SWEET LIES

^ByunYuna^

Pairing:

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

Other cast:

Xi Luhan

Oh Sehun

Kim Jongin

Kim Minseok

Wu Yifan

Cast akan bertambah dan berganti dengan sendirinya

^Warning^

Genre cerita Boys Love, Yaoi,

Terima kasih buat reviewnya ya.

Qwerty chalienBee04

Happy enjoy Reading!

. . .

Luhan menghentikan laju mobilnya di depan gerbang sebuah bangunan lumayan megah, matanya melirik kiri dan kanan lalu berhenti tepat gerbang yang masih tertutup. Dia melirik HPnya dan memastikan kalau alamat yang Sehun kirimkan tadi benar, pasalnya bukan menemui sebuah Apartemen atau apalah, dia malah berada di sini. Ya, di depan rumah teman lama Appanya. Tuan Oh.

Pagar terbuka lebar, seorang berbadan tegap sedang berdiri menatap ke arah Luhan. Luhan pikir Ajusshi ini pasti tidak mengenalnya karena bisa dibilang ini pertama kalinya dia pergi ke rumah Tuan Oh tanpa adanya sang Ayah.

"Masuk saja, Tuan Sehun ada di dalam," ujarnya menyadarkan lamunan Luhan.

"Ah, nde Ajusshi!" seru Luhan seraya mengikuti langkah lelaki itu. Dia membuka pelan pintu rumah dan mulai masuk ke dalam Mulutnya tak henti menganga ketika melirik seisi ruang tamu. Berbagai macam lukisan terpampang, belum lagi interior di rumah ini sangatlah mewah. Luhan pikir Tuan Oh memang orang yang mempunyai daya seni tinggi.

"Mengaggumi rumahku?" tanya seseorang, membuat Luhan menoleh dan mendapati Sehun sedang berdiri di belakangnya. Luhan melirik ke arah namja yang sedang memakai pakaian santainya.

"Kau tampan kalau berpakaian seperti itu," jawab Luhan tidak nyambung dengan pertanyaan Sehun barusan. Sehun terdiam, dia melirik ke arah lain guna mengalihkan perhatian dari namja cantik di depannya, yang kini asyik berceloteh mengenai pigura keluarganya. Sial! Ada apa dengan jantungku? pikir Sehun.

Luhan mengambil sebuah bingkai foto, kemudian berdiri di dekat Sehun, namja itu melirik foto yang dibawanya, kemudian menyandingkannya di samping Sehun. Bibir tipisnya komat-kamit, entah apa yang dia bicarakan, Sehun sama sekali tidak paham.

"Aku tidak mengerti, kenapa bocah ingusan di foto ini bisa berubah menjadi setampan kau? Jangan-jangan kau operasi wajah yah! Atau kau sering meminum darah sehingga kau bisa setampan ini?" tuduh Luhan seraya memencet hidung Sehun berkali-kali, lalu kemudian ikut memencet hidungnya. Sungguh suatu keanehan yang HQQ.

Sehun memegang lengan namja itu. "Apa kau tidak bisa membedakan mana yang operasi dan yang mana perawatan? Dan satu hal, kau pikir aku Vampire?" tanyanya sarkastik.

Luhan memutar kedua bola matanya kesal. "Aku hanya bercanda, bodoh. Dari kecil juga kau sudah tampan, aku saja yang tidak menyadari!" seru Luhan jujur. Sehun mematung di tempat mendengar penuturan namja itu

"Ada apa?" tanya Sehun mengalihkan pembicaraan, jujur dia juga penasaran kenapa Luhan tiba-tiba menelponnya dan meminta bertemu. Pasti ada yang tidak beres dengan namja cantik itu.

Luhan tersadar, dia juga hampir lupa kalau tadi sedang dalam mood buruk. Luhan menatap Sehun, yang ditatap hanya diam dengan berbagai macam pertanyaan yang ada di kepalanya. Berapa tinggi Luhan? Apa makanan favoritnya? Warna kesukaannya? Ukuran kaki... Yaa! Sehun berteriak dalam hati. Kenapa pula aku jadi tidak konsen begini, tenang Sehun tenang. Monolognya menghela napas.

