SWEET LIES (Ending)

^ByunYuna^

Pairing:

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

Other cast:

Xi Luhan

Oh Sehun

Kim Jongin

Do Kyungsoo

Kim Jongdae

Kim Min Seok

Wu Yifan

^Warning^

Genre cerita Boys Love, BoyxBoy

Yeay akhirnyaa nih ff kelar, selamat selamat. Sebelumnya aku mau ngucapin terima kasih yang banyak buat yang udah ngikutin nih ff dari ch1 dan sampe ending. Buat yang udah review juga, masukan masukannya. Dan buat chalienBee04 nih yg udah stay dari awal hehee makasih yah :D makasih juga buat yang lain Vfilcka6104 Park yeolna meliarisky7 park syna-B yeojachingusehun dan yang ga bisa disebutin satu satu

Buat yang nanyaa ceye kecelakaan parah atau gak. Jawabannya ada di chapter terakhir ini.

Terima kasih sekali lagi.

Selamat membaca.

. . .

Luhan berjalan mondar mandir dengan mulut yang tak berhenti menggerutu kesal sambil menggigit kukunya resah. Tentu saja dia resah, saat ini salah satu sahabatnya—sekalipun orang yang dimaksud itu sering dipanggilnya dengan sebutan si bodoh—sedang bertaruh nyawa di dalam sana. Oke kalimat terakhir memang agak sedikit berlebihan. Intinya Luhan benar-benar sangat cemas.

Baekhyun yang sudah sadar setengah jam lalu tampak masih shock, bahkan bibir namja mungil itu terlalu putih untuk dikatakan kalau dia baik-baik saja. Sunny mengelus lembut surai cokelat anaknya, mengucapkan segala kata yang sekiranya bisa menenangkan Baekhyun.

Jimin memijit pelipisnya pelan, kepalanya benar-benar terasa pening saat ini. Saat saja mendengar ucapan Luhan tadi, lelaki itu langsung meninggalkan taman belakang dan bergegas untuk mencari keberadaan anaknya. Namun 5 menit berlalu, Jimin kembali ke dalam dan berkata dia bingung akan pergi mencarinya kemana. Untunglah Sehun yang cepat tanggap langsung memutuskan melacak keberadaan Baekhyun dengan GPS di ponselnya.

Luhan berhenti dari acara mari-menjadi-gila nya, pandangan namja itu mendadak tertohok ke arah dua lelaki yang sedang sama-sama memijit kepala. Luhan mendekat, kemudian tiba-tiba namja itu menunjuk geram ke arah Jimin dan Tuan Xi.

"Aku tidak mau tahu! Kalau ada apa-apa dengan Chanyeol, orang pertama yang akan kujebloskan ke penjara, adalah kalian berdua!" teriaknya menggebu, membuat semua yang ada di situ terkejut bukan main. Bahkan Sehun langsung menganga mendengar ucapan namja cantiknya itu.

Tuan Xi balas menatap anaknya. "Kenapa Appa juga ikut kena, semua ini adalah rencana Jimin!" seru Tuan Xi.

Luhan mendelik. "Aku tidak peduli! Apapun yang terjadi nanti, ini semua gara-gara kalian!" seru Luhan masih keukeuh pada pendiriannya.

"Sudahlah, Lu. Seharusnya kau berdoa supaya Chanyeol tidak kenapa-napa!" seru Yifan yang risih melihat kelakuan aneh namja cantik aka sepupunya itu.

"Yifan benar, sebaiknya..." baru saja Tuan Oh ingin bersuara, Luhan lebih dahulu memotong ucapan lelaki itu.

"Apa? Kau juga termasuk kandidat tersangka, kalau kau lupa tuan! Coba saja kalian tidak melakukan semua ini, aku yakin tidak akan ada yang namanya kecelakaan!" ujar Luhan masih dengan emosi menggebu.

Semua orang di sana memandang lelah ke arah Luhan yang memutuskan untuk mondar-mandir lagi di depan ruangan Chanyeol. Jongin menghela napas, dia bingung dengan tingkah berlebihan Luhan. Jimin menjatuhkan pandangannya ke arah namja mungil yang sedang bersender di dekat Eommanya itu.

"Baekhyun," seru Jimin. Merasa namanya dipanggil, Baekhyun mendongak dan melirik ke arah lelaki itu.

"Nde Appa?" tanya Baekhyun.

"Maafkan Appa," ujar Jimin.

Baekhyun mengernyit bingung. "Appa tidak ada salah kok dengan Baekhyun," balasnya.

Baru saja Jimin ingin bersuara, tiba-tiba Dokter yang menangani Chanyeol keluar dari ruangan di depan. Luhan langsung berlari menghampiri sang Dokter dan langsung sibuk bertanya ini itu. Tuan Xi hanya meringis melihat anaknya itu.

"Bagaimana keadaannya, apa dia baik-baik saja, dia tidak mati kan dok, sungguh jawab dokter jangan diam saja!" teriak Luhan saat Dokter di depannya hanya diam saja, malah dia langsung menunjuk ke dalam sana dimana seorang namja masih terbaring dengan perban menutup kepalanya.

