Bleach by Tite Kubo

Mimpi? by mss Dhyta

Rating : M

Genre : Criminal/Angst

Pairing : Ichiruki

Summary : Mimpi mungkinkah kau membohongiku?

Rukia dan Ichigo sudah berada disebuah rumah yang hanya ditempati oleh Rukia, rumah itu khusus dibelikan Byakuya untuk dipakai Rukia selama ia bekerja sebagai perawat, rumah itu kelihatan sedikit berantakan dan hal itu tidak seperti biasanya.

"Rukia, apa memang biasanya tempatmu seperti ini, berantakan buat ukuran cewek nih." Keluh Ichigo dan mengharapkan sebuah jitakan atau pukulan yang melayang dikepalanya seperti biasa, tapi sepertinya tidak untuk hari ini. Rukia tetap berjalan menuju sofanya yang penuh dengan bungkus snack.

Tiba-tiba wanita itu berbalik dan memandang Ichigo dengan penuh arti. "Ichigo kalau kau mendengarkan hal ini, mungkin kau tak akan percaya tapi.."

Rukia menghela nafasnya dengan berat, Ichigo menatap mata violet Rukia dengan serius. "Aku yang membunuh Urahara, dan wanita itu." Seketika kaki Ichigo seperti meleleh, ia seperti tidak mampu berdiri lagi dari tempatnya. "Rukia kau bercanda kan?" tanya Ichigo pelan tetapi bukan tawa hangat dari Rukia yang muncul tetap keseriusan penuh dari mata violet itu.

"Aku serius."

Ichigo tidak bisa berkata-kata lagi ia memeluk Rukia setelah pengungkapan Rukia tentang pembunuhan itu, pelukan itu erat-erat dan sangat erat, Ichigo seolah-olah ingin mengatakan sesuatu yang sulit untuk diungkapkan dengan bahasa manusia. Rukia menangis sejadi-jadinya ia tidak membalas pelukan cowok itu karena ia anggap tangannya telah kotor dan seharusnya ia tidak pernah boleh menyentuh cowok itu.

"Aku akan menyelidiki sesuatu percayalah, kalau kau tidak bersalah." Bisik Ichigo dan pergi dari tempat itu dengan suara bantingan pintu yang mengiringi. Rukia terduduk lemas tanpa suara hanya aliran mata yang mengiringinya. "Maafkan aku Ichigo, ini semua salahku."

Mimpi?

Yoruichi terdiam dan duduk di sofanya ia mengingat segala hal yang diutarakan Ichigo padanya, bukan hal yang main-main tapi bisa menjadi pengungkap sekaligus penjebak investigasi dari pembunuhan calon suaminya. Wanita berambut ungu itu berdiri menuju kesebuah jendela besar yang membuat matanya mampu melihat langit hitam yang gelap lalu ia bergumam sendiri dan mengambil tas kecilnya.

"Aku harus pergi ketempat orang itu."

Mimpi?

Yoruichi memencet bel rumah itu dengan cepat seolah-olah ia ingin memaksa pemilik rumah itu keluar dan menghajarnya hingga babak belur, satu pikiran yang menghantuinya kemungkinan yang besar hanya orang ini yang mungkin membunuh calon suaminya. Yoruichi menggertak-gertakkan kakinya ke lantai menunggu sang penghuni rumah datang dan membukakan pintu, tapi sayang sebuah seringai menyekapnya dari belakang dan membungkam mulutnya dengan sapu tangan yang telah dicelupkan bersama chloroform, wanita berkulit coklat itu pingsan.

Mimpi?

Ichigo memencet sebuah nomer handphone, tetapi pemiliknya tidak menjawab, Ichigo merutuk kesal dan menelepon nomor lain. Setelah tersambung tanpa salam kehormatan Ichigo segera memberitahu maksudnya menelepon. "Hitsugaya aku minta tolong sesuatu padamu." Ichigo menjelaskan segala hal yang ia ketahui tentang kasus pembunuhan itu, ia menunggu jeda sejenak, mengharapkan jawaban positif dari atasannya. Suara tenang yang menahan kesal disebrang sana lalu menjawab. "Kalau memang begitu aku akan membantumu.". Setelah mendengar jawaban itu Ichigo memacu mobilnya ke sebuah rumah sakit.

"Aizen sialan, beraninya kau memperalat Rukia."

Mimpi?

Rukia melihat handphonenya yang sejak dari tadi berdering, entah kenapa pikirannya kosong dan hanya dipenuhi keinginan untuk lepas dari bayang-bayang ketakutannya sendiri. Dan hanya satu yang ada dipikirannya bagaimana jiwa pembunuhnya terlepas dan ia bisa bebas, atau tiba-tiba ia terbangun dan ternyata ia tidak pernah bermimpi dan melakukan semua hal gila itu. Rukia menyeret langkahnya yang berat menuju meja, tempat handphonenya bergetar dan berdering menunggu jawaban, bukan telepon melainkan sms tapi suara nyaring sms itu membuat Rukia benar-benar ingin membanting handphonennya. Tapi sejenak ia mengurungkan niatnya untuk membanting handphone itu ia melihat si pengirim dan membalasnya dengan cepat.

