SWEET LIES

ByunYuna

Pairing:

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

Other cast:

Xi Luhan

Oh Sehun

Kim Jongin

Do Kyungsoo

Kim Jongdae

Cast akan bertambah dengan sendirinya

^Warning^

Genre cerita Boys Love, Yaoi,

Terima kasih buat reviewnya ya.

chalienBee04: Ceye is my style yeah.

Aisyah1: tenang aja itu cuma efek kisseu *plak gakdeng ceye cuma kecapekan kok

hyunie86: ceye ga papa sayang dia cuma lelah hehe

khakikira: ayo tebak kelanjutannya apa?

Happy enjoy Reading Gaes!

Note: bagian yang bercetak miring itu berarti flashback

.

.

"Chanyeol!" Baekhyun yang tadinya berlalu dengan perasaan kesal mendadak berbalik arah dan berteriak ketika mendengar suara gedebuk yang cukup keras, yang tak lain adalah Chanyeol sendiri. "Chanyeol, hiks bangun! Appa! Eomma! Chanyeollie hiks," Baekhyun berteriak kuat sambil sedikit terisak, sedang namja yang ditangisinya masih diam tak bergerak.

Jimin dan Sunny yang mendengar pekikan anaknya seketika langsung berlari ke depan rumah. Jimin membulatkan matanya saat melihat objek di depan sana. Tak lagi, dia langsung berlari mendekat disusul Sunny yang ikut terkejut ketika tahu Baekhyun sudah menangis di depan mobil, yang tak lain adalah mobil namja yang sudah tiga hari tidak menampakkan batang hidungnya barang sedetik di rumah mereka.

"Chanyeol! Apa yang terjadi dengan Hyungmu, Baekhyun?" tanya Jimin seraya mengecek keadaan anaknya yang masih berada di pangkuan Baekhyun. Namja itu masih sesenggukan seperti anak kecil.

"Hiks, aku tidak tahu, Appa!" balas Baekhyun kembali menangis. Jimin memijit kepalanya, kemudian dia langsung mengambil alih tubuh Chanyeol dan meminta bantuan salah satu sopir pribadinya untuk mengangkat anaknya itu.

Baekhyun memeluk tubuh Sunny erat, menenggelamkan wajahnya di leher sang Ibu. Namja itu terus menangis, entah apa yang ditangisinya, yang jelas dia takut terjadi apa-apa dengan Chanyeol. Sunny menarik paksa namja mungil yang masih memeluknya itu untuk masuk. Sambil mengusap pelan pundak anaknya, Sunny beberapa kali mengucapkan kalimat penenang supaya Baekhyun berhenti menangis.

Sunny dan Baekhyun sudah sampai di depan kamar Chanyeol, namja itu juga sudah berada di tempat tidurnya. Jimin duduk di dekat ranjang Chanyeol, menatap dari rambut sampai ujung kaki, seakan tak melewatkan satu bagian tubuh pun. Kemudian dia memegang dahi Chanyeol. Panas! Itu yang dia rasakan.

"Apa kau makan dengan teratur?" tanya Jimin entah pada siapa. Tangannya kini memegang lengan Chanyeol. Matanya berkaca-kaca. "Apa kau tidur dengan nyenyak? Ada yang sakit? Jawab Appa Chanyeol!" teriak Jimin frustrasi. Kini air matanya benar-benar turun bebas, dia memalingkan wajahnya ke arah lain.

Baekhyun berhenti menangis ketika suara isakan terdengar di dekatnya, dia menjauhkan kepalanya dan mendapatkan fakta bahwa suara itu berasal dari Jimin. Sunny mendekat ke arah Jimin, kemudian memeluk erat lelaki yang sudah menjadi suaminya itu.

"Tenanglah. Ini bukan salahmu, Jimin," ucap Sunny di tengah-tengah isakan lelaki itu. Jimin mengeratkan pelukannya tak membalas ucapan istrinya itu.

"Apa aku terlalu keras padanya?" tanya Jimin setelah beberapa menit akhirnya dia melepas pelukan Sunny.