Sementara itu...

Chanyeol membuka matanya dengan mendadak, pandangannya masih mengabur namun sungguh dia tak bisa merasakan apapun saat ini. Mendadak jantung namja itu berdetak lebih kencang, dia melirik sekelilingnya, karena tak bisa berpikir jernih, dia hanya dapat melihat warna putih di sekitarannya.

Chanyeol mendadak lemas, dia tiba-tiba teringat kejadian beberapa waktu lalu, seingatnya dia sedang mencari seseorang, lalu ditabrak mobil dan dia langsung menabrak tiang dan berakhir pingsan di dekat Baekhyun.

"Sebentar, Baekhyun? Dimana anak itu, apa dia baik-baik saja?" pikirnya. Berbagai macam pemikiran muncul. Opsi pertama dia sudah mati lalu sedang berada di surga saat ini. Opsi kedua, dia koma lalu arwahnya mulai gentayangan. Dan sepertinya dia memilih opsi pertama. Dia sudah mati!

"Apa aku sudah mati? Tapi bagaimana bisa? Aku hanya menabrak tiang!" serunya tidak percaya.

Dia menggeleng, memcoba menghilangkan segala pemikiran aneh itu. "Tidak aku belum mati! Aku bahkan belum bercinta dengan Baekhyun!" kali ini suaranya mendadak keluar.

"Andwae! Aku belum mati!" Chanyeol berteriak sangat keras sambil memukul-mukul kepalanya berharap dia bisa segera kembali ke dunia.

BRAK!

Baekhyun buru-buru masuk ke dalam saat mendengar teriakan nyaring dari ruangan di depannya, dia melirik ke arah Chanyeol dengan mata berkaca-kaca menahan tangis. Dia hendak mendekat, namun suara Chanyeol lebih dahulu membuatnya berhenti berjalan.

"Jangan mendekat! Aku sudah mati, Baek! Aku belum mau mati! Kita belum punya anak, Baek!" seru Chanyeol dengan wajah frustrasinya.

Baekhyun mendelik, yang tadinya sedih mendadak perutnya tergelitik mendengar ucapan polos namja itu barusan. Sontak saja, Baekhyun tertawa keras dengan air mata yang turun di wajahnya. Sungguh, dia tidak bisa menahan semuanya, dia sungguh senang. Dia menangis bahagia saat ini.

Chanyeol menatap sedih ke arah Baekhyun. "Bahkan dia tertawa saat aku mati," desahnya kecewa mengetahui kebenaran ini.

Pletak!

Chanyeol meringis saat tangan seseorang mendarat pas di kepalanya, Sehun menatap datar ke arah namja yang sedang memegang kepalanya itu. "Kau belum mati bodoh!" teriak Sehun dan langsung memeluk erat Chanyeol.

Yifan dan yang lainnya ikut memeluk Chanyeol beramai-ramai, hanya Luhan dan Baekhyun yang tidak karena keduanya masih diam di tempat. Jimin menghela napas lega, kemudian berdiri menghampiri anaknya itu, lalu tak disangka dia justru langsung memeluknya membuat Chanyeol cengo di tempat.

"Maafkan Appa, Chan!" seru Jimin.

"Minta maaf untuk apa? Kupikir Appa memang berniat menyuruhku mati!" ujar Chanyeol kembali datar seperti semula.

"Ini memang salah Appa! Tapi sungguh ini juga karena kalian yang terlalu cepat menyimpulkan sesuatu! Sebenarnya pertunangan tadi untuk Luhan dan Sehun, serta kau dan Baekhyun," seru Jimin menjelaskan semuanya.

"APA!" Luhan, Baekhyun dan Chanyeol serentak berteriak karena terkejut.

"Tapi bagaimana bisa, Appa?" tanya Chanyeol masih menatap tak percaya ke arah Appanya.

"Sebenarnya begini..."

Flashback On

Pernikahan Jimin dan Sunny.

"Kau berpikir dengan apa yang kupikirkan?"

"Kurasa," balasnya.

"Tentu saja tidak semudah itu. Aku punya ide yang lebih baik. Aku akan menjodohkannya dengan anak temanku!"

"Tapi apa itu tidak akan menyakiti mereka? Aku tidak tega."

"Percayalah ini tidak akan rumit. Ikuti saja permainanku!" ujar orang itu sesekali tersenyum penuh arti ke arah dua orang yang masih asyik berpelukan di salah satu sisi halaman rumah seorang Park Jimin.

"Aku akan menelepon, Tuan Xi untuk membantuku mengelabui mereka. Aku akan menjodohkan Chanyeol dengan Luhan sebagai kedok! Lalu mengadakan pertunangan, yang mana sebenarnya itu ditujukan unuk Chanyeol dan Baekhyun!" ujar Jimin tersenyum senang.

