SWEET LIES (LAST CHAPTER)
^ByunYuna^
Pairing:
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
Other cast:
Xi Luhan
Oh Sehun
Kim Jongin
Do Kyungsoo
Kim Jongdae
Kim Min Seok
Wu Yifan
Cast akan bertambah dengan sendirinya
^Warning^
Genre cerita Boys Love, BoyxBoy
Terima kasih buat reviewnya ya.
Spesial Chanyeol day!
Baca sampai Habis!
Terima kasih buat yang udah baca yah sampe ni ff akhirnya kelar ughh makasih yah reviewnya makasih. Akhirnya End juga nih ff.
Happy Enjoy Reading!
. . .
Chanyeol memejamkan matanya rapat, menyumpal kedua telinganya dengan headset, tak lupa menaikkan volume musik di hpnya, tak peduli kalau saat itu dia sedang diapit oleh Duo Jong. Chanyeol memutuskan untuk bertukar tempat dengan Kyungsoo, bukan tanpa alasan, dia hanya ingin menenangkan diri sekaligus menghindari seseorang. Ups, mungkin untuk alasan terakhir tidak sepenuhnya berjalan, buktinya sekuat apapun dia mencoba, tetap saja matanya tak pernah lepas memandang si mungil yang sedang bersender di pundak Luhan.
Kyungsoo dan Sehun sudah tertidur lelap daritadi, sementara posisi sopir digantikan oleh Minseok yang membawa mobil dengan tenang dan perlahan. Motto hidup Minseok: Lakukan dengan perlahan. Segala sesuatu yang dilakukan dengan tergesa, pasti berakhir dengan buruk!
Luhan mengecup singkat pucuk kepala namja manis di sampingnya, sementara di belakang sana, seseorang menatap ke arah keduanya dengan wajah memerah. Chanyeol kembali memejamkan matanya, terlalu cemburu melihat skinship antara kedua namja itu. Sungguh! Dia sangat iri dengan Luhan yang bisa dengan mudahnya, sementara Chanyeol sendiri, harus ada suatu kejadian dulu, barulah dia bisa dekat dengan Baekhyun.
Yifan mengucek matanya saat suara berisik terdengar di sekelilingnya, namja tinggi itu menyipitkan matanya kemudian tersadar kalau di dalam mobil ini tinggal dia seorang diri. Sementara yang lainnya sedang... mungkin, sepertinya dia tidak sendiri, buktinya ada seseorang di kursi belakang yang masih memejamkan matanya rapat.
Yifan hendak melempar namja itu dengan bungkus rokok, namun niatnya tertahan di udara saat namja itu tiba-tiba duduk tegak.
"Aku sudah bangun, Hyung!" serunya membuat Yifan tergelak, dan mengembalikan bungkus rokok miliknya ke tempat semula.
Yifan memandang aneh ke arah Chanyeol, sementara Chanyeol sendiri sedang meregangkan ototnya yang agak sakit karena terhimpit oleh Duo Jong yang tidurnya tak tentu arah tadi. Dia jadi ragu tadi Kyungoo bisa tidur nyenyak di tempat ini, dia yang tubuhnya bongsor dan tinggi saja merasa remuk di sekujur tubuh, apalagi namja sekecil Kyungsoo?
"Kau baik-baik saja, Chan?" tanya Yifan saat melihat kantung mata di wajah anak itu. "Apa liburannya tidak sesuai keinginan? Kau tidur kan selama ini? Kenapa kantung matamu hitam sekali?"
Chanyeol menatap geli ke arah Yifan yang sedang memasang tampang khawatirnya. Bohong kalau Chanyeol bilang dia baik, tapi dia sama sekali tak ingin membuat Hyungnya itu khawatir. "Aku tidak apa-apa. Hyung terlalu berlebihan, tentu saja aku menikmati liburan kita!" balas Chanyeol meyakinkan Yifan.
"Jangan bohong, Chan! Kau pasti memikirkan tentang besok bukan?" ujar Yifan, sejenak Chanyeol diam mendengar ucapan namja yang lebih tua. Chanyeol hanya bisa menunduk diam. Sungguh, dia ingin rasanya melakukan segala hal, anggap saja hari ini terakhir dia hidup di dunia. Dia tak ingin hari esok benar-benar tiba, dia tak sanggup! Sungguh! Siapapun tolong dia!
"Kau sudah tahu, Hyung?" akhirnya hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Chanyeol.
Yifan mengangguk. "Tentu saja, apa yang tidak aku dan Minseok ketahui tentang kalian? Kau tidak ingat, kami ini partner abadi! Soal kau, Jongin, Luhan, Sehun, dan tentu saja Baekhyun! Kalau bukan karena kau, aku tidak akan mungkin rela mengeluarkan uangku hanya untuk kalian semua! Kami hanya ingin menghiburmu, Chan!" jawab sekaligus penjelasan dari seorang Wu Yifan.