"Kurasa dia melakukan ini bukan karena kau yang keras padanya, Jimin-ah," ujar Sunny dengan tatapan yang hanya mampu diartikan oleh Jimin.

Jimin diam saja. Baekhyun masih mematung di depan sana, dia tak terlalu mendengarkan percakapan antara Eomma dan Appanya, karena daritadi fokus anak itu hanya jatuh ke Chanyeol. Baekhyun mengerjapkan matanya saat seruan Jimin terdengar.

"Baekhyun, kau tidak tidur? Ini sudah malam, besok kau sekolah," seru Jimin.

Baekhyun tersenyum kikuk, dia malu karena ketahuan oleh Jimin. "Ah nde Appa. Aku akan ke kamarku," balas Baekhyun.

Jimin mengangguk. "Kau tenanglah, Chanyeol biar Appa yang menjaganya," ujar Jimin seakan membaca pikiran Baekhyun tadi yang sempat mengkhawatirkan keadaan Chanyeol, walaupun kenyataannya namja jangkung itu sudah tenang di atas tempat tidurnya.

"Ayo Baek, Eomma antar ke kamarmu!" seru Sunny menarik Baekhyun agar keluar dari kamar Chanyeol. Kedua Ibu dan Anak itu hanya diam saat sudah keluar dari kamar Chanyeol.

Baekhyun masih diam, dan memutar knop pintunya. Sebelum dia benar-benar masuk ke dalam, suara Sunny menahan langkahnya.

"Baek? Eomma pikir bibirmu sedikit bengkak, sayang?" tanya Sunny.

Baekhyun terdiam, rona wajahnya tiba-tiba memanas mendengar ucapan Sunny. Sebisa mungkin Baekhyun menormalkan detak jantungnya, sungguh pipinya pasti memerah saat ini. Dengan cepat Baekhyun menghilangkan pikirannya tentang kejadian di dalam mobil tadi dan cepat-cepat tersadar dari keterdiamannya ketika Sunny berdehem.

"Emm kurasa aku terlalu banyak menambahkan bubuk cabe di Ramenku tadi, Eomma," balas Baekhyun berharap Eommanya tak bertanya hal lain.

Sunny mengangguk paham. "Oh begitu, ya sudah masuklah, kau pasti lelah. Selamat malam sayang," Sunny mengecup pelan puncak kepala Baekhyun, yang dibalas dengan menghilangnya tubuh namja mungil itu bersamaan tertutupnya pintu di depan Sunny.

. . .

"Selamat siang, Ssaem!" hormat semua siswa siswi ketika Lee Ssaem beranjak keluar dari kelas.

Baekhyun menguap untuk yang kelima kalinya, entah kenapa dia benar-benar merasa lelah belakangan ini. Sebenarnya alasan dia merasa ngantuk, karena insomnia melandanya tiba-tiba semenjak kepulangan Chanyeol beberapa hari lalu.

"Baek, kau tidak ke kantin? Aku hari ini ada sedikit urusan di kantor, biasa masalah olimpiadeku, jadi aku tidak bisa menemanimu hari ini. Kau ajak Jongdae saja, oke?" ujar Kyungsoo menjelaskan dan langsung berlalu dari hadapan Baekhyun saat anak itu mengangguk paham dan kembali menjatuhkan kepalanya di atas meja.

Jongdae melirik ke arah Baekhyun, kemudian berdehem keras, hal itu membuat Baekhyun terpaksa mengangkat wajahnya dan menatap sebal ke arah Jongdae yang balas menampilkan senyum bodohnya. Hell! Baekhyun menggerutu. Tidak bisakah dia tenang untuk saat ini saja? Sungguh dia hanya ingin tidur barang sebentar.

"Apa!" ketus Baekhyun. Jujur, rasa kantuknya mendadak menguap, kalau lama-lama berhadapan dengan Jongdae.

"Mau ke kantin tidak, Baek?" tawar Jongdae.

"Kau mau menemaniku?" tanya Baekhyun sambil berdiri dari bangkunya. Sepertinya mengisi perut adalah hal yang tepat untuk saat ini. Dan usulan Jongdae mendadak membuatnya lapar.

