Bleach by Tite Kubo

Mimpi? by mss Dhyta

Rating : M

Genre : Criminal/Angst

Pairing : Ichiruki

Summary : Mimpi mungkinkah kau membohongiku?



Mimpi aku mempercayaimu, mimpi apakah impianku akan terkabul ditanganmu?

Mimpi masihkah kau berada dipihakku?



Rukia menuju rumah sakit tempatnya bekerja dengan wajah pucat seolah-olah darah tidak mengalir ke wajahnya. Teman-teman sesama perawat pun menanyakan keadaanya dengan cemas, Rukia terlihat sakit tapi selalu menggeleng dan menjawab tidak apa-apa ketika ditanya.

"Rukia-chan kau sakit?" tanya Isane dengan wajah cemas. "Bagaimana kalau kau pulang cepat saja?" tawarnya tapi hanya dijawab dengan gelengan kepala dan senyum kaku dari Rukia.

"Tidak, Isane-san aku baik-baik saja cuma kurang tidur." Rukia menjawab dengan datar tanpa ekspresi membuat Isane hanya bisa menggelengkan kepalanya sedikit prihatin pada wanita berambut kebiruan itu.

"Apakah penyakit tidurmu itu masih kambuh?" tanya Isane membuat Rukia membulatkan bola matanya dipenuhi ketakutan yang menyelimuti.

"A.. ah. Aku rasa iya." Rukia mencoba untuk tenang mengatur emosinya, menghela nafas dan tersenyum kaku berusaha menunjukkan kalau dia baik-baik saja. Televisi dihadapan mereka yang sedang menyiarkan berita membuat Rukia menjadi tambah ketakutan, berita hari ini sedang gencar-gencarnya menyiarkan 2 pembunuhan sadis yang terjadi dua minggu terakhir.

"Ah, pembunuhnya sadis sekali ya aku tidak menyangka ada orang yang mampu melakukan hal itu." Ucap Isane dengan wajah prihatin Rukia melirik Isane pelan seolah-olah ia tidak ingin Isane melihat wajah penuh ketakutan yang menghampirinya wajah seorang pembunuh yang melakukan pembunuhan sadis yang ia tak sadari.

Mimpi?

Senja menjelang dan Rukia bersiap-siap untuk pergantian perawat jaga, ia tinggal menunggu giliran jaga untuk jam ini, Isane sudah pulang duluan karena ia harus menemui seseorang sedangkan sekarang Rukia berusaha untuk membaringkan kepalanya diatas meja dan menjadikan lengannya sebagai bantal. Entah kenapa setiap ada pembunuhan yang terjadi Rukia selalu bermimpi tentang bagaimana pembunuhan itu terjadi, seperti ramalan akan hal yang terjadi secara detail. Layaknya kemarin malam ia merasa berada di suatu tempat di sebuah gang dengan Urahara dihadapannya dan secara tiba-tiba ia mengayunkan parang yang dibawanya ke tangan Urahara membuat pria itu berteriak, ia merasa bahwa itu dirinya bukan ia melihat dirinya, tapi seolah-olah ia melihat itu dengan matanya dan ia yang melakukannya, ia menginjak tubuh Urahara dan mengayunkan parang itu berkali-kali ke lehernya membuat suara teriakan itu melemah seiring dengan kepergian nyawa pria itu. Lalu dirinya berjongkok dihadapan Urahara membalikkan kepalanya dan mencungkil mata pria itu. Mengambil sebuah paku dan menancapkan tangan yang terputus itu di dinding, menuliskan angka 2, setelah itu pun gelap sampai beberapa saat bukan karena bangun karena tidak ada mimpi lain yang melanjutkan.

Entah kenapa setelah bangun Rukia merasa mimpi itu seperti nyata dan darah yang menempel ditubuhnya itu benar-benar darah seolah-olah itu hasil perbuatan dalam mimpi, membuatnya semakin meyakini bahwa penyakitnya itu membuatnya menjadi seorang pembunuh.

"Rukia-san." Panggil seorang wanita dengan rambut panjang yang tergerai. Rukia bangun dari tidur sejenaknya dengan penuh keringat. Cewek yang membangunkannya hanya bisa mengerutkan dahi dengan penuh tanda tanya.

