jangan dibaca nanti kalian bisa mimisan
Dont Like Dont Read
Terima kasih reviewnya
Vflicka6104: Keluarga bantet eoh wkwk. Makasih sayang reviewnya.
Bona: Ch 2 udah si next sayang.
Chalienbee04: Hehe thanx u sayang. iya ini ohseh nya muncul kok. stay tune ya.
Qwerty: wkwk tapi aku bacanya gak gagap eoh. Thanx reviewnya sayang.
Happy Enjoy Reading
...
Suasana hening menyelimuti seisi mobil, hanya ada suara napas Baekhyun yang entah kenapa terdengar ngos-ngosan. Chanyeol melirik ke arah namja pendek itu, kemudian mempokuskan pandangannya ke depan sana. Baekhyun masih diam, karena memang tak ada yang harus dibicarakan pikirnya. Tapi dia juga tidak suka kalau jadi senyap begini.
"Hyung!" serunya memutar badan menghadap ke arah Chanyeol.
"Apa," balas Chanyeol seperti biasanya. Datar tak bernada. Sementara tatapannya masih lurus ke depan.
Baekhyun menatap kesal ke arah namja itu sambil mengerucutkan bibirnya. "Tidak jadi," balas namja itu dan memutuskan untuk diam saja. Chanyeol hanya melirik acuh ke arah Baekhyun, namun lengkungan kecil tercetak samar di bibir namja kelebihan kalsium itu.
15 menit berlalu, akhirnya kedua namja itu sampai di depan rumah keluarga Park. Keadaan rumah sangat sepi, Chanyeol tidak ambil pusing, lagipula di jam segini, Appa nya yang super sibuk itu pasti masih di kantor. Pulang tidak pulang ketika makan malam, itupun dia makan sendiri karena, jelas Chanyeol tidak mungkin berkeliaran di rumah pada jam begitu.
Baekhyun baru saja melangkah keluar dari dalam mobil, namun beberapa teriakan membuat namja itu berhenti. Sedang Chanyeol, dia mendadak diam sambil melihat ke arah belakang, dimana dua orang dengan perbedaan tinggi terlihat tengah berlari tergesa ke arah mereka.
"Huaaa! Chanyeol! Baekhyun!" Luhan menatap tajam kedua namja itu bergantian. "Jangan coba-coba membohongiku. Apa sebenarnya hubungan kalian hah!" serunya dengan muka merah padam, karena lelah berlari dan berteriak.
Baekhyun tergagap, Chanyeol menghela napas panjang sebelum akhirnya berjalan meninggalkan ketiga namja yang sedang bingung menatap kepergiannya. Merasa tak ada yang mengikutinya, Chanyeol sontak menoleh dan mendapati tiga orang itu masih asyik mematung di depan mobil Chanyeol. Dia menggelengkan kepala karena pusing.
"Tidak mau tahu ya sudah!" teriaknya cuek dan kembali melangkah masuk ke rumah.
Luhan yang pertama kali sadar buru-buru melototkan matanya. "Baek, Jongin, Ayo!" ujarnya sambil menarik paksa dua namja yang masih saja memasang tampang bodoh mereka.
...
"Ah jadi begitu ceritanya? Baek, kenapa kau tidak bilang saja yang sejujurnya tadi?" tanya Luhan. Ya, Chanyeol memutuskan untuk menceritakan semuanya. Siapa Baekhyun. Dan kenapa dia bisa bersama Chanyeol saat di mobil ataupun ketika kembali ke rumah. Dan jawabannya hanya satu. Baekhyun Adik angkatnya. Lagipula apa salahnya memberitahu rusa jelek itu.
"Ya aku takut saja," balas Baekhyun sejujurnya. Tentu saja dia takut, kalian sih tidak lihat tatapan tajam Chanyeol kepadanya saat di kantin tadi.
"Kau takut Chanyeol memarahimu?" tanya Jongin tiba-tiba. Membuat Luhan mendelik tajam ke arahnya. Jongin buru-buru membentuk huruf V dengan tangannya sambil nyengir kuda.