Jongdae menggeleng. "Tidak juga, aku terlalu malas hehe," ujar Jongdae tertawa sendiri.

Kalau begitu kenapa kau menawarkanku tadi sialan! Sabar Baekhyun sabar! Baekhyun segera menarik napasnya kuat. Dia menahan diri jangan sampai salah satu jurus Hapkido yang dia pelajari sewaktu smp dulu mendarat di muka kotak namja ini.

"Ya sudah terserah kau saja!" balas Baekhyun acuh.

"Kau mau kemana, Baek?" tanya Jongdae ketika dilihatnya Baekhyun berlalu pergi dari hadapannya.

"Ke kantin," dan lagi, langkah Baekhyun tertahan karena pertanyaan Jongdae.

"Mau ngapain?" tanya Jongdae membuat Baekhyun ingin menghantamkan wajah anak itu sekarang juga.

"Pipis!" balas Baekhyun final dan segera berlari dari sana sebelum salah satu tinjunya benar-benar singgah di wajah Kim Jongdae Sialan itu.

Jongdae mengerjapkan mata bingung, dia menggaruk pipinya yang sedikit gatal kemudian teringat ucapan Baekhyun barusan. Dahinya berkerut. "Sejak kapan kantin beralih fungsi jadi toilet?" tanyanya bingung. Mati saja kau Jongdae!

.

.

Baekhyun duduk sendirian di bangku kantin, dia memakan tteokbeokki dan sushi yang dipesannya tadi. Entah kenapa nafsu makannya jadi bertambah belakangan ini, mungkin efek galau? Ya tuhan, bahkan Baekhyun sendiri tidak tahu apa yang mesti digalaukan dari hidupnya. Pacar tidak punya. Gebetan juga tidak punya. Nilai akademiknya juga tidak ada yang dibawah rata-rata. Lalu apa alasan yang membuatnya menjadi galau? Entahlah!

"Baekkie?" seru seseorang membuat Baekhyun berhenti menyumpit sushinya. Tanpa melihatpun dia susah tahu siapa orang yang memanggilnya. Mana ada lagi panggilan 'Baekkie' selain dari Sunbae cantiknya itu.

"Luhan Hyung!" seru Baekhyun dengan nada manjanya. Entahlah, dia merasa nyaman saja kalau bermanja-manja dengan Luhan, mungkin karena Luhan yang keseringan memberinya perhatian lebih.

"Yaa! Apa yang dilakukan pacarku di sini eoh? Sendirian pula," tanya Luhan sambil duduk di dekat Baekhyun, sedang namja manis itu hanya mengerucutkan bibirnya dan kembali sibuk dengan makanannya.

"Tentu saja aku sedang makan Hyung!" balas Baekhyun kembali menyumpitkan sushi ke dalam mulutnya.

"Kulihat nafsu makanmu bertambah ya? Lihatlah, pipi dan bokongmu saja hampir sama!" ujar Luhan membuat Baekhyun tersedak makanannya dan sukses sedikit muncrat di depan Luhan, tapi namja cantik itu sama sekali tak jijik justru dia langsung mengelap bibir Baekhyun dengan tisu.

Baekhyun terdiam, dia menolehkan kepalanya ke belakang bawah, kemudian memegang pipinya dan beralih menatap Luhan yang sedang membuang tisu bekasnya.

"Kau benar, Hyung. Aku rasa bokongku semakin berisi saja? Atau berat badanku juga bertambah?" tanya Baekhyun dengan wajah suram, tapi tangannya justru tak berhenti untuk menyumpit sushi yang masih banyak di hadapannya.

Luhan hanya menggeleng, gemas melihat tingkah Baekhyun. Baekhyun yang melirik Luhan, ikut menyuapkan namja cantik itu sushi miliknya jadilah mereka berdua berbagi sushi dan tteokbeokki selama berada di kantin.

"Baek, bagaimana kabar Chanyeol?" tanya Luhan ketika mereka sudah selesai makan.

Baekhyun diam mendengar ucapan namja itu, ingatannya mulai berputar dan salah satu kejadian yang membuatnya bingung sampai sekarang lah yang berhenti di otaknya.

