SWEET LIES
^ByunYuna^
Pairing:
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
Other cast:
Xi Luhan
Oh Sehun
Kim Jongin
Do Kyungsoo
Kim Jongdae
Kim Min Seok
Wu Yifan
Cast akan bertambah dengan sendirinya
^Warning^
Genre cerita Boys Love, BoyxBoy
Huee maaf ngaret yah gaes dan baru bisa di apdet malam ini, author tiba-tiba aja sakit nih. Sedih. Yaudah sekali lagi maafin yah hehe.
Happy enjoy reading!
. . .
Chanyeol memejamkan matanya rapat, menyumpal kedua telinganya dengan headset, tak lupa menaikkan volume musik di hpnya, tak peduli kalau saat itu dia sedang diapit oleh Duo Jong. Chanyeol memutuskan untuk bertukar tempat dengan Kyungsoo, bukan tanpa alasan, dia hanya ingin menenangkan diri sekaligus menghindari seseorang. Ups, mungkin untuk alasan terakhir tidak sepenuhnya berjalan, buktinya sekuat apapun dia mencoba, tetap saja matanya tak pernah lepas memandang si mungil yang sedang bersender di pundak Luhan.
Kyungsoo dan Sehun sudah tertidur lelap daritadi, sementara posisi sopir digantikan oleh Minseok yang membawa mobil dengan tenang dan perlahan. Motto hidup Minseok: Lakukan dengan perlahan. Segala sesuatu yang dilakukan dengan tergesa, pasti berakhir dengan buruk!
Luhan mengecup singkat pucuk kepala namja manis di sampingnya, sementara di belakang sana, seseorang menatap ke arah keduanya dengan wajah memerah. Chanyeol kembali memejamkan matanya, terlalu cemburu melihat skinship antara kedua namja itu. Sungguh! Dia sangat iri dengan Luhan yang bisa dengan mudahnya, sementara Chanyeol sendiri, harus ada suatu kejadian dulu, barulah dia bisa dekat dengan Baekhyun.
Yifan mengucek matanya saat suara berisik terdengar di sekelilingnya, namja tinggi itu menyipitkan matanya kemudian tersadar kalau di dalam mobil ini tinggal dia seorang diri. Sementara yang lainnya sedang ... mungkin, sepertinya dia tidak sendiri, buktinya ada seseorang di kursi belakang yang masih memejamkan matanya rapat.
Yifan hendak melempar namja itu dengan bungkus rokok, namun niatnya tertahan di udara saat namja itu tiba-tiba duduk tegak dan menatap aneh ke arahnya.
"Aku sudah bangun, Hyung!" serunya membuat Yifan tergelak, dan langsung mengembalikan bungkus rokok miliknya ke tempat semula.
Yifan memandang aneh ke arah Chanyeol, sementara Chanyeol sendiri sedang meregangkan ototnya yang agak sakit karena terhimpit oleh Duo Jong yang tidurnya tak tentu arah tadi. Dia jadi ragu tadi Kyungoo bisa tidur nyenyak di tempat ini, dia yang tubuhnya bongsor dan tinggi saja merasa remuk di sekujur tubuh, apalagi namja sekecil Kyungsoo?
"Kau baik-baik saja, Chan?" tanya Yifan saat melihat kantung mata di wajah anak itu. "Apa liburannya tidak sesuai keinginan? Kau tidur kan selama ini? Kenapa kantung matamu hitam sekali?"
Chanyeol menatap geli ke arah Yifan yang sedang memasang tampang khawatirnya. Bohong kalau Chanyeol bilang dia baik, tapi dia sama sekali tak ingin membuat Hyungnya itu khawatir. "Aku tidak apa-apa. Hyung terlalu berlebihan, tentu saja aku menikmati liburan kita!" balas Chanyeol meyakinkan Yifan.
"Jangan bohong, Chan! Kau pasti memikirkan tentang besok bukan?" ujar Yifan, sejenak Chanyeol diam mendengar ucapan namja yang lebih tua. Chanyeol hanya bisa menunduk diam. Sungguh, dia ingin rasanya melakukan segala hal, anggap saja hari ini terakhir dia hidup di dunia. Dia tak ingin hari esok benar-benar tiba, dia tak sanggup! Sungguh! Siapapun tolong dia!
"Kau sudah tahu, Hyung?" akhirnya hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Chanyeol.
Yifan mengangguk. "Tentu saja, apa yang tidak aku dan Minseok ketahui tentang kalian? Kau tidak ingat, kami ini partner abadi! Soal kau, Jongin, Luhan, Sehun, dan tentu saja Baekhyun! Kalau bukan karena kau, aku tidak akan mungkin rela mengeluarkan uangku hanya untuk kalian semua! Kami hanya ingin menghiburmu, Chan!" jawab sekaligus penjelasan dari seorang Wu Yifan.
"Terima kasih, Hyung!" balas Chanyeol akhirnya.
