SWEET LIES
^ByunYuna^
Pairing:
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
Other cast:
Xi Luhan
Oh Sehun
Kim Jongin
Do Kyungsoo
Cast akan bertambah dengan sendirinya
^Warning^
Genre cerita Boys Love, Yaoi,
Terima kasih buat reviewnya ya.
Chalienbee04 Vflicka6104 polis
Happy enjoy Reading!
Note: Yang cetak miring itu Flashback yah
. . .
"Baek, bagaimana perasaanmu setelah lebih sebulan berada di Korea?" tanya Kyungsoo tiba-tiba, membuat Jongdae dan Baekhyun yang sedang memakan ramen mereka sontak menoleh ke namja bermata bulat itu.
Saat ini, ketiga orang itu sedang berada di dapur rumah seorang Kim Jongdae. Mereka malas pulang awal, jadi lebih baik ke rumah namja itu saja setelah pulang sekolah. Dan karena lapar, ketiganya memutuskan untuk memasak ramen instan yang didapatnya di kulkas, dengan Kyungsoo sebagai Chef dan Jongdae asisten Chef, serta Baekhyun sebagai penonton setia mereka berdua.
Baekhyun meletakkan sumpitnya, kemudian menegak setengah air mineral dingin yang Jongdae ambilkan tadi. Kemudian matanya menerawang ke depan sana. Benar kata Kyungsoo, sudah sebulan dia berada di Korea dengan kehidupan yang baru, sekolah baru, pergaulan baru, teman baru, dan ah ya jangan lupakan keluarga barunya.
"Aku merasa senang, Kyung." jawab Baekhyun sambil tersenyum. Kyungsoo ikut tersenyum dan menepuk pelan bahu sahabatnya.
"Syukurlah, Baek. Jujur aku mencemaskanmu tau. Apalagi sejak insiden Appamu itu, aku benar-benar takut kau akan berubah," ujar Kyungsoo pelan, namun Baekhyun merasakan ada raut kekhawatiran di nada suara sahabatnya.
"Ah soal itu. Jujur aku memang masih merasa sakit hati, tapi tenang saja, aku sudah memaafkannya kok. Tidak baik juga membenci orang lama-lama," balas Baekhyun.
"Emm, kalau aku boleh tahu, sebenarnya apa yang terjadi dengan keluargamu, Baek?" tanya Jongdae pelan. Dia hanya tak ingin menyakiti hati sahabatnya itu. "Ah kalau kau tidak mau juga tak masalah, aku tak memaksa." tambah Jongdae sambil tersenyum kemudian menyeruput kuah ramennya dengan penuh perasaan. Dia memang sayang dengan makanan, jadi menurutnya harus diperlakukan sebaik mungkin.
"Jongdae, jangan menanyakan hal itu!" seru Kyungsoo menatap tajam ke arah Jongdae yang memasang tampang cengonya.
"Ah tidak apa, Kyung!" sahut Baekhyun menenangkan sahabatnya itu.
"Tapi Baek..." ucapan Kyungsoo terputus karena Baekhyun langsung saja mendahuluinya.
"Appaku pergi tiba-tiba tanpa alasan yang jelas. Namun malam sebelumnya, aku memang mendengar kalau mereka tidak baik-baik saja. Entah karena apa, aku juga tidak tahu, Jong," ujar Baekhyun menerawang. Namja itu menahan napas. Dia ingat betul kejadian itu, dimana dia sendirilah yang menyaksikan pertengkaran hebat antara Appa dan Eommanya. Ah membayangkan hal itu membuat dada Baekhyun sesak. Dia menepuk dadanya kuat karena tak tahan sakit yang menyerang ulu hatinya.
Kyungsoo langsung panik dan berdiri dari kursinya dan menepuk pelan pundak namja pendek itu, kemudian menyerahkan air putih. "Baek berhenti! Bernapaslah!" ujarnya dengan suara kalut. Kemudian menepuk pelan pipi Baekhyun. Baekhyun tersadar, dan segera meraup udara sebanyak-banyaknya. Entahlah, dari dulu dia memang akan bertingkah seperti itu kalau sudah mengingat tentang Appanya.