Saat itu Baekhyun sedang mengintip keadaan Chanyeol yang tak keluar-keluar setelah acara pingsannya malam itu. Dia mengendap-ngendap dan membuka pelan pintu di hadapannya. Dengan hati-hati dia melirik seluruh penjuru kamar dan hanya tubuh seseorang di atas ranjanglah yang ditemukannya.

Awalnya Baekhyun pikir Chanyeol masih sakit, jadi namja itu pelan-pelan keluar dari sana dan hampir berteriak saat wajah Jongin muncul di depannya.

"Yaa! Kau mengejutkanku, sialan!" sembur Baekhyun, sedang Jongin hanya menatap aneh ke arahnya.

"Iya iya aku minta maaf," balas Jongin akhirnya, karena lelah melihat wajah Baekhyun yang terus melotot ke arahnya.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Baekhyun dengan nada kembali normal.

"Tentu saja menjenguk sahabatku!" balas Jongin sambil memamerkan kantong kresek yang di bawanya.

"Percuma saja, Chan..."

"Kau sudah datang, Jong? Masuklah!" seru seseorang membuat Jongin mengangguk dan Baekhyun menjatuhkan rahangnya. Belum lima menit dia keluar dari sana dan matanya tak mungkin salah pandang. Jelas-jelas tadi dia melihat Chanyeol masih berbaring di ranjang, dan sejak kapan pula namja tinggi itu berada di antara mereka berdua—Baekhyun dan Jongin.

Tak lama, suara gelak tawa terdengar di dalam ruangan itu. Dan Baekhyun lagi-lagi hanya bisa terdiam, mencoba mencerna sekiranya apa barusan yang sedang terjadi?

Luhan mengerutkan dahi mendengar cerita Baekhyun barusan. Sedang namja manis itu justru menaruh kepalanya di atas meja. Kenapa tiap kali mengingat hal itu, hatinya selalu saja sakit. Dan dia juga mendadak ngantuk omong-omong. Seketika Baekhyun berharap Jongdae ada di sini, dengan begitu dia tak akan mengantuk lagi seperti sekarang.

"Kurasa Chanyeol memang agak aneh, Jongin juga!" ujar Luhan yang memang melihat akhir-akhir ini Jongin tidak masuk juga sama seperti Chanyeol.

"Hyung tidak ingin menjenguknya?" tanya Baekhyun masih menenggelamkan wajahnya di meja.

"Aku dan Sehun akan berkunjung nanti," balas Luhan.

Baekhyun mengangguk paham, namun dia jadi penasaran bagaimana bisa Luhan berpacaran dengan Sehun. "Hyung, sejak kapan kau jadian dengan Sehun?" tanya Baekhyun kini menarik wajahnya dan menatap ke arah Luhan.

Luhan tersenyum seraya mengacak gemas rambut Baekhyun. "Sejak seseorang menolakku," balasnya.

Baekhyun membeku mendengar jawaban namja itu. Sepertinya itu sindiran untuknya. Mendadak Baekhyun merasa jadi orang jahat yang tega menyakiti Luhan. Dia tidak bodoh untuk mengartikan seseorang yang dimaksud Luhan. Sudah jelas seseorang itu adalah Baekhyun.

"Hyung..."

"Tidak apa, Baek. Aku tahu kau tidak mencintaiku," ujar Luhan masih dengan senyum manisnya dan membuat Baekhyun semakin merasa bersalah atas kasus ini.

"Hyung aku..."

"Kau tidak mencintaiku. Tapi kau mencintai Chanyeol!" ujar Luhan kali ini terdengar begitu pahit.

Baekhyun 100% membeku mendengar ucapan Luhan. Bagaimana namja itu tahu? Bahkan Yixing dan Joonmyeon saja pasti tidak tahu orang yang dimaksud Baekhyun saat itu? Atau jangan-jangan? Pikiran Baekhyun jatuh saat suara langkah kaki terdengar tak beberapa lama saat dia pamit dari perpustakaan siang itu.

"Hyung kau..." lagi-lagi ucapan Baekhyun terhenti ketika Luhan lebih dahulu memotongnya.