"Tentu. Aku mengerti perasaanmu, Chan!" ujar Yifan seraya menepuk pelan bahu namja yang hampir sama tinggi dengan dirinya itu.
Chanyeol membawa tasnya, kemudian melirik ke arah semua orang yang sedang sibuk dengan urusannya masing-masing. Kyungsoo dan Jongin sudah menghilang, begitupun dengan Sehun dan Luhan. Hanya ada Jongdae, Minseok yang sedang membantu Baekhyun membawakan barang-barang yang lainnya.
Chanyeol baru saja hendak membantu ketiga orang itu, kalau saja teleponnya tidak berbunyi. Chanyeol merogoh kocek celananya, seketika mood buruknya kembali saat melihat nama Appa terpampang di sana.
"Halo?" sapa Chanyeol.
"..."
"Apa aku harus ikut?" tanya Chanyeol sambil mendengus.
"..."
"Arasseo, terserah kau saja! 5 menit lagi aku sampai!" balas Chanyeol langsung mematikan sepihak, tak peduli kalau saat ini Jimin pasti sedang marah-marah di sana. Ah apa pedulinya, dan daripada dia menuruti kemauan lelaki itu, lebih baik dia tidur seharian di rumahnya, sungguh dia sangat tidak nyenyak tidur selama seminggu ini.
"Yifan Hyung!" teriak Baekhyun saat melihat namja itu mondar-mandir depan mobilnya.
Yifan menoleh, kemudian menghampiri namja yang sedang mengelap wajahnya itu. "Ada apa, Baek?" tanya Yifan.
Baekhyun ragu, namja manis itu menggesekkan ujung sepatunya ke tanah "Itu Hyung..."
"Chanyeol, sepertinya anak itu tadi dapat telepon masuk entah dari siapa," potong Yifan seakan membaca pikiran Baekhyun. Sedang Baekhyun hanya menunduk dan mengangguk paham. Sudah kubilang kalau Yifan itu tahu segalanya bukan.
"Pergilah, Baek. Ajak Jongdae menemanimu, kau bisa pakai black card-ku kalau kau mau. Aku tau perasaanmu tidak bagus saat ini," tambah Yifan seraya menyodorkan kartu kebanggaannya itu kepada yang lebih muda.
"Sebenarnya aku lebih senang kalau Kyungsoo atau Luhan Hyung yang menemaniku. Tapi, kupikir mereka sedang tidak bisa diganggu saat ini!" seru Baekhyun.
"Ya sudah, biar aku saja yang menemanimu Baek," ujar Minseok tiba-tiba muncul di susul Jongdae.
Jongdae langsung mengangguk mengiyakan. "Benar Baek, setidaknya diantara kami bertiga, hanya Minseok Hyung yang bisa dipercaya!"
Baekhyun mengangguk paham. "Baiklah, ayo Hyung kita pergi, kau akan jadi tour guide ku seharian ini!" seru Baekhyun girang, namja manis itu langsung menarik lengan Minseok sambil tersenyum manis. Kedua namja lainnya hanya terkekeh pelan melihat kedua orang yang kini sudah menyebrang jalanan.
Yifan menghela napas pelan. "Baiklah, saatnya kiya mengerjakan sesuatu yang seharusnya dilakukan lelaki!" semangat Yifan pada dirinya sendiri, sambil mengangkut barang-barang yang tadi ditinggalkan oleh Baekhyun dan Minseok.
Jongdae tergelak mendengar seruqn namja itu. "Tapi, bukannya Baekhyun dan Minseok Hyung juga lelaki?" tanya Jongdae dengan wajah bingungnya.
"Mereka memang lelaki, tapi yah kau tahu sendiri lah!" balas Yifan.
"Tapi apa, Hyung?" teriak Jongdae.
Yifan kembali mendengus. "Kau pikirlah sendiri. Sudahlah, bantu aku!" ujar Yifan.
Jongdae merenggut kesal, tapi tetap mengangkat kardus yang masih tertinggal di dalam mobil Yifan. "Ck! Padahal kan aku, Minseok Hyung serta Baekhyun itu sama saja! Sama-sama punya pe..."
"Oy! Aku menyuruhmu mengangkat barang, bukan berkhayal hal vulgar!" suara Yifan terdengar membahana dari dalam, seketika Jongdae bergidik ngeri. Sepertinya Yifan ini memang termasuk keturunan seorang cenayang.
Di sisi lain, Luhan sedang menutup wajahnya dengan buku menu yang ada di atas meja, saat dilihatnya Baekhyun dan Minseok sedang berjalan keluar dan lewat di depannya. Luhan baru bisa bernapas lega saat kedua orang itu sudah menghilang. Luhan ikut menyusul, sesaat setelah membungkuk hormat sambil berterima kasih sudah diizinkan bersembunyi sementara di sana.
"Minseok Hyung, Baekkie mau eskrim ne?" ucap Baekhyun sambil memamerkan Puppy eyes yang pernah dia perlihatkan pada Kyungsoo saat meminta kunci jawaban dulu.