"Kau. Jangan berani memarahi Baekhyun. Kau akan berhadapan denganku!" seru Luhan sarkastik memandang ke arah Chanyeol dengan tatapan paling mematikan yang dia punya. Chanyeol menelan ludahnya, begitupun dengan Jongin, walaupun tatapan itu jelas untuk Chanyeol, tapi entah mengapa Jongin merasa 'Kau' yang dimaksud Luhan di sini punya arti ganda. Kau untuk Chanyeol, dan Kau untuk Jongin.
"Ya sudah, Baekkie sekarang kau masuklah ke kamar, ganti baju dan makan, nde?" ujar Luhan tersenyum sangat manis. Beda sekali saat menatap Jongin dan Chanyeol tadi.
Chanyeol dan Jongin berdecih, sementara Baekhyun sudah menghilang dari pandangan ketiganya. Luhan baru saja mau angkat bicara, namun suara seseorang membuatnya berhenti di tempat. Jongin menoleh dan mendapati Papa Park sedang tersenyum ke arah mereka.
"Luhan? Jongin? Kalian sudah lama ada di sini?" tanya Jimin melirik ke arah mereka. Chanyeol mengalihkan pandangannya. Entahlah dia merasa masih marah saja dengan orang itu.
Luhan tersenyum begitupun dengan Jongin.
"Halo Ajusshi, Park!" sapa Jongin.
"Ah ya Ajusshi. Kebetulan kami tadi sedang lewat, jadi sekalian saja mampir. Kabar Ajusshi bagaimana?" tanya Luhan ramah.
"Ah Luhan, Ajusshi baik-baik saja. Bagaimana dengan kalian?" tanya Jimin balik.
"Cih, sok basa basi!" jangan tanya itu suara siapa. Sudah jelas itu Chanyeol yang tak suka melihat kedua sahabatnya akrab dengan Appanya.
Luhan menyenggol lengan namja itu. "Tidak baik bicara dengan orang tua seperti itu!" siratnya dari tatapan.
Jimin hanya tersenyum maklum ke arah Luhan, dia sudah tahu betul bagaimana sifat anaknya ini. "Ah ya, bagaimana kalau kalian berdua tinggal di sini sampai makan malam nanti," ajak Jimin mencoba mencairkan suasana.
"Ah tidak usah Ajusshi. Kami berdua akan pulang saja, benar kan Jongin?" Luhan menatap penuh arti ke arah Jongin.
"Ah nde, kami akan pulang. Lain kali saja ya Ajusshi. Chan, kami pulang. Sampai jumpa Ajusshi. Ayo, Lu." Jongin segera menarik tangan Luhan. Sebelumnya mereka membungkuk hormat ke arah Jimin yang balas tersenyum ke arah dua namja itu.
Jimin mengalihkan perhatiannya ke arah Chanyeol yang masih tak bergerak dari tempatnya. Baru saja Jimin ingin mengucapkan sesuatu, Chanyeol lebih dahulu memotongnya. Hal itu membuat Jimin kembali menghela napas panjang.
"Aku mengantuk!" ucap namja itu sambil naik ke atas.
...
Makan malam yang seharusnya bisa mendekatkan diri satu sama lain, mendadak berubah haluan menjadi begitu mencekam. Hanya terdengar suara sendok garpu yang beradu dengan piring. Baekhyun merasa ada yang tak beres dengan keluarganya malam ini, dia mencoba menetralkan perasaannya dengan minum air putih.
"Baek, bagaimana sekolahmu?" suara Jimin memecah keheningan.
Baekhyun mendongakkan kepalanya dan tersenyum tipis. "Lancar, Appa. Ah ya Eomma aku bertemu dengan Kyungsoo loh. Dan kami satu kelas, aku juga kenal dengan Jongdae serta dua Sunbae bernama Luhan dan Jongin. Luhan itu sangat..." cerita Baekhyun terputus saat suara orang beranjak dari tempatnya terdengar.
"Aku selesai!" Chanyeol langsung memutar tubuhnya namun langsung ditahan Jimin.
"Habiskan makan malammu Chanyeol. Tidak sopan kalau kau pergi begitu saja!" seru Jimin masih pelan.
"Apa urusannya denganmu? Jangan mengajariku!" balas Chanyeol dengan nada tinggi. Jimin menahan napasnya, mendengar ucapan anaknya itu. Baekhyun dan Sunny yang melihat itu ikut terdiam.