"Aku mendengarnya, Baek. Semuanya. Ketika di perpustakaan, saat kau bertanya pada Yixing!" ujar Luhan seakan menjawab segala pertanyaan yang ada di otak namja manis yang masih terdiam di depannya.

"Maafkan aku, Hyung! Maafkan aku! Tidak seharusnya aku egois seperti ini, aku berjanji akan membuang jauh-jauh perasaanku! Aku akan melakukan apapun asal kau memaafkanku, Hyung!" ujar Baekhyun memohon bertubi-tubi. Sungguh dia benar-benar tidak bermaksud seperti itu dan menyesalkan semuanya. Termasuk, kenapa justru Luhan yang harus mendengar ucapannya itu.

Luhan hanya tersenyum manis. "Kau tau, Baek. Jangan pernah memaksa sesuatu. Biarkan saja mereka berjalan seiring berjalannya waktu. Aku tahu kutipanku memang payah. Tapi aku sama sekali tak mengizinkanmu untuk menghilangkan perasaanmu itu!" ujar Luhan penuh penekanan.

"Tapi, Hyung aku sudah menyakitimu. Dan aku rasa aku memang harus melupakan Chanyeol, semua ini salah, Hyung! Tidak seharusnya aku menyukainya," cicit Baekhyun.

"Lalu membuatmu merasakan sakit yang sama? Ayolah, Baek. Aku tidak mungkin sejahat itu! Kalian saling menyukai, apanya yang salah?" tanya Luhan.

"Hyung berhenti membuatku bingung!" ujar Baekhyun akhirnya.

"Aku memang kecewa karena kau menolakku, tapi aku akan lebih merasa kecewa kalau kau sampai menjauh dari Chanyeol!" ujar Luhan.

Baekhyun menghela napas lelah. Dia beranjak dari kursinya dan menatap jengah ke arah Luhan yang sedang tersenyum padanya. "Terserah kau saja, Hyung!" balas Baekhyun berlalu dengan kesal, Luhan yang melihat kepergian namja manis itu mendadak menjatuhkan pandangannya ke salah satu bagian bawah tubuh Baekhyun.

Luhan menampakkan seringaiannya sebelum berteriak keras sehingga terdengar di seluruh kantin. "Baek! Aku berani bertaruh, Chanyeol akan langsung horny kalau melihat bokong semokmu itu!"

Sial kuadrat! Baekhyun mempercepat langkahnya. Persetan dengan tatapan menggelikan dari para siswa yang melihat dirinya berjalan tergesa. "Sialan kau, Hyung!" desis Baekhyun pelan, ketika beberapa Sunbaenya bersiul-siul dan melirik genit ke arah bokongnya.

.

.

"Luhan, malam ini kita akan membicarakan lagi perihal tunangan kalian," ujar Tuan Xi ketika dilihatnya Luhan baru saja memasuki kediaman rumahnya.

Luhan menghela napasnya. Baru saja dia menginjakkan kaki dan senang beberapa saat lau karena menggoda habis-habisan Baekhyun di mobil Sehun tadi, tiba-tiba moodnya rusak mendengar ucapan Appanya itu.

"Terserah Appa saja!" balas Luhan seadanya. Tiba-tiba sebuah ide muncul di benaknya. "Appa pergi duluan, aku akan menyusul nantinya," tambah Luhan.

"Tidak bisa! Kita harus pergi bersama!" balas Tuan Xi.

Luhan memutar kedua bola matanya. "Apa selama ini aku pernah berbohong pada Appa?" tanya Luhan final.

Tuan Xi hanya mengangguk saja. Sementara Luhan sudah melesat masuk ke kamarnya.

.

.

Tuan dan Nyonya Xi sudah duduk manis di ruang tamu keluarga Park. Sedangkan Baekhyun, namja itu pura-pura menyibukkan diri dengan HP-nya. Berbalas pesan atau sekedar spam di grup kelasnya bersama Kyungsoo dan Jongdae. Dia sudah paham benar apa yang akan di bahas pertemuan kedua di antara dua keluarga ini, makanya dia memilih mantengin HP daritadi.