Minseok mengacak gemas rambut namja mungil itu sambil tersenyum. "Mau eskrim di tempat Hyung atau kedai yang lain?" tanya Minseok.
Baekhyun tampak berpikir. "Tempat Hyung saja, sekalian aku mau numpang istirahat, aku capek sekali berjalan seharian ini!" seru Baekhyun dengan nada manjanya.
"Arasseo, kajja! Kali ini biar Hyung yang mentraktirmu!" ujar Minseok kelewat bangga.
Baekhyun mencibir yang lebih tua. "Tentu saja kali ini kita tidak pakai black card Yifan Hyung, kafe itu kan milik Appamu, Hyung!" seru Baekhyun mendengus sebal, sementara Minseok hanya tertawa di sebelahnya.
"Kupikir dia baik-baik saja!" seru Luhan lega. Dia pun berlalu dari sana. Sejujurnya, saat Sehun mengantarnya pulang tadi, dia tidak langsung masuk ke rumah, melainkan berbalik ke rumah Yifan sekedar mengecek keadaan Baekhyun. Tapi saat melihat si kecil itu tersenyum bahagia, barulah dia bisa tenang.
. . .
Empat orang terlihat sedang berdiri beraturan, salah satunya melirk ke arah beberapa jas mahal di salah satu butik langganan mereka. Saat ketiga orang itu sibuk dengan pilihan mereka, satu orang namja mendengus sebal seraya mendudukan bokongnya di sofa single yang ada di tempat itu.
"Kapan kalian akan selesai?" tanya namja itu sebal. Ayolah, waktunya bisa saja habis di tempat tak berguna ini.
Sementara ketiga orang di sana tampak tak peduli dan terus saja sibuk dengan kegiatan mereka. Namja itu menggeram di tempat, apa tadi dia ditelepon hanya untuk melihat mereka sibuk seperti itu, sementara dia hanya mendekam bodoh di ruangan ini. Bahkan dia tadi rela meninggalkan semuanya hanya karena telepon salah satu dari ketiga orang itu?
"Baiklah, coba kau pakai yang ini!" salah seorang menyodorkan sebuah jas hitam yang sangat elegan ke arah namja itu.
Namja itu langsung saja memakainya, kemudian bergaya seadanya di depan mereka dengan wajah dongkol sedongkol-dongkolnya. Ketiga orang itu saling manggut-manggut, kemudian tersenyum penuh arti ke arah namja yang hanya balas diam sambil melepaskan jasnya.
"Kenapa aku harus repot-repot seperti ini?" tanya namja itu penuh selidik.
"Tentu saja karena kau besok akan bertunangan," balas salah satu.
"Terus kenapa hanya aku? Apa dia tidak memilih jas juga?" tanya si namja masih penasaran.
Yang paling rendah menoleh. "Soal dia itu urusanku, lagipula aku sudah menyiapkan pakaian yang tepat untuknya!"
"Kau benar. Baiklah, aku harap besok bisa berjalan dengan lancar!" balas namja itu sambil tersenyum.
"Tentu saja, aku yakin kalian akan berterima kasih padaku esok hari!" balasnya sambil ikut tersenyum.
Keempat orang itu hanya tersenyam-senyum di sana, tak peduli kalau para pengunjung sedang menatap curiga ke arah mereka. Bagaimana bisa empat orang lelaki tertawa seperti orang gila, apakah mereka pasien rumah sakit yang lepas.
Namja jangkung itu mengelus pelan jas miliknya, kemudian tersenyum penuh arti. "Aku tidak sabar untuk hari esok!" batinnya.
. . .
Chanyeol menatap seisi kamarnya dengan dahi berkerut-kerut, setelah selesai dengan urusannya tadi, namja tinggi itu langsung memutuskan untuk pulang ke rumah, bermaksud untuk tidur, namun apa daya, sejak tadi matanya bahkan tak menutup barang seperempat. Chanyeol menghela napas dan bangkit dari tidurnya.
"Aku akan mati!" ujarnya frustrasi.
Mata namja itu jatuh ke arah atas nakas, dia menggapai Hpnya kemudian menimbang-nimbang benda itu. Baiklah, ini satu-satunya cara agar dia tidak gila mendadak. Chanyeol mencari-cari daftar teleponnya, setelah mendapatkan nama Kim Jongin, Chanyeol langsung berjalan keluar dengan ponsel menempel di telinganya.
Sementara itu di sisi lain, dua namja berbeda tinggi sedang duduk diam di salah satu bangku taman. Namja yang tinggi nampak sedang menenangkan perasaannya, sementara yang lebih muda sedang tersenyum melihat anak-anak yang sedang asyik bermain ayunan di depan sana.
"Kyung?" ujar Jongin menyadarkan Kyungsoo, bahwa sebenarnya dia tidak sendirian di tempat ini.