"Em Sehun, apa kita bisa membicarakan hal ini di kamarmu?" tanya Luhan memecah keheningan.

Kamarku? Apa yang akan dilakukannya di kamarku? Apa dia mau menggodaku? Lalu kami akan... Yaa! Otak sialan! Tidak bisakah kau berpikir waras untuk saat ini! Teriak Sehun dalam hati. Jujur dia bingung kenapa pula dia menjadi seperti ini, hanya karena seorang namja cantik bernama Luhan.

Luhan melambai-lambaikan tangannya di depan namja tinggi itu. "Kau mendengarku?" tanya Luhan bingung.

Sehun tersadar dan melirik Luhan. "Eh ya boleh saja," balasnya.

Luhan mengangguk dan mengekor Sehun yang sudah berlalu di depannya, namun pertanyaan Luhan malah membuat Sehun beku di tempat.

"Ah ya sebelumnya, apa aku boleh membawa pulang foto bocah tampan ini?"

. . .

Sehun membuka pintu kamarnya, kemudian menyuruh Luhan untuk ikut masuk ke dalam kamar namja itu. Sehun duduk di atas ranjang, matanya sedang mengawasi Luhan yang sibuk berkeliling di seluruh sisi kamarnya. Well, Sehun sepertinya ini akan jadi acara tour Luhan di dalam kamarmu. batinnya.

"Aku tak menyangka ternyata kau itu anak Tuan Oh, karena aku tak pernah memandangmu sekalipun, ya kecuali foto jelek bocah ini!" ujarnya seraya melambai-lambaikan foto masa kecil Sehun di depan wajah namja tampan itu.

Sehun meringis. Cobaan apalagi ini pikirnya. "Tentu saja, aku kan tidak tinggal di sini. Dari dasar juga aku sudah tinggal di China, dan setelah Senior barulah Appa menyuruhku untuk lanjut di Korea," ujar Sehun menerangkan.

Luhan manggut-manggut paham, dia ikut duduk di samping Sehun. Kini kedua namja itu hanya terdiam, sebelum Sehun berdehem membuat Luhan tersenyum canggung dan agak menggeser posisi duduknya yang memang sedikit mepet ke Sehun. Tidak, dia bukannya ingin modus, dia hanya refleks tadi.

"Ayo ceritakan," ujar Sehun seraya duduk menghadap ke arah Luhan langsung.

Luhan menghela napasnya, oh sial dia kembali mengingat perkataan Baekhyun sewaktu di Perpustakaan sekokah tadi. Hatinya benar-benar kecewa ketika mendengar ucapan namja yang entah sejak kapan mencuri hatinya itu.

"Ternyata dia memang tidak mencintaiku, Sehun!" seru Luhan.

Sehun menganga. Tunggu dulu. Mencintaiku? Siapa dia dan apa maksudnya. Sehun tidak paham sama sekali dengan ucapan Luhan. "Bisa kau jelaskan dari awal, Lu? Aku benar-benar tak mengerti siapa yang kau maksud?" tanya Sehun pelan.

Luhan melirik namja yang sedang mengerutkan dahi di depannya. Luhan tersadar, benar juga apa kata Sehun dia kan tidak tahu siapa yang dibicarakan Luhan saat ini. Jadilah, Luhan pun menceritakan dari awal semuanya-tidak termasuk tentang perjodohan dirinya-tanpa ada tambahan cerita ataupun efek dramatis lainnya. Entah kenapa dia bercerita begitu lancar, sampai Sehun rasanya tak ingin menyuruh namja itu berhenti barang sebentar. Ya bukan karena mendengar cerita Luhan, tapi karena fokusnya malah ke wajah cantik namja itu.

"Jadi kau memang mencintai Baekhyun? Tapi Baekhyun tidak mencintaimu? Lalu Baekhyun mencintai siapa? Lalu kenapa pula aku yang bingung?" tanya Sehun dengan wajah tanpa dosa.

Luhan memukul kuat kepala namja itu. "Sudah kubilang kalau Baekhyun mencintai Chanyeol, bodoh! Otakmu di mana sih? Di bokongmu? Sudah kubilang jangan terlalu sering bergaul dengan Jongin, nanti kau ikutan goblok!" ujar Luhan frustrasi. Mendadak saja Jongin yang sedang mengayuh sepeda terbatuk tanpa alasan yang jelas. Poor Jongin.