Sunny menatap bingung ke arah Jimin. "Aku takut, bagaimana kalau Chanyeol tidak menyukai Baekhyun? Lagipula apa salahnya mereka berpelukan?" ujar Sunny sambil terus menatap ke arah Baekhyun dan Chanyeol.

"Kau tahu, selama ini aku tidak pernah melihat Chanyeol seperti sekarang! Terakhir kali dia tersenyum, saat Eommanya masih ada, setelah itu aku tak pernah melihatnya bahkan mengubah ekspresi. Namun saat malam itu, aku bisa tahu semuanya!" ujar Jimin mengenang.

Sunny balas menatap tak enak hati ke lelaki itu, dia mengelus pelan bahu Jimin. "Maafkan aku, kuharap rencanamu tidak salah Jimin-ah. Aku sangat tahu bagaimama Chanyeol! Dia itu sama keras kepalanya denganmu!" ujar Sunny.

Jimin menggeleng. "Tenang saja Sunny, percaya padaku." ucap Jimin meyakinkan. Sunny mengangguk saja. Kedua pasangan itu ikut undur dari sana saat dilihatnya objek yang mereka lihat sudah beranjak pergi.

.

Setelah kepergian keluarga Tuan Xi, suasana di ruang tamu benar-benar mencekam. Satu dari mereka tak ada yang berbicara sama sekali. Sampai suara Baekhyun lah yang akhirnya memecahkan keheningan itu.

"Appa, Eomma, aku pamit ke kamar," ujar Baekhyun seraya melangkah gontai meninggalkan Jimin dan Sunny yang masih menatap kepergian Baekhyun dengan pandangan sulit diartikan.

Sunny masih menatap kepergian anaknya dan Chanyeol, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lelaki di sebelahnta. "Jimin-ah, kau yakin akan melanjutkan ini semua? Aku tidak tega dengan ekspresi Baekhyun tadi, dia hanya berpura-pura tegar, aku tahu itu! Dan kau tidak lihat, bahkan Luhanlah yang justru mencintai anakku!" seru Sunny pelan takut suaranya terdengar oleh Baekhyun di atas sana.

"Kau tenanglah, aku tak mungkin setega itu menyakiti mereka. Biarpun Chanyeol berubah, dia tetap anakku! Aku hanya ingin dia menyadari semuanya, Sunny!" balas Jimin sambil tersenyum.

Sunny menghela napasnya. Dia jadi sedih memikirkan Chanyeol. "Arasseo, kuharap kebohongan kita tidak sampai menyakiti salah satu dari mereka,"

"Aku berani bertaruh, setelah hal ini, Chanyeol pasti mulai memikirkan ucapanmu tadi!" tambah Jimin seraya menggandeng lengan Sunny untuk meninggalkan ruang tamu. Dan benar saja sesuai dugaan Jimin, Chanyeol langsung memikirkannya sampai tidak pulang ke rumah.

.

Jimin menghela napas untuk yang kesekian kali, tangannya bergerak memijit daerah kepalanya yang sedikit pusing. Lelaki itu menatap kosong Tv di depannya. Ini sudah ketiga harinya dia seperti orang kurang akal, duduk termenung setiap kembali ke rumah, padahal selagi di kantor, dia baik-baik saja, tapi entah kenapa setiap memasuki rumahnya, seketika perasaannya berubah dalam sedetik.

Dia paham betul apa yang terjadi pada dirinya, bahkan Sunny seringkali menasehatinya dan berkata. "Sudahlah, sebaiknya kita batalkan saja semuanya!" tapi dia selalu menggeleng dan memberikan alasan yang sama setiap kali Sunny mengingatkannya.

"Jimin-ah?" ujar Sunny saat dilihatnya sang suami masih asyik menatap kepergian Baekhyun sejak 5 menit yang lalu.

Jimin menoleh dan mendapati sang istri berdiri di sampingnya. "Ada apa, Sunny?" tanya lelaki itu.

"Kau kelihatan tidak baik, Jimin. Kau yakin baik-baik saja?" tanya sang istri yang kini sudah duduk di sampingnya.

Jimin tersenyum kemudian membelai lembut rambut Sunny. "Nde, aku tidak apa-apa, sayang." Jimin mengecup singkat puncak kepala yeoja itu.

Sunny menggeleng, dia tahu betul bagaimana perasaan Jimin saat ini. Bahkan lelaki itu sering kedapatan tidak tidur, dan selalu tidak fokus di tempat kerjanya. "Kau bohong! Setelah semua yang terjadi, apa kau masih yakin semuanya akan lancar? Jimin-ah, haruskah kita beri tahu semuanya? Kau terlalu keras pada Chanyeol!" cicit Sunny pelan. Sungguh hatinya begitu sakit, apakah suaminya tidak melihat bagaimana anaknya terluka ketika Jimin menamparnya dua kali saat kedapatan mabuk. Padahal Sunny tahu betul alasan kenapa dia mabuk, karena tak sengaja mendengar dialog Baekhyun dan Luhan di telepon saat Sunny hendak menemui anaknya itu.