"Apa?" tanya Kyungsoo sambil menatap Jongin, sedang yang ditatap hanya bisa ngiler di tempat. Oh, ayolah, siapa yang tidak tertarik melihat namja berwajah halus selembut bayi dengan bibir loveable yang membuat Jongin haus mendadak
"Sebenarnya ada yang ingin aku katakan padamu," balas Jongin mengelus pundaknya berusaha meredam rasa nervous yang menjalar.
Kyungsoo berdehem. "Ah benarkah? Apa itu?" tanya Kyungsoo memutar tubuhnya menghadap ke arah Jongin. Membuat Jongin semakin dilanda gugup, namun sebisa mungkin namja berkulit tan itu stay cool di depan Kyungsoo.
"Sebenarnya aku...,"
Drrt! Drrt! Drrt!
Jongin merasakan getaran di kantong celananya, saat melihat nama yang terpampang, Jongin segera menyentuh tombol merah dan memasukkan Hp ke dalam tempat tadi.
"Sebenarnya Kyung, Aku...,"
Drrrt! Drrt! Drrt!
Jongin berdecak dan merampas Hpnya kemudian melakukan hal yang sama seperti tadi. Kyungsoo hanya diam menatap namja itu dengan mata doenya.
"Kyung sebenarnya aku su...,"
Drrt! Drrt! Drrt!
"Yaa! Apa sialan! Ya Tuhan, tidak bisakah aku menyelesaikan ucapanku dulu?" teriak Jongin kalap, memarahi siapapun orang yang ada di seberang sana, walau kenyataannya orang itu tidak bisa melihat semengerikan apa wajah Jongin saat ini.
"..."
"Aish! Ya baik baiklah, dalam 3 menit aku akan muncul di depan wajahmu!" Jongin mematikan sepihak, matanya langsung menatap dalam ke arah Kyungsoo yang semakin bingung di sana.
"Baiklah, Kyungsoo aku menyukaimu! Jadi mulai sekarang, kita pacaran! Kau mengerti!" ujar Jongin mengecup singkat bibir loveable namja imut yang sedang melototkan matanya itu.
"Jangan lupa angkat teleponku nanti malam!" teriak Jongin sambil melambaikan tangannya ke arah Kyungsoo yang masih mematung dengan wajah memerah.
"Wah, Kakak pasti malu-malu ya karena dicium pacarnya!" celetuk seorang bocah lelaki tiba-tiba muncul.
"Yaa! Tau apa kau bocah!" sembur Kyungsoo, sementara bocah itu sudah lari terbirit-birit saat melihat tatapan mematikan namja itu. Namun Kyungsoo sama sekali tak bisa membohongi diri, kalau saat ini hatinya sedang berbunga-bunga karena pernyataan Jongin tadi.
.
Chanyeol melirik ke Hpnya yang masih menampilkan durasi panggilan-delapan-detik tadi. "Apa-apaan si bodoh itu, kenapa dia malah memaki—Astaga! Kau mengagetkanku sialan!" teriak Chanyeol tak santai saat Jongin benar-benar muncul di depan wajahnya.
"Ayo masuk," Jongin membuka pintu apartemennya.
Chanyeol hanya mengikut namja itu. Jongin melepaskan pakaiannya, melemparnya ke sembarang arah dan segera membaringkan tubuhnya di sofa. Chanyeol ikut berbaring di seberang, namun tidak sampai melepas baju seperti yang dilakukan Jongin tadi.
"Ada apa?" tanya Jongin dengan mata tertutup.
Chanyeol menghela napas lelah. "Aku bingung, Jong!" respon Chanyeol.
"Soal pertunangan besok?" Chanyeol hanya berdehem membenarkan ucapan namja itu. Kini, balik Jongin yang menghela napasnya. "Apa tidak ada sesuatu yang bisa kita lakukan untuk membatalkannya?"
Chanyeol menggedikan bahunya, tanda dia juga tidak tahu. "Apa aku bunuh diri saja? Aku tidak mencintai Luhan, Jong! Kau tahu hal itu kan?" ujar Chanyeol sendu.
Jongin hanya bisa menatap prihatin ke arah sahabat sekaligus Hyungnya itu. Dia juga sama bingungnya saat ini. Beruntunglah Jongin, karena tidak dibiarkan merasakan hal-hal mengerikan yang sedang dialami Chanyeol pada saat ini.
Jongin tiba-tiba mendapat sebuah akal. "Bagaimana kalau kau kawin lari saja dengan Baekhyun? Atau kalian kabur saja? Ah, aku tahu, kau hamili saja Baekhyun! Biar kau bisa bertanggung jawab!" seru Jongin kelewat senang.
Chanyeol mendadak tersedak mendengar usulan namja yang kini menaikturunkan alisnya menatap ke arah Chanyeol. "Aku mungkin setuju kalau saja kau mengatakan hal itu beberapa bulan yang lalu! Namun, kutekankan padamu sekali lagi Kim Jongin, Baekhyun itu namja! Namja! . .Hamil!" ujar Chanyeol benar-benar frustrasi.
