Come Back Home (AFTER STORY)
Namjin! Married Life. Mpreg! Comfort. Angst. Happy Ending?
ENJOY!
.
Come Back Home (AFTER STORY)
Tubuh Seokjin menggeliat terbangun, berbalik lalu menggulung tubuhnya sekali lagi di balik selimut tebalnya. Ia ingin tidur lebih lama. Tapi hari ini Ia harus bersiap datang ke persidangan perceraiannya. Dirinya tak siap. Sejak semalam tubuhnya menggigil membayangkan tentang hari ini.
Tapi semua usahanya sudah final. Ia telah berusaha bicara dengan kepala dingin dengan Namjoon lebih dari sepuluh kali sejak Ia mengungkapkan keinginannya pada Namjoon dua bulan lalu. Ia juga telah berbicara pada orang tua mereka, mengatakan jika semua ini Seokjin yang meminta bukan Namjoon, dan tak pernah menyinggung apapun tentang masalah mereka.
Pesan singkat masuk ke ponselnya.
Kau sudah bangun?-NJ
Sudah. Aku akan bersiap setelah ini-SJ
Brunch bersama? Salad Stop?-NJ
Perlu waktu lebih bagi Seokjin sebelum membalas;
Ok, bertemu di sana.-SJ
.
.
.
Ingatan mereka masih segar tentang semua jalan yang mereka lalui hingga berada di titik sekarang. Mereka ingat bagaimana Namjoon menggenggam tangan Seokjin keras-keras saat menemani Seokjin di ruang tunggu di showcase debutnya. Bahkan lelaki itu lebih gugup dibanding Seokjin sendiri.
Lalu malam-pagi-malam-pagi yang mereka habiskan ketika memproduksi lagu–ya, Namjoon yang menjadi ketua tim produser setiap album Seokjin lima tahun ini. Atau saat mereka sama-sama gugup saat harus jujur ke perusahaan tentang hubungan mereka–mereka telah menjadi kekasih saat itu. Termasuk bagaimana serunya mereka bermain petak umpet dengan penggemar Seokjin maupun penggemar Namjoon saat mereka ingin berkencan namun harus bersembunyi dari publik.
Lalu ketika mereka mengumumkan pertunangan mereka. keduanya yang khawatir telah bersiap mendapat komentar negatif, namun publik mencintai mereka. dukungan datang dan banyak orang ikut bersuka cita. Mereka bahagia, merasa tak sendiri dan dicintai banyak orang.
Seluruh kenangan itu datang menghempas tubuh Seokjin bagaikan ombak, membawa tubuhnya terdampar di pulau seorang sendiri, ketakutan, namun ingin tahu sejauh mana batas dirinya bisa bertahan tanpa Namjoon. Yang Seokjin sadari bahwa dirinya telah bergantung terlalu jauh pada Namjoon selama ini.
Pesan masuk sekali lagi.
Aku sudah sampai. Mau kupesankan pesananmu?-NJ
Baiklah aku sudah siap berangkat. Ya, jika kau tak keberatan.-SJ
Sebentar lagi Ia akan menemui Namjoon, berusaha bersikap seperti kawan baik.
"Ini yang terbaik bagi kami." Bisiknya pada dirinya sendiri kesekian kalinya pagi ini.
.
.
.
Namjoon gila. Kelewat gila. Ia frustasi seminggu terakhir. Tak bisa tidur, tak mengantuk, tak lelah, dan terus memaksa dirinya bekerja. Ia hanya tidur satu-dua jam di dalam studionya, lalu kembali bekerja setelah menghabiskan dua-tiga batang rokok. Ia tak pulang dan mandi, Ia tak peduli.
Ia harus menyelesaikan lagunya.
Dan ketika hari sidang perceraiannya sudah tiba, Ia memastikan lagunya sekali lagi bersama Yoongi dan Jimin yang menangis saat mendengarnya. Ia menyalin lagu tadi ke dalam sebuah USB dan memasukkannya ke dalam amplop coklat. Ceri di atas kue, Ia menuliskan 'Untuk Kim Seokjin, terimakasih atas semuanya.'
"Kau serius, Namjoon?"
Namjoon meringis melihat bagaimana mata bengkak Jimin masih menangis sedangkan tangan lelaki itu mengusap perutnya tanpa henti. "Maafkan kami harus memberimu kado terburuk untuk anak pertamamu, Jim."
Lelaki itu menangis semakin keras di dalam pelukan Yoongi.
"Tak ada yang bisa kulakukan. Memaksa Seokjin untuk memaafkanku hanya membuatnya tersiksa, dan tidak seperti itu cara kerja cinta. Kuharap kita berempat akan kembali bersama seperti selama ini di masa depan."
