Bleach by Tite Kubo
Mimpi? by mss Dhyta
Rating : M
Genre : Criminal/Angst
Pairing : Ichiruki
Summary : Mimpi kau petunjuk atau menjerumuskanku? The End.
Aizen berdiri dengan pisau yang berdarah ditangannya. "Aku membunuh Urahara karena dia mencegahku menggunakan alat itu pada orang lain." Aizen menunduk lagi dan melihat Yoruichi yang sudah mengerang kesakitan karena lidahnya terpotong dan mengeluarkan darah.
"Dia bodoh sekali kalau ia tidak mengancam untuk melaporkanku ke polisi dia pasti akan tetap hidup." Aizen menatap mata Yoruichi yang penuh dengan kebencian, tangan kirinya mengangkat dagu Yoruichi.
"Dasar pria bodoh padahal aku hanya ingin mempermudah balas dendamku pada wanita-wanita itu." Aizen menyayat pelan pipi Yoruichi meninggalkan bekas sayatan yang mengeluarkan darah.
"Aku suka sekali melihat wanita yang menangis dan memohon padaku untuk tidak dibunuh." Aizen mendekatkan pisau itu kemata Yoruichi yang berkilat ketakutan.
"Padahal mereka juga menyakitiku." Pelan tetapi pasti ujung pisau itu menggores bagian bawah mata Yoruichi. Setelah itu ia berdiri dan menghampiri sebuah peti yang tertutup kaca. "Seperti Unohana dulu, dia mengkhianatiku, dia tahu kalau aku menyukainya tapi kenapa ia memilih Kenpachi yang berandal itu!" Aizen berteriak dan tertawa lepas.
"Dia tidak pernah tahu kalau aku memasukkan sesuatu ke makanannya dan membuatnya mati keracunan." Tawa Aizen menggelegar diantara ketakutan Yoruichi yang ingin segera keluar dari tempat itu.
"Setelah itu setiap melihat wanita aku ingin sekali membunuh mereka, membuat mereka menangis dan berteriak minta ampun!!." Tangan Aizen meneteskan darah karena ia menggenggam bagian tajam pisau itu.
---
Rukia yang masih terbius berada di alam mimpinya sendiri ia melihat seorang wanita yang mirip dengannya seperti di mimpi sebelumnya memanggul sebuah sabit besar dan mengayunkannya, darah memancar dan mengenai sedikit tubuh Rukia . Yang terlihat memang hanya punggung wanita itu dan sebuah kepala yang menggelinding terpisah dari tubuhnya terlihat wajah dari kepala itu sangat kaget ternyata kepala itu, merupakan kepala milik Aizen. Wanita iu berbalik dan tersenyum pada Rukia dengan wajah yang terkena darah. Ia mengucapkan beberapa kata, lalu gelap
---
Aizen tertawa lagi dengan keras. "Dan alat itu, alat itu sangat membantuku." Langkah kakinya berpindah kearah Rukia yang masih terpengaruh obat bius. "Wanita bodoh ini pun sangat membantuku, dia sangat bodoh mudah sekali terpengaruh." Tangan dingin Aizen mengelus pipi Rukia pelan.
"Aku kira dia akan menyerahkan diri tapi tak kusangka dia punya pacar seorang polisi yang sudah mengetahui tentang alat itu." Aizen beranjak dan berbalik sementara itu ia tidak pernah tahu kalau Rukia baru saja terbangun tetapi ia pura-pura pingsan untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Alat pemindah memori itu sangat berguna, ia bisa memindahkan memoriku yang telah membunuh wanita-wanita itu ke memori Rukia yang tidak bersalah apa-apa, dan aku sengaja menggunakaanya ketika wanita bodoh itu tertidur agar ia mengalami mimpi yang sesuai dengan memori yang aku berikan padanya." Aizen tertawa keras ia tidak tahu kalau dibelakangnya Rukia yang sudah terbangun hanya mampu menggertakkan gigi dengan penuh kebencian.
Bruak!
Pintu depan rumah Aizen didobrak dan menimbulkan suara keras yang menganggetkan Aizen dan Rukia sementara itu Yoruichi sudah terbaring pingsan karena telah mengeluarkan banyak darah.
"Rukia!" jerit Ichigo dengan sebuah pistol tergenggam ditangannya, dibelakangnya ada Hitsugaya dan Renji.
Dengan wajah pucat dan pisau ditangan kananya Aizen menarik Rukia dan menyeret tubuhnya, sekilas Ichigo melihat Rukia yang ditarik ketempat lain melalui pantulan cermin, ia segera berbalik dan mengejar Aizen menuju kesebuah ruangan yang dekat dengan pintu belakang.
"Aizen tunggu."
Duar..