Chanyeol? Dia diam saja sama seperti sebelumnya. Baekhyun beberapa kali melirik ke arah namja itu, dan selalu mengalihkan pandangannya ketika Chanyeol balik menatapnya. Chanyeol hanya tersenyum tipis melihat tingkah namja manis itu kemudian memberikan tatapan datar kalau dua lelaki dewasa itu membicarakannya.

Baekhyun mengalihkan pandangannya saat Tuan Xi tiba-tiba bertanya padanya. "Baekhyun, bagaimana Luhan menurutmu?" tanyanya.

Baekhyun mengerjap lucu. "Ah Luhan Hyung, dia sangat baik Ajusshi, dan juga cantik. Aku senang sekali berteman dengannya!" balas Baekhyun jujur.

Tuan Xi mengangguk paham. "Kalau begitu, berarti Luhan cocok jadi Hyung iparmu, bukan?" tanya Tuan Xi seraya melirik ke arah Chanyeol.

Tidak! Dia tidak cocok jadi Hyung iparku asal kau tahu, Tuan Xi! Percayalah kata-kata itu hanya bisa menggantung di ujung lidah Baekhyun. Ingin sekali dia mengatakan semuanya, tapi dia tak ingin terlihat konyol di sini. Baekhyun mengangguk dan tersenyum manis. Membuat yang tinggi langsung mendecih sebal. "Tentu saja, Ajusshi!"

BRAK!

"Apa aku terlambat?" tanya seseorang yang baru muncul. Ralat maksudnya dua orang yang sedang berdiri di depan sana dengan napas terengah.

"Maaf, Aku Sehun, teman sekelas Chanyeol dan Luhan, dan Sunbae Baekhyun di sekolah!" ujar Sehun saat tatapan tertuju padanya, seraya membungkukkan tubuhnya.

Luhan langsung menarik tangan Sehun, dan keduanya duduk di sofa tempat Baekhyun berada. Chanyeol menatap datar ke arah mereka. Tuan Park dan Tuan Xi mengangguk saja keduanya saling pandang, membuat Sunny dan Nyonya Xi menghela napas mereka seakan menyiratkan. Percayalah, drama akan dimulai sebentar lagi.

Jimin berdehem. "Jadi, bagaimana menurutmu Tuan Xi?" tanyanya memulai.

"Seperti yang kau lihat, kita akan menentukan tanggal pertunangan mereka berdua!" ujar Tuan Xi seraya melirik ke arah Sehun.

Sehun mendadak terdiam. "Pertunangan? Siapa?" tanyanya lancar tanpa ada halangan dari Luhan.

"Tentu saja anakku, Tuan Oh" balas Tuan Xi menekankan kata-katanya, tersenyum seraya menatap ke arah Sehun yang bingung sambil menatap ke arah lelaki itu.

"Dengan anakku. Aku pikir semakin cepat semakin baik, lagipula mereka kan baru bertunangan. Aku hanya bermaksud menandai, terserah mereka saja kalau soal lanjutannya. Yang penting keduanya harus kita ikatkan dulu!" ujar Jimin dan ikut tersenyum ke arah Sehun.

Luhan menatap jengah ke arah Jimin dan Appanya. "Aku tidak mau! Aku sudah punya pacar, Appa! Pacarku Sehun!" ujar Luhan marah.

"Aku juga tidak mau! Lagipula apa untungnya kami bertunangan!" Chanyeol akhirnya bersuara juga, membuat Baekhyun ikut menoleh dan matanya kembali bertatapan dengan namja jangkung itu. Baekhyun mengalihkan pandangannya ke arah lain.

Tuan Xi nampak tidak terlalu terkejut mendengar ucapan Luhan. Atau dia hanya pura-pura tidak kaget? Namun tatapannya kembali jatuh ke arah Sehun yang masih diam. Jimin yang mengerti situasi buru-buru berdehem sehingga perhatian mereka kembali tertuju kepadanya.

"Baiklah kalau kalian memaksa, pertunangan akan kami lakukan seminggu setelah ulangan semester kalian selesai!" ujar Jimin.

