SWEET LIES
^ByunYuna^
Pairing:
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
Other cast:
Xi Luhan
Oh Sehun
Kim Jongin
Do Kyungsoo
Kim Jongdae
Kim Min Seok
Wu Yifan
Cast akan bertambah dengan sendirinya
^Warning^
Genre cerita Boys Love, BoyxBoy
Terima kasih buat reviewnya ya.
6104chanbaek khakikira chalienBee04
Happy Enjoy Reading!
Note: yang bercetak miring artinya flashback
.
.
Semenjak kejadian malam itu, sama sekali tak ada yang bicara satu sama lain. Luhan memutuskan untuk membawa Baekhyun ke kamarnya, dengan alasan kalau anak itu mengantuk. Kemudian namja cantik itu segera menarik Sehun agar meninggalkan tempat keramat itu, dan sama sekali tak peduli suara teriakan Tuan Xi yang menggema di dalam sana.
"Lu, Appamu memanggilmu," ujar Sehun saat keduanya sampai di depan mobil Luhan.
Namun orang yang dimaksud tak memperdulikannya dan malah masuk ke dalam mobil. Sehun hanya bisa menghela napas dan mengikuti kemauan namja cantik itu. Sehun mendudukan bokongnya di kursi pengemudi dan mulai melajukan mobil itu ketika yang lebih pendek memintanya.
Banyak hal yang ingin Sehun ketahui dari beberapa kejadian tadi, tapi dia bingung untuk memulainya darimana. Apalagi melihat wajah sembab di sebelahnya semakin membuat Sehun urung untuk sekedar bicara.
"Perjodohan yang kumaksud di rumah Yifan, itulah yang sedang dibahas oleh Appaku tadi," suara Luhan memecah keheningan di sana. Sehun terlonjak karena bingung darimana Luhan tahu, salah satu hal dari sekian banyak yang ingin dia ketahui tadi.
"Biar kutebak, kau akan di jodohkan dengan Chanyeol?" ujar Sehun yang masih memokuskan matanya ke depan sana.
"Ya, dan apa kau tahu, Hun. Baekhyun menangis, dia benar-benar menangis tadi. Aku memang Hyung yang buruk!" ujar Luhan sendu, mengingat betapa tersayat hatinya ketika mendengar suara tangisan namja imut itu. Dia benar-benar merasa sangat jahat sekarang.
"Sudahlah, Lu. Ini bukan salahmu, oke?" Sehun mencoba menenangkan namja di sampingnya yang kembali terisak. Sehun mengusap leher Luhan pelan seakan menyalurkan kekuatan ke yang lebih pendek.
Luhan menutup wajahnya. "Bahkan ini lebih menyakitkan daripada dia menolakku waktu itu. Aku masih beruntung memilikimu, Hun. Sedang Baekhyun, entah siapa yang akan menemani anak itu? Hiks, kenapa aku sungguh jahat? Kenapa juga masalah ini harus Baekhyun yang kena efeknya? Tak bisakah anak itu bahagia dengan pilihannya?" ujar Luhan semakin terisak, namja itu menutup matanya, membiarkan air mata menetes pelan di kedua pipinya.
Sehun membeku mendengar ucapan Luhan, tangannya semakin lembut mengelus leher namja itu. Ingin rasanya Sehun mengakhiri ini semua, dia sungguh tak tega melihat keadaan Luhan saat ini. Tapi, dia sama sekali tidak bisa, bahkan hanya sekedar mengucapkan sepatah katapun dia tak berhak.
"Apa kau benar-benar mencintai Baek, Lu?" Sehun berhenti mengusap leher Luhan. Luhan diam, tak lama dia mendongak ke arah Sehun.
"Tentu saja," balas Luhan seadanya.
"Lalu bagaimana denganku? Apa cintamu ke Baekhyun sama untukku?" tanya Sehun pelan, takut menyinggung perasaan namja cantik di sampingnya.