Sehun hanya cengengesan dan mengangguk, lalu tatapannya kembali berubah serius. Dia melirik Luhan sebentar, lalu di membenarkan posisi duduknya dan menjatuhkan tubuhnya ke kasur, dia menahan kepalanya dengan tangan. Luhan hanya diam memandang Sehun yang sudah berbaring dengan tatapan lurus ke depan sana.

"Kau tau, Lu. Terkadang aku juga seperti itu, marah saat melihat seseorang dekat dengan orang lain, sementara statusnya kami saat itu sedang pacaran." seru Sehun tidak nyambung.

Luhan mendelik tajam namja itu, kemudian mendekat ke arah Sehun yang sedang memejamkan matanya. "Kau menyindirku, ya? Jadi kau cemburu kalau aku dekat dengan Baekhyun?" tuding Luhan seraya menunjuk tepat wajah namja itu, membuat Sehun langsung membuka lebar matanya, namun tak lama tatapannya berubah sendu.

"Kurasa begitu," ujarnya pelan.

Luhan terdiam, dia belum pernah merasakan hal aneh, terutama dengan orang lain. Dia menundukkan wajahnya, membuat Sehun panik dan buru-buru bangkit dari tidurnya dan langsung memegang pundak namja cantik itu.

"Aku hanya bercanda, jangan kau ambil hati ucapanku, ayo bicara sesuatu, Lu!" seru Sehun panik kali ini mengguncang-guncangkan tubuh Luhan.

Luhan mengangkat wajahnya dan menatap dalam ke arah Sehun. "Apa kau benar-benar mencintaiku, Sehun?" tanyanya.

Sehun mematung, dia tidak menyangka kalau Luhan akan menanyakan hal keramat itu. Kalau sudah begini, dia mana bisa bohong lagi. "Kalau kujawab iya, apa kau akan memukulku?" tanya Sehun.

Luhan terdiam. Lalu pandangannya dialihkan ke arah meja belajar namja itu yang banyak berisi buku-buku tebal. "Kupikir kau hanya kasihan melihatku hari itu, jadi kau berusaha menolongku dengan menerimaku, tapi kurasa aku salah denganmu," balas Luhan.

Luhan terkejut saat dua buah tangan kekar memeluknya dari belakang, tubuh namja cantik itu menegang saat merasakan hembusan napas di sekitar lehernya. Sehun mengeratkan pelukannya, lalu berbisik pelan ke telinga Luhan.

"Apa kau berpikir sedangkal itu? Mana mungkin aku membiarkan orang yang kusayang sendirian, mulai sekarang jangan pernah anggap aku hanya pelarianmu, Lu. Belajarlah menerimaku!" ujar Sehun pelan. Kali ini kepalanya dibiarkan bersender di bahu namja itu.

"Akan kucoba." balas Luhan. "Tapi, aku tidak sepenuhnya melupakan Baekki-ku tentunya," ujar Luhan dengan senyum miring di wajahnya. Sehun hanya tersenyum dan mengacak gemas rambut kekasihnya itu. Well, setidaknya dia sudah punya kekasih tetap kali ini.

Sehun berhenti mengacaukan rambut Luhan saat namja itu merogoh kantong celananya. Luhan hanya komat-kamit tak jelas, Sehun memandang penuh tanya ke arah namja cantik itu, kemudian dia melirik ke arah Luhan yang ikut menatapnya.

"Well, sepertinya kau akan menginap di sini Tuan Xi, karena Appamu sedang berada diluar negeri dengan Appaku," ujar Sehun.

Luhan mengernyitkan dahi bingung kemudian memberikan tatapan penuh tanya ke arah Sehun. Ingin rasanya Sehun mengatakan, "Oh lihatlah betapa cantiknya kau saat bingung, Lu!" namun tak jadi, karena dia sudah pernah mengatakan hal itu, dan bukannya merona, Luhan malah menjabat tangannya dan mengucapkan selamat.

