SWEET LIES

^ByunYuna^

Pairing:

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

Other cast:

Xi Luhan

Oh Sehun

Kim Jongin

Do Kyungsoo

Kim Jongdae

Lee Taeyong

Cast akan bertambah dan berganti dengan sendirinya

^Warning^

Genre cerita Boys Love, Yaoi,

Terima kasih buat reviewnya ya.

Khakikira Spring921127

Happy enjoy Reading!

. . .

Baekhyun baru saja sampai di sekolahnya, namja manis itu tersenyum manis ke beberapa orang yang sedang menyapanya. Dia baru saja melangkah ke arah koridor yang lumayan ramai karena bel masuk mungkin sebentar lagi akan berbunyi.

"Baek, tunggu!" teriak seseorang. Baekhyun menoleh dan mendapati seorang namja sedang membungkuk dengan napas naik turun di depannya.

Baekhyun mengerutkan dahi, dia tak bisa melihat dengan jelas wajah namja ini. Baekhyun hendak ikut membungkuk, namun tak jadi karena namja itu lebih dahulu berdiri, dan sontak membuat Baekhyun hampir terjengkang karena terkejut dengan pergerakannya yang tiba-tiba.

"Yaa! Kau mau membunuhku hah!" hardik Baekhyun sambil menatap nyalang ke arah namja yang terkejut mendengar suara menggelegar Baekhyun.

"Aish kau mengejutkanku, tau. Aku minta maaf." ujarnya.

Baekhyun memutar kedua bola matanya malas."Cepat katakan apa maumu?" ujar Baekhyun malas.

Namja itu tak buru-buru menjawab, dia justru menyerahkan sebuah benda ke arah Baekhyun. Lama Baekhyun terdiam dengan sorot mata bingung, sebelum akhirnya menerima apa yang dipegang namja tadi. Baekhyun melirik aneh ke arah namja yang sedang menggaruk tengkuknya dengan senyum cangggung.

Dia menatap penuh selidik ke arah si namja, "Kau salah satu stalker-ku yah?" tanyanya penuh selidik seraya menunjuk wajah tampan namja itu.

Sontak saja namja itu menggeleng kuat-kuat, seraya meyakinkan Baekhyun bahwa tuduhannya barusan sama sekali tidak benar. "Aniyo, ku-kupikir semua orang menyukai susu stroberi?" balasnya.

Baekhyun menghela napas, kemudian menggedikan bahu. "Tidak semuanya tahu! Tapi tidak masalah, terima kasih Taeyong-ssi!" ujar Baekhyun seraya tersenyum sangat manis, membuat Lee Taeyong, siswa kelas X-B itu- samping kelas Baekhyun-tersenyum canggung dengan tangan bergetar.

"K-kau mengenalku?" tanyanya tergagap.

"Tentu saja. Itu papan namamu bukan?" ujar Baekhyun seraya menunjuk ke arah seragam Taeyong. Namja itu seketika tersenyum malu, dia pikir Baekhyun memang mengenalnya, tapi ternyata? Ah sudahlah.

"Ah kau benar, hehe." Taeyong tertawa canggung sambil menggaruk tengkuknya lagi (?)

Baekhyun mengangguk kemudian menyeruput sedikit susu stroberi yang Taeyong berikan tadi. Hal itu membuat namja yang satunya mendadak terdiam, dia tidak menyangka kalau Baekhyun mau menerima pemberiannya itu. Ah tidak sia-sia dia menyogok Jongdae kemarin untuk memberi tahu kesukaan Baekhyun. Terima kasih Jongdae! monolognya.

"Kalau begitu, aku ke kelas dulu, Baek." pamitnya yang cuma dibalas anggukan oleh Baekhyun.

Baekhyun masih menatap kepergian namja itu, dia menggedikan bahu dan hanya tersenyum seraya melangkah juga untuk sampai ke kelasnya.

"Penggemar baru?" sapa seseorang, membuat Baekhyun menoleh dan mendapati Kyungsoo sedang berjalan di sampingnya.

"Lama-lama, justru kau yang seperti Stalker, Kyung!" ujar Baekhyun tertawa hambar. Memang, dia daritadi tersenyum namun percayalah, hatinya sama sekali tidak sebahagia itu. Sudah kukatakan, dia semakin hari semakin pintar berbohong.