Luhan menghela napasnya pelan. Matanya terarah ke jalanan yang ramai kendaraan lalu lalang. "Awalnya aku memang mencintai Baekhyun, sangat, bahkan di saat dia pertama kali muncul di sekolah dan aku berniat menjadikannya milikku, ya kau tahu sendiri. Namun melihat dia tak meresponku, malah semakin membuat aku penasaran. Tapi, ketika tahu kalau dia tidak mencintaiku, hatiku memang agak sakit. Namun sekarang aku mengerti, dan sama sekali tak masalah bagiku, dan aku masih menyayanginya sampai sekarang. Sebagai Hyung dan Dongsaeng tentu saja!" Luhan menjelaskan semuanya lancar, membuat salah satu di antara mereka menyunggingkan senyumannya dengan wajah senang.
"Aku sudah tahu jawabanmu," balas Sehun sambil matanya tetap ke arah depan.
Luhan tersenyum manis. "Baguslah, pacarku ini memang cerdas!"
Sehun terdiam mendengar ucapan Luhan barusan, tak lama dia justru tersenyum nakal. "Apa ada yang baru saja mengakui kekasihnya eoh?" tanyanya.
Luhan membeku beberapa menit, bahkan samar-samar semburat merah muncul di kedua pipinya. Dia berani bertaruh kalau wajahnya pasti sudah memerah saat ini. "Molla!" balas Luhan pura-pura acuh, menyembunyikan wajah meronanya.
Sehun pura-pura membuat ekspresi terluka, sambil memegang dadanya. "Kau baru saja menerbangkanku, tapi apa yang kau lakukan sekarang huh?" Sehun berkata dengan sangat dramatis, seakan-akan Luhanlah yang membuatnya jadi seperti ini. Oh Drama Sehun
"Mau kubenturkan kepalamu hah!" seru Luhan malas.
"Aigoo, kau makin cantik saja kalau sedang marah-marah!" balas Sehun mati-matian menahan tawa melihat wajah Luhan yang merona (lagi). Well, sepertinya hanya Sehun yang berhasil membuat Rusa betina itu merona untuk kedua kalinya.
"Yaa! Mati saja kau sialan!" pekik Luhan membuat Sehun nyaris terlonjak kaget. Apa namja itu baru saja mendoakannya mati? pikir Sehun.
Sehun masih fokus dengan stirnya. "Lu, jaga bicaramu, jangan terlalu kasar. Kau mau kucium sampai sesak napas?" ancam Sehun.
Luhan mencibir di samping namja itu. "Coba saja kalau bisa!"
Nantangin ternyata batin Sehun. "Arasseo, kalau kau memaksa!" ujar Sehun langsung menginjak rem dengan kuat.
Luhan diserang panik. "Yaa! Rumahku bukan di sini, kenapa kau berhenti" teriak Luhan.
"Tentu saja aku mau menciummu sampai sesak napas!" balas Sehun tenang.
"Andwae!" teriak Luhan saat namja di sampingnya mendekat.
Luhan melototkan matanya, ketika Sehun benar-benar mendaratkan bibirnya di bibir namja cantik itu. Tak peduli sekeras apapun Luhan memukulnya, justru Sehun menarik tengkuk namja cantik itu agar membalas ciumannya. Kita tinggalkan sepasang kekasih itu dan melihat apa yang terjadi di kediaman Park, setelah Luhan dan Sehun pergi dari sana.
Chanyeol PoV on
"Luhan! Jangan kabur, berhenti di sana!"
Astaga, aku benar-benar merasa telingaku akan pecah mendengar teriakan berisik dari lelaki itu. Bagaimana dia tahu anaknya masih di luar sana kalau dia sendiri tak bergerak dari tempat duduknya itu? Ah orang tua memang suka begitu.
Aku memandang datar ke arah mereka. "Tak bisakah kalian diam!" teriakku dengan nada super datar. Sungguh aku sudah tak tahu harus mengatakan sumpah serapah apalagi kepada lelaki yang sialnya adalah Appaku sendiri. Sekeras apapun aku mencoba menolak, mulut besarnya itu akan mengucapkan semua hal sehingga mau tak mau aku pasti menurutinya.
Bohong kalau kalian pikir aku tidak melihatnya menangis di pelukan Luhan tadi. Tapi apa yang bisa kulakukan? Bahkan Sehun yang ada di sana sama sekali tak bisa kuandalkan. Kupikir dengan adanya dia, kedua lelaki egois itu mau membatalkan perjodohan ini, tapi nyatanya mereka malah mengompori Sehun dan mempercepat waktunya. Argh Sial!
"Kau yang diam, Chanyeol!" balas Tuan Park, yang tak lain adalah Appaku.