"Yah aku kan hanya memberi saran. Lagipula walau kau tidak menikah dengannya, setidaknya kau sudah pernah 'ekhem' dengannya," tambah Jongin dengan tampang polosnya. Polos bokongku! Kalau kata Jongdae.
Chanyeol kembali menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. "Ya kau benar, Jong! Memang lebih baik aku mati saja, daripada harus mendengar saran bodohmu itu!" balas Chanyeol seraya memejamkan matanya. Ah sepertinya malam ini dia akan menginap saja di tempat Jongin, hitung-hitung persiapan diri sebelum dia benar-benar bunuh diri esok hari.
.
.
.
Pagi-pagi sekali, kediaman keluarga Park mendadak geger saat salah satu calon tunangan tidak ada di kamarnya. Yah, dia Park Chanyeol, sejak semalam nyatanya namja itu tidak pulang ke rumah. Jimin nyaris saja melapor ke polisi, kalau seseorang yang sedang mereka ributkan tidak muncul, dan kini sedang berjalan santai melewati mereka tanpa rasa bersalah sama sekali.
30 menit berlalu. Chanyeol keluar dari kamar dengan setelan jas yang Jimin siapkan dari kemarin. Beberapa orang melirik aneh ke arah Chanyeol, sedang namja itu hanya acuh sambil melirik jam tangannya.
"Kenapa kalian menatapku? Aku tidak punya banyak waktu, jadi sebelum aku berubah pikiran dan kabur, sebaiknya cepat lakukan pertunangan ini!" seru Chanyeol langsung berlalu keluar dari sana. Dia merasa gerah berlama-lama di dalam sana. Sementara Jimin hanya menggedikan bahu acuh.
Chanyeol melirik taman belakang rumahnya. Berbagai macam hiasan berada di sana sini, bahkan kursi-kursi sudah tersusun dengan rapi, Chanyeol duduk di salah satu kursi tamu. Dia berdecak. "Ck! Seperti mau menikah saja!" ujar namja itu mencibir pelan.
Baekhyun yang memang sejak tadi berada di dalam kamarnya, sama sekali tak tahu apa hal yang diributkan di luar sana. Karena saat ini, Eommanya sedang sibuk menghias anak semata wayangnya itu.
"Eomma, kenapa aku harus berpakaian seperti ini?" tanya Baekhyun saat melihat pantulan dirinya di cermin, dimana tubuhnya sudah dibalut Tuxedo abu-abu yang sangat elegan. Namja itu berdecak kagum sambil berpose imut di depan kaca.
"Tentu saja karena akan ada yang bertunangan, sayang!" balas Sunny merapikan rambut Baekhyun. Sejenak Baekhyun diam saja. Entah mengapa saat mendengar kata 'tunangan' dadanya pasti akan terasa nyeri.
"Nah sudah siap!" suara Sunny menyadarkan Baekhyun dari keterdiamannya. Dia melirik dirinya sekali lagi di cermin. Wah ternyata kemampuan Eomma lumayan juga! batinnya. "Sekarang turunlah, Eomma pikir teman-temanmu sudah datang. Appa dan Eomma akan menyusul nanti!" ujar Sunny merapikan segala alat make upnya.
Baekhyun hanya mengangguk paham, dan langsung turun sesuai dengan perintah Eommanya. Benar saja, saat kaki Baekhyun jejak di taman, pemandangan tamu-tamu yang sudah datang tampak berlalu lalang. Dia melirik ke salah satu barisan dimana ada ketujuh temannya, kecuali seseorang yaitu Luhan yang tidak tampak.
Baekhyun ragu untuk menghampiri mereka, apalagi di sana ada Chanyeol, orang yang selama ini memporak porandakan hatinya. Ah! Baekhyun kembali merasakan dadanya sakit. Baekhyun hendak berbalik, kalau saja Luhan tidak muncul di belakangnya, membuat namja manis itu nyaris teriak.
"Kau mau kemana, Baek?" tanya Luhan. Baekhyun melirik ke namja itu, ah Luhan sangat cantik sekali dengan pakaian itu.
Baekhyun hanya balas tersenyum, kemudian menggeleng. "Ani, aku hanya ingin menghampiri mereka," tunjuk Baekhyun ke arah Kyungsoo yang sedang melambaikan tangannya ke arah mereka berdua.
"Benarkah? Baiklah, kajja!" ajak Luhan langsung menggandeng tangan Baekhyun agar mengikuti langkahnya. Oh sial! Padahal tadi Baekhyun berniat pergi dari sini, kenapa sekarang dia justru ikut bergabung dengan teman-temannya di sana.
Chanyeol terlihat paling diam di sana, namun matanya sedaritadi melirik ke arah Baekhyun yang memakai Tuxedo, entah kenapa namja manis itu semakin terlihat menawan. Sedang Baekhyun, otaknya juga tertuju ke Chanyeol yang sangat tampan di sana. Oh ayolah, tidak bisakah dia tak memikirkan Chanyeol barang hari ini saja. Baekhyun buru-buru mengalihkan pandangannya, sebelum salah satu dari mereka sadar kalau wajahnya pasti sudah memerah saat ini.