Kyungsoo hanya menatap malas ke arah sahabatnya itu. "Kau tidak takut apa kalau di dalam minuman itu ada narkobanya? Atau lebih parah lagi dia memasukkan racun? Yaa! Lain kali jangan seperti itu, Baek. Bisa saja dia berniat jahat padamu! Aish kau ini bagaimana sih!" seru Kyungsoo khawatir namun justru terlihat mengganggu dimata Baekhyun. Kyungsoo merebut dan segera memeriksa minuman yang dipegang Baekhyun.

Baekhyun menggerutu kesal dengan tingkah Kyungsoo barusan, dia segera merebut kembali miliknya lagi dan kali ini menghabiskannya dalam sekali tenggak. Baekhyun melempar bekas botol itu di tempat sampah depan kelasnya. Dia berdiri di depan Kyungsoo dan tersenyum sangat manis.

"Kalaupun dia berniat meracuniku, itu tidak masalah. Paling aku langsung mati bukan!" ujarnya sebal, kemudian berlari masuk meninggalkan Kyungsoo yang masih cengo di depan kelas sambil memahami ucapan Baekhyun tadi.

Kyungsoo tersadar dari lamunannya setelah suara bel berbunyi keras. Dia melirik ke arah Baekhyun yang sedang duduk diam di bangkunya. Kyungsoo mendelik.

"Apa dia baru saja bilang ingin mati tadi?" tanyanya bingung.

.

.

"Kau duluan saja, Baek. Aku dan Jongdae ada urusan sebentar," ujar Kyungsoo ketika Baekhyun mengajaknya ke kantin untuk istirahat. Baekhyun mengangguk, dan melihat tak ada respon dari Kyungsoo karena namja bermata bulat itu sibuk dengan bukunya, Baekhyun menyimpulkan kalau mereka memang tidak bisa diganggu saat ini.

"Yaa! Jongdae, jangan diam saja bodoh. Bantu aku mencari data ini!" seru Kyungsoo berang saat melihat Jongdae hanya bengong di bangkunya.

Baekhyun langsung keluar kelas dan segera menuju kantin, karena demi apapun, kalau urusan perut selalu harus dinomersatukan. Sejujurnya dia ada ulangan setelah ini, tapi dia lebih mementingkan makanan daripada belajar. Toh kalau dia makan juga tak akan membuatnya tidak lulus ulangan bukan?

"Baek? Sendirian saja? Kemana perginya dua penjagamu itu?" sapa seseorang.

Baekhyun bersyukur ada Luhan di sini, setidaknya dia ada teman untuk pergi ke kantin. "Ah iya Hyung, mereka sepertinya sibuk hari ini!" balas Baekhyun seadanya.

Luhan manggut-manggut. Kemudian matanya berbinar senang. "Makan denganku, ne?" tanyanya penuh harap. Baekhyun hanya mengerutkan dahinya bingung. "Aku yang traktir!" tambah Luhan.

Baekhyun tersenyum senang. "Dengan senang hati, Hyung!" balas Baekhyun tak kalah semangat.

Luhan dan Baekhyun berjalan beriringan menuju kantin, dengan senyum palsu di kedua wajah mereka berdua.

"Makan yang banyak, ne. Aku yang bayar semua, biar kau cepat besar!" ujar Luhan ikut menyumpit makanannya. Dia tersenyum senang melihat betapa lahapnya namja di depannya itu makan. Ah menggemaskan sekali, monolog Luhan.

"Akwu kwan swudhah bhesal Hyung!" balas Baekhyun dengan mulut yang masih penuh makanan.

"Yaa! Telan dulu makananmu, Baek. Kau bisa tersedak nanti!" seru Luhan berang.

"Akwu twidak, uhuk-uhuk, hoek!"

Luhan panik dengan sigap dia menyodorkan minumannya ke Baekhyun yang sedang memukul-mukul dadanya itu. Baekhyun langsung menegak air itu sampai setengah. Luhan segera pindah duduk di sampingnya.

"Aish kan sudah kubilang tadi, kau tidak percaya sih!" seru Luhan tegas. Kali ini ucapannya terdengar mutlak menurut Baekhyun, membuat namja itu menunduk takut.

"Aku minta maaf, Hyung," cicitnya pelan.

Luhan menghela napas pelan, "Lain kali jangan begitu lagi, ne? Kau membuatku jantungan tadi!" ujar Luhan pelan, namun masih terdengar jelas di telinga Baekhyun.