Aku menatapnya tajam "Terserah kau saja! Aku muak dengan kalian berdua!" teriakku dan memutuskan pergi dari sana, daripada darahku naik. Saking kesalnya, aku sempat melihat kedua orang itu saling melempar senyuman. Senyum kemenangan eoh? Hell! Kuucapkan selamat! Karena kalian berdua memang berhasil membuatku gila!
Aku mempercepat langkahku, namun niatku yang ingin langsung masuk ke kamar mendadak terhenti. Aku memutar badan, berjalan mendekat dan menatap sendu pintu di depanku. Aku mendekat, dan mengetuknya pelan. "Baek? Apa kau di dalam?" tanyaku pelan.
Namun sama sekali tak ada balasan, mungkin sudah tidur pikirku. Niatku yang ingin pergi kutahan saat suara Ceklek terdengar dari belakang. Baekhyun muncul dengan kondisi sangat kacau, wajah sembab, rambut berantakan, serta mata bengkak, namun dia masih tersenyum ke arahku. Astaga, kenapa dia sangat lihai menyembunyikan kesedihannya?
"Kau belum tidur, Chan?" tanyanya.
Aku menjawab pertanyaannya dengan menarik tubuh kecil itu ke dalam dekapanku, memeluknya sangat erat, berharap dengan begitu aku bisa sedikit meringankan beban yang ada di hatinya.
"Aku baik-baik saja, Hyung!" ujarnya pelan, tapi aku masih bisa merasakan kalau bahunya kembali bergetar.
Aku khawatir Baek, benar-benar khawatir padamu. Ingin sekali aku mengucapkan kalimat itu, sungguh, tapi aku tak bisa bahkan untuk mengeluarkan suaraku. Hardik saja, aku memang pengecut! Sehingga hanya tepukan pelan di bahunya lah yang bisa mewakili perasaanku saat ini.
Chanyeol PoV end
. . .
Baekhyun memijit pelipisnya entah sudah yang ke berapa kali, sungguh bagaimana bisa di dunia ini ada soal ujian serumit sekarang. Namja itu melirik ke arah Kyungsoo yang untungnya duduk tidak jauh dari dirinya. Baekhyun menatap Lee Ssaem yang memilih sibuk dengan koran di meja, daripada mengawas segerombol anak yang mencak-mencak di depan sana.
Baekhyun berteriak senang dalam hatinya, dia berdehem pelan beberapa kali berusaha memanggil Kyungsoo yang kelihatan sibuk di sana. Kyungsoo yang memang peka sekitar, langsung menghela napasnya pelan dan menoleh ke belakang di mana seorang namja manis sedang memamerkan puppy eyesnya. Argh! Kyungsoo menggeram di tempat, dia benar-benar tak bisa menolak anak itu.
"Nomer berapa?" tanya Kyungsoo sepelan mungkin. Terakhir kali, keduanya hampir di keluarkan dari kelas karena suara Kyungsoo yang tidak santai saat menjawab pertanyaan Baekhyun.
Baekhyun tak menjawab, dia justru memamerkan dengan bangga lembar jawabannya yang baru terisi 10 jawaban dari 40 soal keseluruhan. Kyungsoo menutup wajahnya. Mati saja kau, Baek! Apa yang ada di otakmu sebenarnya hah! Ingin sekali Kyungsoo meneriaki kata-kata itu di depan wajah Baekhyun, tapi dia masih sayang nyawa. Tak ada yang bisa dia lakukan sekarang, Kyungsoo membenarkan posisi kacamatanya dan mulai bersiul sambil mendirikan lembar jawabannya yang hampir penuh agar segera di Copy-paste oleh si bodoh yang sialnya sahabatnya itu.
"Gomawo, Kyung!" Baekhyun berbisik pelan saat sudah selesai menyalin semua jawaban Kyungsoo, Kyungsoo sendiri tak menjawab, dia langsung memusatkan otaknya ke soal di depannya.
Baekhyun melirik lembar jawaban dimana ada 11 kotak yang masih kosong. Namja manis itu mulai meregangkan otot leher dan tangannya yang sedikit tegang, kemudian menatap kertas di mejanya. Dia tersenyum miring sambil melirik ke seragamnya. "Ah, tidak ada usaha lain lagi! Yaa! Kancing baju, kau satu-satunya harapanku!" ujar Baekhyun semangat mulai menghitung kancing baju sambil tersenyum senang.