Otaknya dibuat berpikir, hingga sebuah ide melayang di pikirannya. Sehun menaiki ranjang King Sized miliknya, dia berbaring kemudian melirik ke arah Luhan yang sedang diam di depan sana dengan wajah polos.

"Apa?" tanya Luhan.

"Kau tidak mau tidur denganku, sayang?" tanya Sehun menepuk ruang kosong di sampingnya sambil menaik turunkan alisnya seraya memberikan tatapan penuh arti ke arah namja itu.

Luhan merasakan pipinya memanas, namja cantik itu mengepalkan tangannya. "Mati saja kau Oh Sehun!" teriaknya.

Sehun hanya tertawa kencang di atas tempat tidur sambil melirik ke arah Luhan yang masih menyembunyikan rona merah di kedua pipinya. Yah, setidaknya Sehun adalah satu-satunya orang yang berhasil membuat wajah seorang Xi Luhan memerah sempurna, karena malu.

.

.

Chanyeol menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri seperti orang tidak punya kerjaan. Dia melirik jam tangannya, sudah pukul 8 malam dan dia sama sekali tak bergerak dari sebuah kafe, sejak namja itu memutuskan membolos dan berakhir di kafe apa namanya dia pun tak sempat melirik papan nama kafe di depan sana. Sudah 8 jam dia di sini, dan sama sekali tak berniat pergi, padahal beberapa pelanggan sudah risih melihat seorang anak sekolah di jam seperti ini. Chanyeol yang mendapat tatapan itu hanya membalas acuh ke arah mereka.

Chanyeol merogoh kantong HP-nya, menekan sesuatu di sana dan berakhir berdiri dari bangkunya. Namja itu berlalu dari kafe dan membawa tubuhnya entah kemana, yang jelas dia tak ingin pulang ke rumah untuk hari ini.

"Tumben mengajakku ke Club, Chan?" tanya Jongin bingung saat keduanya sudah sampai di Club milik Appa Luhan itu.

"Hanya ingin saja," balas Chanyeol acuh. Jongin tak ingin menanyakan lebih lanjut dan memilih untuk mengikuti langkah namja tinggi itu. Mereka berdua langsung duduk di salah satu bangku yang sudah diisi oleh Yifan dan Minseok yang entah sedang mengobrolkan hal apa. Ah ya, Yifan dan Minseok itu sudah kuliah jadi mereka memang sering ke situ.

"Chan? Berdua saja, mana Luhan?" tanya Yifan sambil meminum Birnya.

Chanyeol tak menjawab, dia justru ikut menenggak setengah minuman yang Yifan pesan bersama Minseok saat mereka sampai. Mata Chanyeol menatap lurus ke depan sana, kemudian kembali menenggak habis sebotol bir itu. Yifan menatap aneh ke arah namja tinggi itu, Minseok sudah berhenti minum lalu pandangannya dialihkan ke arah Jongin yang mematung di samping Chanyeol.

"Yaa! Kau kenapa, bodoh!" teriak Minseok sambil merebut sebotol bir yang sedang Chanyeol pegang. Kemudian menyembunyikan di belakang tubuhnya.

Chanyeol tak menyerah dia balik meraih botol lain yang ada di depan Jongin dan menenggaknya dengan rakus. Minseok dan Yifan membulatkan matanya. Jongin sudah benar-benar panik sekarang. Dia benar-benar tak mengerti dengan sahabatnya itu.

"Chan kau sudah gila!" teriak Yifan kali ini seraya merampas botol itu dan melemparkannya hingga pecah, membuat beberapa pengunjung melirik aneh ke arah empat namja itu. Minseok buru-buru minta maaf dan mengatakan mereka tidak apa-apa.

"Dimana otakmu itu, Hah!" tanya Yifan berang. Dia tahu betul, Chanyeol sama sekali tidak bisa minum. Tapi kenapa hari ini dia nyaris menghabiskan dua botol? Astaga, apa yang ada dipikiran anak ini! batinnya tak habis pikir sama sekali.