Baekhyun masih mencerna kalimat Luhan barusan. "Apa Luhan Hyung benar-benar menyukaiku? Tapi bagaimana dengan Chanyeol? Bukankah mereka sudah dijodohkan?" Baekhyun seolah bertanya pada dirinya sendiri. Dia jadi bingung sendiri dengan situasi ini.

"Kau kenapa?" ujar Luhan menyadarkan Baekhyun dari keterdiamannya.

Baekhyun tersadar, kemudian dia menatap Luhan. "Hyung? Apa kau sungguh-sungguh dengan ucapanmu?" tanya Baekhyun.

Luhan mengernyitkan dahi bingung, namun tak lama dia justru tersenyum dan mengacak gemas rambut pendek namja manis itu. "Tentu saja, kapan aku tidak serius denganmu?" tanyanya.

"Tapi, bukankah Hyung dan Chanyeol..."

"Baek, jangan bahas hal itu lagi. Kau kan tahu sendiri, aku sama sekali tidak menyukai si bodoh itu!" serunya tegas.

Baekhyun hanya mengangguk paham, dia tak ingin memancing emosi namja cantik itu lagi. Sepertinya dia sama kacaunya dengan Chanyeol. Buktinya sampai sekarang Chanyeol tak menampakkan wajahnya walau hanya sebentar. Entah kemana perginya namja itu, Baekhyun sendiri tidak tahu. Namun saat melihat si silver tadi pagi di parkiran, Baekhyun yakin kalau Chanyeol ada di sekolah saat ini.

Baekhyun baru saja ingin menanyakan keberadaan namja itu, namun beberapa seruan membuatnya berhenti di tengah jalan.

"Baek! Baekhyun! Yaa!"

"Yaa pelan-pelan, sialan! Kau daritadi menginjak kakiku tau!"

"Kau pakai sepatu, kalau kau lupa!"

"Tapi tetap saja kakiku sakit!"

Kyungsoo dan Jongdae berlari tergesa menuju ke arah Baekhyun dan Luhan. Napas kedua namja itu terdengar ngos-ngosan, bahkan Kyungsoo juga terlihat masih memakai kacamata belajarnya. Keduanya langsung duduk menetralkan napas mereka yang masih memburu.

"Chan chan Taeyong kelas ribut!" ujar Jongdae membuat Luhan dan Baekhyun mengernyitkan kening mereka. Bingung dengan ucapan Jongdae.

"Kau ini bicara apa sih?" tanya Luhan tak sabaran.

"Chanyeol dan Taeyong berkelahi, Baek, Sunbae! Sekarang mereka ada di ruang BK!" seru Kyungsoo saat napasnya sudah lebih teratur.

"MWO"/"APA!"

Tanpa babibu kedua namja itu langsung berlari sekuat mungkin, meninggalkan Kyungsoo dan Jongdae yang cengo menatap betapa lajunya lari kedua namja itu. Jongdae yang memang sedang haus berat, langsung menegak habis minuman milik Baekhyun yang baru saja datang.

"Bibi, apa makanan ini sudah dibayar?" tanya Jongdae.

"Iya sudah, tadi namja cantik itu yang membayar," balas Bibi penjaga kantin.

Mata Jongdae berbinar-binar. "Ah dewi fortuna, kau baik sekali. Kebetulan aku sedang lapar!" serunya langsung menyumpit makanan Baekhyun dan Luhan yang memang masih banyak di meja.

Kyungsoo memutar kedua bola mata jengah. Capek hati, jiwa, raga Kyungsoo melihat tingkah Jongdae ini, dia langsung saja meninggalkan Jongdae yang sibuk menghabiskan makanan milik Luhan dan Baekhyun. Hei tidak baik tahu membuang-buang makanan. Lebih baik masuk ke perutku. Lumayan, gratis! monolognya dengan senyum cerah.

.

.

"Bisa jelaskan apa yang terjadi pada kalian berdua? Lee Taeyong? dan kau, Park Chanyeol?" desis Yoona Ssaem selaku guru BK. Walaupun dia wanita, tapi percayalah, galaknya melebihi guru matematika Chanyeol sewaktu SMP dulu. Tatapannya saja membuat orang langsung keder.

"Tanyakan saja padanya!" ujar Chanyeol, sedikit meringis saat merasakan nyeri di sekitar sudut bibir kanannya.