"Wah, kalian berdua seperti saudara kembar kalau berpakain seperti itu," celetuk Minseok saat melihat Luhan dan Baekhyun yang sudah berdiri di depan mereka.
"Benarkah itu Minnie? Kupikir kami berdua seperti sepasang kekasih!" balas Luhan terkekeh sambil menggandeng lengan Baekhyun.
"Tapi, bukannya Luhan Sunbae mau tunangan dengan Chanyeol Sunbae?" tiba-tiba namja bermata doe itu bersuara.
Kumohon! Siapa saja, bisa ungsikan Kyungsoo ke rumah sakit terdekat sekarang juga. Tidakkah dilihatnya bagaimana ekspresi Baekhyun saat mendengar ucapan polos namja itu. Ah! Kupikir satu-satunya orang yang tidak tahu menahu tentang semua ini, hanya si mata bulat, Do Kyungsoo.
"Kyungie sayang, ayo kuajak berkeliling?" ujar Jongin yang paham situasi.
Semua orang—Kecuali Kyungsoo dan Jongin tentunya—mendelik mendengar ucapan Jongin barusan, terutama Baekhyun yang sampai melototkan mata plus dengan mulut menganga, saking shocknya.
"Sejak kapan kau berpacaran dengannya, Kyung?" tanya Jongdae penuh curiga.
"Apa Jongin menerormu, sampai-sampai kau harus berpacaran dengannya supaya dia berhenti?" Yifan menatap tajam ke arah Jongin.
Jongin menghela napas lelah mendengar berbagai tuduhan tak terduga yang dilayangkan teman-temannya. Tidak adakah yang mau membela atau sekedar satu paham dengannya? Oh sungguh, dia sakit sekarang benar-benar sakit. Kyungsoo hanya menunduk karena malu untuk sesaat.
"Saat seseorang menelponku untuk suatu hal tak penting" seru Jongin sambil menatap ke arah Chanyeol.
Chanyeol terdiam. Jadi itu alasan kenapa dia memakiku waktu itu? monolognya dalam hati.
"Oy Hun, kenapa kau memakai pakaian seperti itu?" tanya Luhan saat tak sengaja melihat ke arah Sehun yang berada di samping Yifan.
Sehun menggedikan bahunya. "Memangnya kenapa, lagipula tidak ada yang melarang bukan?" ujar Sehun seraya membenarkan kerah jas hitam elegannya.
"Oh jadi kau senang melihatku bertunangan?" tanya Luhan. Sungguh kenapa pacarnya ini justru senang, bukannya berduka.
"Kah cantik, Lu!" Balas Sehun tak nyambung. Luhan merasakan kalau telinganya sudah mengeluarkan kepulan asap putih saat ini. Jawaban macam apa itu? Mati kau ditanganku, Oh Sehun! batin Luhan berteriak sambil memukul bahu, tangan, namja tampan yang sekarang melindungi sebagian tubuhnya itu.
Kegiatan Luhan terhenti saat suara pembawa acara terdengar tiba-tiba. Mereka semua menoleh ke depan sana, dimana Tuan Park, dan Tuan Xi sudah berdiri rapi. Oh, jangan lupakan juga keberadaan Tuan Oh yang ikut andil di sana. Tentu saja, mereka itu kan Tiga-Sekawan.
"Kepada yang bersangkutan, saudara Luhan dan Chanyeol, segera berdiri di samping orang tua masing-masing. Karena acara pertunangan akan dilaksanakan. Seperti kata seseorang, lebih cepat lebih baik!"
Chanyeol mendelik saat mendengar kata-katanya di salin oleh sang pembawa acara. Ah Chanyeol ingat sekarang, lelaki itu adalah orang yang sama yang ada di ruang tamu, dimana saat itu dia sendiri mesem-mesem karena acara hari ini. Cih! Seperti tidak ada kalimat lain saja! batinnya. Namun pandangan namja itu tiba-tiba jatuh ke arah namja yang memakai Tuxedo abu-abu itu.
Baekhyun hanya menatap sendu ke arah depan sana, dimana Luhan yang berjalan ogah-ogahan, serta Chanyeol yang masih diam di tempat sambil melirik ke arah Baekhyun. Chanyeol merasakan sesak di dadanya, lalu tatapannya beralih ke Jongin yang menggeleng pelan. Chanyeol menghela napas, kemudian memutuskan menyusul saat suara pembawa acara kembali terdengar.
Minseok menepuk pelan bahu namja mungil di sampingnya. Baekhyun menoleh dan balas tersenyum, walau kenyataan hatinya tidak sebaik itu. "Baek, kau bisa memelukku kalau kau tidak siap?" ujar Minseok.
"Ah aku tidak apa-apa, Hyung!" balas Baekhyun.