"Kau benar Sunny, aku sudah keterlaluan dengan Chanyeol, aku pikir dia akan semakin membenciku," balas Jimin lesu.

Sunny menghela napas. "Aku sudah memperingatkanmu, jadi sekarang terserah kau saja bagaimana baiknya!" ujar Sunny.

Jimin hanya tersenyum. "Aku akan tetap melanjutkan semuanya, bagaimanapun aku berharap Chanyeol mau kembali seperti dulu lagi! Sungguh, pertunangan ini hanyalah kebohongan Sunny!" seru Jimin.

Sunny lagi-lagi menghela napasnya lelah. "Sekarang aku tahu darimana sifat keras kepala yang Chanyeol dapatkan!" balas yeoja itu sambil menatap sebal ke arah suaminya yang sedang tertawa pelan.

.

"Luhan, malam ini kita akan membicarakan lagi perihal tunangan kalian," ujar Tuan Xi ketika dilihatnya Luhan baru saja memasuki kediaman rumahnya.

Luhan menghela napasnya. Baru saja dia menginjakkan kaki dan senang beberapa saat lau karena menggoda habis-habisan Baekhyun di mobil Sehun tadi, tiba-tiba moodnya rusak mendengar ucapan Appanya itu.

"Terserah Appa saja!" balas Luhan seadanya. Tiba-tiba sebuah ide muncul di benaknya. "Appa pergi duluan, aku akan menyusul nantinya," tambah Luhan.

"Tidak bisa! Kita harus pergi bersama!" balas Tuan Xi.

Luhan memutar kedua bola matanya. "Apa selama ini aku pernah berbohong pada Appa?" tanya Luhan final.

Tuan Xi hanya mengangguk saja. Sementara Luhan sudah melesat masuk ke kamarnya. Merasa semuanya aman, Tuan Xi kabur dari rumahnya untuk menemui sahabat lama yang sialnya malah berakhir ikut masuk ke dalam rencana Jimin.

Tuan Oh menjabat tangan Tuan Xi dan Tuan Park yang lebih dahulu ada di tempat mereka. Tak berapa lama, seorang namja jangkung terlihat muncul juga di sana. Empat orang itu duduk melingkar di salah satu kursi yang terletak paling sudut di kafe itu.

"Wah kau sudah besar, Sehun. Apa kau sekelas dengan Chanyeol lagi? Kupikir dulu kalian cukup dekat!" ujar Jimin saat melihat ke arah Sehun.

Well biar kuceritakan sedikit. Tuan Park, Xi dan Oh itu teman dari saat masih di Taman Kanak-kanak, mereka bertiga selalu bersama-sama tak peduli meskipun hujan badai, ketiga orang itu tak akan sekalipun terpisah. Bertahun-tahun dekat, membuat ketiganya semakin akrab, dan jangan heran kalau ada julukan tiga serangkai untuk mereka.

Lambat laun, mereka tumbuh dewasa, dan kedekatan ketiganya semakin menjadi saat sudah bekerja di perusahaan masing-masing, walaupun untuk meet up atau sekedar melepas rindu mereka agak sukar, karena terhalang oleh pekerjaan, tapi sebisa mungkin ketiganya tetap menjaga tali silahturahmi mereka.

Hingga, satu persatu mulai menikah dan mempunyai anak yang sialnya laki-laki semua. Terkadang mereka tertawa tiap kali mengingat hal itu, apalagi kalau bukan takdir namanya, saat dulu mereka berteman, dan sekarang anak mereka juga berteman. Namun dari dulu memang ada yang aneh dari Sehun, karena dia akan sangat dekat dengan Chanyeol, lalu mulai malu-malu jika bertemu dengan Luhan. Sialnya waktu itu, Sehun harus pindah ke China, dan tebak siapa yang paling terpuruk, orang itu adalah Luhan.

Chanyeol mungkin menangis, tapi itupun sebentar saja saat Sehun memeluknya dan berkata selamat tinggal. Sementara Luhan, justru namja cantik itu yang memeluk Sehun erat sambil berkata, jangan pergi Sehun-ah, jangan lupakan aku, jangan pernah lupakan aku, dan kalimat-kalimat berulang lain dengan wajah yang penuh dengan air mata.

"Saat itu kau masih bau iler Sehun," ujar tuan Xi tertawa mengingat bagaimana ketiga anaknya sewaktu kecil dulu.

Sehun mengerucutkan bibirnya sebal. "Itukan sudah lama, lagipula sekarang aku sudah tampan!" Sehun berbangga diri seraya merapikan tatanan rambutnya.

Tuan Park mendelik. "Anakku juga tampan, kalau kau lupa!" ujar Jimin mengingatkan sambil menatap ke arah Tuan Xi.

Balik tuan Xi yang menggedikan bahu. "Aku tidak tahu harus bangga atau bagaimana, sialnya anak ku itu tidak tampan, justru dia cantik! Sial, aku jadi tidak bisa pamer," Tuan Xi mendesah kecewa. Tak berapa lama, gelak tawa muncul di sana, bahkan Sehun memegang perutnya saking lucunya.