Lalu Namjoon yang meninggalkan mereka, sekali lagi merasa bersalah pada Jimin karena membuatnya menangis sekeras ini.
Ia melajukan mobilnya dengan gamang, setelah memastikan jika Ia tak melupakan hadiah untuk Seokjin.
.
.
.
"Kau baik? Apartemen barumu memiliki keamanan yang baik?"
Seokjin mengangguk, menyuapkan selada ke mulutnya. "Ya, tidak sebagus apartemen kita tapi cukup baik." Ucapnya singkat menjelaskan apartemen barunya setelah Ia keluar dari apartemen mereka.
Tidak hanya Seokjin yang pergi, Namjoon juga. Berada di rumah yang telah ditinggalinya bersama Seokjin selama ini, lengkap dengan semua kenangan di setiap sudut, tak akan membantunya bangkit. Ia juga pergi.
"Aku bertemu lelaki mirip Lee Byunghun di lobi apartemenku, Joon."
Senyuman lebar Namjoon terukir. Ia merindukan hal seperti ini, duduk bersama Seokjin tanpa pembicaraan berat yang menyiksa dan menguras emosi. Ia merindukan senyuman cerah Seokjin. Keputusan ini terasa yang terbaik.
"Kau terlihat sangat menyukainya."
"Kuharap Ia tak terlalu tua dan belum berkeluarga. Ia sangat tampan!"
Keduanya tertawa menyadari kebodohan ini. Merasa riang seperti dua remaja kelas satu SMA, seperti saat mereka pertama kali bertemu. Bercengkrama tanpa perlu memikirkan jika setelah ini mereka harus melewati sidang perceraian dan urusan rumit paska-sidang, termasuk hari-hari sendiri setelah perceraian.
Dan ketika Seokjin menyelesaikan makanannya, Namjoon yang telah lebih dulu selesai mendorong amplop putih pada Seokjin.
"Ini hadiahku untukmu, mungkin yang terakhir. Aku akan pergi ke Amerika setelah ini. Maaf tak mengatakannya padamu lebih awal,"
Seokjin terlihat terkejut. Gelas yang Ia angkat tergantung di depan mulutnya. "Amerika?"
"Manhattan, lebih tepatnya. Kau bisa datang kesana, kapanpun, jika kau siap bertemu dan melihat wajahku." Namjoon tersenyum, "Aku tak memaksamu untuk memaafkanku, aku akan membiarkan langit menyiksaku atas dosa yang telah kulakukan padamu. Aku memenuhi keinginanmu, untuk tak muncul di hadapanmu hingga kau sendiri yang datang padaku."
Namjoon berdiri. "Kuharap ketika kita bertemu kelak, kau sudah bisa memaafkanku. Dan semua luka yang kusebabkan tak akan membuatmu sakit saat melihat wajahku. Selamat tinggal, Kim Seokjin."
Selamat tinggal, Kim Seokjin.
Seokjin baru tahu jika lelaki itu benar-benar telah mengucapkan kalimat perpisahaannya. Karena Namjoon tak datang di persidangan cerai terakhir mereka. Ia sungguhan saat mengucapkan selamat tinggal.
Dan hati Seokjin kosong setelahnya.
"Kau baik-baik saja, Seokjin?"
Seokjin mengangguk pada sahabatnya, memeluk Jimin dan Yoongi bergantian sambil membisikkan ucapan terimakasih karena telah mendukung keputusannya dan Namjoon hingga sejauh ini.
"Kau yakin bisa menyetir?"
Seokjin malah tertawa. "Kau pikir aku patah kaki atau gegar otak hingga tak sanggup mengemudi?"
Dan ketika Ia sendirian di dalam mobil, Ia baru mengingat kado dari Namjoon. Ia menarik amplop pemberian Namjoon dari kursi kosong di sebelahnya. Terlihat tulisan tangan Namjoon yang dihafalnya dengan sangat; 'Untuk Kim Seokjin, terimakasih atas semuanya.'
Lidahnya membasahi bibirnya tanpa sadar. Ia gugup.
Isinya hanya USB, tanpa ada surat, tanpa ada yang lain. Ia menyambungkan USB pemberian Namjoon ke mobilnya, menemukan satu lagu berjudul 'Come Back Home' sebagai satu-satunya isi USB tadi.
Petikan gitar terdengar menenangkan setelah Seokjin menekan tombol putar.
Orang lain berkata, akan ada pelangi setelah badai
Kupikir mereka berbohong, karena pelangiku baru saja pergi
Seseorang lainnya berkata, aku akan baik saja ketika berjalan sendiri di masa mudaku
Tapi apa yang bisa kulakukan ketika semua memori masa mudaku bersamamu?