Aku akan segera bersiap aku harap metode anda ini akan benar-benar membantu saya untuk menghilangkan kebiasaan gila ini.

Rukia berdiri dan menuju kamarnya, membuka baju rumahnya dan menggantinya dengan kaos serta celana jeans, handphonenya kembali berdering lagi dan ia melihat balasannya.

Tenang saja metode ini pasti akan berhasil. Aku akan menjemputmu 15 menit lagi.

Rukia tersenyum walaupun ada sebuah firasat buruk yang tersembul diantara senyumnya. "Aku pasti akan sembuh." Ucapnya pelan

Mimpi?

Ichigo menanyakan pada suster dengan tergesa-gesa membuat suster itu hampir meloncat kaget ketika Ichigo menunjukkan identitasnya sebagai polisi. " Hari ini Sousuke-san tidak masuk ia meminta ijin beberapa hari untuk cuti." Ucap suster itu sambil membalik beberapa kertas. "Ada masalah apa ya kalau saya boleh tahu?" tanya suster itu agak ragu ia tidak yakin dokter yang baik itu terlibat masalah dengan polisi.

"Kalau begitu alamatnya?" tanya Ichigo mengacuhkan pertanyaan suster itu hanya 1 yang ada dipikirannya yaitu menangkapnya dan melemparkan pria itu ke penjara.

"Jalan xxx no 34 di kota Karakura selatan." Ucap suster itu sebelum wanita itu berkata sekali lagi Ichigo sudah melesat meninggalkannya. Suster itu menghela nafas berat. "Padahal aku juga ingin memberitahu kalau Aizen mempunyai satu rumah lagi di Karakura Utara." Keluhnya pelan.

Ichigo memencet tombol handphonenya dan menunggu jawaban dari Rukia ia menelepon Rukia karena 1 hal yaitu kecemasan, ia menangkap firasat buruk lain. "Rukia ada apa denganmu?"

Tetapi jawaban yang diharapkan tidak muncul juga Ichigo kembali merutuk kesal dan mempercepat laju mobilnya.

Mimpi?

Rukia sudah berada di dalam mobil milik Aizen ia terdiam dan menatap pemandangan diluar jendela, Aizen pun hanya terdiam sambil memperhatikan sekilas mangsa sekaligus tamengnya itu. Senyum licik muncul dibalik wajahnya yang biasanya terlihat sangat bisa dipercaya. "Kau akan menyusul yang lain Rukia." Bisiknya pelan.

Rukia tersenyum ketika pria itu menunjukkan senyum baiknya pada Rukia melalu kaca. Ia melihat keadaan disekitar mobil itu dan kemana arah perjalanan mereka. "Aizen-san kita akan kemana?" tanya Rukia heran arah perjalanan ini kea rah Karakura Utara yang cukup jauh.

"Kita akan kerumahku yang lain." Jawab Aizen matanya melirik melalui kaca dan melihat Rukia yang mengangguk pelan.

"Apakah rumah itu hanya di isi kita berdua nanti?" tanya Rukia ragu matanya melirik jendela berusaha mengalihkan firasat buruknya.

"Tenang saja ada 2 orang yang lain dirumah, dan aku rasa mereka sudah menunggumu."

"Baguslah."

Mimpi?

Ichigo mendobrak pintu rumah Aizen yang dikatakan suster itu ia melirik ke kiri dan ke kanan melihat-lihat apa yang bisa ia jadikan petunjuk selanjutnya. Mata coklatnya terbelalak ketika ia melihat sebuah bola mata yang mengambang-ngambang didalam toples, bola mata itu seperti meminta untuk dikembalikan pada pemiliknya. Ichigo mundur dan melihat bola mata di dalam toples itu karena dia bukan ahlinya ia hanya bisa menebak mata itu asli.

"Ini mungkin mata Nemu-san yang tewas itu." Ucap Ichigo sembari mengambil toples itu dari meja kerja Aizen. Kaki dan mata Ichigo kembali menelusur tempat itu.

Ichigo memegang sebuah berkas yang sama persis dengan berkas yang ia temukan di tempat Urahara.

"Satu lagi bukti dan kau tamat Aizen." Ichigo tersenyum dan mengambil handphonenya yang bergetar.

"Hallo Hitsugaya-san bagaimana?" tanya Ichigo.

"Kami sudah mengumpulkan data dari Aizen Sousuke dia pernah menjadi saksi dalam pembunuhan Unohana yang tidak ditemukan mayatnya hingga sekarang tetapi ia tidak pernah menjadi tersangka dalam kasus pembunuhan apapun." Ucap Hitsugaya sambil membacakan sebuah berkas yang berisi data diri Aizen.