"Sudahlah, Sehun apa Chanyeol mengingatmu? Aku tau kalian berdua seperti kembar siam di waktu kecil," ucap tuan Oh.

Sehun menggeleng. "Itukan sudah lama Appa, bahkan Luhan saja tidak mengingatku Ah rusa jelek itu benar-benar menjengkelkan," seru Sehun.

"Ku dengar dari Yifan kau berpacaran dengan anakku?" tanya tuan Xi penuh selidik.

Sehun tergagap, kemudian menggaruk hidungnya. "Eh itu, hemm, ya ya kami berpacaran hehe," Sehun tertawa sumbang di situ.

"Bagus! Jadi kami tidak perlu lagi menjodoh-jodohkan kalian berdua!" ucap tuan Xi.

"Bagaimana kau bisa berpacaran dengannya," kali ini Appa Sehun yang bicara.

"Sejak Baekhyun menolaknya," ujar Sehun kalem. Tuan Park melotot mendengar ucapan Sehun, dia baru hendak bersuara saat Sehun menyambung ucapannya. "Kupikir dia hanya bercanda atau ingin membuat Chanyeol cemburu, tapi ternyata dia memang menyukainya. Kurasa dia sakit hati, saat melihat Chanyeol dan Baekhyun berciuman waktu itu." Sehun menerawang.

"Berciuman!" koor ketiga lelaki itu dengan mata seakan mau keluar dari tempatnya.

"Tentu saja. Di UKS, lalu di kelas, kemudian di mobil dan di ranjang lalu mereka..." oke kalimat terakhir Sehun hanya mengada-ngada. Dasar iblis tampan.

"Cukup! Jimin-ah, ayo percepat pertunangan ini! Aku tau bagaimana sifat Chanyeol, aku tak mau menantumu lecet sebelum hari H!" seru tuan Oh membayangkan hal yang tidak-tidak.

Lalu tatapan tuan Xi jatuh ke Sehun yang masih cengo. "Kau, kali ini harus ikut sandiwara kami! Berpura-puralah terkejut, dan jangan membela Luhan maupun Chanyeol, anggap saja kau tidak tahu apa-apa! Aku tahu, Luhan pasti akan menjadikanmu tameng malam ini" tuan Xi menerawang, dia paham betul bagaimana sifat anaknya itu, lalu diangguki oleh Jimin dan Tuan Oh.

Dan benar saja bukan, malam itu Luhan datang dengan Sehun, untung saja ketiga lelaki itu gerak cepat, jadi mereka bisa mengantisipasi apa yang akan terjadi selanjutnya. Dan berterima kasihlah pada Sehun, seakan-akan pertunangan itu sampai membuatnya bisu seketika. Cih, Sehun memang pandai sandiwara! batin tuan Xi waktu itu. Padahal aslinya, Sehun memang tidak mengerti apa yang terjadi.

Sehun mendelik. "Aku kan memang tidak tahu," isyarat Sehun saat tatapan tuan Xi mengintimidasinya.

.

Empat orang terlihat sedang berdiri beraturan, salah satunya melirk ke arah beberapa jas mahal di salah satu butik langganan mereka. Saat ketiga orang itu sibuk dengan pilihan mereka, satu orang namja mendengus sebal seraya mendudukan bokongnya di sofa single yang ada di tempat itu.

"Kapan kalian akan selesai?" tanya namja itu sebal. Ayolah, waktunya bisa saja habis di tempat tak berguna ini.

Sementara ketiga orang di sana tampak tak peduli dan terus saja sibuk dengan kegiatan mereka. Namja itu menggeram di tempat, apa tadi dia ditelepon hanya untuk melihat mereka sibuk seperti itu, sementara dia hanya mendekam bodoh di ruangan ini. Bahkan dia tadi rela meninggalkan semuanya hanya karena telepon salah satu dari ketiga orang itu?

"Baiklah, coba kau pakai yang ini!" salah seorang menyodorkan sebuah jas hitam yang sangat elegan ke arah namja itu.

Namja itu langsung saja memakainya, kemudian bergaya seadanya di depan mereka dengan wajah dongkol sedongkol-dongkolnya. Ketiga orang itu saling manggut-manggut, kemudian tersenyum penuh arti ke arah namja yang hanya balas diam sambil melepaskan jasnya.

"Kenapa aku harus repot-repot seperti ini?" tanya namja itu penuh selidik.

"Tentu saja karena kau besok akan bertunangan," balas salah satu.

"Terus kenapa hanya aku? Apa dia tidak memilih jas juga?" tanya si namja masih penasaran.

Yang paling rendah menoleh. "Soal dia itu urusanku, lagipula aku sudah menyiapkan pakaian yang tepat untuknya!"

"Kau benar. Baiklah, aku harap besok bisa berjalan dengan lancar!" balas namja itu sambil tersenyum.