Sebuah tembakan peringatan melayang ke langit-langit ruangan itu, Aizen membeku sejenak ditempatnya karena sebuah pistol sudah teracung dihadapannya. "Jangan kabur." Ucap Hitsugaya dengan kilatan amarah seorang penjahat yang harus ia dapatkan hari ini tidak boleh kabur.
Tetapi tangan Aizen memegang sebuah pisau, menempel dileher Rukia yang masih pura-pura pingsan, ancaman itu membuat Ichigo, Hitsugaya dan Renji mundur.
"Bergerak selangkah leher wanita ini akan ku putuskan." Aizen memaksa dengan nada mengancam.
Tetapi secara tiba-tiba Rukia menggigit tangan Aizen dan membuat pisau itu tertancap di kaki Aizen yang dan mengerang kesakitan setelah itu. Rukia berlari kearah Ichigo, dan Hitsugaya dengan sigapnya menembak kaki kanan Aizen sehingga ia roboh dengan darah yang mengalir.
Tetapi bukan ekspresi ketakutan yang mereka dapatkan dari wajah Aizen tetapi ekspresi lain , ia tertawa sangat keras hingga mungkin mampu didengar orang lain selain diruangan itu.
"Kalian pikir kalian bisa menangkapku semudah itu?" Aizen terus tertawa dengan darah yang mengalir dari kaki kanannya.
"Kalian pikir kalian menang?" tawa kembali keluar dari bibir Aizen. Ichigo menggeleng pelan dan mengeratkan rangkulannya pada Rukia.
"Tak kusangka kau akan menjadi seperti ini Aizen, kau kalah dan lebih parahnya lagi kau sudah gila." Ichigo berbalik dan menarik Rukia yang berada di rangkulannya. Sementara itu Hitsugaya dan Renji menuju kearah Aizen dan memapahnya pergi.
"Rukia kau kenapa..?"
Rukia POV
Entah kenapa setelah tembakan yang dikeluarkan Hitsugaya-kun kepalaku menjadi pusing dan mataku mengabur sayup-sayup aku mendengar suara Ichigo yang memanggil namaku, setelah itu gelap. Dan setelah aku bangun dari kegelepan yang aku rasakan Ichigo sudah berada disampingku dan memelukku sementara itu aku melihat suatu ekspresi ketakutan yang menguap dari wajah Aizen, ia berteriak dan menunjukku dengan wajah penuh ketakutan apa yang kulakukan tadi?
End of Rukia POV
Hitsugaya dan Renji membawa Aizen kedalam mobil polisi dengan tangan yang sudah terborgol, raut ketakutan benar-benar terlihat dari wajahnya. Setelah itu Hitsugaya segera menelepon bala bantuan dan ambulans untuk Yoruichi.
"Kurosaki kurasa kau harus mengantarkan Kuchiki ke rumah sakit." Ucap Hitsugaya setelah menelepon ambulance. "Aku akan mengurus keadaan disini sebaiknya kau urus dulu dia."
Hitsugaya menunjuk Rukia yang terlihat lemah, sedangkan Ichigo merangkul wanita itu dan membawanya pergi.
----
"Ichigo sebenarnya apa yang terjadi tadi?" tanya Rukia pada Ichigo yang sedang menyetir menuju rumah sakit terdekat.
Ichigo terdiam dan tetap menatap jalanan yang ia lalui. "Sebaiknya kau tak perlu tahu."
Rukia terdiam mata Ichigo menunjukkan kesungguhan, mungkin benar sebaiknya ia tidak tahu, setidaknya ada satu hal yang jelas bukan ia pembunuh berantai yang selama ini terjadi.
----
Rukia dan Ichigo sedang berada di rumah sakit untuk rawat inap, Ichigo meminta Rukia untuk berada dirumah sakit selama seminggu dan ini sudah bebarapa hari setelah kejadian itu. Rukia sudah dipanggil kepolisian berkali-kali menjadi saksi dan menceritakan semuanya pada polisi yang menginterogasinya. Ichigo pun sudah menyerahkan beberapa bukti dari rumah Aizen yang akhirnya digeledah polisi. Sedangkan alat pengopi memori otak itu sudah berpindah dari ruang praktek Aizen menuju ruang isolasi kepolisian dan rencananya alat itu akan dimusnahkan.
Yoruichi pun masih di rumah sakit yang terpisah dari Rukia , dan dengan operasi, lidahnya bisa disambung lagi, untung saja waktu itu potongan lidah Yoruichi langsung di masukkan kedalam kain lembab oleh Hitsugaya yang sedikit mengerti bagaimana caranya mempertahankan potongan tubuh agar bisa disambung kembali di rumah sakit.
Beberapa berita gencar memberitakan masalah itu dan ada yang berniat menjadikannya sebagai sebuah film. Rukia hanya tertawa ketika mengetahuinya.
"Yah aku berharap kejadian itu tak akan terulang lagi." Ucap Rukia ketika Ichigo berada disampingnya dan mengupaskan sebuah apel untuknya.