Lain Chanyeol lain pula Taeyong, namja itu malah merasakan nyeri di sekitar wajahnya. Karena jujur pukulan Chanyeol tadi justru mengenai pipi kirinya, dan itu benar-benar menyakitkan asal kalian tahu.

"Memangnya aku melakukan apa, Sunbae?" tanya Taeyong bingung sambil memegang pipi kirinya, sungguh, ini benar-benar sakit.

"Tentu saja kau berniat jahat pada Baekhyun!" sergah Chanyeol, membuat Taeyong membulatkan mata dengan mulut menganga. Dia bingung dengan ucapan Seniornya itu.

"Kau sengaja menaruh sesuatu di lokernya bukan, mungkin saja itu narkoba dan nanti kau akan menuduh Baekhyun yang tidak-tidak lalu Baekhyun akan dikeluarkan dari sekolah!" tambah Chanyeol, yang membuat Taeyong semakin meringis dengan tuduhan palsu namja tinggi itu.

"DIAM!" bentak Yoona Ssaem sambil menatap tajam kedua namja yang sama-sama terluka di bagian wajah itu. "Apa benar Taeyong?" tanya Yoona menatap ke namja di samping kirinya.

"Tentu tidak, Ssaem. Aku mana berani melakukan hal sejahat itu, Sunbae. Aku benar-benar tidak melakukan hal seperti yang Chanyeol Sunbae bilang tadi!" bela Taeyong, jujur saja wajahnya sudah pucat pasi karena takut dengan tatapan mengintimidasi dari Chanyeol di depan sana.

"Tapi kau memasukkan sesuatu di sana! Yaa! Mengaku saja kau, bocah!" teriak Chanyeol membuat Taeyong menelan ludah. Mama tolong aku! teriaknya dalam hati.

"Apa kau bisa diam Tuan Park!" balas Yoona sengit. Jujur saja dia tak percaya dengan tuduhan Chanyeol tadi, mana mungkin siswa semanis Taeyong mau melakukan hal semacam itu.

"Sumpah, Ssaem aku sungguh-sungguh tidak berniat jahat dengan Baekhyun," ujarnya lagi kali ini dengan suara kalut. Sepertinya daritadi dia terus-terusan dituduh yang bukan-bukan. Apa salah Taeyong, Tuhan? monolognya

"Lalu bisa kau jelaskan apa yang kau lakukan tadi?" tanya Chanyeol berdecih.

"Aku-aku hanya memasukkan bunga di dalamnya," cicit Taeyong. "Kalau tidak percaya, Ssaem bisa memeriksanya sekarang juga."

Chanyeol dan Yoona terdiam. Lebih tepatnya Chanyeol yang mematung mendengar ucapan Hoobaenya barusan. Apa katanya tadi? Bunga? Tapi untuk apa? dan kenapa? Chanyeol sama sekali tak bergerak dari tempat duduknya. Pandangannya seakan mengabur untuk beberapa saat, sebelum suara Yoona Ssaem memecah keheningan.

"Ekhem! Jadi Tuan Park, apa ada masalah dengan semua ini?" tanya Yoona Ssaem.

Chanyeol lagi-lagi diam dengan tatapan sulit diartikan.

"Aku minta maaf, Sunbae!" ujar Taeyong pelan.

Chanyeol tak menjawab, dia memutuskan untuk keluar dari ruangan sialan itu. Iya, karena sudah membuatnya seperti orang bodoh, apalagi di depan Hoobaenya sendiri. Taeyong dan Yoona hanya menghela napas melihat kepergian namja tinggi itu. Lalu Yoona bergantian menatap Taeyong.

"Seharusnya kau juga tidak boleh seperti itu, walau tidak berniat jahat, tapi kalau kau melakukannya diam-diam orang pasti berpikir yang tidak-tidak. Jangan ulangi lain kali. Kau boleh pergi." ujar Yoona.

Taeyong mengangguk dan membungkuk hormat ke arah wanita itu. Taeyong menyesal. Cukup sekali saja aku berurusan dengan Park itu! tekadnya sudah bulat.

Lain dengan Taeyong, lain pula Chanyeol, sepertinya kesialannya tidak hanya di situ, baru dia melangkah keluar, wajah seseorang yang tidak ingin dilihatnya saat ini, muncul di depannya dengan raut wajah yang sulit diartikan. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Chanyeol berlalu menjauh dari kedua namja itu.