"Kau. Kau benar-benar berubah Chanyeol," desah Jimin akhirnya dengan suara rendah.
Chanyeol hanya diam tak menanggapi. Namja itu langsung menyambar jaket dan kunci mobilnya. Kemudian berlalu dari rumah, tak lama suara mobil berdecit keras terdengar membahana dari ruang makan. Baekhyun masih dalam mode terkejutnya tak bergerak sama sekali.
"Aku, aku, mianhae Appa. Semua ini pasti gara-gara aku." Baekhyun tiba-tiba bersuara dan membungkukkan setengah tubuhnya. Jimin mengalihkan perhatiannya ke arah namja itu.
"Aku juga minta maaf," cicit Sunny pelan.
Jimin langsung merasa tak enak dengan kedua orang ini. Kenapa pula hal tadi jadi salah mereka. Memang dasarnya Chanyeol saja yang seperti itu, sama sekali bukan karena Sunny, apalagi Baekhyun. Jimin menggelengkan kepala ke arah mereka berdua seraya tersenyum manis.
"Tidak, ini bukan salah kalian. Sudahlah, jangan dipikirkan. Chanyeol memang seperti itu," ucap Jimin mencoba menenangkan keduanya yang tampak masih shock.
"Appa, biar aku saja yang menyusul Hyung. Kira-kira dia kemana ya?" tanya Baekhyun pelan.
Jimin mendongak, dan menatap ke arah namja manis itu. Dia agak tak yakin untuk menyuruh Baekhyun yang menyusulnya. Lagipula dia sudah berkali-kali menyusul Chanyeol, tapi hasilnya benar-benar percuma, bahkan namja itu tak menganggapnya ketika berada di markas 'mereka'. Rasanya percuma saja kalau harus menyuruh anak semanis Baekhyun.
"Ah tidak perlu, Baek. Dia sudah besar, bisa pulang sendiri," balas Jimin meyakinkan.
"Ani Appa, aku merasa tidak enak dengannya. Ayolah, Jebal. Jebal!"
Baekhyun langsung mengeluarkan jurus andalannya, membuat Jimin bengong dan mau tak mau mengangguk kaku. Bagaimana bisa dia tidak menuruti namja kelewat imut itu. Ingin rasanya menukar Chanyeol dengan Baekhyun saja, tapi begitu-begitu dia masih sayang anak. Jadi dia sama sekali tak tega untuk membuang Chanyeol agar kadar darahnya tidak naik tiap minggu karena terus berdebat dengan anaknya itu.
Baekhyun tersenyum manis seraya berjalan menuju ke luar dari ruang makan. Langkah namja itu berhenti, dan dia kembali menyembulkan kepalanya di balik dinding.
"Omong-omong, aku harus pergi kemana?" tanyanya.
...
Baekhyun celingukan di tengah jalan, matanya bergerak lucu melihat ke kiri dan ke kanan. Dalam hati dia menggerutu, tau begini lebih baik dia tidak usah menyusul saja. Dia masih ingat pesan Appanya tadi.
"Chanyeol ada di Club milik Tuan Xi, Appa Luhan. Kau dari sini lurus saja, ada pertigaan belok kiri dan nanti ada nama Clubnya. Mengerti?"
Tentu saja dia tidak mengerti, tapi apalah daya nasi sudah menjadi bubur. Dia terlanjur mengangguk dan berakhir seperti bocah yang ditelantarkan orang tuanya karena tak punya cukup uang untuk membiayai hidupnya. Dia benar-benar tidak tahu jalan, tapi dengan percaya diri selangit, Baekhyun ingin menyusul Chanyeol yang entah ada di mana sekarang. Heol! "Chanyeol bedebah!" batin Baekhyun menjerit.
Baekhyun melirik kiri kanan, mencoba mencari kendaraan, siapa tahu ada taxi lewat. Namun suara klakson dan mobil menepi lebih dahulu mengejutkan namja itu.
"Anak kecil kenapa di sini malam-malam?" tanya suara itu datar.