Kyungsoo menatap tajam ke arah Jongdae. "Sudah kubilang kan jangan bertanya hal itu!" bentak Kyungsoo sarkastik.
Jongdae menatap lemah ke arah Baekhyun. "Baek, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu seperti ini." sesal Jongdae.
Baekhyun menggeleng. "Tidak Jongdae, aku saja yang terlalu terbawa perasaan. Santai saja. Aish, kenapa kalian jadi sedih sih?" tanya Baekhyun sambil tersenyum manis.
"Baek maafkan aku ne. Yaa! Kyungsoo, bicaralah, Aish aku sekarang benar-benar merasa seperti penjahat di sini!" ujar Jongdae sambil melirik Kyungsoo yang masih terdiam di belakang Baekhyun.
"Kyungie, sudahlah, aku tidak apa-apa kok!" seru Baekhyun.
Kyungsoo menghela napas panjang, kemudian namja itu duduk lagi di kursinya. "Maafkan aku, Jong." sesalnya karena sudah membentak Jongdae tadi.
"Maafkan aku juga, kyung," ujar Jongdae menunduk takut.
"Yaa! Kau itu kenapa sih? Kau seperti bukan Jongdae yang kukenal, ayolah santai saja Jong!" ujar Kyungsoo seraya memukul kuat kepala cowok itu dengan sendok nasi yang entah didapatnya darimana.
Jongdae mengaduh kesakitan. "Yaa! Burung hantu sialan kau mau otakku bergeser hah? Kalau otakku hilang separuh bagaimana? Kau mau tanggung jawab!" seru Jongdae menatap tajam ke arah Kyungsoo yang justru sedang nyengir kuda ke arahnya.
Baekhyun tertawa keras melihat tingkah kedua sahabatnya itu. Sementara Kyungsoo langsung ikut tertawa bersama Baekhyun. Alhasil suara tawa mereka menggema di seluruh sudut rumah Jongdae. Untung saja Mama Kim sedang tidak di rumah, kalau tidak, bisa-bisa dikiranya mereka sedang mengadakan konser di sini.
"Yaa! Berhenti tertawa sialan! Kalian tidak sadar hah, suara kalian bahkan menyamai teriakan fans EXO tau!" serunya ikut berteriak. Tuhkan sudah dibilang, suara mereka bertiga itu memang kelebihan nyaring.
"Jangan membawa EXO, sialan! Asal kau tahu saja, aku ini fanboy EXO garis keras! Kau tidak lihat wajahku ini mirip dengan salah satu personil mereka, yang tampan itu aduh siapa namanya? Ah iya BBH kalau tidak salah?" ujar Baekhyun senyam senyum tidak jelas.
"Yaa! Mengarang saja kau, jelas lebih tampan DO tau daripada BBH itu," balas Kyungsoo tak terima.
Jongdae memutar kedua matanya sebal, dengan sekali teriak dia langsung menghentikan perdebatan kekanakan antara Kyungsoo dan Baekhyun itu.
"Cuma CHEN seorang yang tampan, Paham Kalian!"
.
.
"Mwoya? Andwae! Aku tidak mau!" teriak namja itu seraya menatap tajam ke arah pria paruh baya di depannya.
"Tidak ada penolakan. Kau tahu, aku dan Appanya sudah berteman baik. Dan perjodohan kalian sudah direncanakan jauh hari!" ujar sang lelaki dengan tatapan tenang.
"Yaa! Apa-apaan itu. Appa tidak bisa seenaknya saja dong." balas namja itu masih saja berteriak.
"Sayang, dengarkan Appamu dulu ne?" ujar sang Eomma sambil mengusap lembut rambut sang anak.
"Tidak akan! Aku tidak mau!" masih dengan nada yang tinggi, namja itu makin menatap tajam ke arah sang Appa yang masih tersenyum tenang.
"Bukankah kau mencintainya?" sang Appa memancing.
Namja itu tersedak mendengar tuduhan Appanya, kemudian melirik penuh terkejut ke arah lelaki itu. "Kapan aku pernah bilang menyukai si Bodoh itu?" tanyanya penuh penekanan.