Kurasa ini yang buruk dari kita
Terlalu terikat, terlalu bergantung
Berapa kali aku terasa tercekik hanya karena kau yang menangis
Sedangkan tak ada tali di leherku
Berapa kali aku merasa ingin berlari dan bersembunyi
Sedangkan aku baik-baik saja dan tak ada yang mengejarku
Come back home
Adalah hal yang ingin kukatakan
Padamu
Ketika kau merasa lelah
Come back home
Adalah hal yang ingin kuteriakkan
Padamu
Ketika kau merasa ingin bersembunyi
Karena rumah adalah satu-satunya tempat yang paling mengerti dirimu
Dan kau masih menjadi rumahku,
Kapanpun itu, kau masih menjadi rumahku
Sekalipun di kehidupanku selanjutnya, kau akan tetap menjadi rumahku
Come back home
Because you will always be welcomed by me
Come back home
Whenever you ready
Come back home
In Manhattan,
Lalu suara Namjoon hilang, semua hening. Mati-matian Seokjin menenangkan dirinya setelah mendengar lagu Namjoon, mendengar suara lembut lelaki itu, dan bayangan kenangan mereka terputar dengan cepat di kepala.
"Seokjin, am i still your home? Because you're still mine. Aku masih di sini. 160 W 24th St, New York" Ucap Namjoon. Lalu rekaman benar-benar berakhir.
Lelaki itu hancur. Ia menyembunyikan wajahnya di balik kemudi dengan tangisan tersedu yang tak berhenti. Rasanya alur hidupnya terlalu menyedihkan dengan berakhir demikian. Pasangan dari surga yang sebenarnya hanyalah bohong, khayalan Seokjin semata.
.
.
.
Saat itu Seokjin yang sedang tertidur di dalam pelukan Namjoon tiba-tiba terbangun, merasa mulas luar biasa di perutnya hingga kakinya merasa kebas. Lelaki itu terduduk dan merintih tanpa suara.
Suaminya ikut terbangun, kebingungan dengan Seokjin. "Ada apa, sayang?"
Usia kandungan mereka masih empat bulan, belum waktunya Seokjin merasakan kontraksi. Dengan kesadaran penuh Namjoon menggendong tubuh lemas suaminya, terlalu lelah setelah menggelar konser di Jepang sehari sebelumnya dan lemah karena merasa sakit di perutnya.
Ini sungguh seperti petir di siang bolong. Dokter mengatakan jika kandungan Seokjin bermasalah. Anak mereka mati sebelum lahir. Dokter harus mengeluarkan janin itu sebelum membusuk di dalam.
Untuk pertama kalinya Seokjin merasa tak memiliki semangat untuk bangun. Harapannya, bayangannya, impiannya, selama empat bulan lebih, sirna dalam satu pagi yang cerah dan hangat. Ia bahkan telah memimpikan mengajari anaknya bermain piano, atau membiarkan Namjoon mengajari anak mereka olahraga meskipun suaminya tak terlalu pandai berolahraga.
"Seokjin? Kau sudah makan?"
Tentu saja belum.
Namjoon kemudian duduk di belakang punggung Seokjin, membelai lembut punggung hingga bahu lelakinya, turun ke tangan Seokjin. "Jika kau tak makan sekarang, aku akan mengganggumu terus menerus. Tapi jika kau makan sekarang, setidaknya aku tak akan mengganggumu hingga nanti sore."
Seokjin merasaka kehangatan tangan Namjoon yang membelai pipinya dari belakang.
"Ayo makan, kutemani."
Dan saat itu hanya Namjoon alasannya untuk bangun dan bangkit. Ia percayakan semua hidupnya sejak awal pada lelaki itu, percaya bahwa pundaknya yang kokoh mampu menopang hidupnya. Ia duduk dan memeluk Namjoon, menumpahkan semua rasa sedih dan sesalnya di bahu itu.
Seperti yang Ia harapkan, Namjoon menenangkannya. Ia berbisik jika semua baik-baik saja dan akan baik-baik saja. Belaian lembut tangan hangat Namjoon di punggungnya menenangkan.
Hingga satu kata tak sengaja terucap. "Andai kau tak memaksa konser perpisahan di Jepang selama dua hari, kurasa semua akan baik-baik saja."
Sejak saat itu dunia Seokjin hancur. Tak ada lagi sosok lelaki yang menjadi alasan Seokjin bangkit. Tak ada lagi lelaki yang Ia percayakan hidupnya padanya, tak ada pundak yang mampu menopang masalahnya, hingga tak ada ketenangan dalam sosok Namjoon. Kepercayaannya hilang hanya karena satu kalimat.
"Namjoon, aku kehilangan anak yang kukandung dan kau mengatakan hal tadi seolah hanya kau yang kehilangan."
END
ARE YOU SATISFIED?
PLS TELL ME. Im not good at angst story
ILY!