.
"Aku bisa tua mendadak, astaga!" keluh Baekhyun saat dia dan kedua sahabatnya—Kyungsoo dan Jongdae—sedang berada di dalam kafe dekat rumah Kyungsoo. Setelah bel berbunyi, ketiganya memutuskan untuk merayakan hari terakhir ujian dengan makan eskrim di sini. Dan dengan Jongdae yang membayar tentu saja.
"Aku heran apa yang ada di otakmu itu? Kau tidak belajar atau bagaimana, Baek? Seminggu ujian, seminggu itu pula kau menyalin semua jawabanku?" tanya Kyungsoo tak habis pikir dengan sahabatnya itu.
Baekhyun mengerucurkan bibirnya mendengar ucapan Kyungsoo. Tentu saja dia belajar, bahkan tiap malam, tapi percayalah bukannya masuk ke otaknya, semua yang sudah dipelajarinya susah payah itu, menguap hilang begitu saja. Saking kesalnya, kadang Baekhyun memilih tidur daripada membuang waktu belajar tapi satu materi pun tak ada yang menyangkut di otaknya.
"Aish sudahlah, hal itu sudah berakhir bukan? Dua minggu ke depan kita libur semester, kalian tidak ingin refreshing?" tanya Jongdae, membuat salah satu dari kedua orang di depannya berbinar senang.
"Itu karena kau tidak seruangan dengannya!" balas Kyungsoo malas.
"Benar kata Jongdae, Kyung kita liburan bareng ya? Atau kita ke China saja?" ujar Baekhyun melirik Kyungsoo.
Kyungsoo menggeleng keras. "Kau saja yang ke China, aku tak punya uang!" balas Kyungsoo.
"Bagaimana kalau liburan dengan kami?"
Suara seseorang membuat ketiga namja itu menoleh ke belakang, dan mendapati Luhan, Sehun, dan Minseok berdiri di sana. Jongdae tersenyum saat Minseok menaruh 3 mangkok eskrim di meja mereka. Baekhyun mendengus, sudah dia duga alasan Jongdae mengajak mereka ke sini. Untuk bertemu Minseok tentu saja. Pantas dia sangat semangat tadi! Sepertinya Kyungsoo juga sepemikiran.
Baekhyun mengedarkan pandangannya, namun tak melihat keberadaan seseorang yang membuatnya uring-uringan belakangan ini. Dia bernapas lega, tapi hanya sebentar, karena beberapa saat matanya menangkap tiga objek tinggi yang sedang berjalan santai menuju ke arah mereka, dengan salah satu yang tadi ada di pikiran Baekhyun.
"Kebetulan sekali kita bertemu di sini," sapa Yifan tak banyak cingcong ketika dia melihat keberadaan teman dekatnya sedang berkumpul. Jongin dan Chanyeol duduk di dekat Kyungsoo.
"Kalian kan sudah selesai ujian, jadi aku dan Yifan bermaksud mengajak kalian ikut gabung!" terang Minseok.
"Nah benar, kita akan liburan di Villa Appaku yang dekat pantai, tentu saja Yifan yang membayar transportasinya!" ujar Luhan sambil tersenyum senang. Yifan melotot mendengar ucapan sepupunya itu. Sehun hanya tertawa pelan.
"Benarkah itu Hyung? Kau yang menanggung semuanya? Aku ikut! Bagaimana denganmu, Baby Soo?" tanya Jongin melirik Kyungsoo yang kini tersedak mendengar panggilan menggelikan itu. Dia memberikan deathglare nya ke arah Jongin yang kini diam tak bergerak.
"Baby Soo, kepalamu!" balas Kyungsoo sambil mengacungkan sendok di depan wajah Jongin.
Jongin menyengir lebar, namun dia merebut sendok dan mulai ikut makan eskrim milik Kyungsoo. Chanyeol hanya diam melihat kelakuan namja berkulit tan itu, tidak tahu malu sama sekali. Pandangan Chanyeol jatuh ke namja yang duduk di dekat Luhan itu. Dia tersenyum ke arah yang lebih muda, namun hanya sebuah wajah tertunduk yang dia dapatkan. Chanyeol menghela napas.