"Kau ini menurut saja kenapa sih?" ujar sang Appa sudah terpancing emosi. Lama-lama kesal juga dia dengan tingkah bebal anaknya itu.
"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mencintai si Bodoh itu. Asal tahu saja, aku sudah punya calon ku sendiri!" ujar namja itu penuh penekanan.
"Kau tidak bisa menolak. Nanti malam kita akan ke rumahnya, sekaligus membicarakan kapan tanggal pertunangan kalian!" final sang Appa sambil berlalu meninggalkan namja yang masih mematung di tempatnya itu.
"Sial!" teriak namja itu ikut pergi entah kemana.
.
.
Suara mobil berhenti di depan, membuat Baekhyun yang sedang duduk di sofa ruang tamu mendongak keluar. Dia bangkit dari duduknya dan mengecek ke depan sana. Siapa kiranya yang bertamu malam-malam begini. Sebuah mobil merah sudah terparkir rapi di halaman rumah seorang Park Jimin. Baekhyun mengerutkan dahinya, dia tidak mengenal siapa pemilik mobil ini. Namun setelah tiga orang keluar, barulah dia tahu siapa yang berkunjung.
"Luhan Hyung? Ah, Annyeong Tuan Xi," sapa Baekhyun tersenyum manis.
Tuan Xi terhenyak. "Ah jadi ini yang namanya Baekhyun? Pantas saja." pikirnya sambil tersenyum penuh arti. "Ah ya, kau Baekhyun bukan? Appamu ada di dalam?" tanya Tuan Xi.
"Appa? Ada di dalam. Silakan masuk, Tuan dan..." Baekhyun bingung meneruskan kata-katanya
"Ahjumma saja, sayang." balas Nyonya Xi tersenyum lembut.
"Ah nde, Ahjumma,"
Tuan dan Nyonya Xi langsung masuk ke dalam rumah, sementara Baekhyun dan Luhan masih tertahan di luar. Karena sama sekali tidak ada pergerakan dari Luhan yang masih mematung di tempatnya. Baekhyun melirik namja pendek itu dan melambaikan tangannya di depan Luhan.
"Hyung? Kau tidak mau masuk?" tanya Baekhyun menyadarkan keterdiaman Luhan.
"Eh? Ah iya, ayo masuk," balas Luhan ikut tersenyum manis dan menarik tangan Baekhyun untuk mengikutinya.
Di ruang tamu keluarga Park sudah ada Jimin dan Sunny yang sedang bercakap-cakap sambil sesekali tertawa hangat bersama keluarga Tuan Xi. Sangat akrab. Membuat salah satu dari dua namja itu memandang tak suka ke arah mereka. Baekhyun dan Luhan duduk berdampingan di sofa besar.
"Ah ya Jimin, dimana Chanyeol?" tanya Tuan Xi.
"Ah ya benar. Sebentar aku panggil dulu. Chanyeol? Park Chanyeol? Ayo turun, ada yang ingin Appa sampaikan padamu!" Teriak Jimin.
Tak lama, seorang namja tinggi muncul dari tangga. Dia menatap aneh ke arah bawah, kemudian terduduk di samping LuBaek.
"Ada apa ini? Tidak biasanya Tuan Xi datang ke sini?" tanya Chanyeol agak bingung. Sementara Baekhyun yang sama bingungnya hanya diam. Sementara Luhan, ah namja itu sibuk memainkan HPnya daritadi.
"Aku lupa belum memberi tahumu Chanyeol Em sebenarnya kedatangan kami di sini, untuk membicarakan tentang perjodohan kalian!" seru Tuan Xi melirik Chanyeol bergantian melirik Luhan.
Chanyeol lagi-lagi mengerutkan dahi bingung. Baekhyun masih dalam mode diamnya sama sekali tak paham kemana arah pembicaraan mereka semua. Dan untuk kesekian kalinya, Luhan menghela napas kasar dan membanting HPnya di sofa.