Bukannya marah, Chanyeol justru tertawa hambar dengan tatapan sendu, membuat Yifan dan Minseok yakin kalau namja ini benar-benar kehilangan akalnya. Jongin? Dia benar-benar sudah ketakutan di samping Chanyeol, bahkan dia menggigit kuku resah. Haruskah dia menelpon tuan Park? Tapi dia juga tak mau di salahkan dalam hal ini.

Chanyeol menjatuhkan kepalanya di atas meja, kemudian mulai tersenyum lagi seperti orang gila. "Aku menyukainya!" serunya parau.

"Tapi mereka bilang, aku tidak boleh menyukainya!" tambahnya masih dengan nada yang sama.

Minseok, Yifan dan Jongin hanya terdiam mendengar ucapan namja itu. Karena bingung harus berbuat apa, maka Yifan langsung mencoba menghubungi Luhan agar segera datang ke sini.

"Aku bilang aku menyukainya, tapi dia terlalu bodoh untuk melihatnya!" teriak Chanyeol lagi, kali ini dengan mata yang berkaca-kaca. Yifan menelan ludah, selama bertahun-tahun dia berteman dengan Chanyeol, dia sama sekali belum pernah melihat wajah putus asa dari namja itu. Ketiga namja itu benar-benar bingung, mereka tidak tahu harus melakukan apa.

Yifan menepuk pipi namja itu, namun bukannya sadar Chanyeol malah beranjak hendak mengambil sebotol bir yang membuat Minseok panik dan langsung saja menarik tubuh namja itu dan membawanya ke sofa di belakang mereka. Jongin ikut berjongkok di samping Minseok.

"Hyung, apa yang terjadi padamu?" tanya Jongin kali ini dengan embel-embel Hyung.

Chanyeol melirik Jongin sebentar, kemudian kembali tersenyum sendu "Aku mencintainya, Jong. Sungguh! Aku benar-benar mencintainya! Kau percaya padaku kan, Jong?" ujarnya lagi, kali ini air mata benar-benar terjun bebas di kedua mata namja tinggi itu. Dan mendadak Jongin ikut terisak melihat keadaan Chanyeol yang sangat kacau. Jongin menekuk lutut dan ikut terisak dengan wajah yang disembunyikan di antara tangannya.

Yifan dan Minseok semakin kebingungan dengan kondisi ini, ditambah lagi Jongin yang ikut menangis malah memperburuk keadaan saja.

Namun beruntunglah, 15 menit kemudian Luhan sampai diikuti oleh Sehun dan seorang namja mungil yang memakai pakaian tidur tanpa memakai alas kaki. Ketiga orang itu langsung buru-buru masuk ke dalam dan nyaris memekik saat melihat keadaan Chanyeol yang sudah tak layak pandang. Mata memerah, rambut dan baju yang acak-acakan serta tatapan putus asa itu.

"Chanyeollie!" pekik Baekhyun langsung menghampiri namja tinggi itu.

"Baek? Kaukah itu? Apa aku bermimpi?" tanya Chanyeol tanpa mengalihkan perhatiannya sedikitpun dari wajah khawatir di depannya itu.

"Apa yang terjadi? Kenapa denganmu brengsek!" teriak Luhan berang, Sehun sudah menarik lengan namja itu agar tak berbuat macam-macam, apalagi saat ini mereka sudah jadi tontonan gratis oleh pengunjung Club.

Chanyeol diam saja, kemudian memeluk erat Baekhyun. "Baek. Aku mencintainya, tapi mereka malah melarangku!" adunya seperti anak kecil. Baekhyun tidaklah bodoh untuk memahami maksud perkataan Chanyeol, namun dia tak mau memikirkannya saat ini yang terpenting adalah membawa Chanyeol pulang.

"Chanyeollie? Kita pulang, ne?" ajak Baekhyun pelan.

Chanyeol melepaskan pelukannya dan melirik ke arah Baekhyun, kemudian namja itu mengangguk pelan. Yifan dan Minseok bernapas lega, kedua namja itu membantu Chanyeol berjalan ke arah mobilnya. Luhan menyuruh Jongin untuk menyetir, sementara dia dan Sehun akan mengiring dari belakang. Jongin mengangguk dan langsung mengambil alih stir mobil Chanyeol.

.

.