"Baek kau ikut kan?" tanya Luhan menepuk pundak namja manis di sampingnya.
Baekhyun mendongak, mengerjapkan bola matanya bingung. "Aku tidak tahu, Hyung." hanya itu yang diucapkan Baekhyun.
"Ayolah ikut, Baek!" seru Minseok sambil menatap namja itu. "Jongdae dan Kyungsoo juga ikut, iyakan Kyung?" ujar Minseok menatap penuh arti ke arah Kyungsoo.
Kyungsoo yang bingung hanya mengangguk dan menggeleng. Dia sepertinya sama bingungnya dengan Baekhyun. Minseok menepuk dahinya pelan, kenapa Kyungsoo ini tidak bisa diajak kerja sama.
"Chanyeol juga ikut, Baek!" tak disangka justru Sehunlah yang buka suara dan menatap penuh arti ke arah Chanyeol. Baekhyun semakin tak berminat untuk ikut, apalagi mendengar ucapan Sehun tadi. Luhan tersenyum ke arah Sehun yang balas tersenyum.
"Aish kenapa kalian jadi memaksa sih? Kalau kubilang tidak, ya tidak!" seru Baekhyun akhirnya. Chanyeol cemberut mendengar balasan Baekhyun, sepertinya anak itu benar-benar tak ingin bicara dengannya sejak kejadian di kamar itu.
Chanyeol mendengus sebal, dia bangkit dari duduknya dan membenarkan letak ransel di punggungnya, kemudian hendak berlalu dari sana saat suara Luhan menginterupsi namja jangkung itu. Mereka menatap bingung ke arah Chanyeol yang masih berdiri di dekat mereka.
"Kau mau kemana?" tanya Luhan tajam.
Chanyeol menghela napas "Bunuh diri!" balasnya santai, kemudian berlalu dari sana dengan langkah kaki ringan.
Kedelapan namja itu terdiam mencerna ucapan Chanyeol barusan, karena mereka semua masih loading dengan maksud namja itu. Luhan yang pertama kali sadar langsung melirik ke arah Baekhyun yang masih diam memandang punggung Chanyeol yang bergerak menjauh.
"Lihatlah Baek, bahkan dia berniat bunuh diri kalau kau tak ikut kami!" seru Luhan dramatis seakan-akan Chanyeol memang berniat bunuh diri.
Baekhyun menggigit bibir bawahnya resah, namun dia menggeleng keras, tidak mungkin Chanyeol bunuh diri. Tapi sisi lainnya mengatakan kalau namja jangkung itu benar-benar bunuh diri bagaimana? Setelah berkutat cukup lama dengan pikirannya sendiri akhirnya Baekhyun hanya menghela napas lelah.
"Bagaimana, Baek?" tanya Minseok menyadarkan lamunan namja manis itu.
"Ayolah, Baek. Ikut saja ne?" kali ini Yifan yang memaksanya.
"Iya Baek, kau tentu tak ingin melihat Chanyeol mati konyol bukan?" tambah Sehun.
"Aku sangat mengenal dia, Baek. Dia tak akan main-main dengan ucapannya!" Jongin rupanya tak mau kalah.
"Jongin benar, Baek! Kalau kau ikut, aku akan mengirim chat ke dia dan boom! Chanyeol tidak jadi bunuh diri!" tambah Luhan dengan semangat 45.
"Yaa! Tidak bisakah kalian diam?" teriak Baekhyun.
Bukannya marah, Luhan justru memasang wajah terlukanya. Oh sepertinya dia sudah ahli sekarang, mungkin karena Sehun si tukang drama. "Aku rasa Chanyeol sudah berada di sungai Han saat ini, sepertinya dia memang berniat menenggelamkan dirinya?" seru Luhan dengan sangat dramatis.
Baekhyun menggeram frustrasi. "Arasseo arasseo! Aku akan pergi, kalian puas!" seru Baekhyun dengan suara menggelegarnya.
Mereka semua tersenyum penuh kemenangan, dan saling berhigh-five ria. Bahkan Kyungsoo dan Jongdae ikut-ikutan bahagia. Baekhyun cemberut, namun kalau dilihat Luhan lah yang paling bahagia di situ. Senyum manisnya daritadi tak pernah luntur. Baekhyun saja yang tidak tahu, 'bunuh diri' yang dimaksud Chanyeol tadi adalah tidur seharian di kamar. Well, Baekhyun telah tertipu, dan Luhan sangat senang akan hal itu.