"Tentu saja, aku yakin kalian akan berterima kasih padaku esok hari!" balasnya sambil ikut tersenyum.

Keempat orang itu hanya tersenyam-senyum di sana, tak peduli kalau para pengunjung sedang menatap curiga ke arah mereka. Bagaimana bisa empat orang lelaki tertawa seperti orang gila, apakah mereka pasien rumah sakit yang lepas.

Namja jangkung itu mengelus pelan jas miliknya, kemudian tersenyum penuh arti. "Aku tidak sabar untuk hari esok!" batinnya.

Orang itu, dia Oh Sehun yang kali ini sedang menatap jam tangan di kirinya. Dia memberikan jasnya ke pegawai agar segera membungkusnya. Dia menghampiri Appanya serta Tuan Xi dan Park yang masih tertawa di sana.

"Kalian hanya akan tertawa seperti itu? Aku akan pulang duluan saja, Appa!" seru Sehun.

"Baiklah Sehun, sampai ketemu besok pagi! Aku harap Chanyeol, Luhan dan Baekhyun akan terkejut esok hari!" ujar Tuan Xi.

Sehun hanya tersenyum, mengangguk, kemudian dia mengambil barang yang dipesannya tadi. "Kau benar Ayah mertua!" ujarnya main-main. Sedang ketiga orang lainnya kembali tertawa mendengar ucapan namja jangkung itu.

.

Minseok hanya menghela napas, Yifan ikut menepuk pelan bahu namja mungil di dekatnya. Baekhyun dan yang lainnya mendelik saat, Sehun tiba-tiba muncul dan ikut berjalan menuju ke arah depan di mana Tuan Oh sedang melambaikan tangan ke arahnya. Luhan menatap aneh ke arah Sehun yang sudah berdiri di samping Appanya.

Jongdae tiba-tiba menepuk bahu orang di sampingnya, yang tak lain adalah Kim Jongin. Namja berkulit tan itu mendelik ke arah Jongdae. "Apa." tanya Jongin malas.

"Apa kau merasakan sesuatu, Jong?" ujar Jongdae seraya melirik ke sekitarannya yang dipenuhi tamu-tamu.

Jongin mengerutkan dahi, kemudian ikut melirik dan memegang tengkuknya. "Apa, apa? Apa di sini ada hantu? Jangan menakut-nakutiku sialan!" bisik Jongin pelan agar tak terdengar siapapun, kalau sebenarnya dia sangat takut hal-hal berbau makhluk tak kasat mata.

Jongdae memukul kepala namja itu. "Bukan itu bodoh! Yang kumaksud itu, lihatlah di depan sana!" tunjuk Jongdae.

"Kalau yang kau maksud itu Sehun, aku juga tak tahu?" tanya Jongin mengikuti kemana arah telunjuk Jongdae.

"Bukan itu, tapi Kotak cincinnya bodoh! Yang tunangan kan Luhan dan Chanyeol, lalu kenapa kotaknya ada dua? Apa Jimin Ajusshi akan bertunangan lagi? Tapi dengan siapa?" tanya Jongdae bingung sendiri dengan ucapannya.

"Mana mungkin bodoh! Jelas-jelas mereka sudah menikah, dan kau juga ada di sana waktu itu!" ujar Jongin. "Tapi kali ini aku setuju dengan ucapanmu, Jong! Dan satu hal, kenapa pula Sehun juga ada di sana?" tambah Jongin seraya melirik ke arah Sehun di depan sana.

Jongin dan Jongdae terdiam sebentar, kemudian mendadak saling pandang satu sama lain. Jongdae yang lebih dulu bersuara. "Aku rasa memang ada yang tidak beres di sini! Kupikir semuanya akan terlihat sebentar lagi!" ujar Jongdae.

Jongin hanya mengangguk mengiyakan. "Kita tunggu saja," ujarnya

Baekhyun menjauhkan pandangannya dari arah depan, terlihat di sana Appa dan Eommanya tersenyum senang sekali Sementara dia di sini? Senyum pun rasanya dia malas. Chanyeol lagi-lagi menarik napas, begitupun Luhan yang menggigit bibir bawahnya resah. Percayalah matanya daritadi menatap ke arah Baekhyun di sana.

"Baiklah, tidak usah membuang waktu kita akan mulai saja acara intinya. Saudara Luhan dan Chanyeol yang akan bertunangan..."

Baekhyun yang sudah terlalu kesal langsung berlari dari sana, kemudian disusul Chanyeol yang ikut mengejar namja manis itu. Sang pembawa acara mendadak terdiam, dia mendekat ke arah Jimin kemudian berbicara sedikit berbisik.

"Pak? Kenapa kedua orang itu pergi? Di sini tertulis jelas kalau yang akan bertunangan itu Park Chanyeol dan Xi Luhan, yang mana Luhan akan bertunangan dengan Sehun, lalu Chanyeol dengan Baekhyun. Jelas yang tadi itu Baekhyun bukan? Kenapa dia berlari?" tanyanya pelan.