Baekhyun mendongak dan mendapati seorang namja tampan tengah mengerutkan dahi bingung ke arahnya. Mendadak Baekhyun merasa gugup luar biasa ditatap seperti itu. Dia menelan salivanya, dan perlahan mundur ke belakang karena takut.
"A-aku tidak punya uang. Tolong jangan apa-apakan aku. Kumohon," cicit Baekhyun dengan suara tercekat karena takut.
Namun tak disangkanya, namja itu malah tertawa keras. Gantian, sekarang Baekhyun yang mengerutkan dahinya bingung.
"Hahaha. Kau, kau pikir aku berandalan yang suka memalak anak kecil sepertimu. Aish, yang benar saja. Hei, tenanglah aku orang baik," balas namja itu masih tersenyum.
Baekhyun kaku di tempat. Percayalah walaupun muka orang di depannya ini kelewat datar tak berekspresi, tapi ketika tersenyum dia malah terlihat seperti anak kecil lucu. Baekhyun tersenyum kikuk menatap lawan bicaranya yang masih ketawa terbahak. Dengan inisiatif sendiri, Baekhyun menendang tulang kering namja itu.
"Yaa! Sakit bodoh!" teriaknya mengelus betis atasnya yang baru ditendang Baekhyun.
"Siapa suruh kau tertawa seperti orang gila! Jadi urusan kau ada di sini itu apa? Hanya untuk menertawakanku begitu? Sebaiknya kau pulang, tidak baik anak sekolah berkeliaran di jam-jam begini!" ujar Baekhyun bak orang tua yang menasehati anaknya.
"Tolong juga kau ucapkan kalimat itu, untuk namja manis yang sedang celingak celinguk sendirian seperti bocah kehilangan orang tuanya!" ujar namja itu sinis.
Baekhyun tersenyum kikuk kemudian menundukkan kepalanya malu.
"Aku Oh Sehun. Panggil saja Sehun. Siapa namamu?" tanyanya.
Baekhyun mendongakkan kepalanya kemudian melirik uluran tangan dari namja yang bernama Sehun tadi. Tanpa ada sedikitpun keraguan, Baekhyun menyambut uluran tangan itu dan tersenyum manis ke arah Sehum. Sontak Sehun terhenyak dibuatnya, karena senyuman itu benar-benar memabukkan menurutnya.
"Aku Baekhyun,"
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Sehun akhirnya. "Ah ya kupikir aku tak pernah melihatmu sebelumnya, atau kau bukan dari Korea?"
Baekhyun mengangguk lucu. "Aku dari China. Aku mencari seseorang. Apa kau tahu Club milik Tuan Xi?" tanya Baekhyun.
"Oh Tuan Xi ya," ujar Sehun manggut-manggut.
Mata Baekhyun berbinar senang. "Iya, apa kau tahu?" tanyanya dengan penuh harap.
"Tidak!" balas Sehun datar.
Baekhyun menjatuhkan rahangnya. Apa-apaan jawaban itu? tidak kalian lihat bagaimana ekspresinya saat mengatakan "Oh Tuan Xi ya?" Ah persetan dengan Tuan Xi. Baekhyun benar-benar kesal. Dasar Oh Sehun Sialan. Cukup Jongdae dan Kyungsoo saja yang membuatnya gila, jangan sampai ditambah bocah di depannya ini lagi. Baekhyun benar-benar akan mati muda kalau seperti ini.
"Yaa! Kalau tidak tahu ya sudah bilang tidak tahu. Kau benar-benar membuat darahku naik. Ya Tuhan, aku akan gila!" teriak Baekhyun frustasi.
Sehun lagi-lagi tertawa melihat tingkah kekanakan manusia di depannya itu. "Aku bercanda. Ayo kuantar, tempatnya lumayan jauh kalau dari sini!" ujar Sehun sambil menghentikan tawanya.
Baekhyun menatap tajam manusia itu, benar-benar memberinya tatapan mematikan. Andai dia tak ingat dosa, sudah dia tenggelamkan Sehun ke kolam berenang milik Jimin yang ada di belakang rumah Appanya itu.
"Omong-omong kau cantik Baekhyun!" ujar Sehun tiba-tiba.