Salah seorang namja yang sedang menyandarkan diri di dinding kafe itu bernapas lega. Dia melangkahkan kakinya menjauh dengan senyuman yang tercetak jelas di wajah tampannya.
.
"Jongdae bisakah kau diam? Suara berisikmu itu benar-benar mengganggu!" teriak Kyungsoo seraya menutup telinganya. Sungguh, suara Jongdae sangat cempreng.
"Yaa! Apa kau tak bisa diam, Kyungie-ku terganggu tau!" Jongin memukul-mukul Jongdae, membuat namja itu berteriak kesakitan. Kyungsoo yang gemas, mendadak ikut memukul kepala Jongdae dengan ganas.
"Astaga astaga mati aku tolong aku Minseok Hyung!" teriak Jongdae sambil menenggelamkan wajahnya, menghindari pukulan maut kedua namja yang ada di kiri kananya. Poor Jongdae! batin Minseok tetap fokus dengan Hpnya.
Baekhyun mencoba membuka matanya yang menyipit karena mendengar alunan manis suara Kyungsoo yang sudah berhenti menghajar Jongdae. Bahkan Jongin dan Jongdae kini sudah tertidur lelap mendengar lullaby yang dinyanyikan Kyungsoo.
"Kau kenapa Baekkie?" tanya Luhan saat melihat anak itu susah payah membuka matanya. Chanyeol yang sibuk sendiri, mengalihkan pandangannya ke arah samping Awalnya dia tidak yakin saat Yifan menyuruh mereka duduk berempat, karena sungguh, badan mereka tidaklah sebesar upil gajah, tapi memang dasarnya mobil orang kaya, keempat anak orang itu ternyata muat di tengah.
"Tidurlah, Baek!" suara bass itu menyadarkan Baekhyun dari rasa kantuknya. Baekhyun menoleh ke arah sampingnya, dimana Chanyeol sedang menatap lembut ke arahnya.
"Ya tidurlah, Baek!" seru Luhan.
Baru saja Baekhyun ingin menggeleng, Chanyeol langsung menarik kepala anak itu agar berbaring di pelukannya. Baekhyun merasa tubuhnya menegang akibat skinship ini. Namun rasa kantuknya malah berkhianat, perlahan dia memejamkan mata dan terakhir hanya dengkuran halus yang Chanyeol dengar. Namja jangkung itu melirik yang lebih rendah, kemudian mengecup pelan puncak kepala Baekhyun.
"Ekhem!" seru Luhan saat melihat ke arah Chanyeol. Chanyeol menarik wajahnya, kemudian menatap ke arah Luhan seakan berkata. Apa?
"Tidak ada. Sehunnie, aku juga mengantuk!" ujar Luhan manja. Chanyeol mendelik, kemudian memfokuskan pandangannya ke arah namja yang sedang tertidur di dadanya itu sambil tersenyum.
Sehun terkekeh, kemudian menarik namja itu agar mendekat padanya. "Tidurlah, Lu!" serunya sambil mengelus pelan surai milik Luhan.
.
"Omo! Tadi itu benar-benar indah!" Luhan tak henti-hentinya berdecak kagum saat melihat pemandangan matahari tenggelam tadi sore. Kesembilan orang itu sampai di Villa saat matahari menghilang dan berganti dengan bulan yang bersinar terang di langit.
"Aku setuju denganmu!" tambah Minseok.
"Kyung, aku tidak tahu kalau kau pintar memasak?" ujar Jongin sambil melahap makanan yang dimasak Kyungsoo dan Jongdae itu.
Semua mengangguk setuju mendengar seruan Jongin, mereka benar-benar kenyang saat ini. Beruntunglah Minseok mengikutsertakan kedua bocah aneh itu—menurut Yifan—kalau saja tidak, jangan harap mereka bisa makan seperti ini. Karena sudah tentu mereka lebih memilih untuk delivery dibanding harus repot menghabiskan waktu di dapur.
"Ah aku kenyang sekali!" seru Yifan. Hilang sudah aura coolnya saat namja tinggi itu bersendawa keras, membuat Minseok yang di sampingnya mendadak mual.