"Terima kasih, Hyung!" balas Chanyeol akhirnya.
"Tentu. Aku mengerti perasaanmu, Chan!" ujar Yifan seraya menepuk pelan bahu namja yang hampir sama tinggi dengan dirinya itu.
Chanyeol membawa tasnya, kemudian melirik ke arah semua orang yang sedang sibuk dengan urusannya masing-masing. Kyungsoo dan Jongin sudah menghilang, begitupun dengan Sehun dan Luhan. Hanya ada Jongdae, Minseok yang sedang membantu Baekhyun membawakan barang-barang yang lainnya.
Chanyeol baru saja hendak membantu ketiga orang itu, kalau saja teleponnya tidak berbunyi. Chanyeol merogoh kocek celananya, seketika mood buruknya kembali saat melihat nama Appa terpampang di sana.
"Halo?" sapa Chanyeol.
"..."
"Apa aku harus ikut?" tanya Chanyeol sambil mendengus.
"..."
"Arasseo, terserah kau saja! 5 menit lagi aku sampai!" balas Chanyeol langsung mematikan sepihak, tak peduli kalau saat ini Jimin pasti sedang marah-marah di sana. Ah apa pedulinya, dan daripada dia menuruti kemauan lelaki itu, lebih baik dia tidur seharian di rumahnya, sungguh dia sangat tidak nyenyak tidur selama seminggu ini.
"Yifan Hyung!" teriak Baekhyun.
Yifan menghampiri namja yang sedang mengelap wajahnya itu. "Ada apa, Baek?" tanya Yifan.
Baekhyun ragu, namja manis itu menggesekkan ujung sepatunya ke tanah "Itu Hyung..."
"Ada apa, Baek?" tanya Yifan lagi.
"Emm, sebenarnya aku..."
. . .
Empat orang terlihat sedang berdiri beraturan, salah satunya melirk ke arah beberapa jas mahal di salah satu butik langganan mereka. Saat ketiga orang itu sibuk dengan pilihan mereka, satu orang namja mendengus sebal seraya mendudukan bokongnya di sofa single yang ada di tempat itu.
"Kapan kalian akan selesai?" tanya namja itu sebal. Ayolah, waktunya bisa saja habis di tempat tak berguna ini.
Sementara ketiga orang di sana tampak tak peduli dan terus saja sibuk dengan kegiatan mereka. Namja itu menggeram di tempat, apa tadi dia ditelepon hanya untuk melihat mereka sibuk seperti itu, sementara dia hanya mendekam bodoh di ruangan ini. Bahkan dia tadi rela meninggalkan semuanya hanya karena telepon salah satu dari ketiga orang itu?
"Baiklah, coba kau pakai yang ini!" salah seorang menyodorkan sebuah jas hitam yang sangat elegan ke arah namja itu.
Namja itu langasung saja memakainya, kemudian bergaya seadanya di depan mereka dengan wajah dongkol sedongkol-dongkolnya. Ketiga orang itu saling manggut-manggut, kemudian tersenyum penuh arti ke arah namja yang hanya balas diam sambil melepaskan jasnya.
"Kenapa aku harus repot-repot seperti ini?" tanya namja itu penuh selidik.
"Tentu saja karena kau besok akan bertunangan," balas salah satu.
"Terus kenapa hanya aku? Apa dia tidak memilih jas juga?" tanya si namja masih penasaran.
Yang paling rendah menoleh. "Soal dia itu urusanku, lagipula aku sudah menyiapkan pakaian yang tepat untuknya!"
"Kau benar. Baiklah, aku harap besok bisa berjalan dengan lancar!" balas namja itu sambil tersenyum.
"Tentu saja, aku yakin kalian akan berterima kasih padaku esok hari!" balasnya sambil ikut tersenyum.
Keempat orang itu hanya tersenyam-senyum di sana, tak peduli kalau para pengunjung sedang menatap curiga ke arah mereka. Bagaimana bisa empat orang lelaki tertawa seperti orang gila, apakah mereka pasien rumah sakit yang lepas.
Namja jangkung itu mengelus pelan jas miliknya, kemudian tersenyum penuh arti. "Aku tidak sabar untuk hari esok!" batinnya.
. . .
Chanyeol melirik takut ke arah Appanya yang sedang menatap tajam ke arahnya, tidak, bukan karena takut akan tatapan itu, tapi dia takut hanya untuk sekedar keluar dari kamarnya. Saat ini dia sudah memakai pakaian yang disediakan Appanya.
"Cepatlah Chanyeol, Luhan sudah menunggu. Teman-temanmu, juga!" ujar Jimin menatap malas ke arah anaknya itu.
"Shirreo! Kau saja sana yang bertunangan!" balas Chanyeol keukeh.