"Ya Tuhan! Aku benar-benar akan Gila!" erang Baekhyun. Sehun langsung tertawa lagi setelah berhasil menggoda namja di sampingnya itu.
...
Sementara di tempat lain, beberapa namja sedang asyik berkumpul dan bercengkrama hingga seorang datang dan membuat mereka mengerti kenapa orang itu ada di sini.
"Appamu lagi, Yeol?" tanya Luhan yang melihat kedatangan Chanyeol tadi.
Chanyeol memutar kedua bola matanya malas, Luhan memang tahu segalanya. Tentang dirinya, tentang Jimin, bahkan tentang masalahnya sekalipun. Termasuk tentang Baekhyun dan lainnya. Ah entahlah mungkin saja Luhan itu seorang cenayang.
Chanyeol tak menjawab, dia melirik beberapa botol vodka yang ada di atas meja, tanpa meminta persetujuan dia menegak setengah botol minuman itu, tapi tak lama dikeluarkannya lagi. Jongin yang melihat hal itu langsung menyodorkan air putih ke arah Chanyeol.
"Sudah kukatakan berapa kali sih, kau itu jangan sok mau minum Alkohol. Minum sirup saja masih belepotan!" ujar Luhan lelah. Sudah 30x dia mengingatkan Chanyeol, bahwa namja itu tidak bisa minum minuman seperti itu, tapi masih saja dia coba.
"Sudahlah, Lu. Dia terlihat kacau. Mau merokok?" tawar Jongin. Chanyeol menggeleng. Jongin mengangguk, lagipula dia memang tidak merokok. Ya kalian taulah, Jongin hanya sekadar basa-basi tadi.
"Yeol, mau minum milshake?" tanya namja tinggi lainnya. Omong-omong dia sepupu Luhan, namanya Yifan atau Kris, terserahlah mau memanggilnya apa dia terima-terima saja.
Seseorang menyodorkan coklat ke arah Chanyeol, membuat namja itu mendongak dan mendapati seorang namja memandang ke arahnya. "Apa? Aku hanya punya ini, tidak mau ya sudah." ujarnya cemberut.
"Ah, Minnie kau memang yang terbaik!" Chanyeol mengacungkan jempolnya sambil tersenyum. Well, ini cukup menghibur. Inilah alasan kenapa dia tidak pernah menghiraukan kedatangan Appanya, karena teman-temannya ini sudah lebih dari cukup untuk menghiburnya.
"Yaa! Berhenti memanggilku Minnie, Sialan!" teriak Minseok menatap nyalang ke arah Chanyeol yang sedang terkekeh.
Luhan hanya tertawa melihat tingkah kedua orang itu, yah setidaknya Chanyeol tidak cemberut lagi seperti tadi. Namun fokusnya beralih ketika melihat seorang, apa itu? Bocah? Bagaimana bisa ada bocah datang ke Club? Sendirian pula. Hem Luhan menajamkan penglihatannya. Sepertinya dia kenal bocah itu ?
"Yeol, aku rasa kau harus pulang!" ujar Luhan membuat keempat orang itu menatap aneh ke arahnya tidak biasanya Luhan seperti ini. Bahkan Appanya saja tidak pernah dia hiraukan, bagaimana bisa Luhan menyuruhnya dengan enteng begitu.
"Apa maksudmu, Lu!" tanya Chanyeol sinis.
"Lu kau sehat?" tanya Yifan bingung.
"Aku rasa dia tidak waras, Fan!" ujar Xiumin.
Luhan tak menjawab, dia malah menoleh ke arah luar Club yang terdapat seorang namja tengah celingak celinguk kebingungan. Semua mata langsung memandang ke arah yang dituju Luhan. Chanyeol yang sadar, seketika membulatkan matanya agak terkejut.
"Lu, Aku harus pulang!" ujar Chanyeol segera keluar dari sana. Kini semua mata bergantian memandang aneh ke arah namja yang sudah berlari tergesa dari ruangan yang penuh dengan gemerlap cahaya itu.
"Seharusnya aku yang bertanya, tidak biasanya kau seperti itu, Yeol!" batin Luhan agak tersenyum.
Sementara itu di luar Club.
"Aish kemana dia. Ajusshi, kenapa aku tidak boleh masuk?" tanya Baekhyun merengek.