"Siapa yang akan mencuci piring? Baek, Kyung kau mau membantu Hyungmu yang tampan ini?" ujar Luhan menaikturunkan alisnya.
"Kau cantik kalau kau lupa, Hyung!" balas Baekhyun sambil membereskan alat-alat makan mereka, dibantu Kyungsoo yang membawa piring kotor ke wastafel. Sedang yang lainnya memutuskan untuk menonton TV saja sambil menunggu ketiga anak itu selesai. Teman yang baik!
Ketiga orang itu sibuk mencuci sambil sesekali cekikikan kalau ada suatu hal yang lucu, entah wajah Luhan terkena sabun, Kyungsoo yang meringis karena matanya kemasukan cabe, atau tertawa terbahak saat Baekhyun tersedak karena terlalu kencang tertawa. Sungguh kegilaan yang HQQ. Dan setelah selesai dengan pekerjaan mereka, bukannya langsung menyusul, ketiga orang itu malah sibuk ngemil coklat dan snack yang ada di lemari.
Sementara itu, di ruang tengah, keenam orang itu mulai dirasuki rasa kantuk. Yifan dan Minseok memutuskan untuk tidur duluan. Lalu Jongdae yang ikut, namun Sehun menyuruh Jongdae untuk tidur di kamar yang sama dengan Baekhyun, Luhan dan Kyungsoo.
"Kenapa harus Jongdae, Hun?" tanya Jongin tak terima.
Sehun memutar malas matanya kemudian mendelik tajam dan menarik kerah baju Jongin agar mengikutinya. "Karena aku masih waras untuk membiarkanmu tidur dengan mereka bertiga!" ujar Sehun langsung memaksa Jongin masuk ke kamar yang sama dengan Yifan Minseok. Chanyeol hanya diam melirik ke arah dua orang itu, dan ikut berjalan menjauh.
"Eh, kemana semua orang?" tanya Kyungsoo saat ketiganya sudah kembali ke ruang tengah yang sudah sepi.
Luhan menggedikan bahunya. "Entahlah, ayo kita tidur saja!" ajaknya.
Ketiga orang itu langsung masuk ke kamar, dilihatnya Jongdae sudah terkapar di atas sofa besar. Kyungsoo, Luhan dan Baekhyun memutuskan tidur di ranjang yang cukup besar. Luhan tidur di tengah, Kyungsoo sebelah kiri dan Baekhyun sendiri di kanan.
Jam sudah menunjukkan pukul 23.00 malam. Salah seorang bergerak gelisah di sana, berputar ke kiri salah, menghadap ke kanan salah. Baekhyun bangkit dari tidurnya. Diliriknya Luhan yang menganga, lalu Kyungsoo yang tidur dengan wajar. Baekhyun menghela napasnya, dia turun pelan-pelan dari ranjang.
Namja manis itu membuka pintu, bermaksud keluar untuk mencari udara segar, sungguh dia tak bisa tidur saat ini. Baekhyun berjalan pelan keluar, dan tak menyadari kalau salah satu di antara mereka ada yang mengendap-ngendap mengikuti langkah Baekhyun di belakang.
Baekhyun nyaris berteriak karena ada seseorang yang duduk terpejam dengan tangan bergerak-gerak memijit pelipisnya. Baekhyun mendekat dan memastikan kalau itu adalah manusia. Setelah yakin mereka satu spesies, barulah Baekhyun bernapas lega.
"Kau belum tidur?" tanya Baekhyun pelan.
Yang ditanya hanya membuka mata, dan kaget saat melihat Baekhyun sudah duduk di sebelahnya. Baru saja dia memikirkan namja itu, sekarang orang di pikirannya muncul tiba-tiba.
"Belum. Kau sendiri?" tanya Chanyeol seraya membenarkan duduknya.
Baekhyun menghela napas. "Aku tidak bisa tidur," balas Baekhyun.
"Aku juga," balas Chanyeol. Hell kenapa mereka jadi basa-basi begini.
Baekhyun melirik ke arah namja yang sedang menatap lurus ke depan sana. "Kenapa?" tanyanya.
"Mau mendengar ceritaku?" tanya Chanyeol, menatap ke arah yang lebih rendah. Baekhyun mengangguk antusias sambil tersenyum. Chanyeol ikut tersenyum, tapi tersenyum sendu, kemudian mengalihkan pandangannya ke depan laut.