Minseok hanya menghela napas, Yifan ikut menepuk pelan bahu namja mungil di dekatnya. Baekhyun da.n yang lainnya mendelik saat, Sehun tiba-tiba muncul dan ikut berjalan menuju ke arah depan di mana Tuan Oh sedang melambaikan tangan ke arahnya. Luhan menatap aneh ke arah Sehun yang sudah berdiri di samping Appanya.
Jongdae tiba-tiba menepuk bahu orang di sampingnya, yang tak lain adalah Kim Jongin. Namja berkulit tan itu mendelik ke arah Jongdae. "Apa." tanya Jongin malas.
"Apa kau merasakan sesuatu, Jong?" ujar Jongdae seraya melirik ke sekitarannya yang dipenuhi tamu-tamu.
Jongin mengerutkan dahi, kemudian ikut melirik dan memegang tengkuknya. "Apa, apa? Apa di sini ada hantu? Jangan menakut-nakutiku sialan!" bisik Jongin pelan agar tak terdengar siapapun, kalau sebenarnya dia sangat takut hal-hal berbau makhluk tak kasat mata.
Jongdae memukul kepala namja itu. "Bukan itu bodoh! Yang kumaksud itu, lihatlah di depan sana!" tunjuk Jongdae.
Baekhyun menjauhkan pandangannya dari arah depan, terlihat di sana Appa dan Eommanya tersenyum senang sekali Sementara dia di sini? Senyum pun rasanya dia malas. Chanyeol lagi-lagi menarik napas, begitupun Luhan yang menggigit bibir bawahnya resah. Percayalah matanya daritadi menatap ke arah Baekhyun di sana.
"Baiklah, tidak usah membuang waktu kita akan mulai saja acara intinya. Saudara Luhan dan Chanyeol yang akan bertunangan..."
Baekhyun merasakan jantungnya berdetak cepat, sungguh matanya memanas saat ini. Dia tak sanggup! Tidak ada lagi alasan dia berada di sini. Baekhyun melepaskan diri paksa dari Minseok, kemudian berlari keluar dari sana. Kemana saja, asal jangan mendengar kalimat sialan itu! Baekhyun menghapus kasar air matanya, namja manis itu berjalan tak tentu arah, keluar dari kediaman Park.
"Baek!" teriak Minseok seketika pandangan semua orang tertuju ke arah Minseok. Kyungsoo mendadak panik saat melihat kepergian Baekhyun, sementara Duo Jong yang tadi sibuk ikut terkejut mendengar teriakan Minseok. Luhan dan Chanyeol melototkan matanya saat mendengar suara itu.
Luhan hendak mengejar namun tubuh Chanyeol tiba-tiba melesat dengan kecepatan cahaya melewatinya, Tuan Park dan Sunny yang awalnya terkejut mendadak panik—Sunny saja yang panik—dan ingin mengejar Chanyeol juga. Luhan baru saja ingin berlari, tangannya tiba-tiba ditarik oleh Sehun.
"Lepas, Hun!" teriak Luhan mencoba melepaskan dirinya dengan memukul perut Sehun.
Sehun yang merasa kewalahan, langsung memeluk erat tubuh namja cantik itu dan seketika Luhan diam di pelukan Sehun. "Tenanglah, Lu. Aku bersamamu!" bisik Sehun pelan di telinga namja yang ada di pelukannya.
Tuan Xi tiba-tiba berbicara. "Bagaimanapun, pertunangan ini akan tetap berjalan!" ujarnya membuat Luhan sukses melotot saking shocknya.
.
.
"Hikss. Eomma, ini sakit sekali!" isak seorang namja mungil yang sedang berjalan tak tentu arah, sementara kedua wajahnya sudah sembab oleh air mata. Orang itu adalah Baekhyun, yang kini masih terisak di tengah jalan.
"Eomma, Hikss."
Baekhyun masih berjalan asal, karena kelelahan akhirnya namja itu memutuskan untuk duduk di tepi trotoar. Dia menekuk wajahnya di atas lutut, kemudian kembali terisak kencang. Sepertinya sebentar lagi dia akan digiring polisi, karena dikira gelandangan gila yang suka mengemis di jalanan.
"Kau kenapa, Nak?" sapa seseorang.
Baekhyun mengangkat wajahnya yang mungkin sudah dipenuhi cairan menjiikkan yang merembes dari hidungnya. Percayalah saat ini, dia sama sekali tak ada tampan-tampannya. Seorang wanita tua melirik aneh ke arahnya, kemudian ikut duduk di samping Baekhyun.
"Ani, aku tidak kenapa-napa hikss!" balas Baekhyun menarik kembali ingus yang akan keluar dari hidungnya lalu mengelap sisanya dengan tangan dan melepetkannya ke aspal. Ewwh! Itu menjijikan kalau Kyungsoo yang melihatnya.
"Lalu kenapa kau menangis?" tanya Ahjumma itu.
Baekhyun menarik napasnya, guna menghilangkan sesenggukan yang masih tersisa. Karena tak tahu harus mengatakan apalagi, Baekhyun memutuskan untuk menceritakan semuanya kepada Ahjumma itu dengan lancar.