"Sebentar sebentar, maksud kalian apa? Perjodohan? Siapa dan kenapa?" tanya Chanyeol bertubi-tubi. Dia merasa seperti orang bodoh saat ini.
"Kami akan menjodohkanmu Chanyeol dengan Luhan!"
Hanya 6 kata, tapi sukses membuat kedua namja itu membulatkan mata karena terkejut. Kenapa hanya dua? Karena namja yang satunya sudah mengepalkan tangan daritadi.
"Apa? Mengapa? Bagaimana? Argh, apa-apaan semua ini!" teriak Chanyeol dengan suara meninggi.
"Aku kan sudah bilang aku tidak mau! Kenapa Appa memaksa sih?" tanya Luhan ikut berteriak.
"Diam Luhan!" balas Tuan Xi.
"Aku juga tidak mau, Appa!" teriak Chanyeol tak mau kalah.
Baekhyun yang notabenenya masih terkejut hanya bisa diam. Sebagian dari dirinya merasa tak senang mendengar kabar ini. Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain, sungguh, hatinya benar-benar terasa sesak. Mata namja pendek itu memanas tanpa alasan. Dia mengerjapkan mata, mencoba menahan sesuatu yang berlomba ingin terjun ke bawah.
"Kenapa tidak dicoba saja, Hyung?" seru yang muda tiba-tiba, membuat Luhan dan Chanyeol sontak melirik satu sama lain.
"Baek? Kau kan tahu sendiri kalau aku itu mencintaimu, bukan Chanyeol!" ujar Luhan frustrasi.
"Tapi kan ini demi kebaikanmu, Hyung!" balas Baekhyun masih dengan fake smile miliknya. Lama-lama, dia merasa jadi semakin ahli saja berbohong.
Chanyeol menatap tak percaya ke arah Baekhyun. Kemudian menatap tajam ke arah Jimin. "Bisa kau jelaskan alasan, kenapa aku harus menerima perjodohan sialan ini!" seru Chanyeol dengan suara tingginya. Sungguh, dia benar-benar tak menyangka Appanya bisa melakukan semua ini. Sebanyak itukah dosanya sampai-sampai harus menerima semua kenyataan ini?
"Alasannya hanya satu Chanyeol." ujar Jimin seraya melirik ke arah Sunny.
Sunny menelan ludahnya payah, jujur dia sungguh tak bisa. Tapi dia harus, karena seperti ucapan Tuan Xi tadi, perjodohan ini juga sudah direncanakan Jimin jauh-jauh hari.
"Chan? Kau tidak boleh menyukai Baekhyun!"
Hanya satu kalimat. Iya hanya satu kalimat yang keluar dari mulut Sunny, namun mampu membuat Chanyeol membeku di tempatnya. Sementara Baekhyun yang mendengar hal itu, juga hanya bisa terkejut. Apa benar Chanyeol menyukainya? Tapi, bagaimana bisa?
Chanyeol tak membalas ucapan Sunny. Dia justru pergi dari sana dengan tergesa. Tak berapa lama, suara deruman Mobil terdengar sampai ke ruang tamu. Suasana ruang tamu mendadak berubah sunyi. Luhan masih mengerjapkan mata mendengar pernyataan Sunny tadi.
"Baiklah Tuan Park, kita akan membicarakan hal ini nanti. Kami pamit pulang. Selamat malam!" ujar Tuan Xi membungkuk hormat kemudian menjabat tangan Jimin.
Setelah kepergian keluarga Tuan Xi, suasana di ruang tamu benar-benar mencekam. Satu dari mereka tak ada yang berbicara sama sekali. Sampai suara Baekhyun lah yang akhirnya memecahkan keheningan itu.
"Appa, Eomma, aku pamit ke kamar," ujar Baekhyun seraya melangkah gontai meninggalkan Jimin dan Sunny yang masih menatap kepergian Baekhyun dengan pandangan sulit diartikan.
. . .
"Chan? Kau tidak boleh menyukai Baekhyun!"
Kalimat itu masih berputar-putar di otak Chanyeol. Namja itu sedang berada entah dimana sekarang ini, yang jelas dia hanya duduk di atas rumput dekat sebuah danau. Chanyeol memeluk lututnya, kemudian menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong.