Jimin menghela napasnya lelah. "Aku juga tidak tahu, kupikir ada salah paham di sini. Kita tunggu 30 menit, kalau tidak ada kabar, maka kita langsungkan pertunangan Luhan dan Sehun dulu!" ujar Jimin sambil menatap Luhan yang sekarang mondar mandir seperti setrika di depan Sehun.

.

"Chanyeol—AAKH!" suara Baekhyun terdengar memekakkan telinga, bersamaan dengan terhempasnya tubuh seseorang ke sisi kiri trotoar. Baekhyun merasakan kakinya melemas, namja itu mematung di tempat dengan tangan bergetar, matanya kembali memanas tanpa alasan yang jelas. Setelah ada teriakan dari beberapa orang, barulah namja mungil itu sadar dan langsung merosot terjatuh, sebelum kesadarannya benar-benar hilang, Baekhyun sempat mengatakan beberapa kata yang diucapkannya dengan orang di seberang sana.

Chanyeol memegang kepalanya yang terasa pening sekali, dia merasa ada darah segar yang mengalir, namun bukan itu yang ditakutkannya, justru namja mungil yang sedang tak sadarkan diri di seberang sana yang dia khawatirkan. Chanyeol berjalan terseok-seok kesusahan sambil memegang kepalanya. Jalanan di sini sangat sepi sekali, Chanyeol ragu akan ada yang menemukan mereka di sini. Untunglah ada orang yang melihatnya dan mulai mendekat. Hanya mendekat, mungkin mereka takut melihat kepala Chanyeol yang sudah berdarah-darah.

"Baek? Aish aku yang kecelakaan, kenapa kau yang pingsan sih?" ujarnya mendekat kemudian terduduk di samping namja mungil itu.

Dia menepuk pelan pipi gembil namja itu, namun Baekhyun sudah terlalu khawatir sampai-sampai Chanyeol yang disenggol mobil dikiranya sudah kenapa-napa. Jujur Chanyeol hanya terkejut dan sukses mendarat mencium aspal dengan kepala sedikit menyentuh tiang di jalan sana. Oh tiang menabrak tiang pikirnya. Dan sialnya lagi, mobil yang menjadi dalang dari semuanya tadi langsung kabur begitu saja saat melihat Chanyeol terkapar di tepi jalan.

Kepalanya mendadak terasa sangat sakit, pandangan Chanyeol tiba-tiba saja mengabur. "Astaga kalau begini aku benar-benar akan mati! Siapa yang akan menolong kami?" tanyanya sambil masih memandang wajah damai Baekhyun.

Namun matanya tak sengaja memandang durasi panggilan yang Baekhyun lakukan, setelah itu barulah Chanyeol bisa tersenyum senang. "Kau pintar Baek. Kalau begitu, aku bisa tenang!" ujar Chanyeol pelan, benar saja tak berapa lama, namja jangkung itu ikut tak sadarkan diri di dekat Baekhyun.

. . .

Luhan memukul tubuh Sehun bertubi-tubi setelah mendengar semuanya, kemudian matanya memanas, tak berapa lama namja cantik itu menangis sesenggukan dengan wajah yang sangat menderita. "Hikss kau jahat padaku, Sehunnie! Hikss kalian semua jahat, kupikir kalian benar-benar akan menjodohkanku dengan Chanyeol! Aku benci dengan kalian semua hiksss!" Luhan berteriak sambil terus menangis di pelukan Sehun.

"Ampun Lu, aku hanya disuruh oleh orang tua itu!" balas Sehun membela diri.

"Eomma! Hikss, kenapa Appa jahat sekali!" teriak Baekhyun tiba-tiba membuat semua orang di situ mendongak. Mata namja itu sama berkaca-kacanya, dia tak menyangka ternyata selama ini dia dibohongi? Sungguh bagaimana kebohongan mereka bisa begitu manis.

Jimin mendelik ke arah Baekhyun. "Omo Anakku sayang, sudah jangan menangis eoh, lihatlah Chanyeol-mu tidak apa-apa," ujar Jimin seraya memeluk namja manis yang sedang terisak itu.

"Tuhkan benar dugaan kita, Jong!" seru Jongin kelewat bahagia saat mengetahui semua hal ini. Jongdae mengelap air mata bahagianya, Minseok hanya terkekeh melihat tingkah kedua orang itu.

"Kau benar, huaa aku terharu!" balas Jongdae langsung memeluk Kyungsoo yang ikut menangis bahagia di situ. Semenit, Jongin membiarkan saja karena dia juga terlalu bahagia.

Yifan menatap lelah ke arah teman-temannya yang mulai sedikit berlebihan, tadi Luhan dan sekarang mereka semua. "Astaga, tidak bisakah kalian biasa saja? Hikss!" serunya dengan wajah menahan tangis. Ah Yifan, kau sama saja dengan mereka. Minseok langsung memukul kepala namja tinggi itu, Chanyeol hanya terkekeh pelan melihat mereka semua.