"Sudah giliranku kan?" Rukia hanya mencoba tersenyum dan tertawa menutup sebagian wajahnya dengan telapak tangan pelan menjawab, "Yah."

Mimpi?

Ichigo melihat dua foto yang berada diatas meja kerjanya salah satu fotonya adalah foto dari pembunuhan seorang wanita bernama Nemu yang ditemukan dalam keadaan botak dan potongan-potongan rambut yang terhambur disekitarnya bercampur dengan darah, matanya tercungkil tetapi mata itu tidak ditemukan dimanapun dan tubuhnya dimutilasi menjadi dua bagian kedua tangan dan kaki terpotong seolah-olah membentuk sebuah puzzle yang berantakan.

Ichigo menarik nafas dengan wajah lelah melirik handphone miliknya dan melihat layarnya yang berkedip-kedip Ichigo mengangkat telepon dan menjawab dengan lemah.

"Halo, ada apa?"

"Ichigo bisa aku bicara denganmu, penting." Ichigo mengerutkan dahinya dan melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 3 sore.

"Jam 4 aku akan kerumahmu. Dan ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan padamu, bisa kan?" tanya Ichigo dengan merendah wanita berkulit hitam disebrang sana mengangguk dan menyatakan jawaban ya.

Mimpi?

Ichigo memencet bel apartemen bernomor 200 itu dan menunggu seorang wanita yang akan membukakan pintu.

Pintu terbuka dan seorang wanita tersenyum kepada Ichigo. "Maaf membuatmu harus repot-repot kesini." Ichigo hanya menjawab dengan senyum.

"Bagaimanapun aku tetap harus memenuhi panggilanmu Yoruichi-san."

Setelah melepas sepatunya Ichigo masuk kedalam apartemen yang entah kenapa penuh dengan beberapa kotak itu. "Yoruichi-san kotak apa ini?" tanya Ichigo dengan wajah heran.

"Itu barang-barang Urahara aku tidak ingin menyimpan benda penuh kenangan itu dirumah kami." Yoruichi tersenyum kaku matanya masih menunjukkan sedikit gurat kesedihan yang tertahan.

Mimpi?

"Jadi apa yang telah kau dapatkan dari penyelidikanmu Ichigo?" tanyanya dengan nada menyelidik.

"Belum kami belum menemukan petunjuk karena didaerah sekitar situ memang sangat sepi,sehingga tidak ada saksi mata, lagipula parang yang digunakan untuk pembunuhan pun parang yang dijual secara umum jadi kami tidak bisa menyelidiki jalur pembeliannya." Ichigo menjelaskan hasil nihil yang ia lakukan Yoruichi menghela nafas berat.

"Yoruichi-san apakah kau tahu kalau Urahara sedang membuat alat pengopi otak?" Yoruichi yang mendengar pertanyaan aneh Ichigo menggeleng pelan, "Alat itu? Aku juga baru mendengarnya."

Ichigo menunduk dengan wajah kecewa, "Bisa aku melihat ruang kerja Urahara-san?" Yoruichi berdiri dan mempersilahkan Ichigo keruang bawah tanah yang hanya diketahui oleh beberapa orang itu.

Mimpi?

"Rukia-san, kemarin kau masih melakukan 'kebiasaan' tidurmu itu ya?" tanya Aizen ketika Rukia mengunjunginya untuk berkonsultasi lagi di ruangannya.

"Iya begitulah Aizen-san aku bingung dengan keadaanku selama ini, dan.. aku ingin sedikit bertanya padamu Aizen-san?" ucap Rukia dengan ragu, ia menunduk untuk menyembunyikan ekspresi cemas dan takutnya. Aizen menghentikan kegiatan menulisnya dan melihat kearah pasien wanitanya itu dengan tatapan penuh perhatian.

"Ada apa?"

"Apakah, penyakit seperti ini memungkinkan seseorang untuk melakukan perbuatan criminal?" Rukia tetap menunduk tidak melihat reaksi aneh yang ditunjukkan Aizen reaksi yang segera ditukar dengan ekspresi heran.

"Ah aku rasa mungkin saja, apalagi kalau yang sudah dari kecil mengalami penyakit ini. Dan aku pernah dengar orang yang tidak sengaja membunuh." Rukia menelan ludah dengan berat hati ketika ia mendengarkan penjelasan pria berkacamata itu.