Chanyeol dan Luhan makin melototkan matanya. Baekhyun mendadak merasakan dada kirinya berdenyut sakit. Sementara Sehun masih tak berkutik di tempatnya, atau tepatnya pura-pura tak berkutik? Entahlah, tapi tatapan Tuan Xi dan Jimin membuatnya tak bisa berkata apa-apa selain diam dan mengikuti semuanya.

"Apa-apaan itu! Kalian tidak bisa seenaknya!" tukas Chanyeol dalam mode aslinya.

"Chanyeol jaga ucapanmu! Apa kau mau kami mempercepat tanggalnya menjadi besok?" ujar Jimin masih dengan nada yang tenang.

"Shirreo! Apa sebenarnya salahku sampai-sampai kalian repot mengadakan perjodohan sialan ini! Dan kenapa semuanya terjadi ketika Baekhyun ada di sini! Kalian gila!" teriak Chanyeol tidak percaya dengan semua ini. Rasanya dia berharap kalau semua ini mimpi. Astaga! Otaknya terasa mau pecah memikirkan semuanya.

"Aku tidak pernah sekalipun membangkang, Appa! Tapi kali ini aku benar-benar tidak bisa! Aku mencintai Sehun, bukan Chanyeol!" teriak Luhan dengan mata memanas. Dia merasa benar-benar cengeng sekarang. Sehun masih tak berkutik di dekatnya, Chanyeol diam saja menatap Luhan.

"Kami tidak akan berubah pikiran, Luhan! Berhentilah memberontak seperti ini! Apapun yang kami lakukan itu demi kebaikan kalian!" ujar Tuan Xi.

"Persetan dengan kebaikan! Aku bahkan tidak merasa baik sama sekali! Yaa! Kenapa kau tidak protes sialan!" ujar Chanyeol seraya melirik ke arah Sehun yang balas menatapnya datar. Astaga! Chanyeol akan gila sebentar lagi.

Di saat semuanya sedang sibuk dengan argumen mereka, justru namja mungil itulah yang memeluk Luhan ketika dilihatnya yang lebih tua itu sedang terisak. Baekhyun memeluk Luhan erat, dan namja itu langsung menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Baekhyun. Mereka berdua seperti saudara kembar yang terpisah sejak kecil dan baru bertemu ketika dewasa.

"Hyung, tenanglah. Aku ada di sini, jangan menangis lagi ne," ujar Baekhyun pelan, seraya mengusap lembut punggung namja itu.

"Tidak Baek. Aku tau kau pasti terluka mendengarnya," ujar Luhan sangat pelan.

"Kau benar, Hyung. Aku tidak bisa menahannya," balas Baekhyun tersenyum kecut, dan lagi-lagi hanya dia yang bisa melihat dan merasakan ekspresi itu.

"Aku tau! Maafkan Hyungmu ini. Maaf. Maaf!" ujar Luhan parau.

Baekhyun diam saja dalam dekapan Luhan. Tak berapa lama, bahu namja mungil itu yang justru bergetar menahan tangis. Luhan langsung memeluk erat dan menangis kencang dipelukan Baekhyun membuat semuanya serentak menoleh ke arah mereka berdua. Jimin dan Tuan Xi saling pandang, Sehun dan Chanyeol hanya bisa diam melihat semuanya.

"Menangislah Baek, aku mengerti perasaanmu," pelan Luhan terisak dan kembali meraung ketika didengarnya suara isakan Baekhyun lolos terdengar. Luhan harap suara berisiknya bisa meredam tangisan Baekhyun di dekapannya, sementara tangannya sibuk mengelus punggung namja mungil yang sedang menangis kencang di pelukannya.

TBC

Mian baru sempet apdet hehe. Kena serangan block writer gue kemaren-kemaren.

Aku agak sedih liat Baek di chapter ini huaaa mamih kapan sih jadi sama papihnya? Lah cerita kan lu yang buat pea! Oh iya lupa muehehe. 3 chap lagi bakal end haha apakah happy end atau sad? Kira-kira dari chapter ini ada yang bisa nebak kelanjutannya gak?

_Baekhyunwife