"Sudah kubilang tempat seperti ini tidak baik untukmu, bocah. Sebaiknya kau pulang!" seru penjaga Club itu memandang malas ke arah Baekhyun.
"Yaa! Aku bukan bocah, dasar Ajusshi jelek!" teriak Baekhyun kesal.
"Baek?"
Suara itu. Ya, Baekhyun kenal. Namja itu menoleh dan mendappati Chanyeol sedang menatap bingung ke arahnya. Tanpa persetujuan yang jelas, Chanyeol menarik tangan Baekhyun agar menjauh dari sana dan kini berada di depan Mobil milik Chanyeol.
"Kau, kenapa ada di sini? Apa kau tersesat, bagaimana kau bisa tau aku ada di sini?" tanya Chanyeol.
"Hyung, aku benar-benar minta maaf. Aku tak bermaksud untuk merebut perhatian Appa darimu. Aku juga terpaksa, karena kalau tidak begitu aku dan Eomma akan..."
Ucapan Baekhyun terputus ketika tangan Chanyeol lebih dahulu menarik tubuh namja pendek itu ke dalam pelukannya. Butuh beberapa detik untuk Baekhyun sadar dari keterkejutannya. Sontak Baekhyun langsung membalas memeluk tubuh namja tinggi itu dengan erat. Bahkan menyadarkan kepalanya di dada bidang Chanyeol.
"Diamlah, ini bukan salahmu oke. Aku hanya terbawa emosi tadi. Kau yakin tidak apa-apa?" balas Chanyeol sambil mengusap lembut kepala Baekhyun.
"Mianhae, Hyung!" ujar Baekhyun sedikit terisak.
"Sudahlah. Aku yang minta maaf karena sudah membuatmu ada di sini. Ayo pulang." Baekhyun melepaskan pelukannya dan mengangguk. Keduanya sama-sama masuk ke dalam mobil. Kali ini tidak ada paksaan, Baekhyun memutuskan untuk duduk di depan saja. Di samping Chanyeol.
"Ah ya, jangan panggil aku Hyung. Aku tidak terbiasa dipanggil Hyung," ujar Chanyeol ketika mobil sudah berjalan menjauhi Club.
"Tapi kau lebih tua dariku," ujar Baekhyun.
"Bahkan Jongin yang lebih muda dua tahun dariku saja tidak memangggilku Hyung!"
"Hah? Jadi Jongin seumuran denganku? Tapi bagaimana bisa dia satu kelas denganmu?" tanya Baekhyun bingung.
"Itulah yang tidak kau tau. Dia ikut akselerasi, entah karena memang pintar atau hanya mau pamer saja!" balas Chanyeol.
Baekhyun mengangguk paham, pantas saja saat melihat Jongin rasanya tidak percaya kalau manusia yang satu itu adalah Sunbaenya. "Baiklah bagaimana kalau Chanyeollie?" tanya Baekhyun.
"Terserah kau saja," balas Chanyeol tersenyum. Well ternyata Chanyeol tidak semenyebalkan yang Baekhyun kira.
...
Jimin yang baru saja hendak keluar mencari keberadaan Baekhyun yang tidak kembali selama 20 menit, mulai panik. Namun langkahnya terhenti ketika melihat siluet dua orang sedang berjalan pelan. Dia mendongak, dan menemukan Chanyeol sedang berjalan beriringan dengan Baekhyun. Dan, lihatlah Hei, Chanyeol tersenyum melewati Jimin yang masih mematung di tempat. Chanyeol benar-benar tersenyum.
Jimin tersadar. Dia mengerutkan dahi bingung. "Itu tadi Chanyeol? Park Chanyeol anakku? Ya Tuhan, apa aku baru saja bermimpi?"
TBC
Yeay ch3 selesai. Hua semoga puas yah. Ini masih masa manis-manisnya Chanbaek. Aku sebenernya ga tega mau buat mereka jauh2an, tapi sebuah cerita gak akan lengkap tanpa adanya konflik azek. jadi tungguin aja yeth. Btw 14 besok aku ultah loh ga ada yang ngirim paket gitu? wkwk gakdeng becanda. staytune yah.
_baekhyunwife