"Dan Rukia-san aku sarankan kau menginap lagi sehari disini, dan sebaiknya besok, bagaiman apakah kau bisa?" tanyanya dengan nada menyelidik menunggu jawaban dari wanita berambut hitam kebiruan itu.

Rukia mengangguk ragu mengangkat kepalanya menunjukkkan sebuah ekspresi yang meminta keyakinan. "Semua itu akan membantu kesembuhanku kan Aizen-san?" Aizen tersenyum seolah-olah ia adalah dewa penolong bagi sang bidadari yang kehilangan sayapnya.

Rukia tersenyum kaku, ia berterimakasih dan meminta ijin untuk pulang, ia tidak pernah tahu saat ia berbalik dan menutup pintu semburat senyum licik muncul dari wajah sang penolong.

Mimpi?

Ichigo membuka beberapa laci dan mencari-cari petunjuk sekecil apapun yang akan menunjukkan pembunuhan Urahara, ia meneliti beberapa berkas mencari kata alat pengopi memori otak yang katanya mau diceritakan oleh Ichigo. Yoruichi yang sudah keluar dari ruangan itu pun membuat Ichigo semakin leluasa untuk membongkar-bongkar berkas milik pria itu.

Ichigo membongkar-bongkar laci itu sampai melepaskan tempat laci itu dari raknya sehingga hanya meninggalkan ruang hampa diantara meja dan rak lain dibawahnya dan ketika itu ia menemukan keanehan di ujung rak laci ada selotip yang menempel 4 selotip lebih tepatnya, kalau tidak diperhatikan secara detail mungkin hanya akan dianggap sebagai keisengan sang ilmuan. Ichigo melepas selotip itu dan ternyata ada sebuah ruang yang dibuat untuk menyembunyikan sebuah berkas, dan ditutupi oleh triplek yang diwarnai sama dengan warna meja itu.

"Tak kusangka dia akan menyembunyikannya disini." Ujarnya tersenyum ketika menemukan kertas yang dicarinya.

Ia membolak-balik lembar-lembaran yang berisi rancangan sebuah alat, memang alat itu terlihat meyakinkan, tertulis dalam berkas itu alat tersebut mampu mengopi memori seseorang kedalam memori orang lain seperti mengopi satu file ke sebuah flashdisk.

"Tetapi kemungkinan resiko akan muncul jika ingatan itu dimasukan ketika…"

Yoruichi masuk kedalam ruangan itu dan membuat Ichigo nyaris melompat karena kaget. "Ichigo-san, apakah kau sudah menemukan apa yang kau cari?" tanyanya, tangan kananya menggenggam sebuah notes yang akan ditunjukkan pada Ichigo.

Ichigo mengangguk dengan semangat. "Aku rasa iya."

Yoruichi tersenyum dan mengangguk. "Baguslah dan aku rasa notes ini akan sedikit membantumu." Yoruichi menyerahkan notes itu dan diterima Ichigo dengan wajah bingung.

"Apa isinya?" tanya Ichigo melihat sampul notes itu sepertinya bukan buku lama ataupun baru keluar dari gudang, warna hitamnya tidak kusam.

"Buku hariannya, kadang ia suka menulis disitu, jadi mungkin akan membantumu." Yoruichi berbalik dan meninggalkan Ichigo yang bertanya pada dirinya sendiri.

"Aku baru tahu Urahara punya diary."

"Ah Yoruichi-san ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan."

Yoruichi berbalik dan melihat Ichigo dengan wajah heran. "Soal apa?"

"Soal partner kerja sama Urahara."

Yoruichi mengerutkan dahinya dan mengangguk, "Baiklah jadi apa yang baru saja kau temukan bisa kau ceritakan padaku?"

Ichigo tersenyum dan menunjukkan berkas yang ia temukan. "Tentu saja."

Mimpi?