Ahjumma di sampingnya hanya mengangguk paham, lalu mengelus surai kecoklatan milik Baekhyun lembut. Dia menatap ke arah Baekhyun yang masih diam, namun sudah berhenti dari acara-mari-menangisnya barusan.
"Pulanglah, saat ini ada seseorang yang menunggumu!" ujar Ahjumma itu lalu mengecup pelan puncak kepala si namja mungil di sampingnya.
"Tapi Ahjumma,"
"Tidak ada alasan kau di sini, Nak. Ada orang yang mencarimu! Kembalilah sebelum semuanya terlambat!" seru Ahjumma itu.
Baekhyun tak menjawab, dia memikirkan konsekuensi keduanya. Apa yang akan terjadi jika dia keukeuh untuk tetap di sini? Lalu apa yang akan dia rasakan ketika kembali ke tempat tadi? Ah membayangkan kedua hal itu bersamaan membuat kepala Baekhyun pening.
Sementara itu di sisi lain, seorang namja jangkung sedang berteriak kesetanan di jalan raya. Penampilannya sudah tak terdeteksi, sekali lagi, kalau ada polisi lewat, tetap saja dia akan dikira salah satu partner gelandangan pertama yang tak lain adalah Baekhyun. Chanyeol menarik rambutnya, kemudian melayangkan pandangan ke seisi jalan berharap dapat menemukan orang yang dicarinya.
"Baek! Kau dimana!" teriaknya kalap.
Chanyeol berlari kemana saja kakinya melangkah, dan dia bisa bernapas lega saat matanya tak sengaja memandang ke seberang jalan dimana seoramg namja mungik yang sedari tadi dicarinya sedang berjalan pelan seraya memegang perut. Benar, Baekhyun mendadak lapar setelah menghabiskan waktu berkutat dengan pikirannya tadi.
Chanyeol tersenyum senang lalu berlari ke jalanan seperti orang gila. "Baekhyun!" teriaknya kelewat semangat sambil terus menampilkan senyum tampannya.
Baekhyun yang mendengar teriakan familier itu sontak menoleh, dan mendapati Chanyeol sedang berjalan ke arahnya. Baekhyun merasa laparnya hilang saat melihat namja itu. Dengan semangat menggebu-gebu, Baekhyun juga ikut berlari dan melupakan fakta kalau mereka berdua seperti dua-gelandangan-gila-yang-tersesat.
"Chanyeol—AAKH!" suara Baekhyun terdengar memekakkam telinga, bersamaan dengan terhempasnya tubuh seseorang ke sisi kiri trotoar. Baekhyun merasakan kakinya melemas, namja itu mematung di tempat dengan tangan bergetar, matanya kembali memanas tanpa alasan yang jelas. Setelah ada teriakan dari beberapa orang, barulah namja mungil itu sadar dan langsung merosot terjatuh, sebelum kesadarannya benar-benar hilang, Baekhyun sempat mengatakan beberapa kata yang diucapkannya dengan orang di seberang sana.
Sehun mendelik ke arah Luhan yang sibuk sendiri. "Lu, sudahlah! Kau sudah 10 kali mondar-mandir di depanku!" teriak Sehun berang.
"Shut up! Ini sudah 30 menit, kenapa mereka tidak kembali hah! Aku khawatir bodoh!" tuhkan mata Luhan memanas lagi kalau mengingat insiden tadi.
"Kau kira aku tidak khawatir, lagi...,"
Ucapan Sehun tertahan saat nada dering di Hp Luhan berbunyi keras, Luhan buru-buru merogoh kantong celananya dan tersenyum senang saat melihat siapa gerangan yang baru saja menghubunginya. Dengan semangat, dia menekan tombol hijau dan segera meletakkan Hpnya di telinga
"Halo Baek kau dimana!" seru Luhan seraya tersenyum.
Mendadak air muka Luhan berubah, dia langsung membeku di tempat, Sehun yang melihat perubahan raut wajah namja cantik itu, langsung mendekat dan bertanya apa yang terjadi dengan nada panik. Luhan tak menjawab, juatru dia terduduk di atas rumput dengan tatapan kosong, sambil meyakinkan kalau barusan yang di dengarnya tadi nyata.
Dia sangat yakin dengan apa yang dia dengar tadi. Mendadak Luhan menangis tiba-tiba, membuat Sehun semakin panik saja. Dan kini Tuan Park mendadak ikutan panik dibuat tingkah namja itu. Satu-satunya kalimat yang dia dengar dari Baekhyun tadi masih terngiang jelas di telinganya.
"Hyung, Chanyeol, Jalan, Kecelakaan!"
TBC
Yeay Ch14 apdet. Chapter depan Ending yah, sebenarnya mau disatuin cuman kayanya bakal lebih dari 8k jadi kupikir terlalu panjang. Jadilah dibuat chapter tambahan hehe. Maafkan kalau ada typo dan keluar dari karakter aslinya.
_Baekhyunwife