"Kau tau, Baek. Aku mencintai seseorang saat ini!" Chanyeol memulai. Baekhyun mendongak, kini dia semakin penasaran dengan Chanyeol.
"Siapa? Apa dia cantik?" tanyanya dengan wajah berbinar. Chanyeol tersenyum.
"Sangat! Dia sangat cantik. Aku menyukainya bahkan sejak pertama melihatnya turun dari tangga." lanjut Chanyeol. Baekhyun terdiam mencerna kalimat namja itu, baru saja dia ingin berucap, tapi tak jadi. "Tapi aku tak bisa mencintainya,"
Baekhyun semakin merasa jantungnya berdetak. "Kenapa? Apa dia menyakitimu?" tanya Baekhyun.
Chanyeol menggeleng. "Tidak. Justru aku yang menyakitinya, aku tidak tahu sudah berapa kali aku membuatnya menangis! Bahkan aku terlalu pengecut untuk mengatakan padanya kalau aku mencintainya!" tambah Chanyeol menatap dalam ke arah Baekhhyun, mencoba memerlihatkan semuanya.
Baekhyun tidak bodoh untuk mengartikan kemana arah ucapan Chanyeol, dia menatap sendu ke arah namja itu. "Apa kau tau kalau dia mencintaimu?" tanyanya.
"Entahlah. Aku harap dia juga mencintaiku, walau pada akhirnya kami tak akan bersama!" Chanyeol menatap sendu ke arah Baekhyun, kemudian mendekat dan mengecup pelan bibir namja itu.
Baekhyun masih bergeming, dia sama sekali tak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya dengan mereka berdua. Baekhyun menarik tengkuk Chanyeol saat namja itu melepaskan ciumannya. Menggigit pelan bibir yang lebih tua, Chanyeol juga tak peduli dia membuka bibirnya dan membiarkan Baekhyun mendominasi di dalam sana.
Mata Baekhyun memanas, dia terus menyesap bibir tebal itu dengan air mata yang mengalir turun di pipinya, Chanyeol memeluk pinggang yang lebih kecil, kini balik dia yang melesakkan lidahnya ke dalam mulut Baekhyun.
"Maaf," bisik Chanyeol pelan, kemudian mengecup lembut bibir itu lagi. "Tidurlah, sudah larut." titah Chanyeol. Baekhyun mengangguk pelan dan berlalu dari sana, tak peduli air matanya turun lagi. Sedang Chanyeol, namja itu memejamkan matanya dan menangis sesenggukan di sana dengan suara nyaris tak terdengar sama sekali.
Grep!
Langkah Baekhyun terhenti saat seseorang memeluknya dari belakang. Luhan membalikan tubuh namja manis itu, dan memeluknya erat. Baekhyun merasa hatinya sakit, benar-benar sakit. Dia memukul-mukul punggung Luhan kuat, mengalirkan semua rasa sakitnya.
Baekhyun, namja itu menangis lagi bahkan kali ini terdengar sangat menyayat Luhan, membuat yang lebih tua hanya mampu membisikan kata-kata penenangnya. Luhan melihat semuana, mendengar semuanya, dan dia sama sekali tak bisa berbuat apa-apa lagi. Minggu depan, pertunangan mereka akan dilaksanakan.
"Menangislah, Baek! Keluarkan semuanya, aku ada di sini!" seakan menyalin kata-kata Baekhyun waktu itu, Luhan terus mengelus tengkuk namja yang masih menangis di pelukannya. Dia merasa dejavu saat ini.
TBC
Chapter 13 apdet, hayoloh baby baek nangis lagi kan uhuhu kasian mamih, untung ada lulu deh. Btw Minggu depan pertunangan nih, siapkan tissu dan hati kalian yah, wkwk aku ga yakin ini bakalan happy end. Tapi kalo kalian jeli, kalian bakal ngerti alur lanjutannya wkwk. Selamat menebak dan menunggu. Oh yah, aku rencananya mau post di wattpad juga. Jika berkenan mampir ya di wattpad aku akunnya Bekyunne.
Aku udah post satu cerita chanbaek loh judulnya beibeh. dibaca yah jangan lupa wkwk.
_Baekhyunwife