"Pelan-pelan, Jong," ucap Baekhyun kemudian mengalungkan tangan Chanyeol di lehernya, Jongin hanya mengangguk. Luhan dan Sehun memutuskan untuk pulang karena Jongin bilang dia akan jalan kaki saja atau meminjam sepeda Chanyeol untuk pulang ke rumahnya.

Ketiga namja itu masuk pelan-pelan berharap langkah mereka tak terdengar, namun tiba-tiba Chanyeol menggeliat dalam kungkungan keduanya, membuat ketiga orang itu jatuh serentak. Karena suara yang cukup keras, Jimin dan Sunny terbangun dan membelalakkan mata saat melihat ketiga namja yang sedang mencium lantai itu.

"Apa yang terjadi! Astaga, kenapa dengan kalian!" teriak Jimin membuat Jongin dan Baekhyun diam di tempat. Rencana mereka ingin masuk diam-diam seketika gagal. Salahkan saja badan Chanyeol yang berat pikir Baekhyun.

Chanyeol bangkit dari jatuhnya, namja tinggi itu mengacak rambut kemudian meringis saat merasakan kepalanya berdenyut-denyutz seperti dihantam balok kayu. Dia melirik ke arah Jongin dan Baekhyun yang masih diam karena takut melihat tatapan tajam Jimin.

"Bau apa ini? Siapa yang minum alkohol?" tanya Jimin seraya mengenduskan hidungnya. Matanya semakin terkejut ketika tahu, Chanyeol lah sumber bau itu.

PLAK!

Jongin meringis, Baekhyun menutup matanya, sedang Sunny berusaha menenangkan Jimin. Chanyeol memegang pipi kanannya yang memerah, dia balas menatap tajam ke arah orang yang sudah berani melayangkan tamparan ke wajahnya.

"Apa maumu Hah! Tidak bisakah sekali saja kau menurutiku Chanyeol!" tanya Jimin, kali ini nada bicaranya naik dua oktaf.

"Seharusnya aku yang bertanya, apa maumu!" balas Chanyeol tak kalah teriak, membuat Jimin benar-benar tak tahan untuk membunuh anak ini.

"Jangan membentakku! Dasar anak kurang ajar!" teriaknya kali ini diiringi tamparan untuk yang kedua kalinya. Baekhyun terisak melihat hal itu, hatinya benar-benar semakin sedih. Sunny langsung memeluk tubuh kecil namja itu dan menenangkannya pelan-pelan.

"Kapan kau berhenti egois padaku! Memang kau pernah peduli padaku? Tidak pernah kalau kau lupa! Tidak cukupkah kau menyakitiku hah! Dan sekarang kau malah membuat perjodohan sialan itu! Apa sebenarnya yang kau inginkan? Kau mau membunuhku pelan-pelan?" tanya Chanyeol dengan mata berkaca menahan amarah untuk tak melayangkan pukulan ke wajah Appanya.

Jimin hanya diam, begitupun dengan Sunny. Baekhyun masih menyembunyikan wajahnya di tubuh Sunny, dia benar-benar tak tega untuk memandang wajah Chanyeol. Jongin menunduk diam, mau pergi juga dia tak enak hati, tapi mau bagaimana lagi dia sudah terlanjur ada di sini dan mendengar semuanya.

"Sudah kukira kau tidak akan bisa menjawabnya! Aku pergi, jangan pernah mencariku! Ayo Jong!" seru Chanyeol seraya menarik tangan Jongin, sementara namja itu langsung mengikuti langkah besar Chanyeol di sampingnya.

Jimin meremas rambutnya kemudian terduduk di lantai dengan pikiran berkecamuk. Sunny melepaskan pelukannya dari Baekhyun dan segera menghampiri Jimin.

"Sebegitu bencinya kah kau dengan Appa Chanyeol? Maaf Chanyeol, Maaf!" batin Jimin saat mendengar suara mobil melaju di depan sana.

TBC

Huaaaa Ini Chap terpanjang yang pernah gue tulis aslian, gue makin ngerasa ini cerita makin ga jelas. Btw gue ngerasain banget jadi ceye di sini. Sabar yah papih siwaykuh, mamih baek selalu nungguin kok.

_Baekhyunwife