"Astaga! Baiklah kalau kau tidak mau, biar Baekhyun saja yang aku tunangkan dengan Luhan!" final Jimin langsung berlalu dari sana.
Chanyeol yang masih loading, kemudian berteriak keras membuat jantung Jimin nyaris copot dari tempatnya. "Baiklah! Menyusahkan saja!" ujar Chanyeol keluar dari kamarnya dan segera menuju taman belakang rumahnya yang sudah dipenuhi orang-orang. Teman kantor Appanya, teman-temannya, saudara serta beberapa tamu khusus.
Namun pandangan Chanyeol jatuh ke arah 7 orang yang sedang bercakap-cakap di sana. Chanyeol mendekat, samar-samar dia mendengar percakapan ketujuhnya.
"Baek, bagaimana bisa? Kau hutang cerita denganku!" ujar Kyungsoo mengerucutkan bibirnya. Baekhyun hanya terkikik geli.
"Wah tak kusangka, ternyata kalian?" Minseok menggantung kalimatnya.
"Hebat juga kalian, bagaimana dia menembakmu, Baek apa romantis?" tanya Jongdae.
Salah seorang mengangguk. "Tentu saja, aku kan gentle!" ujarnya.
Baekhyun menunduk malu-malu. "Hyung jangan begitu!"
"Aigoo panggilan sayang macam apa itu. Kau masih saja memanggilku dengan Hyung, Sayang?"
"SAYANG!?" Chanyeol berteriak keras, membuat ketujuh orang itu serentak menoleh ke sumber suara. "Apa maksudnya, Hyung? Kau..." ucapan Chanyeol tertahan karena Baekhyun lebih dulu memotongnya.
"Iya, aku dan Yifan Hyung sudah berpacaran!" balasnya.
Chanyeol beku di tempat. Tolong siapa saja, bangunkan dia dari mimpi buruk ini! Astaga tidak adakah yang lebih menyakitkan selain, kau mati-matian menahan gila karena ingin bertunangan, sementara itu gebetanmu datang-datang langsung mengenalkan pacarnya? dan tolong sekali lagi, kenapa pacaranya harus dengan Yifan? Apa tidak ada orang lain lagi? Astaga! Chanyeol benar-benar akan pingsan sekarang.
"A..apa bagaimana bisa?" tanya Chanyeol tak percaya.
"Maaf Chanyeol!" ujar Baekhyun pelan.
"Tapi Baek kupikir kau..."
"Maaf, maaf Chanyeol, tapi aku sama sekali tidak mencintaimu!"
"Baek, katakan kalau kau bercanda!" desak Chanyeol, sungguh matanya sudah memanas saat ini.
Baekhyun menggeleng. "Chanyeol sadarlah! Aku tidak mencintaimu! Maafkan aku, aku hanya taruhan dengan Luhan, kalau aku berhasil membuatmu jatuh cinta, artinya aku menang!" ujar Baekhyun membuat Chanyeol melotot.
Sekali lagi Chanyeol membeku. "Apa tapi kau..." Chanyeol kehabisan kata-kata, sungguh kenapa Baekhyun bisa setega itu dengannya.
"Maafkan aku, sungguh maafkan aku! Sekarang relakan aku dengan Yifan, Chanyeol!" ujar Baekhyun pelan.
Chanyeol tak menjawab dia terduduk di atas rumput dengan penampilan kacau. Jongin mengelus pelan pundak cowok itu, kemudian membisikkan kata-kata yang semakin memperkeruh keadaan hatinya.
"Ikhlaskan dia, Chan! Luhan sudah menunggumu" ujar Jongin seraya menunjuk ke belakang di mana Luhan sudah berdiri di atas altar.
Chanyeol menjambak rambutnya kuat-kuat, persetan kalau rambutnya akan rontok dia tak peduli sama sekali!
"Bisakah aku mati sekarang!" teriaknya kesetanan sambil berlari tak tentu arah, namja itu menuju ke dapur rumahnya kemudian mengambil sebuah pisau daging. Dengan senyum khas devilnya, dia mengacungkan pisau itu ke atas. "Kalau Baekhyun tidak bisa bersamaku, maka, seorangpun tak akan bisa bersamaku!" ujarnya seraya menusukkan pisau itu keperutnya sendiri.
THE END
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Wkwkwk bercandaaaa! Siapa yang mau marah ayo marah-marah sini wkwk. Selamat yang baca kena Prank dari aku.
Happy Chanyeol Day. Uh Saengil Chukkae Daddy Yeolli!
Wkwk ini cuma Prank yah gaes, chapter yang asli nanti malam atau sore gue post nya Sekali lagi maaf yah. Spesial ultah Daddy, gue buat Prank!
Sekian terima dosa wassalam!
_Baekhyunwife