"Hyung, aku akan mengejarnya, ne?" Baekhyun berlari mengekor namja tinggi yang sudah jauh di depan sana. Luhan hanya mengikuti diam-diam dua orang itu.

. . .

Chanyeol berhenti berjalan, kemudian duduk di atas ranjang UKS sekedar menenangkan pikirannya yang bercabang kemana-mana. Namun saat melihat siluet seseorang di dekatnya, matanya yang semula terpejam mendadak terbuka dan menatap aneh ke arah samping. Baekhyun tengah berdiri menatapnya.

"Kenapa kau di sini?" tanyanya datar.

Baekhyun menunduk takut. "Kau terluka?" bukannya menjawab, dia justru menanyakan pertanyaan yang jelas sudah ada jawabannya.

"Kau tidak lihat?" balas Chanyeol enggan membuka matanya.

Baekhyun mengangguk dan langaung berlalu dari sana. Chanyeol hanya mengintip, dan memejamkan matanya lagi. "Kalau dia khawatir, kenapa dia lari?" tanyanya pada diri sendiri.

Namun tak sampai dua menit, Baekhyun kembali lagi ke sana, namun kali ini bersama kotak P3K di tangannya. Chanyeol membuka matanya lagi, dan menatap bingung ke arah Baekhyun. Suasana UKS memang sepi, hanya ada Chanyeol, Baekhyun dan seorang penjaga UKS yang sibuk dengan kegiatannya di meja sana.

"Kenapa kau kembali?" tanyanya sarkastik.

"Aku akan mengobatimu," balas Baekhyun tak memperdulikan nada angkuh Chanyeol. Dia membuka kotak itu, mengambil kapas dan alkohol serta beberapa benda yang diyakininya bisa mengobati Chanyeol.

Chanyeol berdecih. "Percuma saja, aku tak akan sembuh dengan semua itu!" balasnya kini duduk diatas ranjang dengan tangan bersedekap.

Baekhyun menatapnya bingung. "Lalu aku harus mengobatimu dengan apa?" tanyanya putus asa.

Chanyeol tersenyum miring seraya melirik ke arah Baekhyun yang sedang mengerjapkan matanya itu. "Tentu saja dengan bibirmu!" ujar Chanyeol langsung menarik tengkuk Baekhyun, membuat namja mungil itu refleks memeluknya.

. . .

"Kau ketahuan!" ujar suara seseorang mengejutkan Luhan yang sedang mematung di depan UKS dengan mata yang sedaritadi melirik ke arah ranjang.

"Ck! Kenapa kau ada di sini?" tanya Luhan malas, Sehun hanya tersenyum.

"Harusnya aku yang tanya padamu, apa yang kau lakukan di sini? Mengintip orang yang sedang berciuman?" ujar Sehun.

Wajah Luhan memerah. "Diam kau sialan!" hardiknya.

Sehun hanya tersenyum dan menarik Luhan menjauh dari sana. "Kau sangat manis kalau sedang cemburu," ujarnya.

Luhan berhenti berjalan, dia menatap dalam ke arah Sehun. Kemudian namja cantik itu memegang tangan Sehun. "Sehun, Pacaran denganku, yuk?" ujar Luhan.

Sehun mematung mendengar ucapan namja di sampingnya. Apa Luhan baru saja menembakku? Tapi bagaimana bisa? Dan lagi, seharusnya posisi menembak itu dirinya bukan Luhan? Eh? Sehun kau mikir apa sih?

"Diam, kuanggap iya!" final Luhan dan langsung menggandeng tangan Sehun sambil tersenyum manis.

Jongin yang sedang lewat, tak sengaja melihat objek WAW di depannya langsung terdiam beberapa saat. Matanya masih asyik memandang ke arah dua manusia yang saling bergandengan di depan sana. Dan omong-omong, dia yakin betul kalau kedua manusia itu sudah jelas adalah sahabatnya.

"Dunia semakin aneh!" ujarnya.

Biarkanlah Jongin adu argumen dengan pikirannya sendiri. Susah memang berhadapan dengan orang yang mempunyai IQ jongkok, seperti Kim Jongin.

TBC

Makin tidak jelas ini cerita. Keep voting aeris, biarkan saja antis berkarya mereka memang bangsat jadi nggak usah heran.

_Baekhyunwife