"Sehun bodoh!" seru Chanyeol membuat Sehun mendelik.

"Yaa! kenapa pula aku yang bodoh?" tanya Sehun bingung.

"Karena kau tidak mengingatku," ujar Chanyeol kalem.

"Sialan! Sudah kau yang lupa padaku, apa-apaan jadi aku yang bodoh!" balas Sehun tak terima, sementara Chanyeol sendiri tertawa terbahak di atas ranjangnya. Mata namja itu jatuh ke arah yang lebih muda, Baekhyun sedang menunduk menyembunyikan wajahnya. Lalu tatapannya jatuh ke Jimin.

"Appa kau sangat tega denganku! Kalau aku mati bagaimana?" tanya Chanyeol sedramatis mungkin.

"Kau tidak akan mati dengan mudah, kau kan punya banyak nyawa simpanan!" balas Jimin enteng.

"Yaa! Kau pikir aku superhero? Aish aku benar-benar membencimu! Sungguh kalian sangat pintar berbohong!" seru Chanyeol tak menyangka semua ini terjadi.

Jimin memeluk erat anaknya, mengusak rambut yang lebih tinggi, Chanyeol hanya membalasnya, jujur dia sangat merindukan pelukan dari Appanya. Terakhir kali dia dipeluk saat di pemakaman Eommanya.

Chanyeol menghapus air matanya, sungguh dia sangat merasa baik sekali saat ini. Seakan luka di kepalanya itu mendadak hilang. "Apa ini benar-benar sudah berakhir? Hikss, aku jadi ingin menangis!" serunya.

Jimin mendorong pelan bahu namja mungil di dekatnya. "Pergilah, Baek!"

Baekhyun mendekat ke arah Chanyeol yang sedang memejamkan matanya, dia berdehem pelan membuat Chanyeol membuka matanya lebar-lebar. Tanpa aba-aba Baekhyun menerjang kuat tubuh namja di depannya, membuat Chanyeol terjengkang ke belakang karena terkejut.

"Hikss Chanyeollie," cicit Baekhyun pelan. Chanyeol mengelus pelan surai cokelat Baekhyun, dia benar-benar merindukan namja mungil ini.

"Kau baik-baik saja kan, Baek?" tanya Chanyeol agak khawatir.

"Seharusnya aku yang tanya, kau baik-baik saja kan? Jangan seperti itu lagi, aku benar-benar takut!" suara Baekhyun sedikit bergetar.

"Sudahlah, kau lihat aku bahkan bisa melakukan salto belakang sekarang juga," Chanyeol terkekeh mendengar ucapannya sendiri. Bodoh! Mana bisa dia melakukan hal itu.

Keheningan melanda, Baekhyun sudah melepaskan pelukannya, Luhan juga sudah tidak semengerikan yang tadi. Ketiga lelaki paling tua saling berbicara satu sama lain. Yang lainnya hanya diam di tempat tak berniat pergi ataupun sekedar menoleh, namun mereka semua terkejut saat suara Chanyeol memecah keheningan.

"Hei semuanya!" seru namja itu.

"Apa?" balas Luhan penasaran sambil celingak celinguk.

"Lihatlah, ada bintang!" seru Chanyeol menunjuk ke atas langit-langit, sontak semua mata langsung mengarahkan pandangannya ke atas sana.

Chanyeol menampilkan senyum devilnya, dengan tak sabaran namja tinggi itu menarik tengkuk Baekhyun dan langsung melumat pelan bibir tipis namja manis itu. Baekhyun membulatkan matanya, Chanyeol langsung menarik tubuh mungilnya agar mendekat. Chanyeol menyesap kuat bibir bawah Baekhyun, membuat yang lebih muda membuka mulutnya membiarkan Chanyeol melesakkan lidahnya ke dalam sana.

"Ekhem!"

Kegiatan panas keduanya terhenti saat suara Jimin menginterupsi, Baekhyun mendorong kuat dada Chanyeol agar menjauh. Jimin menatap lelah ke arah Chanyeol yang menampilkan cengiran tidak bersalahnya, sedang Baekhyun hanya menunduk menatap sepatunya. Luhan terkikik di sana, lihatlah bagaimana wajah bahagia Xi Luhan. Baekhyun mendelik tajam.

"Kalian berdua itu benar-benar tidak tahu tempat!" seru Jimin frustrasi.

Chanyeol tiba-tiba seakan mendapat ide. "Appa?" serunya mendekat.

"Apa lagi? Tidak ada bintang di sini!" tanya Jimin tak sabaran.

"Bisa pesankan aku hotel sekarang juga!"

The End

Ahh ending wkwk maaf buat typo dan maaf juga kalau ceritanya tidak nyambung. Sekali lagi aku mau ucapin terima kasih buat semuanya. See you later. Author baru sadar kalau nulis judulnya salah bukannya sweet malah swet. Ah yah, chapter depan Epilog yah.

_Baekhyunwife