"Memangnya selama ini aku menyukai Baekhyun?" Chanyeol seolah bertanya pada dirinya sendiri.
Chanyeol PoV on
Malam itu, tepat sebelum aku benar-benar pergi dari rumah, mataku memandang jelas dua manusia yang berdiri di depan rumahku. Seorang wanita dan namja pendek yang sepertinya adalah anaknya. Ah aku tahu, mungkin itu wanita yang dimaksud Appa. Aku tidak begitu jelas memandang wajah bocah itu, karena sang wanita justru menutup matanya. Entah karena apa, padahal tidak ada adegan porno di depan sana! Ah lalu apa pula peduliku pada mereka. Dengan tergesa aku menjalankan mobil dan menjauh pergi dari tempat sialan itu.
Aku memutuskan untuk pergi ke salah satu Club milik temanku. Menghabiskan waktu semalaman di sana, berceloteh, dan melakukan apa saja yang membuatku melupakan sejenak semua ini. Bahkan tak jarang aku pulang disaat subuh. Jujur hanya tempat itu aku bisa tenang sekaligus menjernihkan pikiranku.
Entah waktu yang berlalu begitu cepat atau bagaimana, tidak terasa pagi sudah datang saja. Aku bergegas turun ke bawah, dan pandanganku jatuh ke arah wanita yang sedang menyiapkan makanan di dapur. Setahuku Appa tidak pernah memiliki pembantu semuda itu, lalu tiba-tiba lelaki itu muncul dan berkata kalau dia calon ibu tiriku. Persetan dengan itu, aku tak peduli. Aku memutuskan untuk sarapan saja. Lalu tiba-tiba seseorang muncul dari belakangku, seorang namja yang kuingat adalah anak dari calon istri baru Appa.
Aku mematung melihatnya, jujur padahal aku baru pertama kali bertemu, tapi sesuatu yang aneh berdesir di dadaku. Apa ini yang namanya cinta pandang pertama? Ah apa-apaan itu, aku bahkan tidak tahu apa itu yang namanya cinta.
Hari-hari berikutnya, entah kenappa aku merasa semakin tertarik dengan namja itu. Senyum bulan sabitnya, mata sipitnya, dan jangan lupakan bibir tipis yang menggoda itu. Astaga, aku benar-benar merasa gila setiap melihatnya menggigit bibir karena gugup atau dia memang mau menggodaku.
Entah kenapa ada rasa ingin melindunginya, bahkan aku marah-marah tak jelas hanya karena teman baruku memeluknya. Sungguh klasik sekali. Tapi aku benar-benar menghindarinya semenjak itu. Aku marah? Jelas! Aku kecewa? Entahlah. Namun semua persepsiku hancur hanya karena dia mendatangiku sore itu, dan hampir saja hal yang tidak diinginkan terjadi.
Hari berikutnya, dia kembali membawa wajah itu. Wajah putus asa, yang entah kenapa membuatku semakin yakin kalau aku harus melindunginya. Dia bercerita banyak dan aku tak tahu apakah aku salah bicara atau bagaimana, dia malah meninggalkanku dengan sebuah kalimat. "Kau sama saja dengan mereka, Chanyeol!"
Aku memutuskan untuk mengalah pagi itu dan melakukan apapun yang disuruhnya. Namun tak disangka justru dia malah menertawakanku, bahkan teman-temanku ikut tertawa bersamanya. Hell aku benci di posisi itu, aku langsung pergi dan enggan bicara padanya. Namun dia lagi-lagi datang padaku dan membuat seluruh pikiranku mendadak tak bisa dikontrol, dengan lancang aku langsung memeluknya erat seakan tak ingin melepaskannya barang sedetik.
Lihatlah? Siapa yang benar-benar jatuh ke dalam pesona seorang Byun Baekhyun, Chanyeol?
"Ternyata aku memang mencintainya!" lirih Chanyeol pelan, namja itu menutup matanya perlahan. Dia terlalu lelah memikirkan semua itu.
TBC
_Baekhyunwife