Malam itu Rukia bermimpi tentang suatu hal yang aneh, bukan mimpi tentang pembunuhan tetapi hanya bermimpi tentang seseorang, orang itu mengenakan sebuah jubah berwarna hitam pekat yang sobek dibeberapa bagian ia seorang wanita bermata violet dan berambut keabu-abuan setelah Rukia melihat wanita itu lebih seksama ia sadar kalau itu adalah dirinya yang lain. Wanita itu mengulurkan tangannya pada Rukia dan tersenyum ia mengucapkan beberapa kalimat yang hanya bisa didengar oleh Rukia dan menghilang.

Mimpi?

Rukia kembali berwajah pucat pagi itu, ia melihat jam dinding dan jam tangannya dengan cemas, menunggu kedatangan Ichigo yang berjanji akan menemuinya sebentar lagi dan karena selama beberapa hari Rukia akan menjalani cuti maka ia bebas tidak masuk kerja.

Ichigo berlari tergesa-gesa menuju tempat perjanjian ia dan Rukia, jarang-jarang nona Kuchiki itu mengajaknya berkencan hari ini, walaupun sebenarnya ia masih harus mengurus beberapa kasus, ia pun akhirnya membolos kerja dan akan kena resiko dimarahi oleh Hitsugaya-taichou dan berpikir untuk mendiskusikan kasus itu bersama dengan Rukia siapa tahu wanita itu bisa membantu.

Setelah sampai di café tempat mereka janjian Ichigo segera mencari sosok Rukia, dan ketika ia menemukannya ia segera mengambil tempat dihadapan wanita itu.

"Maaf aku terlambat." Ichigo memasang cengiran kuda diwajahnya membuat Rukia hanya mampu mendengus kesal.

"Jadi ada apa kau memanggilku kesini tuang putri?" tanya Ichigo dengan senyum usilnya, Rukia yang masih sedikit pucat hanya berusaha memuculkan senyum tulus yang dipaksakan.

"Kita kerumahku saja ya ada yang ingin aku bicarakan." Ujarnya pelan membuat Ichigo sedikit terlunjak.

"Biasanya kau yang melarangku untuk kerumahmu. Tumben." Cetus Ichigo heran, Rukia kembali tersenyum dengan wajah kaku Ichigo pun sedikit menyadari senyum aneh Rukia itu ia mendekat dan memperhatikan wajah wanita itu lekat-lekat sampai menimbulkan semburat merah diwajah wanita itu menggantikan warna putih kertas yang sejak tadi menghiasinya.

"Kau kenapa Ichigo?" tanya Rukia wajahnya menjauhi wajah Ichigo dan berbalik menyembunyikan semburat merah yang muncul.

Ichigo tetap memperhatikan wajah dan mengalihkan perhatiannya dan menatap mata violet Rukia. "Kau menyembunyikan sesuatu kan?"

Rukia kembali mengalihkan wajahnya kali ini bukan menyembunyikan semburat merah ataupun rona tanda kalau dia sedang malu, tapi menyembunyikan ketakutan terbesarnya. "Mungkin."

Mimpi?



Tie-manganiac-bgt : hehe nyeremin ya? Pelakunya lihat aja nanti hihihi

Orange Burst : eh Rukia belum tentu pembunuhnya lho.. tapi mungkin aja..

IchiRuki Shirosaki : hehe emang agak menjijikkan sih *ide dari mana coba??* Ichigo kebunuh?? Bisa aja sih haha

Yumemiru Reirin : Eh, mungkin kayak gitu sih *dikemplang*

Shirayuki haruna : haha iya emang yang kayak gitu mesti gak nyadar *walaupun belum pernah ngerasain* hehe iya bleach movie 1 emang rada nyebelin.

Bakamirai : hehe mungkin gitu tapi gak tahu deh terus review ya ^^

ChappyBankai : hehe Urahara emang melas. Yah mungkin aja Rukia kayak gitu. Iya minggu lalu memories of no body di Indosiar.

Yuinayuki-chan : hehe maafkan aku Urahara *dikejer Urahara fans*

Himeka Kinoshita : hehe tau kan aku juga lemah di deskripsi. Haha lagi pengen menuhi rated M Bleach yang sepi hoho. PWP apaan?? *bingung*

Maaf ya kalau ternyata fic ini makin gaej apalagi buat endingnya mungkin bakal mengherankan banget aneh banget tapi..RnR selalu ya ^^

Ayo teken ijo-ijo dibawah dengan semangat ^^