"Yah semoga saja, aku rasa Aizen menderita depresi karena Unohana memilih untuk menerima lamaran Kenpachi Zaraki daripada dirinya." Ichigo memegang pisau itu dengan hati-hati dan memberikan sepotong apel pada Rukia.
"Yah aku rasa dan bagaimana dengan hukuman yang akan diberikan oleh Aizen?" tanya Rukia sambil mengunyah apel yang baru saja masuk kedalam mulutnya.
"Mungkin seumur hidup. Bagaimana kalau kita lihat berita yang lain aku bosan membicarakan hal itu terus." Ichigo meraih remot televisi dan mnghidupkannya.
"Pelaku kejahatan pembunuh berantai Aizen Sousuke ditemukan tewas di sel nya dengan kepala yang terpisah dari tubuhnya. Polisi mengatakan kalau pembunuh dari tersangka pembunuhan berantai belum diketahui sementara itu tanggapan masyarakat tentang pembunuhan itu…" Kata-kata yang keluar dari penyiar berita itu membelalakan mata Rukia dan Ichigo.
Rukia melihat ekspresi Ichigo yang terlihat sangat kaget, handphone Ichigo bergetar dan ia menerima sebuah email yang berisi..
Pelaku pembunuhan Aizen Sousuke tewas di sel nya pada pukul 03.00, pembunuhnya belum diketahui sampai sekarang. Maka dari itu kasus ini dibatalkan karena tersangka tewas sebelum hukuman.
Rukia membaca juga pesan itu setelah merebut handphone Ichigo dari tangannya. Ia menatap Ichigo yang sepertinya sedang berpikir keras.
"Ichigo apa yang sebenarnya aku katakan waktu itu?" tanya Rukia pada Ichigo yang secara tiba-tiba memeluk tubuhnya dan berbisik pelan ditelinga Rukia.
"Lupakan itu, maukah kau menikah denganku Rukia?" tanyanya dengan nafas yang memburu memang ia merencanakan akan melamar Rukia hari ini tetapi entah kenapa seharusnya saat ini bukan menjadi saat yang tepat.
"Iya.." jawaban itu sedikit menggantung karena sampai saat hari pernikahan Rukia pun pembunuh Aizen masih belum terungkap dan tidak ada yang mau memberitahu Rukia apa yang sebenarnya ia katakan ketika kegelapan secara tiba-tiba menutupi matanya, sewaktu penangkapan Aizen.
---
Mimpi kau petunjuk atau menjerumuskanku?
---
Tamat…
Author Note :
Hiya!! Gaje nih endingnya.. *ketawa gaje* hehe mungkin banyak yang bakal bertanya-tanya apa yang Rukia katakan waktu itu makanya Aizen jadi parno gitu. Hmm gimana kalau kalian tebak aja sendiri *dikejer reader* pokoknya Rukia atau lebih tepatnya wanita yang merasuki Rukia mengatakan sesuatu yang membuat Aizen takut.
Balasan review :
Ichiruki Shirosaki : Hiya!! Yang ini malah kekejamannya berkurang karena udah ending..
Hinamori14137 Yoriko : Eh aku bukan spesialis rated M fic ku yang rated M aja ancur semua kug.. *beneran deh* hehehe sama-sama buat reviewnya ^^
Shirayuki Naomi : hehe Kenpachi udah muncul tuh tapi nama donak dan malah jadi calon istrinya Unohana *lol* ide gila dari mana tuh. Oh baru bikin akun ya ayo bikin fic kalau gitu hehehe.
Shirayuki haruna : hehe iya kelihatannya kayak ngebash ya.. aduh maaf banget deh kalau begitu ^^
Yumemiru reirin : hehe emang jahat kug..
Yuinayuki-chan : Unohana bukan istri Aizen tapi orang yang menolak Aizen hehehe. Aizen pernah (merasa) disakiti ma Unohana.
bakaMirai : Kug pengen ketawa, jangan-jangan gaje ya!!! *nangis* huhuhu atau jangan-jangan mirai digelitik seseorang ya? *aneh mode on*
Tie-manganiac-bgt : Hiya!! *bawa sapu* kug pada tarung disini! Hust…hust… hehehe bukan obat perangsang *aduh kug agak mesum ya* tapi alat pengopi memori otak. Kalau udah baca pasti mudeng.
Agehanami-chan : ehehe Aizennya udah kebunuh tuh. *ngelirik kepala Aizen yang udah glinding* eh bukan dihipnotis kug kalau udah baca yang ini udah ngerti kan??
Maaf ya kalau masih kurang sadis tapi hehe apa boleh buat gak ada ide buat yang lebih sadis nih
Hmmm minta Reviewnya ya ^^
Dengan menekan ijo-ijo dibawah !!