"Hitsugaya-san, rumah Aizen kosong dan aku menemukan sebuah bola mata yang aku duga milik Nemu-san yang telah tewas dan berkas tentang alat pengopi memori otak." Jelas Ichigo suara helaaan nafas dari sebrang sana membuat suasana hening sejenak.

"Ichigo, bagaimana kalau kau ke alamat ini. Ini adalah rumah lain dari Aizen." Ucap Hitsugaya, Ichigo mengangguk dan keluar dari rumah. Memacu mobilnya dan membawa barang bukti yang ia sebutkan pada Hitsugaya tadi.

Mimpi?

Rukia saat ini sudah terbius tertidur bersama dengan Yoruichi disebelahnya, setelah dibius dengan chloroform mereka berdua pingsan tak berdaya sementara itu Aizen menatap tubuh mereka berdua dengan seringainya.

"Aku akan membuat mereka merasakan bagaimana rasanya hancur karena disakiti." Aizen memindahkan pandangannya menuju sebuah peti mati yang bertutup kaca ada seorang wanita yang telah lama tak bernyawa terbaring disitu dengan wajah pucat dan dress berwarna putih yang dikenakannya wajah kaku itu tidak bisa dibilang tersenyum dan hanya pengawet mayat yang mampu membuatnya bertahan.

"Unohana sayang, kau akan dapat teman jadi tenang saja." Ucapnya pelan sambil menatap peti mati itu. Dan menggenggam sebuah parang yang masih belum bersih dari darah yang sudah mengering.

Ia menghadapkan parang itu kewajah Yoruichi yang sebenarnya telah bangun tetapi pura-pura tertidur untuk menjaga mengambil sebuah pisau, ia melihat tangan Yoruichi yang sedikit bergerak.

"Aku rasa aku harus melakukan sesuatu." Ucap Aizen dengan senyum. Ia mengambil tangan Yoruichi dan menusuk kukunya hingga memancarkan darah. Yoruichi yang sudah sadar berteriak dan menatap Aizen dengan tatapan kebencian.

Aizen tertawa dan membalas tatapan itu tanpa sebuah ekspresi. "Kenapa kau harus pura-pura pingsan Yoruichi-san?" tanyanya.

Yoruichi diam dan berusaha memberontak, saat itu baru ia tahu kalau sebenarnya tangan dan kakinya diikat bukan dengan tali tapi dengan kawat tajam semakin ia bergerak darah semakin menetes dari kedua kaki dan tangannya.

"Aizen, apa sebenarnya mau mu?" tanya Yoruichi ia berhenti untuk berusaha membebaskan diri karena pada dasarnya hal itu sangat tak berguna.

"Aku hanya ingin membuatmu menjadi teman Unohana ku." Ucapnya pelan menggesekkan pisau itu diwajah Yoruichi sehingga menimbulkan luka dan darah.

"Kau gila!." Yoruichi mengumpat dan berusaha menjauh dari pisau itu tapi geraknya yang terbatas membuatnya terjatuh dan tak mampu berdiri.

"Yoruichi-san kau benar-benar kasihan ya. Sepertinya kau sangat ingin menyusul si bodoh Urahara."

"Kau bangsat! Brengsek! Kenapa kau membunuh Urahara?" tanya Yoruichi menahan tangisnya.

Aizen maju memegang pisau itu dan berjongkok mendekati Yoruichi. "Sayang sekali ya mulutmu itu hanya digunakan untuk kata-kata kotor bagaimana kalau aku potong saja lidahmu?" Aizen membuat mata Yoruichi membulat dan menutup mulutnya rapat tetapi Aizen memasukkan pisau kedalam mulut Yoruichi dan seperti mengungkit agar mulutnya terbuka sehingga dengan rasa sakit dan bibir yang berdarah mulut Yoruichi pun terbuka, Aizen menarik lidah wanita itu keluar dan memotongnya hingga Yoruichi tidak mampu berteriak lagi ia hanya bisa terkulai lemas dengan darah yang mengalir dari lidahnya.

"Nah sekarang baru aku bisa menceritakan kenapa aku membunuh calon suamimu itu dan membawa wanita itu bersama mu." Ucap Aizen tersenyum diantara tangis kesakitan Yoruichi dan ketidaksadaran Rukia

Mimpi?

Author Note

Yei akhirnya chap ini selesai juga *keplok-keplok gaje*

Hehe heran juga sama cerita gaje yang 1 ini. Sekedar info fic ini akan selesai di chap 4 *Hore!!*

Jangan heran ma endingnya yang bakal uanehhhh buangettt *emang sengaja sih*

Maaf ya berhubung mss agak buru-buru nguploadnya jadi gak ada balasan review buat kali ini ^^

ayo tekan ijo-ijo dibawah satu kali saja ^^